9/12/2019

Pengertian Paham Dak Ilok dan Misteri Kata Orang Tua


Apero Fublic.- Masyarakat pada zaman dahulu memiliki pola pengendalian sosial yang berkaitan dengn mitos atau ketahayulan. Dalam pembahasan ini merujuk pada masyarakat Melayu di Sumatera Selatan. Sebelum masuknya Islam orang Melayu Sumatera Selatan hidup dalam lingkaran animisme, dinamisme, Hinduisme atau Budhisme.

Sehingga pemikiran yang rasional tidak ada sediktitpun. Islam yang sudah berkembang di Kota Palembang sejak zaman Kedatuan Sriwijaya. Perlahan masuk ke pedalaman dan menyebar rata sehingga 99% masyarakat Sumatera Selatan menjadi Muslim. Para ulama Islam harus berperang dengan paham pemikiran non rasionalisme tersebut (tahayul).


Sehingga Islam masuk beradaptasi dengan budaya lokal orang Melayu terutama dalam paham pemikiran dikenal dengan istilah Dak Ilok. Bangsa Melayu (Indonesia) suatu suku bangsa yang memiliki tingkat ketahayulan yang sangat tinggi. Aliran dari kepercayaan purba nenek moyang orang Melayu melekat dan mendara daging.

Sampai sekarang kepercayaan terhadap mitos-mitos belum hilang. Bagaimana para ulama masuk dalam kebudayan dan mengambil hati orang Melayu. Kemudian menanamkan nilai-nilai keislaman di tengah kehidupan masyarakat Melayu sampai sekarang. Pola didikan sosial digunakan istilah-istilah yang menyesuaikan dengan paham tahayul tersebut.


Pertama yang dilakukan adalah memasukkan nilai-nilai Islam dalam sistem adat istiadat dan pemikiran orang Melayu. Dalam hal ini, dapat ditinjau dari kebiasaan orang-orang tua dari dahulu sampai sekarang. Apabilah menasihatai perbuatan yang tidak baik dengan berkata “dak ilok, kata orang tua. (dialek menyesuaikan A,e,U,E,O). Diartikan secara bahasa kata dak sama dengan tidak.

Kata ilok sama dengan elok. Maka makna dak ilok diartikan tidak baik dalam bahasa Indonesia. Atau pamali yang lebih dikenal luas.  Di sini yang menjadi pertanyaan adalah siapa “orang tua” yang menjadi rujukan bagi masyarakat turun-temurun. Kata orang tua begitu populer di tengah masyarakat Melayu. Di bagian wilayah lain terdapat dialek berbeda seperti jeme tu’e.


Penyelidikan, siapa orang tua dalam paham pemikiran masyarakat selama ini ?. Dari mana mereka mendapatkan ajaran yang dirujukkan dengan kata orang tua. Dalam melakukan nasihat atau teguran pada seseorang. Karena orang Melayu 99% adalah Muslim. Kemudian penelitian tentang kehidupan masa sebelum Islam yang belum memiliki pola pendidikan secara luas dan merata kedalam masyarakat. Maka pelacakan pemahaman itu ditelusuri ke dalam ajaran agama Islam.


Di waktu kecil aku sering minum dengan cara mengangkat cerek secara langsung, tanpa memakai cangkir. Hal ini kemudian diteguri kakek bahwa minum seperti itu dak ilok kata orang tua. Karena seperti meminum air kencing setan akan sakit kembung dan sering kecing.

Pernah juga waktu aku ikut ayah bertandang kerumah paman. Tapi paman tidak dirumah, maka ayah tidak jadi bertandang. Padahal aku sudah sangat ingin bermain dengan adik sepupuku. Aku bertanya pada ayah mengapa tidak jadi bertandang. Ayah bilang dak ilok kata orang tua, sebab pamanku sedang tidak di rumah. Karena akan mendapat balak bencana.


Berikut ini contoh hadis yang dirujukkan dengan kata orang tua: Dari Abu Hurairah, Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Rasulullah melarang  minum langsung dari mulut qirbah (qirbah adalah wadah minum dari kulit atau wadah minum lainnya). H.R. Bukhari No. 5627. Dari sini perujukan orang tua yang dikiaskan oleh para Ulama adalah Imam Bukhari dan para periwayatan hadis dan tersambung ke Rasulullah SAW. Dalam pelarangan minum secara langsung dari mulut cerek atau teko air minum.


Berbagai ungkapan dak ilok kata orang tua, seperti ditujukan pada wanita yang berpakaian tidak sesuai atau terlalu terbuka. Tidak boleh memberi asi pada anak di pinggir jalan atau di ruang terbuka, karena dak ilok kata orang tua. Pakaian harus tertutup baik laki-laki atau perempuan.

Sehingga berkembang busana kain sepinggang yang menutup sampai mata kaki, mengingat dulu kain adalah busana utama Nusantara. Kemudian celana panjang dan baju kurung di dalam masyarakat Melayu.

Nilai-nilai Islam dapat dilihat saat adanya kegiatan masyarakat seperti acara pernikahan, lelaki dan wanita duduk tidak boleh bercampur, wanita di dapur lelaki bagian depan. Wanita bersuami tidak boleh tersenyum pada lelaki selain suaminya. Wanita bersuami tidak boleh memperlihatkan keramahan pada lelaki lain selain suaminya dan keluarganya. Saat seorang gadis tidur tidak boleh ngangkang, nanti diperkosa siluman.


Wanita dan laki-laki  Tidak bole berjalan berdua dengan lelaki bukan mahramnya. Tidak boleh berdua-dua ditempat sepi, sebab “Dak ilok kata orang tua, nanti di omongkan orang.” Sehingga menjadi acuan wanita dan laki-laki dalam bersosialisasi. Yang dimaksud dengan diomongkan orang adalah terjadinya fitnah. Baik fitnah dari mulut masyarakat yang melihat juga fitnah atau cobaan syawat.


Pelacakan dari perujukan  “kata orang tua” tersebut ditemukan dalam hadis-hadis, atau fatwah para ulama. Sehingga dapat disimpulkan kata orang tua dalam makna kiasan yang dimaksud adalah Rasullah. SAW, para sahabatnya, kemudian para ulama.

Sebab hampir semua kata dak ilok selalu sesuai dengan hadis-hadis dan patwah ulama. Sehingga walaupun orang Melayu terlihat tidak terlihat begitu Islami, misalnya jarang berhijab, jarang berzikir. Tapi secarasosial budaya dan adat-istiadat orang Melayu sesuai dengan ajaran Islam.

Karena aturan-aturan hukum Islam dijadikan dasar beradat-istiadat. Masa awal kedatangan Islam, orang-orang Melayu belum mengenal keilmuan Al-quran dan Hadis. Maka hukum Islam diterjemahkan para ulama terdahulu dengan paham dak ilok kata orang tua atau membumikan hukum Islam.


Paham dak ilok kata orang tua lama kelamaan menjadi sastra lisan. Tidak tertulis hanya disampaikan secara turun temurun. Sehingga dalam perkembangannya kata-kata dak ilok kata orang tua semakin lama semakin berkembang. Sudah biasa paham masyarakat yang kurang pengetahuan sering memunculkan paham sendiri sehingga ungkapan Dak Ilok kata orang tua sering menyimpang pada masa-masa berikutnya.

Mereka menjual ungkapan sesuai kepentiangan atau menduga-duga saja. Maka muncullah ketahayulan, dan kesyirikan. Namun hukum adat istiadat berlandaskan Islam tetap tertanam secara naluri di kehidupan sosial. Hanya saja timbul paham mengarang sendiri dari kata dak ilok kata orang tua.


Masyarakat masa selanjutnya yang tidak tahu menahu kalau ulama menciptakan ungkapan dak ilok kata orang tua merujuk hadis, fatwah ulama, atau Al-Quran. Banyak masyarakat biasa memunculkan sesuai nafsu mereka. Masyarakat tidak menguasai ilmu keislaman, apalagi periwayatan.

Kemudian membuat kata-kata sendiri yang tidak logis dan masuk akal. Maka ketahayulan menjadi lebih dominan dari pada akal sehat. Kepercayaan terhadap dukun dan kata-kata sembarangan telah membawa orang Melayu dalam kebodohan akidah. Berikut ini kata dak ilok kata orang tua ciptaan masyarakat yang tidak berilmu dan dipengeruhi pemikiran tahayul.

Misalnya dak ilok kata orang tua rumah “menghadap pengkolan sungai sering sakit-sakitan penghuninya.” Dak ilok kata orang tua bujang alim karena masa tua nanti berubah tidak alim lagi atau menjadi juaro (penjudi). Dak ilok kata orang tua berladang diapit dua sungai, akan mati anak atau istri. Dan banyak lagi lainnya tersebar di masarakat dimana mereka menduga-duga dan mengarang sesuai nafsunya.


Oleh. Joni Apero

Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 13 September 2019.


By. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment