7/20/2019

Tipe-Tipe Pacaran di Indonesia

Apero Fublic.- Pacaran bukan budaya orang Indonesia, apapun agamanya. Memang ada beberapa sistem pernikahan yang berbeda. Tapi itu terdapat pada masyarakat Indonesia yang belum maju. Budaya pacaran muncul ketika teknologi informasi datang ke Indonesia. Budaya pacaran ditiru dari kebudayaan barat.

Pada awalnya orang Indonesia dalam mencari pasangan hidup melalui sistem perjodohan aktif dan perjodohan pasif. Perjodohan aktif ini adalah dimana seorang pemuda dan seorang gadis merasa saling menyukai kemudian si pemudah meminta orang tuanya melamar si gadis.

Begitupun keluarga si gadis akan mempertanyakan apakah dia bersedia menjadi istri pemuda yang melamar. Ketika si gadis menyatak suka maka akan dinikahkan. Kalau si gadis menyatakan tidak suka, maka lamaran ditolak. Perjodohan pasif adalah perjodohan yang sepihak dimana si gadis dinikahkan tanpa memerlukan persetujuan. Pernikahan ini biasanya terjadi pada keluarga bangsawan atau orang-orang kaya.

Indonesia yang di jajah oleh Belanda tentu pengaruh barat akan kuat. Belanda berusaha merubah orang Indonesia dimana kebudayaannya berakar pada agama. Belanda juga memunculkan sastra-sastra yang menentang kebiasaan Bangsa Indonesia. Tonggak hancurnya kebiasaan pernikahan budaya asli Indonesia sejak munculnya sastra karya Mara Rusli bercerita tentang perjodohan Siti Nurbaya dengan Datuk Maringgih.

Novel diterbitkan oleh percetakan Belanda tahun 1922 dengan judul Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai. Sehingga komplik perjodohan cerita novel itu disalah artikan oleh masyarakat. Muncul pemberontakan sosial di dalam masyarakat Indonesai tentang pencarian jodoh.

Timbulah istilah “Bukan Zaman Siti Nurbaya lagi” saat mendengar perjodohan. Sesungguhnya yang salah bukan perjodohan: tapi alasan dari perjodohanlah yang salah. Perjodohan dalam cerita sastra tersebut bukan sebab cinta, suka, atau karena Allah. Tapi oleh karena materi dan nafsu si Datuk Maringgih.

Penyakit pacaran terus berkembang ketika teknolgi berkembang pesat. Sastra rusak bermunculan sejak zaman Orde Baru. Imejinasi pembuat film tentang cinta dan kalaborasi dengan adegan seks. Adegan drama cinta semakin romantis baik dari sastra atau film. Bagaimana dikatan begitu. Coba kita amati ketika film menyajikan adegan pegangan tangan sebagai tanda cinta. Memberi bunga sebagai simbol cinta. Berpelukan di tepian pantai dan di tempat keramaian sebagai tanda mesrah.

Memberi coklat sebagai tanda romantis. Bersepeda motor berpelukan, ciuman di bibir, tanda sayang. Semua itu ditiru oleh generasi muda Indonesia dari sastra rusak tersebut. Bangsa Indonesai sebelumnya tidak mengenal pacaran seperti itu. Ketika film dan novel menyajikan itu. Maka pembaca atau penonton film akan mengikuti. Remaja di perkotaan yang tidak tinggal dilingkungan adat-istiadat mengira seperti itulah orang pacaran. Maka mereka meniru dan mempraktekkan semua yang mereka tonton atau yang dibaca dari novel-novel. Kemudian perlahan menular kepedesaan.


Alasan pacaran adalah untuk sangling mengenal. Untuk menemukan cinta sejati. Agar tidak ada penyesalan dikemudian hari. Agar pernikahan bahagia. Namun apakah benar semua itu?. Tidak, Tingkat perceraian semakin meningkat di Indonesia setiap tahun. semua itu memang dimunculkan untuk merusak akidah umat Islam. Terutama generasi muda Islam di Indonesia. Maka dari itu jagalah adik-adik kita, anak-anak kita, saudari-saudari kita.

Kemudian pedulilah pada saudari-saudari muslimah kita. Kampanyekan tentang cara-cara baik dalam menemui jodoh. Jangan hiraukan orang-orang jahat yang terus merusak dan berkata atau menulis kasar. Menurut Detik.com sepanjang tahun 2018 ada setengah juta pasangan di Indonesia bercerai. Hanya dalam satu tahun mencapai setengah juta pasangan. Nauzubillah. Di Indonesia ada tiga tipe pacaran yang katanya, dan dianggap solusi mencari cinta sejati itu.



Data perceraian sepanjang tahun 2018. 
Hanya satu daerah dalam
beberapa waktu ini di tahun 2019.


1. Pacaran Tipe Berteman
Pacaran Tipe Berteman adalah sistem pacaran masyarakat pedesaan. Masyarakat pedesaan yang masih memiliki adat istiada tetap menjaga norma-norma. Kadang memang ada yang kebobolan, namun jarang. Pacaran layaknya berteman adalah bentuk perpaduan budaya Indonesia dan budaya Barat.

Masih dalam batas wajar dan normal. Di pedesaan di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, masih terikat rapi oleh adat dan peraturan. Maka pacaran masih sesuai dengan adat timur. Pacaran berteman adalah cara pacaran sebatas hubungan asmara biasa. Mereka mengikat janji dan mengakui berpacaran. Tapi mereka layaknya seperti teman atau sahabat biasa. Ikatan asmara hanya untuk alasan melamar untuk pernikahan. Bukan alasan lain selain pernikahan.

Metode pacaran ini dikendalikan gadis. Sebab dia tetap menjadi gadis yang suci tidak disentu oleh lelaki lain sampai dia menikah nanti. Dia tidak takut untuk ditinggalkan sebab harga dirinya tetap ada. Dia tidak merasa rugi karena dirinya tidak pernah melayani nafsu pacarnya. Hubungan mereka hanya melalui handpone dan bertamu di malam minggu di rumah si gadir.

Berbincang di ruangan tamu yang diterangi lampu, ada orang tua dan keluarganya dirumah. Tidak keluar malam keluyuran bermesraan ditempat tertentu. Apabila keluar atau jalan-jalan dengan pacarnya selalu ditemani oleh teman-temannya, atau keluarganya. Tidak berjalan berdua saja baik itu jalan kaki, bersepeda motor, atau bermobil. Maka di istilahkan pacaran tipe berteman atau pacaran bersahabat.

2. Pacaran Tipe Pelacur Gratis
Pacaran tipe pelacur gratis ini adalah tipe pacaran dimana wanita menjadi selayaknya pelacur gratis. Tipe pacaran ini adalah sistem pacaran di kota-kota. Karena di kota memiliki banyak ruang, seperti kontrakan, penginapan, hotel dan lainnya. Mengapa d sebut pacaran tipe pelacur gratis. Karena wanita atau si gadis ini selalu melayani nafsu pacarnya tanpa ikatan pernikahan, tanpa tanggung jawab, dan tanpa adanya transaksi harga.

Pacarnya tidak membayar sepeserpun, tidak memberi nafkah, kadang justru si wanita yang memberi uang. Si pacar cukup berkata rindu atau kangen. Kemudian mereka bertemu di suatu tempat, misalnya hotel, kosan, rumah kosong, di hutan, kemudian mereka berzinah. Selama berhubungan asmara mereka terus berzina. Lima tahun pacaran lima tahun mereka berzina dan lima tahun menjadi pemuas nafsu sang pacar.

Si pacar sangat suka sebab dia memiliki tempat pelampiasan nafsu. Si gadis terpaksa terus melayani si pacar. Selain dia juga membutuhkan kebutuhan biologis seksnya, dia juga takut pacarnya marah dan dia ditinggalkan. Ancaman ditinggalkan inilah yang menjadi andalan si pacar sehingga si gadis selalu menuruti kehendak sang pacar. Beruntung kalau si pacar benar-benar menikahi. Namun lebih banyak mereka ditinggalkan. Di buang seperti empas tebu yang suda di isap manisnya.

Dampak pacaran tipe Pelacur Gratis ini biasanya menjurus pada seks bebas, kumpul kebo, penyakit kelamin, dan perusakan moral. Saat kekasihany hamil dan melahirkan, kemudian mereka membuang anak. Membunuh bayi dalam kandungan atau aborsi. Tidak jarang si pacar laki-laki membunuh kekasihnya dan anaknya karena tidak mau bertanggung jawab.

Kadang menyebabkan penyimpangan seks seperti lesbian. Kemudian menjadi pelacur panggilan dan sampai tidak mendapatkan suami. Karena saat dia jujur, jangankan laki-laki baik, lelaki jahatpun sulit untuk menerima gadis yang pernah pacaran tipe pelacur geratis ini. Gadis sisa seperti ini, nantinya akan menikah dengan suami orang atau duda. Kalau mereka beruntung mereka akan bertemu dengan laki-laki yang bersedia menerimah keadaannya. Itupun lelaki yang pasti lelaki yang suka berzina juga.

3. Pacaran e-Cinta.
Pacaran e-cinta adalah bentuk dampak dari perkembangan dari dunia elektronik. Pacaran ini berkenalan di media handpone dan internet. Seperti FacebookLineMessengerTwitterInstagramLinkedInTantane-Jodoh, dan sebagainya. Perkembangan dunia teknologi komunikasi dan informasi telah membentuk dunia baru yang diistilahkan dengan dunia maya. Dunia maya sangat luas tidak terbatas.

Mampu melampaui wilayah dan negara dimana dia tinggal. Manusia sekarang telah masuk kedalam dunia maya. Kemudian akan berinteraksi dengan banyak manusia. Bagi yang belum memiliki pasangan biasanya iseng-iseng berkenalan. Lama semakin lama semakin yakin dengan teman media sosialnya. Sehingga muncul rasa atau keinginan untuk serius. Kadang perkenalan itu berpadu saat sama-sama tidak memiliki pasangan hidup atau diistilahkan jomblo.

Kelemahan e-cinta sangat banyak. Pertama tidak mengetahui pasangan secara pasti. Dari wajah, perangai, ahlak, pekerjaan, dan sebagainya. Sehingga sangat tidak aman apabila seorang wanita berani nekad bertemu ditempat-tempat sepi. Atau pergi ketempat-tempat yang tidak layak. Sebab laki-laki tersebut belum tentu lelaki baik.

Banyak korban pemerkosaan, pelecehan, perampokan dari pecaran e-cinta ini. Sebagai masukan apabila anda inginmengetahui siapa sebenarnya pasangan e-cinta anda. Pertama anda pinta semua media sosial yang dia punya. Kemudian cek dan lihat semua postingan dari medsosnya. Karena medsos akan menjadi cerminan diri dari pemiliknya. Kalau di medsosnya penuh dengan makian, foto tidak senono, game, tato, foto forno, maka sudah dipastikan dia bukan orang baik-baik.

Seandainya di medsosnya dipenuhi puisi pasti dia seorang yang romatis dan berhati lembut. Kalau dia pernah kulia biasanya ada banyak foto kuliah. Dari status dan kata-kata yang agamis berarti dia setidaknya orang beragama. Pelajarilah dari status facebook, twitter, snap instagaram, messenger, whatsApp. Maka anda akan menemukan pribadinya.

Kalau dia tidak pernah membuat postingan atau tidak ada medsos ada baiknya jangan diteruskan sebab anda tidak akan tahu pribadinya. Pertanayakan hobinya, kalau dia bilang hobi membaca pasti dia banyak buku. Kalau dia suka menulis maka dia akan menunjukkan karya tulisnya, seperti di blog, website, watpad dan sebagainya. Tanyakan dan perbandingkan dengan yang dia katakan saat chet dan di media sosialnya. Yang pasti kalau dia orang baik dia akan mengajak ke kebaikan. Terutama si gadis. Laki-laki baik dia akan mengajak menikah bukan pertemuan di tempat sepi.

Namun pacaran tetaplah pacaran. Tetap melanggar aturan Allah. Karena pacaran apapun sangat dekat dengan pintu zina dan maksiat. Dari itu lebih baik mengikuti ajaran Islam paling tidak berpegang pada adat dan istiadat kita orang timur.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S. Sos.
Palembang, 20 Juli 2019.

0 komentar:

Post a Comment