-->
Search
24 C
en
  • Penerbit MAF
  • Apero Book
  • JAF
  • LinkedIn
APERO FUBLIC
Terbitkan Artikel Anda
  • Apero Fublic
  • Popular
    • Politik
    • Ekonomi
    • Fotografi
    • Dunia Anak
    • Sosial & Masyarakat
  • Apero Fublic
  • Women
    • Women
    • Tokoh Wanita
    • Skil Wanita
    • Ibu dan Anak
    • Pendidikan & Kesehatan Wanita
  • Gatget
    • Video
  • World
  • Video
  • Featured
    • Penyakit Masyarakat
    • About
    • e-Galeri
    • Post Search
    • Daftar Kata
    • Peribahasa
    • Antologi Puisi INew
    • Antologi Puisi IINew
  • Find
    • Download Artikel
    • Download Feature
    • Andai-Andai
    • Post All
    • Flora Pangan
    • Fauna
    • Picture IndonesiaNew
    • Kamus Bahasa MusiNew
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Brand
    • Sport
    • Fashion
    • Fitness
    • Sunset-Sunrise
    • HijrahNew
    • NasihatNew
APERO FUBLIC
Search

Ruang Sponsor Apero Fublic

Ruang Sponsor Apero Fublic
Home Sejarah Kebudayaan Proses Perkembangan Bangunan Tempat Tinggal Manusia
Sejarah Kebudayaan

Proses Perkembangan Bangunan Tempat Tinggal Manusia

PT. Media Apero Fublic
PT. Media Apero Fublic
06 Jul, 2019 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Apero Fublic.- Penulisan sejarah perkembangan bangunan tempat tinggal ini bersumber dari pengamatan penulis dari beberapa kawasan di Provinsi Sumatera Selatan. Seperti dibeberapa kecamatan di Kabupaten Musi Banyuasin terkhusus di daerah Kecamatan Sungai Keruh. Dari aktivitas penduduk membangun tempat tinggal di perladangan mereka, perkebunan, dan pemukiman lama.

Kemudian pengamatan wilayah kabupaten lain, seperti Kabupaten Banyuasin, Kabupaten PALI, Kabupaten Ogan Ilir terutama daerah Maranjat, Kabupaten Muara Enim, Kawansan Pemukiman Tua di Kota Palembang di Seberang Ulu, Tangga Buntung. Lalu pembelajaran berlanjut di DEKRANASDA yang terdapat contoh bangunan rumah-rumah adat semua kabupaten di Sumatera Selatan. Maka kerangka berpikir dari tulisan ini adalah hasil pengamatan dari kebudayaan masyarakat di Sumatera Selatan.

Kerangka berpikir secara umum dari kebudayaan nasional. Perkembangan bangunan rumah tinggal asli dari bangsa Indonesia telah memiliki proses yang sangat panjang. Terciptanya bangunan tradisional secara luas. Sehingga melahirkan bangunan bercorak kedaerahan. Pelacakan awal para arkeolog mengenai nenek moyang bangsa Indonesia telah memberikan pandangan umum mengenai mereka. Dari masa-masa awal yang nomaden sampai dengan masa sekarang yang moderen.

Perkembangan bangunan rumah tinggal seiring dengan perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia itu sendiri. Perkembangan yang lambat memakan waktu ribuan tahun telah menghadirkan corak kedaerahan. Namun pada intinya perkembangan itu berawal dari perkembangan yang sama.

Berawal dari bangunan yang sangat sederhana, yang kemudian dikembangkan karena dipengaruhi pengalaman dan tuntutan iklim serta geografis alam sekitar. Selanjutnya, pada masa-masa prasejarah bangsa Indonesia yang mulai menjalin kontak dengan dunia luar, seperti bangsa Cina, Jepang, India. Kemudian dilanjutkan dengan pengaruh Islam dan terakhir Barat.

Saya juga menggunakan teori perkembangan. Teori perkembangan yang saya maksudkan adalah bahwa sipat dan tindakan manusia itu berproses. Pemikiran manusia akan berkembang ketika dia melakukan atau memulai sesuatu. Saya contohkan dengan bentuk mobil. Pada awalnya mobil hanyala kerangka mesin. Kemudian dikembangkan dengan ban dan kerangka. Dikembangkan lagi menjadi lebih sempurna. Dikembangkan lagi sampai menjadi seperti sekarang. Begitulah dengan sistem pikir manusia dalam membangun rumah tempat tinggal.

Pembahasan
Sistem tempat tinggal pertama bangsa Indonesia adalah gua-gua. Temuan para ahli dalam penelitian seperti adanya benda-benda ekofak, seperti cangkang siput, arang, tanduk binatang, dan sebagainya. Kemudian tinggalan lukisan tangan di dinding atau langit-langit gua.

Lalu temuan para arkeolog kerangka-kerangka manusia di dalam gua-gua. Masa ini adalah masa manusia Indonesia menghuni gua. Hampir setiap gua-gua di Indonesia ada lukisan telapak tangan. Masa itu, kehidupan sangat tergantung pada sumber alam. Maka semakin lama tinggal disuatu tempat maka semakin berkurang sumber daya alam. Jumlah populasi juga mempengaruhi dalam kepindahan manusia dari gua.

Pindah adalah solusi pertama dalam memenuhi kebutuhan hidup. Mulai memasuki masa nomaden dan kemungkinan juga menemukan gua baru. Dalam masa nomaden yang bertarung dengan alam membuat manusia belajar. Menghadapi hujan, panas, iklim yang dingin, serangan binatang buas, dan kasih sayang. Sehingga lambat laun manusia mulai menyadari membutuhkan tempat seperti gua yang melindungi diri cuaca, binatang buas, dan iklim.

Munculah ide untuk melindungi diri dari hujan dan panas. Bertedu di bawa pohon rindang atau di cela-cela batu. Memanfaat daun yang lebar untuk bertedu atau memayungi. Belajar dari itu, membuat pemikiran bergerak. Sehingga ingin memiliki tempat bernaung. Ide-ide sederhana mulai dilakukan. Lalu terciptalah bangunan pertama yang dibuat berbentuk persegi empat.

Memanfaatkan empat tiang kayu bercabang yang ditancapkan ketanah sama tinggi. Kemudian diletakkan empat kayu melintang panjang membentuk persegi empat, atau berbentuk persegi empat memanjang. Untuk meletakkan atap ditambah beberapa kayu melintang sebagai penyatu dan peletakan atap. Atap berupa rerantingan dedaunan pohon yang disusun diatas bangunan. Teknologi perkakas masa itu baru berupa kapak batu atau tulang hewan.

Sistem bangunan rumah seperti ini masih diterapkan oleh Suku Anak Dalam(suku kubu) yang masih hidup nomaden di pedalaman Provinsi Jambi, Provinsi Sumatera Selatan, dan lainnya. Dapat juga kita amati saat anak-anak desa bermain dengan membangun rumah-rumah dengan bentuk demikian. Sebagai bentuk ilham manusia dalam membangun tempat tinggal.
Ilustrasi ini menggambarkan bagaimana sederhanya bangunan awal tempat tinggal manusia di daerah tropis seperti Asia Tenggara.


Manusia terus belajar dari alam membuat perkembangan baru. Kalau temuan bangunan awal yang beratap datar dapat melindungi dari panas tapi tidak dengan air hujan. Air hujan masi merembes masuk walau tidak sederas tanpa atap. Sehingga manusia masa itu kembali berpikir bagaimana agar air hujan tidak lagi masuk. Pengamatan pada air yang mengalir ketempat yang lebih rendah.

Kemudian memunculkan inspirasi membuat atap menurun. Metode pembuatan sama seperti bangunan awal. Tapi pada bagian satu sisi di tinggikan, dan sisi lain direndahkan. Sehingga tercipta sistem atap menurun atau miring (iris pisang). Saat hujan, air hujan sudah lancar turun dan mengurangi rembesan air hujan. Tetap terlindung dari panas sinar matahari.

Sistem bangunan ini di istilahkan penduduk Melayu Sumatera Selatan dengan bangunan anjing meraung. Dinamakan demikian karena bangunan sistem itu mirip dengan anjing yang duduk sambil melolong. Di zaman sekarang, penduduk membangun bangunan ini saat mereka membutuhkan tempat bertedu secara praktis di ladang atau tempat mereka beraktivitas sementara.
Gambar. A.1.
Ilustrasi perubahan bangunan. Sisi naik dan Sisi menurun. Terbentuk istilah depan belakang bangunan.
Gambar. B.1.
Ilustrasi ini mencontohkan bangunan anjing meraung. Tahap perkembangan bangunan tinggal.
Pengalam dan tuntutan menghadapi alam dan geografis terus berlanjut. Saat bangunan anjing meraung sudah mengurangi rembesan air hujan. Walaupun masih ada merembes air hujan. Manusia kembali menghadapi masalah. Karena hujan selalu bersamaan dengan angin.

Bangunan yang sudah ditinggikan bagian depan tentu menghadirkan keterbukaan yang lebih tinggi. Sehingga angin leluasa masuk dan membawa air hujan. Atap rerantingan diterpa angin dan sering melayang. Sehingga sistem penindi atap juga muncul. Masalah baru muncul ini, membuat kembali memikirkan kembali bagaimana cara mengatasinya.

Maka inisiatip muncul, yaitu dengan menambahkan atap bangunan mereka di bagian depan. Mereka cukup menambahkan kayu-kayu menegak untuk atap. Sehingga bangunan anjing meraung berubah bentuk menjadi bangunan baru. Penduduk Melayu Sumatera Selatan menamakannya dengan paramaram.
Gambar. A.2.
Ilustrasi penambahan atap pada bagian depan bangunan anjing meraung.
Gambar B.2.
Ilustrasi penambahan atap yang sudah selesai dan menjadi bentuk bangunan baru. Paramaram.
Bangunan paramaram telah memberikan perlindungan cukup maksimal. Pada sistem pertemuan atap bangunan paramaram yang tidak dapat diatap diistilahkan talambungan. Selanjutnya disini muncul sistem atap parabung. Parabung nama atap khusus bagian teratas kerangka atap yang meyatukan atap dikedua sisi.

Bangunan paramaram cukup terlindungi dari alam dan iklim. Di kedua sisi sudah beratap dan curah hujan sudah lancar namun tetap merembes karena terbuat dari rerantingan pohon berdaun. Karena rerantingan pohon memiliki batas waktu maka timbul masalah lagi. Satu demi satu dedaunan tanggal apabila sudah mulai kering.

Pada awalnya mereka mengganti dengan rerantingan baru. Lama semakin lama, manusia juga berpikir mengatasi masalah atap yang setiap beberapa hari harus diganti dengan daun baru. Tentu saja ini membuat manusia berpikir untuk mengatasi masalah itu. Cara membuat atap juga muncul di benak manusia.

Maka sedikit demi sedikit manusia memilih dedaunan yang baik untuk atap. Maka merangkai daunlah cara terbaik agar dedaunan tidak jatuh saat kering. Merangkai daun tentu sangat sulit dan memakan waktu lama. Maka daun yang dipilih adalah daun yang tahan lama dan perangkaian cepat.

Dalam pencarian itulah manusia menemukan jenis dedaunan untuk atap, seperti daun ilalang, daun rumbia, dan daun nipa. Maka masalah atap terpecahkan dan rumah tinggal menjadi nyaman. Angin terus masuk, maka sistem dinding juga hadir dan sistem lorong muncul bersamaan. Terbentuklah prototipe bangunan tinggal awal dari manusia tropis.

Di kawasan dataran tinggi paramaram juga berkembang menjadi bangunan pondok depok. Depok istilah menyebut bangunan rumah yang langsung diatas permukaan tanah. Seperti di kawasan Pulau Jawa, Pulau Bali, Madura dan Papua. Di Papua, dapat dilihat dari bangunan rumah honai sebagai bentuk perkembangan dari bangunan tempat tinggal paramaram. Sistem bangunan rumah depok sederhana di daerah tersebut. Dapat dilihat dari sistem perumahan penduduk sekarang. Pada bangunan tinggal sederhana di pedesaan, rumah penduduk berdinding kepang (bambu), dan beratap daun ilalang (genting, seng).

Di kawasan dataran renah manusia menghadapi alam lagi. Dataran renah adalah tanah dataran rendah di sekitar sungai dan subur. Apabila di musim hujan akan sering banjir. Manusia mendiami kawasan renah karena kebutuhan transportasi, air, dan pertanian.

Kenyamanan banguan paramaram itu akhirnya mendapat masalah ketika hujan lebat, banjir hujan, atau banjir sungai. Di dalam bangunan paramaram yang diatas permukaan tanah langsung terdampak banjir. Air mengalir deras didalam bangunan paramaram. Kadang ada ular berbisa, binatang buas, dan serangan musuh. Maka untuk menghindari banjir, ular, binatang buas, musuh, maka bangunan ditinggikan dengan tiang.

Pada awalnya tiang biasa saja dengan ketinggian relatif. Lalu berkembang terus dan terciptalah bangunan pondok. Pada masyarakat Melayu Sumatera Selatan istilah pondok merujuk pada bangunan tinggal sederhana. Karena kata rumah (Uma) untuk penyebutan bangunan tempat tinggal yang lebih sempurna dan terletak di pemukiman (desa, kampung, kota). Sekarang, istilah pondok di Sumatera Selatan juga mulai  merujuk pada pondok pesantren.

Bangunan pondok inilah memberikan kenyamanan tinggal. Atap yang baik dari dedaunan (rumbia, nipa, ilalang, bambu), dan dinding dari kulit kayu atau bambu. Awalnya pondok biasa persegi empat dengan tangga. Kemudian penambahan dapur, karena membutuhkan tempat memasak. Karena bentuk penambahan, dan teknologi sistem penyambungan material kayu belum ditemukan.

Maka sistem penambahan dapur dan serambi depan menjadi menurun. Dapur juga memerlukan tangga maka perlu dibuat serambi untuk tangga dapur. Serambi juga tercipta karena untuk menghindari basah saat hujan berangin, panas sinar matahari. Atap serambi depan dan serambi dapur melindung dari hujan angin dan panas. Setelah itu, masuk masa tercipta pemukiman seperti Talang, Kampung, Nagari. Serambi bangunan pondok menjadi tuntutan untuk menerima tamu, dan bersantai keluarga.
Perhatikan bentuk bangunan pondok. Tampak bangunan dapur dan serambin depan (garang) menurun dari bangunan utama pondok. Itu menginformasikan pada kita kalau banguna dapur dan serambi datang kemudian dengan alasan tidak dapat menyambung alat pondok masa awal. Apabila disambung lurus akan sulit menata tiang dan atap. Pondok menjadi prototipe awal dari rumah panggung limas basepat (limas).


Pembangunan pondok tentu membuat manusia nyaman dan tenang hidupnya. Namun pondok yang sederhana akan terasa sesak apabila ditinggali oleh banyak manusia. Terutama bagi yang sudah menikah. Tentu kebutuhan keluarga seperti seks, kenyamanan, dan ekonomi segerah mempengaruhi. Sehingga, segerah membangun tempat tinggal untuk yang sudah menikah. Sehingga sampai sekarang sistem satu rumah satu keluarga terbentuk.

Manusia Indonesai yang kontak dengan kebudayaan asing. Mendapatkan teknologi yang baik dari logam. Tentu mempengaruhi sistem pembangunan rumah. Bangunan paramaram dan pondok yang sudah tercipta dalam waktu lama itu menjadi inspirasi. Sehingga dengan teknologi itu terbentuk rumah-rumah panggung besar di kawasan Asia Tenggara terutama di Indonesia.

Perkembangan bangunan rumah terus berlanjut sampai datangnya masa-masa kesultanan di Asia Tenggara khususnya Indonesia. Sistem pertukangan terus berkembang dan berkembang. Pengaruh arsitektur Cina datang. Diikuti dengan alat pertukangan yang juga tercipta dari besi berbagai jenis. Pengolahan dengan gergaji besar membelah kayu-kayu besar menjadi papan.

Masyarakat mengistilahkannya dengan membaji. Ada sistem batara pada masyarakat Melayu Sumatera Selatan dalam mengolah kayu bulat menjadi persegi empat untuk kerangka rumah. Cara batara yaitu mencaca batang kayu dengan parang besar, dibentuk persegi empat. Untuk taso masih menggunakan kayu bulat, dan reng dari bambu. Reng adalah nama rangka rumah utuk meletakkan atap, terutama atap genting dan atap sirap.

Bangunan awal pondok berkembang menjadi rumah panggung limas basepat di Sumatera Selatan. Basepat berarti naik turun dan menurun. Naik dari ruang depan, lalu lantai kembali menurun di bagian dapur, serambi dapur. Ada penulis mengistilahkan dengan rumah panggung undak atau ruamh limas undak. Saya rasa kurang tepat dengan istilah undak. Karena bangunan berundak berbentuk persegi empat yang berundak (bertingkat) dikeempat sisinya. Di bagian teratas bangunan semakin mengecil.

Sedangkan rumah limas basepat bangunan teratasnya paling besar. Bangunan berundak  juga untuk banguan keagamaan, bukan tempat tinggal. Seperti punden berundak masa purba, bangunan keagamaan Budha seperti candi borobudur, dan atap bertingkat pada bangunan masjid tradisional di Asia Tenggara.
Foto rumah Limas Basepat. Perhatikan lantainya naik menurun. Tiang-tiangnya masih ada dari kayu unglen atau kayu besi. Sudah ada sedikit renovasi oleh pemilik, seperti pengecatan, dan mengganti beberapa tiang dengan tiang batu bata. (sumber foto. Apero Fublic. Lokasi Desa Gajah Mati, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan)


Setelah pembangunan rumah limas basepat yang lantanyai bertingkat naik turun seperti tangga, muncul sistem rumah limas malamban. Istilah penyebutan masyarakat malamban diambil dari nama tempat penyemberangan sungai yang sederhana, lamban. lamban terbuat dari sebatang kayu. Awalan ma dalam bahasa Melayu berarti sesuatu yang dilakukan dan sedang terjadi. Balamban orang yang sedang menyemberangi melintasi di atas lamban. Rumah Limas Malamban ini berbentuk mendatar memanjang, dari serambi depan sampai ke dapur.

Hanya bangunan dapur yang menurun.Ada penulis yang mengistilahkan rumah panggung malamban dengan istilah rumah limas cara gudang dengan alasan rumah itu berbentuk gudang. Istilah cara gudang saya rasa kurang tepat, mengingat kata gudang untuk istilah bangunan lain. Filosofi dalam penamaan Rumah Limas Malamban karena saat membangun kitau-kitau yang panjang lurus mengingatkan masyarakat dengan lamban di atas sungai.

Kitau adalah nama kerangka bangunan rumah paling bawah yang terletak diatas tiang-tiang. Para tukang sibuk melintas di atas kitau bangunan rumah panggung saat mereka beraktivitas.  Seperti orang yang sedang menyemberangi sungai di atas lamban. Saat memasang kerangka rumah satu demi satu. Maka timbul kata istilah Rumah Limas Malamban. Di kawasan Sumatera Selatan, pengaruh rumah Limas Malamban dibawak oleh orang-orang Maranjat.

Menyebar ditahun 1940-an. Memolo sebuah rumah di Desa Gajah Mati menginformasikan dengan adanya tahun pembuatan diatas atap perabung. Tukang Maranjat sangat terkenal di Sumatera Selatan. Sampai sekarang masyarakat kawasan Maranjat banyak menjadi tukang. Sekarang mereka sudah ada sistem rumah panggung bongkar pasang yang dapat dipindahkan dan dibawak ketempat pembeli yang jauh dari lokasi pembangunan.
Foto rumah Limas Malamban. Perhatikan lantainya yang lurus tidak menurun. Rumah limas ini adalah bentuk perkembangan baru dari rumah Limas Basepat. (Sumber foto. Apero Fublic. Lokasi Desa Gajah Mati, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan).

Perkembang selanjutnya tidak ada perubahan berarti pada bangunan rumah panggung atau rumah limas tipologi malamban. Hanya dari bentuk dan ragam hiasnya. Rumah Panggung lama berbentuk besar-besar dengan kayu berkualitas tinggi. Untuk rumah panggung atau rumah limas generasi ketiga berbentuk lebih mungil dan sederhana. Perbedaan itu dari atap, jenis kaca, tidak ada ukiran pahatan, serta modelnya juga berbeda.

Selain rumah panggung generasi ketiga, perkembangan rumah penduduk juga memasuki pase baru, yaitu rumah beton berbentuk depok. Depok adalah bangunan langsung terletak di atas permukaan tanah. Kembalinya bangunan rumah manusia ke atas permukaan tanah seperti zaman permulaan perkembangan bangunan tempat tinggal dahulukala. Mengapa kembali, sebab manusia telah berhasil menguasai lingkungan alam. Sedangkan manusia dahulu lari dari lingkungan alam.
Foto rumah panggung atau rumah limas generasi ke tiga. Bentuk rumah limas generasi ketiga tidak lagi monoton dengan satu corak seperti rumah limas basepat dan limas malamban. Memiliki berbagai variasi dan corak, dari ukuran bentuk, tinggi rendah, gaya arsitektur. Lokasi Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Penutup
Bangunan tempat tinggal adalah bangunan pertama yang dibangun manusia. Berkembang sangat lambat seiring mereka berinteraksi dengan alam. Inisiatif melindungi diri, meniru burung yang memiliki sarang, dan tuntutan keadaan. Manusia zaman sekarang patut bersyukur karena nenek moyang manusia telah memunculkan kebudayaan.

Kebudayaan masa sekarang adalah hasil jerih payah dan buah pikir mereka. Manusia zaman sekarang hanya mengembangkan kebudayaan sederhana masa lampau. Coba bayangkan kalau nenek moyang kita masa lampau tidak menemukan cara dalam membangun rumah tinggal. Mungkin kita sekarang belum tentu mengenal tempat tinggal. Penemuan mereka dalam bentuk bangunan tempat tinggal adalah penemuan yang sangat jenius dan luar biasa.

Perkembangan demikian terdapat di Sumatera Selatan. Namun perkembangan di wilayah lain tentu memiliki corak berbeda. Dari bangunan paramaram dan pondok berkembang menjadi rumah panggung kedaerahan lain. Di Sumatera Bagian Barat berkembang menjadi rumah gadang khas Minangkabau.

Di Kalimantan, Nias, Sulawesi, dan lainnya bercorak juga berkembang rumah limas atau rumah panggung bercorak kedaerahan lainnya. Secara umum pengertian limas bukan berarti mengikuti nama rumah adat tradisional Sumatera Selatan rumah limas. Tapi limas yang berarti, suatu bidang yang lebar dan satu sisinya menyempit. Dapat diamati dengan bentuk atap rumah itulah yang dimaksud dengan limas.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 26 Juni 2019.

Sember wawancara:
Wawancara dengan Bapak Samsuri. Gajah Mati, 2019.
Daftar Bacaan:
Abdul Rochym. Masjid Dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia. Bandung: Angkasa, 1983.
Kristantina Indriastuti. Peradaban Masa Lalu Sumatera Selatan. Balai Arkeologi Sumatera Selatan: Palembang, 2016.
Edwin M. Loeb. Sumatra Sejarah dan Masyarakatnya. Terj. Windu Wahyudi Yusuf. Yogyakarta: Ombak, 2013.
Sumber foto rumah limas generasi ketiga oleh Desmiana.

Sy. Apero Fublic
Via Sejarah Kebudayaan
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Older Posts
Newer Posts

You may like these posts

Post a Comment

Post Populer

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak. Sastra Klasik Nusantara.

Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak. Sastra Klasik Nusantara.

Monday, August 03, 2020
Konstitusi di Antara Hafalan dan Kesadaran: Refleksi Mahasiswa PPKn terhadap Budaya Konstitusional di Indonesia

Konstitusi di Antara Hafalan dan Kesadaran: Refleksi Mahasiswa PPKn terhadap Budaya Konstitusional di Indonesia

Saturday, March 07, 2026
Sederhana Namun Ampuh: Garam dalam Tradisi Pengawetan Nusantara

Sederhana Namun Ampuh: Garam dalam Tradisi Pengawetan Nusantara

Tuesday, March 10, 2026

BULETIN APERO FUBLIC

BULETIN APERO FUBLIC

Translate

Search This Blog

Stay Conneted

facebook Like
twitter Follow
youtube Subscribe
vimeo Subscribe
instagram Follow
rss Subscribe

Featured Post

Arus Mudik Lintas Lubuk Linggau–Betung di Muba Lancar, Pos Pengamanan Siaga Penuh

PT. Media Apero Fublic- Friday, March 20, 2026 0
Arus Mudik Lintas Lubuk Linggau–Betung di Muba Lancar, Pos Pengamanan Siaga Penuh
Sekda Muba Pastikan Tidak Ada Titik Kemacetan, Pemudik Diimbau Tertib dan Manfaatkan Pos Layanan APERO FUBLIC   I  MUSI BANYUASIN . — Arus mudik Le…

Most Popular

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Friday, January 17, 2020
Legenda Putri Bulan. Kesetiaan Yang di Abadikan Menjadi Sungai Sake

Legenda Putri Bulan. Kesetiaan Yang di Abadikan Menjadi Sungai Sake

Sunday, November 10, 2019
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Wednesday, April 22, 2020
Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Tuesday, October 15, 2019
Legenda Cinta Puyang Gadis. Sumatera Selatan

Legenda Cinta Puyang Gadis. Sumatera Selatan

Saturday, March 21, 2020
Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Tuesday, June 25, 2019
Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Thursday, November 07, 2019
Mengenal Buah Pedare

Mengenal Buah Pedare

Monday, June 22, 2020
BPD Lumpatan II Serahkan langsung proposal usulan ke anggota DPRD MUBA pada reses II.

BPD Lumpatan II Serahkan langsung proposal usulan ke anggota DPRD MUBA pada reses II.

Thursday, April 23, 2020
Powered by Blogger
Apero Fublic

Website Archive

  • 2026484
  • 20251139
  • 2024203
  • 2023142
  • 2022103
  • 2021365
  • 2020435
  • 2019281

MAJALAH KAGHAS

MAJALAH KAGHAS

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

TABLOID APERO FUBLIC

TABLOID APERO FUBLIC

SELAK MAJO

SELAK MAJO
Karikatur

Labels

Aceh Aceh Besar Aceh Tamiang Aceh Utara Alor Amerika Serikat Anambas Andai-Andai Angkat Besi APERO FUBLIC Apero Herbal Apero Popularity Arkeologi Artikel Asahan Atambua BABEL Badan Pemerintah Bali Bandung Bangka Barat Bangkinang Banjarnegara Banten Banyuasin Batam Batang Batu Bara Batusangkar Baubau Bawaslu Bekasi Beladiri Belanda Belu Bencana Bener Meriah Bengkayang Bengkulu Bengkulu Selatan BENGSEL Berita Berita Daerah Berita Internasional Berita Nasional Betul Daerah Binjai Biologi Biruisme Bisnis BNN Bogor Bola BOLMONGUT BOLTARA Bosnia Brand Brazil Budaya Budaya Daerah Budaya Dunia Buku Populer Buletin AF Bulungan Cerita Bersambung Cerita Kita Cerita Rakyat Cerpen Cililin Cina Dairi Daratan dan Hutan Deli Serdang Dompu Dongeng Dongeng Dunia DPD RI DPR RI DPRD Dunia Anak e-Biografi e-Biografi Tokoh Ekonomi Ekonomi Islam Elektronik Energi Esai FASHION Fauna Feature Film Filsafat Flora Fotografi Gatget Gunung Sitoli Gunungsitoli Healthy & Fitness Himpunan Muslim HSS HST Hukum Hukum Islam Ibu dan Anak Ilmu Kesastraan Indragiri Hulu Iran Islam dan Budaya Islam dan Lingkungan Hidup Islam dan Masyarakat Islam dan Negara Islam dan Sosial JABAR Jakarta Jambi JATENG JATIM Jatinangor Jembrana Jepang Jurnal AF Jurnalisme Kita Jurnalistik Kabar Buku Kabar Desa KALBAR KALSEL KALTARA KALTENG KALTIM Kampar Kampus Kanada Kapolri Karo Kata Mutiara Katolik Kebudayaan Keislaman Kekristenan Kepahiang Kepemimpinan Kerinci Kesehatan Kesehatan dan Pendidikan Wanita Ketapang Kimia Kisah Legenda KKN Kolaka Konawe Selatan KONSEL Korupsi Kota Kota Bengkulu Kriminal Kuansing Kubu Raya Kuliner Kupang Labuhan Bajo Labuhan Batu Labura LABURA Lahat Lamandau Lampung Lampung Tengah Langkat Laporan Penelitian Lebak Lebong Lembata Lewoleba Lingkungan Hidup Lombok Lowongan Kerja Lubuk Linggau Lubuk Pakam Magang Mahasiswa Majalah Kaghas Makassar Malang Malaysia Mappi Marinir Mask Medan Mempawah Menembak Meranti Merauke Militer Mitos Morowali Morut MORUT Muara Enim Muaro Jambi MUBA MURA Muratara Musi Rawas Musik Nasional NTB NTT Ogan Ilir OKI OKU OKU Selatan OKU Timur Olahraga Opini Ormas Otomotif Padang Padang Lawas Padang Panjang Pagaruyung Palangkaraya Palembang Pamulang Panjat Tebing Pantun Papua Barat Daya Papua Selatan Parigi Moutong Pariwisata Partai Pasaman Barat Pasuruan PDF Pekanbaru Pemerintah Pemerintahan Pendape Pendidikan Penyakit Masyarakat Perkebunan Perpustakaan Pertanian Pertanian dan Alam Pesisir Selatan Pinrang Politik Populer Bisnis Populer Iklan Populer Produk Populer Profesi Prabumulih PraLeader Problematika Seks Propaganda Psikologi Public Figure Puisi Puisi Akrostik Purworejo Pustakawan PWI PWI MUBA PWI SumSel Renang Riau Rote Ndao Samarinda Samosir Sampah dan Limbah Sastra Kita Sastra Klasik Sastra Lisan Sastra Moderen SDA Sejarah Sejarah Daerah Sejarah Islam Sejarah Kebudayaan Sejarah Umum Sekayu Semarang Senam Seniman Sepak Bola Sepeda Listrik Sepeda Motor Serang Seruyan Sibolga Sidoarjo Sijunjung Silat Simalungun Singapura Skil Wanita Smart TV Solok Sorong Sosial Masyarakat Sport Suara Rakyat Sudut Pandang Sukabumi Sukamara SULSEL SULTENG SULTENGRA SULTRA SUMBAR Sumber Air Sumedang SUMSEL SUMUT Surabaya Surat Kita Syarce Tablet Tabloid AF Tamiang Tanah Datar Tangerang TANJABAR Tanjung Selor Tapanuli Tapanuli Utara TAPANUSEL TAPTENG Tebing Tinggi Teknologi Temanggung TNI TNI AD TNI AL TNI AU Tokoh Tokoh Wanita Tradisi Transportasi UKM-Bisnis Video Women World Yogyakarta

Laman Khusus

  • Cahaya
  • Daftar Kata Istilah Baru
  • e-Galeri Apero Fublic
  • Mari Kita Hijrah
  • Nasihat dan Motivasi
  • Apero Quote
  • Pribahasa Indonesia
  • Picture Indonesia
  • Pangeran Ilalang I
  • Pangeran Ilalang II

Pages

  • Pecakapan Sunset Sunrise
  • Flora Pangan Indonesia
  • Fauna Indonesia
  • Dawnload PDF Gratis
  • Dawnload Feature Gratis (PDF)

Recent Posts

Popular Posts

  • Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series
    Goda Series e-Bike APERO FUBLIC.- Berbicara tentang e-Bike atau sepeda Listrik saat ini memang tidak ada habisnya. Kendaraan praktis tanp...
  • Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly
    Sepeda Motor Listrik Produksi U^Winfly APERO FUBLIC.- U^Winfly merupakan Perusahaan Industrial pada sektor bergerak industri kendaraan list...
  • Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak. Sastra Klasik Nusantara.
    Apero Fublic.- Raja Syahriyuna yang memerintah di negeri Banduburi mempunyai seorang putri yang cantik dan berbudi luhur bernama Budiwangi. ...
  • Konstitusi di Antara Hafalan dan Kesadaran: Refleksi Mahasiswa PPKn terhadap Budaya Konstitusional di Indonesia
    Ilustrasi: Hukumonline APERO FUBLIC   I  OPINI .-  Konstitusi merupakan dasar hukum tertinggi yang menjadi landasan penyelengga...
  • Sederhana Namun Ampuh: Garam dalam Tradisi Pengawetan Nusantara
    APERO FUBLIC   I  OPINI .-  Indonesia sebagai wilayah tropis menghadapi tantangan besar dalam menjaga kesegaran bahan pangan. Su...
  • Dari Limbah Menjadi Energi: Bio-Oil Tandan Kosong Sawit Sebagai Bahan Bakar Masa Depan
    APERO FUBLIC   I  ENERGI . -  Setiap hari, pabrik kelapa sawit di berbagai daerah Indonesia menghasilkan tumpukan tandan kosong ...
  • Lapisan Ajaib dari Bahan Alami: Cara Baru Menjaga Daging Tetap Segar Lebih Lama
    APERO FUBLIC   I  FEATURE .-  Daging merupakan bahan pangan yang sangat mudah mengalami penurunan mutu. Jika penanganan dan peng...
  • Dari Buah Segar ke Buah Kering: Peran Teknologi Pengeringan Sebagai Strategi Pengawetan Buah
    APERO FUBLIC   I  OPINI . -  Indonesia dikenal sebagai negara tropis yang kaya akan produksi buah. Namun dibalik melimpahnya produksi ters...
  • Efisiensi dan Kualitas dalam Pengawetan Buah Segar dengan Metode Termal dan Non- Termal
    Sumber: Nowicka et al., 2021. 1.   Pendahuluan Buah segar memegang peranan strategis dalam sistem pangan global, baik dari aspek nutrisi...
  • Rahasia Ikan Tahan Lama: Mengungkap Cara Terbaik Memperpanjang Umur Simpan Ikan
    Ilustrasi: Penulis APERO FUBLIC  I  OPINI .-  Setiap tahun, sebagian hasil perikanan di Indonesia terbuang akibat pembusukan ya...

Editor Post

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Friday, January 17, 2020
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Smartphone Oppo Terbaru Tahan Terbanting: Oppo A3 Pro 5G

Smartphone Oppo Terbaru Tahan Terbanting: Oppo A3 Pro 5G

Monday, July 15, 2024
Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Wednesday, April 16, 2025
e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang II

e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang II

Sunday, June 23, 2019
Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Wednesday, April 22, 2020
Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Tuesday, June 25, 2019
Mengenal Pohon Serdang

Mengenal Pohon Serdang

Saturday, August 05, 2023

Popular Post

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak. Sastra Klasik Nusantara.

Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak. Sastra Klasik Nusantara.

Monday, August 03, 2020
Konstitusi di Antara Hafalan dan Kesadaran: Refleksi Mahasiswa PPKn terhadap Budaya Konstitusional di Indonesia

Konstitusi di Antara Hafalan dan Kesadaran: Refleksi Mahasiswa PPKn terhadap Budaya Konstitusional di Indonesia

Saturday, March 07, 2026
Sederhana Namun Ampuh: Garam dalam Tradisi Pengawetan Nusantara

Sederhana Namun Ampuh: Garam dalam Tradisi Pengawetan Nusantara

Tuesday, March 10, 2026
Dari Limbah Menjadi Energi: Bio-Oil Tandan Kosong Sawit Sebagai Bahan Bakar Masa Depan

Dari Limbah Menjadi Energi: Bio-Oil Tandan Kosong Sawit Sebagai Bahan Bakar Masa Depan

Thursday, March 05, 2026
Lapisan Ajaib dari Bahan Alami: Cara Baru Menjaga Daging Tetap Segar Lebih Lama

Lapisan Ajaib dari Bahan Alami: Cara Baru Menjaga Daging Tetap Segar Lebih Lama

Wednesday, March 11, 2026
Dari Buah Segar ke Buah Kering: Peran Teknologi Pengeringan Sebagai Strategi Pengawetan Buah

Dari Buah Segar ke Buah Kering: Peran Teknologi Pengeringan Sebagai Strategi Pengawetan Buah

Tuesday, March 10, 2026
Efisiensi dan Kualitas dalam Pengawetan Buah Segar dengan Metode Termal dan Non- Termal

Efisiensi dan Kualitas dalam Pengawetan Buah Segar dengan Metode Termal dan Non- Termal

Saturday, March 07, 2026
Rahasia Ikan Tahan Lama: Mengungkap Cara Terbaik Memperpanjang Umur Simpan Ikan

Rahasia Ikan Tahan Lama: Mengungkap Cara Terbaik Memperpanjang Umur Simpan Ikan

Saturday, March 07, 2026

Populart Categoris

Andai-Andai 3 Artikel 58 Berita 1420 Berita Daerah 1453 Berita Internasional 34 Berita Nasional 1166 Brand 117 Budaya Daerah 33 Cerita Bersambung 20 Cerita Kita 36 Cerita Rakyat 12 Cerpen 18 Dongeng 67 Ekonomi 27 Elektronik 21 FASHION 12 Fauna 4 Flora 62 Healthy & Fitness 15 Ibu dan Anak 1 Islam dan Budaya 11 Islam dan Lingkungan Hidup 7 Islam dan Masyarakat 3 Jurnalisme Kita 18 Kampus 316 Kesehatan 22 Kisah Legenda 10 Kuliner 30 Mitos 15 Opini 255 PDF 3 Pantun 6 Pariwisata 39 Penyakit Masyarakat 6 Problematika Seks 6 Puisi 56 Puisi Akrostik 5 Sampah dan Limbah 1 Sastra Kita 36 Sastra Klasik 53 Sastra Lisan 13 Sejarah Daerah 24 Sejarah Kebudayaan 28 Sepeda Listrik 15 Sport 2 Surat Kita 8 Tablet 20 Teknologi 154 Tokoh Wanita 10 UKM-Bisnis 24 Video 20 Women 4 World 3 e-Biografi Tokoh 23
APERO FUBLIC

About Us

PT. Media Apero Fublic merupakan perusahaan Publikasi dan Informasi yang bergerak dalam bidang Industri Kesusastraan. Apero Fublic merupakan bidang usaha utama bidang jurnalistik.

Contact us: fublicapero@gmail.com

Follow Us

© Copyright 2023. PT. Media Apero Fublic by Apero Fublic
  • Disclaimer
  • Tentang Apero Fublic
  • Advertisement
  • Contact Us