7/05/2019

Proses Perkembangan Bangunan Tempat Tinggal Manusia


Apero Fublic.- Penulisan sejarah perkembangan bangunan tempat tinggal ini bersumber dari pengamatan penulis dari beberapa kawasan di Provinsi Sumatera Selatan. Seperti dibeberapa kecamatan di Kabupaten Musi Banyuasin terkhusus di daerah Kecamatan Sungai Keruh. Dari aktivitas penduduk membangun tempat tinggal di perladangan mereka, perkebunan, dan pemukiman lama.

Kemudian pengamatan wilayah kabupaten lain, seperti Kabupaten Banyuasin, Kabupaten PALI, Kabupaten Ogan Ilir terutama daerah Maranjat, Kabupaten Muara Enim, Kawansan Pemukiman Tua di Kota Palembang di Seberang Ulu, Tangga Buntung. Lalu pembelajaran berlanjut di DEKRANASDA yang terdapat contoh bangunan rumah-rumah adat semua kabupaten di Sumatera Selatan. Maka kerangka berpikir dari tulisan ini adalah hasil pengamatan dari kebudayaan masyarakat di Sumatera Selatan.

Kerangka berpikir secara umum dari kebudayaan nasional. Perkembangan bangunan rumah tinggal asli dari bangsa Indonesia telah memiliki proses yang sangat panjang. Terciptanya bangunan tradisional secara luas. Sehingga melahirkan bangunan bercorak kedaerahan. Pelacakan awal para arkeolog mengenai nenek moyang bangsa Indonesia telah memberikan pandangan umum mengenai mereka. Dari masa-masa awal yang nomaden sampai dengan masa sekarang yang moderen.

Perkembangan bangunan rumah tinggal seiring dengan perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia itu sendiri. Perkembangan yang lambat memakan waktu ribuan tahun telah menghadirkan corak kedaerahan. Namun pada intinya perkembangan itu berawal dari perkembangan yang sama.

Berawal dari bangunan yang sangat sederhana, yang kemudian dikembangkan karena dipengaruhi pengalaman dan tuntutan iklim serta geografis alam sekitar. Selanjutnya, pada masa-masa prasejarah bangsa Indonesia yang mulai menjalin kontak dengan dunia luar, seperti bangsa Cina, Jepang, India. Kemudian dilanjutkan dengan pengaruh Islam dan terakhir Barat.

Saya juga menggunakan teori perkembangan. Teori perkembangan yang saya maksudkan adalah bahwa sipat dan tindakan manusia itu berproses. Pemikiran manusia akan berkembang ketika dia melakukan atau memulai sesuatu. Saya contohkan dengan bentuk mobil. Pada awalnya mobil hanyala kerangka mesin. Kemudian dikembangkan dengan ban dan kerangka. Dikembangkan lagi menjadi lebih sempurna. Dikembangkan lagi sampai menjadi seperti sekarang. Begitulah dengan sistem pikir manusia dalam membangun rumah tempat tinggal.

Pembahasan
Sistem tempat tinggal pertama bangsa Indonesia adalah gua-gua. Temuan para ahli dalam penelitian seperti adanya benda-benda ekofak, seperti cangkang siput, arang, tanduk binatang, dan sebagainya. Kemudian tinggalan lukisan tangan di dinding atau langit-langit gua.

Lalu temuan para arkeolog kerangka-kerangka manusia di dalam gua-gua. Masa ini adalah masa manusia Indonesia menghuni gua. Hampir setiap gua-gua di Indonesia ada lukisan telapak tangan. Masa itu, kehidupan sangat tergantung pada sumber alam. Maka semakin lama tinggal disuatu tempat maka semakin berkurang sumber daya alam. Jumlah populasi juga mempengaruhi dalam kepindahan manusia dari gua.

Pindah adalah solusi pertama dalam memenuhi kebutuhan hidup. Mulai memasuki masa nomaden dan kemungkinan juga menemukan gua baru. Dalam masa nomaden yang bertarung dengan alam membuat manusia belajar. Menghadapi hujan, panas, iklim yang dingin, serangan binatang buas, dan kasih sayang. Sehingga lambat laun manusia mulai menyadari membutuhkan tempat seperti gua yang melindungi diri cuaca, binatang buas, dan iklim.

Munculah ide untuk melindungi diri dari hujan dan panas. Bertedu di bawa pohon rindang atau di cela-cela batu. Memanfaat daun yang lebar untuk bertedu atau memayungi. Belajar dari itu, membuat pemikiran bergerak. Sehingga ingin memiliki tempat bernaung. Ide-ide sederhana mulai dilakukan. Lalu terciptalah bangunan pertama yang dibuat berbentuk persegi empat.

Memanfaatkan empat tiang kayu bercabang yang ditancapkan ketanah sama tinggi. Kemudian diletakkan empat kayu melintang panjang membentuk persegi empat, atau berbentuk persegi empat memanjang. Untuk meletakkan atap ditambah beberapa kayu melintang sebagai penyatu dan peletakan atap. Atap berupa rerantingan dedaunan pohon yang disusun diatas bangunan. Teknologi perkakas masa itu baru berupa kapak batu atau tulang hewan.

Sistem bangunan rumah seperti ini masih diterapkan oleh Suku Anak Dalam(suku kubu) yang masih hidup nomaden di pedalaman Provinsi Jambi, Provinsi Sumatera Selatan, dan lainnya. Dapat juga kita amati saat anak-anak desa bermain dengan membangun rumah-rumah dengan bentuk demikian. Sebagai bentuk ilham manusia dalam membangun tempat tinggal.
Ilustrasi ini menggambarkan bagaimana sederhanya bangunan awal tempat tinggal manusia di daerah tropis seperti Asia Tenggara.


Manusia terus belajar dari alam membuat perkembangan baru. Kalau temuan bangunan awal yang beratap datar dapat melindungi dari panas tapi tidak dengan air hujan. Air hujan masi merembes masuk walau tidak sederas tanpa atap. Sehingga manusia masa itu kembali berpikir bagaimana agar air hujan tidak lagi masuk. Pengamatan pada air yang mengalir ketempat yang lebih rendah.

Kemudian memunculkan inspirasi membuat atap menurun. Metode pembuatan sama seperti bangunan awal. Tapi pada bagian satu sisi di tinggikan, dan sisi lain direndahkan. Sehingga tercipta sistem atap menurun atau miring (iris pisang). Saat hujan, air hujan sudah lancar turun dan mengurangi rembesan air hujan. Tetap terlindung dari panas sinar matahari.

Sistem bangunan ini di istilahkan penduduk Melayu Sumatera Selatan dengan bangunan anjing meraung. Dinamakan demikian karena bangunan sistem itu mirip dengan anjing yang duduk sambil melolong. Di zaman sekarang, penduduk membangun bangunan ini saat mereka membutuhkan tempat bertedu secara praktis di ladang atau tempat mereka beraktivitas sementara.
Gambar. A.1.
Ilustrasi perubahan bangunan. Sisi naik dan Sisi menurun. Terbentuk istilah depan belakang bangunan.
Gambar. B.1.
Ilustrasi ini mencontohkan bangunan anjing meraung. Tahap perkembangan bangunan tinggal.
Pengalam dan tuntutan menghadapi alam dan geografis terus berlanjut. Saat bangunan anjing meraung sudah mengurangi rembesan air hujan. Walaupun masih ada merembes air hujan. Manusia kembali menghadapi masalah. Karena hujan selalu bersamaan dengan angin.

Bangunan yang sudah ditinggikan bagian depan tentu menghadirkan keterbukaan yang lebih tinggi. Sehingga angin leluasa masuk dan membawa air hujan. Atap rerantingan diterpa angin dan sering melayang. Sehingga sistem penindi atap juga muncul. Masalah baru muncul ini, membuat kembali memikirkan kembali bagaimana cara mengatasinya.

Maka inisiatip muncul, yaitu dengan menambahkan atap bangunan mereka di bagian depan. Mereka cukup menambahkan kayu-kayu menegak untuk atap. Sehingga bangunan anjing meraung berubah bentuk menjadi bangunan baru. Penduduk Melayu Sumatera Selatan menamakannya dengan paramaram.
Gambar. A.2.
Ilustrasi penambahan atap pada bagian depan bangunan anjing meraung.
Gambar B.2.
Ilustrasi penambahan atap yang sudah selesai dan menjadi bentuk bangunan baru. Paramaram.
Bangunan paramaram telah memberikan perlindungan cukup maksimal. Pada sistem pertemuan atap bangunan paramaram yang tidak dapat diatap diistilahkan talambungan. Selanjutnya disini muncul sistem atap parabungParabung nama atap khusus bagian teratas kerangka atap yang meyatukan atap dikedua sisi.

Bangunan paramaram cukup terlindungi dari alam dan iklim. Di kedua sisi sudah beratap dan curah hujan sudah lancar namun tetap merembes karena terbuat dari rerantingan pohon berdaun. Karena rerantingan pohon memiliki batas waktu maka timbul masalah lagi. Satu demi satu dedaunan tanggal apabila sudah mulai kering.

Pada awalnya mereka mengganti dengan rerantingan baru. Lama semakin lama, manusia juga berpikir mengatasi masalah atap yang setiap beberapa hari harus diganti dengan daun baru. Tentu saja ini membuat manusia berpikir untuk mengatasi masalah itu. Cara membuat atap juga muncul di benak manusia.

Maka sedikit demi sedikit manusia memilih dedaunan yang baik untuk atap. Maka merangkai daunlah cara terbaik agar dedaunan tidak jatuh saat kering. Merangkai daun tentu sangat sulit dan memakan waktu lama. Maka daun yang dipilih adalah daun yang tahan lama dan perangkaian cepat.

Dalam pencarian itulah manusia menemukan jenis dedaunan untuk atap, seperti daun ilalang, daun rumbia, dan daun nipa. Maka masalah atap terpecahkan dan rumah tinggal menjadi nyaman. Angin terus masuk, maka sistem dinding juga hadir dan sistem lorong muncul bersamaan. Terbentuklah prototipe bangunan tinggal awal dari manusia tropis.

Di kawasan dataran tinggi paramaram juga berkembang menjadi bangunan pondok depok. Depok istilah menyebut bangunan rumah yang langsung diatas permukaan tanah. Seperti di kawasan Pulau Jawa, Pulau Bali, Madura dan Papua. Di Papua, dapat dilihat dari bangunan rumah honai sebagai bentuk perkembangan dari bangunan tempat tinggal paramaram. Sistem bangunan rumah depok sederhana di daerah tersebut. Dapat dilihat dari sistem perumahan penduduk sekarang. Pada bangunan tinggal sederhana di pedesaan, rumah penduduk berdinding kepang (bambu), dan beratap daun ilalang (genting, seng).

Di kawasan dataran renah manusia menghadapi alam lagi. Dataran renah adalah tanah dataran rendah di sekitar sungai dan subur. Apabila di musim hujan akan sering banjir. Manusia mendiami kawasan renah karena kebutuhan transportasi, air, dan pertanian.

Kenyamanan banguan paramaram itu akhirnya mendapat masalah ketika hujan lebat, banjir hujan, atau banjir sungai. Di dalam bangunan paramaram yang diatas permukaan tanah langsung terdampak banjir. Air mengalir deras didalam bangunan paramaram. Kadang ada ular berbisa, binatang buas, dan serangan musuh. Maka untuk menghindari banjir, ular, binatang buas, musuh, maka bangunan ditinggikan dengan tiang.

Pada awalnya tiang biasa saja dengan ketinggian relatif. Lalu berkembang terus dan terciptalah bangunan pondok. Pada masyarakat Melayu Sumatera Selatan istilah pondok merujuk pada bangunan tinggal sederhana. Karena kata rumah (Uma) untuk penyebutan bangunan tempat tinggal yang lebih sempurna dan terletak di pemukiman (desa, kampung, kota). Sekarang, istilah pondok di Sumatera Selatan juga mulai  merujuk pada pondok pesantren.

Bangunan pondok inilah memberikan kenyamanan tinggal. Atap yang baik dari dedaunan (rumbia, nipa, ilalang, bambu), dan dinding dari kulit kayu atau bambu. Awalnya pondok biasa persegi empat dengan tangga. Kemudian penambahan dapur, karena membutuhkan tempat memasak. Karena bentuk penambahan, dan teknologi sistem penyambungan material kayu belum ditemukan.

Maka sistem penambahan dapur dan serambi depan menjadi menurun. Dapur juga memerlukan tangga maka perlu dibuat serambi untuk tangga dapur. Serambi juga tercipta karena untuk menghindari basah saat hujan berangin, panas sinar matahari. Atap serambi depan dan serambi dapur melindung dari hujan angin dan panas. Setelah itu, masuk masa tercipta pemukiman seperti Talang, Kampung, Nagari. Serambi bangunan pondok menjadi tuntutan untuk menerima tamu, dan bersantai keluarga.
Perhatikan bentuk bangunan pondok. Tampak bangunan dapur dan serambin depan (garang) menurun dari bangunan utama pondok. Itu menginformasikan pada kita kalau banguna dapur dan serambi datang kemudian dengan alasan tidak dapat menyambung alat pondok masa awal. Apabila disambung lurus akan sulit menata tiang dan atap. Pondok menjadi prototipe awal dari rumah panggung limas basepat (limas).


Pembangunan pondok tentu membuat manusia nyaman dan tenang hidupnya. Namun pondok yang sederhana akan terasa sesak apabila ditinggali oleh banyak manusia. Terutama bagi yang sudah menikah. Tentu kebutuhan keluarga seperti seks, kenyamanan, dan ekonomi segerah mempengaruhi. Sehingga, segerah membangun tempat tinggal untuk yang sudah menikah. Sehingga sampai sekarang sistem satu rumah satu keluarga terbentuk.

Manusia Indonesai yang kontak dengan kebudayaan asing. Mendapatkan teknologi yang baik dari logam. Tentu mempengaruhi sistem pembangunan rumah. Bangunan paramaram dan pondok yang sudah tercipta dalam waktu lama itu menjadi inspirasi. Sehingga dengan teknologi itu terbentuk rumah-rumah panggung besar di kawasan Asia Tenggara terutama di Indonesia.

Perkembangan bangunan rumah terus berlanjut sampai datangnya masa-masa kesultanan di Asia Tenggara khususnya Indonesia. Sistem pertukangan terus berkembang dan berkembang. Pengaruh arsitektur Cina datang. Diikuti dengan alat pertukangan yang juga tercipta dari besi berbagai jenis. Pengolahan dengan gergaji besar membelah kayu-kayu besar menjadi papan.

Masyarakat mengistilahkannya dengan membaji. Ada sistem batara pada masyarakat Melayu Sumatera Selatan dalam mengolah kayu bulat menjadi persegi empat untuk kerangka rumah. Cara batara yaitu mencaca batang kayu dengan parang besar, dibentuk persegi empat. Untuk taso masih menggunakan kayu bulat, dan reng dari bambu. Reng adalah nama rangka rumah utuk meletakkan atap, terutama atap genting dan atap sirap.

Bangunan awal pondok berkembang menjadi rumah panggung limas basepat di Sumatera Selatan. Basepat berarti naik turun dan menurun. Naik dari ruang depan, lalu lantai kembali menurun di bagian dapur, serambi dapur. Ada penulis mengistilahkan dengan rumah panggung undak atau ruamh limas undak. Saya rasa kurang tepat dengan istilah undak. Karena bangunan berundak berbentuk persegi empat yang berundak (bertingkat) dikeempat sisinya. Di bagian teratas bangunan semakin mengecil.

Sedangkan rumah limas basepat bangunan teratasnya paling besar. Bangunan berundak  juga untuk banguan keagamaan, bukan tempat tinggal. Seperti punden berundak masa purba, bangunan keagamaan Budha seperti candi borobudur, dan atap bertingkat pada bangunan masjid tradisional di Asia Tenggara.
Foto rumah Limas Basepat. Perhatikan lantainya naik menurun. Tiang-tiangnya masih ada dari kayu unglen atau kayu besi. Sudah ada sedikit renovasi oleh pemilik, seperti pengecatan, dan mengganti beberapa tiang dengan tiang batu bata. (sumber foto. Apero Fublic. Lokasi Desa Gajah Mati, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan)


Setelah pembangunan rumah limas basepat yang lantanyai bertingkat naik turun seperti tangga, muncul sistem rumah limas malamban. Istilah penyebutan masyarakat malamban diambil dari nama tempat penyemberangan sungai yang sederhana, lambanlamban terbuat dari sebatang kayu. Awalan ma dalam bahasa Melayu berarti sesuatu yang dilakukan dan sedang terjadi. Balamban orang yang sedang menyemberangi melintasi di atas lamban. Rumah Limas Malamban ini berbentuk mendatar memanjang, dari serambi depan sampai ke dapur.

Hanya bangunan dapur yang menurun.Ada penulis yang mengistilahkan rumah panggung malamban dengan istilah rumah limas cara gudang dengan alasan rumah itu berbentuk gudang. Istilah cara gudang saya rasa kurang tepat, mengingat kata gudang untuk istilah bangunan lain. Filosofi dalam penamaan Rumah Limas Malamban karena saat membangun kitau-kitau yang panjang lurus mengingatkan masyarakat dengan lamban di atas sungai.

Kitau adalah nama kerangka bangunan rumah paling bawah yang terletak diatas tiang-tiang. Para tukang sibuk melintas di atas kitau bangunan rumah panggung saat mereka beraktivitas.  Seperti orang yang sedang menyemberangi sungai di atas lamban. Saat memasang kerangka rumah satu demi satu. Maka timbul kata istilah Rumah Limas Malamban. Di kawasan Sumatera Selatan, pengaruh rumah Limas Malamban dibawak oleh orang-orang Maranjat.

Menyebar ditahun 1940-an. Memolo sebuah rumah di Desa Gajah Mati menginformasikan dengan adanya tahun pembuatan diatas atap perabung. Tukang Maranjat sangat terkenal di Sumatera Selatan. Sampai sekarang masyarakat kawasan Maranjat banyak menjadi tukang. Sekarang mereka sudah ada sistem rumah panggung bongkar pasang yang dapat dipindahkan dan dibawak ketempat pembeli yang jauh dari lokasi pembangunan.
Foto rumah Limas Malamban. Perhatikan lantainya yang lurus tidak menurun. Rumah limas ini adalah bentuk perkembangan baru dari rumah Limas Basepat. (Sumber foto. Apero Fublic. Lokasi Desa Gajah Mati, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan).

Perkembang selanjutnya tidak ada perubahan berarti pada bangunan rumah panggung atau rumah limas tipologi malamban. Hanya dari bentuk dan ragam hiasnya. Rumah Panggung lama berbentuk besar-besar dengan kayu berkualitas tinggi. Untuk rumah panggung atau rumah limas generasi ketiga berbentuk lebih mungil dan sederhana. Perbedaan itu dari atap, jenis kaca, tidak ada ukiran pahatan, serta modelnya juga berbeda.

Selain rumah panggung generasi ketiga, perkembangan rumah penduduk juga memasuki pase baru, yaitu rumah beton berbentuk depok. Depok adalah bangunan langsung terletak di atas permukaan tanah. Kembalinya bangunan rumah manusia ke atas permukaan tanah seperti zaman permulaan perkembangan bangunan tempat tinggal dahulukala. Mengapa kembali, sebab manusia telah berhasil menguasai lingkungan alam. Sedangkan manusia dahulu lari dari lingkungan alam.
Foto rumah panggung atau rumah limas generasi ke tiga. Bentuk rumah limas generasi ketiga tidak lagi monoton dengan satu corak seperti rumah limas basepat dan limas malamban. Memiliki berbagai variasi dan corak, dari ukuran bentuk, tinggi rendah, gaya arsitektur. Lokasi Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Penutup
Bangunan tempat tinggal adalah bangunan pertama yang dibangun manusia. Berkembang sangat lambat seiring mereka berinteraksi dengan alam. Inisiatif melindungi diri, meniru burung yang memiliki sarang, dan tuntutan keadaan. Manusia zaman sekarang patut bersyukur karena nenek moyang manusia telah memunculkan kebudayaan.

Kebudayaan masa sekarang adalah hasil jerih payah dan buah pikir mereka. Manusia zaman sekarang hanya mengembangkan kebudayaan sederhana masa lampau. Coba bayangkan kalau nenek moyang kita masa lampau tidak menemukan cara dalam membangun rumah tinggal. Mungkin kita sekarang belum tentu mengenal tempat tinggal. Penemuan mereka dalam bentuk bangunan tempat tinggal adalah penemuan yang sangat jenius dan luar biasa.

Perkembangan demikian terdapat di Sumatera Selatan. Namun perkembangan di wilayah lain tentu memiliki corak berbeda. Dari bangunan paramaram dan pondok berkembang menjadi rumah panggung kedaerahan lain. Di Sumatera Bagian Barat berkembang menjadi rumah gadang khas Minangkabau.

Di Kalimantan, Nias, Sulawesi, dan lainnya bercorak juga berkembang rumah limas atau rumah panggung bercorak kedaerahan lainnya. Secara umum pengertian limas bukan berarti mengikuti nama rumah adat tradisional Sumatera Selatan rumah limas. Tapi limas yang berarti, suatu bidang yang lebar dan satu sisinya menyempit. Dapat diamati dengan bentuk atap rumah itulah yang dimaksud dengan limas.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 26 Juni 2019.

Sember wawancara:
Wawancara dengan Bapak Samsuri. Gajah Mati, 2019.
Daftar Bacaan:
Abdul Rochym. Masjid Dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia. Bandung: Angkasa, 1983.
Kristantina Indriastuti. Peradaban Masa Lalu Sumatera Selatan. Balai Arkeologi Sumatera Selatan: Palembang, 2016.
Edwin M. Loeb. Sumatra Sejarah dan Masyarakatnya. Terj. Windu Wahyudi Yusuf. Yogyakarta: Ombak, 2013.
Sumber foto rumah limas generasi ketiga oleh Desmiana.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment