7/18/2019

Kisah Malam Bermendung


Apero Fublic.- Malam yang penuh dengan kenangan. Bintang segi tiga menghiasi dibeberapa penjuru langit. Bulan tampak malu-malu mengintif dari balik awan kelabu. Segerombol kalong melintas diudara menembus remang cahaya bulan.

Mataku yang nanar menjuling di ruang alam yang gelap. Sengaja aku menyendiri dari keramaian malam itu. Bukan karena luka hati atau sebab kekecewaan. Tapi aku sedang merasa nyaman sendiri. Aku ingin berlama-lama dalam kesejukan malam, tanpa siapa-siapa.


Aku berpikir kehidupan itu digambarkan seperti malam yang gelap dan tertutup mendung yang tebal. Air hujan setiap saat akan siap menimpa. Entah itu hujan sesaat hanya membawa berkah, atau hujan yang disertai azab tuhan.  Aku mengenang waktu beberapa tahun lalu. Banyak yang begitu membuat aku menyesal. Tapi aku berjanji untuk tidak mengulang perbuatan yang sama.


Bulan yang awalnya malu-malu menampakkan diri sekarang dia benar-benar bersembunyi di balik awan hitam. Sehingga cahayanya tertutup dan alam gelap. Bintang, melihat bulan bersembunyi juga ikut bersembunyi di balik awan hitam. Menundung telah datang dan gerimis juga hadir.

Aku yang hanya duduk beratap dedaunan pohon terkenah rintik malam itu. Keinginanku menyepi sambil bercerita dengan rembulan tidak jadi. Entah mengapa rembulan berlalu pergi. Langit dan bintang yang indah itu menutup tirai dengan hujan yang mulai turun. Aku berlari menyusuri jalan sempit dan tiba di serambi rumah. Ada rasa sayang pada rembulan yang belum tercurah.

Begitupun rasa rindu pada bintang yang belum terobati. Sekarang aku hanya dapat memandangi hujan malam dari serambi rumah. Menatap tetesan air hujan yang jatuh di teratak atap. Aku sedikit kecewa dengan alam yang membawa hujan. Tapi aku menerimah dengan ikhlas juga. Lama aku berdiri dalam hening menikmati musik hujan yang mendesah.

Waktu berlalu dan cuaca menjadi baik. Bulan dan bintang tersenyum menatapku. Mereka bilang, terimahkasih sudah bersabar. Menanti kami kembali dan marilah kita bermain. Aku tersenyum bahagia dan memulai pertualangan yang baru. Hidup seperti malam yang ada awan mendung akan hujan. Jangan sedih bulan dan bintang tidak pergi. Mereka hanya ingin kita bersabar menunggu yang kita inginkan terjadi.


MALAM BERMENDUNG            


Malam bermendung

Mega-mega hitam, berlalu-lalang.

Dengan laksa bayangan temaram cahaya bulan.

Membersit berkelebat bayangan hitam.

Diantara kerapatan pepohonan.

Mengintip burung hantu.

Ular-ular berbisa mendesisi dalam dengki.


Jangan takut di malam bermendung.

Malam dingin menakutkan.

Bagai di pekuburan.

Mungkin hari segera hujan.

Dingin bagai di kutub.


Jangan takut di malam bermendung.

Itu hanya bayang-bayang.

Tak perlu kau hiraukan.

Bunyi-bunyi jangkrik malam.


Malam bermendung.

Akan berlalu, juga.

Ayam berkokok, Mentari menyibak.

Cahaya yang berkilau.

Berkicau nan beburung.

Semerbak bungah berkelopak mekar, wangi.

Harapan baru dimulai

Tersenyum dalam damai.

Hari itu milik kita.


Oleh: Medikal Rohim.

Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 15 November 2018.

Foto. Medikal Rohim.

Kategori. Syarce Fiksi

Sekilas tentang penyair, dia seorang mahasiswa di Universitas Bina Darma di Kota Palembang. Mengambil bidang studi teknik sipil. Dia lahir di Kabupaten Musi Banyuasin pada tahun 1999, anak ke empat dari enam bersaudara. Motonya dalah “jangan menyerah dan teruslah berusaha.”

Dia bercita-cita menjadi seorang arsitek ternama dan membangun sebuah perusahaan konstruksi yang profesional dan mederen. Pesan, hidup hanya sekali, maka berjuanglah sebaik-baiknya, dan jangan pernah memikirkan kegagalan. Kegagalan tidak ada pada diri seorang pejuang. Untuk makanan pavoritnya adalah bakso, dan menyukai warna putih bersih. Salam.


Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment