6/26/2019

Ulandari. Terutukmu Ayah

Apero Fublic.- Syarce. Pernahkah kau menatap langit, tanpa matahari, atau tanpa bulan. Bukankah gelap terasa dunia ini. Pernahkan kau bertanya, bagaimana dunia ini tanpa sosok ayah??? Jangan tanyakan padaku, sebab kita memiliki seorang ayah, dan tentu hatimu dapat menjawabnya.

Sosok seorang ayah adalah idolah pertama dari anaknya. Seorang ayah juga bentuk cinta pertama dari putrinya. Dimana lelaki yang selalu menjadi pujaannya sepanjang masa. Seorang ayah selalu bekorban dan bersabar dalam menghadapi tingkah anak-anaknya.

Kadang hatinya terluka dan tersinggung sebab kenakalan anaknya. Kadang dia begitu kecewa dengan perbuatan anaknya. Namun, ayah tetap bersabar dan kadang rela mengalah. Karena dia bijaksana sekali, hatinya berkata, "anakku belum dewasa, dia masih anak-anak" tetapi sesunggunya walau kita sudah dewasa sekalipun sifat itu masih juga melekat di jiwanya.

Bila sunyi dia termenung dengan tenang. Terbayang masa mudanya dahulu, bebas dan tanpa beban. Ingin dia mengulang masa-masa bebas itu. Tetapi kebebasan itu telah di rampas oleh anak dan istrinya. Apabila tangan halus telah menyentuh tubuhnya, bagai ikatan tali kuat sehingga jiwa petualang lelaki terkubur dalam jasad yang semakin menua.

Kalian tahu, kadang seorang ayah sedikit merendahkan dirinya untuk sesuatu, entah itu masalah pekerjaan atau hinaan orang. Mengertilah, seorang lelaki sampaikan kapanpun tetap lelaki, sifat kasar tidak akan hilang.

Dia ingin memberontak, sama seperti lelaki muda lainnya. Dia juga punya amarah, punya emosi, punya harga diri yang tinggi. Namun demi anak dan keluarganya hal-hal itu dia abaikan, dan relah dalam tertekan jiwanya. Dia merunduk dalam rintihan pedih.

Satu hal, setiap kali dia ingin berbuat kesalahan, dimatanya terbayang senyum-senyum anak-anaknya, yang butu kasih sayang, butuh nafka, butuh perhatian, harus ada yang menjaganya. Sehingga redam semua amarahnya. Dia biarkan goresan-goresan luka, tetapi tetap tersenyum dan terlihat bahagia.

Orang bilang lelaki jarang menangis, tetapi sesunggunya tangisan lelaki itu lebih dahsyat dari tangisan seribu tangisan wanita. Mungkin seorang anak, seorang istri, tidak pernah melihat tangisan itu. Tangisan itu terletak di dalam uluh hatinya yang paling dalam.

Kalau kita ingin melihat seberapa banyak tangisan itu. Lihatlah pada tubunya yang semakin lema, lihat pada langkahnya yang semakin lamban, matanya yang semakin buram, kulitnya yang semakin keriput. Disanalah tangisan itu dia simpan seorang diri. Tidak dia mengadu pada kita, pada ibu kita, pada sesiapapun.

Sayangilah ayahmu dengan ketulusan hati. Jaga hargadirimu apabila kau seorang gadis, dan jadilah manusia yang baik. Sehingga dia akan bangga akan engkau, dan merasa berhasil di dunia ini. Menyayangi ayah bukan dengan salim tangan saat kita pergi, tetapi menjadi manusia baik saat jauh darinya, bahkan sampai dia tiada suatu hari nanti. Dariku untukmu ayah.

AYAH

Hatiku merasa sakit.
Napasku terasa sesak.
Kala kulihat dari kejauhan.
Wajah keriput yang penuh keringat.

Wajah lelah namun tetap semangat.
Wajah yang menyimpan luka.
Namun tetap mampu tertawa.
Wajah penuh kerinduan dengan perhatian.
Wajah yang penuh harapan.

Iya itu wajah seorang ayah.
Wajah yang, aku pernah tak ingin melihatnya.
Saat aku marah.
Tapi tetap ia memberikan perhatian.
Wajah yang pernah aku benci.
Saat permintaanku tak terpenuhi.
Tapi tetap mengajariku dengan baik.

Hari ini.
Dari kejauhan aku pandangi.
Wajah yang sudah tua itu.
Wajah yang penuh penderitaan itu.
Kulitnya makin keriput.
Bahunya makin kecil.
Tubuhnya makin membungkuk.

Tersentak air mataku jatuh tak tertahan.
Tepikir dalam benakku.
Mampukah aku.
Mampukah diriku ini.

Mampukah,
Jiwa dan ragaku ini membahagiakannya.
Mampukah Aku.
Tidak melukai hatinya.
Mampukah aku.
Tidak membuatnya meneteskan air mata.
Mampukah aku membahagiakannya.

Mampukah diriku membuatnya bangga
Mampukah aku merawatnya dengan baik.
Ketika ia sudah lemah dan tak berdaya.
Mampukah aku menghiburnya ketika ia susah.
Bukan malah aku yang membuatnya tambah susah.

Sebuah tanya dalam jiwaku.
Mungkin jua sebuah janjiku.
Ayah.

Oleh. Ulandari.
Ogan Ilir, 1 Februari 2019.
Sumber foto. Ulandari.
Kategori. Syarce Fiksi
Editor. Joni Apero.

Sekilas tentangku. Nama lengkap Ulandari, biasa dipanggil Ulan saja. Lahir di Rantau Panjang, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, pada tanggal 9 September 1997. Aku memiliki hobi membaca, terutama buku-buku biologi. Selain membaca aku juga hobi menulis, memasak, dan jalan-jalan.

Warna kesukaan banyak, seperti hijau, biru, pink, ungu, dongker, dan maroon. Untuk makanan favoritku, menyukai bakso dan mie ayam. Aku juga suka makan nasi putih. Iyalah nasi putih itu makanan pokok orang Indonesia. Sekarang aku sedang menempuh studi di Universitas Sriwijaya (UNSRI), dengan bidang studi ilmu biologi, di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan.

Kalau motoku, "ala bisa karena biasa, takkan berhenti perjuangan sebelum tercapai keinginan. PesanKU, Jangan lupa untuk bersyukur atas apa yang telah Allah berikan, Allah tentukan, dan apa yang ditakdirkan-Nya, karena sabaik-baiknya rencana seorang manusia. Tak sesempurna rencana Allah yang telah dipersiapkan-Nya untuk hambanya. #Salam sastra kita.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment