6/23/2019

Hikmah Berbagi. Tak Padam di Makan Waktu


Apero Fublic.- alang adalah nama pemukiman kedua penduduk di daerahku, Sekayu, Sumatera Selatan. Biasanya, nama Talang diambil dari nama-nama yang mewakili tempat itu. Seperti nama sungai, nama buah-buahan, atau nama orang pertama yang membuka Talang.

Penduduk membuat Talang karena daya jangkau perjalanan yang sudah jauh dari desa. Tempat tinggal utama mereka. Sehingga masyarakat membangun pemukiman kedua, untuk memudahkan berkebun atau berladang. Talang berupa sekelompok pondok-pondok sederhana, di kelilingi kebun-kebun atau ladang.

Pondok dalam bahasa Melayu daerahku adalah nama bangun tempat tinggal yang sederhana. Kata pondok menjelaskan bentuk lain yang berbeda dari rumah. Rumah berarti sudah dibangun dengan teknologi cukup dan bahan yang berkualitas. Kadang ada juga Talang yang berkembang menjadi desa dikemudian hari, sebab banyak penduduk yang menetap. Atau karena terletak di pinggir jalan raya.


Aku seorang pemuda lajang. Umurku sudah sembilanbelas tahun. Pendidikanku sebatas Sekolah Menengah Pertama (SMP). Aku tidak memiliki pergaulan luas, kehidupanku habis di dalam kebun, hutan, atau mencari ikan di sungai.

Pemikiranku tidak mampu menjangkau hal-hal yang tinggi, tidak logis. Aku ingin menjadi orang hebat. Namun aku tidak memiliki keterampilan apa-apa. Begitulah aku, potret pemuda desa yang sederhana. Aku tidak pernah merantau atau berjalan-jalan ke kota. Dari kecil sampai usia sekarang.

Bacaanku hanyalah Al-Quran biasa yang sudah lapuk. Kehidupan desa yang terpencil, dan kungkungan budaya feodalisme. Membuat semua kemajuan dunia, aku tidak tahu. Suatu hari aku berpikir tentang kehidupan ini. Apalah arti dengan hidup yang begini-begini saja.

Jiwaku bertanya-tanya dan memberontak. Tetapi apa daya. Daya pikirku yang kolot, tahayul, bodoh, keras kepala, dan pola pikir  yang pendek. Membuat aku tidak dapat berpikir luas dan logis. Satu hal yang terpikir adalah, aku ingin pergi dari rumah. Tentu kepergianku bukan ke kota. Aku pamit pada ayah dan ibu, pergi ke sebuah Talang yang jauh.

Mungkin lebih dari 100 kilometer dari desaku. Menjadi buru kebun karet warga di sana. Masyarakat kami menerapkan sistem bagi hasil antara pekerja dan pemilik kebun. Rencanaku mengumpulkan uang untuk modal usaha kecil-kecilan. Di desaku, kami tidak memiliki kebun atau tanah untuk digarap. Ayah bekerja sebagai buruh tani disebuah perusahaan perkebunan.

Talang Pedare, terdapat limabelas pondok sederhana berbentuk panggung. Pola pemukiman Talang tidak beraturan. Jarak antara satu pondok dengan pondok yang lain, sekitar 30 atau 40 meter. Atap-atap pondok terbuat dari seng, daun rumbia, Ada dari daun ilalang, dan juga dari bambu.

Berkerangka kayu bulat, berlantai papan, ada dari bila bambu. Sedangkan dinding ada dari papan, kulit kayu, dan bambu. Terletak di atas sebuah bukit kecil. Di kiri kanan Talang ada lembah menurun sedang, tidak curam. Di lembah terdapat sungai kecil sebagai tempat mandi dan sumber air bersih.

Pemukiman Talang Pedare seluas dua hektar. Pondok tersebar di bawa pohon-pohon buah-buahan. Buah yang paling banyak adalah pohon buah pedare (kelengkeng). Karena itulah Talang ini dinamakan warga, Talang Pedare. Sudah dua bulan aku tinggal di Talang Pedare.

Aku membangun sebuah pondok panggung sederhana berukuran luas dua meter, panjang tiga meter, dan satu meter dapur. Tinggi tiang sekitar dua meter. Pondok kecil tidak berserambi. Bertangga langsung di muara pintu depan. Lantai dibuat dari sisa-sisa kulit kayu pembuatan papan.

Sedangkan dinding dibuat dari kulit pohon. Atap dibuat dari daun rumbia. Waktu itu musim penghujan pada puncaknya. Yaitu antara bulan Januari sampai April. Bulan-bulan itu adalah waktu yang sulit bagi petani karet. Sebab hujan turun terus, siang atau malam. Kadang banjir, dan kadang hujan berhari-hari.
Pertengahan bulan Maret, cuaca tidak kunjung membaik. Dalam seminggu ini curah hujan benar-benar tinggi. Suatu malam cuaca seperti biasa. Angin berhembus kencang disertai hujan deras. Suaranya menjadi menderu-deru karena menerpa dedaunan pohon. Sering ada pohon yang jatuh tumbang. Terutama pohon yang sudah tua. Petir dan kilat bersabung di antara guyuran air hujan.

Suasana sepi dan sunyi. Aku terlelap dalam tidur yang nyenyak. Keesokan paginya, sekitar pukul tujuh pagi. Aku merasa heran melihat kerumunan warga di sebua pondok yang paling ujung, pondok si Rozi.  Tidak biasa, pasti terjadi sesuatu pikirku. Aku mendatangi, untuk mencari tahu.

Saat melangkah kesana, seekor tupai melompat di dahan-dahan pohon buah pedare yang membuat dahanya bergoyang. Lalu berjatuhanlah talutuhTalutuh dalam bahasa Melayu daerahku, berarti air sisa hujan yang menempel di dedaunan pepohonan. Saat talutuh membasahi tubuh, terasa dingin menusuk. Membuat bulu romaku berdiri. Sampailah aku di sana.

Dua bulan sudah cukup untuk mengenal semua warga Talang. Saat aku datang istri Rozi, tampak menangis sedih. Dia menggendong anaknya yang selalu rewel menangis, sakit katanya. Ternyata semalam disekitar pondok Rozi ada pohon besar tumbang. Menimpah sebatang pohon lain sebesar ember air.

Pohon ini robohnya menimpah dapur pondok Rozi. Kejadiannya sekitar pukul tiga pagi, ceritanya. Aku juga mulai membantu warga membersihkan dahan-dahan pohon yang menimpa dapur pondok Rozi. Rozi nampak lesu melihat pondoknya reot, dan nyawa mereka hampir saja melayang. Tetapi Allah masih melindungi mereka.

Karena beban berat dahan pohon. Ada tiang dapur lepas membuat dapur pondok perlahan jatu ke tanah. Sembako Rozi tidak dapat diselamatkan. Terutama beras yang terpenting. Berasnya tumpa dan berhamburan di tanah. Ayam-ayam warga berebutan memakan beras Rozi.

Melihat itu, warga terpaksa memutus dapur pondok Rozi. Agar bangunan utama pondok tidak ikut rusak. Sehingga pondok menjadi tidak berdapur lagi. Ibu-ibu membantu memungut peralatan dapur, kuali, belanga, periuk, yang agak penyok-penyok. Uwa Azan, seorang wanita berumur empat puluhan tahun menyemangati Rozi dan istrinya.

Azan nama anak tertuanya. Karena adat kami tidak boleh menyebut nama orang yang lebih tua dari orang tua kita. Maka dipanggil Uwa Azan. Begitupun aku dan warga memberi dukungan yang menguatkan keluarga kecil itu. Namun hal yang paling sulit adalah sembako. Warga semuanya dalam kesulitan. Jangankan membagi, untuk keluarga mereka entah cukup entah tidak.

Kami semua menunggu cuaca baik untuk menyadap karet. Keadaan kami di Talang Pedare sama, baik keuangan dan persediaan sembako. Sangat bergantung dari hasil menyadap karet. Kalau keadaan cuaca begini, siapapun akan kesulitan. Menjelang siang pondok Rozi sudah bersih, dan kuat lagi. Ada tiang yang diganti dan di pasang penyangga.

Sehingga istri dan anak Rozi dapat beristirahat. Warga juga sulit menampung mereka. Karena pondok mereka juga kecil, dengan beberapa anak-anak. Hanya aku yang bujangan di Talang Pedare. Aku menawarkan pada Rozi untuk istirahat di pondokku. Agar punya teman berbincang-bincang. Sementara langit kembali mendung, dan hujan pun kembali. Warga yang berangkat ke kebun beberapa jam lalu pulang dengan tubuh basah.

Semuanya mengeluh, sebab keadaan sulit sekali. Bisa-bisa kelaparan gerutu mereka. Di pondokku Rozi menumpahkan kesedihannya. Aku mendengarkan dengan baik, agar kesedihan Rozi agak berkurang. Aku bilang itu cobaan agar dia bersabar. Kami menceritakan keadaan kami semua. Mengerti kalau dalam kesulitan.

Rozi begitu murung dan sedih sekali. Tapi untung hanya bagian dapur pondok yang ditimpa pohon. Sehingga nyawa dia, istri dan anaknya selamat. Hanya sembako, seperti beras tertumpah bersamaan robohnya dapur pondoknya, kata Rozi.

Rozi duduk bersandar di dinding pondokku. Dia menjabak rabutnya yang gondrong berkali kali, karena berpikir keras. Aku menghidangkan kopi panas. Minum kopi sambil bercerita. Rozi mengadukan keluh kesahnya. Dia khawatir pada anaknya yang demam panas. Rozi ingin membawa anaknya ke bidan atau puskesmas.

Namun tidak ada uang sepeserpun. Air mata Rozi menetes sendiri akhirnya. Dia merasa bersalah karena telah mengajak anak dan istrinya tinggal di Talang Terpencil ini. Niat Rozi menyadap karet di sini untuk melunasi hutan acara pernikahan mereka setahun lalu.

Memang begitulah kebiasaan masyarakat kami. Menikah menghabiskan uang puluhan juta demi kemeriahan acara pernikahan. Tidak perduli harus berhutang atau menjual harta benda. Sehingga dalam waktu tiga atau empat tahun habis digunakan untuk membayar hutang pernikahan.

Betapa malunya menjadi ayah dan suami, kembali keluh Rozi. Sehingga dia merasa menyesal telah menikah. Aku bilang agar Rozi jangan berkata begitu, semua ada hikmanya. Sambil menghirup kopi dan memperhatikan rintik hujan. Rozi berharap cuaca segerah baik.

Sehingga dia dapat menyadap karet. Tetapi itupun membutuhkan waktu dua hari paling tidak. Sebab karet juga harus dibawa ke desa terdekat untuk dijual ke pengepul (toke). Maka makin pusinglah Rozi, sedangkan anaknya harus segerah diobati.

Aku merasa kasihan juga mendengar keluhan Rozi. Begini pikirku kalau sudah menjadi ayah. Selain itu, aku berpikir keras di dalam otakku. Melawan rasa takut dengan rezeki dikemudian hari. Takut kekurangan, takut kelaparan, dan takut rugi.

Sesungguhnya aku memiliki sedikit uang, dan ada lima kilo beras. Peperangan terjadi di dalam jiwaku. Pertengkaran batin dengan hebat waktu itu. Untuk membantu Rozi dalam kesulitan. Bagaimana kalau cuaca buruk terus, kata hatiku?. Aku akan kelaparan!.

Alangkah kejamnya aku, kalau tidak membantu Rozi, kata hatiku lagi. Akhirnya aku bilang pada Rozi, kalau dia mau, aku akan meminjamkan uangku. Sesungguhnya aku memberikan saja uangku. Tetapi untuk menghormati Rozi jadi aku bilang meminjamkan. Aku juga sangat berat melepas uangku yang sedikit itu.

Sebab aku juga tidak punya tabungan lain. Mungkin kalau hari tidak membaik, dalam waktu seminggu ini kemungkinan aku juga kelaparan. Tapi aku merasa iba melihat keadaan Rozi. Apalagi anaknya yang berumur beberapa bulan itu sakit. Akan berbahaya kalau tidak segerah diobati.

Aku bangkit dari dudukku. Membuka sebuah kardus yang terletak di sudut pondok. Aku mengambil sebuah toples bekas permen. Di dalam toples terdapat uang pecahan dan logam. Dari ribuan, lima ribu, sepuluh ribu, dan dua lembar uang dua puluh ribu rupiah.

Aku menghitung uang logam, menunpuk-numpuk sesuai nominalnya. Selesai, jumlah uang 122.800 rupiah. Aku mengambil plastik kecil bekas tempat gula pasir ukuran setengah kilo. Dan kantong plastik hitam yang cukup besar. Uang aku masukkan kedalam kantong plastik gula.

Kemudian memasukkan beras enam canting kedalam kantong plastik hitam. Ukuran enam canting kaleng susu enak sama dengan satu setengah kilo beras. Canting (kaleng susu) menjadi ukuran beras dalam memasak atau menakar beras di daerahku. Sekarang persediaan berasku tinggal tiga setengah kilo lagi. Cukup untuk satu minggu makan seorang diri.

Rozi begitu bahagia karena besok dia dapat mengobati anak kesayangannya. Rozi tidak menyangka kalau aku ada tabungan di toples begitu. Dia tidak peduli dengan apapun asal anaknya sembuh, apalagi cuma sekedar uang rece. Berkali-kali dia mengucapkan terimakasih. Satu setengah kilo beras cukup untuk Rozi dan istrinya, dalam tiga kali memasak.

Memasak makan siang hari ini, makan sore nanti, dan makan besok pagi. Keesokan paginya Rozi bersiap berangkat ke desanya. Perjalanan itu memakan waktu tiga jam lebih. Pakaian keluarganya dia bawa semua dengan keranjang rotan. Ternyata Rozi berencana tidak kembali lagi ke Talang Pedare. Pulang kedesanya dan akan mencari penghidupan lain.

Rozi datang kepondokku untuk pamit. Lalu dia memberikan padaku sebuah Al-Quran kecil selebar telapak tangan orang dewasa. Untuk kenang-kenangan mungkin. Aku menerima Al-Quran itu biasa saja. Karena dalam pikiranku, aku memiliki Al-Quran besar yang sering aku baca. Tapi aku menerimah dengan baik, agar tidak menyinggung Rozi.

Waktu berlalu, keesokan harinya, cuaca cukup baik. Namun hari lusa dan sampai tiga hari setelah itu hujan terus turun dan cuaca tidak membaik. Berasku sudah menipis sekali. Belum satu keping gatah karet aku dapatkan untuk dijual. Baru satu hari aku menyadap karet. Untuk mendapatkan satu keping karet memerlukan waktu dua atau tiga hari.

Keping adalah bentuk olahan latek karet yang dibekukan pada sebuah wadah. Biasanya berbentuk persegi panjang. Aku duduk di muara pintu pondokku. Memandangi tetes hujan yang jatu dari celah-celah dedaunan pohon. Beberapa warga talang juga tampak duduk di serambi pondok sambil bercengkrama dengan keluarganya.

Maksud aku ke Talang Pedare untuk mencari uang untuk modal usaha. Tapi sayang sepertinya itu akan sia-sia, pikirku. Mengingat beras, aku juga mengingat Rozi. Ada setitik rasa sesal di dalam hatiku. Mengapa aku memberikan semua uang tabungan itu. Kenapa tidak setengah saja. Muncul juga pikiran mengapa harus memberi beras juga.

Seharusnya cukup uang saja. Persediaan beras tinggal untuk besok. Aku sok baik kata suara hatiku. Kesal, sedih, bingung, dan keimananku bergoyang. Sekarang siapa yang menolong aku?. Siapa yang akan peduli?. Akhirnya aku pasrah saja, dan mengikuti apa jadinya. Mengingat itu semua, aku ingat juga dengan Al-Quran pemberian Rozi.

Kemudian aku mebuka Al-Quran itu. Ternyata ada terjemahannya. Karena tidak ada pekerjaan, dari pada memandangi air hujan. Maka aku membaca Al-Quran terjemaha itu. Dari terjemahan surat Al-Fatihah dan seterusnya. Dari kecil saat mulai belajar mengaji, sampai hari itu. Aku selalu membaca Al-Quran.

Tetapi aku belum pernah membaca Al-Quran yang ada terjemahannya. Al-Quran yang tidak ada terjemahannhya, sunggu tidak memberi pencerahan pada pikiranku. Lain dengan yang ada terjemahannya. Aku mengerti maknanya dan maksudnya. Sehingga aku lupa cuaca buruk. Lupa beras yang hampir habis, dan uang tak sepeserpun ada.

Sejak ada Al-Quran terjemahan itu, seakan aku memiliki guru, teman belajar, teman berpikir, pandangan hidup, belajar sejarah, hukum Islam, semuanya ada di dalam Al-Quran. Ketika sampai pada firman Allah, yang menyatakan bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau dia tidak mau berubah. Aku berpikir, kalau aku tidak mau merubah hidupku, maka aku tidak akan berubah juga. Ada denyut pemikiran segar dalam jiwaku.

Pada surat Al-Mujahidah ayat sebelas, kalau Allah akan menaikkan derajad orang berilmu beberapa derajad. Sehingga membaca Al-Quran terjemahan itu, membuat aku menjadi kuat, menjadi matap keimananku. Aku merasa sama dengan manusia-manusia yang lainnya. Awal biasa saja, sekarang menjadi bersyukur mendapat Al-Quran itu.

Keesokan pagi, hujan baru selesai sekitar pukul enam pagi. Sehingga tidak dapat menyadap karet pagi-pagi. Menunggu agak siang, setelah matahari terbit. Seorang lelaki muda berumur tiga puluhan tahun, mampir di pondok Uwa Azan. Sepertinya mereka sudah kenal. Uwa Azan menunjuk ke arah pondokku. Mereka sama-sama penduduk daerah sini. wajar saling mengenal. Kalau aku pendatang.

Lelaki muda itu, mengenakan baju kaos sebuah partai, dan bercelana hitam sebatas betis. Berkulit kuning langsat, rambut gondrong, tinggi sekitar 166 cm. Ada kecepek menggantung di punggungnya. Kecepek nama senjata api tradisional warga untuk menjaga kebun dari hama babi. Keranjangnya berisi sayuran hasil kebun. Seperti daun singkong, terong, cabai, jagung dan entah apalagi. Dia tersenyum kearahku, dan melangkah santai.

Tapak sepatu bootnya nampak membenam di tanah yang lembek karena basah hujan semalaman. Aku heran melihat orang ini, aku tidak mengenalnya. Sesampai di depan pondok, dia memanggil aku. Entah dari mana dia tahu namaku. Dia tersenyum melihat aku keheranan. Aku mengajak naik ke dalam pondok. Kemudian dia menceritakan siapa dirinya.

Ternyata dia anak kerabat dari kakekku. Ibunya saudara sepupu kakek. Yang tinggal menetap di sebuah Talang yang berjarak sekitar tiga kilo meter dari Talang Pedare. Dia mengetahui aku di sini, karena sebulan lalu dia bersama ibunya pergi kedesaku. Melayat, ada seorang keluarga yang meninggal. Saat itulah, mereka bertemu dengan ibuku, dan menceritakan kalau aku tinggal di Talang Pedare.

Hari ini dia datang menjalin silatuhrahmi, keluarga. Aku baru mengerti dan gembira ternyata tidak jauh dari sini ada keluarga. Bagi kami orang desa hubungan keluarga walau sudah jauh masih sangat berharga. Ada dua kilo beras, dan dua kilo beras ketan diberikan padaku. Mereka baru selesai panen padi. Maka memberikan itu padaku untuk mencicip beras anyar.

Beras anyar berarti beras baru dipanen, dan digiling. Rasa beras anyar sangat enak dan harum. Jauh berbeda dari beras komersil di toko-toko. Selain itu, semua isi keranjang juga diberikan padaku. Dia mengundangku untuk bertandang. Boleh memanen sayur yang aku suka di ladang mereka. Aku memanggilnya paman Zainal.

Waktu berlalu cepat, karena tidak ada hiburan di Talang Pedare maka aku selalu membaca Al-Quran  dan terjemahan pemberian Rozi. Sampai dua kali khatam. Jiwaku benar-benar merasa kuat setelah membaca Al-Quran dan terjemahan berulang-ulang. Yang paling aku banggakan aku menjadi orang yang suka membaca.

Membaca apa saja. Kelak aku suka membaca tulisan cendekiawan muslim yang banyak mengutip ayat-ayat Al-Quran. Sehingga bertambah-tambah pemahamanku nanti. Aku sekarang mengerti ajaran Islam, dan hukum-hukum Islam. Aku tidak lagi rendah diri, walau tetap rendah hati. Aku pernah mendengar ceramah di radio bahwa ayat pertma yang turun adalah surat Iqra atau Al-qalam.

Yang bermakna membaca. Ilmu pengatahuan dalam pemahamanku tentang ayat itu. Rasulullah belum diperintahkan dakwah, shalat, hijrah, haji, puasa dan sebagainya. Tetapi yang diperintahkan Allah adalah membaca. Sedangkan Rasulullah buta hurup. Berarti sangat penting membaca itu pikirku, sampai orang buta hurup diperintakan membaca.

Menjelang bulan April, berlanjut ke bulan Mei, Juni, Juli, adalah waktu baik menyadap karet. Hujan mulai berkurang sebab mulai memasuki musim pancaroba. Dari musim hujan ke musim kemarau. Aku mengumpulkan karet dengan giat. Di awal Agustus menjual semua hasil karet. Kemudian kembali pulang ke desaku. Aku berusaha kecil-kecilan dengan membuka konter pulsa.

Kemudian aku mencari sekolah Paket C ke Kota Sekayu, setara SMA. Selama tiga tahun sekolah Paket C aku menabung. Tabungan cukup, dan aku berangkat ke Kota Palembang. Alhamdulillah lulur tes SNMPTN, dan menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi Islam, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, tahun 2013. Sejak itu Aku terus belajar, dan belajar sampai sekarang.

Membaca dan membaca. Satu hal yang membuat aku begitu tekad melepas kebodohan adalah karena aku mengetahui ajaran Islam itu adalah bagian dari Ilmu pengetahuan. Aku mendapat nikmat ilmu, dan berkah ilmu, juga hidayah ilmu. Menurutku, hidup tergantung siapa yang mau berusaha dan bercita-cita. Semua orang memiliki kesempatan untuk maju dan hebat.

Satu hal, semua itu berawal dari Al-Quran terjemahan kecil yang lapuk pemberian Rozi. Andai aku tidak diberikan Al-Quran terjemahan itu oleh Rozi. Mungkin aku masih dalam kebodohan dan kebutaan beragama. Orang desa tidak mengenal Al-Quran terjemahan. Mungkin memang disengaja oleh pemerintahan terdahulu.

Karena di pasar-pasar Al-Quran yang dijual hanyalah Al-Quran yang tidak ada terjemahannya. Aku dulu juga percaya tahayul-tahayul. Setelah tahu kalau tahayul itu syirik, dosa besar, maka aku meninggalkannya. Aku sering duduk merenung disetiap waktu. Mengenang kehidupn desaku dan Talang Pedare. Maka aku menyadari kebesaran Allah. Uang dan beras itu tidak ada artinya sedikitpun apabila dibandingkan dengan keadaan aku sekarang.

Al-Quran itu sumber hidayahku untuk bangkit dan berpikir luas. Mendobrak kebodohan dan mentalku. Menjadikan aku seorang militan kehidupan. Memang aku belum menjadi kaya, juga belum terkenal. Tetapi aku sudah kaya oleh pengetahuan, walau aku belum pintar. Sekarang aku beribadah karena iman bukan karena dogma. Aku sungguh sangat bersyukur dengan nikmat ilmu ini.

Sekarang aku telah selesai menyelesaikan kulia di Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Walau aku terlambat dalam menuntut ilmu, namun aku bersukur karena masih mendapatkan kesempatan. Satu yang menjadi motivasi aku sampai saat ini. Sekarang aku membawa Al-Quran terjemah kemana aku pergi di dalam tas atau ranselku.

Aku namakan dengan Al-Quran sahabat. Sering apabila mendapat rezeki, memberikan hadia pada teman, berupa Al-Quran yang ada terjemahannya. Dari itu, janganlah takut berbagi, berzakat, infaq ataupun sodaqoh. Sekali berbagi ibarat kita menanam sebatang pohon yang akan berbuah. Kalau sering berbagi ibarat kita menanam banyak memiliki pohon berbuah. Nantinya kita akan memetik hasil dari semua tanaman itu.

Berbagi, janganlah berpikir dibalas dengan materi. Tapi hitunglah dengan hati. Allah membalas kebaikan itu, bukan uang di balas uang. Tapi akan banyak balasan yang akan diberikannya. Entah itu bentuk rezeki, hidayah, jodoh, keselamatan, kebahagiaan dan lainnya. Aku menghitung dengan hati, dimana aku mendapatkan hidayah belajar yang kuat.

Sehingga aku mampu bangkit dari keterpurukan hidup. Kalau aku menilai, masuk akal kalau bangsa Arab yang jahiliyah itu dapat berubah cepat menjadi bangsa besar. Sebab Al-Quran telah menuntun mereka. Dalam bahasa mereka sehingga mereka tidak perlu terjemahan. Sebagai buktinya adalah diriku beberapa tahun lalu. Salah satu contoh kecil lagi dari hikma berbagi itu, yaitu tulisan kecil ini. Juga buah hikmah dari berbagi waktu itu. Entah apa yang akan ditelurkan lagi nanti, entalah. Hanya Allah yang tahu.


Bentuk kebenaran apa yang Allah firmankan. Dimana orang yang berbagi dengan iklas, diumpamakan denga sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, kemudian pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Sehingga itu menjadi berlipat-lipat. Lalu apabila kita berbagi dengan harta yang kita miliki, secara baik dan ikhlas, tidak mengungkit-ungkitnya, maka pahalahnya juga untuk kita sendiri.

Berbagi sesungguhnya bukan memberikan sesuatu pada orang lain. Tetapi seumpama kita menitipkan sepasang ternak, kemudian mereka mengembalakannya. Setelah beranak pinak ternak-ternak itu kembali kepada kita satu demi satu dikemudian hari tanpa kita minta, tanpa kita ketahui. Mengapa demikian?, sebab rezeki tidak pernah kita ketahui kapan hadirnya,  apa bentuknya, dan bagaimana prosesnya.

Tanpa dapat disangkah-sangkah. Sama seperti jodoh dan maut. Namun, dalam berbagi, berzakat, infaq, atau pun sodaqoh yang baik janganlah menghitung dan berharap balasan dari Allah. Tetapi ada baiknya ikhlas dan lupakan. Aku menceritakan ini, hanya untuk motivasi.
Foto sewaktu masih kuliah pada smester lima, di sebuah studio foto bersama teman-teman kelas. Mengenakan seragam kelas untuk foto kenang-kenangan bersama satu kelas. Wassalam.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 3 April 2019.
Sumber foto. Koleksi pribadi.
Sumber foto pondak Talang. Hafif.

Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: joni_apero@yahoo.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.


Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment