6/23/2019

Hijab. Fenomena dan Paradigma


Apero Fublic.- Dahulu wanita Muslimah dari kawasan jazirah Melayu (Indonesia) atau Nusantara (Asia Tenggara) menggunakan penutup aurat dengan kerudung biasa. Masih ingat dengan lagu dari Wali, Gadis Berkerudung Merah. Tentu saat membuat lirik lagu, lebih sesuai sebab dengan budaya Indonesia sejak dahulu, yaitu kerudung.

Kerudung adalah  bentuk penutup aurat di bagian kepala dan leher sekaligus dada. Kerudung bentuknya begitu sederhana. Bentuk kerudung serupa dengan selendang yang dililitkan di kepala dan melingkar di kedua sisi bahu. Kemudian setelah Orde Baru runtuh perlahan tapi pasti, pengaruh bentuk kerudung berubah.

Bukan hanya berubah mode, tapi juga berubah nama dan cara pemakaiannya, yaitu hijab. Mode-mode hijab menjadi tren busana Muslim sekarang. Karena Indonesia memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia, maka sekarang Indonesia menjadi produsen besar untuk busana Muslim dunia.

Hijab ada juga yang menutup keseluruhan wajah, di namakan burqa. Hijab yang dikenal umum di Indonesia sebagai bentuk ganti kerudung adalah jilbab. Jilbab dalam pengertian orang indonesia adalah bentuk kerudung yang lebih baru dan praktis pemakaiannya. Kata hijab sendiri berasal dari kata dalam bahasa Arab yang berarti penghalang.

Menggunakan penutup aurat bagi kaum Muslimah adalah wajib dalam agama Islam, namun tidak ditentukan bagaimana bentuknya. Yang jelas setiap wanita Muslimah wajib menutup aurat entah dengan memakai hijab, burqa, atau kerudung. Salah satu hukum wajib bersumber dari Al-Quran dalam sura Al-Ahzab ayat 59.

Wanita diperintahkan untuk menutup aurat-aurat mereka, terutama saat keluar dari rumah mereka. Hijab sekarang mulai disadari oleh masyarakat Islam di Indonesia, dan wanita berhijab meningkat di setiap tahunya. Sekarang (2018), wanita muslim apabila keluar sudah jarang tidak berhijab, terutama di keramaian.

Karena hijab yang sudah menjadi bagian dari kehidupan Muslimah, maka banyak juga individu-individu menggunakan hijab untuk tameng. Bahkan mereka sering berhijab, untuk mengelabui orang-orang. Banyak juga pihak-pihak tertentu yang berbuat maksiat dengan sengaja berhijab, lalu disebar di media sosial, seperti film forno dan fornografi.

Ada juga wanita berhijab yang masih sifatnya jauh dari kata sifat wanita solehah. Sehingga bermunculan anggapan dan pandangan umum yang berbeda mengenai hijab. Mereka berkata "untuk apa berhijab, kalau masih berbuat maksiat. Lebih baik aku yang tidak berhijab, tidak munafiq."

Orang berbicara demikian itu, buta tentang hijab dan iman, dia tidak tahu beda hijab dan ahlak. Saya memberikan saran, supaya jangan merendahkan hijab atau menyalakan hijab kalau ada oknum yang berbuat tidak pantas sedangkan mereka berhijab. Tentunya fenomena demikian menjadi pelajaran kita tentang berhijab, membedakan hijab yang beriman dan hijab yang menipu.

Jangan berhenti berhijab sebab mereka yang maksiat tersebut. Semua nanati akan di hisab di hadapan Allah di hari akhir. Begitupun yang membuat konten asusila dengan memakai hijab, bermaksud merusak citra hijab. Kami hanya memberi tahu, hijab tidak pernah usil dengan kalian, hijab tidak perna menggangu kalian bersenang-senang dan sebagainya.

Di antara pendapat umum tersebut, ada juga paradigma mereka, bahwa wanita berhijab itu wanita baik-baik. Ada juga yang bilang, wanita berhijab itu, adalah alim dan shalihah. Atau ada yang yakin dia seorang wanita yang suci dan bersih. Oleh karena itu, banyak orang menggunakan hijab untuk menarik simpati dan membohongi orang.

Sehingga banyak oknum di luar sana menggunakan hijab untuk menutupi dirinya saja misalnya, tapi kosong iman. Ia berhijab tapi dengan maksud mencuri, berhijab tapi masih berbohong, bahkan yang lebih parahnya lagi berhijab tapi melakukan (maafnya sebelumnya) hubungan intim dengan pasangannya yang belum tentu itu menjadi jodohnya,  nauzubilah minzalik. Sudah makan membuang sampah sembarangan.

Maka dari itu, jangan samakan hijab dan akhlak manusia. Itu adalah dua hal yang berbeda. Bukan nya sok suci atau apalah, tetapi kami berharap agar tidak merendahkan kami yang berhijab. Jauhi kami dari tuduhan munafiq, dan jangalah meremehkan ajaran syairat Islam. Aku dan semua wanita muslima berharap agar kalian lebih banyak menuntun daripada menghujat.

Kami hanya lah wanita-wanita akhir zaman yang berusaha memelihara diri. Kami ingin masuk surga Allah seperti Siti Khadijah, Aisyah, Fatimah, Halimah dan Muslimah lainnya. Oleh sebab itu, kami juga berusaha agar wanita menjadi baik, kehidupan rumah tangga yang baik, pendidik yang baik, dan ibu yang baik. Yang utama adalah memperbaiki diri sendiri yang lemah ini. Amiinnn. #save hijab.

"Wanita itu harus cerdas, karena ia akan menjadi ibu dan nantinya menjadikan anak-anaknya cerdas pula," itu menurut pepatah tapi lain halnya menurut ku "wanita itu harus menjadi shalihah" why?? Karena cerdas aja belum tentu shalihah. Tapi shalihah sudah pasti cerdas dan hidupnya sejahtera.”

Cantik...cantik itu banyak definisinya salah satunya kulit putih, badan langsing, rambut lurus, dan pipi yang tirus, alis rapi, bibir tipis, macam-macam deh. “Tapi percuma kalau ia tidak berhijab.” 

Oleh: Yunita Herlina.
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 23 November 2018.
Sumber foto. Yunita Herlina.

Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional,  quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment