6/30/2019

Sejarah Pemakaian Kubah Pada Bangunan Masjid


1. Sketsa Kubah setengah lingkaran. 2. Kubah Bawang Konstruksi Atap. 3. Kubah Bawang Dekoratif. 4. Kubah Bawang Dekoratif dengan empat kubah hiasan. Sumber ilustrasi foto: Hasil penelitian dan pengamatan bangunan masjid di Kota Palembang, 2017. Sketsa: Joni Apero

Kubah, adalah bentuk penggunaan atap lengkung yang tidak hanya di monopoli oleh bangunan Islam, seperti masjid, musholla, moseleum, dan makam. Kubah yang dalam pengertian secara arsitektur Islam adalah bentuk atap setengah lingkaran yang terletak diatas bangunan masjid.[1] Sedangkan secara Bahasa Indonesia kubah diartikan, (1). Lengkungan (atap).( 2). Atap yang melengkung merupakan setengah bulatan.[2] Menurut Philip K. Hitti, penggunaan sistem lengkungan pertama dalam peradaban manusia adalah bangsa Babilonia. Bangsa Babilonia telah mewariskan kepada kita (manusia) struktur lengkungan (arch)[3] dan lorong (vault)[4] – yang mungkin juga berasal dari bangsa Sumeria. Selain itu mereka (Bangsa Babilonia) juga mewariskan kereta beroda, serta sistem timbangan dan ukuran.[5]
    Munculnya penggunaan bentuk kubah (dalam arsitektur Islam) yang merupakan (kemudian) salah satu ciri arsitektur Islam sejak saat perkembangannya. Kubah itupun merupakan bagian bangunan sebagai masukan dari pengaruh luar terutama dari daerah-daerah atau sebagai hasil perbauran arsitektur Islam dengan arsitektur Barat melalui seni arsitektur Byzantium. Kubah dipilih sebagai bentuk penutup yakni sebagai atap dari ruang yang mempunyai kekhususan dalam fungsinya. Biasanya yang ditutup oleh kubah adalah ruang utama atau ruang inti yang merupakan titik sentral dari bangunan masjid.[6]
    Kubah atau qubbah yakni bentuk atap setengah lingkaran yang terletak diatas bangunan atap masjid dan terletak pada bagian tengah atap, pada lingkaran tengah kubah terdapat lambang bulan sabit dan  bintang. Lambang atau simbol bulan sabit dan bintang ini ditopang oleh sebuah tongkat.[7] Pada awalnya pembanguan masjid yang pertama di Madinah pada tahun 622 Masehi, bentuk atapnya masih bentuk atap datar biasa, belum ada pemakaian atap lengkung atau kubah. Penerapan bentuk atap kubah baru pertamakali ditemukan pada bangunan Masjid Qubhat al Sakhra di Jerusalem (687 M), dan kubah pada Masjid Jamik Damaskus dibangun oleh Khalifah Al Walid dari Dinasti Ummayah.[8]
Di samping itu, ada yang mengatakan bahwa pemakaian bentuk kubah (bangunan Islam) yang pertama kali ditemukan pada makam istri Nabi Muhammad SAW bernama Maimunah binti Harits, yang meninggal pada tahun 65 Hijriyah atau tahun 680 Masehi, yang dikubur di dalam bangunan beratap setengah lingkaran (kubah). Penemuan ini adalah suatu bukti munculnya pemakaian atap kubah sebagai salah satu corak bangunan Islam yang diterapkan sebagai bentuk atap dalam arsitektur masjid kemudian. Tetapi dipandang dari sudut historis dan arkeologis Islam bangunan Masjid Qubbah al Sakhra di Jerusalem itu dipandang perlu sebagai bukti pemakaian kubah yang pertama kali dalam peradaban Islam.[9]
    Dalam pemakaian bentuk kubah dapat kita ketahui bahwa bentuk kubah sebagai atap lengkung masjid memiliki perbedaan corak (style) menurut keadaan daerah perkembangannya. Masalah ini tentunya disebabkan setiap daerah ingin memperlihatkan corak khas bentuk kubah menurut gaya yang dimiliki masing-masing daerah. Disebabkan adanya penampilan gaya yang berbeda dari bentuk kubah ini, munculnya aliran atau mazhab bentuk kubah maupun corak lengkung tajam ruang portal dari beberapa negara-negara yang pernah mendapat pengaru Islam. Dalam segi bentuk kubah masing-masing aliran, akan terlihat adanya saling berpengaruh corak atau bentuk antara satu jenis kubah dengan kubah lain, Yang mana di samping persamaan global akan terlihat sedikit perubahan gaya sebagai suatu ciri khusus daerah, sehingga dengan adanya sedikit perbedaan ini akan memperlihatkan gaya tersendiri yang dimiliki daerah atau negara masing-masing, sebagai sifat kepribadian dalam gaya arsitekturnya.[10]
    Saling pengaruh penggunaan kubah seperti, bentuk kubah Arab mempengaruhi gaya kubah Moor.[11] Dapat ditelusuri, dari bentuk kubah dari wilaya tersebut memiliki kesamaan. Seperti berbentuk kubah bawang yang hampir sama besar, dan bergaris-garis yang menyatu ke titik tengah dimana titik tersebut terdapat simbol bulan sabit dan bintang, sedikit sekali perbedaanya. Dapat dibandingkan antara kubah Maroko (1150 M), Kubah Qairawan (Tunisia, 836 M), dan Kubah Cordova (785 M). Kubah-kubah tersebut dinamakan kubah aliran Moor.[12] Apabila kita tinjau dari geografis, historis dan budaya dimana adanya perpindahan Bangsa Arab ke Andalusia (Spanyol), keturunan dan pengikut dari Dinasti Ummayyah, saat kebangkitan Dinasti Abbasiyah.[13]
    Demikian juga kubah Persia memberikan pengaruh pada kubah India dan Turki, dan paling banyak gambaran kubah tersebut, banyak di temukan pada bangunan-bangunan masjid di Indonesia. Pada kubah aliran Arab  mempunyai corak badan kubah agak lurus meninggi dengan lengkung bagian atas melancip dan tengahnya membahu, seperti kubah Masjid Ibnu Tulun, di Kairo 876 M, Masjid Qubbah al Sakhra di Jerusalem 687 M, kubah Damaskus 706 Masehi,  dan Al Azhar Kairo 1130 M. Kubah-kubah ini disebut aliran Arab.[14] Kubah Arab mempengaruhi semua tipe kubah masjid di Dunia Islam. Karena wilayah-wilayah tersebut adalah tempat pertama tumbuh dan berkembangnya Islam, dan kebudayaan Islam. Selain itu, juga terikat dengan kedekatan geografis dan kultural.[15]
    Untuk Kubah aliran Turki membentuk lengkungan bolah setengah lingkaran yang melebar dan badan kubah lebih rendah, seperti masjid Bayazid Istambul, 1609 M. Selain itu bentuk kubah aliran Turki juga ada berbentuk segi tiga hampir mirip limas, seperti pada Masjid Hudavend Hatun, Turki 1312 Masehi.[16] Kubah yang paling terkenal adalah kubah Masjid Hagia Sophia di Istambul, Turki. Kubah Masjid Hagia Sophia (sekarang museum), dan kubah Masjid Bayazid II (1609 M) apabilah diperhatikan memiliki kesamaan bentuk dengan kubah Masjid Istiqlal Jakarta, yaitu jenis kubah setengah lingkaran.[17]
    Sedangkan pada aliran Persia bentuk kubahnya dengan badan kubah lurus yang pendek dan kemudian melengkung sampai ke ujung meruncing, seperti pada kubah di Isfahan (Persia) 1612 M dan Kubah Cut Amir (Samarkhand) 1405 M. Pada kubah aliran India bentuknya hampir sama dengan bentuk kubah aliran Persia, hanya saja kubah India mempunyai banyak corak ragam hiasan pada badan kubah, seperti kubah Taj Mahal, 1634 M, dan Kubah Masjid Jamik (Delhi) 1644 M.[18] Saling pengaruhi antara kubah aliran persia dan kubah aliran India dapat ditelusuri kembali dari gerak pesebaran Islam (politik, budaya, geografis), dari wilayah Asia Barat, terus bergerak ke Asia Selatan dan tentu melewati Persia (Iran).[19]
    Sesuai dengan keterangan Slamet Mulyana bahwa masjid yang berkubah tersebut (kecuali kubah asli aliran Tiongkok dan Jepang bentuk limas) banyak terdapat di India dan negara-negara sebelah baratnya.[20] Sedangkan di Indonesia aliran kubah pada masjid-masjid berkubah yang dibangun pada abad kesembilan belas sampai pertengahan abad kedua puluh, dan kubah masjid-masjid besar di kota-kota dapat dibaca aliran kubah mana yang diikuti, seperti: Masjid Baiturrahman Aceh yang mengikuti tipologi kubah Indiah.[21] Masjid Raya Sultan Deli,[22] Masjid Al-Azhar,[23] dan Masjid Istiqlal Jakarta.[24]
    Masjid di Indonesia sering ditemui corak-corak masukan dari luar yang sebelumnya telah menjadi suatu corak tertentu, misalnya masuk unsur dari corak Timur-Tengah atau India (Bangladesh). Oleh karena itu, maka penampilannya sebagai pengaruh yang telah menjadi corak tersendiri pada bangunan mesjid di Indonesia hanyalah semata-mata karena bentuknya yang telah mempesona orang yang telah menyaksikannya (misalnya di India). Adapun faktor-faktor kegunaan, faktor fungsi bukanlah menjadi sebab utama masuknya unsur luar tersebut.[25] Namun,  karena hanya ingin menghadirkan bentuk kubah pada masjid, atau hanya bentuk peniruan, karena adanya anggapan bahwa kubah adalah bentuk simbol (Islam) atau ciri menonjol bangunan masjid.[26]
    Selain itu ada sekelompok orang (Islam) yang ingin memperkuat kehadiran dari kubah ini dengan mengemukakan hasil pemikiran tertentu tentang kubah, berupa uraian tentang terjemahan dari bentuk kubah. Menurut pemikiran tersebut bentuk kubah yang bulat yang ujungnya yang meruncing, adalah lambangnya dari bersatunya seluruh doa kaum muslimin yang kemudian menjadi intisari sebelum ditujukan ke hadirat Tuhan Yang Maha tinggi. Penafsiran ini tidak salah, sebab setiap bentuk akan mengandung ekspresi tersendiri, meski tentu saja datangnya kemudian setelah bentuk kubah itu ada. Melalui cara saling meniru maka gaya kubah ini melanda seluruh penampilan masjid yang berlomba-lomba ingin menampilkan kubah.[27]
    Pemaknaan kubah juga merujuk langit yang tinggi. Karena langit merupakan hal yang sangat penting bagi orang muslim, dimana terdapat banyak ayat Al-qur’an menyebutkan tentang langit, bumi dan bintang-bintang dan pada saat bersamaan memikirkan kenapa langit berada pada posisi yang tinggi. Secara konsep, persepsi masyarakat muslim dengan adanya langit yang merupakan analogi[28]  dari sebuah kubah raksasa. Contoh analogi, seperti saat kita beribadah di tengah padang pasir yang luas, lalau menengadah keatas, saat itu kita dapat melihat langit seperti kubah besar  melengkung, begitupun sama halnya apabila kita berada di tengah lautan yang luas.[29]
    Kubah adalah lengkung atap setengah bulatan.[30] Kubah merupakan ciri arsitektur Islam, meskipun bukan asli Islam.[31] Kubah juga merupakan salah satu ciri arsitektur Islam sejak saat perkembangannya. Kubah juga bagian bangunan Islam, pengaruh dari luar yaitu perpaduan arsitektur Islam dan Barat melalui seni arsitektur Byzantium. Kubah dipilih sebagai bentuk penutup atap yakni sebagai atap ruang inti titik sentral masjid. Dalam perkembangan masjid Arab yang aslinya mempunyai lapangan tengah (dalam masjid) yang asalnya atap masih terbuka. Pada bagian bawah atap yang masih terbuka tersebut terdapat shan yang menampung air wudhu. Dalam perkembangan selanjutnya, kumudian atap terbuka tersebut ditutup dengan kubah, sehingga menjadi ruang inti seperti sekarang.[32]
    Pilihan terhadap kubah sebagai penutup atau atap di bagian ruangan utama ini rupanya menguntungkan ditinjau dari berbagai kepentingan arsitektur. Sebagai bangunan yang menjadi perhatian utama, maka masjid memerlukan penonjolan bentuk sehinggga dengan tampilanya kubah, keperluan tersebut telah terpenuhi. Kubah juga merupakan bentuk kontinuitas dari bentuk lengkung elemen-elemen bangunan seperti gapura, pintu, dan dinding serambi. Dengan demikian tercapailah kesatuan watak dari masjid tersebut.[33]
    Pemakaian kubah inipun mempunyai kaitan yang erat dengan perkembangan konstruksi atap, serta kegunaannya sebagai ungkapan psikologi bangunan penting Islam. Secara konstruksi kubah menyebabkan adanya kebebasan ruangan yang lebih leluasa dan longgar, sehingga dapat mengurangi deretan tiang yang biasanya banyak jumlahnya untuk mendukung bagian atap bangunan (masjid tradisional), serta memperoleh ruangan yang luas. Bangunan tampaknya lebih intim serta mantap dan kokoh dengan kubah sebagai inti yang dominan terhadap bagian-bagian lainnya. Selain keluasan ruangan, dengan berkubah kesan ruangan meninggi juga didapat. Kemudian muncul pengertian tentang tanggapan terhadap masjid sebagai kesatuan yang utuh, masjid dapat dilihat sebagai kesan objek yang mempunyai ciri-ciri khas, besar, megah dan agung. Sedangkan sebagai manusia budaya juga mempunyai berbagai kesatuan wujud dari perasaan kerohanian, pengertian, rasa keagamaan. Sehingga dapat menampilkan bangunan masjid yang besar dan megah dan menjadi simbol kebanggaan  diri sebagai orang Islam.[34]
    Sebenarnya dalam penggunaan kubah sebagai konstruksi arsitektur atap bukan hanya dimonopoli oleh konsturksi atap masjid atau tempat ibadah umat Islam, seperti di Palestina (Yerusalem), atap Gereja Makam Suci juga beratap dengan dua kubah. Kubah besar terdapat pada banguan induk gereja dan kubah lebih kecil terletak pada atap bangunan tambahan gereja (anak bangunan).  Sedangkan yang membedakan kubah Gereja Makam Suci  dengan kubah masjid pada umumnya adalah terletak pada lambang salib diatas kedua kubanya.[35] Selain itu gereja di Yerusalem yang menggunakan kubah adalah Gereja Maria Magdalena, kubah gereja ini berbentuk kubah bawang yang berwarna kuning emas yang berjumlah lima kubah. Disetiap kubanya terdapat lambang salib sehingga dapat dibedakan dari kubah masjid.[36] Di Indonesia penggunaan kubah pada bangunan rumah ibadah selain masjid, terdapat pada Gereja Williams yang di bangun Belanda (VOC) pada tahun 1622 M  di Batavia (Jakarta).[37] Sedangkan di Semarang sebua gereja berkubah (Protestan) bernama Gereja Belenduk. Kubah Gereja Belenduk terbuat dari tembaga, dan gereja ini di bangun pada tahun 1753 M.[38]
    Dalam hal pemakaian kubah sebagai konstruksi bangunan pada atap bangunan selain rumah ibadah, seperti di Tunisia, tepatnya di Kota Tozeur  di wilayah Tunisia Tengah, rumah masyarakat di Kota Tozeur menggunakan sistem lengkung kubah (berkubah). Kota Tozeur dikenal dengan perkebunan dan pembibitan kurma yang berkualitas.[39] Selain itu atap lengkung kubah juga digunakan pada atap-atap kuburan atau mauseloum. Seperti kuburan keluarga raja-raja Tuggurt yang berbentuk kubah, terletak di Oase Tuggurt[40] (Tonggourt).[41]
    Sedangkan di Indonesia penggunaan atap lengkung kubah pada kuburan terdapat di kompleks pemakaman Engku Putri Permaisuri Sultan Mahmud di daerah yang disebut Dalam Besar, Provinsi Riau.[42] Situs Kompleks Makam Yang Dipertuan Muda VI Raja Jakfar di Pulau Penyengat, Tanjung Pinang.[43] Sedangkan di Kota Palembang penggunaan atap lengkung kubah terdapat pada kompleks pemakaman  Sultan Palembang di Kawah Tekurep.[44] Penggunaan kubah pada cungkup pemakaman Sultan Mahmud Baddaruddin I, adalah bentuk pemakaian kubah pertama pada suatu bangunan Islam di Indonesia (Palembang).[45]

Oleh: Joni Apero.
Palembang, 2018.

Sumber: Skripsi Berjudul, Kajian Sosiologis pada Transformasi Atap Masjid di Kota Palembang; Studi Atas Atap Tradisi dan Atap Kubah. Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Sejarah Peradaban Islam.


[1]Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 25.
[2]Dendy Sugono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 747.
[3]Arch, merupakan sistem konstruksi dasar dalam arsitektur yang digunakan untuk menciptakan atap atau langit-langit. Konstruksi arch adalah bentang kaku yang melengkung diantara dua titik penyangga, dan muncul dalam banyak variasi. Sampai abad ke- 19, lengkungan dan lorong adalah satu-satunya alternatif selain struktur kolom dan balok. Phillip K. Hitti, Histori of The Arabs, Terj. Serambi,  (Jakarta: Serambi, 2006), h. 13.
[4]Vault adalah struktur berbentuk lorong, biasanya dibuat dari susunan bata atau langit-langit ruangan, atap bangunan, atap penyangga langit-langit atau atap. Ibid., h. 13.
[5]Ibid., h. 13.
[6]Abdul Rochym, Masjid dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia, h. 26.
[7]Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 25. (Lambang bulan-bintang beberapa pendapat mengatakan bahwa lambang ini dahulu adalah lambang panji-panji Islam di zaman Nabi Muhammad Saw. Oleh Khalifah Umar dipopulerkan menjadi lambang resmi bendera Islam).
[8]Ibid., h. 29.
[9]Ibid., h. 30.
[10]Ibid., h. 30
[11]Moor atau Moorish adalah penyebutan Bangsa Barat untuk orang-orang muslim Arab, Keturunan Arab di Spanyol, orang Aprika Barat, seperti Maroko di abad pertengahan. Diakses dari, www.wikipedia/moorish.org, pada hari Selasa 14 Februari 2018, pukul 10:39 WIB.
[12]Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 32.
[13]Dimana masa kebangkitan Dinasti Abbasiyah, kelompok pengikut Abbasiyah membunuh semua keluarga dan pengikut Dinasti Ummayah. Namun seorang keturunan Dinasti Ummaya berhasil melarikan diri ke Andalusia, yaitu Abd al-Rahman ibn Mu’awiyah ibn Hisyam ke Spanyol. Sebelumnya Spanyol telah ditaklukkan oleh Thariq ibn Ziyad dan Gubernur Musa dimasa Dinasti Ummayah, yaitu Khalifah Al-Walid di Damaskus. Philip K. Hitty, History of The Arabs, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2002), h. 365. 628. 631. 643.
[14]Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 30-31.
[15]Dimana orang-orang Arab muslim menaklukan kawasan Bulan Sabit Subur, Persia, Mesir, Suriyah. Bukan hanya menaklukkan geografis tetapi tetapi juga pusat-pusat peradaban tertua di dunia. Dimana kesatuan antara peradaban Mediterania di Asia Barat mencapai titik puncaknya (terutama bangunan Islam, masjid). Philip K. Hitty, History of The Arabs, h. 216-217.
[16]Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 32-33.
[17]Pendapat ini adalah bentuk perbandingan bentuk kubah setengah lingkaran yang terdapat pada kubah Masjid Sultan Bayazid II. Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 33. Dengan kubah Masjid Istiqlal Jakarta. Abdul Rochym, Masjid dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia, h. 132.
[18]Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 34-35-36-37.
[19]Dimasa Dinasti Abbasiyah penaklukan Asia Tengah dan Asia Selatan dimulai. Seperti ekspedisi yang dipimpin oleh Muhammad Ibn Qasim pada 710 M, sampai ke Balukistan, pada 711-712 berhasil menduduki Sindh di lembah bagian bawa delta Sungai Indus. Philip K. Hitty, History of The Arab, h. 263.
[20]Djohan Hanafiah, Masjid Agung Palembang; Sejarah dan Masa Depannya, h. 16.
[21]Wiyoso Yudoseputro, Pengantar Seni Rupa Islam di Indonesia, h. 136.
[22]Masjid Raya Medan dapat ditelusuri coraknya, yaitu mengikuti kubah gaya Timur-Tengah. Abdul Rochym, Masjid dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia, h. 113.
[23]Masjid Al-Azhar, mengadopsi penerapan kubah campuran corak India dan Timur Tengah. Ibid., h. 128.
[24]Masjid Istiqlal Jakarta, Apabilah di Telusuri mengikuti corak bentuk kubah aliran Turki, seperti Masjid Sultan Bayazid di Istambul (1609 M). Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 33.
[25]Abdul Rochym, Masjid Dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia, h. 112-113.
[26]Ismail R. Al-Faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, Atlas Budaya Islam; Menjelajah Khazana Peradaban Gemilang, terj. Ilyas Hasan, (Bandung: Mizan, 2003), h. 450.
[27]Abdul Rochym, Masjid dalam Karya Arsitektur Nasional  Indonesia, h. 78.
[28]Analog adalah Sama; Serupa. Kemudian menjadi analogi yang bermakna kias, persamaan atau persesuaian antara dua benda atau hal yang berbeda; sesuatu yang sama dalam bentuk, susunan atau fungsi, tetapi berlainan asal-usulnya sehingga tidak ada hubungan kekerabatan; kesamaan sebagai ciri antara dua benda atau hal yang dipakai untuk perbandingan. Daniel Haryono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 44.
[29]Cut Azma Fithri, Alternatif Kubah sebagai Simbol Masjid dan Pengarunya pada Desain Masjid-Masjid di Indonesia,” Artikel Pdf, Temu Ilmiah IPBLI, 2016.
[30]Daniel Haryono, Kamus besar Besar Indonesia, h. 504.
[31]Djohan Hanafiyah, Masjid Agung Palembang; Sejarah Dan Masa Depannya, h. 13.
[32]Shan adalah bagian ruang paling tengah di dalam masjid pada masjid-masjid awal di Arab dan masih terbuka juga bagian atas tengah atapnya, atau belum di pasang kubah seperti sekarang, sehingga bagian tengah atap masih terbuka. Nah, shan tersebut berbentuk kolam atau pancuran air untuk berwudhu yang bagian atas belum beratap atau masih bentuk lobang di atap atas nya. Oloan Situmorang, Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya, h. 24. Abdul Rochym, Masjid dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia, h. 26.
[33]Abdul Rochym, Masjid dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia, h. 26.
[34]Ibid., h. 27-28.
[35]Nurkaib, (ed.), Peradaban Islam Yerusalem, (Jakarta: Taskia Publishing, 2012), h. 182.
[36]Ibid., h. 190.
[37]Agus Arismunandar, dkk., Arsitektur, (Jakarta: Grolier International, 2002), h. 108.
[38]Taufik Abdullah, dkk, Agama dan Upacara, (Jakarta: Grolier International, 2002), h. 9.
[39]Adjeng Hidayah Tsabit & Sri Pare Eni, Arsitektur Kuno & Modern Tunisia-Afrika Utara, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012), h. 44 & 46.
[40]Sebua kota yang terletak di Provinsi Ouargla, Aljazair. Diakses dari,  www.wikipedia/touggourt.org, pada hari Senin 13 Februari 2018, pukul 21:01 WIB.
[41]Kafrawi Ridwan, dkk (ed)., Ensiklopedia Islam, (Jakarta: Ikrar Mandiriabadi, 2001), h. 123.
[42]Asti Kleinsteuber & Syafri M. Maharadjo, Masjid-Masjid Kuno di Indonesia, h. 144.
[43]Ahmad Dahlan, Sejarah Melayu, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2014), h. 292.
[44]Pemerintah Kota Palembang Badan Perencanaan Pembanguan Daerah, Profil Kota Palembang, (Palembang: T.pn., 2011), h. 25.
[45]J.L. Van Sevenhoven, Lukisan Tentang Ibukota Palembang, terj. Sugarda Purbakawatja, (Djakarta: Bharatara, 1971), h. 23. Perbandingan dari tahun pembangunan kompleks pemakaman Kawa Tekurep yang dibangun tahun 1738 M. Djohan Hanfiah, Palembang Zaman Bari, h. 63. Dengan masjid berkubah pertama di Indonesia Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat yang di bangun pada 1832 M. Ahmad Dahlan, Sejarah Melayu, h. 375.

By. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment