6/28/2019

NAFIRI. Kumpulan Sajak Kenangan.

Apero Fublic.- Nafiri merupakan alat musik tradisional yang berasal dari provinsi Riau di Pulau Sumatra yang bentuknya mirip dengan trompet. Tidak ada penjelasan dari penulis kenapa buku puisi-nya diberi judul Nafiri. Nafiri adalah bentuk buku antologi sastra yang muatan sajak-sajak Djamil Soeherman.

Penyair tahun 1950-an yang mengakhiri keputisannya saat tekanan politik. Buku puisi ini diterbitkan oleh Penerbit Pustaka, Perpustakaan Salman Institut Teknologi Bandung, di Bandung pada tahun 1403 Hijriah atau 1983 Masehi, dengan desain sampul Anne Rufaidah.

Buku puisi ini diberi judul Nafiri dengan memuat 58 sajak, terdiri dari 58 halaman isi dan 10 halaman pengantar. Semua sajak-sajak ditulis oleh Djamil Suherman. Sedangkan mukadimah ditulis langsung oleh Djamil Suherman, kemudian kata pengantar ditulis oleh H. Mahbub Djunaidi. Buku kumpulan sajak Djamil Soeherman juga beliau persembahkan kepada istrinya.

Dalam mukadimah Djamil Soeherman berkata: usia tua akhirnya menggelitik rasa kerinduan terhadap sesuatu yang pernah dicintai, juga rindu pada sajak yang pernah diciptakannya. Karenanya aku kumpulkan sajak usang ini sekedar melepas rindu, sebagai nostalgia ketika menginjak masa surut.

Betapa nikmatnya. Buku kecil ini berisi kumpulan sajak yang pernah kubuat di tahun 1953 dan berakhir di tahun 1967. Setelah itu aku tidak punya gairah lagi untuk meneruskannya. Hari-hari semakin sulit bagi kehidupan para penyajak di saat-saat para seniman jatuh sakit oleh polusi politik negaranya. Aku insaf, masa ku telah berlalu dan kawan-kawan seangkatan ku pada pergi, atau mengurung diri atau lari.

Aku pikir, belum aku temui-temui ciptaan-ciptaan besar akhir kurun waktu ini. Hanya sedikit saja sajak-sajak penentang tirani dan pengikut-pengikutnya –yang toh akhirnya jatuh sakit pula. Aku sangat rindukan Chairil, Asrul, Jasin. Aku rindukan Ayip, Goenawan dan Taufik. Aku rindukan Ali, Toto, Muhammad dan Saribi.

Mereka adalah orang-orang pendiam dalam dunianya yang bergejolak, namun santun penuh fitrah. Aku dengar falsafah hidup mereka, aku dengar dendang-dendang-nya yang mengalun lembut ke lazuardi menemui tuhan mereka. Untuk itu aku lagukan sajak ini kepada mereka sebagai gema persahabatan antara yang malang. Aku ingin dengar tantangngannya, kapan kita bertarung lagi.

Djamil Soeherman. Bandung, Juli 1981.
Dari mukadimah ini, dapat dipahami bagaimana mereka dapat berkarya pada masa Orde Lama. Kemudian di tahun 1967 di saat itu, adalah tahun mulai kenaikan Kekuasaan Orde Baru mereka tidak dapat lagi bersajak dengan bentuk kebebasan kritik dan ekspresi. Sejak masa Orde Baru sastra Indonesia boleh dikatakan mengikuti politik Orde Baru.

Dapat kita lihat bagaimana novel-novel cerita porno yang melakukan hubungan sex atau cerita novel menggunakan alur yang mengajak sex bebas. Alhasil, sekarang norma-norma wanita hilang dengan pengaruh yang sangat buruk itu. Tidak hanya itu film-film Pada Masa Orde Baru juga menyajikan adegan mesum dalam jalan cerita film, yang membuat pengaruh birahi dalam imajinasi generasi muda Indonesia.

Sekarang hasil dari semua sastra rusak pada masa Orde Baru membakar nusantara ini dengan kekotoran akhlak, yang merusak tatanan susilah asli Bangsa Indonesia. Maka dapat kita sebut itu sebagai “Dosa-dosa Rezim.” Karya sastra Indonesia tidak memiliki nilai-nilai keindonesiaan, hanya berbentuk contekan, jiplakan dari karya-karya bangsa lain. Atau kita sebut sastra rusak.

Kata Pengatar Dari Teman Lama
Saya dan Djamil Soeherman se-angkatan tahun 50-an. Sama-sama nulis syair, misalnya di majalah SIASAT. Sama-sama bikin cerpen, misalnya di majalah KISAH, yang dipimpin H.B. Jasin. Salah satu vak Djamil: bikin cerpen romantik kehidupan di pesantren. Begitu bagusnya sampai-sampai ingin rasanya saya mesantren, selain ngaji- kepingin terlibat roman seperti dilukiskan oleh Djamil Soeherman.

Tahun 60-an ke atas saya pindah ke lapangan. Ya jadi wartawan, ya jadi politisi (yang “kata orang jadi orang jahat”). Saya tetap menulis, tetapi coraknya lain. Pernah kawan baik saya Ayip Rosidi tanya: “kok tidak nyajak-nyajak lagi? Saya jawab: Sekarang saya sudah insyaf.’ Ayip Rosidi melotot, seperti ada setan berdiri di depannya. Dan sayapun pisah lapangan dengan Djamil Soeherman. Tak pernah ketemu-ketemu, seperti penduduk lain benua. Tahu-tahu saya dengar dan ketemu di PERUMTEL. Jadi orang penting di Humas.

Karena di dunia ini jarang terjadi hat tak terduga (kambing kepala dua, nyiur bercabang dan sebagainya) saya pun tak kaget. Penyair dan penulis cerpen jadi masinis pun bisa saja. Mungkin kera yang tidak bisa jadi Humas.

Sekarang teman saya Djamil Soeherman ini bikin buku kumpulan sajak-sajaknya, tanpa mengenyampingkan tugas jabatan memberitahu umum betapa pentingnya makna “Revolusi Komunikasi” dan betapa pentingnya maksud “Telepon Masuk Desa lewat satelit.” Bukankah manusia tidak bisa hidup melulu dengan telpon atau telex?. Sejak Homer di zaman Yunani purba entah hingga kapan sajak masih diperlukan orang kecuali kalau dia sudah kepingin berpisah dengan peradaban.

Kata orang, hanya orang “gila” yang mau beli buku kumpulan sajak. Mungkin ada betulnya. Tetapi bukankah dunia ini penuh dengan orang-orang “gila” baik yang berterang-terangan atau sembunyi-sembunyi? Jangankan di jalanan, di kantor-kantorpun banyak orang “gila.” Film apa yang mampu merebut 5 Academi Awards sekaligus?. Film One Flew Over the Cuckoo’s Nest. Itu film orang gila dengan kadar yang berbeda-beda. Tapi pokoknya gila!.

Bandung, 16 Maret 1981.
H. Mahbub Djunaidi.
            
Berikut, Cuplikan dari sajak Djamil Duherman.

SUNYI

Yang sunyi bersendiri
Yang pergi tak kembali
Tapi sunyi dan pergi lahir atas cinta
Yang kisahnya terkubur hari ini
Mereka lupa mulanya
Ada kegelapan sesudah purnama.[1]

(Pena 1954)

JENDELA TUA

Kepergiannya tanpa saksi
Biar dinding setua ini
Terlukis sebuah wajah
Pucat tanpa nama
Tanah kering sekeliling
Daun dan bunga berguguran

Ah jendela setua ini
Sudah lama tak bicara lagi.[2]

GERIMIS MALAM

Gerimis malam
Jangan singgung simpul hati kerna kemuraman langitmu
Yang sibak oleh kekuyuan tangis di seberang sana
Meratap sendu mengalun dibawa kepak burung
Senja laut
Mengiris mendekatkan rasa pedih padanya

Segala kekalahan kini telah kupendam di bawah
Dekapan
Pada tubuh dingin atas ranjang biru

Gerimis malam
Kenangan berebut mimpi mata-mata yang lelah
Tiada kepedihan setajam ingatan pada yang mati
Atas kelembutan kata dan bahasa wajah
Kini jauh tersalib di kelam lautan tak bertepi.[3]

(budaya 1956)

SERUAN

Ditingkap perjuangan kini jangan seorang membuat janji
tentang masa depan yang kabur - tertancapkan bendera di timur
saat fajar tersingkap kulepas peluru jantanku
dan bangun untuk semua yang mati
setiap langkah hanya kebagian sekali
maut dan kemerdekaan
meski beribu tombak dipatahkan, ikutkan
walau ke jurang paling dalam
pancangkan seribu doa dan hapus segala kenang
setiap tetes airmata didihkan biar bertambah garang
demi darah anak pahlawan

Ditingkap perjuangan kini jangan orang mencipta sajak
tentang masa remaja yang sendu sedap jadikan bajak
saat sungai masih mengalirkan kesuburan - kulepas hasratku
bangun untuk semua yang terharu
setiap jangkauan hanya kebagian sekali
maut dan kemerdekaan
bawalah daku ke penderitaan paling dalam
panjatkan seribu puja dan hapus segala ingatan
dan taungkan anggur paling garang
demi tanah kelahiran membakar api kemerdekaan

Tombak tombak telah ditancapkan pedang pedang bertetakan
runcingkan segala yang tumpul asah segala yang rompeng
anak gembala menyandang suling jadi bedil
wahai penyair, lagukan
pertarungan dimulai lagi.

(Budaya 1962)
oleh: Djamil Soeherman.

PERSAHABATAN

(bagi moesy & soge')
Kita hakikatnya dilahirkan satu nama
penderitaan dan kesetiaan
tapi tarikan tali nasib
menyeretku mengenal takdir

Karenanya mari kita berbimbing tangan
fajar gemilang di hadapan
kita adalah orang-orang merdeka
tahu betapa kebenaran ditempa
meski dalam dada yang terluka

(Horizon 1969)
oleh: Djamil Soeherman.

AIRMATA

Airmata airmata airmata
mengucur di rimba malam
mencair basah di deraian pasir
luka hati memendam duka
memukau kegairahan wajah
o, siapakah bahana malam?
cintaku tanggal satu satu
tangan tanpa berpangku - rintih tangis menyedu
o, fajar bila bayu pagi bersilir
dukaku kian melingsir
nun lazuardi yang sunyi
antarkan dukaku ke batas sepi
air mata
usiaku berangsur pergi

(Walt Whitman
dari Leaves of grass/
Suntingan-1954)

MALAM DI SEBUAH PANTAI

Malam di sebuah pantai
tercenung anak dan bapak sansai
menanti timbulnya gemintang timur
menggapai sayap malam pekat
awan bergulung ombak mengalun
hitam sunyi merunduk lenyap di kaki langit
jupiter merah telah lahir lembut
mengusap malam resah
anak berpeluk bapak
secerca kilat memancar
sayup tangis sedih, o anak
jangan meratap, sayang
suruhkan kepalamu ke jantungku
tiada lagi kilat tiada lagi badai
jupiter adalah punyaku
kelepak malam terkulai resah
mendesak fajar menggulum di timur
anak dan bapak mengadah sayu
masa depan membayang di wajahnya

(Walt Whitman
dari Leaves of grass/
Pena-1954)

Tulisan ini menginformasikan dunia sastra Indonesia moderen setelah masa permulaan. Penyair angkatan limapuluhan. Semoga informasi kecil ini dapat memberi gambaran dan inspirasi untuk para pemerhati sastra Indonesia moderen.

Oleh: Arip Muhtiar.
Editor. Selita. S.Pd
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 2018. Sumber dan Hak Cipta: Djamil Soeherman, Nafiri, Bandung: Pustaka, 1983.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment