6/19/2019

Mata Cantik Aisyah. Part I


Apero Fublic.- Kisah ini adalah kisah seorang gadis dan seorang pemuda yang menuju jalan Allah. Sedikit demi sedikit dia berubah menjadi lebih baik. Dia gadis yang berhijrah ke kehidupan yang benar-benar Islami. Seiring waktu dia terus belajar dan berusaha menambah penegtahuan agama Islam. Dia mencoba menentang arus kehidupan sekarang yang jauh dari keimanan. Dia gadis yang kuat dan tangguh. Tak goyang oleh buayan materi dan gemerlap dunia yang hedonis.


Dihari Jumat bulan januari ditahun 2018 lalu. Aku shalat Jumat di masjid kampus UIN Raden Fatah Palembang. Seperti biasa saat masuk aku selalu mengambil posisi paling belakang di dekat dinding. Yah, saat datang masjid sudah penuh oleh jamaah Jumat. Saat aku duduk disisi dekat dinding aku menemukan sebuah Al-Quran terjemahan kecil.

Al-Quran berwarna cream dengan kulit kain itu begitu indah. Menarik hatiku untuk menyentuhnya. Aku membuka dan membaca-baca. Pada halaman awal tertulis nama pemiliknya, Aisyah. Ditulis dengan menggunakan hurup Arab Melayu. Agak kesusahan aku membacanya, tepai aku berhasil.

Beberapa kali aku menyebut nama itu di dalam hatiku. Terdengar salam dari khatib yang sudah di atas mimbar. Sehingga aku kembali meletakkan Al-Quran itu di dekat tas ranselku. Setelah shalat Jumat selesai. Aku kembali membaca Al-Quran itu. Sementara jamaah ada yang berdoa, keluar masjid, dan shalat sunat.


Ketika masjid sudah mulai kosong, tinggal beberapa orang didepan. Aku bermaksud menitipkan Al-Quran pada marbot masjid. Selagi aku membuka-buka muncul seorang wanita mudah berbusana muslim. Memakai gamis berwarna merah maroon dengan hijab dark grey. Handsock dan berkaos warna kuning muda. Dia mencari-cari sesuatu sambil mengingat-ingat.

Kemudian langkahnya mendekat dinding tampat aku duduk. Diam-diam aku memperhatikan. Setelah dekat aku bertanya. Karena dia bercadar maka hal yang dapat diperhatikan hanyalah matanya. Sesaat mataku dan mata gadis itu beradu pandang. Matanya bening dan polos. Menyiratkan hatinya yang lembut dan tulus. Seperti telaga yang berair jerni. Kemudian masuk dan berendam di dalamnya, sejuk dan damai. Ada getar yang aneh menusuk kalbu terdalamku. Tapi aku tidak tahu rasa apa itu.


“Adik, ada yang dicari?

“Benar kak, Al-Quranku. Tak tau dimana. Mana hafalan harus disetor besok.

“Dek Aisyah?

“Iya Aisyah. Dari mana kakak tau nama saya.

“Apakah ini yang adik cari.


Aku menunjukkan Al-Quran yang ada ditanganku. Aisyah tersenyum dan mengucap terimah kasih. Dia bersyukur sekali karena Al-Qurannya ditemukan. Maklum dia sedang hafalan surat-surat jus tiga puluh. Aku memberikan Al-Quran itu. Kemudian Aisyah pamit untuk kembali ke fakultasnya.

Waktu berlalu, tanpa sengaja aku menemukan facebook Aisyah dan menjalin kontak melalui messenger. Singkat cerita kami bertukan kontak whatsApp dan sering berkomunikasi. Entah keajaiban apa, akhirnya aku dan Aisyah memutuskan untuk menjalin hubungan asmara cinta. Tapi karena kesibukan kuliah dan organisasi akhirnya kami lebih sering berkomunikasi melalui media sosial saja.


Menjalani hubungan cinta jarak jauh atau istilah sekarang LDR-an memang sangat berat. Rasa curiga, ragu, dan tidak ada kepastian membuat batin tersiksa olehnya. Namun sepanjang keyakinan tetap ada, maka cinta layak untuk dijalani. Cinta memang harus diperjuangkan, dan cinta harus dijaga dan dirawat. Cinta ibarat kecambah biji sebatang pohon.

Dia tumbuh dari tunas kecil dan rapu, sangat mudah patah dan hancur. Namun apabila terus dijaga, kecambah kecil itu akan tumbuh semakin besar dan besar sehingga menjadi pokok pohon yang besar dan kokoh. Berikut ini, kisah cintaku yang berlangsung secara LDR-an, dengan kekasih hatiku Aisyah.


Perkenalan aku dengan Aisyah terjadi tanpa sengaja di masjid. Perkenalan biasa yang tidak memiliki arti apa-apa. Sebuah perkenalan biasa dan sangat biasa. Perbincangan kami hanya sebatas perkuliahan dan dunia pendidikan. Keramahan dan kelembutan Aisyah membuat aku nyaman dan senang berkenalan denganya. Sebab, biasanya gadis secantik dia akan bersifat sombong dan acu pada cowok sederhana seperti diriku.

Namun berbeda dengan Aisyah dia benar-benar memperlihatkan sosok gadis yang berbeda. Gadis cantik yang akrab dipanggil Ais itu, selalu murah senyum, ramah dan sabar. Keelokannya juga ditampilkan dengan selalu memakai gamis yang indah, dengan hijab yang syar’ih atau dengan busana sesuai tuntunan Islam lainnya. Sehingga tertutuplah aurat-auratnya, dan sejuklah mata memandang dirinya. Muslimah cantik yang lulus dari sebuah sekolah SMA Negeri di Kota Palembang.

Sekarang kulia di Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Kekasihku itu,  dia sangat suka dengan warna pink. Memang saat dia memakai busana warna pink, sangat serasi dan bertambah cantik dirinya. Kisah cinta ini, mengingatkan aku pada kisah cinta  Rasulullah dengan Siti Aisyah. Aku juga menulis puisi untuk kekasih hatiku Aisyah.

Teruntumu pujaan hatiku, yang sedang belajar menuntut ilmu agama.


Aisyah si Cantik


Aisyah namanya

Seorang putri dari kayangan

Turun menjelma dalam diri manusia

Pengumbar senyum dalam mulia

Bagai setetes embun dikala pagi

Menyejuk hijau dunia pun takjub


Aisyah namanya

Santun ia, bidadari syurga

Ia berjalan bagai nada-nada api

Sehingga membakar jiwaku yang rapu

Aku menjadi abu dalam genggamannya

Yang ia tiup dengan nafas rindunya

Menjadilah aku terbang dalam buai cinta


Aisyah namanya

Yang menitip lirik matanya

Menembus uluh hati dan memecah jantung

Roboh, aku terpapar cahayanya

Meringkuk aku dalam sangkar matanya

Menjadi tawanan seumur hidupku.


Kedua matanya

Penjara yang kuat, tak berpintu

Akupun ia pasung dengan cinta

Kalahlah aku oleh takdir

Kemalangan hidup seorang lelaki

Disandera mata indahnya.

Terkurung aku seumur hidup

Oleh cintanya. Oleh Mata nya.

Aisyah

Aku cinta akan engkau.


Itulah puisi yang aku tulis beberapa bulan lalu. Hari-hari kami berkomunikasi melalui handpone. Kesibukannya dengan tugas kulia membuat jarak dan melati kesabaran kami. Aku selalu bersabar, dan berdoa yang terbaik buat hubungan kami. Walau sibuk dengan rutinitas, ia selalu menyempatkan untuk membalas semua pesan-pesanku. Di malam hari, kami selalu berbincang-bincang romantis melalui hanpone.

Kadang ia marah, merajuk, dan cuek. Aku sadar memang banyak caraku yang membuat ia marah. Tetapi, ia sangat baik hatinya, ia selalu memaafkan aku. Aku tidak tahu terbuat dari apa hatinya, sehingga selembut itu. Maka aku berdoa, pada Allah untuk menjadi jodohnya dunia akhirat. Pernah suatu hari, aku mengirim pesan padanya.

Saat aku bertanya, dia bilang sedang mengerjakan tugas. Saat membalas chet dariku, itu suatu kebahagiaan yang besar sekali. Notifikasi media sosialnya selalu aku tunggu. Kalau selama ini, handpone ku hanyalah untuk menghubungi keluarga, sekarang menjadi lebih berwarna karena adanya pesan lain yang aku tunggu. Yah, sebuah pesan dari gadis bermata cantik yang telah menawan jiwaku, Aisyah.


“Adik, sedang apa?

“Adik lagi sakit kak, tak enak badan.

“Apa sebab adik jadi tak enak badan?

“Tak, tau kak. Mungkin adik sedikit masuk angin.

“Adik.

“Iya kak.

"Cepat sembuh ya, kakak sayang adik.

"Aminnnn

“Lama kita tak berjumpa, tolonglah kirim foto adik. Kakak hendak tengok wajah adik yang cantik, dan mata adik yang bening bercahaya. Agar damai hati kakak yang gersang karena menanggung beban rindu.

“Ah. Kakak, biasa saja kenapa.

“Jujur kakak memang rindu. Untuk sedikit mengobatinya tolonglah, kirimkan foto adik.

“Adik malu kak.

“Kenapa malu, bukankah adik cantik, dan kakak juga sayang akan adik.

“Tidak, ah.

“Dik.

“Ya.

“Kirimkan lah, jangan adik siksa akan diri kakak yang malang ini.

“Adik malu.

“Kakak tunggu, kiriman foto mu. Cinta kakak.

“Tidak.

“Adik, tidakkah adik kasihan akan kakak.

“Iya, iya. Tunggu adik selvi dulu ya. Kakak sayang.

“Iya, terimah kasih calon istriku. Aku selalu mencintaimu. Selamanya.


Kekasih hatiku Aisyah selalu baik dan mengalah. Mengerti dengan perasaan cintaku yang tulus ini. Setiap hari selalu mengirim foto dan kami saling membalas chet masing-masing. Hanya dengan cara itu, kami melepas rindu dan memadu kasih. Aku begitu bangga mengenalnya dan memilikinya. Aku berharap ini bukan hanya sementara saja tetapi suatau pertanda jodoh bagi kami berdua.


Begitulah pesan-pesan yang kami kirimkan. Tidak ada kata rayuan atau gombal. Hanya sekadar menanyakan kabar, dan berkirim foto. Bagiku Aisyah wanita yang istimewa dalam hidupku. Dia memberi pengaruh yang baik pada kehidupanku. Hari-hariku yang selama ini hampa kini berganti dengan kebahagiaan.

Sudah beberapa tahun hatiku kosong dengan apa yang disebut cinta. Saat aku mengenal Aisyah aku mendapatkan harapan baru dengan cinta. Matanya telah membuat aku tergila-gila padanya. Aku tidak tahu apakah aku dapat berpisah darinya, aku rasa aku tidak dapat, aku tidak sanggup. Seandainya itu terjadi mungkin aku akan dilanda guncangan jiwa yang hebat. Perlahan-lahan tubuhku mengurus dan akhirnya jatuh sakit, entah sembuh entah tidak.


Kini hubunganku dengan Aisyah semakin dekat. Walau kami menjalani hubungan jarak jauh, dan kami menikmati proses ini. Memang aku dan Aisyah selalu bertengkar setiap hari, tetapi kami saling mengerti dan saling memaafkan. Pertengkaran cinta namanya, yang disebabkan cinta dan rindu.

Menanti proses dalam menuju jalan jodoh. Kami memang tidak pernah bertemu secara pisik dalam waktu lama. Apalagi bertemu untuk berjalan berduaan, ketaman-taman berbunga. Memang kami menghindari itu, untuk menjauhi dosa-dosa. Entah sampai kapan kami mampu bertahan dengan godaan untuk bertemu. Aku begitu mencintai Aisyah, dan selalu rindu dengan dirinya. Satu hal yang paling aku tidak bisa lepas adalah aku menyukai matanya yang bening dan bercahaya itu.

Cahaya matanya bagai sinar kehidupan dan harapan bagiku. Semoga Allah meridhai hubungan kami, dan sampai dijenjang pernikahan. Harapan terbesar ku, dialah yang menjadi ibu dari anak-anakku. Istriku di dunia dan istriku di akhirat. Suatu hari aku menulis dibuku harianku.


"Aku gantungkan rindu pada mu, sebagai ungkapan rasa kasih dan sayang. Kemudian aku hadirkan mimpi untuk memulai harapan-harapan. Entah mengapa engaku begitu dekat dengan jiwaku. Mungkinkah kau jodoh ku, mungkinkah kau tulang rusuk yang hilang, yang aku cari selama ini.

Dengan berbekal doa aku melangkah mencintai mu, membuat perjalanan cinta yang indah. Kau tahu sayang, ketika belahan jiwa ini telah kau curi, saat itu telah jatuh seorang lelaki yang sombong. Lelaki itu kini takluk dalam pelukanmu. Ia menghibah untuk tetap di sisinya, dan memohon untuk menjadi bagian dalam hidupnya.


Melalui angin aku titipkan rindu, yang aku hembuskan melalui nafas asmara cinta. Bara-bara panas menyala-nyala di dada ku. Wahai kau pujaan ku, engkau nan jauh di sana, aku mohon mengertilah kiranya. Lihatlah di sini, apabila kau pergi meninggalkanku, lelaki ini akan terkapar oleh luka yang teramat parah. Kasih, kumohon jadilah belahan jiwaku untuk selamanyaMatamu telah menjadi mata jiwaku Aisyah.


Suatu hari aku dan Aisyah bertemu di Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Selatan. Aisyah berangkat dengan bus transmusi. Setelah menemukan buku yang dia perlukan untuk referensi makalahnya. Aku dan Aisyah duduk di loby gedung perpustakaan. Dengan hembusan angin dan dihiasi bunga bermekaran. Aku dan Aisyah bercerita tentang jatidirinya.

Asyah menceritakan kalau dia bukan anak pesantren. Dia memakai busana muslimah, bercadar baru beberapa tahun ini. Dia hanya mengikuti hati dan mencontoh wanita shalehah. Dia baru memulai hijrah. Dulu Aisyah tidak berhijab sama sekali. Saat masuk kuliah dia berhijab alakadarnya karena diharuskan di Perguruan Tinggi Islam.

Waktu berjalan, banyak pengaruh baik dari sahabat-sahabatnya. Kemudian Aisyah mendapatkan pelajaran dan ilmu dari para Ustadz. Sehingga Aisyah yakin bahwa dia akan berhijrah. Aisyah bertekad kalau dia akan berubah sedikit demi sedikit. Maka dia berkata pada.

"Kak Ahmad, aku baru hijrah, apabila aku masih salah dalam bertindak dan bertingkah laku. Tolong jangan kakak salahkan hijab dan cadarku. Salahkanlah aku yang lemah ini. Belum banyak ilmu agama yang aku ketahui. Aku juga bercerita tentangku. Aku juga bukan anak pesantren dan aku juga akan berubah menjadi lebih baik.


Oleh: Joni Apero

Palembang, 12 Desember 2018.
Sumber kartun. http://kartunmuslimah.com


Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional,  quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim. Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis.

Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: www.fublicapero@gmail.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.


Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment