6/24/2019

Legenda Nenek Moyang Orang Minahasa. Toar dan Limimut


Apero Fublic.- Pada zaman dahulu kala, ada sebua batu besar di tengah lautan. Karena sangat besar sehingga puncak batu di atas permukaan air laut. Sesunggunya batu itu, bukanlah batu biasa. Ketika sinar matahari menyinari permukaan batu, batu tersebut berkeringat. Dari keringat batu tersebut lahir seorang gadis kecil bernama Limimuut.

Singkat cerita, tidak ada yang menceritakan dengan cara apa anak itu tumbuh dewasa. Maka, tentu saja dia adalah seorang anak yang ajaib, hidup dalam keadaan yang riang, dan hidup dalam waktu yang banyak akan keajaiban. Ceritanya hanya memberi tahu kita bahwa, ketika dia sudah dewasa, dia merasa sangat kesepian.


Suatu hari, ketika dia berdiri di puncak batu, dia menatap dengan mata penuh kekaguman di lautan luas dan ombak besar bergelombang. Saat dia berdiri di sana, dia tiba-tiba melihat seekor burung gagak. Pada paruhnya menggigit cabang pohon kering, dan terbang terus berputar-putar di atas tempat dia berdiri.

Limimuut menjadi penasaran dan bertanya-tanya dari mana burung itu berasal, dan di mana ia menemukan cabang itu. Tiba-tiba burung itu berbicara kepadanya: Saya membawanya dari Taoere. Hebatnya, gadis itu terkejut ketika mengetahui bahwa burung itu bisa membaca pikirannya dan bisa berbicara dengan bahasanya. Lalu dia bertanya: Saya ingin sekali pergi ke tanah itu. maukah kau membawaku ke sana?.


Burung gagak itu setuju untuk melakukannya, dan mereka terbang untuk mencapai Taoere, karena Limimuut sendiri bisa terbang juga. Saat tiba di sana, mereka menemukan sebidang kecil tanah, tidak lebih besar dari saringan. Tiba-tiba saja muncul di atas permukaan laut, satu demi satu pulau, sehingga menjadi banyak pulau di perairan itu. Burung gagak itu berhenti terbang dan berkata. Kita sudah sampai pada tujuan kita, disinilah saya mengambil cabang pohon: yang bernama Taoere. Kemudian brung gagak itu terbang, meninggalkan Limimut sendiri. Kini, sekali lagi limimut sendirian.


"Sendiri! Dia menghela nafas. Lagi-lagi sendirian, dan di sekelilingnya adalah air. Entah dari mana ilhamnya, kemudian limimut menancapkan cabang pohon. Seolah-olah diarahkan oleh tangan yang tak terlihat, kemudian dia mencongkel tanah dan dia mengambil sedikit tanah, sebanyak yang dia bisa pegang di tangannya.

Limimut kembali ke batu yang lebar dan luas tempat dia tinggal. Setelah dia datang limimut menyebarkan tanah pada batu yang tandus. Hal aneh kemudian terjadi, dalam waktu yang singkat batu itu sudah menjadi lahan tanah luas yang tandus.


Ketika Limimuut melihat sekeliling, dia menyadari bahwa tanah itu tandus. Kemudian dia terbang lagi ke Taoere dan mengambil segenggam tanah lagi. Saat kembali ke rumah, dia kembali menyebarkan tanah di tanah yang tandus. Sesuatu yang hijau mulai muncul dari daratan, dan ini menjadi vegetasi yang kita miliki di bumi yang kita kenal sekarang.

Tapi Limimuut belum puas. Dia membuat gunung di bagian selatan negeri itu. Ketika ini sudah cukup tinggi, dia naik sampai mencapai puncak. Ada hal aneh lain yang terjadi; dia kemudian hamil. Beberapa bulan kemudian, seorang anak dilahirkan untuknya, seorang putra yang sehat. Kemudian Limimut memberikan namanya “Toar.”


Tahun-tahun berlalu dan Toar tumbuh menjadi seorang pria muda yang tampan. Sang ibu berpikir bahwa waktunya telah tiba baginya untuk memilih seorang istri. Tetapi di mana dia bisa menemukan seorang wanita untuk menikah? lagi-lagi sang ibu memiliki ide.


"Nak, dia berkata kepadanya. Mengembaralah di dunia sampai engkau menemukan seorang istri. Toar mematuhi perintah ibunya dan mengembara ke bagian dunia lain, mengarungi samudera dan daratan. Toar sudah melakukan perjalanan jarak jauh tetapi masih tidak menemukan seorang wanita untuk menjadikannya istrinya. Kemudian dia kembali ke pulang ke rumah, memberi tahu ibunya bahwa dia belum berhasil menemukan seorang wanita yang bisa dia nikahi.

"Yah sudah, sabarlah nak. Lalu Limimut mempunyai ide lagi. limimut akan membantu anaknya mencari seorang istri. Sang ibu berkat; Potong sebatang tebuh, sama panjang keduanya, kau bawak tebuh sebelah bawa, da ibu membawa tebuh bagian atasnya. Ibu akan membantu untuk mencari istri. Nanti, diperjalanan kau akan melalui jalan dari sebelah kanan, dan ibu akan pergi ke pergi dari sebelah kiri. Jika nanti di jalan kau bertemu seorang wanita membawa sepotong tebuh yang lebih panjang darimu, bawa dia dan jadikan sebagai istrimu.


Toar selalu mematuhi perintah ibunya, di perjalanan jalan bercabang dua mereka berpisah. Sang anak pergi ke kanan dan ibu ke kiri. Mereka menjelajahi bumi yang pada masa itu tidak sebesar sekarang. pada akhirnya, ketika Toar sedang dalam perjalanan, dia melihat seorang wanita mendekatinya. Dia mengeluarkan tongkatnya dan mengukur tongkat yang dibawanya. melihat bahwa miliknya lebih panjang dari miliknya, dia berasumsi bahwa dia adalah wanita yang selama ini dia cari.

Toar kemudian menjadikannya istrinya dan membawanya pulang. Dia tidak menduga bahwa itu adalah ibunya sendiri, dia telah menikah. Toar hanya memikirkan pesan tentang panjang tongkat. Pada kenyataannya, tebu telah tumbuh dan telah menjadi lebih panjang dan begitu pula ketika ia memilih wanita itu untuk menjadi istrinya.


Mereka kembali ke gunung yang dibangun oleh Limimuut. Di sana mereka hidup bahagia bersama, Limimut melahirkan sebanyak tiga kali, tetapi setiap kali dia melahirkan selalu berjumlah sembilan. Anak-anak ini hidup dengan damai satu sama lain, berbagi bersama apa yang dimiliki orang tua mereka. Waktu berlalu, zaman berlalu, masa-masa berlalu, maka dari keturun mereka inilah menjadi nenek moyang orang-orang Minahasa saat ini.


Pada zaman dahulu kala, ada sebuah batu besar di tengah lautan. Karena sangat besar sehingga puncak batu di atas permukaan air laut. Sesungguhnya batu itu, bukanlah batu biasa. Ketika sinar matahari menyinari permukaan batu, batu tersebut berkeringat. Dari keringat batu tersebut lahir seorang gadis kecil bernama Limimut.

Singkat cerita, tidak ada yang menceritakan dengan cara apa anak itu tumbuh dewasa. Maka, tentu saja dia adalah seorang anak yang ajaib, hidup dalam keadaan yang riang, dan hidup dalam waktu yang banyak akan keajaiban. Ceritanya hanya memberi tahu kita bahwa, ketika dia sudah dewasa, dia merasa sangat kesepian.


Suatu hari, ketika dia berdiri di puncak batu, dia menatap dengan mata penuh kekaguman di lautan luas dan ombak besar bergelombang. Saat dia berdiri di sana, dia tiba-tiba melihat seekor burung gagak. Pada paruhnya menggigit cabang pohon kering, dan terbang terus berputar-putar di atas tempat dia berdiri.

Limimut menjadi penasaran dan bertanya-tanya dari mana burung itu berasal, dan di mana ia menemukan cabang itu. Tiba-tiba burung itu berbicara kepadanya: Saya membawanya dari Taore. Hebatnya, gadis itu terkejut ketika mengetahui bahwa burung itu bisa membaca pikirannya dan bisa berbicara dengan bahasanya. Lalu dia bertanya: Saya ingin sekali pergi ke tanah itu. maukah kau membawa aku ke sana?.


Burung gagak itu setuju untuk melakukannya, dan mereka terbang untuk mencapai Taore, karena Limimut sendiri bisa terbang juga. Saat tiba di sana, mereka menemukan sebidang kecil tanah, tidak lebih besar dari saringan. Tiba-tiba saja muncul di atas permukaan laut, satu demi satu pulau, sehingga menjadi banyak pulau di perairan itu.

Burung gagak itu berhenti terbang dan berkata. Kita sudah sampai pada tujuan kita, di sinilah saya mengambil cabang pohon: yang bernama Taore. Kemudian burung gagak itu terbang, meninggalkan Limimut sendiri. Kini, sekali lagi Limimut sendirian.


"Sendiri! Dia menghela napas. Lagi-lagi sendirian, dan di sekelilingnya adalah air. Entah dari mana ilhamnya, kemudian Limimut menancapkan cabang pohon. Seolah-olah diarahkan oleh tangan yang tak terlihat, kemudian dia mencongkel tanah dan dia mengambil sedikit tanah, sebanyak yang dia bisa pegang di tangannya.

Limimut kembali ke batu yang lebar dan luas tempat dia tinggal. Setelah dia datang limimut menyebarkan tanah pada batu yang tandus. Hal aneh kemudian terjadi, dalam waktu yang singkat batu itu sudah menjadi lahan tanah luas yang tandus.


Ketika Limimut melihat sekeliling, dia menyadari bahwa tanah itu tandus. Kemudian dia terbang lagi ke Taore dan mengambil segenggam tanah lagi. Saat kembali ke rumah, dia kembali menyebarkan tanah di tanah yang tandus. Sesuatu yang hijau mulai muncul dari daratan, dan ini menjadi vegetasi yang kita miliki di bumi yang kita kenal sekarang.

Tapi Limimut belum puas. Dia membuat gunung di bagian selatan negeri itu. Ketika ini sudah cukup tinggi, dia naik sampai mencapai puncak. Ada hal aneh lain yang terjadi; dia kemudian hamil. Beberapa bulan kemudian, seorang anak dilahirkan untuknya, seorang putra yang sehat. Kemudian Limimut memberikan namanya “Toar.”


Tahun-tahun berlalu dan Toar tumbuh menjadi seorang pria muda yang tampan. Sang ibu berpikir bahwa waktunya telah tiba baginya untuk memilih seorang istri. Tetapi di mana dia bisa menemukan seorang wanita untuk menikah? lagi-lagi sang ibu memiliki ide.


"Nak, dia berkata kepadanya. Mengembaralah di dunia sampai engkau menemukan seorang istri. Toar mematuhi perintah ibunya dan mengembara ke bagian dunia lain, mengarungi samudera dan daratan. Toar sudah melakukan perjalanan jarak jauh tetapi masih tidak menemukan seorang wanita untuk menjadikannya istrinya. Kemudian dia kembali ke pulang ke rumah, memberi tahu ibunya bahwa dia belum berhasil menemukan seorang wanita yang bisa dia nikahi.


"Yaa, sudah, sabarlah nak. Lalu Limimut mempunyai ide lagi. Limimut akan membantu anaknya mencari seorang istri. Sang ibu berkat; Potong sebatang tebu, sama panjang keduanya, kau bawak tebu sebelah bawa, da ibu membawa tebu bagian atasnya. Ibu akan membantu untuk mencari istri. Nanti, di perjalanan kau akan melalui jalan dari sebelah kanan, dan ibu akan pergi ke pergi dari sebelah kiri. Jika nanti di jalan kau bertemu seorang wanita membawa sepotong tebu yang lebih panjang darimu, bawa dia dan jadikan sebagai istrimu.


Toar selalu mematuhi perintah ibunya, di perjalanan jalan bercabang dua mereka berpisah. Sang anak pergi ke kanan dan ibu ke kiri. Mereka menjelajahi bumi yang pada masa itu tidak sebesar sekarang. pada akhirnya, ketika Toar sedang dalam perjalanan, dia melihat seorang wanita mendekatinya. Dia mengeluarkan tongkatnya dan mengukur tongkat yang dibawanya.

Melihat bahwa miliknya lebih panjang dari miliknya, dia berpikir bahwa dia adalah wanita yang selama ini dia cari. Toar kemudian menjadikannya istrinya dan membawanya pulang. Dia tidak menduga bahwa itu adalah ibunya sendiri, dia telah menikah. Toar hanya memikirkan pesan tentang panjang tongkat. Pada kenyataannya, tebu telah tumbuh dan telah menjadi lebih panjang dan begitu pula ketika ia memilih wanita itu untuk menjadi istrinya.


Mereka kembali ke gunung yang dibangun oleh Limimut. Di sana mereka hidup bahagia bersama, Limimut melahirkan sebanyak tiga kali, tetapi setiap kali dia melahirkan selalu berjumlah sembilan. Anak-anak ini hidup dengan damai satu sama lain, berbagi bersama apa yang dimiliki orang tua mereka. Waktu berlalu, zaman berlalu, masa-masa berlalu, maka dari keturunan mereka inilah yang menjadi nenek moyang orang-orang Minahasa saat ini.

Rewrite. Apero Fublic.
Editor. Desti. S. Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 2018.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional,  quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com atau duniasastra@gmail.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment