6/24/2019

Kisahku. Di Bumi Sangkurian


Apero Fublic.- Waktu itu, adalah hari ke-10 dari perjalanan kami. Tepatnya pada tanggal 11 Maret 2017. Aku bersama teman-teman PKL (Praktek Kerja Lapangan), dari Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, pada bidang studi Pendidikan Biologi, Universitas Sriwijaya. Hari itu, kami menyempatkan berkunjung  ke tempat wisata Gunung Tangkuban Perahu, di Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Walau badan sedah terasa lelah dan capek sekali, tetapi tidak mengurangi semangatku, dan teman-teman untuk menikmati alam yang indah itu. Rasa penasaran dan gembira bercampur aduk, sebab Gunung Tangkuban Perahu memiliki legenda yang populer sekali, yaitu legenda Sangkuriang.

Di dalam hati kami bertanya-tanya,“kayak apa si bentuk Gunung Tangkuban Parahu itu??. Apa benar mirip perahu gunungnya??. Cuaca yang dingin sebagaimana keadaan di pegunungan. Selain itu, mendung juga menggantung di langit. Aku dan teman-teman  mulai  menapakkan  kaki di wilayah yang bernama, Bandung.


Saat turun dari bus, yang paling dicari adalah cerita legenda Sangkuriang. Pokoknya kata hati, harus tahu tentang cerita dan tempatnya. Kami mengendarai mobil, menyusuri jalan-jalan yang berliku-liku, dan berkelok-kelok tajam. Saat naik mobil tersebut, aku ingat sebuah acara televisi yang menayangkan acara My Trip My Advanture. Aku juga merasa ngeri, melihat di kanan dan kiri  jalan yang terdapat jurang-jurang terjal dan dalam.

Namun dibayar dengan pemandangan yang sangat indah. Pepohonan yang rindang menghijauh juga memperindah perjalanan kami. Hari itu, kami berkeliling di tanah dimana terjadinya sebuah legenda Sangkuriang, yang diceritakan sebagai bentuk asal usul terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu. Antara percaya dan tidak tentang legenda tersebut, kami mulai menikmati panorama alam yang indah.
Apero Fublic.- Aku dengar legenda itu bermulah dari, dari dikutuknya seorang dewa dan seorang dewi karena suatu kesalahan yang fatal. Sang Dewa dikutuk menjadi seekor anjing. Sedangkan sang Dewi dikutuk menjadi seekor babi.

Kisah bermulah, pada zaman dahulukalah. dikisahkan hiduplah seorang putri cantik yang bernama Dayang Sumbi. Dia adalah anak seorang raja yang bernama Sungging Perbangkara dari sebuah kerajaan besar yang berada di Jawa Barat. Karena kecantikanya, Dayang Sumbi menjadi rebutan raja-raja atau para pangeran kerajaan lain.

Banyak raja-raja yang datang meminang  Dayang Sumbi untuk dijadikan istri. Sehingga banyak perseteruan diantara mereka. Dayang Sumbi merasa dirinya  menjadi bahan rebutan, dan menyebabkan peperangan. Maka akhirnya Dayang Sumbi, memutuskan untuk pergi mengasingkan diri kehutan, dan hidup disana dengan tenang.

Suatu ketika Dayang Sumbi sedang menenun, pitalan benang yang dia gunakan jatuh. Karena malas untuk mengambil pintalannya, Dayang Sumbi pun berkata, “siapapun yang mengambilkan pitalan benang tenunku, kalau dia laki-laki akan menjadi suamiku, dan apabila dia wanita akan menjadi saudaraku.” Kemudian, tiba-tiba seekor anjing mengambil pitalan tersebut, lalu memberikannya kepada Dayang Sumbi.

Karena dia sudah berkata-kata demikian, maka Dayang Sumbi harus menepati janjinya. Akhirnya Dayang Sumbi pun menikah dengan anjing tersebut. Tidak lama kemudian, dia memiliki anak laki-laki yang bernama Sangkuriang.

Seiring waktu berjalan, Sangkuriang pun tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa, dan sakti. Setiap hari, Sangkuriang selalu ditemani oleh anjing peliharaannya, yang bernama si Tumang. Sangkurian menganggap anjingnya hanya seekor anjing peliharaan, yang setia. Sangkuriang tidak tahu bahwa si Tumang adalah ayahnya.

Suatu hari, Sangkuriang dimintai oleh ibu-nya, Dayang Sumbi untuk berburu rusa. Karena Dayang Sumbi ingin makan dendeng hati rusa. denga. Sebelum berangkat berburu, Sangkurinag berkata pada ibunya. “Baiklah, aku akan bawakan ibu sebuah hati rusa untuk.” Janji Sangkuriang.

Sangkuriang dan si Tumang pun pergi berburu ke hutan. Mulailah mereka berburu mencari  rusa. Tetapi sayang sudah seharian  mereka berburu, namun tidak mendapatkan hasil apa pun. Jangkan hati rusa, bertemu dengan rusa pun tidak. Saat dalam putus asa, lewatlah seekor babi hutan besar. Sangkuriang meminta si Tumang mengejar babi tersebut.

Namun si Tumang tidak mau. Karena dia tahu, babi yang lewat tadi adalah jelmaan seorang Dewi. Si Tumang sesungguhnya juga jelmaan seorang Dewa yang di kutuk menjadi anjing. Dewi tersebut memiliki hubungan dengan si Tumang di kehidupan kayangan. Karena suatu kesalahan keduanya di kutuk. Si Tumang menjadi anjing dan sang Dewi menjadi babi. Sangkuriang marah melihat tingkah si Tumang yang aneh, dan tidak bergerak sedikitpun.

Sangkuriang mengacungkan panahnya menghardik si Tumang, agar mau mengejar babi tersebut. Sangkuriang terus menakut-nakuti si Tumang dengan panahnya. Tetapi hal tidak terduga terjadi. Tanpa sengaja Sangkuriang kelepasan, dan anak panah melesat mengenai si Tumang. Sangkuriang sangat menyesal dan sedih.

Sangkuriang khawatir sekali, hati rusa tak dapat, si Tumang mati. Sangkuriang kawatir akan mengecewakan ibu-nya. Haripun sudah sore dan sebentar lagi malam. Maka sangkuriang memutuskan mengambil hati si Tumang yang telah mati. Hati si Tumang kemudian dia bawa pulang dan diberikannya pada ibu-nya, Dayang Sumbi. Dayang Sumbi mengirah itu adalah hati rusa.

Sehingga dia memasaknya dengan enak sekali. Setelah di tunggu beberapa saat si Tumang juga tidak muncul. Sampai keesokan harinya si Tumang juga tidak pulang. Kemudian Dayang Sumbi menanyakan si Tumang pada Sangkuriang. Dengan perasaan takut, Sangkuriang menceritakan semuanya pada Dayang Sumbi. Bahwa si Tumang telah mati, tak sengaja terkenah panahnya.

Mendengar cerita Sangkuriang bahwa si Tumang telah mati terpana oleh Sangkuriang, membuat Dayang Sumbi kalap dan marah besar. Tanpa sadar Dayang Sumbi memukul Sangkuriang dengan sendo besar, di kepalanya dan terluka dan meninggalkan bekas luka yang besar. Sangkuriang juga terjatuh, dan kepalanya membentur tempat penyimpanan air di dekat tangga yang terbuat dari batu. Sehingga Sangkuriang menderita amnesia, lupa ingatan.

Tanpa sadar Sangkuriang pergi meninggalkan rumah. Kemudian pergi mengembara berkeliling dunia. Banyak ilmu kesaktian yang dia peroleh. Sangkuriang pun menaklukkan negeri jin, dan Raja Jin tunduk pada Sangkuriang. Dalam perjalanan itu juga, Sangkuriang meruntuhkan negeri raja-raja yang pernah memaksa menikah dengan Dayang Sumbi. Kemudian Sangkuriang sampai di hutan dimana dia tinggal dahulu.

Sangkuriang telah lupa dan tidak mengingat lagi karena sudah lama tidak kembali. Di hutan itu dia bertemu dengan seorang wanita muda dan sangat cantik. Membuat Sangkuriang jatuh cinta dan berniat menikahi wanita tersebut. Sangkuriang tidak sadar bahwa wanita tersebut adalah ibu-nya, Dayang Sumbi. Dayang Sumbi di anugerahi yang maha kuasa kelebihan, yaitu awet muda.

Dayang Sumbi juga menjaga kecantikannya dengan banyak memakan dedaunan muda.  Dalam perkenalan dan cerita, akhirnya Dayang Sumbi mengingat bahwa si Pemuda tersebut adalah anak kandungnya. Dayang Sumbi juga mengenal ada bekas luka di kepala si anak muda itu. Karena Sangkuriang mengidap amnesia, dia lupa-lupa ingat dalam bercerita.

Dia kurang ingat tentang luka di kepalanya. Luka di pukul atau luka terjatuh menmbentur tempat air pencuci kaki di dekat tangga. Mendengar cerita tersebut semakin yakin Dayang Sumbi adalah anak kandungnya, Sangkuriang. Tetapi Dayang Sumbi tidak dapat menjelaskan dengan masuk akan, bahwa dia adalah ibu Sangkuriang.

Karena menurut hitungan umur normal manusia biasa dia sudah tua, dan kulitnya haruslah sudah keriput, begitupun dengan rambutnya pasti sudah ubanan. Hal yang dikhawatirkan juga Dayang Sumbi takut membuat kecewa Sangkuriang yang sakti tentu dia dapat berbuat apapun sekehendaknya.

Maka Dayang Sumbi memikirkan caranya untuk menolak secara halus. Dayang Sumbi akan menikah dengan Sangkuriang asalkan dia mampu memenuhi syaratnya. Yaitu membuat sebuah danau dengan membendung Sungai Citarum, dan sekaligus sebuah perahu dalam waktu semalam, sebelum ayam berkokok. Sangkuriang menyanggupi permintaan Dayang Sumbi.

Sangkuriang memanggil para jin yang pernah dia taklukkan dahulu. Dia memerintahkan ribuan pasukan jin bekerja cepat. Ada yang membuat perahu, dan banyak yang membendung Sungai Citarum. Dayang Sumbi khawatir sekali melihat hal tersebut. Dia tidak mungkin menikah dengan anak kandungnya sendiri. Maka dia kembali berpikir bagaimana membuat semua itu, tidak terjadi.

Kemudian Dayang Sumbi berdoa pada yang Maha Kuasa agar membantunya mengatasi kesulitannya. Kemudian Dayang Sumbi mengambil alu dan menumbuk padi. Ayam yang mendengar alu bertalu-talu, berpikir bahwa hari sudah hampir siang. Membuat ayam-ayam berkokok dan para jin pembuat perahu dan sedang membendung Sungai Citarum ketakutan, mendengar ayam berkokok,  pertanda hari akan siang.

Maka para jin berlari meninggalkan pekerjaan mereka. Tidak seberapa lama haripun siang, dan pekerjaan belum selesai. Melihat semua itu, Sangkuriang sangat marah dan kemudian menendang perahu yang dibuat para jin tersebut, hingga melayang jauh. Jatuh tertelungkup di bumi. Ajaib, waktu demi waktu perahu tersebut kemudian menjadi gunung seperti sekarang ini, yaitu Gunung Tangkuban Perahu.

Aku sangat terkesan mengetahui legenda Sangkuriang. Membuat perjalanan ini terasa begitu berarti. Terima kasih ya Allah, aku sudah sampai di sini. Dapat menyaksikan sebuah gunung yang memiliki legenda yang luar biasa. Memang legenda Sangkuriang menjadi daya tarik wisata dan menjadi kekayaan tak benda bangsa Indonesia. Aku sangat bahagia bersama teman-teman.

Kenangan ini akan menjadi kenangan yang tak terlupakan sampai kapanpun. Buat teman-teman semua, terima kasih sudah menjadi bagian dalam perjalanan hidupku. Dalam legenda tersebut ada beberapa hal yang dapat aku jadikan pelajaran. Pertama jangan suka berkata-kata yang menentang kekuasaan tuhan seperti sesumbar akan sesuatu sebagaimana yang Dayang Sumbi lakukan.

Kedua, kita juga di ajarkan menepati janji dan kata-kata kita. Ketiga, kita harus memutuskan perkara dengan keputusan yang baik. Keempat, menjaga norma-norma susilah dan kesucian sebagai wanita. Kelima, hadapi sesuatu dengan bijak dan berpikir cerdik. Semoga, suatau saat nanti aku masih punya kesempatan untuk datang lagi ke bumi Sangkuriang. Wassalam.

Oleh. Ulandari.
Editor. Selita. S.Pd.
Ogan Ilir, 11 Mei 2017.
Sumber foto. Ulandari.
Praktek Kerja Lapangan (PKL). FKIP. Universitas Sriwijaya.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment