6/24/2019

ANDAI-ANDAI: Ragata dan Tiga Suban Nama.









Apero Fublic.- Waktu kecil Aku pernah ikut nenek menengok seorang kerabat yang baru selesai melahirkan.“Berilah nama anakmu, nanti suban nama datang dan memberikan nama yang tidak baik pada anakmu.” Kata nenek. Kerabat itu tidak menanggapi dengan serius. Lalu nenek bercerita andai-andai pada kami. Sehingga dengan cepat mereka memberi nama pada anaknya yang baru lahir.

*****

Tersebutlah sebuah Talang orang Melayu yang damai. Talang kecil berhuni tujuh puluh rumah. Talang tersebut bernama Talang Meranti. Penduduk menamakan Talang Meranti, karena saat membuka Talang dahulunya banyak terdapat pohon meranti. Terletak tidak jauh dari aliran Sungai Keruh.

Disuatu sore yang cerah, seorang pemuda berumur dua puluh lima tahun, sedang membelah kayu bakar di belakang rumahnya. Beberapa orang adiknya bermain di pekarangan rumah. Ibu dan adik perawannya sibuk memasak di dapur. Sedangkan sang ayah sedang sibuk mengolah bambu untuk dijadikan bubu, di serambi dapur. Seekor elang terbang berputar-putar di angkasa. Dan ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Angin berhembus menggoyangkan dedaunan kelapa yang tumbuh subur di samping rumah. Seekor tupai berlompatan di dahan-dahan pohon duku, dan pepohonan buah lainnya.

“Crakkk. Caraakk.” Suara kayu bakar terbelah.

Suara kapak beradu memecah kayu bakar. Keringat membasahi tubuh, menetes dikeningnya. Telah banyak mendapat kayu bakar. Menjelang sore dia istirahat melepas lelah. Di jalanan Talang ramai orang pulang dari ladang, dan perempuan pulang pergi mandi di sungai.

Malampun mulai merayap, suasana gelap gulita di Talang Meranti. Hanya lampu-lampu lentera yang menerangi. Jauh di dalam hutan terdengar suara harimau mengaum. Setelah makan malam, keluarga si pemuda bercengkrama berkumpul di ruang tengah rumah panggung basepat.

Lama percakapan, dan senda gurau diantara adik dan kakak. Sang ayah menikmati minuman madu hangat, dan ubi rebus. Di sela-sela percakapan itu, si anak mudah itu berkata pada ayahnya.

“Bak, aku hendak pergi berpetualang barang beberapa waktu. Tak pantas anak jantan hanya berlaku macam anak perawan, di rumah saja. Aku hendak menjelajah wilayah Pedatuan kita ini. Seberapa luas dan seberapa banyak penduduknya. Aku hendak mencari pengalaman baru walau hanya menjelajah daerah sendiri. Sebagai anak muda tidak pernah berbuat sesuatu yang berkesan. Hanya bekerja di ladang dan mengambil kayu bakar. Hidup hanya sekali, masa muda tidak akan berulang. Aku ingin menguji kemampuanku, keberanian, dan ketangguhan ilmu silatku. Aku meminta izin, Umak, dan Bak.” Kata si pemuda.

“Anakku, Aku orang tuamu tidak keberatan dengan keinginanmu. Hanya saja apakah tekadmu sudah bulat, dan kau merasa sanggup, siap menanggung semua akibatnya. Karena kau akan menghadapi banyak tantangan. Bertemu dengan orang jahat, binatang buas, siluman, kelaparan dijalan, atau tersesat. Lagi pula apakah ada manfaatnya rencana petualanganmu itu. Memang seorang pemuda harus berpetualang agar membuka mata hati dan menambah pengetahuan hidup.” Kata ayahnya.

 “Bak, aku berharap apabila aku sudah ditempa oleh pengalaman dan pengetahuan kelak apabila ada pemilihan Datu, Aku dapat mengikuti. Bukan hanya mengadalkan ilmu bela diri tetapi pengetahuan luas juga.” Katanya. Lalu matanya memandang ibunya dan berkata.  “Bagaimana menurut umak?.” Tanyanya.

“Kalau seorang ibu tidak akan relah anaknya pergi jauh darinya. Khawatir sesuatu hal buruk menimpa. Tetapi apabila itu sudah menjadi keputusanmu, dan tekadmu. Ragata anakku, Aku mengizinkan kepergianmu. Umak mengerti seorang pemuda mempunyai jiwa berpetualang. Anak laki-laki tak dapat dikurung. Kapan engkau hendak berangkat, nak?.” Kata ibunya.

“Lusa pagi Mak, besok aku hendak bersiap dan berpamitan dengan keluarga, dan melapor ke datu.” Jelas Ragata.

Setelah berpamitan dengan keluarga besarnya dan melapor ke datu, Ragata pergi memulai petualangannya menjelajahi Pedatuan Bukit Pandape. Membawa buntalan pakaian, panah, pibang kidau dan pibang kanan. Pibang adalah senjata adat di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Pibang bukan hanya menjadi senjata yang di bawa kemana-mana, tetapi juga menjadi syarat dalam adat pernikahan. Yaitu adat genti duduk namanya. Genti duduk bermakna sebagai pengganti keberadaan si anak perempuan yang sudah menikah.

Ragata memulai petualangannya dengan berakit kehilir Sungai Keruh. Menuju muara di Sungai Musi. Sampai di muara, Ragata mengayuh ke hulu dengan perlahan. Satang dia dorong perlahan dan mengamati sepanjang tebing sungai. Banyak hewan liar yang dia temui, buaya, ular besar, ikan besar, bermacam burung. Semunya dia amati dengan seksama. Pohon rengas besar dan tinggi tumbuh subur di tebing Sungai Musi. Banyak lebah bersarang, burung elang dan buahnya sering jatuh kedalam sungai.

Menurut Ragata, seandainya disetiap tebing sungai terdapat banyak pohon rengas yang tumbuh maka tebing sungai akan kuat dan terhindar dari longsor. Banyak ikan bersarang pada akarnya yang bergambut dan hewan-hewan lain bersarang di dahannya. Setelah puas berakit beberapa hari menyusuri Sungai Musi. Sekarang Ragata naik ke darat. Dia melihat arah matahari, dan memastikan arah yang dia ambil nanti tepat menuju Bukit Pendape. Dia ingin mengelilingi Pedatuan Pendape.

Menembus hutan, menyeberangi rawa-rawa, dan sungai-sungai. Kadang dia melewati ladang dan talang-talang. Di mampir dan bertanya arah penduduk yang baik menawarkan makan dan minum. Suatu hari dia dihadang beberapa pemuda.

“Hai kau, mengapa lewat di sini.?” Bentak seorang pemuda.

“Aku hanya numpang lewat, kawan tidak ada maksud lain.” Jawab ragata rama. Tapi pemuda-pemuda seumuran dengannya itu tidak mau memberi jalan. Lalu mereka bertarung dan mengeluarkan kemampuan silat masing-masing. Ragata mampu mengalahkan mereka, dan dia segerah pergi. Dia pun selalu melapor ke Datu talang yang dia lalui.

“Auuummmm.” Seekor harimau jantan menerkam Ragata, untung dia dapat mengelak dan pertarungan terjadi. Ragata mencabut pibang kiri dan kanan. Beberapa saat kemudian dia dapat mengalahkan harimau itu. Teringat perkataan ayahnya, kalau berpetualang itu banyak tantangannya.

*****

Seorang kakek-kakek tua yang sudah bongkok, rambut putih dan janggut pun sudah putih. Dia sibuk membakar ayam hutan di sisi jalan setapak. Keringat mengucur karena panas bara api. Ada bumbung bambu wadah air yang dia panaskan diatas api. Tidak jauh dari situ, mengalir sungai Rawas.

“Kakek, boleh bertanya kiranya.” Kata Ragata. Si kakek tersenyum, dia tidak langsung menjawab. Kemudian berdiri dan menghadap Ragata. Tercium oleh ragata harumnya ayam panggang. Perutnya yang lapar dan haus membuat air liurnya menetes.

“Bujang, baiknya duduk dahulu, sepertinya kau datang dari jauh.” Kata si Kakek dan mengajak Ragata duduk pada potongan kayu besar tidak jauh dari api. Karena lelah akhirnya Ragata setuju dan kakek membagi dua ayam bakar lalu diberikan pada Ragata. Keduanya berbincang dan banyak yang ragata tanyakan.

“Bujang mau ke mana, apa tujuanmu?. Tanya si Kakek. Ragata berkata kalau dia ingin menjelajahi Pedatuan Bukit Pendape, mencari pengalaman. Sekarang dia ingin menuju Bukit Pendape. Kakek itu manggut-manggut dan banyak memberi nasihat. Beberapa saat kemudian Ragata mengantuk dan dia tertidur. Dalam tidurnya dia bermimpi kakek itu memberinya sesuatu.

“Bujang, ini tulang bertua namanya, dibalut kulit harimau, diikat abuk sakti. Orang memilikinya dapat melihat dan mendengar mahluk halus.” Kata si kakek, lalu dia pergi entah kemana. Ragata terbangun, dia melihat benda itu ada di tangannya. Api sudah padam, tampak bumbung bambu berisi air minum sudah terletak didekatnya. Kakek itu sudah tidak ada lagi, sunyi dan sepi sekeliling.

*****

Dua bulan telah berlalu. Ragata sangat kelelahan karena mendaki dan menuruni Bukit Pendape. Sebentar lagi hari akan gelap. Menurut keterangan dari warga Talang Kulim, dalam satu setengah hari perjalanan dia baru tiba di talang warga lagi, Talang Rengas.Itu berarti dia terpaksa bermalam di tengah hutan.

Ragata memutuskan bersiap bermalam, dia mengumpulkan ranting kering dan mencari tempat baik menurutnya. Dia beristirahat dibawa pohon marabungan. Pohon itu, rindang dan banyak dahan-dahan yang dapat dia jadikan tempat tidur. Di atas pohon akan aman dari harimau dan ular. Dia membuat api dan membakar ubi bano yang dia temukan disekitar itu. Setelah minum, dan perutnya kenyang dia naik ke pohon marabungan. Badannya dia ikat dengan akar pohon yang dia siapkan. Agar saat tidur dia tidak jatuh.

“Apinya sudah padam, kita bisa berbincang-bincang lagi.” Bunyi suara orang berbincang-bincang. Mendengar itu, mata ragata terbuka lebar melihat ke sekeliling. Ragata gemetar, berusaha melawan rasa takut.

“Dia tidur di rumah kita. Terpaksa kita mencari tempat lain untuk tidur malam ini.” Kata suara satunya lagi. Ragata berpikir pastilah yang berbincang-bincang itu suban hutan itu. Dia memegang benda pemberian kakek beberapa bulan lalu dan teringat kalau dia akan dapat melihat suban dan mendengar suara mereka. Ragata tidak takut lagi, sebab suban hanyalah mahluk halur yang berupa bayang-bayang saja.

“Grrusuk. Grusak. Grusaak.” Terdengar suara seakan-akan orang berjalan disemak-semak.

“Hei, istri Datu Talang Rengas baru saja melahirkan dua hari yang lalu. Anaknya kembar semua laki-laki. Anak belum diberi nama.” Kata suara ketiga.

“Yah, di sebelah hulu Talang Rengas ada juga wanita melahirkan. Anaknya juga laki-laki, belum diberi nama.” Kata suara pertama tadi.

“Ayo kita kasih nama anak-anak itu.” Kata suara kedua tadi.

“Anak Datu Talang Rengas yang kembar akan aku namakan mangsa buaya.” Kata suara ketiga.

“Kalau anak perempuan di hulu Talang Rengas aku namaka, Datu Kemenangan.” Kata suara pertama.

“Kalau anak Datu Talang Rengas yang satunya aku namakan, Makan Buaya.” Kata suara kedua.

“Ayo kita pergi, sebelum terlambat. Nanti sudah diberi nama oleh orang tuanya.” Kata suara ketiga, kembali terdengar orang berjalan diantara semak-semak. Ragata mendengar dengan jelas semua itu. Beberapa saat dia pun tertidur dan bangun saat matahari menyinari tubuhnya.

*****

Talang Rengas tampak damai dan tenang, ibu-ibu menumbuk padi, orang tua mengayam keranjang dan bubu di serambi rumah. Anak bermain-main dilapangan berumput, banyak juga yang pulang dari ladang dan menggendong kayu bakar.

“Mamak, dimana rumah datu?.” Tanya seorang pemuda pengembara.

“Rumah datu tidak jauh dari sini, lurus. Apabila menemukan rumah besar dan halaman luas, itulah rumahnya.” Jawab laki-laki itu sambil menunjuk ara. Ragata mengucap terimakasih dan pergi. Dia tersenyum ramah saat berpapasan dengan penduduk. Sepertinya seorang pengembara kata hatinya. Dia melihat beberapa saat Ragata yang berlalu meninggalkan. Kemudian dia meneruskan membuat pagar halamannya.

Ragata masuk halaman rumah, dia menemui seorang laki-laki berumur empat puluhan tahun yang sedang mengayam bubu. Di sisi rumah seorang ibu-ibu tua sedang menjemur padi. Di dalam rumah terdengar tangisan dua bayi.

“Apakah anda Datu Talang Rengas.” Tanya Ragata sesampai di depan rumah. “Benar. Bujang sendiri siapa, dari mana dan hendak ke mana.” Jawabnya, dia bangkit dan menemui Ragata.

“Aku Ragata, dari Talang Meranti paman Datu.” Jawab Ragata. Datu menawarkan untuk mampir. Ragata menolak dengan halus, karena dia akan kembali menemui sebuah keluarga di hulu talang. Ragata menceritakan peristiwa di hutan semalam. Tiga siluman berbincang-bincang tentang penamaan anak datu yang baru dilahirkan dan belum diberi nama. Datu terkejut, dia mengakui sampai hari itu belum dapat nama untuk kedua anaknya.

“Baiklah paman datu, saya mohon diri.” Kata Ragata. Dia pergi ke arah hulu talang. Beberapa kali dia bertanya pada beberapa warga yang dia jumpai. Dimana rumah orang yang baru melahirkan anak. Ragata menemukan sebuah rumah yang sederhana. Beratap daun rumbia, dan berdinding bambu. Terdengar suara bayi menangis.

“Bujang, ada apa kiranya kau mampir ke rumah kami yang buruk ini?.”

“Koyong, boleh saya bicara sebentar.” Ujar Ragata. Laki-laki itu mengangguk. Kemudian ragata menceritakan kejadian di hutan semalam. Dia menyampaikan kalau suban menakan anaknya, Datu Kemenangan. Dia bilang hanya mau menyampaikan berita gembira itu saja. Mendengar itu, lelaki itu menjadi tertarik. Dia meminta agar ragata mampir sebentar. Ragata tidak menolak dan masuklah kedalam rumah.

“Ayo cicipi nira panas, ubi rebusnya.” Ragata dihidangkan minuman dan makan. Mereka berbincang ringan dan saling memperkenalkan diri. Nama orang itu, Batang Kilu.

“Benar, aku belum memberi nama anak kami. Entah mengapa saya rasa namanya tidak ada yang cocok.” Cerita Batang Kilu. Di rasa cukup, Ragata pamit untuk pulang. Dia sudah lelah berpetualang berbulan-bulan.

“Pakailah rakit saya di tepian.” Kata Batang Kilu. Betapa berterimakasih Ragata sebab dia tidak lagi perlu membuat rakit. Batang Kilu diikuti istri yang menggendong anaknya mengantar Ragata ke tepian mereka di Sungai Keruh.

“Dik, ini bekalmu diperjalanan. Kau akan berakit selama seminggu baru tiba di Talang Meranti.” Kata istri Batang Kilu seraya memberikan keranjang kecil berisi makanan. Sebuah pancing juga diberikan Batang Kilu.

“Terimakasi Kopek, Koyong maaf telah merepotkan. Kalau sedang ke hilir, mampirlah ke Talang Meranti.” Kata Ragata. Dia mulai mengayunkan satang mendorong rakit menghilir Sungai Keruh. Batang Kilu dan istrinya memperhatikan Ragata yang terus menjauh di tengah sungai, kemudian menghilang dari pandangan di kelokan sungai.

“Dia bujang yang hebat. Kita namakan anak kita Ragata, agar kelak dia mengenali kalau seandainya anak kita memang menjadi seorang datu.

*****

Setelah cerita Ragata itu, Datu Talang Rengas mengumumkan akan memburu semua buaya di Sungai Keruh. Warga Talang Rengas semuanya membantu. Begitupun Depati Pedatuan dan datu-datu talang lainnya membawa pasukan membantu memburu buaya-buaya di Sungai Keruh. Mereka membuat jebakan di Sungai Keruh. Saat buaya melintas pasti tertangkap. Mereka berburu sepanjang waktu, bertahun-tahun sehingga habislah seluruh buaya Sungai Keruh. Sehingga sampai sekarang tidak ada lagi buaya di Sungai Keruh.

Tapi, ada seekor buaya besar yang sulit sekali ditangkap. Buaya ini gesit dan sangat lincah, tidak mudaah terkecoh jebakan. Datu Talang Rengas tidak putus asa. Dia membuat pagar dengan bambu-bambu panjang melintasi badan sungai. Di tengah dibuat muara dengan pintu di buat menggantung di atas. Tali penggagung cukup sekali potong maka pagar sungai akan tertutup rapat. Sehari, sebulan, dua bulan, dan bulan yang ketiga, si buaya yang cerdik itu juga terkecoh, lalu terkurung dalam jebakan.

Musim kemarau tiba, air sungai surut sekali. Sehingga buaya yang terkurung dapat ditangkap Datu Talang Rengas. Buaya ditombak beberapa kali sehingga tewas. Badan buaya dibawa ke halaman rumah datu yang luas. Datu begitu gembira, dia yakin sekarang kalau dia telah menghilangkan ancaman pada dua anak laki-lakinya. Penamaan suban pada anaknya dengan nama “mangsa buaya” tidak akan terjadi. Diadakan perjamuan makan untuk semua warga dan mengundang para datu talang lain juga depati. Banyak sapi dan kambing yang di potong dan makanan yang di siapkan.

Anak datu yang kembar bermain-main di dekat buaya yang sudah mati itu. Kemudian keduanya bermain didekat bangkai buaya. Tanpa sengaja kaki mereka tersandung dan terjatuh. Kaki dan tangan keduanya tergores oleh kuku buaya. Tampak luka kecil dan berdarah, membuat keduanya menangis.

Hari demi hari berlalu. Luka goresan terus membengkak dan bernanah. Semua obat telah dicoba oleh Datu Talang Rengas dan keluarganya. Ternyata luka itu telah melebar. Akhirnya ke dua anak kembar sang datu meninggal dunia.

*****

Dua puluh lima tahun kemudian anak yang dinamakan Datu Kemenangan oleh suban nama, benar-benar menjadi datu di Talang Rengas. Dia menggantikan datu pemburu buaya yang sudah tua. Dia tidak ada pewaris karena dua anaknya meninggal karena terluka goresan kuku buaya.

Kisah bermulah saat Pedatuan Bukit Pendape di serang perompak. Serangan pasukan perompak yang banyak dan tiba-tiba. Membuat Depati Depati terpaksa mundur dan menyusun kekuatan di Talang Rengas. Kemudian diadakan pemilihan hulubalang-hulubalang untuk memimpin perang. Datu Kemenangan terpilih menjadi seorang hulubalang.

Saat Datu Talang Rengas meninggal dunia. Dia tidak ada pewarisnya, maka diadakan pemilihan Datu baru oleh warga talang. Hulubalang Datu Kemenangan ikut pemilihan. Karena memang dia orang yang baik dan hebat maka rakyat memilihnya. Depati menobatkannya menjadi Datu Talang Rengas dan digelari Puyang Ragata Datu Kemenangan.

*****

Pedatuan Bukit Pendape diserang suku liar dari hutan. Yang dikenal dengan suku Kubu. Karena dianggap memiliki kemampuan perang Depati menunjuk Datu Kemenangan menjadi Panglima Perang. Peperangan terjadi selama satu bulan, dan mereka berhasil memenangkan perang. Setelah perang usai seorang datu tua menghampiri Datu Kemenangan.

“Apakah kau anak Paman Batang Kilu.” Tanya seorang Datu tua dari Talang Meranti.

“Benar paman, tapi ayah saya telah meninggal dunia.” Jawab Datu Kemenangan.

“Siapa nama paman datu.” Tanya Datu Kemenangan.

“Ragata.” Jawab Datu tua itu. Ragata menjadi datu Talang Meranti, sebab datu dan pewarisnya sebelumnya mati sewaktu perang melawan perompak. Mendengar itu, Datu Kemenangan terkejut dan berbahagia. Dia sekarang berjumpa dengan orang yang diceritakan oleh ayahnya dua puluh lima tahun lalu. Ragata mengetahui karena namanya dan nama Datu Kemenangan membuat dia ingat masa mudanya dulu.

Oleh: Joni Apero.
Editor. Desti. S. Sos.
Palembang, 23 Juli 2018.

Pengertian kata: 1. Bumbung: potongan ruas bambu. 2. Bak: Ayah. 3. Umak: Ibu. 4. Talang: Kampung. Nama suatu pemukiman penduduk dimana penduduknya masih sedikit. 5. Datu: kepala desa. Pemimpin. 6. Suban: Siluman. 7. Pibang: nama senjata tradisional masyarakat Kecamatan Sungai Keruh.

8. Dataran Negeri Bukit Pendape adalah nama wilayah Marga Sungai Keruh dahulunya. Datarannya terbentang luas dari perbukitan Bukit Pendape sampai ke Tebing Sungai Musi, di Kabupaten Musi Banyuasin. 9. Bujang: anak muda, perjaka. Lelaki yang belum pernah menikah.

10. Pedatuan adalah suatu kawasan wilayah, terdiri dari daerah datu (Talang) yang bersatu membentuk pemerintahan di bawa otoritas Kedatuan Sriwijaya. Sama dengan kecamatan atau kabupaten zaman sekarang. 11. Depati. Gelar pemimpin Pedatuan.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com atau duniasastra@gmail.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.


Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment