6/24/2019

Legenda. Ragata dan Tiga Suban Nama.









Apero Fublic.- Kata orang tua: Segerah berikan nama pada anak, setelah dilahirkan. Jangan ditunda lebih dari dua atau tiga hari. Orang-orang selalu bilang, nama adalah sebuah doa. Arti sebuah nama selalu dicari yang baik-baik. Nama identik dengan orang yang memilikinya.

Ketika orang tua memberikan nama, maka tertanam juga doa dari orang tua padanya. Waktu kecil dahulu aku pernah ikut nenek menengok seorang kerabat yang baru selesai melahirkan. Nenek memberi nasihat agar anak mereka sesegera mungkin diberikan nama, karena takut nantinya suban (siluman) datang memberikan nama yang tidak baik.

******
Alkisah pada zaman dahuluh kalah, di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Telah tertutur cerita yang diwariskan turun-temurun pada masyarakatnya. Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape, bentuk geografis tanahnya, berawah-rawah, dataran renah, pematang atau berbukit-bukit. Terbentang dari perbukitan Bukit Pandape, Bukit Kulim sampai ke tebing Sungai Musi.

Waktu itu, pepohonan lebat dan hewan liar sangat banyak di Pedatuan. Pohon rimba yang masih asli, besar-besar dan tinggi-tinggi. Aneka satwa bermacam-macam jenisnya, yang hidup damai dialam yang luas. Pedatuan terdiri juga terdapat petalangan orang Melayu. Ada puluhan Talang yang tersebar di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape.

Masyarakat hidup dari berhuma atau ladang berpindah. Menanam padi dan berternak untuk memenuhi kebutuhan pokok. Masyarakat juga pandai berburu hewan, seperti rusa, kijang, kancil, kerbau hutan atau jenis unggas lainnya. Sungai-sungai yang mengalir ikan berlimpah. Menjadikan kehidupan masyarakat Pedatuan makmur dan sejahtra.

Sungai terbesar adalah Sungai Keruh, yang mengalir hampir menjangkau seluruh wilayah Pedatuan. Sungai Keruh menjadi jalur transfortasi masyarakat Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape pergi ke Kota Raja Sriwijaya. Sebab Sungai Keruh anak Sungai Musi. Sedangkan Kota Raja Sriwijaya terletak di Pinggir Sungai Musi di daerah Bukit Siguntang. Kelak nanti, wilayah bekas ibu kota Kerajaan Sriwijaya menjadi Lokasi Kota Palembang sekarang.

*****
Kisah bermulah. Tersebutlah sebuah Talang orang Melayu yang damai. Talang kecil berhuni tujuh puluh rumah. Talang tersebut bernama Talang Meranti. Penduduk menamakan Talang Meranti, karena saat membuka Talang dahulunya banyak terdapat pohon meranti. Talang Meranti terletak tidak jauh dari pinggiran tebing Sungai Keruh. Rumah-rumah penduduk semua menghadap ke sungai.

Banyak perahu dan rakit tertambat di tepian mandi. Zaman dahulu alat transportasi masyarakat Melayu adalah perairan. Di sekitar halaman pohon kelapa tumbuh subur diantara pohon buah-buahan di belakang rumah-rumah penduduk. Penduduk hidup dari bertani ladang berpindah. Setiap tahun mereka membuka ladang baru. Talang dipimpin oleh seorang Datu, yang diangkat secara musyawarah. Datu sama saja dengan kepala desa pada zaman sekarang.


Seorang datu memimpin sesuai kesepakatan warga. Tapi tergantung juga dari orang yang menjabat Datu. Ada datu yang memimpin seumur hidup, ada juga yang diminta mengundurkan diri. Kadang ada juga datu yang tidak sanggup mengemban tugas dan mengundurkan diri. Dari kata datu itulah kemudian muncul istilah Pedatuan. Pedatuan kesatuan dari datu-datu atau Talang-talang. Pedatuan kalau pada zaman sekarang sama dengan kecamatan.

Dari pedatuan ini kemudian menjadi kesatuan sehingga menjadi Kedatuan. Yang bermakna kesatuan dari Pedatuan. Maka munculah Kedatuan Sriwijaya (Kerajaan Sriwijaya). Awalan Ke memberi makna memusat atau mengarah ke sesuatu. Sedangkan akhiran an yang berarti jamak atau banyak. Kedatuan berarti kesatuan dari wilayah-wilayah Pedatuan atau Datu.

*****
Disuatu sore yang cerah, di sudut Talang Meranti. Seorang pemuda berumur dua puluh lima tahun, sedang membelah kayu bakar di belakang rumahnya. Beberapa orang adiknya bermain di pekarangan rumah. Ibu dan adik perawannya sibuk memasak di dapur. Sedangkan sang ayah sedang sibuk mengolah bambu untuk dijadikan bubu, di serambi dapur. Seekor elang terbang berputar-putar di angkasa. Dan ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Angin berhembus menggoyangkan dedaunan kelapa yang tumbuh subur di samping rumah. Seekor tupai berlompatan di dahan-dahan pohon duku, dan pepohonan buah lainnya, di belakang rumahnya.

Suara kapak beradu dengan kayu terdengar keras. Peluh membasahi tubuh dan baju si anak muda. Hari menjelang sore, di sungai ramai ibu-ibu mandi. Begitupun dengan anak-anak mandi berenang-renang, dan ada yang bermain terjun-terjunan dari tebing sungai. Malampun mulai merayap, suasana gelap gulita di Talang Meranti. Hanya lampu-lampu lentera yang menerangi. Jauh di dalam hutan terdengar suara harimau mengaum. Seusai makan malam, keluarga si pemuda bercengkrama berkumpul di ruang tengah rumah limas panggung khas orang Melayu.


Lama percakapan, dan senda gurau diantara adik dan kakak. Sang ayah menikmati minuman madu hangat, dan cemilan ubi rebus. Di sela-sela percakapan itu, si anak mudah itu berkata pada ayahnya.


“Bak, aku hendak pergi berpetualang barang beberapa waktu. Tak pantas anak jantan hanya berlaku macam anak perawan, di rumah saja. Aku hendak menjelajah wilayah Pedatuan kita ini. Seberapa luas dan seberapa banyak penduduknya. Aku hendak mencari pengalaman baru walau hanya menjelajah daerah sendiri. Aku merasa sebagai anak jantan tidak pernah berbuat sesuatu yang berkesan. Hidup hanya sekali, masa muda tidak akan berulang. Aku ingin menguji kemampuanku, keberanian, dan ketangguhan ilmu silatku. Aku meminta izin dan restu “Umak, dan Bak. Kata si pemuda.


“Anak ku, aku ayah mu tidak keberatan dengan keinginan mu. Hanya saja apakah tekadmu sudah bulat, dan kau merasa sanggup, siap menanggung semua akibatnya. Karena kau akan menghadapi banyak tantangan. Bertemu dengan orang jahat, binatang buas, siluman, kelaparan, atau tersesat. Lagi pula apakah ada manfaatnya rencana petualanganmu itu. “Bak, aku berharap apabila aku sudah ditempa oleh pengalaman dan pengetahuan kelak apabila ada pemilihan Datu aku dapat mengikuti. Bukan hanya ilmu bela diri tetapi pengetahuan luas juga. Jawab sang anak. Bagaimana menurut umak, kiranya umak dapat mengizinkan?.


“Kalau seorang ibu tidak akan relah anaknya pergi jauh darinya. Khawatir sesuatu hal buruk menimpa. Tetapi apabila itu sudah menjadi keputusanmu, dan tekadmu. Aku Akan mengizinkanmu, nak. Ibu mengerti seorang bujang mempunyai jiwa berpetualang. Anak jantan tak dapat dikurung. Kapan engkau hendak berangkat, nak?.

“Lusa pagi Mak, besok aku hendak bersiap dan berpamitan dengan keluarga, dan melapor ke datu. Setelah berpamitan dengan keluarga, Ragata pergi memulai petualangannya menjelajahi Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pandape. Tidak lupa dia membawa perbekalan, pakaian ganti, panah, pisau, dan gobang. Pibang adalah senjata tradisional masyarakat di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Pibang bukan hanya menjadi senjata yang di bawa kemana-mana, tetapi juga menjadi syarat dalam adat pernikahan. Yaitu adat genti duduk namanya. Genti duduk bermakna sebagai pengganti keberadaan si anak perempuan yang sudah menikah.


Ragata memulai petualangannya, dengan berakit menghilir Sungai Keruh. Menuju ke muara di Sungai Musi. Setelah sampai di muara, Ragata mengayuh rakit menyusuri pinggiran Sungai Musi ke arah hulu. Kalau arah zaman sekarang menuju daerah Kecamatan Sanga Desa. Banyak hewan liar yang dia temui, buaya, ular, ikan, unggas-unggas, semunya dia amati dengan seksama. Pohon rengas yang tumbuh subur di tebing Sungai Musi juga menjadi perhatiannya. Dia mengamati akar pohon rengas yang banyak berlingkar-lingkar, dengan diikuti gambut-gambut, sehingga akar pohon rengas sangat berguna untuk memperkuat tebing sungai.


Menurut Ragata, seandainya disetiap tebing sungai terdapat banyak pohon rengas yang tumbuh maka tebing sungai akan kuat dan terhindar dari longsor. Setelah puas berakit beberapa hari menyusuri Sungai Musi. Sekarang Ragata naik ke darat. Dia melihat arah matahari, dan memastikan arah yang dia ambil nanti tepat menuju Bukit Pendape. Ragata menjelajah mengelilingi Pedatuan, dan berakhir kemudian di Talang Meranti lagi. Mulailah Ragata berjalan, berpetualang di daratan.

Menembus hutan, menyeberangi rawa-rawa, dan sungai-sungai. Kadang dia tiba di ladang warga Talang lain. Melewati talang-talang warga. Kadang dia dihadang pemuda di sana untuk bertanding silat. Kadang dia tanggapi dengan sarat tidak boleh dendam, sesudahnya menjadi kawan. Tiba di daerah orang, Ragata selalu melapor ke datu di sana. Kadang dia bermalam di rumah datu atau warga talang yang dia lalui. Di hutan Kadang Ragata berhadapan dengan harimau, dan berburu untuk perbekalan.


Dua bulan telah berlalu. Hari itu Ragata sangat kelelahan untuk mencapai talang penduduk. Menurut keterangan dari warga Talang Kulim (sekarang Bukit Kulim), bahwa apabila berjalan selama satu hari perjalanan akan sampai di Talang Rengas. Tapi hari sudah sore sekali, matahari hampir terbenam. Ragata merasa berat berjalan terus. Tubuhnya sudah capek sekali. Hari juga mulai gelap.

Talang Rengas masih cukup jauh. Maka Ragata memutuskan untuk bermalam di hutan saja. Istirahat di bawah sebatang pohon besar.  Pohon ini besar dan rindang. Ragata berbaring di akar pohon, api unggun menyala terang. Kemudian mulai redup dan redup. Dia memakan perbekalan ubi bakar sisa tadi siang. Daging ayam hutan panggang. Air minum segar terdapat di bumbung bambunya.


Ragata memanjat pohon untuk tidur, menghindari binatang buas seperti harimau. Saat Ragata mulai memejamkan matanya tiba-tiba dia mendengar suara-suara berisik di sekitar pohon tempatnya bermalam. “Apinya sudah padam, kita bisa berbincang-bincang lagi. Bunyi suara, Ragata gemetar, berusaha melawan rasa takut. “Dia tidur di rumah kita. Suara yang lainnya. Ragata berpikir siluman hanyalah makhluk berbentuk bayang-bayang, untuk apa dia takut. Suara-suara gemerisik semak dan dedaunan terus terdengar. Seakan-akan ada orang yang bergerak, berjalan-jalan. Ada tiga suara-suara berbeda.


“Hei, istri Datu Talang Rengas baru saja melahirkan dua hari yang lalu. Anaknya kembar semua laki-laki. Kata suara satu. “Yah, di sebelah hulu Talang Rengas ada juga wanita melahirkan, juga anak laki-laki. Sama, belum diberi nama. Kata suara dua. “Ayo kita kasih nama anak-anak itu. Aku mau kasih nama anak kembar satunya Mangsa Buaya. “Kalau aku mau memberi nama anak kembar satunya Mangsa-Mangsa Buaya. Kan mereka kembar, jadi sama namanya. Kata suara ketiga. “Aku mau memberi nama anak yang lahir di hulu kemarin itu dengan nama "Datu Kemenangan." Sudah, mari kita datangi, memberi nama anak-anak itu. Sebelum diberi nama oleh orang tuanya.


Ragata mendengar percakapan itu. Ada tiga suara-suara yang berbeda-beda. Kemudian, sekeliling pohon kembali hening. Ragata mulai memejamkan matanya di dahan pohon. Tapi sebelumnya dia mengikat tubuhnya dengan akar agar tidak terjatuh saat tidur. Keesokan paginya Ragata segera pergi ke Talang Rengas menemui Datu Talang Rengas. Dengan bertanya kepada seorang penduduk, Ragata sampai di rumah Datu Talang Rengas. Sebuah rumah panggung besar yang lantainya berundak-undak (rumah limas basepat).

Seorang lelaki berumur empat puluhan tahun menyambut Ragata. “Apakah anda Datu Talang Rengas. “Benar, Bujang sendiri siapakah, dan hendak ke mana, aku perhatikan engkau bukan warga saya. Jawab Datu Talang Rengas. Aku bujang dari Talang Meranti, Datu. Aku sedang menjelajah Pedatuan kita ini, berpetualang. Ada apa kiranya engkau menemui aku, anak muda. Mari masuk ke rumah. Ajak sang datu. Ragata masuk, dan dihidangkan makanan beserta minuman hangat oleh pelayan datu. Mereka berbincang-bincang. Ragata menceritakan kejadian semalam saat dia bermalam di hutan, mendengar percakapan ketiga Suban itu. Di mana anak datu dinamakan mereka Mangsa Buaya.


Setelah berpamitan dengan datu. Ragata pergi ke sebelah timur Talang Rengas. Beberapa kali dia bertanya pada beberapa warga yang dia jumpai. Dimana rumah orang yang baru melahirkan anak. Dengan menyusuri jalan setapak di ujung Talang Rengas, Ragata menemukan sebuah rumah yang sederhana. Beratap daun rumbia, dan berdinding bambu. Rumah panggung yang sederhana itu, ada terdengar suara anak bayi yang menangis. Datanglah seorang menghampiri.

Seorang lelaki yang berumur tiga puluhan tahun menyapa dan bertanya. Bujang, ada apa kiranya engkau datang ke gubuk kami yang buruk ini?. Hendak ke mana pula kiranya engkau?. Sambil tersenyum Ragata menjawab. "Jangan terlalu merendah Paman, aku hanya hendak menyampaikan kabar baik. Nama ku Ragata, aku dari Talang Meranti." Akhirnya Ragata dipersilakan masuk ke dalam rumah. Hidangan alah kadarnya, dan minuman air nira panas di hidangkan.

Begitulah adat orang melayu yang selalu menghormati tamu. Ragata bilang tidak usah repot-repot karena dia barusan sarapan. Lalu Ragata menceritakan kisahnya, dan kejadian tadi malam, tentang pembicaraan ketiga suban yang memberi nama anaknya, Datu Kemenangan. Untunglah, nama anakmu dinamakan oleh suban-suban itu, dengan nama yang baik." Ujara Ragata.


“Benar aku memang terlambat memberi nama pada anakku. Belum menemukan nama yang cocok" Jawab si Paman. Setelah dirasakan cukup. Ragata pamit dan melanjutkan perjalanannya, menuju Bukit Pendape. Dari muka pintu rumahnya orang itu menyaksikan kepergian Ragata. Bujang petualang yang pemberani, gumannya. Dia masuk ke dalam rumahnya dan melihat si anak yang sudah berumur tiga hari. Yang belum dia beri nama.

Kemudian dia berpikir ada baiknya nama anaknya sama dengan nama orang yang datang tadi. Agar kelak seandainya anaknya benar-benar menjadi Datu Kemenangan orang itu akan tahu, pikirnya. Semoga anak ini menjadi pemuda kuat, gagah, suka berpetualang, baik, dan jujur, seperti orang yang datang tadi. Maka anaknya dia juga namakan Ragata si Datu Kemenangan.

*****
Setelah cerita Ragata itu, Datu Talang Rengas mengumumkan akan memburu semua buaya di Sungai Keruh. Warga Talang Rengas semuanya membantu. Begitupun Depati Pedatuan membawa pasukan membantu memburu buaya-buaya di Sungai Keruh. Depati adalah pemimpin tertinggi dari semua datu-datu. Mereka membuat jebakan di Sungai Keruh. Saat buaya melintas pasti tertangkap. Mereka berburu sepanjang waktu, bertahun-tahun sehingga habislah populasi buaya Sungai Keruh. Sampai sekarang buaya di Sungai Keruh tidak ada lagi, punah sebab diburu oleh Datu Talang Rengas.


Datu-datu di seluruh Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape juga membantu. Namun, ternyata masih ada seekor buaya yang belum tertangkap atas laporan warga. Buaya ini gesit dan sangat lincah, tidak terkecoh jebakan. Datu Talang Rengas tidak putus asa. Dia membuat pagar dengan bambu-bambu panjang melintasi badan sungai, dikedua sisi sungai. Di bagian tengah dibuat muara. Pintu di buat menggantung ke di atas muara pagar bambu. Apabila ada buaya masuk maka pintu otomatis akan jatuh menutupi dengan cepat pagar jebakan sungai itu. Sehari, sebulan, dua bulan, dan bulan yang ketiga, si buaya yang cerdik itu juga terkecoh, lalu terkurung dalam jebakan.


Karena penduduk tidak lagi memburunya, buaya cerdik itu merasa aman dan lengah, itulah kesalahannya. Kini buaya terkurung di dalam pagar bambu yang rapat.  Waktu itu bulan Juni, menjelang kemarau. Sehingga sebulan kemudian kemarau telah berjalan sebulan, dan sungai sudah surut sekali, air mencapai dasar sungai. Pada saat itulah, warga mulai menangkapi buaya. Si buaya tidak berdaya, terkurung tidak dapat berlari ke mana-mana. Setelah buaya mati terhujam beberapa mata tombak. Tubuh buaya dibawa ke halaman depan rumah Datu Talang Rengas.


Sebagai bentuk tanda kemenangan sang Datu. Diadakan perayaan besar dan makan-makan dengan memotong dua ekor sapi dan dua ekor kerbau. Buaya yang sudah menjadi bangkai, diletakkan di depan rumah datu. Anak kembar datu, adalah anak yang lincah dan cerdik. Selalu ceria dan bermain-main. Saat masyarakat telah pulang. Hanya tinggallah beberapa orang tetangga saja yang belum pulang. Menemani Datu berbincang-bincang gembira. Datu merasa berhasil melindungi anaknya, dan nama yang diberikan siluman atau suban itu tidak ada gunanya lagi. Karena semua buaya di Sungai Keruh sudah mati semua.


Anak datu yang kembar bermain-main di dekat buaya yang sudah mati itu. Kemudian keduanya bermain didekat jasad buaya itu, dan tak sengaja terjatu. Menimpa kuku kaki buaya. Sehingga luka tergores dibeberapa bagian tubuh mereka. Hari demi hari berlalu. Luka goresan terus menjadi besar dan melebar. Bengkak dan bernana. Semua obat telah dicoba oleh datu dan keluarganya. Ternyata luka itu telah infeksi, dan akhirnya ke dua anak kembar sang datu meninggal dunia. Nama adalah doa, maka akan mengikuti jalan hidupnya.


Dua puluh lima tahun kemudian anak yang dinamakan Datu Kemenangan oleh siluman itu, benar-benar menjadi datu di Talang Rengas. Dia menggantikan datu pemburu buaya yang sudah tua. Buaya telah punah di Pedatuan Sungai Keruh. Hewan apa saja apabila diburu terus memang akan habis.  Kehebatan datu muda itu, dia mampu melindungi warganya. Pernah Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape di serang perompak. Depati (gelar pemimpin Pedatuan) terpaksa mundur dan menyusun kekuatan di Talang Rengas. Kemudian pimpinan perang atau hulubalang, Depati mengangkat, Datu Kemenangan.


Datu Kemeangan dapat mengalahkan gerombolan perampok liar tersebut. Begitupun saat Pedatuan Negeri Bukit Pendape diserang suku liar dari hutan. Yang sekarang dikenal dengan suku Kubu. Dengan menyatukan datu-datu di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Kemudian dia memimpin pasukan Pedatuan, anak itu berhasil mengalakan suku liar tersebut.

Sejak saat itu datu-datu di Dataran Negeri Bukit Pendape memiliki pasukan kesatuan. Kelak Datu Kemenangan juga menjadi Depati Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Maka terbuktilah sebab nama yang diberikan suban nama (siluman nama), sebagai seorang Datu Kemenangan. Itulah, kenapa orang-orang tua selalu menasihati, agar segerah memberi nama saat anak anda lahir. Dan benarlah juga nama adalah sebuah doa dari pemberinya. Jangan tunggu lama setelah anak lahir, segerah berikan nama pesan orang tua-tua.

#Berilah nama anakmu, secepatnya setelah kelahirannya. Jangan sampai dinamai oleh suban (siluman), kata orang tua.

Oleh: Joni Apero.
Editor. Desti. S. Sos.
Palembang, 23 Juli 2018.

Pengertian kata: 1. Bumbung: potongan ruas bambu. 2. Bak: Ayah. 3. Umak: Ibu. 4. Talang: Kampung. Nama suatu pemukiman penduduk dimana penduduknya masih sedikit. 5. Datu: kepala desa. Pemimpin. 6. Suban: Siluman. 7. Pibang: nama senjata tradisional masyarakat Kecamatan Sungai Keruh.

8. Dataran Negeri Bukit Pendape adalah nama wilayah Marga Sungai Keruh dahulunya. Datarannya terbentang luas dari perbukitan Bukit Pendape sampai ke Tebing Sungai Musi, di Kabupaten Musi Banyuasin. 9. Bujang: anak muda, perjaka. Lelaki yang belum pernah menikah.

10. Pedatuan adalah suatu kawasan wilayah, terdiri dari daerah datu (Talang) yang bersatu membentuk pemerintahan di bawa otoritas Kedatuan Sriwijaya. Sama dengan kecamatan atau kabupaten zaman sekarang. 11. Depati. Gelar pemimpin Pedatuan.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com atau duniasastra@gmail.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.


Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment