6/20/2019

Ladang Ajaib Lamkaka: Cerita Rakyat Sungai Keruh


Apero Fublic.- Dongeng Ladang Ajaib Lamkaka adalah dongeng asli dari Kecamatan Sungai Keruh, atau Marga Sungai Keruh nama semasa Kesultanan Palembang. Sebelumnya, pada masa Kerajaan Sriwijaya bernama, Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pandape.

Sekarang Dataran Negeri Bukit Pandape sudah terpecah menjadi tiga kawasan wilayah, yaitu Kecamatan Sungai Keruh, Kecamatan Jirak Jaya, Kecamatan Pelakat Tinggi, dan sebagian kecamatan lain di  sekitarnya. Dataran Negeri Bukit Pandape terbentang dari perbukitan Bukit Kulim, Bukit Pandape sampai ke pinggir Sungai Musi, lalu berbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas, dan Kabupaten PALI.


Ladang Ajaib Lamkaka
Pada zaman dahuluh kalah. Hiduplah dua keluarga di sebuah Talang yang sepi di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Sebuah Talang (kampung) yang terdapat di lereng Bukit Pandape. Mereka berdua berteman baik, bernama Bidang dan Balu. Bidang lebih tua beberapa tahun dari Balu. Balu seorang peternak kambing dan sapi. Sedangkan Bidang dia seorang petani padi ladang berpindah (ume). Bidang memiliki lahan luas yang subur di lembah kaki Bukit Pendape. Ada sungai kecil yang dia bendung untuk mengairi ladangnya.

Sedangkan Balu, hidup dari berternak kambing di lereng Bukit Pandape. Hari-harinya dia habiskan menggembala ternaknya. Karena banyak rumput dan tumbuhan hijau membuat ternak Balu gemuk dan sehat. Penghasilan menjual kambing meningkat saat menjelang hari raya kurban. Pada masa itu, lereng Bukit Pandape masih diliputi padang rumput yang luas dan subur. Belum banyak pepohonan sehingga sangat menguntungkan beternak. Pemandangan yang indah dan udara yang segar.

Balu dan Bidang memiliki takdir yang sama. Yaitu, ditinggal mati oleh istri mereka. Istri Bidang meninggal saat melahirkan anak mereka yang kedua. Anak baru lahir juga ikut meninggal. Begitu pun Balu, dia juga ditinggal meninggal istrinya saat melahirkan anak pertama mereka. Tapi untung anak mereka hidup sampai sekarang. Hari-hari kedua sahabat itu dilalui dengan kesedihan yang berkepanjangan.

Hanya anak mereka yang menjadi semangat, dan harapan hidup mereka. Anak Bidang seorang gadis cantik dan baik ahlaknya. Bernama Rumani, yang selalu nyaman di rumah. Dia membersihkan rumah, memasak, mencuci, dan semua pekerjaan rumah. Sedangkan anak si Balu seorang laki-laki, bernama Lamkaka. Lamkaka juga anak yang baik dan berbakti pada orang tuanya. Dia selalu membantu sang ayah menggembala ternak di lereng Bukit Pandape.
*****
Pada tahun ini, keadaan musim kemarau berbeda dari tahun-tahun lalu. Kemarau yang sangat panjang. Sudah lebih tiga belas bulan hari tidak hujan-hujan. Bidang dan Balu selalu berkunjung satu samalain. Balu yang bertandang, kadang Bidang yang bertandang. Mereka selalu bersilatuhrahmi satu sama. Malam itu Balu dan Lamkaka bertandang kerumah Bidang. Mereka duduk di bangku bambu, di depan rumah Bidang. Mereka bercerita mengenang masa lalu. Tentang saat-saat indah ketika mereka masih muda dahulu. Dimana kehidupan mereka tidak sesulit sekarang. “Apakah kau masih ingat, saat musim kemarau ketika kita masih bujang?. Kita menghabiskan waktu dengan pergi menangkap ikan di Sungai Keruh." Ujar Bidang sambil menatap cahayah bulan terang malam itu.

Balu mengangguk sambil menarik nafas dalam. Sementara Lamkaka diam mendengarkan dua sahabat itu bercerita. Balu dan Bidang ingat hari-hari riang masa muda mereka. Kadang mereka berdua berharap kembali menjadi pria muda seperti dahulu. Yang berkesan, saat mereka bertemu dengan dua orang gadis dan menikahi mereka. Apa bila keduanya mengingat istri mereka. Selalu keduanya meneteskan air mata. Mereka sangat mencintai istri masing-masing.

Sehingga keduanya tidak menikah lagi sampai sekarang. Padahal sewaktu istri-istri mereka meninggal, keduanya masih muda. Rumani datang membawa napan berisi air nira panas, dan dua piring keladi rebus. Sambil tersenyum ramah dia mempersilahkan Balu dan Lamkaka untuk mencicipi hidangan kecil itu. Dada Lamkaka berdebar saat melihat Rumani yang cantik jelita. Matanya agak membesar dan menjadi gugup. Kemudian Rumani kembali masuk kedalam rumah. Dari balik celah dinding dia mengintip Lamkaka. Tampan dan perkasa pikir Rumani, dan dia merasa ada rasa suka.

“Bidang, menurutmu apakah musim kemarau akan terus berkepanjangan seperti ini. Betapa buruk kemarau tahun ini. Hewan ternakku, selain kurus juga akan segerah mati semua. Karena tidak ada lagi rumput yang tumbuh untuk dimakan. Selain itu, selalu diterkam oleh harimau lapar. "Dang, apa bila keadaan ini tidak berubah dalam waktu tiga sampai empat bulan lagi. Aku dan Lamkaka akan mati kelaparan. Aku benar-benar khawatir, Dang. Semoga hujan segerah datang." Keluh Balu seraya menarik nafas dalam-dalam.


Waktu berlalu, dalam waktu tiga bulan berikutnya musim kemarau tidak juga berlalu. Seharusnya di bulan-bulan April dan Juni adalah musim hujan. Tapi masih saja kemarau. Musim tetap tidak berubah. Bahkan menjadi lebih panas. Jangkan rerumputan, pohon-pohonpun sudah tidak ada daunnya lagi. Maka satu demi satu ternak Balu mati kelaparan. Selain itu, harimau yang kelaparan terus memburu dan merampas kambing dan sapi Balu. Keadaan ini membuat Balu tidak berdaya sedikit pun.

Dataran Negeri Bukit Pandape diliputi kering-kerontang. Telah banyak penduduk yang sakit dan pergi mengungsi kenegeri jauh. Balu menyelamatkan sisa ternaknya ke dalam kandang. Agar tidak diburu harimau. Tetapi itu tidak dapat menyelamatkan ternaknya. Karena tidak ada makanan. Sekarang Balu pasrah, dia pergi mengunjungi sahabatnya, Bidang. Balu ingin meminta saran dan pendapat atas kesulitan hidupnya. Hewan ternaknya sudah mati semua. Persediaan padi juga sudah habis. Biasanya dia menjual ternaknya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

"Apa, yang harus saya lakukan, Bidang?. Tanya Balu dengan nada sedih. "Sekarang hewan ternakku hanya tinggal satu. Mungkin sebentar lagi juga segerah mati. Kemudian aku dan Lamkaka juga menyusul mati. Ujar Balu terdengar piluh. “Kami tidak tahu lagi, apa yang harus diusahakan lagi, Paman. Ujar Lamkaka dengan nada sedih. Kemudian Balu melanjutkan berkata. "Aku pikir, ada baiknya, aku dan Lamkaka meminta maaf atas kesalahan, dan khilaf, yang tidak kami sadari. Kami juga mengucapkan selamat tinggal, padamu dan anakmu, Dang. Musim kemarau panjang ini adalah hari-hari terakhir kita bertemu. Aku juga senang seandainya kami segerah mati. Berarti aku cepat bertemu dengan istriku. Lamkaka akan bertemu dengan ibunya." Kata Balu sambil berurai air mata.


Bidang adalah orang yang shaleh, baik, dan murah hati. Mendengar kata-kata sahabatnya, membuat hati Bidang terenyuh. Baginya Balu bukan hanya sebatas sahabat. Tetapi sudah dia anggap saudara kandung sendiri. Balu memutuskan untuk membantu sahabat karibnya.

"Kita hidup bersahabat sejak kecil. Kau bagiku adalah saudara, Balu. Susah senang kita hadapi bersama-sama. Kita akan berbagi padiku. Kata Bidang. "Jangan Dang, padi itu cukup untuk kau dan anakmu. Semoga musim kemarau segerah berakhir. Kalau kau memberikan setengahnya pada kami. Maka persediaanmu akan sedikit. Beruntung kalau kemarau segerah berakhir. Kalau tidak, kita berempat akan mati semua. Kata Balu menjelaskan. "Benar paman, kasihan Murani. Kata Lamkaka. Bidang menjawab. "Kalau kita mati bersama-sama. Kita akan berkumpul lagi. Aku juga akan bertemu istriku, dan Murani bertemu ibunya.

Kemudian Bidang mengambil setengah dari persediaan padinya. Di dalam bilik padi hasil panen setahun lalu. Bidang juga membagi setengah dari tabungannya. Semua dia berikan dengan ikhlas pada Balu. Bidang berkata.

“Dengan cara hidup hemat. Kita akan dapat melalui musim kemarau panjang ini. Kalian adalah keluargaku. Jangan pernah pergi mendahului aku. Ada baiknya susah senang kita saling membatu satu sama lain." Kata Bidang dengan lembut. "Karena ternakmu sudah mati semua. Aku ingin membagi tanah ladangku untukmu. Agar kau dan anakmu dapat bertani. Jangan dipikirkan lagi ternak-ternakmu. Ladangku di sebelah timur untukmu. Di sebelah barat adalah ladangku. Mari kita bekerja di ladang dan menanam apa yang dapat dimakan. Buatlah rumah di dekat rumahku. Sehingga kita tidak perlu lagi saling berkunjung. Saat pergi ke ladang, kita bersama-sama. Kata Bidang sambil tersenyum ramah. Kemudian dia mempersilahkan minum air nira hangat dan hidangan ubi jalar rebus.

Balu menatap Bidang dengan mata berkaca-kaca. Sesungguhnya dia datang tidak meminta bantuan. Dia hanya ingin pamit saja dengan sahabatnya. Sungguh tidak mengharapkan kebaikan apa pun. Tidak ada yang dapat dia lakukan selain mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Dari hari itu dan hari-hari selanjutnya. Balu menjadi seorang petani ladang dan bercocok tanam. Berangkat bersama-sama. Pekerjaan yang sulit mereka saling membantu. Lamkaka juga ikut membantu setiap hari pekerjaan Balu dan kadang membantu pekerjaan Bidang. Musim hujan akhirnya datang menyirami bumi.
*****
Tidak berapa lama padi dan umbi-umbian tumbuH. Dalam waktu cepat, Balu menjadi petani yang ulung. Balu banyak belajar dari Bidang. Tahun demi tahun berlalu, dan mereka hidup bahagia bertetangga. Dua sahabat yang saling mengasihi.

Seperti biasa rutinitas mereka. "Dang, mari kita keladang. Sudah agak siang hari. Balu memanggil bidang dari samping rumah. Murani menengok dari jendela. "Paman, Ayah agak tidak enak badan. Dia ingin istirahat hari ini." Balu bertanya apakah Bidang sakit. Murani menjelaskan kalau Bidang hanya masuk angin. Jadi tidak perlu khawatir. Balu pergi sendirian ke ladang pagi itu. Sedangkan Lamkaka membereskan rumah terlebih dahulu. Baru menjelang siang dia menyusul setelah memasak nasi.  Pagi ini Balu menanam pohon pisang. Sehingga lubang agak besar dan lebih dalam menggali tanah.

Lubang yang cukup dalam akan menguatkan pokok pisang. Tapi tidak boleh terlalu dalam, karena membuat pernafasan bibit terganggu dan tidak tumbuh. Sebab sering datang angin kencang menerpa Dataran Negeri Bukit Pandape. Saat menggali, alat gali membentur benda keras. Awalnya Balu tidak memperdulikan. Mungkin batuan alam pikirnya. Tiba-tiba Balu mendengar suara gemerisik. Dia benturkan dengan kepala cangkulnya. Suara gemerisik semakain keras.

“Tukk. Tokk. Gruusssukkk. Krincing. Krincing. Bunyi suara dari dalam benda keras tersebut. Rasa penasaran memenuhi pikiran Balu. Padahal tanah di daerah ini, tidak mengandung bebatuan alam, besar atau kecil. Kemudian Balu terus menggali lebih dalam mengelilingi benda itu. Ternyata benda itu sebuah guci besar. Balu mengenali bentuk guci seperti itu banyak dijual di pasar-pasar. Sebagai wadah penyimpanan air. Mengapa guci terdapat di dalam tanah. Setelah itu, Balu membuka tutup guci yang terbuat dari lempengan kuningan.

Saat dibuka di guci terdapat benda berkilauan. Kemudian Balu mengambil satu dari benda itu. Dia perhatikan, membuat mata Balu terbelalak lebar. Uang emas berbentuk koin berjumlah ribuan keping. Karena takut dikira bermimpi Balu kemudian mencubit pipi kiri dan pipi kanannya kuat-kuat. Dia menjerit, itu berarti ini dunia nyata pikirnya. Bukan main gembiranya Balu. Kemudian dia bergegas pulang dan menemui Bidang yang duduk di depan rumah. Dengan agak ter-gagap Balu memberi tahu temuannya di ladang.

"Aku menemukan guci berisi banyak uang emas. Apakah itu uangmu yang kau simpan, Dang. "Bidang menjawab tidak dan dari mana pula dia dapat memiliki uang emas seguci besar begitu, jawab Bidang dengan santai. "Jadi itu guci siapa?. Karena kau menemukannya, maka guci itu milikmu, Balu. Gitu aja kok repot." Kata Bidang datar dan tidak begitu peduli dengan uang emas. "Kau pikir aku bohong. Ujar bidang melihat reaksi Bidang biasa saja. Mari kita tengok ke ladang. Ajak Balu. "Aku percaya, Baru. Untuk apa aku tidak percaya. Kalau kau bohong itu juga kau berbohong pada diri sendiri.

Balu meminta Bidang melihat temuaanya. Dengan berat Bidang mengikuti. Sesampai di lobang, Balu menunjukkan guci yang penuh uang emas itu. Tapi Bidang masih biasa saja. "Bagaimana uang ini, kita apakah?. Tanya Balu. Terserah padamulah Balu, inikan penemuan kamu. Jadi terserah pada dirimu. Jawab Bidang. "Lah, inikan dahulunya tanah kamu, Bidang. Jadi kau yang memiliki uang ini. Aku tadi hanya mau menanam pohon pisang. Tidak bermaksud mencari harta karun. Maka, uang ini adalah uangmu. Dan kaulah yang mengurusnya. Kata Balu. "Tak bisa, Balu. Ini uangmu, kau yang menemukan. Tanah ini sudah menjadi milikmu. Jawab Bidang tidak mau kalah. Keduanya bingung siapa pemilik uang itu. Untuk beberapa saat keduanya setengah bertengkar untuk menetapkan milik uang sangat banyak itu. Kemudian mereka memutuskan pulang dan membawa uang itu.

Di jalan mereka berunding mau diletakkan di mana guci uang itu. Bidang bilang ke rumah Balu. Balu kemudian bilang ke rumah Bidang. Keduanya menjadi bingung. Untuk beberapa saat mereka bolak-balik memikul guci itu antara rumah Balu dan Bidang. Karena capek dan pegal dari tadi bolak-balik memikul guci berat. Akhirnya guci diletakkan di tanah lapang antara rumah Balu dan Bidang. Putri Bidang dan Putra Balu nampak memperhatikan tingkah dua sahabat itu, dengan penuh tanda tanya.

“Selamat Murani, kalian sekarang menjadi orang kaya raya di Negeri Dataran Bukit Pandape ini. Uang emas ini milikmu. Banyaklah kau berbelanja baju baru. Kata Balu dengan bahagia. Dia bermaksud membujuk Murani yang perempuan. Karena biasnaya perempuan mata duitan. Pasti dia mau menerima uang ini pikir Balu. "Ah, Paman. Semua uang itu milik paman. Murani tidak suka belanja. Kalau murani membeli pakaian. Murani tidak menenun lagi. Murani tidak punya pekerjaan jadinya. Jawab murani sambil meneruskan menyapu halaman.

"Lamkaka, uang ini milik kau sekarang. Kau dapat membeli rumah di kota. Menjadi saudagar dan menikah dengan anak bangsawan. Bujuk Bidang pada Lamkaka yang sedang mengasa mata pibangnya.
"Oh. Tidak Paman. Itu uang milik paman. Aku tidak mau tinggal di kota dan menikah dengan ana bangsawan. Jawab Lamkaka. Sesungguhnya Lamkaka sudah jatuh cinta pada Murani.
"Bagaimana kamu ini, Dang. Jelas-jelas ini milikmu, hakmu. Anda adalah pemilik dari seluruh tanah itu, awalnya. Aneh kamu ini, Dang. Kata Balu mulai pusing.

“Kawanku, sudah aku katakan bahwa sebidang tanah itu sudah menjadi milikmu, dunia dan akhirat. Maka, apa pun yang ditemukan di sebidang tanah itu, adalah milikmu juga. Jelas Bidang. Mana ada, milik orang di tanah milik orang, kamu yang aneh, Balu. Mereka berdebat bukan main serunya, dan saling berargumentasi membenarkan pendapat masing-masing.

Mereka berdebat karena keduanya adalah orang-orang yang sangat baik. Mereka bukan orang-orang serakah, dan bukan orang picik.  Balu merasa itu bukan miliknya karena tanah itu pada awalnya milik Bidang yang membantu dia dari kelaparan. Begitu pun Bidang dia membantu dengan hati yang ikhlas. Dia tidak mengakui lagi apapun tentang tanah yang di garap Balu.

"Kau ingin aku busuk siku, Balu?." Kata Bidang. Busuk siku istilah orang mengambil kembali sesuatu yang pernah dia berikan pada orang lain.

Kemudian mereka duduk dan berunding. “Kita jangan membuang waktu berdebat terus, siapa pemilik uang emas ini. Menurut ku, ada baiknya kita berikan saja uang emas ini pada anak-anak kita. Aku kalau anakanak kita sudah saling menyukai. Walau mereka tidak ada hubungan. Sebagai orang tua berdosa kalau kita membiarkan mereka menyimpan perasaan. Maka dari itu kita atur dan buat pesta pernikahan mereka. Kemudian kita berikan uang emas seguci ini sebagai hadiah pernikahan mereka. Usul Bidang. Balu setuju bahwa itu adalah ide bagus. Kemudian mereka kembali menggali tanah dalam dan menyembunyikan guci uang emas itu sampai acara pernikahan selesai.
*****
Acara pernikahan berlangsung beberapa minggu kemudian. Tamu dan undangan datang ribuan orang. Pesta dihibur dengan tarian dan para penggubah syair dan pantun, senjang, bedundai, dan tanding silat. Hiburan yang paling seruh adalah pertandingan silat. Pesta pernikahan itu, sesuai dengan adat orang Melayu tentunya. Banyak juga saudara-saudari mereka yang datang dari jauh, menghadiri acara pernikahan Murani dan Lamkaka. anak mereka.

Setelah semua tamu dan undangan pulang. Keadaan kembali seperti semula. Sesuai perjanjian Bidang dan Balu sebelumnya. Setelah anaknya sah menjadi suami istri. Maka mereka akan memberikan uang emas itu untuk hadiah pernikahan anak mereka.

“Kami tidak dapat menerima uang emas itu, ayah. jawab Murani dan Lamkaka. "Karena tidak baik untuk anak-anak menerima apa yang orang tuanya menolak. Kami dapat bekerja mencari harta, nanti. Dan kami sudah menjadi sangat kaya karena cinta kami yang tulus. Memiliki ayah yang baik dan menyayangi kami. Itulah harta yang sangat berharga. Bilah dibandungkan dengan uang itu, tidak ada apa-apanya. Mendengar itu kembali Balu dan Bidang berdebat, dan kedua anaknya pergi meninggalkan mereka berdebat masalah siapa pemilik uang emas yang banyak itu. 

"Nak, kalian harus mengambil emas ini. Bapak berdua adalah orang tua. Kami hanya perlu sedikit, tidak pun tak apa-apa, dengan bekerja di ladang kami sudah dapat makan. Kalian masih muda, untuk anak-anak kalian nantinya. Kalian bisa bepergian ke mana saja dan membeli apa saja untuk kebutuhan hidup kalian. Kata Bidang membujuk anak dan menantunya. Begitu pun dengan Balu berusaha agar keduanya mau menyimpan uang emas itu.

Namun apa pun usaha kedua orang tua itu, tetap saja kedua anaknya tidak setuju dan tidak mau menerima uang emas itu. Balu dan Bidang tidak habis pikir, di mana-mana di dunia ini, anak-anak orang akan berebut harta dari kedua orang tuanya. Bahkan ada yang berkelahi atau saling membunuh. Mereka hanya dapat menggelengkan kepalanya. lalu mengurut dada. Untuk memutuskan itu akhirnya Bidang dan Balu pergi ke Puyang Pedatuan. Puyang Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape seorang yang berilmu.

Setelah sampai di rumah Puyang Pedatuan. Rumah juga berbentuk panggung dengan lantai meningkat (rumah limas basepat). Rumah Khas orang Melayu Sumatera Selatan generasi pertama. Kemudian mereka menceritakan hal ihwal tentang uang emas yang Balu temukan di ladang. Mereka juga menceritakan bahwa kedua anaknya tidak mau menerima uang emas tersebut. Sehingga keduanya meminta saran dari Puyang Pedatuan yang bijaksana. Puyang mendengarkan dengan saksama cerita keduanya. Lamkaka dan Murani diam saja di duduk di belakang mereka. Puyang Pedatuan menyadari kalau empat orang di hadapannya adalah orang yang mulia, baik dan jujur. Setelah selesai mendengar cerita mereka, Puyang manggut-manggut tanda dia mengerti. Kemudian Puyang Pedatuan menanyai mereka bergiliran.


“Balu, uang emas itu, apakah kau punya rencana untuk memanfaatkananya?. Tanya Puyang Pedatuan sambil membelai janggutnya yang panjang berwarna putih.
“Puyang Tuan Pedatuan yang mulia. Menurutku uang itu diserahkan ke maharaja Melayu di tanah Sumatera. Karena maharaja Melayu-lah yang berkuasa di Negeri kita ini.

Mendengar jawaban Balu, Puyang geleng-geleng kepala. Tanda dia kurang setuju. Kemudian Puyang bertanya pada Bidang. Bagaimana dengan engkau, Bidang?.

"Puyang Pedatuan yang bijaksana. Menurutku ada baiknya uang itu diberikan pada hakim negeri. Karena di sanalah keputusan dibuat dan masalah di selesaikan. Kembali sang Puyang menggeleng-gelengkan kepalanya tanda kurang setuju. Kemudian Puyang bertanya kepada putri Bidang. “Wahai cucuku Rumani, apa saranmu?. Apa pula yang harus dilakukan pada uang emas itu?. Rumani menjawab. "Menurut saya uang itu kembali dikubur di dalam bumi, dan jangan sampai ada orang yang tahu. Maka semua urusan ini akan selesai. Puyang Pedatuan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan-lahan. Menurut pemikirannya ketiga cara itu belum memuaskan. Sambil berpikir Puyang kemudian bertanya pada Lamkaka.  "Lamkaka, bagai mana menurutmu dengan uang emas itu, apakah kau ada usul.

"Lamkaka kemudian berpikir keras. Dia menyadari bahwa itu adalah hal yang sulit untuk diputuskan. Setelah beberapa saat berpikir, kemudian Lamkaka berkata. "Bagai mana kalau saya akan menggunakan uang emas itu untuk membeli banyak lahan perkebunan, untuk ditanam buah-buahan. Membuat sawa-sawa yang luas. Membangun bendungan air lebih besar. Agar saat kemarau tidak lagi kekurangan air di Pedatuan kita ini, Puyang. Membeli bibit ternak untuk dibagikan pada penduduk. Sebab selama kemarau tahun lalu. Semua ternak di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape mati. Apabila perkebunan berbuah, masyarakat akan memetik buah-buahan sesuka hatinya. Masyarakat dapat menikmati buah-buahan, sekaligus keindahan alam di kebun tersebut. Yang tidak ada beras akan menuai padi di sawah, dan mengambil air dengan bebas.

Maka tidak akan ada kelaparan lagi di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pandape ini. Ujar  Lamkaka menjelaskan idenya. Lamkaka terinspirasi dengan keadaan mereka beberapan tahun lalu. Saat mereka hampir mati kelaparan, beruntung Bidang membantu mereka. Puyang Pedatuan manggut-manggut dan tersenyum puas, dia setuju. Segera lakukan semua yang kau katakan Lamkaka. Begitulah seharunya kekayaan dipergunakan. Pergilah ke Kota Raja Melayu untuk membeli bibit-bibit ternak, bibit buah-buahan dan benih padi. Kata Puyang Pedatuan.
*****
Lamkaka pergi ke Kota Raja di hilir Sungai Musi. Kota Raja terletak di Bukit Siguntang. Di Kota Raja Melayu, banyak terdapat pedagang bibit ternak dan bibit buah-buahan. Perjalanan selama beberapa minggu dengan berperahu. Ada sepuluh perahu disewa oleh Lamkaka. Dari tepian mereka menghilir Sungai Keruh. Tembus ke Sungai Musi dan sampai di Bukit Siguntang Mahameru.

Kota Raja Melayu ramai sekali. Lamkaka dan orang-orang bayarannya pergi kepasar untuk membeli semua keperluan mereka. Lamkaka melihat istana raja dikelilingi tembok kayu yang tinggi. Terbuat dari kayu unglen atau kayu besi. Banyak kanal-kanal mengeliling istana. Prajurit berpatroli hilir mudik menjaga keamanan. Di sungai-sungai banyak rumah rakit, perahu kajang, perahu biasa dan rakit-rakit. Di alun-alun kerajaan banyak prajurit berlatih perang dan ilmu bela diri. Di pelabuhan juga banyak kapal-kapal dagang manca negara berlabu.

Setelah berjalan beberapa saat keliling pasar. Lamkaka melihat seorang penjual burung banyak sekali. Burung-burung itu dikurung di dalam sangkar terbuat dari bila-bila bambu. Pedagang burung itu menempatkan banyak burung dalam satu sangkar. Satu sangkar dia tempatkan berpuluh-puluh burung, sehingga berdesakan. Betapa tersiksanya burung-burung itu. Burung yang berbuluh indah itu.

Diperlakukan dengan kejam oleh si pedagang burung. Pedagang yang bertubuh gemuk, tinggi, seram, berjambang, rambut acak-acakan, dan berkulit hitam. Beberapa kali dia bilang apabila hari ini tidak ada yang mau membeli  burung-burung itu. maka semua burung-burung itu akan dia sembelih. Dia akan memasak gulai pindang dan memanggil semua orang di pasar untuk memakan mereka yang banyak itu. Kata si pedagang kejam. Alasannya karena sudah capek merawat burung-burung itu. Sudah dua minggu tidak ada yang mau membeli satu ekor pun.


Lamkaka datang menghampiri penjual burung yang berbadan tambun itu. Wajahnya sangar dan terlihat kalau dia bukan orang yang memiliki belas kasihan. Lamkaka merasa kasihan pada burung-burung tersebut. Lamkaka memutuskan membebaskan burung-burung jualan pedagang itu. Alangkah menderitanya pikir Lamkaka semua burung-burung itu.


“Sudah berapa hari burung-burung ini ditangkap, Paman. Tanya Lamkaka. Dia memperhatikan ada ratusan jenis burung yang terkurung. “Macam-macam waktu penangkapannya. Ada yang Sudah seminggu, dua minggu, satu bulan, satu tahun. Aku sedang sial, sduah beberapa bulan tidak ada pembeli satupun. Aku rugi sekali!!!. Rugi waktu, rugi biayah perawatan, rugi biayah pembelian kurungannya. Gaji pekerja dan rugi bayar pajak negara, semuanya rugi. Mungkin burung-burung baru ini membawa sial, burung pembawa sial. Kalau tidak laku satupun hari ini. Aku sembelih semuanya. Kata penjual itu penuh kekesalan dan kekecewaan dengan dagangannya.

“Paman berapa banyak kerugian paman?. Berapa harga semua burung-burung yang ada di toko paman ini?. Sekaligus tokoh paman juga aku beli. Kata Lamkaka. “Ah, kau mau menghina aku atau bermain-main anak muda. Kalau dihitung biayah pemeliharaan. Harga semua burung yang indah-indah ini. Harga toko di tengah kota. Mungkin mencapai seribu keping uang emas. Kau punya uang begitu banyak. Dari penampilanmu orang desa sederhana. Uang timah pun kau pasti tidak punya. Kata si Pedagang burung yang kejam.


“Baiklah Paman, aku beli seribu keping uang emas untuk semuanya. Teman Lamkaka terbelalak dan mereka mengingatkan dengan tujuan mereka. Lamkaka tersenyum dan bilang tidak masalah. Sebab ayah, mertua, istri dan puyang pedatuan akan setuju dan tidak akan mempermasalahkannya. Lamkaka menyisikan uang bayaran orang-orang sewaannya yang akan membawa barang belanjaan. Akhirnya mereka juga setuju. Uang sewa dapat dan pulang tanpa beban berat. Mereka akhirnya dapat berbelanja juga untuk oleh-oleh keluarga. Penjual burung masih tidak percaya. Wajahnya sudah tampak masam. Dia sudah bersiap mengusir Lamkaka dari tokonya.

Lamkaka menurunkan bungkusan besar yang menggantung di bahunya. Suara gemericik terdengar saat bungkusan kain itu diletakkan di hadapan si penjual burung. Saat dibuka kilauan uang emas menyilaukan mata. Barulah si penjual  burung tersenyum. Setelah dibayar, maka semua burung-burung di tokoh itu menjadi milik Lamkaka.

“Bagaimana Tuan Muda membawa semua burung ini pulang? Tanya si penjual. Si penjual burung mulai lunak dan memanggil dengan sebutan tuan.


“Burung-burung ini akan pulang sendiri, karena mereka juga punya rumah masing-masing. Jawab Lamkaka. Kemudian Lamkaka dibantu rekan-rekannya membuka semua sangkar burung-burung itu, dan melepaskan mereka semua. Ribuan burung-burung lepas dan terbang bebas di alam. Tempat penjualan itu Lamkaka berikan pada sebuah keluarga gelandangan di sudut pasar. Surat keterangan pembelian juga dia berikan. Bukan main bahagianya keluarga gelandangan itu. "Paman, tinggalah di tokoh ini. Mulai sekarang menjadi milik paman. Syaratnya jangan dijadikan lagi tempat menjual burung. Jualah yang lain saja. Mereka setuju dan menyanggupi syarat itu.

Dengan membawa bungkusan berisi buah-buahan, kue lezat. Lamkaka pulang kembali ke rumahnya di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pandape. Semua uang telah dia habiskan membeli burung-burung dan dia lepaskan. Dia tampaknya tidak mendapatkan apa-apa. Mereka semua bernyanyi riang mendayung perahu kosong pulang. Selama perjalanan pulang Lamkaka berpikir. Aku berjanji pada Puyang Pedatuan akan membangun kebun buah-buahan. Untuk masyarakat miskin di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pandape. Lahan perkebunan sudah banyak dibeli. Bahkan ada pendudk yang mewakapkan tanahnya. Tapi apa yang terjadi, apa yang aku perbuat?. Apa pula yang harus aku katakan, pastilah istriku bilang aku sangat bodoh dan ceroboh. Pikir Lamkaka sepanjang jalan.

Sebelum pulang ke rumah, Lamkaka singgah ke rumah Puyang. Lalu menceritan semuanya. Rekan-rekan Lamkaka hanya menganguk dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi Puyang Pedatuan tidak begitu menghiraukan. Datu bilang semuanya sudah terjadi, dan biarlah terjadi. Saat Lamkaak memberikan kue oleh-oleh baru Puyang bereaksi dan mengucap terimah kasih. "inilah cucuk aku, nian. Mengerti kesukaan aku. Ujar Puyang.

Sampai di rumah Lamkaka menceritakan semua pada istri, mertua, dan ayahnya. Namun ketiga orang yang dia kira akan marah-marah. Tapi justru sebaliknya dan mereka segerah makan kua dan meminta Murani membuat air nira panas. Lamkaka tampak bengong dan mereka mulai melupakan uang emas yang banyak itu. Karena kelelahan Lamkaka tertidur nyenyak siang itu. Saat tertidur dia bermimpi. Di dalam mimpinya Lamkaka melihat ribuan burung-burung yang dia lepaskan di pasar Kota Raja Melayu, mendatanginya. Burung-burung itu mengucapkan banyak terima kasih. Karena telah membebaskan mereka. Salah satu burung berkata.

"Kami tidak dapat mengembalikan uang emasmu, Lamkaka. Tetapi kami akan membantu engkau membangun bendungan yang kau cita-citakan. Membuat sawa-sawa, dan menanam buah-buahan di lahan yang kau beli itu. Nanti akan ada yang mengantar bibit ternak untuk dibagikan pada penduduk.


Beberapa saat kemudian Lamkaka terbangun. Memperhatikan sekeliling kamarnya. Dia melihat istrinya juga tertidur di sampingnya. Dia melihat wajah istrinya yang cantik jelita. Tampak perutnya sudah membesar tanda kehamilan sudah diatas lima bulan. Sebentar lagi aku jadi ayah, pikir Lamkaka bahagia. Sambil tersenyum Lamkaka tegak dan melihat ke luar jendela kamarnya. Dia menggeliat-geliat menghilangkan pegal. Sinar matahari sore menerobos jendela kamar. Sedikit mengecil matanya karena silau. Saat matanya terbuka lebar Lamkaka melihat pemandangan aneh.

Ternyata apa yang terjadi di dalam mimpinya. Benar-benar terjadi di alam nyata. Lamkaka melihat burung-burung yang dia beli di kota raja. Lalu dia bebaskan. Burung-burung yang banyak itu mengolah tanah. Dengan menggunakan cakar mereka, paru, kipasan sayap. Burung-burung itu menggali lubang dan memasukkan bibit buah-buahan, bibit bunga-bungaan.

Bibit ditimbun dengan tanah seperti ayam berkais. Ajaib, bibit tumbuh cepat dan membesar dalam hitungan menit. Lamkaka membangunkan istrinya untuk melihat kejadian aneh itu. Ribuan burung dengan cakar besar mengangkut batu-batu dan terbentuklah bendungan. Air mengalir membentuk sawah, dan padi tumbuh menghijau, beberapa waktu kemudian padi masak, menguning.

"Apa yang kalian lakukan? Tanya Lamkaka  heran dari jendela. Murani tampak mengucak-ucak matanya. Kedua masih belum percaya.

"Lamkaka kemarin kau membantu kami. Kami adalah rakyat Dewi Burung. Maka  sekarang giliran kami untuk membantumu. Kata seekor burung.

Di hadapan mereka taman ajaib sedang tumbuh. Ayah Lamkaka dan mertuanya berteriak. Apakah mereka mendengar suara kerbau dan sapi. Saat mereka melihat disisi rumah tampak banya sekali bibit ternak. Dari anak ayam, anak itik, anak kambing, anak sapi, anak kerbau. Berkumpul dan tampak duduk satai. Serombongan burung besar membawa bibit anak angsa. Tahulah mereka kalau burung-burung itu yang mengantarkan bibit ternak. Nantinya dibagikan Lamkaka pada penduduk secara adil.

Tunas hijau muda dari dalam tanah, kemudian berubah menjadi pohon muda yang berayun-ayun di terpa angin. Kemudian dalam waktu singkat, pohon besar-besar muncul, menyebarkan cabang, berdaun lebar, berbunga dan berbuah. Bunga-bunga muncul tumbuh menyeruak. Ada puluhan batang pohon manggis yang berbuah emas. Semua ini sulit dapat di percaya mata sehat.

Setelah semua tumbuh, lahan luas yang penuh tanaman itu di pagar dengan pagar besi oleh para Rakyat Dewi Burung. Dengan pintu gerbang yang terkunci ajaib. Yang dapat masuk dan menikmati hasil ladang ajaib hanyalah orang-orang miskin. Orang yang berbohong akan diketahui. Begitupun yang mencuri atau merampok hasil ladang ajaib. Maka petir akan menyambar mereka.

"Kebaikan, kejujuran, ketulusan, kasih sayang, memang akan selalu menghadirkan keajaiban dalam kehidupan ini." Guman Puyang Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape.
*****
Tidak seberapa lama berita kebun ajaib di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pandape tersiar di seluruh negeri Melayu. Orang-orang datang dari seluruh pelosok negeri untuk melihat-lihat. Tetapi mereka tidak bisa masuk gerbang. Karena ladang luas itu hanya untuk orang-orang miskin. Sedangkan orang-orang yang serakah mencoba mencuri buah manggis emas selalu disambar petir dan mati. Ternyata pedagang burung yang memiliki banyak emas semakin kaya. Sekarang dia telah memiliki pasukan bayaran. Mendengar adanya ladang ajaib itu. Dimana ada pohon manggis berbuah emas. Penjual burung serakah itu datang membawa pasukan bayarannya hendak merampas ladang ajaib. Dengan membawa seribu pasukan, seratus gajah terlati untuk merobohkan tembok besi dia datang.

Kedatangan mereka yang angkuh, dan mulai mengumumkan mengakui ladang itu milik mereka. Mereka ingin merampas dari Lamkaka dan mendirikan kerajaan baru. Lamkaka berkata, berbuatlah sesuka hati kalian. Kami tidak akan perduli. Segala akibat kalian tanggunglah sendiri. Penjual burung jahat itu sangat suka mendengar kata-kata itu. Mulai mereka menggerakkan pasukan gajah untuk merobohkan pagar besi.

Setelah roboh mereka masuk makan dengan rakus buah-buah di kebun itu. Tetapi kemudian semua pasukan bayaran menjerit kesakitan dan mereka merasa leher tercekik. Mereka menerjunkan diri ke dalam Sungai Keruh, dan tidak muncul sampai zaman sekarang. Penjual burung serakah yang merasa sangat berkuasa itu, hendak mengambil manggis emas. Tetapi belum sampai ia memetik-nya, petir menyambar terlebih dahulu dan dia tewas seketika.


Kebun, bendungan air, sawah yang selalu panen itu hanya untuk orang-orang miskin. Rakyat Pedatuan berkata, sekarang kita tidak akan haus dan kelaparan lagi. Semua orang di Negeri Dataran Bukit Pandape bahagia. Lamkaka kemudian menjadi terkenal. Semua orang ingin menemui-nya dan bertanya tentang kisah itu. Setelah itu, Lamkaka hidup bahagia bersama keluarganya.

Mendapat karunia anak-anak yang baik-baik, laki-laki dan perempuan. Seumur hidup mereka, mendapat sepuluh orang anak. Orang baik, orang iklas, dan tidak seraka akan selalu bahagia walau apa pun keadaan mereka. Orang seraka akan hidup menderita selamanya.


Banyak buah-buahan yang tumbuh di hutan. Seperti durian hutan, kelengkeng, duku, rambai, raman yang tumbuh ditengah hutan. Begitupun banyak jenis hewan liar mirip dengan peliharaan manusia. Seperti ayam hutan, kambing hutan, kucing hutan, bebek hutan. Kata orang tua, semua itu peninggalan dari ladang ajaib Lamkaka.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S. Sos.
Palembang, 14 Oktober 2018.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com atau duniasastra54@gmail.com. idline: Apero Fubli. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.


Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment