Kampus
Mahasiswi
Opini
Unplash/Getty Images
APERO FUBLIC I Pendidikan dasar di tingkat SD maupun Madrasah Ibtidaiyah (MI) hari ini sedang menghadapi badai tantangan yang kompleks. Jika kita mengintip ke dalam ruang kelas, kita tidak lagi hanya menemukan persoalan klasik tentang kurikulum.
Lebih dari itu, para pendidik kini dihadapkan pada beberapa isu krusial yang saling berkelindan di lapangan, mulai dari maraknya kasus perundungan (bullying), tingginya angka kesulitan belajar, merosotnya keterampilan sosial peserta didik, hingga tuntutan model pembelajaran yang inovatif bagi masyarakat luas.
Berdasarkan pengalaman nyata yang saya hadapi langsung saat mengajar di kelas, saya menemukan kenyataan pahit bahwa masih banyak anak yang belum bisa membaca dengan lancar. Ketika ditelusuri lebih dalam, akar masalahnya bermuara pada satu hal: anak-anak terlalu banyak menghabiskan waktu bermain gadget atau HP di rumah.
Sumber: Unplash/Tyler Lagalo
Akibatnya, mereka kehilangan fokus, lupa waktu untuk belajar, dan menganggap membaca buku sebagai aktivitas yang membosankan. Dampak domino dari kesulitan membaca ini sangat fatal, sebab mereka otomatis kesulitan memahami seluruh mata pelajaran lainnya di sekolah dan akhirnya tertinggal dari teman-temannya.
Rasa frustrasi akademik akibat tertinggal pelajaran inilah yang memicu masalah baru di sekolah. Ketika anak merasa tidak mampu di kelas serta sekolah masih melanggengkan budaya hafalan yang kaku, energi negatif anak sering kali keluar dalam bentuk tindakan perundungan (bullying) kepada sesama teman sebagai pelampiasan ego mereka.
Ditambah lagi, ketergantungan pada gawai membuat kemampuan sosial mereka tumpul; anak-anak menjadi kurang berempati, egois, serta gagap saat harus berkomunikasi serta bersosialisasi secara tatap muka dengan teman sebaya.
Untuk memutus rantai persoalan ini, paradigma pendidikan dasar kita harus diubah secara kritis. Kita tidak bisa lagi memakai metode ceramah satu arah atau memaksa anak yang kecanduan HP untuk tiba-tiba duduk diam menghafal isi buku teks.
Di sinilah pendekatan STEAM—Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics—hadir sebagai solusi interaktif yang komunikatif dan mampu menarik kembali perhatian anak dari layar gawai mereka ke dunia nyata melalui aktivitas yang menyenangkan.
Sumber: Unplash/Tyler Lagalo
Melalui STEAM, pembelajaran di MI/SD diubah menjadi berbasis proyek kelompok. Sebagai contoh, alih-alih menghafal teori lingkungan, siswa diajak bersama-sama merancang maket pengelolaan sampah atau proyek ramah lingkungan lainnya.
Dalam proses ini, aspek Sains serta Matematika dipahami secara alami saat mereka menghitung serta meneliti objek. Sentuhan Teknologi serta Teknik digunakan saat mereka merancang alat sederhana, sementara aspek Seni (Arts) memberikan kebebasan bagi anak untuk menuangkan kreativitas serta keindahan.
Menariknya, model pembelajaran berbasis proyek seperti STEAM ini secara tidak langsung menjadi obat bagi isu sosial serta perundungan di sekolah. Ketika anak-anak bekerja dalam tim untuk menyelesaikan sebuah proyek, ruang interaksi sosial yang sehat kembali terbuka.
Mereka dipaksa untuk saling mendengarkan, menghargai perbedaan pendapat, serta berkolaborasi. Aktivitas yang sibuk serta menyenangkan ini secara efektif mengalihkan perhatian mereka dari gawai, sekaligus menekan potensi terjadinya perundungan karena energi anak tersalurkan pada kreativitas kelompok, bukan senioritas atau kekerasan fisik.
Bagi anak yang mengalami kesulitan belajar atau membaca, STEAM menyediakan banyak "pintu masuk" untuk memahami materi lewat sensori visual dan praktik langsung, bukan lewat tumpukan teks-teks hafalan yang membuat mereka makin malas belajar.
Pada akhirnya, dengan menerapkan STEAM, kita tidak hanya sedang membantu anak mengatasi kesulitan belajarnya, melainkan sedang membangun sebuah benteng sosial yang inklusif, aman dari perundungan, dan siap mencetak generasi masa depan yang cerdas.
Oleh: Rizka Mukaromatussalisah
Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment