Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Sudah Saatnya Setiap Siswa Belajar Tanpa Beban
Sumber: https://share.google/qpgbrEklPMs3ZBSzB
APERO FUBLIC I Pernahkah kita melihat siswa kehilangan semangat saat pelajaran berlangsung, gelisah ketika guru memberikan tugas, atau takut menjawab pertanyaan karena khawatir salah? Situasi seperti ini terkadang dianggap sebagai indikasi bahwa anak malas belajar.
Padahal, mereka mungkin merasa terbebani oleh proses belajar mereka atau mengalami kesulitan memahami materi. Belajar seharusnya memberi anak kesempatan untuk mengenal hal baru, memperoleh keterampilan, dan memperluas pemahaman mereka mengenai dunia di sekitarnya.
Namun, bagi sebagian siswa di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Dasar (SD), belajar terasa seperti sebuah keharusan untuk mendapatkan nilai yang baik. Hal ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang hasil akademik, tetapi juga kenyamanan anak selama belajar.
Ketika Belajar Menjadi Beban
Siswa dapat mengalami tekanan belajar karena berbagai alasan, seperti tugas yang menumpuk, materi yang sulit dipahami, rasa takut saat melakukan sesuatu, dan tuntutan untuk mendapat nilai yang tinggi. Selain itu, siswa dapat kehilangan minat dalam belajar apabila dalam pembelajaran terasa monoton dan kurang melibatkan mereka.
Penelitian yang dilakukan oleh Walianti et al. (2026) menunjukkan bahwa berbagai faktor yang saling berkaitan memengaruhi kesulitan belajar anak usia Sekolah Dasar (SD). Faktor internal meliputi kemampuan kognitif siswa, minat dan motivasi mereka untuk belajar, tingkat konsentrasi, kondisi emosional, dan kesiapan mereka untuk belajar.
Sementara itu faktor eksternal mencakup lingkungan keluarga dan sekolah, metode pembelajaran yang digunakan guru, penggunaan media pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
Lingkungan belajar yang tidak mendukung dan tidak sesuai dengan kebutuhan siswa dapat meningkatkan kemungkinan munculnya masalah belajar. Hal ini menunjukkan bahwa kesulitan belajar tidak selalu disebabkan oleh kemampuan anak saja.
Setiap siswa memiliki minat, keterampilan, dan kecepatan belajar yang berbeda. Beberapa siswa mudah memahami materi melalui penjelasan guru, tetapi yang lain membutuhkan gambar, permainan, praktik, dan pengulangan. Jika siswa dipaksakan memahami materi dengan cara yang sama, beberapa siswa mungkin merasa tertinggal dan meragukan kemampuan mereka.
Dampaknya Tidak Hanya pada Nilai
Hasil ujian tidak selalu menunjukkan efek ketika belajar terasa berat. Siswa mungkin pasif, enggan bertanya, mudah bosan, atau kesulitan berkonsentrasi. Beberapa bahkan memilih untuk diam karena khawatir jawabannya salah atau ditertawakan teman-temannya.
Kesulitan berkonsentrasi dapat berkaitan dengan berbagai faktor, salah satunya perkembangan kognitif anak yang masih berlangsung. Anak-anak yang masih berasa pada tahap perkembangan tertentu mungkin mengalami keterbatasan dalam rentang perhatian mereka, yang membuat mereka lebih mungkin teralihkan. Selain itu, kondisi emosional seperti kecemasan dan ketidaknyamanan dalam lingkungan belajar juga dapat memengaruhi kemampuan fokus anak.
Di samping faktor perkembangan kognitif dan emosional, penggunaan media digital yang berlebihan juga merupakan salah satu faktor penting yang mengganggu kemampuan fokus anak. Terlalu banyak media digital dikonsumsi anak-anak dapat mengubah cara mereka memproses informasi, sehingga rentang perhatian mereka menjadi lebih pendek.
Oleh karena itu, untuk memastikan bahwa penggunaan media digitial tidak mengganggu kemampuan anak untuk berkonsentrasi, sangat penting untuk memastikan bahwa penggunaan media digital dilakukan dengan cara yang seimbang.
Belajar Tanpa Beban, Bukan Tanpa Tantangan
Belajar tanpa beban bukan berarti siswa terbebas dari tugas, aturan, dan tanggung jawab. Mereka masih harus belajar dan berusaha untuk mencapai hasil terbaik, tetapi prosesnya dibantu dan diberikan tuntutan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Pembelajaran yang bervariasi dan interaktif adalah salah satu cara yang dapat dilakukan. Pembelajaran yang monoton dapat membuat siswa bosan dan kehilangan konsentrasi. Sebaliknya, kegiatan yang melibatkan permainan, aktivitas fisik, dan partisipasi aktif dapat membuat siswa lebih tertarik untuk belajar.
Selain bertanggung jawab untuk menyampaikan pelajaran, guru juga bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan mendorong siswa untuk bertanya, mencoba, dan tidak takut melakukan kesalahan. Selain guru, orang tua juga turut berperan dalam membantu anak belajar.
Orang tua sebaiknya menghargai setiap usaha dan perkembangan anak mereka. Saat anak menghadapi kesulitan, memberikan dukungan akan lebih bermanfaat daripada menyalahkan atau membandingkan dengan orang lain. Dukungan dari guru dan orang tua dapat membuat anak merasa lebih nyaman dalam belajar dan berani menghadapi berbagai tantangan.
Keberhasilan pendidikan tidak hanya dinilai dari pencapaian akademik, tetapi juga dari proses dan perkembangan diri anak. Siswa yang berani mencoba, menjadikan kesalahan sebagai pelajaran, serta terus mengasah kemampuannya juga merupakan bentuk keberhasilan.
Pendidikan bertujuan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan memiliki motivasi untuk terus belajar, bukan membuat mereka takut menghadapi kegagalan.
Oleh: Setya Apriliana
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah Keguruan, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment