Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Mengapa Ada Anak yang Cepat Paham dan Ada yang Membutuhkan Waktu Lebih Lama?
Sumber: UNICEF Indonesia
https://www.unicef.org/indonesia/stories/building-better-foundations-young-learners-west-papua?utm_source=chatgpt.com
APERO FUBLIC I Pernah tidak kamu merasa dirimu terkadang butuh waktu lebih lama untuk memahami materi atau informasi tertentu? Tapi kamu melihat teman kamu cepat paham padahal materinya sama dengan punyamu? Terkadang banyak orang bahkan diri kita sendiri lebih mengaitkan dengan kecerdasan yang kita punya, padahal hal tersebut bisa saja di pengaruh oleh beberapa faktor yang selama ini kita abaikan. Siswa yang mengalami kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah dikenal sebagai siswa lambat belajar.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi?
Perbedaan dalam memahami materi tidak selalu berkaitan dengan tingkat kecerdasan. Ada berbagai faktor dalam diri anak yang dapat memengaruhi proses belajar, seperti pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, kemampuan memusatkan perhatian, daya ingat, motivasi, dan kondisi emosional. Faktor-faktor tersebut dapat berperan dalam menentukan bagaimana anak menerima, mengolah, dan memahami informasi baru.
Pengetahuan Awal
Anak yang datang ke sekolah tidak semua memiliki kemampuan pemahaman yang sama. Untuk anak yang sudah memiliki pengetahuan awal akan lebih mudah untuk mengaitkan dengan materi lain, sedangkan anak yang belum menguasai dasar suatu pengetahuan akan membutuhkan waktu lebih lama.
(Mohammad Zain dalam Siwi Puji Astuti, 2015) menyatakan bahwa kemampuan awal merupakan kapasitas, keterampilan, serta daya juang mandiri seseorang.
Pandangan ini dipertegas oleh (Muhibbin Syah, 2006 dalam Siwi Puji Astuti, 2015) yang menyebutkan bahwa kemampuan awal berfungsi sebagai syarat mendasar guna mengenali adanya perubahan. Dengan demikian, kemampuan awal adalah persyaratan mutlak yang wajib dikuasai oleh peserta didik sebelum melanjutkan proses belajar ke materi tingkat berikutnya yang lebih tinggi.
Perkembangan Kognitif Anak
Perkembangan kognitif anak memang berfokus pada bagaimana seorang anak menerima informasi, mengingatnya, dan menghubungkan pengetahuan Kemampuan ini dalam memahami materi terus berkembang seiring usia bertambah.
Berdasarkan data PISA dari (OECD, 2022), hanya 18% siswa Indonesia berusia 15 tahun yang mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam matematika, 25% dalam membaca, dan 34% dalam sains . Akan tetapi, pencapaian ini tidak menandakan bahwa mereka kurang cerdas, mengingat daya tangkap informasi juga harus ditinjau dari proses pembelajaran dan aspek-aspek yang memengaruhinya.
Menurut teori Jean Piaget dalam kutipan (Babullah, 2022), anak-anak dan siswa usia dasar biasanya berada pada tahap operasional konkret (usia 7–11 tahun), di mana mereka perlu melihat atau menyentuh objek nyata untuk memahami suatu konsep. Bila siswa diberikan materi yang terlalu abstrak tanpa media peraga, mereka akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk memproses informasi.
Siswa yang memerlukan waktu lebih lama untuk mengerti pelajaran tidak berarti tidak mampu belajar; justru kecepatan perkembangan kognitif atau kemampuan pemrosesan otaknya membutuhkan ritme dan strategi mengajar yang berbeda, seperti memakai media nyata atau metode yang lebih interaktif.
Oleh sebab itu, apabila seorang anak memerlukan waktu lebih lama untuk menguasai suatu materi, kita hendaknya tidak terburu-buru menganggapnya tidak pandai. Kita perlu memperhatikan cara ia mengolah informasi, latar belakang pengetahuan yang dimilikinya, serta dukungan yang dapat memaksimalkan proses belajarnya.
Motivasi
Anak yang tertarik terhadap materi biasanya lebih terdorong untuk memperhatikan, mencoba, dan bertahan ketika menghadapi kesulitan. Motivasi mungkin hal sederhana yang jarang orang kaitannya pada anak, padahal itu salah satu kunci penting dalam faktor ini.
Ketika anak mendapatkan sebuah motivasi baik dari guru, teman, lingkungan, otak mereka akan berada dalam kondisi aktif yang siap menerima materi dengan cepat. Ada dua jenis motivasi yaitu, motivasi intrinsik yang berasal dari dorongan internal (dalam diri) dan motivas ekstrinsik yang berasal dari dorongan eksternal (luar diri).
Motivasi yang bersumber dari dalam diri siswa, seperti rasa ingin tahu atau kebanggaan saat menyelesaikan tugas, dapat memberi dorongan hebat untuk belajar. Di sisi lain, motivasi yang berasal dari faktor luar seperti hadiah atau pujian juga dapat memacu siswa mencapai pencapaian belajar yang lebih baik.
Jadi, keterkaitan antara motivasi dan kemampuan siswa yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami materi sangat kuat, di mana motivasi tinggi dapat mendukung siswa yang belajar lambat (slow learner) agar tetap bertahan, tekun, dan tidak mudah menyerah dalam proses belajar.
Lingkungan Belajar
Kemampuan belajar juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan belajar anak. Suara kelas, hubungan keluarga dan guru, serta dukungan dari teman-teman ikut mempengaruhi pengalaman belajar anak. Kita bisa memahami dengan contoh seperti ini, bayangkan jika ada seorang anak belajar di rumah dengan keadaan yang tenang dan mendapatkan bantuan ketika kesulitan memahami pemebelajaran.
Bandingkan dengan anak yang belajarnya dengan keterbatasan dan mengalami kesulitan memahami pembelajaran tanpa adayang membantunya. Makah hal seperti inilah yang akan mempengaruhi penurunan kecepatan berpikir, serta daya serap pemahaman siswa, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk anak bisa benar-benar memahami materi.
Cara Guru Menyiapkan Materi
Dalam pembelajaran bukan hanya siswa saja yang menjadi faktornya, tetapi guru juga ikut serta dalam salah satu faktor permasalahan ini. Salah satunya yaitu bagaimana cara guru menyiapkan materi karena mempunyai kaitan sebab-akibat yang sangat kuat.
Jika materi disusun tanpa penyesuaian khusus, siswa yang belajar lebih lambat akan semakin tertinggal, merasa frustrasi, dan kehilangan motivasi belajar. Sebaliknya, persiapan materi yang terstruktur dan berdiferensiasi dapat meningkatkan pemahaman siswa secara signifikan.
Contohnya, ketika mengajar pecahan, guru dapat memanfaatkan ilustrasi, potongan kertas, atau benda nyata sebelum beralih ke simbol angka. Dengan pendekatan ini, murid memperoleh pemahaman yang lebih jelas. Jika banyak siswa mengalami kesulitan yang sama, guru perlu meninjau kembali metode penyampaian materi dan menyiapkan penjelasan alternatif.
Selain faktor di atas ada satu faktor yang kadang tertinggal di anak zaman sekarang yaitu tidur yang cukup. Siswa yang kurang tidur membutuhkan waktu lebih lama dalam memahami materi karena karena otak tidak lagi memiliki kapasitas optimal untuk konsentrasi, memproses informasi baru, dan mengintegrasikan memori.
Selain itu, Penguatan informasi baru dari memori sementara menjadi memori jangka panjang terjadi selama tidur, terutama pada fase non-REM. Jika tidak cukup tidur, otak akan kesulitan mengkonsolidasikan pelajaran yang baru dipelajari.
Sumber: UNICEF Indonesia, Dokumentasi pembelajaran anak di Papua.
https://www.unicef.org/indonesia/coronavirus/stories/back-to-school-wherever-students-are?utm_source=chatgpt.com
Lalu bagaimana solusi agar anak cepat paham terhadap materi?
Dalam memahami cepat atau lamabat sebanarnya tergantung bagaimana diri sendiri berkembang, karena setiaap orang memiliki pemahaman yang berbeda. Namun, ada beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai solusi saat ini. Kita bisa menggunakan metode belajar aktif, dimana pembelajaran berpusat pada siswa sehingga otak bisa bekerja untuk mengolah informasi, bukan sekadar memutar ulang secara pasif.
Pertama, pastikan anak telah menguasai materi dasar sebelum beralih ke materi yang lebih kompleks.
Kedua, bagi materi menjadi potongan‑potongan kecil supaya lebih mudah dipahami.
Ketiga, minta anak menjelaskan kembali materi dengan kata‑kata‑nya sendiri untuk mengidentifikasi bagian yang sudah dipahami dan yang belum. Anak juga harus diberikan peluang untuk bertanya tanpa rasa takut akan kritik.
Bukan hanya tugas guru, orang tua juga harus bisa berpartisipasi untuk dapat menawarkan dukungan, latihan secara bertahap, dan cukup waktu istirahat untuk anak. Apabila kesulitan belajar terus berlanjut, anak bisa dibantu melalui diskusi dengan guru. Apabila anak masih kesulitan diperlukannya tenaga profesional yang tepat.
Setiap anak memiliki kesempatan untuk terus berkembang
Pada akhirnya, setiap anak memiliki pengalaman, kebutuhan, dan proses belajar yang unik. Anak yang memerlukan waktu lebih lama tidak berarti kurang pintar atau tidak mampu tumbuh. Ia mungkin membutuhkan penguatan materi dasar, metode belajar yang berbeda, dukungan emosional, atau latihan yang lebih intensif.
Alih-alih membandingkan kecepatan belajar anak, lebih bijaksana membantu mereka menemukan cara belajar yang tepat. Karena tujuan pendidikan bukan hanya agar anak memahami pelajaran secepat mungkin, melainkan untuk mendukung setiap anak terus belajar, berkembang, dan meraih potensinya.
Penulis: Hilyah Zahra
Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Editor. Tim Redaksi
REFERENSI:
Astuti, S. P. (2015). Pengaruh Kemampuan Awal dan Minat Belajar terhadap Prestasi Belajar Fisika. Jurnal Formatif, 5, 68. https://doi.org/10.30998/formatif.v5i1.167
Babullah, R. (2022). TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF JEAN PIAGET & PENERAPAN NYA dlm PEMBELAJARAN. EPISTEMIC: JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN, 01(02), 131–152. https://doi.org/10.70287/epistemic.v1i2.10
OECD. (2022). PISA 2022 Results : Country note for Indonesia. Journal Pendidikan, 10. https://www.oecd.org/publication/pisa-2022-results/country-notes/malaysia-1dbe2061/.
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment