Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Bukan Malas, Mungkin Kesulitan: Memahami Hambatan Belajar pada Anak SD/MI
gambar: suara.com
APERO PUBLIC I Pernahkah kita melihat seorang siswa Sekolah Dasar yang kesulitan untuk memahami pembelajaran, pasif ketika dikelas atau telat dalam mengerjakan tugas dari guru? Sering sekali, anak tersebut langsung dicap sebagai ‘Anak Malas’ atau anak yang tidak semangat dalam belajar. Namun, apakah benar mereka hanya bersikap malas? Bisa jadi, di balik diam, menangis, atau amuk ketika diajak belajar, karena adanya hambatan yang dihadapi siswa.
Setiap anak memiliki kemampuan dan kecepatan belajar yang berbeda-beda. Ada beberapa anak lebih cepat mengerti pelajaran melalui penjelasan lisan, sementara yang lain lebih cepat memahami melalui ujian praktik, dan lainnya. Karena itu, guru dan orang tua perlu mengerti alasan dibalik mengapa anak mengalami kesulitan belajar sebelum menilainya.
Mengenal Hambatan Belajar pada Anak
Menurut Lobo (2025) dalam artikel oleh World Vision Canada, Hambatan dalam belajar adalah hambatan belajar merupakan segala sesuatu yang membuat seseorang kesulitan untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan dengan baik. Masalah ini dapat muncul ketika anak mengalami kesulitan membaca, menulis, berhitung, memusatkan perhatian, atau mengingat pelajaran.
Beberapa jenis kesulitan belajar yang perlu diketahui antara lain:
- Disleksia: kesulitan dalam membaca dan mengeja kata.
- Disgrafia: kesulitan menulis dengan rapi.
- Diskalkulia: kesulitan memahami angka dan berhitung.
- Kesulitan perhatian: anak sulit menjaga fokus dan mudah terganggu, misalnya pada anak dengan ADHD.
Namun, anak yang membaca lambat atau kesulitan berkonsentrasi belum tentu mengalami gangguan tertentu. Diperlukan pengamatan lebih lanjut untuk menentukan penyebabnya.
Apa Penyebab Hambatan Belajar?
Belajar bisa terhambat oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi kurang tidur, sulit berkonsentrasi, kecemasan, atau belum menguasai materi dasar. Faktor eksternal mencakup metode mengajar yang tidak cocok, lingkungan rumah yang tidak mendukung, minimnya dukungan orang tua, serta penggunaan gadget berlebihan.
Contohnya, seorang murid kesulitan menuntaskan soal matematika karena belum paham penjumlahan dasar. Jika langsung diberi soal lebih kompleks, ia malah semakin bingung. Oleh karena itu, guru harus mengetahui bagian mana yang belum dikuasai agar dapat memberikan bantuan yang sesuai.
Apa Dampaknya Jika Anak Terus Dianggap Malas?
Ketika ada seorang anak terus dipanggil malas, ia akan merasa kehilangan kepercayaan dalam dirinya dan akan terus merasa takut untuk mencoba sesuatu. Ia mungkin memilih diam Ketika tidak memahami pelajaran karena ia takut membuat kesalahan atau dimarahi.
Sebenarnya, anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas belum tentu tidak mau belajar. Ia mungkin memerlukan penjelasan yang lebih sederhana atau waktu tambahan agar dapat memahami materi. Jika terus disalahkan, semangat belajar anak justru bisa berkurang.
Bagaimana Cara Membantu Anak?
Guru dapat membantu siswa dengan melihat kesulitan yang mereka alami dan menggunakan cara mengajar yang lebih menarik, seperti memakai gambar, sebuah games edukatif, atau benda-benda di sekitar. Siswa yang belum memahami pelajaran juga bisa diberikan latihan secara bertahap sesuai dengan kemampuannya.
Orang tua juga dapat mendampingi anak belajar di rumah, misalnya dengan membaca buku bersama atau belajar berhitung melalui kegiatan sehari-hari. Ketika anak mendapat nilai rendah, orang tua sebaiknya tidak langsung memarahi, tetapi bertanya, “Bagian mana yang masih sulit?” Dengan begitu, anak akan merasa diperhatikan dan lebih berani menceritakan kesulitannya.
Selain itu, guru dan orang tua perlu bekerja sama untuk melihat perkembangan anak.
Berhenti Memberi Label, Mulailah Memahami
Setiap anak berhak untuk tumbuh. Keberhasilan belajar tidak semata-mata diukur dari nilai tinggi, melainkan juga melalui pencapaian kecil, seperti menjadi lebih lancar membaca, memahami pelajaran baru, atau berani bertanya kepada guru. Sebelum menyebut anak itu malas, lebih baik kita terlebih dahulu mengidentifikasi kendala yang ia alami.
Mungkin ia tidak menolak belajar, melainkan memerlukan metode, waktu, dan dukungan yang berbeda. Seringkali, anak tidak membutuhkan teguran lebih keras, melainkan pemahaman, kesabaran, dan sokongan agar dapat berkembang sesuai kemampuannya.
Oleh: Merika Natasya Putri
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment