Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Mampukah STEAM Menjawab Tantangan Era Koding dan AI di Sekolah Dasar?
Ilustrasi siswa-siswi dalam pembelajaran Steam. Gambar. unsplash.com
APERO FUBLIC I Pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) mulai diterapkan sebagai mata pelajaran pilihan dalam sistem pendidikan nasional sejak tahun ajaran 2025/2026. Kebijakan yang diatur melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 ini dilaksanakan secara bertahap, dimulai dari kelas V SD/MI, kelas VII SMP/MTs, dan kelas X SMA/SMK sederajat (Kemendikdasmen, 2025).
Namun, di balik itu, muncul pertanyaan penting: apakah pengenalan teknologi saja cukup untuk menyiapkan anak menghadapi masa depan? Apakah siswa mudah memahaminya tanpa adanya pendekatan pembelajaran yang interaktif? Di sinilah metode pembelajaran STEAM hadir untuk melengkapi pembelajaran koding dan AI.
STEAM Menjadi Jembatan Era Digital
STEAM adalah pendekatan pembelajaran interaktif yang menghubungkan beberapa unsur, yakni Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics. Koding dan AI ditempatkan sebagai mata pelajaran pilihan sehingga pelaksanaannya perlu menyesuaikan kesiapan sekolah dan minat siswa.
Ilustrasi siswa-siswi melakukan percobaan pada proyek berbasis steam. Gambar. unsplash.com.
Dalam konteks tersebut, STEAM ini mampu menjadi jembatan penghubung antara teknologi dan pengalaman belajar sehari-hari. Siswa tidak hanya mempelajari koding dengan sesuatu yang rumit seperti hafalan, mengerjakan soal, atau memecahkan masalah, tetapi direalisasikan menjadi pembelajaran integratif melalui aksi nyata.
Sebagai contoh, para siswa diajarkan untuk membuat animasi dasar mengenai siklus air melalui aplikasi perangkat lunak yang mudah digunakan. Hasilnya, mereka akan memperoleh pengetahuan mengenai sains tentang bagaimana hujan terbentuk, metode teknologi dalam membuat animasi, koding melalui urutan gerakan, mempercantik tampilan animasi dengan menggabungkan unsur seni, serta menghitung urutan atau waktu adegan melalui matematika.
Di sisi lain, AI dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran melalui langkah-langkah sederhana seperti membandingkan jawaban yang diberikan oleh AI dengan jawaban yang terdapat dalam buku serta temuan yang diperoleh melalui pengamatan langsung. Dengan cara ini, peserta didik tidak hanya akan memanfaatkan teknologi tersebut, tetapi juga memverifikasi informasi.
Ilustrasi minimnya fasilitas sekolah. Gambar: harianrakyatbengkulu.bacakoran.co
Peluang Besar, Kesiapan Belum Merata
Potensi STEAM juga terlihat dalam penelitian Revenaya, Subali, dan Ellianawati (2025). Melalui tinjauan sistematis terhadap 54 artikel terindeks Scopus yang terbit pada 2020–2024, mereka mengidentifikasi manfaat AI dalam pendidikan dasar, antara lain pembelajaran yang lebih personal, peningkatan keterlibatan siswa, dan dukungan terhadap literasi digital.
Namun, keterbatasan infrastruktur, kesiapan guru, biaya, dan perlindungan data anak tetap menjadi tantangan. Pertanyaan ini menjadi sangat penting ketika membahas kondisi sekolah-sekolah di Indonesia saat ini, yang kondisinya bisa sangat bervariasi.
Jelas bahwa sekolah dengan kondisi yang baik, terutama dalam hal ketersediaan perangkat digital dan akses internet, akan memiliki lebih banyak peluang untuk menerapkan teknologi dalam proses pendidikannya dibandingkan sekolah dengan kondisi yang kurang memadai. Jika kebijakan semacam itu hanya didasarkan pada penggunaan perangkat teknologi canggih, perbedaan kualitas pendidikan justru mungkin semakin melebar.
Masalah yang sama juga diuraikan dalam laporan NU Online edisi Januari 2025 yang ditulis oleh Abdullah Ubaid Matraji, Koordinator Nasional Jaringan Pemantauan Pendidikan Indonesia (JPPI).
Ia berpendapat bahwa peningkatan keterampilan siswa dalam membaca, matematika, sains, dan karakter harus didahulukan sebelum memperkenalkan mereka pada pendidikan pemrograman dan kecerdasan buatan (AI), guna menghindari semakin melebarnya kesenjangan pendidikan akibat kurangnya kesiapan guru dan kondisi di sekolah (NU Online, 2025).
Gambar. istockphoto.com
Kritik tersebut patut diperhatikan karena siswa yang tidak dapat membaca dengan baik tidak akan mampu menafsirkan respons yang dihasilkan oleh AI, sementara keterampilan matematika dan logika tetap diperlukan untuk memahami algoritma.
Bukan Sekadar Mengikuti Tren Teknologi
Pendekatan STEAM dapat membantu sekolah-sekolah mengintegrasikan koding dan AI ke dalam proses pembelajaran yang produktif. Namun demikian, keberhasilan upaya ini tidak bergantung pada seberapa banyak aplikasi yang akan digunakan, melainkan pada kualitas pengalaman belajar, keterampilan guru, dan kesempatan siswa untuk bereksperimen.
Pemerintah seharusnya memperkuat pelatihan guru, menawarkan alternatif pembelajaran tanpa menggunakan perangkat digital, serta mengevaluasi siswa tidak hanya berdasarkan hasil akhir karya mereka, tetapi juga berdasarkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kerja sama tim, dan tanggung jawab digital mereka.
Pada akhirnya, pendekatan STEAM dapat menjadi solusi bagi masalah-masalah yang terkait dengan era pemrograman dan kecerdasan buatan jika diterapkan secara kontekstual dan inklusif. Faktanya, tujuan pendidikan dasar bukanlah untuk menghasilkan anak-anak yang mampu menggunakan teknologi; tujuannya adalah menumbuhkan generasi yang mampu berpikir kritis dan bijak dalam menggunakan teknologi.
Teknologi berkembang pesat, namun kemampuan manusia dalam memecahkan masalah dan mengambil keputusan tetap menjadi unsur kunci dalam pendidikan.
Penulis: Salsabila Mahmada
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment