Feature
Kampus
Mahasiswi
Ketika Pagi Dimulai dengan Al-Qur’an: Menumbuhkan Kesadaran Spiritual dari Bangku Sekolah
Melihat kegiatan bimbingan membaca Al-Qur’an di SMP Krida Wacana, melalui perspektif psikologi pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Pagi Hari yang Dimulai dengan Al-Qur’an
APERO FUBLIC I Pagi hari di SMP Krida Wacana tidak langsung diawali dengan kegiatan pembelajaran akademik. Sebelum memasuki pelajaran, para siswa terlebih dahulu mengikuti kegiatan bimbingan membaca Al-Qur’an yang menjadi bagian dari rutinitas sekolah.
Kegiatan ini berlangsung setiap pagi selama kurang lebih 30 menit. Dengan didampingi guru yang bertugas, para siswa membaca bersama surah-surah Al-Qur’an yang telah ditentukan. Waktu tersebut menjadi kesempatan bagi peserta didik untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an sebelum menjalani berbagai aktivitas pembelajaran sepanjang hari.
Sekilas, kegiatan tersebut mungkin terlihat sederhana. Siswa mengikuti arahan guru, membaca ayat-ayat Al-Qur’an bersama-sama, kemudian melanjutkan kegiatan belajar sebagaimana biasanya. Namun, dari sudut pandang pendidikan, rutinitas ini menyimpan persoalan yang menarik untuk dikaji.
Apakah kegiatan membaca Al-Qur’an setiap pagi cukup untuk menumbuhkan kesadaran spiritual peserta didik? Ataukah diperlukan proses pendidikan yang lebih mendalam agar kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kebiasaan yang dilaksanakan karena aturan sekolah?
Pertanyaan ini penting karena pendidikan agama tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang menjalankan suatu aktivitas keagamaan, tetapi juga menyangkut bagaimana nilai-nilai agama dipahami, dihayati, dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Sekolah sebagai Ruang Pembentukan Kebiasaan dan Nilai
Sekolah bukan sekadar tempat peserta didik memperoleh pengetahuan akademik. Di dalamnya, siswa juga mempelajari kedisiplinan, tanggung jawab, hubungan sosial, dan nilai-nilai yang menjadi pedoman dalam kehidupan.
Dalam konteks Pendidikan Agama Islam, proses pembelajaran idealnya tidak berhenti pada penguasaan materi. Pengetahuan mengenai ajaran Islam perlu dihubungkan dengan pengalaman nyata agar peserta didik memiliki kesempatan untuk membangun kebiasaan dan mengembangkan sikap keagamaan.
Kegiatan membaca Al-Qur’an setiap pagi di SMP Krida Wacana dapat dilihat sebagai salah satu bentuk penerapan pendidikan agama dalam keseharian sekolah. Melalui jadwal yang teratur, siswa memperoleh kesempatan untuk membiasakan diri berinteraksi dengan kitab suci, bukan hanya ketika mengikuti mata pelajaran PAI.
Penelitian Lally dan rekan-rekannya (2010) mengenai pembentukan kebiasaan menunjukkan bahwa pengulangan suatu perilaku dalam konteks yang relatif konsisten berperan dalam berkembangnya kebiasaan. Temuan ini membantu menjelaskan mengapa kegiatan yang dilaksanakan secara rutin memiliki nilai pendidikan.
Meskipun demikian, kebiasaan melakukan suatu kegiatan tidak selalu berarti seseorang telah memahami makna kegiatan tersebut. Di sinilah pendampingan guru menjadi penting.
Membaca Al-Qur’an dalam Perspektif Psikologi Pembelajaran
Psikologi pembelajaran memberikan sejumlah perspektif untuk memahami kegiatan membaca Al-Qur’an yang dilakukan secara teratur.
Pertama, teori behaviorisme yang dikembangkan B. F. Skinner menjelaskan pentingnya hubungan antara perilaku, lingkungan, dan konsekuensi yang mengikuti perilaku tersebut.
Dalam kegiatan membaca Al-Qur’an, jadwal yang konsisten dapat membantu membentuk pola perilaku belajar. Sementara itu, apresiasi dan umpan balik positif dari guru berpotensi memperkuat keterlibatan siswa. Akan tetapi, pengulangan kegiatan semata belum cukup untuk memastikan bahwa peserta didik telah mengembangkan kesadaran beragama.
Kedua, teori sosial-kognitif Albert Bandura menekankan bahwa manusia juga belajar melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain. Dalam lingkungan sekolah, guru mempunyai peran penting sebagai model atau teladan.
Ketika guru memberikan contoh bacaan yang baik, menunjukkan kesabaran saat membimbing, serta memperlakukan siswa dengan penuh penghargaan, peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang tidak hanya berkaitan dengan keterampilan membaca, tetapi juga dengan sikap dan nilai.
Ketiga, Self-Determination Theory yang dikembangkan Richard Ryan dan Edward Deci menjelaskan bahwa motivasi belajar dipengaruhi oleh terpenuhinya tiga kebutuhan psikologis, yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial.
Dalam kegiatan membaca Al-Qur’an, kebutuhan kompetensi dapat didukung ketika siswa mendapatkan bimbingan sesuai kemampuan. Keterhubungan sosial tumbuh melalui hubungan yang positif antara guru dan peserta didik. Sementara itu, otonomi dapat dikembangkan dengan membantu siswa memahami tujuan kegiatan dan memberikan ruang untuk belajar secara lebih mandiri.
Menurut Niemiec dan Ryan (2009), lingkungan pembelajaran yang mendukung kebutuhan psikologis tersebut dapat membantu peserta didik mengembangkan motivasi belajar yang lebih mandiri.
Perspektif ini mengingatkan bahwa tujuan pendidikan bukan hanya membuat siswa bersedia mengikuti kegiatan karena kewajiban, melainkan membantu mereka memahami alasan dan nilai dari kegiatan yang dijalankan.
Dari Rutinitas Menuju Pertumbuhan Spiritual
Bagian terpenting dari kegiatan membaca Al-Qur’an bukan semata-mata terletak pada seberapa sering aktivitas tersebut dilaksanakan, tetapi juga pada proses pembelajaran yang menyertainya.
Setidaknya terdapat beberapa tahapan yang dapat diperhatikan dalam mengembangkan pendidikan spiritual melalui kegiatan ini.
Tahap awal adalah partisipasi dan pembiasaan, ketika peserta didik mulai terbiasa menyediakan waktu untuk membaca Al-Qur’an. Pada tahap ini, sekolah memberikan lingkungan yang mendukung keteraturan aktivitas keagamaan.
Tahap berikutnya adalah pengembangan kemampuan membaca. Siswa tidak hanya diarahkan untuk mengikuti bacaan bersama, tetapi juga memperoleh bantuan dalam memperbaiki pelafalan huruf, tajwid, dan kelancaran membaca sesuai kebutuhan masing-masing.
Selanjutnya adalah pemahaman makna. Membaca Al-Qur’an dapat menjadi lebih bermakna apabila peserta didik diberi kesempatan mengenali pesan-pesan yang terkandung dalam ayat yang dibaca.
Misalnya, ketika membaca ayat yang berkaitan dengan kejujuran, guru dapat mengajak siswa mendiskusikan pentingnya berkata benar kepada orang tua, guru, dan teman. Ketika membaca ayat mengenai kepedulian terhadap sesama, siswa dapat diajak menghubungkannya dengan perilaku saling membantu di lingkungan sekolah.
Tahapan yang lebih mendalam adalah penghayatan dan penerapan nilai. Pada tahap ini, siswa didampingi agar mampu merefleksikan hubungan antara pesan Al-Qur’an dan keputusan yang mereka ambil dalam kehidupan.
Namun, tahapan tersebut bukan ukuran mutlak untuk menentukan tingkat keimanan seseorang. Perkembangan spiritual merupakan proses personal yang dipengaruhi oleh pengalaman, lingkungan keluarga, kesiapan psikologis, dan pendampingan pendidikan.
Siswa yang lancar membaca Al-Qur’an belum tentu telah memahami seluruh pesan yang dibacanya. Sebaliknya, siswa yang masih mengalami kesulitan membaca tidak seharusnya dianggap memiliki kesadaran spiritual yang lebih rendah.
Karena itu, pendidikan spiritual perlu dilaksanakan secara manusiawi, bertahap, dan menghargai perbedaan kemampuan peserta didik.
Peran Guru: Bukan Hanya Membimbing Bacaan
Kegiatan membaca Al-Qur’an selama 30 menit setiap pagi dapat dikembangkan menjadi pengalaman pembelajaran yang lebih bermakna tanpa harus menghilangkan rutinitas yang telah berjalan.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan sekolah adalah memberikan pendampingan berdasarkan kemampuan membaca siswa. Peserta didik yang membutuhkan bantuan dasar dapat memperoleh perhatian khusus, sedangkan siswa yang lebih lancar dapat dibimbing memperdalam ketepatan bacaan dan pemahamannya.
Guru juga perlu memberikan umpan balik secara konstruktif. Kesalahan membaca hendaknya dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan alasan untuk mempermalukan peserta didik di hadapan teman-temannya.
Selain itu, sekolah dapat menyisipkan refleksi singkat mengenai pesan surah yang dibaca. Pertanyaan sederhana seperti, “Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari ayat hari ini?” dapat menjadi pintu masuk untuk menghubungkan bacaan dengan kehidupan nyata.
Keberhasilan kegiatan dapat dievaluasi melalui perkembangan kemampuan membaca, keterlibatan dalam proses belajar, serta kemampuan siswa menjelaskan dan merefleksikan nilai yang dipelajari.
Adapun perubahan sikap dan perilaku dapat diamati secara bertahap melalui keseharian siswa, tanpa menjadikannya sebagai penilaian mutlak terhadap kualitas spiritual atau keimanan individu.
Dengan demikian, guru tidak hanya berperan sebagai pemimpin kegiatan membaca, tetapi juga sebagai pendamping yang membantu siswa menemukan makna dari aktivitas keagamaan yang mereka lakukan.
Pendidikan Spiritual yang Bermakna
Rutinitas membaca Al-Qur’an setiap pagi di SMP Krida Wacana merupakan kesempatan pendidikan yang berharga. Di tengah berbagai tuntutan akademik, sekolah menyediakan waktu khusus bagi peserta didik untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an secara teratur.
Namun, nilai pendidikan dari kegiatan tersebut tidak cukup diukur berdasarkan terlaksananya jadwal atau banyaknya ayat yang selesai dibaca.
Kualitas pendampingan, perkembangan kemampuan membaca, kesempatan memahami makna, dan proses refleksi peserta didik merupakan aspek penting yang juga perlu diperhatikan.
Dari perspektif psikologi pembelajaran PAI, pembiasaan menyediakan landasan perilaku, keteladanan guru memberikan contoh nyata, sedangkan dukungan terhadap motivasi siswa membuka peluang tumbuhnya kesadaran yang lebih mandiri.
Pada akhirnya, pendidikan spiritual yang bermakna bukan hanya tentang membiasakan peserta didik membaca Al-Qur’an setiap pagi, melainkan juga mendampingi mereka agar mampu memahami, menghargai, dan berusaha menghidupkan nilai-nilainya.
Sebab keberhasilan pendidikan Al-Qur’an bukan hanya ketika ayat-ayatnya terbiasa dibaca, tetapi juga ketika pesan-pesannya mulai dipahami dan menjadi bahan renungan dalam menjalani kehidupan.
Oleh: Intan Velia Khoirunisah
Mahasiswi Pascasarjana, UIN Jurai Siwo Lampung.
Editor. Tim Redaksi
Referensi Ilmiah
Bandura, A. (1986). Social foundations of thought and action: A social cognitive theory. Prentice-Hall.
Lally, P., van Jaarsveld, C. H. M., Potts, H. W. W., & Wardle, J. (2010). How are habits formed: Modelling habit formation in the real world. European Journal of Social Psychology, 40(6), 998–1009. https://doi.org/10.1002/ejsp.674
Niemiec, C. P., & Ryan, R. M. (2009). Autonomy, competence, and relatedness in the classroom: Applying self-determination theory to educational practice. Theory and Research in Education, 7(2), 133–144. https://doi.org/10.1177/1477878509104318
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, 55(1), 68–78. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.1.68
Skinner, B. F. (1953). Science and human behavior. Macmillan.
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment