Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Yogyakarta
Jika Jurusan Pendidikan Dihapus, Bagaimana Nasib Yogyakarta Sebagai Kota Pelajar?
APERO FUBLIC I OPINI.- Julukan Yogyakarta sebagai Kota Pelajar ini berasal dari banyaknya pusat-pusat pendidikan yang berdiri di Yogyakarta. Mulai dari sekolah sampai dengan universitas negeri maupun swasta.
Berbagai mahasiswa dari luar kota ini menuntut ilmu dengan harapan pulang ke kampung halaman mereka sendiri untuk mendapatkan gelar sarjana dan pekerjaan yang sesuai. Sebagian besar Kota Yogyakarta ini adalah mahasiswa dengan jurusan pendidikan.
Namun, bagaimana dengan rencana Kemendiktisaintek per April-Mei 2026 yang mengkaji penutupan atau restrukturisasi jurusan kependidikan yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri? Apakah ini akan berpengaruh terhadap Kota Pelajar, atau justru malah menghilangkan jati dirinya?.
Jika jurusan pendidikan ini benar dihapus, maka akan sangat merugikan universitas yang bergantung pada jurusan pendidikan, seperti Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, Universitas Mercu Buana Yogyakarta dan Universitas PGRI Yogyakarta yang memiliki berbagai jurusan pendidikan dan melahirkan calon guru, akan terdampak.
Akibatnya bukan hanya mahasiswa jurusan pendidikan yang dirugikan melainkan Kota Yogyakarta sendiri juga ikut dirugikan.
Kehadiran mahasiswa pendidikan di Yogyakarta juga menciptakan ruang diskusi, organisasi kemahasiswaan, dan gerakan sosial.
Banyak komunitas literasi, bimbel gratis, dan pengabdian masyarakat lahir dari mahasiswa jurusan pendidikan. Jika mereka berkurang, maka denyut intelektual di kampung-kampung Jogja juga akan melemah. Kota Pelajar bukan hanya soal jumlah kampus, tapi soal semangat belajar yang hidup di masyarakat.
Sebagai calon guru Bimbingan dan Konseling, saya merasakan langsung dampaknya. Karena jurusan ini termasuk ke dalam Pendidikan, namun tidak hanya mencetak sebagai guru tetapi juga sebagai pendamping mental bagi siswa.
Di tengah meningkatnya kasus bullying, kecemasan dan putus sekolah, peran guru BK sangat dibutuhkan. Jika jurusan Pendidikan ditutup tanpa melihat kebutuhan yang ada di sekolah, maka kita akan kehilangan tenaga ahli yang paham psikologi remaja.
Angka 490 ribu lulusan memang besar, tetapi apakah 20 ribu kebutuhan itu sudah menghitung guru BK di setiap sekolah?. Pemerintah harus memastikan data yang dipakai akurat, jangan sampai kebijakan penghematan justru akan menimbulkan kerugian.
Berdampak pada ekonomi masyarakat, di mulai dari berkurangnya mahasiswa dari luar yang mencari kost, rumah makan disekitar kampus yang mulai sepi, serta percetakan dan toko buku yang akan mengalami penurunan pelanggan. Padahal sebagian masyarakat di Kota Yogyakarta bergantung pada mahasiswa tersebut.
Berdasarkan pengamatan di sekitar kampus di Yogyakarta, satu mahasiswa pendidikan rata-rata menghabiskan 1,5 juta per bulan untuk kos, makan, dan kebutuhan kuliah. Dengan ribuan mahasiswa pendidikan aktif, perputaran uang di wilayah tersebut mencapai miliaran rupiah setiap bulan.
Jika jumlah mahasiswa berkurang drastis, UMKM sekitar kampus akan terdampak. Pemerintah daerah Yogyakarta harus ikut bersuara, karena kebijakan pusat ini menyangkut roda ekonomi warga Jogja.
Negara sudah menjamin hak pendidikan bagi setiap warga negara Indonesia melalui Pasal 31 UUD 1945. Negara bahkan wajib mengalokasikan minimal 20 % anggaran APBN dan APBD untuk pendidikan.
Jika jurusan pendidikan dihilangkan tanpa ada pertimbangan mengenai kebutuhan guru di semua daerah yang ada di Indonesia, regenerasi sebagai pendidik, dan siapa yang akan menjadikan calon penerus bangsa nanti? Hal ini wajib dan patut untuk dipertanyakan, karena sudah melanggar Pasal yang ada di Undang-Undang Dasar 1945.
Yogyakarta sangat butuh dialog antara Kemendiktisaintek, kampus dan pemerintah daerah agar kebijakan ini tidak membunuh identitas sebagai Kota Pelajar.
Jangan hanya untuk hal kecil jurusan pendidikan ini akan dihapus, namun perlu mempertimbangkan banyak hal, karena jika hal ini terjadi maka kita justru menciptakan krisis guru di masa depan.
Sudah saatnya pemerintah berpikir ulang. Jangan biarkan Kota Pelajar seperti Yogyakarta menjadi kota tanpa pelajar pendidikan. Karena jika guru tidak lahir dari Yogyakarta, siapa yang akan mendidik generasi bangsa selanjutnya?
Lalu nasib mahasiswa lulusan pendidikan akan seperti apa? Jelas, justru akan menimbulkan pengangguran yang sangat besar.
"Yogyakarta, 11 Mei 2026"
PENULIS : Marisa Ardiwardani
Mahasiswi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment