Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Hoaks di Media Sosial dan Ancaman terhadap Demokrasi
APERO FUBLIC I OPINI.- Perkembangan teknologi digital memang sudah mengubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sekarang, media sosial jadi tempat utama orang untuk berbagi informasi, berdiskusi, sampai ikut membahas isu politik.
Tapi di balik semua kemudahan itu, ada masalah besar yang ikut muncul, yaitu penyebaran hoaks atau berita palsu yang makin sering terjadi. Hal ini bukan cuma bikin informasi jadi kacau, tapi juga bisa mengganggu jalannya demokrasi di Indonesia.
Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Digital, jumlah hoaks yang beredar di internet masih cukup tinggi. Sepanjang tahun 2024 sampai 2025, ada ribuan konten hoaks yang ditemukan di berbagai media sosial.
Bahkan dalam waktu sekitar satu tahun saja, lebih dari 1.800 konten hoaks sudah berhasil diidentifikasi dan ditangani pemerintah. Fakta ini menunjukkan kalau hoaks bukan masalah kecil, tapi sudah jadi persoalan serius yang terus muncul seiring makin banyaknya pengguna internet di Indonesia.
Dalam kehidupan demokrasi, hoaks ini sangat berbahaya. Demokrasi yang sehat butuh masyarakat yang mendapatkan informasi yang benar dan bisa dipercaya. Kalau hoaks terus menyebar, orang jadi sulit membedakan mana informasi yang fakta dan mana yang bohong.
Akhirnya, pendapat masyarakat bisa terbentuk dari informasi yang salah. Ini tentu bisa berpengaruh ke banyak hal, seperti pemilihan umum, kebijakan pemerintah, sampai cara orang menilai suatu isu.
Selain itu, hoaks juga bisa bikin masyarakat terpecah. Di media sosial, berita palsu sering cepat menyebar karena isinya biasanya sensasional dan memancing emosi.
Akibatnya, orang mudah terbawa perasaan dan akhirnya saling berseberangan satu sama lain. Kalau sudah begini, persatuan bisa terganggu dan nilai demokrasi seperti musyawarah serta saling menghargai jadi melemah.
Kalau dilihat dari pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), kondisi ini jadi tantangan besar dalam membentuk warga negara yang cerdas dan bertanggung jawab.
Masyarakat seharusnya bisa berpikir kritis, tidak langsung percaya begitu saja, dan mampu memeriksa kebenaran suatu informasi. Kalau tidak, orang bisa dengan mudah termakan hoaks yang mungkin sengaja dibuat untuk kepentingan tertentu, baik politik maupun ekonomi.
Karena itu, literasi digital sangat penting untuk menghadapi masalah ini. Masyarakat perlu dibiasakan untuk mengecek dulu kebenaran informasi sebelum membagikannya, serta tahu mana sumber yang terpercaya.
Pemerintah memang sudah berusaha mengedukasi masyarakat dan menindak penyebar hoaks, tapi semua itu tidak akan berhasil maksimal kalau tidak didukung oleh kesadaran masyarakat sendiri.
Oleh : Dionisius Petra Anggoro
Mahasiswa Prodi Ilmu Keolahragaan di Universitas, Mercu Buana Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment