Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
FOMO: Dorongan Positif atau Racun Halus dalam Kehidupan Sehari-hari?
APERO FUBLIC I OPINI.- NFOMO, atau Fear Of Missing Out, adalah ketakutan emosional yang muncul ketika seseorang merasa sedang ketinggalan pengalaman menarik atau kesempatan penting yang dialami orang lain. Dalam era media sosial seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp, FOMO sering dipicu oleh postingan teman-teman yang menunjukkan liburan, pesta, atau acara eksklusif. Ini bukan sekadar rasa iri, melainkan kecemasan yang bisa memengaruhi keputusan sehari-hari.
Adapun pengaruh Positif FOMO dalam Kehidupan Sehari-hari. FOMO bisa menjadi motivator yang positif. Misalnya, ia mendorong kita untuk keluar dari zona nyaman, seperti bergabung dalam acara sosial yang sebelumnya dihindari, atau mencoba hobi baru karena melihat orang lain menikmatinya. Dalam konteks produktivitas, FOMO bisa mendorong seseorang untuk belajar keterampilan baru (seperti kursus online) agar tidak tertinggal dalam tren karier.
Di tingkat sosial, ia memperkuat koneksi antarindividu, karena orang cenderung lebih aktif berinteraksi untuk menghindari isolasi. Opini saya: Dalam dosis yang tepat, FOMO seperti "dorongan" yang sehat untuk eksplorasi dan pertumbuhan pribadi, terutama di masyarakat yang semakin terhubung.
Selain memiliki pengaruh positif FOMO juga pasti memiliki pengaruh Negatif FOMO untuk Kehidupan Sehari-hari. Namun, FOMO sering kali lebih merugikan daripada menguntungkan. Ia bisa menyebabkan stres kronis, kecemasan, dan gangguan tidur karena kita terus memeriksa ponsel untuk "tidak ketinggalan".
Secara finansial, FOMO mendorong pengeluaran impulsif, seperti membeli barang mahal hanya karena influencer mempromosikannya, atau ikut event yang tidak terjangkau. Dalam hubungan, ia bisa menimbulkan perasaan tidak puas dengan kehidupan sendiri, memicu perbandingan yang tidak sehat, dan bahkan depresi jika terus-menerus.
Di dunia kerja, FOMO membuat orang overwork untuk mengikuti tren seperti remote working atau side hustle, yang berujung burnout. Opini saya: FOMO adalah racun halus di era digital ini, karena ia mempromosikan budaya konsumsi dan perbandingan yang tidak realistis, sering kali mengorbankan kesejahteraan mental dan keuangan.
Secara keseluruhan, pengaruh FOMO dalam kehidupan sehari-hari lebih dominan negatif, terutama karena media sosial memperkuatnya. Ia membuat kita hidup dalam ilusi bahwa kehidupan orang lain selalu lebih menarik, padahal kenyataannya, fokus pada diri sendiri dan nilai-nilai pribadi lebih membawa kepuasan jangka panjang.
Saran saya: Kurangi paparan media sosial, tetapkan batasan digital, dan ingatkan diri bahwa "missing out" pada sesuatu sering kali berarti mendapatkan kesempatan lain yang lebih bermakna. Jika FOMO sudah mengganggu, konsultasikan dengan ahli kesehatan mental.
PENULIS: NABILA SALSABIL
Mahasiswi Universitas Kebangsaan Republik Indonesia
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment