Cerpen
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Sastra Kita
Dua Saudara di Dunia Kecil
APERO FUBLIC I CERPEN.- Pohon mangga tua di halaman rumah itu sudah menjadi saksi hidup dari segala tingkah Arya dan Bima. Setiap hari, pohon itu diserbu oleh dua bocah yang tak pernah kehabisan ide untuk bertengkar, bermain, lalu rukun lagi dalam waktu kurang dari lima menit.
Pagi itu, seperti biasa, Arya membuat misi rahasia, ia ingin memanjat pohon mangga sampai dahan paling tinggi. “Aku ini ksatria penjaga mangga kerajaan!” serunya sambil menunjuk ke langit.
Bima langsung memelototkan mata, wajahnya memerah, bibirnya mencabik kesal langsung protes. “Terus aku ini apa?”
“Ya… kucing kampung yang tersesat.”
“Apa?? Kakak jahat!”
Bima menghentakkan kaki keras-keras lalu mengejar Arya sambil membawa sandal jepit. Bahunya menegang, tangan nya sedikit gemetar karena marah. Namun sebelum sandal itu mengenai Arya, sandal itu malah mental dan jatuh ke kolam ikan.
Dari teras, Ibu cuma geleng-geleng. “Bima, jangan pukul kakak pakai sandal. Itu ga bagus dek!”
Arya tertawa. “Tuh kan, denger kata Ibu.”
Tapi karena tertawa sambil lari, Arya malah nabrak pintu dan mengaduh.
Bima mendekat sambil cekikikan, bahunya naik turun menahan tawa. “Tuh kan, balasan dari alam.”
Meski tingkah mereka heboh, hubungan keduanya lebih erat dari simpul sepatu yang terlalu ketat. Malam-malam mereka menghabiskan waktu di balkon sambil minum cokelat.
Ibu selalu bilang, “Kalian itu berisik, tapi ibu Bahagia karena rumah kita jadi ramai.”
Namun Ayah jarang menikmati keramaian itu. Kesibukannya membuatnya sering pulang larut. Setiap suara motor terdengar, Arya dan Bima langsung berhenti bermain dan berlari ke depan. Tapi sering kali suara itu hanya tetangga.
Suatu hari, Ayah pulang lebih awal. Tapi justru membawa kabar yang membuat Bima menjatuhkan bola dari tangannya. Wajahnya seketika pucat dan gemetar.
“Bima,” kata Ayah pelan, “untuk sementara kamu ikut Kakek ke kota, ya.”
Bima menggigit bibir bawahnya, mencabik sedikit seperti menahan tangis. Arya menatapnya, ikut tegang.
“Beberapa minggu saja. Kakek kesepian tidak ada yang menemani, dan sekolah Bima bisa pindah sementara.”
“Terus… aku tidur di kamar mana?” tanya Bima lirih.
“Kamar tamu Kakek,” jawab Ibu dengan pelan.
“Kalau malam-malam aku takut… siapa yang ngusir hantu?” Bima mendekat ke Arya seperti mencari perlindungan.
Arya menepuk dadanya sok gagah. “Kamu bilang aja: ‘permisi hantu, saya mau tidur’. Hantunya sopan kok.”
“Aku serius, kak!” Mata mulai memerah
Pada detik itu, Bima memeluk Arya dengan erat, seperti takut Arya menghilang.
Malam sebelum keberangkatan, mereka duduk di balkon. Bima menarik lututnya ke dada, tubuhnya mengecil, wajahnya murung.
“Kak,” bisiknya, “kalau aku nangis di kota, kakak bisa denger nggak?”
Arya menelan ludah. “Ya enggak lah. Kamu di kota, aku di sini.”
Bima menghela napas panjang. “Ya udah. Berarti aku nggak boleh nangis, ya.”
Arya mengetuk kepala Bima pelan. “Bukan gitu. Kamu kalau kangen, telepon aku. Nangis juga boleh. Tapi jangan sampai ingusan, nanti Kakek takut.”
Bima tertawa kecil, tapi matanya berkaca-kaca.
Dan malam itu, tidak ada tawa keras seperti biasanya. Hanya dua saudara yang saling bersandar menahan perasaan.
Hari keberangkatan itu datang seperti tamu tak diundang.
Bima berdiri di samping mobil Kakek. Wajahnya memerah menahan tangis.
Kakek berusaha mencairkan suasana.
“Bima, di kota banyak bakso enak. Kamu suka bakso, kan?”
“Tapi Kakek baksonya pedes semua…” jawab Bima lirih.
Arya memeluk adiknya begitu kuat sampai Ibu harus mengingatkan, “Arya, dia masih bisa napas kan?”
“Dikit, Bu,” jawab Bima tercekik.
Sebelum masuk mobil, Bima menahan lengan Arya. “Kak… jangan main mangga tanpa aku.”
Arya mengangguk cepat. “Nggak bakal. Aku simpanin tempatmu.”
Mobil itu akhirnya pergi, meninggalkan debu dan dua jejak kaki kecil yang tergantung di depan rumah.
Saat mobil menghilang, sesuatu dalam dada Arya ikut hilang. Seolah halaman yang luas itu tiba-tiba terasa kosong.
Hari-hari berikutnya berjalan lambat.
Arya sering duduk di bawah pohon mangga, menggoyang-goyang kaki tanpa semangat. Ia memegang pedang kayunya sendiri. Tanpa Bima, permainan itu hambar.
*****
Suatu siang, telepon berdering.
“Kak!” suara Bima kecil tapi bersemangat. “Tadi aku kejar kucing! Tapi kucingnya balik ngejar aku… terus aku jatuh ke taman bunga.”
Arya tertawa sampai terbatuk.
“Kamu itu lari apa salto?”
“Tapi kakek kaget, kak. terus kakek jatuh juga!”
“HAH?? Kakek kenapa??”
“Nggak apa-apa. Cuma nyangkut di kursi.”
Walaupun cerita itu lucu, Arya bisa mendengar suara Bima yang berubah pelan di akhir. Kadang saat malam, Bima menelepon hanya untuk berbisik, “Kak… aku udah gosok gigi.
Kamu udah?”
Atau, “Kak, aku liat bintang. Tapi kok nggak sama kayak bintang di rumah. Dan yang paling membuat Arya diam lama...
“Kak… kamu tidur di tempatku nggak? Biar tempatnya nggak dingin.”
Sampai akhirnya, Ibu membawa kabar bahagia. “Arya, besok Bima pulang.”
Arya langsung berjingkrak, melompat-lompat seperti kambing dilepas dari kandang. Ia bahkan membuat poster besar bertuliskan: SELAMAT DATANG ADIK TERHEBOHKU
Ia menyiapkan pedang kayu baru yang lebih besar, membuat mainan dari kardus, dan menyimpan dua gelas cokelat sachet di balkon.
*****
Besok Paginya, sebelum matahari naik, ia sudah duduk gelisah di teras.
Saat mobil Kakek mincul, Arya berdiri.
Pintu mobil terbuka…
“KAAA-AAK!!!”
Bima berlari seperti roket gagal kendali. Matanya berbinar, kakinya menghentak tanah karena saking bersemangat. Ia menghantam pelukan Arya sampai mereka hampir jatuh ke pot bunga.
“Aku Kangenlah!” teriak Bima sambil menepuk dada Arya.
“Aku juga. Lama banget kamu, Bim!” Arya membalas sambil tertawa.
Kakek menimpali, “Tadi di mobil nangisnya kayak kambing.”
“KEKEK BOONG!” Bima memerah.
Ayah, Ibu, dan Kakek hanya tertawa melihat dua saudara yang akhirnya kembali di dunia kecil mereka.
Hari itu suara tawa memenuhi halaman.
Bima langsung memanjat pohon mangga meski baru dua dahan sudah teriak, “KAK AKU TAKUT TURUN!”
Arya tertawa sambil menahan pinggang adiknya. “Makanya jangan sotoy, dek!”
Malamnya, mereka duduk lagi di balkon, dua gelas cokelat hangat di tangan.
Bima menyandarkan kepala di bahu Arya.
“Kak…” suaranya pelan.
“Hmm?”
“Kalau nanti aku harus pergi lagi… kakak ikut, ya?”
Arya terdiam sebentar, lalu tersenyum.
“Kalau kamu pergi jauh… aku yang ngejar.”
Bima mencibir.
“Tapi kakak larinya lambat.”
Arya menjitak kepalanya. “Ya tapi aku kakakmu. Aku nggak bakal tinggalin kamu.”
Bima terkekeh.
“Iya, iya… tapi jangan marah kalau aku jadi lebih tinggi dari kakak nanti.”
“Wah, itu baru mimpi,” balas Arya sambil mendorong pelan bahu adiknya.
Mereka tertawa kecil. Angin malam menyusup membawa aroma mangga muda dari halaman. Langit bertabur bintang-bintang yang selama ini sering Bima bandingkan setiap malam dari kota. Kini, keduanya melihat langit yang sama lagi, dari tempat yang sama.
Bima memeluk lututnya. “Kak… dunia di kota itu besar. Tapi aku tetap ngerasa kecil kalau nggak sama kakak.”
Arya melirik adiknya, lalu mengusap kepalanya pelan.
“Kalau gitu, kita buat dunia kita sendiri di sini. Dunia kecil kita. Dunia yang nggak bakal berubah, meskipun kamu pergi jauh lagi nanti.”
Bima tersenyum lebar. “Terus, pohon mangga tetap jadi istananya?”
“Ya, dan aku tetap jadi ksatria penjaga mangganya.”
“Dan aku tetap jadi…”
“Kucing kampung?” Arya menggoda.
“KA-KA-K!!!” Bima memukul bahunya dengan bantal kecil.
Arya terkekeh. “Ya udah, kamu jadi pangeran kedua.”
“Kenapa kedua??”
“Karena yang pertama kan aku.”
Bima menggerutu, tapi akhirnya tertawa lagi.
Di teras, Ibu dan Ayah memandang dari balik jendela melihat dua anak yang tumbuh sambil tetap saling menjaga.
Di bawah cahaya kuning lampu balkon, dua saudara itu bersandar lebih dekat. Tidak ada lagi ketakutan harus pergi jauh, tidak ada lagi malam penuh rindu. Yang ada hanyalah tawa kecil, gelas cokelat hangat, dan dunia kecil yang selalu menunggu mereka kembali.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah itu terasa lengkap lagi.
PENULIS: Ersi Novelia Putri
Mahasiswi
Editor. Tim Redaksi
Biografis Penulis
Dengan ini saya Ersi Novelia Putri lahir di Sumbawa pada 8 November 2005. Yang berdomisili Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, dan saat ini berstatus sebagai mahasiswa aktif Universitas Muhammadiyah Malang. Akun media sosial instagram saya @ersiinovelia_. Saya menyukai dunia kepenulisan, khususnya cerita bertema keluarga, hubungan saudara, dan dinamika emosi anak. Melalui tulisannya, ia berusaha menghadirkan kisah sederhana yang hangat dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sy. Apero Fublic
Via
Cerpen

Post a Comment