Ketika Wibawa Guru Tergerus Tekanan Publik: Dilema Profesionalisme di Era Segalanya Bisa Viral
APERO FUBLIC I OPINI.- Kasus-kasus yang melibatkan guru dan siswa kini dengan mudah mencuat ke ruang publik. Media sosial menjadikan ruang kelas bukan lagi tempat yang tertutup, melainkan panggung terbuka yang menilai guru hanya dalam hitungan menit. Di tengah tuntutan profesionalisme yang semakin kompleks, guru berada pada posisi rentan ketika setiap tindakan dapat direkam, dipotong tanpa konteks, dan disebarluaskan secara viral. Fenomena ini menegaskan bahwa wibawa guru tidak hanya bergantung pada ketegasan, tetapi juga pada dukungan sistem pendidikan, keadilan sosial, serta komunikasi yang sehat antara sekolah dan orang tua.
Tekanan publik yang begitu kuat sering kali melemahkan kepercayaan diri guru dalam menjalankan perannya. Di satu sisi, guru dituntut menjaga disiplin; namun di sisi lain, batas antara tindakan tegas dan tindakan yang dianggap melanggar semakin kabur. Ketika upaya mendisiplinkan siswa direkam dan dipublikasikan tanpa konteks, guru kerap menjadi objek kritik dan perundungan digital, tanpa kesempatan menjelaskan duduk perkara.
Beban administrasi yang terus meningkat turut memperparah situasi. Tidak sedikit guru menghabiskan lebih banyak waktu untuk melengkapi laporan dan perangkat pembelajaran daripada berinteraksi langsung dengan siswa. Tekanan dari orang tua juga menjadi problem tersendiri. Ekspektasi tinggi terhadap prestasi dan perilaku anak seringkali dibebankan sepenuhnya kepada guru, meski tidak disertai dukungan dari lingkungan rumah. Ketika muncul permasalahan, guru kerap menjadi pihak pertama yang disalahkan.
Dalam perspektif psikologi pendidikan, guru merupakan figur kunci dalam pembentukan karakter siswa. Teori perkembangan sosial Vygotsky menekankan bahwa proses belajar yang efektif membutuhkan interaksi kolaboratif antara guru dan siswa. Namun tekanan sosial yang berlebihan berpotensi mengganggu kualitas interaksi tersebut, karena guru menjadi ragu mengambil tindakan yang tepat demi menghindari salah tafsir.
Dari sudut pandang etika profesi, guru wajib mengedepankan prinsip keadilan, empati, dan profesionalisme. Nilai-nilai ini hanya dapat dijalankan dengan optimal jika didukung oleh lingkungan kerja yang aman, kebijakan sekolah yang berpihak pada pendidikan, spemahaman yang baik dari orang tua serta beban administratif guru seharusnya proporsional dan tidak mengganggu tugas inti mengajar. Minimnya dukungan tersebut membuat implementasi etika profesi guru sering terhambat.
Pemulihan wibawa guru dapat diperkuat melalui tindakan yang langsung dapat dijalankan di lingkungan sekolah. Sekolah perlu menetapkan alur komunikasi resmi bagi orang tua misalnya, seluruh keluhan wajib disampaikan terlebih dahulu melalui wali kelas atau forum sekolah serta mengadakan pertemuan koordinasi rutin untuk mencegah kesalahpahaman. Guru juga perlu mengikuti pelatihan yang relevan dan segera menerapkan hasilnya melalui penyusunan aturan kelas yang jelas, penggunaan bahasa yang profesional, serta konsistensi dalam memberikan respons terhadap perilaku siswa sesuai kesepakatan kelas. Langkah-langkah ini memastikan wibawa guru tumbuh melalui praktik nyata dalam interaksi sehari-hari.
Selain itu, sekolah dan pemerintah perlu menata ulang beban kerja agar tugas administrasi tidak menghambat proses mengajar. Sekolah dapat menyederhanakan perangkat administratif, mengalihkan sebagian pekerjaan pencatatan kepada tenaga tata usaha, dan menyediakan sistem dokumentasi yang lebih efisien. Di ruang kelas, guru perlu menerapkan disiplin positif dengan membuat kontrak belajar di awal, memberikan konsekuensi yang mendidik, serta memberi penguatan positif secara rutin. Dengan menerapkan langkah-langkah operasional ini, kolaborasi antar pihak akan lebih mudah terbentuk dan wibawa guru dapat dipulihkan secara lebih konkret.


Post a Comment