Syarce

Syarce adalah singkatan dari syair cerita. Syair cerita bentuk penggabungan cerita dan syair sehingga pembaca dapat mengerti makna dan maksud dari isi syair.

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

@Kisahku

@Kisahku adalah bentuk karya tulis yang memuat tentang kisah-kisah disekitar kita. Seperti kisah nyata, kisah fiksi, kisah hidayah, persahabatan, kisah cinta, kisah masa kecil, dan sebagaginya.

Surat Kita

Surat Kita adalah suatu metode berkirim surat tanpa alamat dan tujuan. Surat Kita bentuk sastra yang menjelaskan suatu pokok permasalaan tanpa harus berkata pada sesiapapun tapi diterima siapa saja.

Sastra Kita

Sastra Kita adalah kolom penghimpun sastra-sastra yang dilahirkan oleh masyarakat. Sastra kita istilah baru untuk menamakan dengan sastra rakyat. Sastra Kita juga bagian dari sastra yang ditulis oleh masyakat awam sastra.

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

2/18/2022

Update COVID-19 Muba: Bertambah 2 Kasus Sembuh, 21 Positif, 1 Meninggal Dunia.

APERO FUBLIC.- MUSI BANYUASIN. Sekayu- Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Muba, Sabtu (19/2/2022) mengkonfirmasi penambahan 2 kasus sembuh, 21 positif, dan 1 meninggal dunia.

"Ada penambahan 2 kasus sembuh, 21 positif, dan 1 meninggal dunia per 19 Februari 2022," ungkap Jubir Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Muba, dr Povi Pada Indarta SP P.

Povi merinci, adapun penambahan kasus positif diantaranya kasus 3076 Laki-laki usia 40 tahun asal Sekayu, kasus 3077 perempuan usia 35 tahun Sekayu, kasus 3078 Laki-laki 81 tahun Sungai Lilin, kasus 3079 perempuan 28 tahun Sungai Lilin, kasus 3080 laki-laki 69 tahun Sekayu, kasus 3081 perempuan 46 tahun Sungai Keruh, kasus 3082 perempuan 3 bulan Sekayu, kasus 3083 Laki-laki 27 tahun Lawang Wetan, kasus 3084 Laki-laki 69 tahun Lawang Wetan, kasus 3085 perempuan 52 tahun Sekayu.

"Kemudian, kasus 3086 perempuan 32 tahun Sekayu, kasus 3087 perempuan 39 tahun Sekayu, kasus 3088 perempuan 53 tahun Tungkal Jaya, kasus 3089 perempuan 31 tahun Sekayu, kasus 3090 Laki-laki 32 tahun Bayung Lencir, kasus 3091 perempuan 57 tahun Sekayu, kasus 3092 perempuan 38 tahun Sanga Desa, kasus 3093 Laki-laki 43 tahun Sanga Desa, kasus 3094 perempuan 32 tahun Sanga Desa, kasus 3095 laki-laki 29 tahun Sanga Desa, kasus 3096 perempuan 37 tahun Sanga Desa," urainya.

"Untuk kasus meninggal dunia dialami kasus 3078 Laki-laki 81 tahun Sungai Lilin dan telah dimakamkan sesuai prokes COVID-19," tambahnya.

Diketahui, hingga 19 Februari 2022 ada sebanyak 3096 kasus. Diantaranya 2854 kasus sembuh, 85 kasus dirawat, dan 157 kasus meninggal dunia," urainya.

Sementara itu, berdasarkan data update Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Muba 19 Februari 2022 tercatat ada sebanyak 429 ODP 429 selesai pemantauan 0 masih dipantau, 1.199 kontak erat 1.199 kontak selesai pemantauan 0 kontak erat yang masih dipantau, 191 PDP 0 proses pengawasan 191 selesai pengawasan.

Editor. Melly
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 19 Februari 2022.

Sy. Apero Fublic

2/15/2022

ANDAI-ANDAI: Mulutmu Harimaumu.

APERO FUBLIC.- Dikisahkan pada suatu masa di Talang Gajah Mati, hiduplah sepasang suami istri yang suka menghasut dan mengadu domba  warga, membuat gaduh dan membicarakan keburukan orang lain. Namanya Uwa Safa dan Dalu. Sifat suami istri ini sangat buruk, sehingga sering membuat keluarga, tetangga dan warga saling bertengkar.

Suatu hari, Safa melihat seorang janda dan seorang pemuda berakit berdua di sungai. Tampak keduanya begitu dekat dan akrab. Cik Safa tidak mengenali sang pemuda, tapi mengenali janda muda itu. Cik Safa mengintif dari balik semak di sisi tebing Sungai Keruh. Pulanglah Cik Safa dan mulai dia bercerita dengan ditambah-tambah pada warga.

“Aduu, si Lunar berdua-dua dengan bujang diatas rakit.” Katanya pada empat orang ibu-ibu di tangga sebuah rumah. Mereka memang sering menggosip, Uwa Safa, Ibu Juja, Ramu, Wayu, Nami.

“Benarkah itu, ayuk Safa.” Semua ibu-ibu terkejut. Semuanya dengan hangat membincangkan tentang Lunar janda muda yang berdua dengan anak muda diatas rakit. Cerita berkembang, dari berdua, menjadi berzina. Empat ibu-ibu pulang ke rumah begitu juga Uwa Safa, lalu berceritalah pada suami-suami mereka. Suami mereka juga melanjutkan cerita pada warga laki-laki lainnya. Talang Gajah Mati pun gempar, maka diputuskan untuk menangkap Lunar. Datu dan puluhan warga keesokan paginya pergi ke tebing sungai Keruh dimana Uwa Safa melihat.

“Sutttttttt.” Sebua jaring terbuat dari rotan melintang Sungai Keruh. Lunar dan adiknya terkejut sekali. Belum habis terkejutnya, puluhan warga berdiri di tebing sungai meminta mereka ke darat. Karena tidak bersalah dengan santai Lunar dan adiknya naik, cuma mereka merasa bingung saja.

“Siapa dia Lunar.” Bentak Datu Talang Gajah Mati.

“Zamar, adik saya Puyang. Sebelum dia merantau ke negeri seberang, dia belajar silat pada puyang. Apa puyang sudah lupa.” Kata Lunar. Semua orang kaget bukan kepalang, perlahan mereka ingat dan mengenali Zamar. Pikiran marah dan hasut telah menguasai mereka sehingga mereka awalnya tidak mengenali Zamar. Zamar tampak tersenyum rama, sekarang dia tumbuh besar menjadi pemuda gagah. Zamar memberi hormat pada semua tetua talang.

“Kalian mau kemana?.” Tanya Datu dengan rama.

“Mau ke ladang, Puyang. Kita sedang mengetam padi. Adik membantu, dia juga mengangkut padi dengan rakit ke hulu.” Kata Lunar. Satu demi satu warga pergi dengan rasa kesal sebab berita yang tersebar di tengah masyarakat sudah sangat keterlaluan.

*****

Uwa Safa dan Suaminya menjual beberapa ekor sapi mereka. Setelah itu uangnya digunakan membeli kebutuhan sehari-hari. Sebagian dibelikan perhiasan satu kalung emas dan satu cincin emas. Sebagaimana biasanya Uwa Safa akan menggosif dan menceritakan kalau dia membeli kalung emas dan cincin.

“Wah, baru kalung emasnya, Wak Safa.” Tanya Bibi Juja.

“Benar, beli kemarin. Cincin juga satu.” Ujarnya seraya menunjukkan cincin di jarinya.

“Bagus sekali.” Kata yang lainnya sambil melihat dan menyentuh-nyentuh. Begitulah cerita mereka hari itu, selain membahas tentang perhiasan Uwa Safa, mereka juga menggosip hal lain. Setelah pulang keempat ibu-ibu juga bercerita tentang perhiasan Uwa Safa. Setelah itu, empat orang suami ibu-ibu juga bercerita di luar. Maka semua orang di Talang Gajah Mati mengetahui kalau Uwa Safa memiliki emas.

Segerombolan perampok mendekati Talang Gajah Mati. Mereka bengis, ada yang berjambang lebat dan ada pula yang mata satu. Mereka bersenjata tombak, panah dan pedang. Jumlah mereka sekitar sepuluh orang. Mereka mengendarai tiga perahu kajang, dan menyamar sebagai pedagang. Pimpinannya mengutus empat orang mata-mata, mencari tahu siapa yang punya banyak harta. Tibalah empat mata-mata di Talang Gajah Mati, semuanya menyebar dan mendengar cerita-cerita warga. Keempatnya mendengar kalau Uwa Safa punya satu kalung dan satu cincin emas.

Tiba juga mata-mata perampok di dekat kumpulan bapak-bapak. Mereka menceritakan kalau Uwa Dalu punya banyak emas. Dua orang mata-mata mencari posisi rumah Uwa Safa dan bertemu. Setelah itu, melaporlah mata-mata perampok ke pimpinan mereka di hutan.

“Baiklah kalau begitu, kita rampok malam nanti orang itu.” Kata pemimpin perampok. Pada malam harinya, rumah Uwa Safa dirampok dan semua hartanya di rampas termasuk kalung dan cincin emas barunya. Ternak sapi dan kambing juga dirampas oleh perampok-perampok itu. Sehingga membuat Uwa Safa dan suaminya jatuh miskin.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 15 Februari 2022.

Sy. Apero Fublic

ANDAI-ANDAI: Asal Usul Burung Hantu

APERO FUBLIC.- Pada zaman dahulukalah, hiduplah seorang janda miskin bersama dua anaknya. Anak laki-laki berumur tujuhbelas tahun, bernama Majana dan anak perempuan berumur sepuluh tahun, Majani. Suaminya telah meninggal tujuh tahun lalu. Dia tinggal disebuah pondok yang sederhana, berlantai bilah bambu beratap daun rumbiah dan berdinding kulit pohon. Tempat tinggalnya itu, jauh berbeda dengan rumah-rumah penduduk. Terbuat dari papan kayu, beratap sirap, dan bertiang kayu onglen (kayu besi).

“Nak, bagaimana bisa melamar anak gadis orang. Sebab kita begitu miskin. Kita tidak ada uang, emas, sapi atau kerbau.” Ujar janda miskin itu.

“Ibu, saya mau menikah. Tolong lamarkan anak gadis seseorang atau semuanya di Talang kita ini. Mungkin ada satu orang gadis yang mau.” Kata anak lelakinya. Karena anak memaksa terus, akhirnya si janda miskin menyetujuinya. Keesokan harinya, dia mendatangi setiap rumah warga yang ada anak gadis. Sesampai di rumah seorang warga, dia mengutarakan lamarannya.

“Begini Paman, saya melamar anak gadis paman untuk dijadikan istri anak bujang saya.” Ujar janda miskin.

“Ohhh, maaf. Anak gadis saya sudah ada tunangan dan akan segera menikah.” Kata orang itu. Sesungguhnya anak gadisnya belum ada tunangan, alasan sebagai penolakan. Begitulah seterusnya, si janda miskin mendatangi setiap rumah dengan tujuan sama. Ada juga gadis yang menerima, tapi kedua orang tuanya menolak. Betapa malu si Janda miskin, karena tak satupun lamarannya ditolak.

“Umak, jangan menangis yang penting sudah berusaha. Aku juga meminta maaf, sebab Aku telah meminta ibu melamar.” Kata Majana. Waktu berlalu, kini tinggal cerita yang masih terdengar di tengah masyarakat.

“Kasihan juga, tidak ada satupun keluarga yang menerima lamarannya.” Kata sekelompok ibu-ibu yang suka membicarakan kekurangan orang lain.

“Terlalu miskin, mana ada yang mau menerima. Makan saja sulit, bagaimana mau melamar anak orang.” Kata seorang ibu-ibu sewaktu mandi. Si Janda miskin hanya diam saja. Dia buru-buru pulang. Betapa sedih dan sakit hatinya mendengar perkataan ibu-ibu di Talangnya yang selalu merendahkannya.

*****

Waktu berlalu, anak-anak gadis yang dilamar telah dijodohkan dengan pemuda-pemuda lainnya. Sehingga tinggallah anaknya seorang yang masih belum menikah.

“Nanti jadi bujang tua, kalau tidak ada yang mau menerima lamarannya. Kasihaaannn.” Begitulah bincang-bincang ibu-ibu yang sengaja di kuatkan agar terdengar si Janda miskin.

“Makan saja, makan ubi saja. Bagaimana mau menghidupi anak perempuan orang.” Ujar seorang ibu-ibu.

Sebagai seorang manusia biasa si Janda miskin akhirnya jatuh sakit. Hari demi hari sakitnya bertambah parah dan parah. Warga mendengar kalau dia jatuh sakit. Kedua anaknya merawatnya dengan penuh kasih sayang. Melihat anak-anaknya sedikit menghibur jiwanya. Sehingga janda miskin itu masih bertahan.

Suatu hari, janda miskin itu pergi keluar rumah. Dia merasa bosan berada di dalam rumah. Membawa tubuhnya yang lemah dia menyusuri jalan di sisi hutan. Dia melihat anak lelakinya sedang mengambil kayu bakar.

“Umak, nak kemana.?” Baiklah Mak pulang.” Kata anaknya yang melangkah memikul kayu bakar.

“Tidak apa anakku, Umak cuma nak jalan sebentar agar cepat sehat.” Katanya, pergilah dia sedikit lebih jauh. Melangkahlah janda miskin itu perlahan membawa tubuhnya yang lemah. Ternyata dia mendatangi kuburan suaminya. Dia bercerita dan membersihkan kuburan suaminya. Setelah lelah dia mau beranjak pulang. Saat itu, sepuluh orang ibu-ibu yang sedang menggendong keranjang rotan yang penuh kayu bakar berlalu.

“Wahhh, sudah sembuh yang sakit karena tidak ada yang mau menerima lamarannya?.” Ujar seorang ibu-ibu.

“Saya nasihati kamu, jangan sedih biar tidak sakit. Kau sadar diri sebab keadaan kamu yang memang kekurangan, ya.” Kata seorang ibu-ibu lagi.

“Cukup, sudah. Ibu-ibu, jangan begitu. Kalian harusnya tidak berbuat seperti ini. Setiap perbuatan buruk ada hukumannya.” Seorang ibu-ibu membelah dan dia memang wanita yang baik. Dia tidak pernah menyakiti orang lain apalagi berbuat jahat.

“Sudah, jangan diambil hati Mak Majani.” Katanya menghibur.

“Biar saja, agar dia tahu diri sedikit.” Ibu-ibu memang memusuhi janda miskin itu, karena mereka takut suami mereka tergoda dan menjadikannya istri kedua.

“Kalian terlalu sekali, aku tidak pernah mengganggu kalian.” Kata Ibu Majani dengan sedih hati, seketika tubuhnya yang lemah jatuh ke tanah. Ibu yang baik menurunkan keranjangnya dan berlari membantunya.

Entah apa yang terjadi tiba-tiba ada angin bertiup kencang menerpa pekuburan itu. Daun pepohonan, semak-semak bergoyang-goyong hebat. Kilat membelah langit, angin menderu-deru dan petir menyambar-nyambar hebat. Awan hitam menutupi langit sekitar, semua di pekuburan menjadi takut.

“Guuaarrrrr. Guuaaarrrrr.” Petir menyamabar keras dipekuburan, pohon dan semak yang tersambar menjadi terbakar dan berubah hitam. Asap memenuhi sekitar pekuburan dan kejadian aneh terjadi. Sekelompok ibu-ibu tadi telah hilang.  Hanya keranjang, pakaian, alas kaki yang tergeletak.

“Uukkkk.” Uukkkk.” Tampak sejenis burung yang berwajah seram bertengger di keranjang-keranjang bergeletakan. Si Janda miskin dan ibu yang baik terkejut bukan kepalang melihat kejadian itu. Ternyata mereka telah berubah menjadi burung yang aneh, belum pernah mereka lihat. Keduanya juga takut melihat rupa burung yang seram menakutkan. Burung-burung itu terbang ke atas dahan-dahan pohon. Mereka bergerombol terbang disekitar pekuburan.

Penduduk Talang gempar mendengar cerita dari ibu yang baik hati. Penduduk menemukan burung-burung itu berkeliaran di pekuburan Talang Gajah Mati. Karena rupa burung yang menyeramkan dan tinggal disekitar kuburan. Maka mereka menamakannya, burung hantu. Konon keturunan ibu-ibu jahat itulah dikemudian hari yang sering berkumpul-kumpul membicarakan keburukan, mengupat, mengibah, suka melihat orang susah, suka menghina orang lain di Talang Gajah Mati. Sekarang Talang Gajah Mati sudah menjadi Desa Gajah Mati, salah satu desa di Kecamatan Sungai Keruh, Musi Banyuasin.

*****

Setahun kemudian, Raja negeri itu datang ke Talang Gajah Mati. Dia mencari seorang laki-laki yang memiliki keris emas. Raja menemui Datu Talang Gajah Mati, dan menginap di Balai Talang. Prajurit mengumumkan tentang kedatangan raja, kalau ada yang mengetahui atau memiliki keris emas agar menghadap raja.

“Pengumuman untuk semua, barang siap yang memiliki atau mengetahui tentang keris emas, untuk menghadap raja. Bagi yang tahu akan mendapat hadiah seratus keping uang emas.” Kata prajurit. Mengetahui pengumuman itu, si janda miskin terkejut dan berpikir sejenak. Kalau dia menyerahkan keris emas milik suaminya, mungkin dia dapat uang emas itu. Dia akan memiliki uang untuk membeli rumah dan membiayai anaknya menikah. Oleh karena itulah, dia meminta putranya Majana untuk menemani menghadap raja di balai desa.

“Ampun baginda raja, hambah mendengar pengumuman prajurit paduka tentang keris emas.” Kata si janda miskin yang duduk bersimpu ditemani Majana.

“Benar sekali, apakah kalian berdua mengetahui informasinya.” Kata raja. Raja memperhatikan wanita di hadapannya, dia melihat tanda-tanda kecantikan dulu. Kulit putih, berambut panjang hitam. Tentulah dulu dia gadis yang sangat cantik.

“Benar baginda, saya memiliki karena peninggalan suami hamba.” Kata janda miskin, lalu dia meminta Majana mengeluarkan keris emas dan raja mengambil dan mengamati. Dia mengangguk dan bertanya lagi.

“Kau istrinya, dan ini anakmu. Dimana suamimu sekranga?.” Ujar raja.

“Suami hamba telah meninggal tujuh tahun lalu, karena sakit. Dia anak tertua kami, satu lagi anak perempuan kami di ruma.” Jelas janda itu. Raja menangis keras memeluk pemuda gagah dihadapannya.

“Cucuku, menantuku.” Kata raja dengan keras. Semua terkejut tidak menyangkah kalau pemilik keris emas adalah anak raja. Raja menceritakan dahulu putranya bernama Sambralan pergi dari istana setelah permintaannya untuk menikahi gadis yatim piatu di sebuah talang. Raja menyesal dan meminta janda miskin beserta kedua anaknya untuk tinggal di istana.

Penduduk Talang Gajah Mati menyesal karena telah menolak lamaran si janda miskin. Sekarang anaknya sudah menjadi seorang pangeran dan pewaris tahta. Namanya kemudian menjadi Puyang Majana Sambralan. Setelah kakeknya mangkat dia dinobatkan menjadi raja, serta menikahi putri raja seberang.

Oleh. Joni Apero
Editor. Arip Muhtiar, S.Hum.
Tatagambar. Dadang Saputra.
Palembang, 16 Februari 2022.

Sy. Apero Fublic

2/14/2022

ANDAI-ANDAI: Bujang Pengganggu dan Mengapa Kumbang Hitam Melobangi Tiang Rumah.

APERO FUBLIC.- Pada zaman dahulu, di Talang Durian ada seorang anak yang nakal sekali, umurnya sebelas tahun. Dia tidak pernah mau mendengar nasihat dan perkataan kedua orang tuanya. Kalau bermain-main dia selalu bertengkar dan berkelahi sesama teman sepermainannya. Karena itulah, di dijuluki teman-temannya dengan Bujang Pengganggu. Selain itu, dia juga mengganggu apa saja di sekitarnya, serangga, burung, hewan-hewan kecil dan lainnya.

Suatu hari Bujang Pengganggu diminta ibunya membeli garam di toko Uwa Haji. Tetapi saat dijalan dia tidak membeli garam, tapi membeli makanan. Dia makan sendiri dan langsung pergi bermain-main. Lama ibunya menunggu sebab mau memasak. Tapi dia tidak kunjung pulang membawa garam. Ibu begitu kesal sekali, dan pergi sendiri membeli garam.

Suatu hari Bujang Pengganggu melobangi jalan. Dia buat banyak lobang-lobang kecil seukuran kaki manusia. Lalu dia tutupi dengan sarap sehingga orang tidak tahu kalau ada lobang. Sehingga banyak sekali orang terjatuh karena terinjak lobang tersebut. Penduduk sangat marah, Datu pemimpin Talang berjanji akan menghukum berat kalau orang yang berbuat tertangkap.

*****

Semua teman-temannya akan pergi menjauh kalau ada Bujang Penggangu. Karena tidak mau berurusan dengannya. Kalau tidak akan terjadi pertengkaran atau perkelahian, paling tidak mainan mereka yang diambil atau dirusak. Kini Bujang Pengganggu tidak memiliki teman lagi. Terpaksa dia bermain sendiri. Pergilah Bujang Pengganggu ke sebuah lapangan rumput. Di lapangan rumput itu, dia menemukan banyak sekali serangga. Seperti kupu-kupu, belalang, jenis semut, dan juga burung-burung.

“Naaa, dapatttt.” Kata Bujang Pengganggu. Dia menangkap seekor belalang, setelah dapat dia tertawa-tawa gembira. Diambilnya tali dan dia ikat. Kemudian kembali dia menangkap serangga lain, kupu-kupu, lebah, merusak bunga-bunga, dan mematakan rerantingan. Begitulah kelakuan Bujang Pengganggu. Selain diikat, hewan-hewan ditancap-tancap dengan duri-duri.

Suatu hari Bujang Pengganggu menemukan sarang burung. Ada tiga ekor telur  di dalam sarang. Sarang burung diambil oleh si anak nakal itu. Sarang dirusak, dan telur dimain-mainkannya.

“Huuup. Huuupp. Huuuppp.” Telur burung dilempar-lempar ke atas kemudian ditangkap. Untuk beberapa kali telur masih dapat dia tangkap. Tapi untuk selanjutnya telur burung itu, satu persatu terjatu ke tanah dan pecah. Setelah puas dia menangkap katak, laba-laba, bekicot, gelang-gelang dan lainnya. Lalu dia pukul atau dia tusuk-tusuk sambil tersenyum gembira.

*****

Begitulah keseharian Bujang Pengganggu, selalu mengganggu apa saja. Buruk sekali sifatnya itu. Suatu hari, dia berjalan di sisi jalan pemukiman. Jalan itu adalah tempat lalu lintas penduduk pergi bekerja dan ke sungai. Jalan selalu dilalui penduduk, pergi ke ladang atau mandi mencuci. Bujang Pengganggu lewat, karena hari panas di duduk di bawa pohon kiara yang rindang. Dahan-dahan pohon melengkung di atas jalan. Tanpa sengaja Bujang Pengganggu melihat sarang tawon harimau yang besar, seukuran gendang. Lama dia memperhatikan sarang tawon itu. Timbul pikiran jahatnya untuk mengganggu orang lewat.

“Wussss.” Sebuah kayu pendek dilemparkan Bujang Pengganggu ke sarang tawon sehingga sarang rusak berat. Dia buru-buru berlari dan sembunyi, mengamati. Tampak induk tawon marah sekali, beterbangan kesana kemari. Tidak berapa lama lewatlah dua orang laki-laki memikul bambu untuk membuat bubu. Tidak jauh di belakang kedua ada tiga orang ibu-ibu menggendong keranjang yang berisi hasil ladang.

“Ahhhh. Ahhhh. Aduuuuu. Aduuuuu.” Jeritan mereka berkali-kali terdengar. Kemudian dua laki-laki melempar pikulannya dan berlari berjingkrak-jingkrak karena disengat tawon harimau berkali-kali. Begitu juga dengan tiga ibu-ibu juga merebahkan keranjang mereka, sehingga isinya berantakan. Ketiganya berlari pontang panting kesana kemari. Sakit sekali rasanya disengat tawon harimau.

“Tabuhan harimau. Tabuhan harimau.” Teriak mereka. Tidak lama kemudian seorang laki-laki tua menunggang kereta sapi juga melintas di bawah pohon kiara itu. Dia merasa aneh melihat banyak barang berantakan di tengah jalan.

“Auuuu. Ohhhh. Uhhhhhh.” Kakek itu berteriak kesakitan. “Mbookkkkk.” Sapi juga menjerit berkali-kali. Membuat si sapi berlari kencang membawa kereta menyusuri jalan. Tampak roda kereta melompat-lompat sedangkan si kakek terguncang-guncang. Di balik persembunyiannya si Bujang Pengganggu tertawa-tawa terbahak-bahak menyaksikan semua itu. Banyak sekali penduduk yang tersengat tawon harimau itu.

*****

Beberapa hari kemudian, Bujang Pengganggu pergi bermain-main. Dia mendatangi sekelompok anak-anak mau ikut bermain. Tapi semua anak-anak berlari pergi, karena mereka tahu kalau Bujang Pengganggu akan berbuat rusu. Bujang Pengganggu akhirnya pergi ke tepi desa. Di sana dia duduk merenung dan melamun. Dia berpikir bagaimana mengganggu orang atau menangkap hewan untuk dipermainkan. Dari tempat duduknya, Bujang Pengganggu melihat seorang nenek-nenek tua. Berjalan perlahan dengan tongkatnya. Ada gendongan kain yang berisi pakaiannya. Dari tampangnya kalau si nenek-nenek bukan penduduk Talang Durian. Timbullah niat untuk mengganggu si nenek-nenek. Bujang Pengganggu mengambil akar, lalu dia rentangkan di tengah jalan. Dia sebunyi sambil memegang ujung akar.

“Wusss.” Grubakkkkk.” Tubu nenek-nenek tua terjatuh ke tanah berguling-guling karena kaki tersandung akar yang ditarik Bujang Pengganggu. Bujang Pengganggu tertawa-tawa keras, lalu dia keluar.

“Makanya nenek, kalau jalan matanya melihat, biar tidak tersandung.” Kata Bujang Pengganggu sambil tertawa-tawa. Dia melihat si nenek kesulitan bangung, dia pura-pura mau membantu. Lalu memegang tangan si nenek, dan si nenek bangkit dengan susah sekali.

“Gedebukkkk.” Bujang Pengganggu mendorong kembali tubu si nenek membuat dia terjatuh kembali. Bujang Pengganggu kembali tertawa terbahak-bahak. Belum puas dia mengganggu si nenek, kini dia mengambil buntalan si nenek yang terlepas. Membuka dan mengacak-acak buntalan sehingga pakaian si nenek berserakan di tanah.

“Cucu...cucu. Alangkah kurang ajar dirimu. Kau selalu mengganggu orang dan mengganggu hewan serangga.” Kata si nenek yang sudah berdiri kembali. Dia menatap tajam pada Bujang Pengganggu yang sedang mengacak-acak pakaiannya. Bujang Pengganggu menemukan sebuah kendi kecil diantara pakaian si nenek.

“Kendi ini indah sekali. Aku ambil, lumayan kalau di jual.” Ujar si Bujang Pengganggu. Dia mengambil kendi, lalu membawanya pergi tanpa memperdulikan si nenek.

“Cucu, kembalikan kendi itu. Itu bukan kendi sembarangan, namanya kendi Kutuk Diri. Barang siapa membukanya akan terkena kutuk sesuai perilakunya. Kembalikannnnnn.” Kata si nenek. Tapi Bujang Pengganggu tidak peduli, dia terus pergi meninggalkan si nenek. Saat Bujang Pengganggu sudah jauh, si nenek mengarahkan ujung tongkatnya ke pakaian dan buntalannya. Dengan ajaib buntalan pakaian menyusun sendiri seperti semula. Kemudian terbang dan melekat di bahu si nenek. Tiba-tiba dia pun menghilang entah kemana.

“Aku buka kendi ini, apa isinya ya?.” Kata Bujang Pengganggu dengan penasaran. Dia membuka penutup kendi dengan lebar. Tiba-tiba dari dalam kendi keluar asap hitam yang langsung terbang menutupi tubuh si Bujang Pengganggu. Untuk beberapa saat tubuh Bujang Pengganggu diliputi asap hitam itu. Entah apa yang terjadi, asap hitam menghilang, kendi terjatuh di tanah dan menghilang juga. Tubuh Bujang Pengganggu juga menghilang, hanya pakaiannya yang tergeletak di atas tanah dimana dia berdiri tadi. Asap hitam perlahan menghilang, dan yang tampak hanya seekor kumbang hitam yang berbunyi mendengung-dengun. Kumbang itu, terbang kesana-kemari tanpa arah.

“Mengapa Bujang Pengganggu belum pulang.” Kata ibunya cemas, kemudian keluarganya mencari kesana-kemari namun hanya menemukan pakaiannya saja. Warga Talang membantu mencari tapi Bujang Pengganggu tidak bertemu. Sementara itu, seekor kumbang hitam tampak melobangi tiang rumah. Suaranya mendengung-dengung tanpa henti-henti.

Pada malam hari, ibu Bujang Pengganggu bermimpi bertemu dengannya. Dia menceritakan kalau dirinya menyesal karena terlalu nakal. Suka mengganggu teman-temannya, mengganggu serangga, mengganggu burung-burung, dan mengganggu orang tua. Sekarang dirinya dikutuk menjadi seekor kumbang hitam. Dia menyatakan kalau kumbang yang melobangi tiang rumah adalah dirinya. Meminta ibu dan keluarganya tidak mengusirnya walau suaranya selalu mendengung. Dengungan suaranya itu adalah suara tangisan penyesalannya. Sejak saat itulah kumbang hitam suaranya mendengung serta selalu bersarang dengan melobangi tiang-tiang rumah orang sampai sekarang. “kumbang mendengung tangisan penyesalan anak nakal, dia melobangi tiang rumah maksudnya dia pulang kerumah. Jangan menjadi anak yang nakal. itulah kata orang tua-tua.”

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 14 Februari 2022.

Sy. Apero Fublic

2/13/2022

ANDAI-ANDAI: Uwa Labu

APERO FUBLIC.- Pada zaman dahulu di Talang Duku hiduplah seorang wanita berumur lima puluhan tahun.  Hidup berdua dengan suaminya, karena mereka tidak memiliki anak. Dia memiliki tabiat yang buruk, pelit, suka menghasut dan memiliki sifat iri dan dengki. Jangankan dengan orang lain, dengan dirinya sendiri dia juga pelit. Dia dikenal dengan panggilan, Uwak Labu karena sifat buruknya itu. Dia diibaratkan pohon labu yang hanya membesarkan buah tapi batangnya tetap kecil dan merambat tumbuhan lain untuk hidup.

Pada suatu hari Uwa Labu datang ke rumah tetangga samping rumahnya. Dia membawa seekor ayam jantan. Saat bertamu dia sangat pandai berkata-kata dan rama sekali. Sampailah pembicaraan alasan kedatangan Uwa Labu.

“Begini Surai, saya minta tolong, uwakan sudah tua. Uwa ingin punya kambing jantan yang belang merah dan hitam. Jadi uwa bermaksud menukar ayam uwa dengan anak kambing jantanmu. Kau juga memiliki banyak kambing.” Kata Uwa Labu.

Surai terkejut atas permintaan Uwa Labu. Tapi Surai orang yang baik, dan tidak pelit. Dia berpikir sejenak, kalau diukur dengan akal sehat tidak sesuai seeokor ayam ditukar seekor kambing.

“Baiklah Uwa, saya terima tawaran Uwa.” Kata Surai menyetujui, jauh di dalam lubuk hatinya menilai tidak sesuai sekali. Rasa tidak enaklah yang menyebabkan dia setuju. Uwa labu gembira sekali karena keinginannya tercapai. Beberapa bulan kemudian, anak kambing tumbuh besar. Kembali Uwa Labu mendatangi rumah Surai. Seperti biasa dia datang dengan rama dan banyak cerita bohong. Surai menerima dengan baik Uwa Labu. Dia meminta istrinya untuk menghidangkan makanan dan membuat minuman hangat.

“Begini Surai, Uwa datang untuk meminta tolong lagi. Uwa sudah tua, ingin sekali punya sapi. Jadi Uwa ingin menukar kambing jantan Uwa dengan anak sapimu.” Kata Uwa Labu. Surai sangat kaget, mendengar permintaan Uwa Labu tersebut. Lama dia berpikir dan sambil menarik nafas dalam dia menyetujui.

“Baiklah Uwa, saya setuju.” Kata Surai. Maka bertukarlah anak sapi jantan dengan kambing jantan. Setahun kemudian, anak sapi jantan itu tumbuh besar. Betapa gembira Uwa Labu dengan pencapaiannya itu. Belum puas rasanya, Uwa Labu ingin menukar dengan kerbau. Kembali dia datang ke rumah Surai. Dengan cara seperti biasa.

“Surai, Uwa meminta tolong lagi. Uwa sudah tua ini, ingin memiliki kerbau jantan. Uwa mau menukar sapi Uwa dengan anak kerbau jantanmu.” Kata Uwa Labu. Surai dengan berat hati sekali menyetujui permintaan Uwa Labu. Maka bertukarlah sapi Uwa Labu dan anak kerbau jantan milik Surai.

Setahun berlalu, sekarang anak kerbau sudah besar sekali. Uwa Labu sangat bergembira sekali. Dia bercerita pada suaminya kalau dia begitu pintar dan beruntung. Bermodal seekor ayam jantan dia sekarang mendapat seekor kerbau jantan. Dia berkata kalau orang baik mudah dibodohi dan diakali. Itulah mengapa dirinya tidak mau menjadi orang baik.

*****

Pada suatu hari, Uwa Labu pulang dari menggembalakan kerbaunya. Kerbau jantan sedang birahi ingin kawin. Tapi Uwa Labu tidak mengerti dia terus menarik kerbaunya, lalu dia ikatkan di tiang rumah panggungnya. Kemudian Uwa Labu naik ke rumahnya, dan berbincang-bincang dengan suaminya. Beberapa saat kemudian, di belakang rumah mereka lewat sekawanan kerbau, tentu saja ada beberapa kerbau betina.

Kerbau milik Uwa Labu ingin bergabung dengan kawanan itu. Karena dia sedang birahi, sudah saatnya waktu kawin bagi kerbau. Kerbau meronta-ronta dan menarik sekuat-kuatnya. Kerbau jantan besar tentu tenaganya sangat kuat. Membuat tiang rimah roboh dan diikuti roboh pulah rumah Uwa Labu. Uwa labu dan suaminya tertimpa reruntuhan rumahnya dan akhirnya meninggal dunia. Sementara kerbau jantan miliknya berlari bergabung dengan kawanan kerbau. Ternyata kawanan kerbau itu milik Surai.

Surai tidak menyadari kalau kerbau milik Uwa Labu telah kembali dengan sendirinya. Sementara penduduk membantu mengangkat jenaza dari reruntuhan rumah, kemudian menguburkan Uwa Labu dan Suaminya. Begitulah akhir hidup orang yang memanfaatkan kebaikan orang baik untuk kepentingan pribadinya.

Oleh. Joni Apero
Editor. Deni Sutra.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 13 Februari 2021.
Andai-andai ini diangkat dari sastra lisan masyarakat di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Sy. Apero Fublic

ANDAI-ANDAI: Asal Usul Cendawan Tikus dan Cendawan Kuping

APERO FUBLIC.- Pada masa lalu, hiduplah sebuah keluarga di sebuah ladang. Mereka tidak memiliki rumah di Talang Embacang. Talang adalah nama pemukiman penduduk di pedalaman Sumatera Selatan. Ladang milik keluarga itu terletak tidak jauh dari Talang Embacang. Ladang mereka sangat subur, ditanami sayur mayur, umbi-umbian, tebu dan pisang. Padi baru saja ditanam sebulan lalu, sehingga belum terlalu tinggi rumpunnya. Masih terlihat batang-batang pohon yang menghitam bekas pembakaran sewaktu membuka ladang.

Pondok mereka terletak di tengah ladang, dinding terbuat dari kulit pohon,lantai dari bilah bambu, atap terbuat dari daun rumbiah. Ada kentongan yang terbuat dari kerangka kura-kura yang dinamakan getuk. Ternak mereka ayam, kucing, itik dan anjing. Keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan tiga anak laki-lakinya. Anak pertama bernama Antam umurnya dua belas tahun, kedua bernama Samdu umurnya sepuluh tahun, dan yang bungsu bernama Nalja umurnya delapan tahun.

Suatu hari, kakek mereka datang dari Talang. Ketiga kakak beradik begitu gembira. Kakek membawa kue dan suka bercerita andai-andai. Hari itu, mereka bermain dan mendengar cerita andai-andai kakeknya. Setelah selesai berandai-andai kakek minum kopi hangat, lalu memberi dua nasihat pada ketiga cucunya.

“Jadilah anak yang baik dan jujur. Jangan suka menuruti hawa nafsu dan berbohong. Karena akibatnya akan buruk sekali pada dirimu sendiri. Jangan kalian pikir berbohong adalah perbuatan pintar. Tapi berbohong adalah perbuatan jahat dan curang.” Nasihat sang kakek.

“Kami akan mengingat nasihat kakek.” Kata Nalja.

“Kalau kalian bermain di hutan, jangan bermain di dekat sebuah gaung besar. Karena disana ada negeri suban.” Pesan sang kakek lagi. Gaung berupa lobang besar pada tanah yang mengalir mata air. Hari pun sudah sore, kakek mau pulang ke Talang kembali.

“Bak, hati-hati di jalan. Ini ada madu, ikan kering, pisang masak dan sayuran.” Kata menantu si kakek. Ibu dari Nalja, Samdu dan Antam. Sedangkan ayah mereka turut mengantar kakek keluar pondok. Sang kakek berjalan menyusuri jalan ditengah ladang seraya menggendong keranjang yang penuh hasil ladang.

Waktu berlalu, padi mereka mulai berbuah dan sampailah masak menguning. Tebu pun mulai di panen untuk membuat gula. Sementara ibu dan ayah mereka sibuk memanen buah padi. Ketiganya bermain di hutan pinggir ladang.

“Kalian mau kemana?.” Panggil ayah mereka seraya menuai padi di tengah ladang.

“Kami nak bermain di hutan sebentar, Bak.” Jawab Samdu. Ibu juga berkata kalau jangan bermain terlalu jauh dan cepat pulang. Karena ada hewan buas seperti harimau atau beruang. Ketiganya mengiakan dan terus berjalan, dan keluar pagar ladang.

“Tuttttt. Tuttttt. Tutttttt.” Begitulah bunyi mainan mereka yang terbuat dari batang padi.

*****

Ketiga kakak beradik bermain dengan gembira sekali. Mereka berayun-ayun di akar-akar pohon dan menjelajah hutan. Mereka juga mencari buah-buahan yang dapat dimakan. Tanpa sadar ketiganya telah masuk hutan dimana ada gaung yang dilarang kakeknya. Sehingga mereka masuk kedalam dunia suban.

“Koyong, kenapa ada rumah orang dan kebun buah yang banyak.” Tanya Samdu pada kakanya Antam. Tampak sebuah rumah kayu besar beratap sirap papan. Di halaman tumbuh puluhan pohon buah yang berbuah lebat. Dahan-dahan melentur ke bawah karena menahan beban buah yang banyak. Buah berbentuk buah apel. Ada tiga warna buah, merah, kuning dan putih. Rumah tampak sepi, pintu pagar yang terbuat dari bilah bambu terbuka sedikit. Di atas pintu berdiri gapura bertiang kayu dan beratap ijuk.

“Ia, sejak kapan ada rumah orang di dekat ladang kita.” Kata Antam. Kedua nya tanpa curiga melangka mendekati ruma dan kebun itu.

“Jangan Koyong, ingat pesan kakek. Agar kita menjauhi gaung yang ada negeri suban. Mungkin kita sudah tersesat dan tidak sengaja kita masuk. Baiklah kita kembali, pulang.” Kata Nalja dengan rasa khawatir.

“Ah, kau penakut sekali, anak jantan pula.” Kata Antam. “Kita memang belum perna bermain ke hutan ini. Mungkin memang ada ladang orang.” Lanjutnya.

“Benar juga.” Ujar Samdu.

“Ayo kita cari tahu dan meminta buah yang enak itu.” Kata Antam. Kalau kau takut pulanglah, tapi saya tidak mau memberimu buah enak itu.” Ujar Antam pada Nalja. Tentu saja Nalja takut pulang sendiri dan dia juga ingin makan buah yang tampak enak itu. Mendekatlah ketiganya pada rumah itu, dan meneteskan air liur.

“Permisi. Ada orang.” Teriak Antam beberapa kali. Tapi tidak ada sahutan, oleh sebab itu Antam mengajak kedua adiknya masuk. Membuka pintu pagar dan melangkah masuk. Mereka pikir rumah tidak ada penghuninya. Nalja takut dan tidak mau. Tapi tangannya ditarik Samdu.

“Ada apa mau apa, cucu-cucu tiba di sini.” Sapa seorang nenek tua tiba-tiba. Ketiganya terlonjak kaget bukan kepalang dan wajah merah padam, ketiganya juga gemetaran. Nenek tua bongkok berjubah coklat, bertongkat kayu, mulutnya komat kamit mengunya siri-pinang. Kulit coklat yang sudah keriput dan matanya menatap tajam ketiga beradik itu.

“Ka..kami sedang bermain dan tersesat lalu tiba di sini.” Ujar Antam agak gemetar.

“benar begitu. Tapi mengapa kalian masuk halam rumah orang tanpa permisi.” Tanya si nenek lagi.

“Maaf Nek, boleh kami meminta buah nenek yang tampak enak itu.” Kata Samdu. Nenek itu tidak langsung menjawab. Dia memandangi ketiganya dengan tajam, baru dia berkata.

“Itu buah budi namanya. Jangan berbuat tidak baik, sebab akan menimbulkan hukuman. Aku mengizinkan kalian memakan tiga bua untuk satu warna. Ambilah, setelah makan buah kalian pulanglah. Aku mau pergi ke sungai mengangkat bubu.” Kata si nenek.

“Baiklah nenek, terimakasih.” Kata Antam dengan gembira sekali. Nenek tua bongkok itu mengambil sebuah keranjang dan pergi meninggalkan ketiganya. Tampak dia berjalan perlahan di jalan setapak. Sementara Antam, Samdu dan Nalja mendekati sebuah pohon. Ketiganya memetik buah itu, dan mulai memakannya.

“Buah ini sangat enak.” Ujar Samdu sambil memakan dengan lahap sekali.

“Kita hanya boleh memakan tiga bua, dalam satu warna, Koyong.” Kata Nalja mengingatkan.

“Ahhh, nenek itu sedang pergi. Buah ini begitu banyak, pasti dia tidak tahu berapa yang kita makan. Tidak ada yang melihat juga. Makanlah sepuasnya dan bilang kalau kita hanya makan tiga buah dalam satu warna.” Kata Antam. Samdu tersenyum dan sepakat.

Naljan hanya mengambil tiga buah dalam satu warna. Lalu dia duduk di bawa pohon makan dengan perlahan dan lahap. Lima buah dia habiskan, dan empat buah sisakan untuk ayah dan ibunya. Setelah puas makan, mereka mau pulang. Antam dan Samdu juga membawa banyak buah itu dengan memetik dahan buah, lalu meninggalkan rumah si nenek.

Beberapa saat kemudian ketiganya tiba di pinggiran ladang mereka. Saat masuk ladang, Antam dan Samdu merasa kepalanya pusing. Keduanya bertanya pada Nalja apakah kepala pusing seperti kepala mereka. Nalja menggeleng dan terus berjalan. Karena pusing Antam dan Samdu terjatu dan bersandar pada batang pohon hitam ditengah ladang mereka. Keduanya memanggil ibu dan ayahnya. Sementara Naljan tampak takut dan menangis. Dia kemudian berusaha menarik-narik kedua kakaknya agar ke pondok segera. Namun tenaga anak umur delapan tahun tak dapat berbuat apa-apa. Lalu dia berlari-lari menyusuri jalan setapak di tengah ladang menuju pondok. Dia memberi tahu keadaan kedua kakaknya. Lalu ayah dan ibu mereka mendatangi keduanya diikuti Naljan.

“Makkkk. Bakkkkkk. Naljan adikkuuuu.” Teriak keduanya. Saat melihat kedatangan kedua orang tuanya. Belum sampai kedekat keduanya, terdengar suara petir yang keras dan angin bertiup kencang. Kemudian hujan turun dengan derasnya. Kabut muncul menutupi tubuh Antam dan Samdu. Beberapa saat kemudian keduanya menghilang dari pandangan mata.

“Anaakkkkuuuuuu.” Teriak ibu, lalu menangis mengenang keduanya. Keesokan harinya Naljan menceritakan semua kejadian kemarin. Dimana mereka meminta buah budi pada seorang nenek-nenek. Mereka hanya diizinkan memakan tiga buah dalam satu warna. Namun kedua kakaknya tidak jujur, dan makan sesuka hatinya karena si nenek pergi. Mengertilah mereka kalau Antam, Samdu dan Naljan tersesat ke negeri suban. Ibu mereka selalu menangis setiap hari. Sampai pada suatu malam bermimpilah ibunya pada Antam dan Samdu.

“Ibu jangan menangis dan bersedih lagi, yang terjadi adalah kehendak tuhan. Kalau ibu, rindu pada kami datangi batang pohon dimana kami terjatu. Di batang pohon itu, akan tumbu cendawan kecil keabuan mirip warna buluh tikus dan cendawan berbentuk telinga. Masaklah jamur itu, akan terasa enak sekali. Dengan begitu, akan mengobati rasa rindu Umak, Bak dan Adik pada kami. Jamur akan tumbuh dimusim hujan sepanjang tahun.” Kata Antam.

“Ibu, Aku dan Koyong pamit, nak pergi jauh. Kami meminta maaf sebab melalaikan nasihat kakek dan nasihat Umak dan Bak. Sebab itulah kami menerima hukuman ini.” Kata Samdu. Sementara itu, Naljan juga bermimpi bertemu kedua kakaknya.

“Adikku, tetaplah jadi orang jujur dan baik. Patu pada kedua orang tua, serta selalu mendengarkan nasihat. Karena akan menyelamatkan hidupmu dan akan membahagiakan semua orang. Koyong minta maaf sebab telah berbuat salah, memberikan contoh yang salah.” Kata Antam. Lalu ketiganya berpelukan dan Naljan menangis sedih. Ayah Naljan membangunkannya karena dia menangis sedang tidur.

Sejak saat itulah, jamur tikus dan jamur kuping muncul di dunia ini. Sering tumbuh di batang-batang pohon rapu di hutan, atau di tengah ladang warga. Jamur itu tumbuh kembang biasanya setelah hujan di pagi hari. Ibu-ibu berbondong-bondong memunguti jamur, yang sangat enak rasanya.

Oleh. Joni Apero
Editor. Melly.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 13 Februari 2021.
Arti Kata: Koyong: Kakak. Umak: Ibu. Bak: Ayah. Pondok: Bangunan tempat tinggal sederhana. Getuk: Kentongan. Gaung: tanah berongga atau lobang besar pada tanah dimana mata air keluar dari dalamnya. Cendawan: Jamur. Talang: Kampung/desa. Nama pemukiman tradisional di provinsi Sumatera Selatan. Embacang: Nama jenis buah sejenis mangga.

Sy. Apero Fublic

Kisah Mengapa Ayam Betina Tidak Berjalu dan Ikan Bersengat

APERO FUBLIC.- Pada masa lalu, di dunia belum ada manusia. Bumi baru dihuni oleh hewan-hewan saja. Keadaan hewan pun banyak yang belum seperti sekarang. Ikan-ikan disungai belum ada yang bersengat, sedangkan ayam betina memiliki jalu. Di sebuah hutan yang terletak di kaki Bukit Pendape hiduplah sepasang ayam hutan. Ada sebuah sungai kecil dimana sepasang ayam sering minum.

Setiap hari selalu mencari makan dengan mengais-ngais sarap dan semak-semak hutan. Di hutan itu juga hidup seekor ular brot yang selalu menggangu sepasang ayam itu. Pada suatu ketika ular brot menghadang sepasang ayam itu.

“Broot. Broottttt. Ayam jago dan ayam betina, kalian harus memberikan banyak makanan padaku. Kalau tidak kalian akan aku patuk dan akan mati.” Kata ular brot.

“Hai ular brot, kami tidak akan perna memberi makan padamu, karena kau bukan majikan kami atau orang tua kami. Kau begitu pemalas dan hidup tidak punya tujuan seperti preman-preman. Kami tidak aka takut padamu.” Kata ayam jago, lalu dia berkokok nyaring.

“Kalau kau berani menyerang kami, maka kita akan bermusuhan selamanya. Sebab kau selalu mengganggu kami.” Kata ayam betina.

“Kalau begitu, Aku akan mematuk kalian dan mengeluarkan bisaku.” Kata ular brot. Dia kemudian menyerang ayam jago dan ayam betina. Kepala ular mematuk kesana kemari sambil melepas bisanya. Namun tidak sekalipun mengenai ayam jago dan ayam betina. Sebab mereka punya sayap dan dapat melompat tinggi dan jauh. Sampai akhirnya bisa ular brot habis dan dia juga kelelahan. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh ayam betina. Dia melompat lalu mengayunkan kakinya dan jalu ayam betina menancap di belakang ular brot. Ayam jantan kemudian datang dan menancapkan jalunya. Membuat ular brot kesakitan dan terluka.

“Ahhhhhh. Brottt. Brooot.” Teriaknya. Ular brot berlari cepat meninggalkan ayam jago dan ayam betina. Tapi dikejar terus menerus oleh keduanya. Sampai berhari-hari membuat ular brot ketakutan. Kini tiba di dekat sungai kecil dan ular brot terjepit.

“Mau lari kemana kau ular jahat.” Kata ayam jago, kemudian dia menyerang dengan jalunya. Ular brot yang terluka ketakutan, sehingga dia menjatuhkan dirinya kedalam air sungai. Setiap kali ular brot ingin naik ke darat selalu dipatuk dan diserang ayam jago dan ayam betina. Karena itulah, ular brot terbiasa tinggal di dalam air. Lama kelamaan ular brot memutuskan tinggal di dalam air, sampai sekarang. Ular brot pun lama kelamaan berevolusi seperti ikan. Makanannya pun ikan-ikan di sungai-sungai. Kalau malam atau setelah hujan, ular brot selalu berbunyi brot..brot..brott.

*****

Ular brot semakin banyak dari waktu ke waktu. Sehingga banyak sekali ikan-ikan yang mereka makan. Ikan-ikan tidak berdaya menghadapi ular brot, karena mereka tidak memiliki senjata. Suatu hari seekor ikan baung merenung di sisi tebing sungai. Dia tampak sedih dan bingun sekali.

“Wahai ikan baung, kenapa kau begitu sedih.” Tanya ayam jago. Ikan baung terkejut dan hampir saja dia berenang jauh kedalam air sungai.

“Oh, ternyata kau ayam jago sahabatku.” Kata ikan baung.

“cobalah ceritakan apa masalahmu, baung.” Kata ayam betina. Ayam jago tampak kehausan sekali, dia minum dengan tidak sabar.

“Begini ceritanya sahabatku, kami bangsa ikan sedang kesusahan sekali. Sebab ada banyak ular brot yang selalu memangsa kami terutama anak-anak kami. Kami tidak berdaya sebab tidak punya senjata untuk melawan.” Kata ikan baung.

Ayam jago dan ayam betina terkejut, ternyata ular brot sekarang sudah tinggal di dalam air. Pantas tidak pernah muncul ke permukaan lagi. Sekarang dia sudah mengganggu bangsa ikan juga. Kata ayam jago, dengan marah.

“Bagaimana, bukankah ini sebab kita yang mengusir ular brot itu.” Kata ayam betina.

“Kalau mereka tidak punya senjata, baik kau berikan saja jalumu istriku.” Kata ayam jago.

“Baiklah suamiku, kita juga bertanggung jawab dalam masalah ini. Jaluku juga mengganggu bertelur, kadang menusuk telur hingga pecah dan kadang tanpa sengaja menusuk anak-anak kami.” Kata ayam betina.

“Benarkah apa yang kalian katakan.” Tanya ikan baung.

“Benar sahabatku, ambillah jaluku ini. Sebab kalian lebih membutuhkan dariku.” Kata ayam betina. Ayam betina kemudian melepaskan jalu di kedua kakinya. Lalu diberikan pada ikan baung. Ikan baung gembira sekali, dia kemudian memasang jalu ayam betina di sisi kiri dan kanannya. Sejak saat itu ikan baung memiliki senjata. Lama kelamaan ikan-ikan lain mencontoh ikan baung, mereka membuat sengat. Seperti ikan leleh dan ikan lainnya.

Saat ular brot melihat jalu ayam betina di pakai ikan baung. Langsung ular brot ketakutan dan berlari sembunyi di rumpun-rumpun semak-semak di dalam air. Brottt. Brottt. Brottt bunyinya. Itulah mengapa dinamakan ular brot oleh penduduk.

Oleh. Joni Apero
Editor. Rama Saputra.
Tatafoto. Totong Mahipal.
Palembang, 13 Februari 2022.

Sy. Apero Fublic