8/03/2021

SYARCE: Mengapa Kita Mengapa Dunia???

APERO FUBLIC.- SYARCE. Pujangga kita kali ini, mengirim puisi yang penuh banyak pertanyaan tentang dunia kita sekarang. Keadaan dunia yang tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Moral dan akhlak terus terkikis. Kemudian manusia menjadi semakin liar dan buas.

Bagaimana dengan keadaan pemerintahan secara lokal dan internasional. Pemerintahan lokal penuh kebohongan, tingkat global diwarnai perebutan hegemoni. Persaingan senjata dan persaingan ekonomi. Membuat banyak blok-blok kekekuasaan dan saling bersaing.

Senjata nuklir, perang proksi dan persaingan perdagangan. Dunia terombang ambing. Seorang pujangga menuangkan keresahan jiwanya dengan sebuah puisi. Yang penuh tanda tanya tentang dunia kita sekarang. Dia pun ragu, dengan diri kita. Apakah kita sudah berubah, bukan lagi manusia.

MENGAPA KITA, MENGAPA DUNIA???
 
Mengapa kita, manusia?.
Kita manusia sama, walau warna kulit, warna mata berbeda.
Kita memiliki akal, dan hati.
Berbedalah kita dari hewan-hewan.
Kita bisa duduk bermusyawarah, bukan.
 
Lihat, alam kita hancur-hancuran.
Sungai dan lautan tercemar.
Hutan habis, limbah dan polusi juga.
Kita rakus, makan dan menghancurkan semua.
Lalu, apakah kita masih pantas dibilang manusia.
 
Kita manusia kerdil yang kecil.
Asal dari tanah, bersifat langit.
Musuh kita bukan siapa-siapa sesungguhnya.
Tapi musuh kita hanyalah diri kita.
Angan-angan kita, hayalan kita, dan ambisi kita.
Ingin menjadi lebih baik, secepatnya.
Namun merusak dalam waktu kedepannya.
Misalnya seperti industri dan minyak bumi.
 
Manusia saling ingin menguasai,
Ingin menjadi nomor satu, terhormat.
Tapi perbuatan menggapai melalui maksiat.
Ada yang membunuh, merampok, korupsi dan menjajah.
Hanya untuk ada di dalam sejarah.
Hanya ingin dibilang gemilang peradabannya.
 
Oh, manusia.
Mengapa kita, mengapa dunia kita??
Tidakkah kau mendengar saat perang dunia satu dan dua.
Dimana manusia dari tanah, menganggap derajadnya mulia.
Lalu berlombah-lombah membuat senjata.
Ingin saling menguasa.
Lalu meletus perang dunia, yang tak berdosa menjadi bencana.
Itulah manusia, yang lemah dan tidak mengerti.
 
Sekarang kita sadari, lebih mengerikan lagi.
Negara kuat ingin saling mendominasi.
Berambisi dunia dalam genggamannya.
Tidak tahu diri mereka, dan tidak pantas dibilang manusia.
Teknologi militer berkembang luar biasa.
Senjata nuklir, senjata hipersonik berkembang juga.
Perang dagang, perang senjata.
Berlomba membuat senjata, saling mencuriga.
Duh, perang dunia ketiga lebih berbahaya.
Dapat memusnakan umat manusia.
 
Sunggu penuh kedengkian dan serakah.
Bukankah kita dapat hidup bersama.
Di dunia yang hanya satu-satunya.
Duduk bermusyawarah, dalam segalah hal.
Jangan mendengki, gila kekuasaan dan gila harta.
Tiadalah guna mengejar dunia, demikian.
Sebab kita kelak mati jua.
 
Belum lagi masalah sosial, yang hancur.
Tatanan dunia yang kacau.
Pemutar balik fakta, dan penuh sandiwarah.
Hai, sunggu lelah kiranya.
Tentang dunia kita, yang indah.
 
Belumlah habis, yang sudah-sudah.
Belum pulah terbenah kehancuran lama.
Luka-luka kemanusiaan yang berdarah.
Belum lagi juga sandiwarah busuk para politisi.
Datang pulah bencana, virus berbahaya.
Virus yang menghentikan segala aktivitas.
Entalah !!!.
 
Mengapa kita, mengapa dunia?
Kita mungkin sudah berubah.
Bukan lagi manusia.
Bukan saya, bukan Anda !!
Mereka !!.

Kelak semua perbuatan manusia.
Akan diadili oleh yang kuasa.

Oleh. Adam Nur Hadi.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 4 Agustus 2021.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment