7/16/2021

Kemana ISIS Dimasa Pandemi Covid-19 ?

APERO FUBLIC.- Islamic State Irak and Suriah atau yang biasa kita kenal dengan sebutan ISIS ini merupakan kelompok radikal bersenjata yang tumbuh dan berkembang di Irak akibat jajahan dari Amerika Serikat. ISIS terbentuk sebagai politik balas dendam terhadap Amerika Serikat yang pernah memberikan serangan bom besar-besaran kepada negara Irak, dan pada saat itu Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) hanya diam saja. Namun setelah mendapat respon dan desakan dari beberapa negara Islam Timur Tengah, Amerika Serikat melalui PBB dicegah dan tidak bisa melakukan serangan lagi kepada negara Irak.

Amerika Serikat yang mempunyai ambisi untuk menjadi negara adidaya tunggal, mencari strategi untuk menguasai negara Timur Tengah. Sejak sekutu utamanya Shah Pahlevi tumbang oleh revolusi Khomeini, Amerika Serikat kehilangan hegemoninya atas Iran. Sedangkan Irak dibawah Saddam Hussein mencapai zaman keemasannya. Konfrontasi Irak-Iran meruncing tatkala Saddam Husein membatalkan perjanjian Algiers pada tanggal 18 September 1980 dan menginvasi Iran pada tanggal 22 September 1980, hingga meletuslah perang Irak-Iran.

Permulaan perang, Amerika Serikat memposisikan dirinya sebagai negara netral. Tetapi sikap netral tersebut hanyalah formalitas diplomatik saja, faktanya Amerika Serikat lebih cenderung pro ke Irak. Tetapi pro-nya Amerika Serikat kepada Irak hanyalah demi kepentingannya sendiri. Hingga akhirnya, Irak dijajah oleh Amerika Serikat dengan tujuan untuk kepentingan geopolitik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, menguasai minyak Irak.

Sebab Amerika Serikat mempunyai cadangan minyak yang sangat kecil, hanya 0,3% dari cadangan minyak dunia, sedangkan kebutuhan konsumsi minyak Amerika Serikat mencapai 23%, serta menyingkirkan Saddam Husein dan meneguhkan pengaruh politiknya di wilayah Timur Tengah. Setelah Saddam Husein digulingkan dalam invasi Irak oleh Amerika Serikat, Islam Sunni, dihukum gantung, peranan kelompok Syiah dikembalikan oleh Amerika Serikat.

Adanya gesekan yang kuat antara aliran Islam Syiah yang cenderung revolusioner dengan aliran Islam Sunni yang cenderung moderat. Sekarang yang berkuasa penuh di Irak bukannya Saddam Hussein selaku Presiden, tetapi Haider Al-Abadi selaku Perdana Menteri dari Islam Syiah, yang juga agama mayoritas penduruk Irak. Sedangkan Islam Sunni yang pernah berkuasa di Irak (minoritas) semasa Saddam Hussein, sekarang hanya diberi kewenangan di parlemen Irak. Itulah strategi atau politik adu domba Amerika Serikat dan sekutunya di “Negara 1001 malam” itu.

Lama-kelamaan dendam ini membekas di hati generasi-generasi Irak selanjutnya, mengingat ada yang orang tua maupun keluarganya dianiaya, disiksa bahkan dibunuh oleh Amerika Serikat. Hingga akhirnya, muncullah ambisi untuk balas dendam dengan Amerika Serikat dengan diakomodir oleh sebuah organisasi yang bernama Al-Qaedah.

Al-Qaedah adalah suatu organisasi paramiliter fundamentalis Islam Sunni yang salah satu tujuan utamanya adalah mengurangi pengaruh luar terhadap kepentingan Islam. Melalui organisasi inilah mereka berlatih dan belajar tentang kemiliteran, seperti cara menembak, latihan berperang, dsb. Sampai akhirnya, mereka menjadi gerakan sparatisme.

ISIS digunakan sebagai bentuk pengalihan isu dari negara barat, terkhusus Amerika Serikat untuk mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di daerah-daerah negara Timur Tengah. Irak, sebagaimana negara-negara Timur Tengah hingga saat ini merupakan pelaku utama produsen minyak dunia. Jurnal Oil and Gas memperkirakan Irak mempunyai cadangan minyak sebesar 115 miliar barel atau terbesar ketiga di dunia.

Ambisi Amerika Serikat untuk menguasai sumber minyak Irak ini dapat diketahui dari arsip yang dirilis oleh Arsip Nasional Inggris. Arsip itu menunjukkan pada tahun 1973, Amerika Serikat telah berencana menguasai sumber-sumber minyak di Arab Saudi, Kuwait, dan Abu Dhabi untuk menangkal minyak dunia Arab kepada Barat.

Dimasa kejayaan, ISIS yang memproklamirkan “kekhalifahan”, menguasai wilayah  luas di Suriah dan Irak. Pada Maret 2019, daerah kekuasaan mereka berhasil direbut kembali oleh Pasukan Demokratik Suriah (Syria Democratic Force/SDF) dan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat. Setelah itu, ISIS melakukan konsolidasi melalui jaringan rahasia dan terus meningkatkan kekuatan.

Sementara itu, di akhir tahun 2019 dunia dihebohkan dengan munculnya virus jenis baru yang mematikan, bernama Covid-19. Virus tersebut muncul pertama kali di Wuhan, Cina. Hingga akhirnya menyebar ke seluruh dunia, termasuk Irak. Sejumlah pihak khawatir masyarakat internasional mengabaikan perkembangan ISIS ini karena pikiran yang teralihkan oleh pandemi Covid-19 yang tengah melanda dunia saat ini. Namun, yang jadi pertanyaannya, apakah ISIS masih aktif ditengah pandemi Covid-19 ?.

Ketika otoritas kesehatan dunia WHO (World Healthy Organization) di seluruh dunia tengah berjuang menghadapi pandemi Covid-19, kekacauan yang disebabkan oleh virus jenis baru ini tampaknya justru “menguntungkan” bagi ISIS. Diperkirakan ada lebih dari 10 ribu milisi ISIS yang kembali menyatukan kekuatan di perbatasan Irak dan Suriah. Bahkan ISIS Afghanistan mencoba merekrut anggota dengan propaganda menentang perjanjian damai antara Taliban dan Amerika Serikat. Bahkan di Eropa, ISIS merekrut simpatisan dengan menggunakan propaganda radikalisasi secara daring.

Para simpatisan dan milisi ISIS juga bergerak di negara-negara dekat zona konflik. Namun, kegiatan dan ancaman mereka di zona konflik agak menurun dalam jangka pendek. Pandemi Covid-19 juga berdampak pada menurunnya perekrutan dan keuangan ISIS. Seluruh bentuk kebijakan seperti pembatasan sosial dan penguncian wilayah akibat Covid-19 secara langsung berdampak menekan serangan terror di banyak negara.

Meski demikian, pola serangan acak yang dilakukan seorang milisi dan simpatisan ISIS masih menjadi ancaman. Propoganda ISIS secara daring juga tidak surut di tengah pandemi. ISIS juga mengeksploitasi dampak pandemi terhadap kondisi ekonomi dan politik di dunia.

Bertanya mengenai kemana ISIS dimasa pandemi Covid-19 ?.

Jelas secara organisasi atau kelompok,mereka masih ada. Namun, langkah-langkah untuk meminimalisasi penyebaran Covid-19, seperti lockdown dan pembatasan pergerakan, tampaknya mengurangi resiko serangan teroris dibanyak negara, khususnya gerakan radikalisme dari ISIS.

Dan seperti yang kita ketahui, pandemi Covid-19 ini melanda seluruh negara yang ada didunia tanpa terkecuali. Khususnya negara-negara barat, seperti Amerika Serikat yang masih sibuk mengurusi perekonomian negara akibat dampak pandemi Covid-19. Jadi, propaganda politik dengan menggunakan isu radikalisme untuk mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di daerah-daerah negara Timur Tengah, baik itu gas, minyak, mineral, batubara, dsb sudah tidak gencar lagi digunakan, karena negara Amerika Serikat tengah sibuk memikirkan dan mencari cara untuk menstabilkan ketimpangan perekenomian negara, serta menurunkan angka kemiskinan dan jumlah kematian dari warga negaranya.

Oleh. Sheny Agustina.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 17 Juli 2021.
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Fakultas Adab dan Humaniora, Prodi Politik Islam.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment