Syarce

Syarce adalah singkatan dari syair cerita. Syair cerita bentuk penggabungan cerita dan syair sehingga pembaca dapat mengerti makna dan maksud dari isi syair.

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

@Kisahku

@Kisahku adalah bentuk karya tulis yang memuat tentang kisah-kisah disekitar kita. Seperti kisah nyata, kisah fiksi, kisah hidayah, persahabatan, kisah cinta, kisah masa kecil, dan sebagaginya.

Surat Kita

Surat Kita adalah suatu metode berkirim surat tanpa alamat dan tujuan. Surat Kita bentuk sastra yang menjelaskan suatu pokok permasalaan tanpa harus berkata pada sesiapapun tapi diterima siapa saja.

Sastra Kita

Sastra Kita adalah kolom penghimpun sastra-sastra yang dilahirkan oleh masyarakat. Sastra kita istilah baru untuk menamakan dengan sastra rakyat. Sastra Kita juga bagian dari sastra yang ditulis oleh masyakat awam sastra.

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

10/27/2020

Naskah Klasik Caretana Rama

Apero Fublic.- Naskah klasik Caretana Rama ditulis berbahasa Sunda. Caretana Rama berarti Cerita Rama. Cerita Rama adalah cerita kesastraan dari zaman Hindhu. Naskah ditulis dengan berbait-bait, dan ciri khas naskah wilayah di kepulauan Jawa adalah menggunakan sistem pupuh.

Tapi di dalam naskah ini hanya ditulis Puh saja. Pupuh adalah subjudul monoton yang terus dipakai oleh para sastrawan klasik. Seperti biasa nama pupuh, Dhnandanggula, Pangkor, dan lainnya. Terdapat sebanyak 42 pupuh. Setiap bait berjumlah sepuluh baris secara keseluruhan.

Naskah Caretana Rama mengisahkan kehidupan masyarakat Hindhu dan para dewata. Sebagaimana sastra klasik biasanya, selalu menceritakan kehidupan keluarga raja. Cerita ini mengisahkan tokoh yang tidak asing lagi, yaitu Sri Rama, Laksmana, Hanuman, Dewi Sita dan negeri khayalan Alengkahpura. Berikut cuplikan dari naskah klasik Nusantara, Caretana Rama.

1.Dhandhanggula.
........
........(tidak terbaca dan halaman hilang).
....longna singgih.
Ingkang sudya amaca.
 
Kang anggadhah panedhanireki.
Dhateng ingkang wong sudya amaca.
Aja ngemu mucang reke.
Miwah jarijiipun.
Empung kongsi telesireki.
Manawa katitisan.
Ing layang puniku.
Punika kawedhinira.
Kang anggadhah bohbeleh dadi awoni.
i sastra punika.
 
Kalanipun anerat puneki.
Kertisastra tunggeng giryeng anak.
Ing desa Pacanan reke.
Kampong Talang puniku.
Loring margi enggenireki.
Salaminya punika.
Taksi woten reku.
Yen tan teka anakira.
Jalyestri masa mantuk ing giryani.
Ing kitha Pamlingan.
 
Wiwitipun tinurun puniki.
Caritani Sang Bathara Rama.
Duk kala tinambak tasik.
Sindhubangnda ranipun.
Damel margweng Alengka puri.
Sang Mraja Dasamuka.
Kang drebe prajeku.
Ratwagung gagah prakusa.
Datan nana ngimbangi prajuritani.
Sakweng yaksa Alengka.
 
42.Puh Artati
1.Irika kang ari matur aris.
Denirarsa mulat ing Rahwana.
Pan kasusra ing rat kabe.
Menggih wanini langkung.
Ndan Sang Rama anut ing kapti.
Anuli sira kesah.
Ranten Ian sang prabu.
Wibisana Ian Anuman.
Tunggweng gerwanira ri saksana prapti.
Ing prenah Dasamuka.
 
2.Mapan ana ing padaning wukir.
Sarandiba aneng sela-sela.
Nenggih Sumandha linggihe.
Mwang yan sawiyos tutur.
Ana ta kang watuh sawiji.
Rupani puri agrah.
Sarandiba putung.
Kasawat dera Anuman.
Puka tiba nibani Rahwana linggih.
Senetan kapipitan.
 
3.Nuli Rama mara Ian kang ari
Katon rupa Rahwana anandhang.
Curna kweh tana selane.
Geti mili umancur.
Ing selarga malah amarit.
Delwa-rena tan pegat.
Ludiranya metu.
Malah mangke lagi ana.
Sang Rahwana Citradana Ian kang ari.
Bradana ebat mulat.

Bagi kamu akademisi kesastraan, budaya, dan sejarah dapat menjadikan buku ini sebagai bahan penelitian. Untuk karya ilmiah seperti skripsi, tesisi atau disertasi. Sebab buku ini hanya mempublikasikan transliterasi aksara ke aksara latin. Tidak memberikan terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia. Demikianlah informasi sastra klasik kali ini. Semoga bermanfaat dan memberikan inspirasi pada Anda.

Buku transliterasi aksara ini diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, 1985. Alih aksara oleh Sudibjo Z. Hadisutjipto. Buku terdiri dari, kata pengantar, ringkasan cerita dan alih aksara ke aksara latin.

Buku setebal 386 halaman dengan sampul hitam merah. Kalau Anda tertarik dengan buku alih aksara ini. Dapat menjumpai di Perpustakaan Daerah atau Perpustakaan Pusat.

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 28 Oktober 2020.
Sumber: Sudibjo Z. Hadisutjipto. Caretana Rama. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985.


Sy. Apero Fublic

10/26/2020

Standar Operasional Prosedur (SOP) Perlindungan Wartawan

Apero Fublic.- Rakyat Indonesia telah memilih dan berketetapan hati melindungi kemerdekaan menyatakan pikiran dan pendapat itu dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat dan bagian penting dari kemerdekaan menyatakan pikiran dan pendapat yang tertuang secara khusus dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999.

Dalam pelaksanaan kemerdekaan pers, wartawan merupakan bagian penting didalamnya. Sehingga dalam menjalankan tugas-tugasnya wartawan mutlak untuk mendapat kepastian dan perlindungan hukum dari negara, masyarakat dan perusahaan. Untuk itu Standar Perlindungan Profesi Wartawan ini dibuat:

SOP PERLINDUNGAN WARTAWAN

1.Perlindungan yang diatur dalam standar ini adalah perlindungan hukum untuk wartawan yang menaati kode etik jurnalistik dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya antara lain meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi melalui media massa guna memenuhi hak publik memperoleh informasi.

2.Dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, wartawan dilindungi dari segala jenis tindak kekerasan, penyitaan dan atau perampasan alat-alat kerja, serta tidak boleh dihambat atau diintimidasi oleh pihak manapun.

3.Karya jurnalistik wartawan dilindungi dari segala bentuk penyensoran dan plagiat.

4.Dalam menjalankan tugasnya wartawan dibekali surat penugasan, peralatan, asuransi, serta pengetahuan, keterampilan dari perusahaan pers.

5.Dalam penugasan jurnalistik di wilayah konflik bersenjata, wartawan dibekali dengan alamat keselamatan diri dan tidak menggunakan identitas pihak yang bertikai, wajib diperlakukan sebagai pihak yang netral dan diberikan perlindungan hukum sehingga dilarang diintimidasi, disandera, disiksa, dianiaya, apalagi dibunuh.

6.Dalam perkara yang menyangkut karya jurnalistik, perusahaan pers diwakili oleh penanggungjawabnya dengan didampingi oleh kuasa hukum.

7.Dalam kesaksian perkara yang menyangkut karya jurnalistik, penanggungjawabnya hanya dapat ditanya mengenai berita yang telah dipublikasikan. Wartawan dapat menggunakan hak tolak untuk melindungi sumber informasi;

8.Pemilik atau manajemen perusahaan pers dilarang memaksa wartawan untuk membuat berita yang melanggar Kode Etik Jurnalistik dan atau hukum yang berlaku.

9.Dalam melaksanakan tugas jurnalistik wartawan mendapat perlindungan hukum dari negara, dari masyarakat, dan perusahaan pers.

10. Setiap wartawan dilarang memaksakan diri dalam peliputan berita yang membahayakan jiwa secara langsung. Seperti mewajibkan memakai masker (APD Standar) saat peliputan ditengah penyebaran virus menular.

11. Diwajibkan memakai alat pelindung diri dalam situasi tertentu saat bertugas. Sebagai contoh menggunakan pelampung saat melakukan penyemberangan pada perairan.

Standar Operasional Prosedur (SOP) Perlindungan Wartawan ini dibuat untuk dijadikan pedoman dalam melindungi tugas-tugas wartawan dalam menjalankan profesinya.

Sy. Apero Fublic

Lontarak Tellumpoccoe: Sejarah Asal-Usul Kesultanan Bone

Apero Fublic.- Bone adalah nama sebuah kerajaan yang terletak di kawasan Sulawesi. Sebelum masuk Islam raja dan masyarakat Bone memeluk agama nenek moyang. Bone salah satu kerajaan orang Melayu Bugis. Menurut Lontarak Tellumpoccoe dalam epos Galigo raja pertama Bone adalah to manurung (Manurunge ri Matajang). To Manurung hadir memenuhi harapan rakyat kawasan tanah Bone waktu itu.

Istilah pengertian kata to berarti orang. Kata ma adalah menunjuk kata kerja. Kata to-ma-nurung berarti orang yang turun dari kayangan atau langit. Banyak ahli sejarah berpendapat to manurung adalah penakluk-penakluk dari daerah lain. Ada juga yang berpendapat kalau to manurung adalah cerita karangan untuk menyatukan masyarakat Bone atau sebagai pengangkat kedudukan keluarga raja.

Menurut silsilah Raja-Raja Bone tercatat ada 34 orang raja Bone dan dua Jenang. Sedangkan menurut Lontarak Tellumpoccoe raja Bone hanya tercatat 15 raja dan dua Jenang. Raja pertama Bone bernama Manurunge ri Matajang menikah dengan Manurunge ri Toro.

Dari pernikahan tersebutlah menurunkan raja-raja Bone. Manurunge ri Matajang digelari rakyat Bone, Mangkauk e ri Bone. Sebutan masyarakat Bone untuk raja pertama mereka Mata Silompok e. Dari pernikahan tersebut lahir putra-putri raja-raja Bone. Yaitu, La Ummassa, Pattanra Wanua dan tiga orang lagi.

Arung Mata Silompok e atau Mangkauk e ri Bone terkenal dengan jasa masa pemerintahannya. Pertama, menetapkan aturan berkenaan dengan pemilikan harta benda bagi segenap individu dalam suatu kelompok  keluarga yang mengalami perceraian. Kedua, menciptakan berbagai peraturan, peradilan serta hukum, hal mana kemudian ditaati secara turun-temurun oleh rakyat setempat. Ketiga, menciptakan bendera kerajaan yang disebut Woromporongnge.

Manurunge ri Matajang memimpin Bone selama empat pariama atau 32 tahun. Manurunge ri Matajang mangkat atau wafat secara gaib. Yaitu, gaib bersama datangnya sambaran kilat dan petir. Sebelum mangkat beliau menobatkan putranya La Ummassa menjadi Raja Bone dengan disaksikan oleh seluruh rakyat Bone. Semasa kepemimpinan La Ummassa dilakukan perluasan wilayah. Seperti penaklukkan kerajaan kecil diantaranya, Beru, Cellu, Malou, dan Majang.

Berikutnya raja Bone dilanjutkan oleh keturunan dan keluarga kerajaan. Pemimpin tidak dimonopoli pihak laki-laki saja. Tapi membolehkan tahtah diwariskan pada anak perempuan. Dalam tradisi kerajaan Bone tidak ada perebutan kekuasaan. Apabila raja sudah dilantik maka rakyat akan patuh. Setelah La Ummassa raja ketiga bernama La Saliwu Kerampeluwak, dilantik menjadi raja Bone saat masih bayu, yaitu baru berumur satu hari.

Kemudian We Benrigau Makkaleppie (wanita), La Tenrisukki, La Wulio Botek e, La Tenrirawe Bongkae, La Iccak, La Pattawe, We Tenrituppu, La Tenriruwa Sultan Adam Matinroe ri Bantaeng, La Tenripale Toakkeppeang, Tosenrima Matinroe ri Siang.

Semasa Kesultanan Gowa menguasai Bone, menempatkan perwakilan pemerintahan karena Bone selalu memberontak. Perwakilan bergelar Jennang. Jennang pertama bernama Jennang Toballa. Jennang Toballa kemudian berbalik melawan Kesultanan Gowa. Dalam perang Jennang Toballa kemudian tewas. Setelah itu, Jennang Toballa diganti oleh Jennang Arung Amali.

Situasi kembali berubah dimana Kesultanan Gowa runtuh oleh serangan Arung Palakka dan gabungan pasukan VOC Belanda. Bone kemudian dipimpin oleh Arung Palakka dengan gelar, “La Tenritata To Unru Arung Palakka Sultan Sa’aduddin To Risompae Matinroe Ri Bontoala.

Pada masa sebelumnya Perjanjian Persaudaraan telah disepakati antara tiga kerajaan. Yaitu, Kerajaan Wajo, Bone dan Soppeng. Perjanjian persaudaraan tersebut dinamakan “Mallamumpatu e ri Timurung,” yang berarti Penanaman Batu di Timurung. Terjadinya perjanjian Tellumpoccoe pada masa pemerintahan Raja Bone ke VII, La Tenrirawe Bongkae. Isi perjanjian Tellumpoccoe atau perjanjian persaudaraan tiga sahabat.

Pada woroane seina seama    : bersaudara seibu sebapak.
Tana ta ia tellu                       : Tanah Negeri kita bertiga.
Bone-Wajo-Soppeng               : Bone-Wajo-Sopeng.
Manguru ja manguru deceng : Bersama dalam duka dan suka.
Seuwa uluwang                      : seorang anak sulung.
Seuwa anak tengnga             : seorang anak tengah.
Seuwa pakcucung                  : seorang anak bungsu.
Mattulu parajo                       : berpilin bagaikan parajo (tali).
Tellu Teppettu                        : tiga yang takterputuskan.
Siranreng tessibelleyang       : seiring sejalan-seia sekata.
Makkedawang ri saliweng      : menyebar luas di luar.
Temmakkedawang ri laleng   : tak menyebar ke dalam.
Nama anak eppo                    : diwarisi anak cucu.
Tennawawa to mate               : takkan terbawa ke kuburan.
Taro adanna tanae                : kita sepakat tanah kita.
Tellu masseajing                    : Tiga saudara.
Bone-Wajo-Soppeng               : Bone-Wajo-Soppeng.
Nasabbi dewata seuwa e        : disaksikan oleh Maha Dewa.
Tapasengengi anak eppota    : kita wasiatkan pada anak cucu.
Ia’ mpelai taro adanna           : siapa yang mengingkar kata mufakat.
Tannae ia tellu masseajing    : tanah kita tiga saudara.
Makkuwa ramuramunna       : dialah akan remuk.
Tanana ia tellu                       : tanahnya bertiga.
Itello naottongie batu             : bagai telur tertimbun batu.
Iapa namarussak                   : barulah akan rusak.
Taro adanna tanae iatellu     : perjanjian tanah kita bertiga.
Bone, Waja, Soppeng             : Bone-Wajo-Soppeng.
Marussak pi peretiwie            : Bilah bumi telah runtuh.
Batarae                                  : Langit (juga runtuh).
Tesengengngi tanata              : Kita namakan tanah kita
Tellumpoccoe                          : Tiga saudara (Tiga Bukit).

Perjanjian persahabatan Tellumpoccoe mulai berakhir saat Gowa mulai melakukan penyerangan terhadap Wajo, Soppeng dan Bone. Pada awalnya Kerajaan Wajo ditaklukkan oleh Kesultanan Gowa. Menyusul kemudian Kerajaan Soppeng ditaklukkan Gowa. Kedua wilayah perlahan menerima Islam dan menjadi sekutu Kesultanan Gowa.

Kemudian menyusul Kerajaan Bone ditaklukkan oleh Kesultanan Gowa. Namun, pihak kesultanan tidak melakukan campur tangan dalam pemerintahan. Sehingga masyakat Bone mengatur sendiri pemerintahannya. Mereka tetap tidak mau menerima Islam sebagai agama. Rakyat Bone kemudian melakukan pemberontakan. Namun dapat dipatahkan oleh pasukan Kesultanan Gowa.

Islam mulai masuk dengan baik dimulai dari Raja La Tenriruwa Sultan Adam Matinroe ri Bantaeng. Raja Bone ke-XI seorang Muslim. Namun hanya memimpin tiga tahun dan dia pergi ke Pattiro. Karena Dewan Hadat dan masyarakat menolak mentah-mentah Islam.

Rakyat Bone kemudian melantik raja mereka yang ke-XII. Bernama La Tanripale Toakkeppeng adalah putra La Icca (Raja Bone–VIII). Semasa kepemimpinan Raja La Tenripale dia kembali melakukan perlawanan terhadap Gowa. Mereka menentang dakwa Islam dan memberontak. Tapi kembali dikalahkan oleh laskar Kesultanan Gowa. Sejak saat itu, perlahan Rakyat dan Raja Bone perlahan menerima Islam. Setelah menerima Islam Raja Bone La Tenripale sering berkunjung ke Makasar.

Karena Bone yang terus memberontak, maka Kesultanan menempatkan perwakilannya. Perwakilan tersebut diberi gelar, Jenang. Masa Jenang Toballa terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Jenang perwakilan Gowa. Pertempuran kembali berkobar antara Bone dan Gowa. Kembali Bone kalah dan takluk pada Kesultanan Gowa.

Kekalahan Kesultanan Gowa diserang oleh pasukan VOC dan Arung Palakka membuat situasi politik berubah. Namun, Kesultanan Wajo yang sudah menjadi sahabat Kesultanan Gowa masih terus memihak Kesultanan Gowa. Sehingga Arung Palakka menyerang Kesultanan Wajo. Wajo kemudian kalah dan hancurkan, sedangkan raja gugur dalam perang. Sejak itu, persaudaraan tiga kerajaan Wajo, Bone dan Soppeng berakhir (Tellumpoccoe).

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 26 Oktober 2020.
Sumber: Pananrangi Hamid dan Tatiek Kartikasari. Lontarak Tellumpoccoe. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1992/1993.

Sy. Apero Fublic.

10/25/2020

Lontarak Tellumpoccoe: Sejarah, Budaya, dan Perjuangan. (Sulawesi Selatan).

Apero Fublic.- Naskah Klasik. Tradisi menulis di Nusantara Indonesia tersebar disetiap daerah. Salah satunya tradisi tulis tangan menggunakan daun lontar dari masyarakat Sulawesi yang dikenal dengan tradisi tulis Lontarak. Ada yang ditulis dengan aksara Bugis atau aksara Makasar. Ada juga yang ditulis dengan aksara Arab yang dinamakan hurupuk serang.

Salah satu naskah lontarak, adalah Naskah Lontarak Tellumpoccoe. Naskah ini mengisahkah tentang kehidupan keluarga kerajaan Bone dan masyarakatnya. Permasalahan yang sulit dan penuh intrik politik istanah. Tellumpoccoe bermakna Tiga Saudara atau Tiga Bukit.

Pada saat zaman kertas masyarakat menulis dengan menggunakan kertas. Begitu juga saat masyarakat menerjemahkannya atau menyalin ulang juga menggunakan kertas. Tapi dalam penamaannya masyarakat Sulawesi tetap menyebut dengan Lontarak.

Kisah Naskah Lontarak Tellumpoccoe dimulai dari zaman kedatangan to-manurung lokal sekitar tahun 1326 sampai jatuhnya Kesultanan Gowa oleh kekuatan Kompeni Belanda pada tahun 1667 Masehi.

Dalam lontarak Tellumpoccoe tercatat nama-nama Kerajaan atau Kesultanan masa itu di sekitar jazirah Sulawesi. Diantaranya, Bone, Wajo, Soppeng, Luwu, dan Kesultanan Gowa. Dalam cerita dikisahkan hubungan damai dan perang antar satu sama lain.

Dikisahkan setelah masa Kepemimpinan Raja Galigo, di kawasan kerajaan tersebut tidak ada lagi kedamaian, dan ketentraman. Yang berlaku masa itu adalah hukum rimba dan manusia saling menghianati dan memusuhi. Masa kacau ini berlanjut selama tujuh keturunan atau disebut pitutureng (tujuh musim/masa).

Tellumpoccoe diambil dari nama perjanjian aliansi atau bersatunya tiga kerajaan Bugis, yaitu Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng (trialiansi). Perjanjian persahabatan itu disebut; Mallamumpatu e ri Timurung (Penanaman batu di Timurung). Namun karena politik perjanjian Telummpoccoe hancur oleh Arung Palaka. Ketika Kesultanan Wajo tetap berpihak dan setia pada Kesultanan Gowa.

Dalam bahasa asli naskah Tellumpoccoe.

1.Ia nae surek poadaada-engngi tana e ri Bone / Enreng ngia mangkuk e ri Bone / Angkan na rirapik e mengkalinga / Napau e to-matoa/.

2.Tania upo-mabusung / Tania upo-maweddawedda / tekku-matula poadada aseng tolebbi / Aga kuassimang memeng kui-nappa lakkek wija senri mangkauk e/.

3.Ia garek arung puwatta arung menrek e ri Galigo dek-na riaseng arung/.

4.Aga tenna sisseng tau e si ewa ada / Si-anrebale i tau e / Si-akbelli-belliang / Dek na adek / Apagi sia riaseng nge bicara/.

5.Pitutturen ni itta na dek arung / Sekua toni ro itta na tau e tessisseng siewa ada / Tekke bicara/.

Berikut terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia.

1.Inilah surat (lontarak) yang membicarakan (perihal;tentang) tanah Bone. Serta Mangkauk e ri Bone, khusus yang sempat didengar (dari) penuturan orang tua (leluhur). (Mangkauk e ri Bone adalah Gelar Raja Bone yang berati Raja Berdaulat di tanah Bone).

2.Tidaklah aku durhaka. Tidaklah aku terkutuk. Tidaklah aku kualat (karena) menyebut-nyebut nama orang-orang terhormat. Maka sebelumnya, aku lebih dahulu mohonkan ampun barulah kemudian menuturkan satu persatu keturunan baginda Mangkauk e.

3.Konon kabarnya baginda raja yang termuat dalam Galigo, tiada lagi seorang pun yang bertakhta. (Galigo berarti: sastra suci berjudul Galigo. Galigo nama putra Sawerigading dari isterinya bernama We Cudai).

4.Maka orang tidak lagi mengenal mufakat. Orang saling memangsa seperti ikan. Saling memusuhi. Tiada lagi adek. Aturan yang mengandung sangsi adat. Apa pula yang dinamakan bicara. Peradilan dalam menegakkan keadilan. (Adek berarti: aturan adat).

5.Sudah tujuh periode lamanya tiada raja (arung). Sudah sekian lamanya pula tiada kedamaian. Tanpa bicara. Peradilan dalam menegakkan keadilan. (arung berarti: raja, bangsawan, penguasa).

Lontarak Tellumpoccoe diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, 1992/1993. Peneliti atau penulis Pananrangi Hamid dan Dra. Tatiek Kartikasari dengan para penyunting Drs. S. Sumardi dan Sri Mintosih.

Buku transliterasi Naskah Lontarak Tellumpoccoe ditulis bahasa asli dan Bahasa Indonesia. Ada ulasan tentang naskah pada bagian awal buku. Pada Bab III ada analisa isi, dimana penjelasan bait-bait naskah cukup menerangkan maksud.

Buku terdiri dari 150 halaman. Bagi Anda yang tertarik dengan buku transliterasi Naskah Lontarak Tellumpoccoe dapat menemukan di Perpustakaan Daerah dan Perpustakaan pusat dengan sampul warna kuning.

Oleh. Tim Apero Fublic
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 26 Oktober 2020.


Sy. Apero Fublic.