12/02/2020

Hikayat Lebai Meon

Apero Fublic.- Seratus tahun yang lalu, hiduplah seorang bernama Lebai Meon. Lebai Meon adalah orang kaya yang banyak uang. Tapi Lebai Meon tidak pernah pergi jauh dari desanya. Pada suatu hari, Lebai Meon ingin pergi ke kota. Dia mengajak anak-anak dan istrinya.

Oleh karena itu, diapun menyewa mobil seorang pedagang Cina kenalannya, Cuat Hin. keluarga Lebai Meon pergi ke kota. Seumur hidup mereka baru sekali itulah menuju kota. Sehingga mereka tidak mengetahui apa-apa dan merasa aneh. Sebab kehidupan mereka penuh dengan kepolosan dan pemikiran tidak terbuka dengan hal-hal baru. Lebai Meon membawa uang di dalam peti besi untuk berbelanja.

Mereka memasuki kota dan turun dari mobil. Sopir dan mobil menunggu di parkiran terminal. Mereka satu keluarga berjalan-jalan menuju tempat berbelanja. Saat berjalan mereka melintasi sebuah bangunan. Di halaman depan gedung terdapat patung burung garuda yang besar dengan bentuk siap terbang. Sayap patung burung garuda otomatis dengan gerakan seakan hendak terbang.

“Oh istriku, anak-anaku lihat burung raksasa itu mau terbang. Lariiiiii.... jangan sampai ada yang disambarnya.” Teriak Lebai Meon memperingati anak dan istrinya dan mereka pun berlari kencang menjauh. Setelah itu, mereka berjalan berpegangan saling menjaga, terutama saat menyemberang jalan raya.

Mereka akhirnya sampai di sebuah toko roti. Penjual roti, untuk menarik pembeli dia membentuk potongan rotinya seperti bentuk bermacam hewan. Ada potongan roti yang berbentuk siput, beruang, boneka, dan lainnya. Melihat bentuk roti demikian merasa heranlah mereka satu keluarga.

“Ayah, lihat ada siput dibuat roti. Ternyata orang kota membuat roti dari siput.” Kata salah seorang anak Lebai Meon. Karena belum pernah makan roti dari hewan, maka mereka membeli roti-roti itu. Merasa aneh, sebab roti tidak jauh beda dengan roti biasa hanya bentuk saja yang berbeda. Orang di kota hebat dapat membuat roti dari jenis-jenis hewan, itulah pendapat mereka.

Sekarang mereka satu keluarga tiba di toko kain, milik pedagang seorang keturunan Arab. “Mau kain apa Tengku, silakan ambil saja.” Kata si pedagang. Mendengar itu, Lebai Meon dan anak-istrinya merasa heran. Alangkah baiknya pedagang itu pikirnya, dan mereka tanpa pikir panjang mengambil kain sesuka hatinya masing-masing. Setelah itu mereka mengucap terimakasih dan beranjak pergi. Pedagang itu merasa heran dan meminta bayaran.

“Tengku, belum dibayar?.” Kata pedagang itu. Lebai Meon merasa heran dan dirinya mau marah tapi dia tahan. Anak istri Lebai Meon juga menggerutuk benci. Ternyata orang berdagang di kota menggunakan cara-cara menjebak. Padahal jelas-jelas pedagang berkata, ambil saja apa yang mereka mau. Lebai Meon tersinggung, kemudian dia membayar dan kecil baginya membayar kain.

Mereka melanjutkan jalan-jalannya, dan sampai di Kebun Binatang. Mereka terkejut sekali, ternyata di kota hidup juga hewan-hewan. Mereka melihat berbagai jenis binatang dan terheran-heran di kota yang ramai banyak binatang hidup tenang dan ada rumah-rumah serta tempat-tempat sendiri. Lebai Meon dan keluarga merasa sangat heran dan tidak habis pikir.

Dari jauh mereka kemudian melihat asap membumbung tinggi. Lebai Meon dan keluarganya memandang keheranan. Ternyata di kota ada juga gunung apa aktif. Karena itu, Lebai Meon menduga kalau tidak lama lagi akan kiamat. Dimana gunung berapi telah muncul di kota-kota. Untuk menjawab penasarannya mereka sekeluarga pergi berjalan menuju gunung api itu.

Sesungguhnya yang mereka lihat adalah cerobong pabrik tidak jauh dari pasar sayur. Saat mereka tiba di pasar sayur, pandangan mereka telah terhalangi oleh gedung-gedung disekitar pasar. Sehingga tidak lagi dapat melihat kepulan asap yang menghitam itu. Kemudian mereka berbelanja dan membeli sayur mayur. Dan mereka tidak mengerti kemana hilangnya gunung api aktif itu.

Hari sudah soreh dan mereka mulai letih. Belanja sudah banyak dan Lebai Meon juga capek menggendong peti besi wadah uangnya. Mereka juga khawatir kalau-kalau nanti disambar burung garuda yang mereka jumpai tadi. Khawatir juga kalau gunung api akan meletus dan mereka akan mati. Maka mereka segerah pulang dengan muatan yang banyak sekali di mobil sewaan.

Mereka pulang, di perjalanan mereka melihat pedagang rambutan. Saat mereka mencicipnya ternyata rasanya lebih enak dari rambutan di desanya. Lebai Meon bertanya dimana batang rambutan itu. Pedagang itu, lalu menunjukkan kebun rambutannya. Tampak kebun rambutan berbaris rapi dan teratur. Oleh karena itu, Lebia Meon ingin membeli dua batang pohon rambutan untuk di tanam di desanya.

Pedagang rambutan awalnya keberatan karena tidak menjual batang pohon rambutannya. Tapi karena Lebai Meon mau membeli dengan harga mahal, maka dia mau menjualnya. Dengan susa paya mereka membongkar pohon rambutan itu. Setelah terbongkar beserta akar-akarnya, lalu dimuat diatas mobil sewaan mereka. Tampak begitu banyak muatan mobil ditambah dengan dua batang pohon rambutan utuh itu.

Perjalanan pulang dilanjutkan dan mereka tiba di desanya saat matahari sudah pagi. Mereka tidak istirahat, dan terus berjalan sepanjang malam. Memang jauh letak desa Lebai Meon dari kota. Saat tiba di desanya, orang-orang desa berkerumun melihat lebai meon. Semua bertanya tentang kota, sebab baru Lebai Meon dan keluarganya yang datang ke kota.

Lebai Meon menceritakan semua pengalamannya di kota. Mulai dari adanya burung garuda raksasa, roti dari hewan, pedagang yang menjebak, dan gunung api aktif yang siap meletus. Selain itu, di kota ada juga kumpulan hewan, bahkan harimau juga ada. Sehingga dia berpesan kalau ke kota harus hati-hati. Kalau tidak akan tertipu seperti dirinya oleh pedangan kain. Atau hampir disambar burung garuda raksasa.

Rewrite. Tim Apero Fublic.
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 2 November 2020.
Sumber: Informan Cik Ah, lahir di Besitang tahun 1934. Jenis kelamin seorang perempuan beragama Islam, Berbahasa Melayu. Masindan, Dkk. Sastra Lisan Melayu Langkat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment