11/29/2020

Mitos: Asal Usul Gempa Bumi

Apero Fublic.- Tersebutlah cerita bahwa dahulu kala dunia ini kosong. Tidak ada langit, laut, tanah dan seisinya. Sedangkan di surga Nabi Adam dan Hawa hidup bahagia sejahtera. Seperti yang telah dijanjikan Tuhan, Nabi Adam akan dijadikan Khalifah di bumi. Nabi Adam berpikir kalau mau ke dunia, tentu buah larangan yang dilarang Tuhan harus dia makan, karena itulah jalan ke dunia. Kalau tidak dimakan, tentu dia tidak akan keluar dari surga.

Setelah memakan buah khuldi maka Nabi Adan dan Hawa akan segerah dikirim ke dunia. Akan tetapi dimana dia harus tinggal. Barulah kemudian Tuhan menciptakan tanah dan lautan. Tanah adalah tempat manusia atau Nabi Adam dan Hawa istrinya hidup dan tinggal. Dari tanah mereka akan mencari makan. Sedangkan lautan dan air tawar untuk penyubur tanah. Yang dipikirkan adalah bagaimana agar bumi tidak runtuh dan hancur. Untuk itu, akan dibuatkan tiang penopang bumi.

Sebab kalau tidak ditopang bumi akan runtuh dan hancur. Manusia dan seisinya akan binasa. Itu berarti semuanya akan sia-sia dan Nabi Adam dan Hawa akan mati juga. Sehingga Tuhan akan menciptakan sesuatu yang dapat menopang tanah, lautan dan seisi bumi.

Akhirnya Tuhan menciptakan seekor kerbau raksasa yang sangat besarnya. Sekali kibasan ekor kerbau itu dapat merobohkan semua pepohonan di bumi, dapat membuat hewan mati, dan dapat menimbulkan angin topan, menimbulkan gelombang besar di lautan.

Kerbau sangat besar yang diciptakan Tuhan tidak memiliki nafsu apa-apa. Tidak makan, tidak pernah merasa haus dan lapar. Tidak bergeser, tidak berjalan, tidak lelah, tidak duduk, tidak tidur. Dia hanya berdiri kokoh dan tegak berdiri seperti yang Tuhan perintahkan padanya.

Hanya sesekali kerbau raksasa itu, mengipas-ngipaskan ekornya. Namun sekali-sekali dia mengibaskan ekornya. Tapi dari kibasan itu menyebakan angin topan yang sangat deras dan mengerikan. Sekali kibas dapat menyebabkan gelombang lautan besar, dan dapat merobohkan banyak pepohonan.

Setelah selesai menciptakan kerbau yang amat besar itu. Kemudian Tuhan meletakkan tanah bumi dan lautan diatas punggung belakang kerbau raksasa itu. Mulai saat itu, kerbau yang sangat besar itu menjadi penopang tanah dan lautan atau menopang bumi dan isinya. Setelah itulah, Nabi Adan dan Hawa istrinya turun ke dunia. Bumi masih sangat sepi tidak ada sesuatu selain tanah dan lautan. Adam menjadi sedih sebab tidak ada penghuni lain selain mereka berdua.

Oleh karena itulah, mulailah Tuhan ciptakan bermacam-macam tumbuhan dan bermacam-macam hewan-hewan. Diantaranya, Tuhan menciptakan biji sawi dan unggas putih. Unggas itu, makanannya biji sawi itu. Setelah kenyang memakan biji sawi, unggas itu terbang mengelilingi bumi.

Lalu sambil terbang dia membuang kotorannya.  Kotoran unggas itu menyatu dengan tanah, kemudian tumbuh jenis tumbuhan lainnya. Begitulah kebiasaan unggas itu, sehingga tersebarlah tumbuhan di muka bumi ini.

Begitu juga dengan Nabi Adam dan Hawa, mereka mendapatkan anak dan cucu juga. Sehingga manusia menjadi semakin banyak dan menyebar ke permukaan bumi. Begitu juga kehidupan dilautan berkembang biak memenuhi lautan dan sungai-sungai dengan takdir Tuhan. Seisi lautan dan sungai juga bermanfaat untuk manusia. Di daratan dan di udara hewan juga berkembang biak dengan takdir dari Tuhan  yang kuasa.

Suatu ketika, kerbau yang menjadi penopang bumi atau tanah dan lautan mengibas-ngibaskan ekornya. Sehingga dunia dilanda oleh angin topan yang sangat dahsyat serta diikuti hujan lebat.

Beribu-ribu tahun setelah hadirnya hewan dan tumbuhan keadaan bumi alami tidak jauh berbeda. Manusia tetap hidup makmur dengan makanan bumi yang melimpa. Angin topan membawa hujan bermanfaat untuk kehidupan bumi. Tanpa hujan tumbuhan, hewan, manusia akan mati.

******

Di antara hewan yang diciptakan Tuhan, ada hewan sangat kecil bernaam Agas. Agas tidak terlihat oleh mata manusia. Baru terasa kalau ada agas saat hewan itu menggigit tubuh manusia. Terasa sangat gatal dan bentol pada bekas gigitan agas. Tersebutlah kawanan agas ini mengerumuni kerbau raksasa penopang bumi (tanah dan lautan). Kalau menggigit kulit kerbau itu tidak bisa, sebab kulit sangat keras dan lebih keras dari besi.

Tapi saat kawanan agas yang banyakknya tidak terhitung itu masuk kedalam telinga kerbau penopang bumi. Kerbau itu, menjerit dengan suara lengkingan keras.  Kulit bagian dalam telinga kerbau lembut dan lunak. Berbagai usaha kerbau untuk mengeluarkan agas-agas itu dari telinganya. Namun tidak berhasil, sehingga membuat telinga kerbau sakit dan bengkak. Walau menahan sakit dan gatal tetap kerbau itu tidak bergerak atau bergeser sedikit pun.

Kerbau itu, menjaga agar bumi tidak terjatu atau terguling dari atas punggungnya. Dia memikirkan ketentraman penghuni tanah dan lautan. Tetap tidak bergerak sebab itulah tugasnya. Waktu demi waktu berlalu dan berlalu sampai zaman selanjutnya. Rasa gatal dan sakit akibat gigitan agas terus menerus di dalam telinga kerbau penopang bumi. Akhirnya dia sudah tidak tahan lagi menahan rasa tersiksa itu.

Kepala kerbau mulai terasa pusing, mata berkunang-kunang. Sehingga kebau khilaf dan terpaksa melanggar perintah Tuhan. Untuk mengusir agas yang mengganggu, dia kipaskan kuat-kuat ekornya. Namun, tanpa kerbau itu sadari terjadi bencana di permukaan bumi. Tanah menjadi sedikit bergeser dan kembali bergeser seperti semulah. Saat itulah, manusia mengalami bencana gempa bumi. Saat gempa bumi berhenti, berarti berhenti juga kerbau itu mengipas-ngipas agas.

Begitulah keadaan kerbau penopang bumi atau tanah dan lautan. Setiap kali kerbau mengipaskan ekornya disertai gerakan tubuhnya, maka terjadi gempa bumi. Kalau kibasan ekornya dan gerakan tubuh yang kuat akan terjadi gempa besar. Kalau kibasan ekor dan gerakan tubuhnya perlahan akan terjadi gempa kecil.

Begitu juga dengan kipasan kuping kerbau yang sangat besar penopang bumi dan lautan itu. Kibasan kuping sebelah kiri gempa bumi disebelah timur. Kibasan kuping sebelah kanan, gempa bumi sebelah kanan, begitulah seterusnya. Sebab agas selalu mengganggu kerbau raksasa itu.

*****

Pada zaman dahulu masyarakat Melayu di Langkat percaya dengan cerita ini. Sehingga masyarakat Langkat saat ada gempa selalu berdoa pada tuhan agar letak tanah kembali seperti semula. Ada juga masyarakat memukul kentongan beramai-ramai dengan maksud agar agas terkejut dan berhenti menggigit telinga kerbau penopang bumi.

Diharapkan juga kerbau tidak mengipaskan telinganya, baik kiri atau kanan. Karena akan menggeser letak tanah bumi. Kentongan juga untuk mengingatkan kerbau raksasa penopang bumi pada tugasnya. Pada masa lalu cerita ini, diceritakan pada generasi ke generasi, turun temurun.

Rewrite. Tim Apero Fublic
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 28 November 2020.
Sumber: Informan Amir Bintang, Lahir di Tanjung Pura tahun 1927, beragama Islam dan berbahasa Melayu. Masindan, Dkk. Sastra Lisan Melayu Langkat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment