2/01/2020

Sebuah Novel: Jawara. Angkara di Bumi Krakatau.

Apero Fublic.- Cerita silat acap kali memiliki ruang unik tersendiri untuk bersentuhan dengan lokalis dan filosofi tradisional. Fatih Zam dalam novel ini tampak gigih memanfaatkan itu semua. Menurut M. Irfan Hidayatullah seorang dosen Sastra Indonesia dari Unpad.

Begitupun ungkapan dari seorang cerpenis Benny Arnas: Banyak sekali pengarang yang mengangkat tema lokal dengan cita rasa yang dilokal-lokalkan. Namun, tidak demikian halnya dengan Fatih Zam. Cara yang ditempunya tidak biasa dan mengejutkan. Namun, tentu saja sehat untuk keragaman estetika cerita. Tabik!.

Sekilas tentang penulis novel Jawara. Fatih Zam putra asli Banten. Lahir pada 11 Muharam – riwayat pendidikan dari Sekolah Dasar, sampai Sekolah Menengah di Pandeglang. Persentuhan dengan dunia kesusastraan dimulai dari profesi sebagai marketer majalah. Fatih menjadi anggota Sanggar Sastra Siswa Indonesia (S3I), bimbingan Mohammad Wan Anwar. Serta aktif di rumah baca.

Setelah lulus SMA melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Padjajaran. Mengambil studi Ilmu Komunikasi pada kosentrasi Ilmu Manajemen Komunikasi, lulus tahun 2011. Fatih Zam, sudah aktif menulis sejak masih kuliah, seperti menulis artikel dan esai.

Sinopsis novel sastra Jawara: Prahara sengit di Tanah Banten, pertumpahan darah antara kaum jawara dengan para santri dan kiai terjadi di beberapa tempat. Saefudin, putra kiai pemilik pesantren berhasil meloloskan diri setelah ayahnya terbunuh dalam pertempuran.

Akankah dia menemukan jalan untuk membalaskan dendam sang ayah?. Sementara nun jauh di belahan Banten yang lain, pendekar muda  bernama Badai  tak tahan lagi untuk mengikuti nuraninya: mencari sebuah kitab yang disinyalir amat sakti, hingga pemiliknya akan memiliki ilmu yang tak terkalahkan. Konon kitab tersebut akan sangat berguna untuk menghadapi Angkara, jawara berkesaktian tak tertandingi yang berniat meluluhlantakkan seluruh pesantren di tanah Banten.

Namun, tentunya perjalanan ini tak akan mudah sebab nyawa taruhannya, mengingat tidak sedikit jawara yang juga menginginkannya. Akankah Badai berhasil mendapatkan kitab tersebut?. Akankah perseteruan antara kaum jawara dan pihak pesantren terus berlanjut.

Bagi kita semua untuk terus berpartisipasi dalam mengangkat kebudayaan asli kita. Terutama pada dunia kesusastraan. Sebab kesusastraan adalah ibu dari masyarakat. Kalau kesusastraan kita penuh dengan adegan lebai, mesum, cabul. Maka kehidupan masyarakat kita yang terpapar kesusastraan tersebut akan mengikuti hasil sastra tersebut.

Sebuah kritik kesusastraan semasa Orde Baru. Bukan untuk menjatuhkan atau menjelek-jelekkan kesusastraan zaman itu, tapi sebuah tinjauan untuk kita ambil pengajaran. Semoga kebangkitan kesusastraan kita sudah dimulai. Mari kita bangun identitas kesusastraan yang sesuai dengan sosial budaya asli kita, Indonesia.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Selita. S.Sos.
Foto. Dadang Saputra.
Palembang, 1 Februari 2020.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment