Syarce

Syarce adalah singkatan dari syair cerita. Syair cerita bentuk penggabungan cerita dan syair sehingga pembaca dapat mengerti makna dan maksud dari isi syair.

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

@Kisahku

@Kisahku adalah bentuk karya tulis yang memuat tentang kisah-kisah disekitar kita. Seperti kisah nyata, kisah fiksi, kisah hidayah, persahabatan, kisah cinta, kisah masa kecil, dan sebagaginya.

Surat Kita

Surat Kita adalah suatu metode berkirim surat tanpa alamat dan tujuan. Surat Kita bentuk sastra yang menjelaskan suatu pokok permasalaan tanpa harus berkata pada sesiapapun tapi diterima siapa saja.

Sastra Kita

Sastra Kita adalah kolom penghimpun sastra-sastra yang dilahirkan oleh masyarakat. Sastra kita istilah baru untuk menamakan dengan sastra rakyat. Sastra Kita juga bagian dari sastra yang ditulis oleh masyakat awam sastra.

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

9/19/2019

Mitos Puyang Bumi Selebar Ayak

Apero Fublic.- Sewaktu aku masih kecil kakek dan nenekku sering menceritakan tentang seorang sakti yang sangat misterius. Legenda ini begitu populer sewaktu aku kecil. Hampir setiap anak-anak mengetahui cerita si Puyang Bumi Selebar Ayak. Konon, Puyang Bumi Selebar Ayak sering muncul di tengah masyarakat.

Dia menyamar menjadi orang tua, menjadi pengemis, menjadi orang yang sakit parah, atau orang yang terlunta-lunta. Terkadang dia muncul seperti orang gila. Tidak jarang juga dia muncul sebagai seorang pemuda yang gagah berani. Kadang berwujud laki-laki kadang bersalin rupa menjadi wanita tua yang buruk.

Di juluki Puyang Bumi Selebar Ayak karena dapat bergerak cepat ketempat-tempat jauh. Seakan-akan bumi ini hanya selebar ayak saja. Puyang ini tidak pernah mati. Dia hadir di sepanjang zaman. Banyak orang-orang tua berkata kalau Puyang Bumi Selebar Ayak adalah jelmaan dari Nabi Khidir.

Puyang Bumi Selebar Ayak datang membantu orang diwaktu genting sekali. Seakan-akan kepanjangan tangan Allah. Dia hadir tepat waktu untuk menyelamatkan manusia yang beruntung. Di antara cerita-cerita yang pernah aku dengar di tengah masyarakat sebagai berikut.

Mengobati orang sakit.
Pernah suatu ketika ada seorang lelaki yang menderita bertahun-tahun karena suatu penyakit. Tubunya kurus dan kuning. Sehingga orang mengira dia tidak akan hidup lama lagi. Akan segerah meninggal dunia. Namun si lelaki tetap sabar dan pasrah pada Allah. Menerimah ketentuannya dengan ikhalas.

Suatu hari datang seorang lelaki muda berumur 30-an tahun. Dia seperti seorang pengembara atau musafir. Orang itu juga mengaku sebagai penjelajah daerah-daerah. Orang tak dikenal itu mampir kerumah si orang sakit. Oleh keluarga lelaki yang sakit parah, orang asing itu diperlakukan dengan baik, layaknya tamu istimewa.

Si orang asing bertanya mengapa anak muda itu terbaring, apakah sakit, sudah berapa lama. Tubuhnya tinggal kulit dan tulang, berwarna kuning. Ayah pemuda yang sakit itu menceritakan semua. Termasuk lama sakit itu, sudah sekitar lima tahun. Kemudian setelah akan pamit pergi melanjutkan pengembaraan.

Si lelaki asing itu meminta segelas air putih. Air itu dia jampi-jampi dan dia usapkan kekepala dan rambut pemuda yang sakit parah itu. Kemudian si orang asing pamit pergi. Kalau dia lewat lagi mungkin akan mampir katanya. Kemudian pergi menghilang dan tidak tahu rimbanya lagi. Beberapa waktu kemudian si pemuda yang sakit parah perlahan membaik. Tubunya perlahan berisi dan sehat.

Hingga dua bulan dari hari itu si pemuda menjadi sehat seperti sediakalah. Bahkan bertambah sehat dari sebelum dia sakit. Orang tua dan keluarga si pemuda bersyukur pada Allah. Mereka juga menyadari kalau orang asing tersebut bukan orang sembarangan. Mereka bilang mungkin dia Puyang Bumi Selebar Ayah atau Nabi Khidir persi orang Melayu.

Membantu Orang Miskin.
Pernah suatu ketika ada seorang wanita balu,[1] hidup miskin dengan dua anaknya, satu laki-laki dan satu perempuan. Suaminya telah meninggal enam tahun lalu. Mereka hidup sederhana apa adanya. Anak lelakinya masih belum dewasa sehingga belum dapat membuka ladang baru. Suatu hari, beras mereka telah habis. Begitupun dengan makanan lain, seperti ubi, keladi, sagu, juga telah habis.

Wanita balu tersebut bersedih hati. Terkenang akan suaminya. Dia berkata seandainya suaminya tidak meninggal. Tidak mungkin mereka kehabisan makanan seperti ini. Dalam lamunan itu, tiba-tiba datang seorang wanita tua di halaman rumahnya. Wanita itu tampak lesu, baju bertambal-tambal, dan tubuhnya penuh koreng. Si wanita balu bertanya ada keperluan apa si nenek mampir.

Si nenek meminta makan dan minum dia kehausan dan kelaparan. Si wanita balu sedih sekali, mereka juga sedang bingung mau mencari kemana makanan. Tapi si wanita balu tetap baik hati. Dia memberi minum si nenek, dan memberi beberapa butir pisang rebus sisa sarapan mereka pagi tadi. Si nenek buruk rupa itu berterimah kasih dan makan pisang dan meminum air.

Setelah itu si nenek pamit, mengucap terimah kasih dan salam. Lalu menghilang di ujung jalan desa. Si wanita balu berusaha menghibur kesusahan hatinya. Dia berusaha melihat batang keladi yang baru dia tanam sebulan yang lalu di kebun belakang rumahnya. Mungkin sudah dapat di panen.

Saat dia melihat kebunya itu sudah berubah keadaannya. Ubi, pisang, keladi, sekarang tumbuh subur dan banyak umbi dan pisang bertandan siap masak. Betapa bahagia si ibu balu itu. Namun dia tidak habis pikir. Jelas-jelas kebun mereka masih baru ditanam semua. Tapi mengapa seolah-olah sudah lama. Karena bahagia dia bermaksud memberi tahu anaknya yang sedang tidur siang di kamar masing-masing.

Si wanita balu merasa belum yakin, apakah dia bermimpi. Saat dia masuk rumah, diatas meja sudah banyak makanan, begitupun di dalam bilik padinya sudah penuh dengan bulir padi dan siap di tumbuk. Maka selamatlah hidup si wanita balu itu sampai anaknya dapat berladang beberapa tahun kemudian.

Memberi Pelajaran Orang Kaya Yang Sombong
Pernah pada zaman dahulu ada orang kaya. Tapi dia sangat sombong dan takabur. Sehingga dia berlaku semena-mena dan merasa kekayaannya bukan dari keberkahan Allah tapi sebagai bentuk hasil kerja keras dan kepintarannya. Orang kaya tersebut sangat merendahkan orang-orang miskin.

Sehingga dia sering berbuat sewenang-wenang. Baginya tidak ada orang paling hebat selain dirinya. Pada suatu hari dia kedatangan orang tua yang berpakaian compang-camping, dan terlunta-lunta. Saat orang tua itu mampir di rumah si orang kaya. Maka orang kaya itu mengusir, memukul, dan mencaci maki orang tua tidak  dikenal itu. Maka si orang tua itu pergi, sambil menahan sakit.

Waktu berlalu,  dalam waktu sebulan kemudian si kaya mulai tertimpa musibah, dari kebakaran, kecurian, kerugian dan sakit parah. Sehingga tidak lama kemudian dia jadi orang paling miskin di desanya. Dua rumah panggung yang besar miliknya habis terbakar. Dia pun bersama keluarganya membuat gubuk bambu di tanah lapang bekar rumah terbakarnya.

Kesimpulan Dari Cerita
Kalau dicermati jalan cerita yang sepenggal-sepenggal itu memberikan cerminan pelajaran untuk semua orang. Seperti, hidup harus sabar menghadapi cobaan seperti cerita orang yang sakit. Kemudian hidup jangan berputus asa karena rahmat dan pertolongan tuhan itu dekat. Tercermin dalam cerita wanita balu dan si orang sakit. Kalau menjadi orang kaya, orang berkuasa jangan pernah berlaku sombong.

Dunia ini berputar, hari ini kaya besok lusa bisajadi orang paling miskin. Memperlakukan orang dengan baik. Menjamu tamu dengan baik. Menghormati orang tua kenal atau tidak. Menjadi manusia yang suka menolong. Berjiwa pahlawan dan suka membantu sesama. Jangan suka berbuat semena-mena. Apabila ditimpa musibah atau cobaan hendaklah jangan berputus asa. Menghargai orang jangan dilihat dari penampilannya. Jadilah orang sederhana.

Dampak Negatif Cerita Pada Paham Masyarakat
Cerita ini, membuat masyarakat selalu berhati-hati dengan orang-orang asing yang berlalu atau lewat. Terutama dengan orang yang berpenampilan tidak lazim. Seperti seorang wanita atau laki-laki tua yang bertamu kerumah seseorang dengan penampilan sederhana, misalnya berbaju compang camping. Ada kepercayaan kalau orang tua yang berlalu seperti musyafir adalah orang sakti.

Orang yang dia singgahi akan beruntung. Orang tua misterius yang sakti akan memberikan tua atau berkah pada rumah yang dia singgahi. Ada paham kalau pemilik rumah yang disinggahi berbuat tidak sopan dan berlaku sombong, maka Puyang Bumi Selebar Ayak akan memberikan hukuman. Seperti terkenah musibah, terkenah penyakit, terkenah kesialan yang berkepanjangan. Seandainya dia orang kaya akan menjadi miskin dalam beberapa waktu kemudian.

Dalam kepercayaan terhadap mitos ini, sangat rentan masyarakat terkena tipu di zaman sekarang. Karena tidak mustahil ada orang yang pura-pura menyamar menjadi pengemis dan kemudian pura-pura meramal atau berlagak sebagai orang memiliki kemampuan supranatural. Ada baiknya agar masyarakat jangan lagi mempercayai mitos Puyang Bumi Selebar Ayak. Tapi hanya menjadikan mitos atau legenda Puyang Bumi Selebar Ayak sebatas cerita rakyat atau sastra lisan biasa.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 19 September 2019.
Sketsa. Apero Fublic

Arti kata: Ayak sejenis saringan manual terbuat dari anyaman rotan. berbentu bulat hampir mirip tampa tapi anyaman jarang berlobang-lobang. Ayak di dalam cerita ini adalah ayak padi. Biasanya ayak ini berdiameter 50 cm.

[1]Balu berarti wanita yang ditinggal mati oleh suaminya.


Sy. Apero Fublic

9/16/2019

Konsep Puyang: Dahulu dan Sekarang di Pulau Sumatera Bagian Timur

Apero Fublic.- Masyarakat Melayu Provinsi Sumatera Selatan, memiliki konsep kepuyangan dan gelar puyang. Hampir disetiap tempat ada puyang-puyang masyarakat. Bagaimana pengertian puyang pada masyarakat Melayu Sumatera Selatan. Kata puyang merujuk untuk menghormati seorang manusia. Puyang juga memiliki makna tinggi dan terhormat. Kata puyang terdiri dari dua kosa kata pu dan yang. Kata puyang juga bentuk pengembangan dari kata Uwang atau waang.

Uwang atau waang, di sebagian besar Pulau Sumatera berarti manusia. Secara bahasa kata Pu menggambarkan tempat atau landasan tumpuan. Selain itu, kata Pu juga merujuk pada tempat ketinggian, po'cok atua pucukPu juga bermakna utama atau awal. Kata pu juga bentuk penyederhanaan dari p'o menjadi pu. Apabila gelar puyang muncul sewaktu berkembangnya pengaruh Hindu dan Budha, maka kemungkinan ada keterkaitan dengan bahasa sanskerta.

Masuknya pengaruh Hindu dan Budha sehingga menyerap bahasa sanskerta. Seperti kata hyang yang berarti suatu keberadaan spritual tak kasat mata yang memiliki kekuatan supranatural. Keberadaan spritual dapat bersifat ilahiah atau roh leluhur (wikipedia).

Sehingga, kata puyang kemudian berkembang untuk menamai atau menggelari seorang yang dianggap memiliki kemampuan supranatural atau memiliki kelebihan dari manusia biasa lainnya: seperti pemimpin setempat, tokoh masyarakat, atau orang yang dianggap memiliki kekuatan supranatural (sakti).

Konsep gelar puyang juga terdapat di luar Provinsi Sumatera Selatan. Meliputi wilayah Pulau Sumatera Bagian Timur, meliputi Provinsi Bengkulu, Jambi, Bangka Belitung, dan Lampung. Bentuk pengaruh kosep kepunyangan dipengaruh legenda Si Pahit Lidah versi Jambi dan versi Bengkulu. Berikut konsep pengertian kata puyang pada masyarakat Melayu Sumatera Bagian Timur, studi Sumatera Selatan.

A.Konsep Puyang Masa Lalu.
1). Puyang Dalam Artian Sebagai Pemimpin.
Puyang diartikan sebagai gelar kehormatan pada seseorang pemimpin di suatu tempat. Manusia yang memiliki kelebihan dalam keilmuan dan kebijaksanaan. Menguasai ilmu hukum, adat istiadat setempat sehingga dia sebagai pelindung masyarakatnya dan penegakan hukum.

Pengartian puyang sama, seperti di Jawa sunan. Datuk di Minangkabau dan Malaysia. Daeng di Sulawesi, dan Teuku di Aceh. Puyang sebagai gelar kehormatan dan pengakuan atas kepemimpinannya. Seperti Puyang Depati di Kota Sekayu pada masa Kesultanan Palembang. Puyang Depati diangkat menjadi pemimpin di Marga Sekayu 1733 Masehi. Gelar puyang disini adalah bentuk gelar kehormatan kepemimpinan dari masyarakat.

2). Puyang Dalam Artian Nenek Moyang
Kata Puyang juga memiliki makna leluhur masyarakat setempat. Atau nenek moyang masyarakat setempat. Hal ini, diartikan semisalnya ada ungkapan “zaman puyang kita dulu“ atau “puyang kita orang dari.” Dari kalimat perbincangan kata puyang merujuk ke leluhur masyarakat yang berbincang. Bersifat jamak atau banyak tidak tertuju pada satu orang.

3). Puyang Dalam Artian Kekeramatan
Puyang dalam arti kekeramatan adalah dimana pengertian kata puyang merujuk pada satu orang manusia. Gelar puyang tidak harus penduduk asli, boleh juga seorang pendatang yang menjadi panutan, guru, atau memimpin di tempat mereka. Kalau orang tersebut penduduk asli biasanya penduduk mengaku sebagai anak cucunya. Tapi kalau pendatang masyarakat setempat hanya menggelari puyang dan mengkeramatkannya.

Pada kasus ini, pemberian gelar puyang diwaktu kemudian. Setelah berlalu beberapa generasi. Sehingga masyarakat tidak lagi mengenal secara fisik, tapi hanya berupa cerita tutur. Biasanya ada objek yang dijadikan keramat, kadang berupa makam, kadang hanya sebuah situs.

Dengan demikian, karena dia dianggap tua, setara dengan nenek moyang. Jadi masyarakat akan menyebutnya dengan puyang. Sekaligus sebagai tanda menghormati. Kemudian lama semakin lama, terbentuk gelar puyang untuk orang tersebut. Nama puyang diambil dengan keadaan sekeliling atau dari nama julukan, kadang juga nama asli.

Seperti Puyang Tengah Laman di Desa Gajah Mati, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Menurut penjaga kunci nama asli Puyang Tengah Laman adalah Syaik Djafar Siddiq. Beliau adalah guru agama Islam yang datang sekitar abad 15-16 Masehi ke Desa Gajah Mati.

Tempat keramatnya berupa tanah lapang. Konon tanah lapang tersebut rumah dan tempat aktivitas, seperti mengobati masyarakat, mengempu, dan belajar agama. Seiring waktu tempat tinggal hancur, dan tinggal lahan tanah lapang. Kemudian muncul tanah tumbuh (sarang rayap) dikemudian hari di tanah bekas rumah puyang. Dikeramatkan oleh penduduk. Tanah lapang atau halaman dalam bahasa Melayu Sekayu, Tengah Laman. Maka dijuluki, Puyang Tengah Laman.

4). Puyang Dalam Konsep Cerita Rakyat.
Gelar puyang dalam konsep legenda adalah berupa cerita-cerita tokoh-tokoh fiksi. Dimana masyarakat mempercayai cerita-cerita, dongeng, atau legenda orang sakti. Contoh Puyang Serunting Sakti atau Si Pahit Lidah. Legenda Puyang Kemiri dari Kabupaten Empat Lawang. Kemudian legenda Puyang Burung Jauh dimana tokoh ini sering muncul sebagai burung yang berbunyi jauh-jauh-jauh.

Sehingga masyarakat akan pergi meninggalkan kampung halaman mereka. Sebagai tanda bahaya dari sang puyang untuk masyarakat. Namun walau di dalam cerita rakyat tetap gelar puyang menempatkan kedudukan pada sisi kepemimpinan, orang sakti, dan leluhur. Cerita kepunyangan ini belum dapat diketahui kebenarannya walau dihubungkan dengan tanda-tanda, seperti situs keramat.

5). Puyang Dalam Tatanan Silsilah Keluarga (Adat Peraturan).
Puyang juga menempati kedudukan dalam keturunan atau silsilah keluarga. Puyang sebagai panggilan untuk orang tua dari kakek-nenek kita. Selain itu, panggilan puyang juga digunakan untuk orang-orang yang kedudukannya sejajar dengan puyang kita. Misalnya saudara bungsu dari puyang kita, atau saudara sepupu dari puyang kita.

Walau seumuran dengan orang tua kita, atau kakek nenek kita, tetap dengan  adat peraturan, memanggil dengan, puyang. Maka aturan pemanggilan puyang tidak tergantung umur tapi posisi silsilah. Berikut uraian puyang dalam silsilah keluarga dan konsep tujuh keturunan yang sering disebut masyarakat kita. Sususnan silsilah ini diambil dari sistem adat Melayu Sekayu. Silakan mencocokkan dengan nama wilayah anda.
1. Moneng-moneng
2. Puyang  (1)
3. Kakek-Nenek (2)
4. Ayah dan ibu (3)
5. Anak (kita) (4)
6. Cucu-Cicit  (5)
7. Piut (6)
1. Moneng-moneng (7).

Setelah piut maka silsilah kembali ke moneng-moneng lagi. Anak dari piut akan memanggil puyang dengan moneng-moneng. Begitupun puyang memanggil anak dari piut dengan moneng-moneng. Dari moneng-moneng kembali membentuk garis tujuh keturunan baru. Konsep inilah yang dikenal di Indonesia dengan istilah tujuh keturunan. Anda perna mendengar ungkapan, harta tidak habis dimakan tujuh keturunan. Inilah konsepnya. Setiap tujuh keturunan akan memulai tujuh keturunan baru.

B. Konsep Puyang Masa Sekarang.
1). Pemberian Gelar Puyang 
Banyak orang mengartikan puyang hanya untuk sebutan orang yang sudah tua. Di dalam silsilah, walau umurnya masih muda namun apabila posisi sejajar dengan puyang (dalam sebuah keluarga), maka piut-piutnya wajib memangginya dengan panggilan puyang. Jadi ukuran umur tidak menentukan.

Anggapan masyarakat sekarang puyang hanya untuk orang tua, leluhur tidak benar dan keliru. Selain digunakan di dalam silsilah. Konsep puyang juga gelar kehormatan untuk seseorang. Bentuk penghargaan pada seseorang atas jasa-jasa orang tersebut. Bentuk pengakuan sebagai seorang pemimpin di daerahnya.

Pada zaman sekarang gelar puyang terlupakan. Hanya dipakai pada sistem silsilah dalam keluarga saja. Gelar puyang menjadi mati karena tidak ada lagi manusia yang sakti. Karena ketahayulan mulai hilang dan mulai berganti kerasionalan.

Untuk menyelamatkan gelar puyang sebagai ciri khas dan warisan budaya. Maka pada zaman sekarang pemakaian gelar puyang sangat diperlukan. Selain untuk menyelamatkan kebudayaan sendiri sekaligus sebagai pengidentitasan masyarakat Melayu Pulau Sumatera Bagian Timur. Gelar budaya  puyang adalah suatu warisan yang harus di selamatkan oleh generasi sekarang. Mengingat mulai krisis identitas budaya sebagai ciri keberagaman Indonesia.

Konsep puyang pada zaman sekarang dapat diberikan pada seseorang tokoh masyarakat di Pulau Sumatera Bagian Timur tersebut. Seperti gelar untuk orang yang berjasa pada masyarakat dan negara, seperti pahlawan yang gugur semasa perang kemerdekaan.

Tentu tidak semua yang ikut perang, semisalnya seorang pemimpinnya. Kemudian gelar untuk seorang tokoh masyarakat, tokoh agama, budayawan, pecinta lingkungan, pelestari kebudayaan, peneliti bidang akademisi, seniman dan sebagainya.

Selain itu dapat juga diberikan pada pemimpin-pemimpin sekarang, seperti seorang bupati, gubernur, presiden, DPRD (I dan II)-MPR, TNI dan Polri. Pemberian gelar pada Kapolda, Kaporles, dan Pangdam, Panglima TNI, menteri. Selain yang berasal dari dalam lingkup Sumatera Bagian Selatan (putra daerah atau pernah bertugas), gelar dapat juga diberikan pada tokoh-tokoh Nasional dan Internasional.

Sebagai contoh gelar untuk Pahlawan Nasional. Misalnya, Puyang Pahlawan Dr. AK. Gani. Karena beliau pahlawan nasional dan gubernur pertama Sumatera Selatan. Puyang Negeri Batang Hari Sembilan Haji Alex Noerdin. Karena mengingatkan jasa beliau pernah menjadi gubernur Provinsi Sumatera Selatan.

Puyang Hulubalang Bayangkara Kapolri Tito Karnapian. Kenapa ditambah hulubalang bhayangkara karena dia dari kapolisian. Hulubalang adalah jabatan perwira prajurit Melayu masa lalu. Untuk Panglima KODAM Sriwijaya, Puyang Panglima Sriwijaya karena sebagai pemimpin Kodam II Sriwijaya.

Puyang Wanua Melayu Herman Deru. Penambahan wanua adalah kata tempat dalam prasasti peninggalan Kedatuan Sriwijaya. Puyang Nusantara Tujuh Jokowidodo, gelar nasional. Karena beliau adalah Presiden Republik Indonesia. Penambahan kata Nusantara mewakili Indonesia, karena beliau adalah Presiden Indonesia.

2). Hukum dan Mekanisme Gelar Puyang.
Dalam pemberian gelar tentu harus ada mekanisme hukum dan tatacara atau payung hukum yang ditetapkan (UU). Seperti dalam menentukan kriteria atau ukuran pemberian gelar (lisensi), serta tatacara pencabutan gelar dikemudian hari (misalnya penerima gelar menjadi koruptor).

Catatan: gelar puyang bukan gelar bersifat turun temurun. Tapi gelar puyang murni diberikan pada orang biasa yang kemudian menjadi luar biasa, bukan keturunan bangsawan. Tapi boleh juga pemberian pada seorang bangsawan, misalnya Sultan Palembang. Gelar Puyang adalah bentuk penghargaan, penghormatan masyarakat atas jasa-jasa seseorang. Juga sebagai bentuk melestarikan kebudayaan Melayu dan mengembangkannya.
Bangunan bercat hijau adalah tempat Keramat Puyang Tengah Laman di Desa Gajah Mati, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Oleh. Joni Apero
Palembang, 17 September 2019.
Sumber: Dari pengamatan langsung, membaca di internet, dan memahami sebagai putra daerah Sumatera Selatan.

Sy. Apero Fublic

9/13/2019

Aktivis-Cendekiawan Muda Dari Bumi Lumpatan: Izin Mengabdi Untuk Desa

Apero Fublic.- Bukan Hanya Mimpi, Tapi Perjuangan, adalah ungkapan tepat untuk seorang pejuang. Sepanjang perjalanan kepemimpinan di negeri tercinta ini. Aku banyak menemukan beragam persoalan yang begitu pelik. Entah apa yang salah dengan negeri ini. Penduduk yang banyak, sumber daya alam melimpah, adat istiadat dan agama sangat beragam.

Namun kondisi kehidupan sosial masyarakat masih memprihatinkan, dan begitu tergerus oleh kebudayaan asing. Kehidupan yang religius tampak disepelehkan. Akibat dari semua itu, sifat hedonisme individu-individu meningkat. Mimpi untuk terus memajukan bangsa dan negara tercinta ini. Adalah mimpi yang hadir di dalam jiwa-jiwa anak bangsa. Namun mimpi tanpa perjuangan tidak akan memberikan dampak nyata.

Perjuangan itu bukan dalam bentuk perkembangan material, atau adu argumentasi antar masyarakat. Sebab perjuangan di abad moderen ini adalah perjuangan dengan akidah, penerapan ilmu pengetahuan, dan disertai tanggung jawab sosial yang tinggi. Ketika kita melihat kondisi pembangunan dan mereka sedikit-sedikit korupsi. Semua itu disebabkan faham hedonisme, materialisme, dan neofeodalisme.

Apakah aku sendiri dalam menanggapi kekhawatiran terhadap bangsa ini, di masa depan. Beberapa waktu lalu aku berjumpa dengan seorang sarjanah muda. Bukan hanya kenal biasa tapi dia juga adik tingkat semasa kulia di Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Sehingga aku mengenali beliau sama seperti mengenali sahabat dekat sendiri.

Namanya Endang Saputra, S.Sos. Lahir di Desa Lumpatan 6 Juni 1997 dari pasangan Bapak Jon Kenedi Rozali dan Ibu Nurjanah Baihaki. Riwayat pendidikan sangat baik. Pendidikan Sekolah Dasar di Madrasah Ibtidahiyah Negeri  Lumpatan, Musi Banyuasin. SMP, masuk ke MTS Negeri Lumpatan, kemudian melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri Sekayu (MAN Model), di Kota Sekayu. Setelah lulus dari MAN pada tahun 2014 silam. Endang Saputra, melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Negeri, UIN Raden Fatah Palembang, pada Fakultas Adab dan Humaniorah, dengan bidang studi "Politik Islam. Lulus pada tahun 2019.

Endang Saputra, S.Sos adalah pemuda yang aktif. Dia sudah dekat dengan masyarakat dan banyak pengalaman dalam berorganisasi. Organisasi reguler atau non reguler. Basis pendidikan yang baik dan menguasai Ilmu Politik. Maka dia akan mampu terjun ke masyarakat dengan baik, memahami dan mengerti. Insyaa Allah amanah.

Endang Saputra pemuda yang berdisiplin tinggi dan bertanggung jawab, sudah menjadi karakter pribadinya. Kedisiplinan tersebut terbukti dengan selalu aktif mengikuti kegiatan sekolah atau berorganisasi saat menjadi mahasiswa. Diantara keorganisasian yang dia ikuti, diantaranya Menjadi anggota Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kabupaten Musi Banyuasin Tahun 2013.

Anggota Departemen Kajian dan Partisipasi Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (Masika-ICMI) Orda Palembang Periode 2017-2019. Terpilih menjadi Ketua Umum Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM) Fakultas Adab UIN Raden Fatah Palembang periode 2015-2016. Kemudian terpilih menjadi Pimpinan Lembaga Pengembangan Sosial Politik Ekonomi dan Lingkungan (POSPEL) Wilayah Kabupaten Musi Banyuasin. Sekarang sebagai seorang Jurnalis Media Berita Musi.

Endang Saputra, S.Sos, dengan banyaknya pengalaman berorganisasi, membuat dia cukup mumpuni dalam dunia kepemimpinan. Sebab tanda adanya jiwa kepemimpinan bukan dari slogan kampanye, bukan dari reklame kampanye, bukan dari baju kaos, bukan dari kalender partai, atau brosur-brosur.

Tapi untuk memimpin diperlukan orang-orang yang terdidik, memiliki kemampuan kerjasama tim atau kerja mandiri. Pengorganisasian orang banyak tidak dapat dihandle oleh emosi dan praduga-praduga. Maka, sosok Endang Saputra adalah tepat menjadi seorang pemimpin atau wakil rakyat dimana dia tinggal.

Terjun kedunia kepemimpinan budan untuk mencari kelebihan dunia. Tapi untuk beribadah dan berbakti pada negara tercinta terkhusu tanah kelahirannya. Sebagai bentuk dari pengabdian dirinya pada masyarakat. Sebagai bentuk tanggung jawab akademisi dibidang keilmuannya. Sekaligus sebagai putra daerah yang mencintai tanah kelahirnyan.

Dengan demikian Endang Saputra, S.Sos, Mencalonkan diri sebagai Anggota BPD (Badan Perwakilan Desa), Desa Lumpatan II dengan nomor urut satu (I). Mewakili Daerah Pemilihan II, Dusun II. Untuk periode Tahun 2019-2024. Waktu pemilihan tanggal 5 Oktober 2019. Dukungan dan doa menjadi motor perubahan dan kemajuan bersama.


Setidaknya itulah yang saya tangkap, dari sosok Endang Saputra. S.Sos. Sebagai seorang penulis dan Analisis Sosial Masyarakat dan Pengembangan Sejarah dan Peradaban Islam. Salam perubahan
Foto Endang Saputra bersama Bapak Hafiz Thohir Anggota DPR RI. Dalam acara Temu Pelantikan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Idonesia), di Kota Palembang.
Endang Saputra dalam suatu forum diskusi.
Foto bersama rekan-rekan mahasiswa pada puncak acara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Foto dokumentasi saat penyerahan bantuan secara simbolis mewakili Lembaga Pengembangan Sosial Politik Ekonomi dan Lingkungan (POSPEL). Bekerjasama dengan Bank Mandiri dan Bank BNI dalam pemberian bantuan kotak sampa di Desa Lumpatan II. Diterimah langsung oleh Bapak Kepala Desa Lumpatan II, yang didampingi jajarannya. Bantuan disalurkan ke beberapa tempat umum, seperti masjid dan lainnya.

Oleh. Arip Muhtiar. S.Hum.
Editor. Selita. S.Sos.
Palembang, 14 September 2019.
Sumber foto. Endang Saputra, S.Sos.

Sy. Apero Fublic

9/12/2019

Pengertian Paham Dak Ilok dan Misteri Kata Orang Tua


Apero Fublic.- Masyarakat pada zaman dahulu memiliki pola pengendalian sosial yang berkaitan dengn mitos atau ketahayulan. Dalam pembahasan ini merujuk pada masyarakat Melayu di Sumatera Selatan. Sebelum masuknya Islam orang Melayu Sumatera Selatan hidup dalam lingkaran animisme, dinamisme, Hinduisme atau Budhisme.

Sehingga pemikiran yang rasional tidak ada sediktitpun. Islam yang sudah berkembang di Kota Palembang sejak zaman Kedatuan Sriwijaya. Perlahan masuk ke pedalaman dan menyebar rata sehingga 99% masyarakat Sumatera Selatan menjadi Muslim. Para ulama Islam harus berperang dengan paham pemikiran non rasionalisme tersebut (tahayul).


Sehingga Islam masuk beradaptasi dengan budaya lokal orang Melayu terutama dalam paham pemikiran dikenal dengan istilah Dak Ilok. Bangsa Melayu (Indonesia) suatu suku bangsa yang memiliki tingkat ketahayulan yang sangat tinggi. Aliran dari kepercayaan purba nenek moyang orang Melayu melekat dan mendara daging.

Sampai sekarang kepercayaan terhadap mitos-mitos belum hilang. Bagaimana para ulama masuk dalam kebudayan dan mengambil hati orang Melayu. Kemudian menanamkan nilai-nilai keislaman di tengah kehidupan masyarakat Melayu sampai sekarang. Pola didikan sosial digunakan istilah-istilah yang menyesuaikan dengan paham tahayul tersebut.


Pertama yang dilakukan adalah memasukkan nilai-nilai Islam dalam sistem adat istiadat dan pemikiran orang Melayu. Dalam hal ini, dapat ditinjau dari kebiasaan orang-orang tua dari dahulu sampai sekarang. Apabilah menasihatai perbuatan yang tidak baik dengan berkata “dak ilok, kata orang tua. (dialek menyesuaikan A,e,U,E,O). Diartikan secara bahasa kata dak sama dengan tidak.

Kata ilok sama dengan elok. Maka makna dak ilok diartikan tidak baik dalam bahasa Indonesia. Atau pamali yang lebih dikenal luas.  Di sini yang menjadi pertanyaan adalah siapa “orang tua” yang menjadi rujukan bagi masyarakat turun-temurun. Kata orang tua begitu populer di tengah masyarakat Melayu. Di bagian wilayah lain terdapat dialek berbeda seperti jeme tu’e.


Penyelidikan, siapa orang tua dalam paham pemikiran masyarakat selama ini ?. Dari mana mereka mendapatkan ajaran yang dirujukkan dengan kata orang tua. Dalam melakukan nasihat atau teguran pada seseorang. Karena orang Melayu 99% adalah Muslim. Kemudian penelitian tentang kehidupan masa sebelum Islam yang belum memiliki pola pendidikan secara luas dan merata kedalam masyarakat. Maka pelacakan pemahaman itu ditelusuri ke dalam ajaran agama Islam.


Di waktu kecil aku sering minum dengan cara mengangkat cerek secara langsung, tanpa memakai cangkir. Hal ini kemudian diteguri kakek bahwa minum seperti itu dak ilok kata orang tua. Karena seperti meminum air kencing setan akan sakit kembung dan sering kecing.

Pernah juga waktu aku ikut ayah bertandang kerumah paman. Tapi paman tidak dirumah, maka ayah tidak jadi bertandang. Padahal aku sudah sangat ingin bermain dengan adik sepupuku. Aku bertanya pada ayah mengapa tidak jadi bertandang. Ayah bilang dak ilok kata orang tua, sebab pamanku sedang tidak di rumah. Karena akan mendapat balak bencana.


Berikut ini contoh hadis yang dirujukkan dengan kata orang tua: Dari Abu Hurairah, Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Rasulullah melarang  minum langsung dari mulut qirbah (qirbah adalah wadah minum dari kulit atau wadah minum lainnya). H.R. Bukhari No. 5627. Dari sini perujukan orang tua yang dikiaskan oleh para Ulama adalah Imam Bukhari dan para periwayatan hadis dan tersambung ke Rasulullah SAW. Dalam pelarangan minum secara langsung dari mulut cerek atau teko air minum.


Berbagai ungkapan dak ilok kata orang tua, seperti ditujukan pada wanita yang berpakaian tidak sesuai atau terlalu terbuka. Tidak boleh memberi asi pada anak di pinggir jalan atau di ruang terbuka, karena dak ilok kata orang tua. Pakaian harus tertutup baik laki-laki atau perempuan.

Sehingga berkembang busana kain sepinggang yang menutup sampai mata kaki, mengingat dulu kain adalah busana utama Nusantara. Kemudian celana panjang dan baju kurung di dalam masyarakat Melayu.

Nilai-nilai Islam dapat dilihat saat adanya kegiatan masyarakat seperti acara pernikahan, lelaki dan wanita duduk tidak boleh bercampur, wanita di dapur lelaki bagian depan. Wanita bersuami tidak boleh tersenyum pada lelaki selain suaminya. Wanita bersuami tidak boleh memperlihatkan keramahan pada lelaki lain selain suaminya dan keluarganya. Saat seorang gadis tidur tidak boleh ngangkang, nanti diperkosa siluman.


Wanita dan laki-laki  Tidak bole berjalan berdua dengan lelaki bukan mahramnya. Tidak boleh berdua-dua ditempat sepi, sebab “Dak ilok kata orang tua, nanti di omongkan orang.” Sehingga menjadi acuan wanita dan laki-laki dalam bersosialisasi. Yang dimaksud dengan diomongkan orang adalah terjadinya fitnah. Baik fitnah dari mulut masyarakat yang melihat juga fitnah atau cobaan syawat.


Pelacakan dari perujukan  “kata orang tua” tersebut ditemukan dalam hadis-hadis, atau fatwah para ulama. Sehingga dapat disimpulkan kata orang tua dalam makna kiasan yang dimaksud adalah Rasullah. SAW, para sahabatnya, kemudian para ulama.

Sebab hampir semua kata dak ilok selalu sesuai dengan hadis-hadis dan patwah ulama. Sehingga walaupun orang Melayu terlihat tidak terlihat begitu Islami, misalnya jarang berhijab, jarang berzikir. Tapi secarasosial budaya dan adat-istiadat orang Melayu sesuai dengan ajaran Islam.

Karena aturan-aturan hukum Islam dijadikan dasar beradat-istiadat. Masa awal kedatangan Islam, orang-orang Melayu belum mengenal keilmuan Al-quran dan Hadis. Maka hukum Islam diterjemahkan para ulama terdahulu dengan paham dak ilok kata orang tua atau membumikan hukum Islam.


Paham dak ilok kata orang tua lama kelamaan menjadi sastra lisan. Tidak tertulis hanya disampaikan secara turun temurun. Sehingga dalam perkembangannya kata-kata dak ilok kata orang tua semakin lama semakin berkembang. Sudah biasa paham masyarakat yang kurang pengetahuan sering memunculkan paham sendiri sehingga ungkapan Dak Ilok kata orang tua sering menyimpang pada masa-masa berikutnya.

Mereka menjual ungkapan sesuai kepentiangan atau menduga-duga saja. Maka muncullah ketahayulan, dan kesyirikan. Namun hukum adat istiadat berlandaskan Islam tetap tertanam secara naluri di kehidupan sosial. Hanya saja timbul paham mengarang sendiri dari kata dak ilok kata orang tua.


Masyarakat masa selanjutnya yang tidak tahu menahu kalau ulama menciptakan ungkapan dak ilok kata orang tua merujuk hadis, fatwah ulama, atau Al-Quran. Banyak masyarakat biasa memunculkan sesuai nafsu mereka. Masyarakat tidak menguasai ilmu keislaman, apalagi periwayatan.

Kemudian membuat kata-kata sendiri yang tidak logis dan masuk akal. Maka ketahayulan menjadi lebih dominan dari pada akal sehat. Kepercayaan terhadap dukun dan kata-kata sembarangan telah membawa orang Melayu dalam kebodohan akidah. Berikut ini kata dak ilok kata orang tua ciptaan masyarakat yang tidak berilmu dan dipengeruhi pemikiran tahayul.

Misalnya dak ilok kata orang tua rumah “menghadap pengkolan sungai sering sakit-sakitan penghuninya.” Dak ilok kata orang tua bujang alim karena masa tua nanti berubah tidak alim lagi atau menjadi juaro (penjudi). Dak ilok kata orang tua berladang diapit dua sungai, akan mati anak atau istri. Dan banyak lagi lainnya tersebar di masarakat dimana mereka menduga-duga dan mengarang sesuai nafsunya.


Oleh. Joni Apero

Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 13 September 2019.


By. Apero Fublic

Identifikasi Identitas Wilayah Secara Tradisional: Studi Sumatera Selatan


Apero Fublic.- Dalam pengidentitasan kehidupan masyarakat, sering kali penulis membuat penyebutan salah kapra. Begitupun masyarakat secara awam, mereka akan mengidentitaskan diri berdasarkan pemahaman singkat saja. Masyarakat tidak memiliki pemahaman akademisi yang baik. Mereka masyarakat dan sebagian besar penulis.

Tidak dapat membedakan antara suku bangsa dengan pengidentitasan wilayah secara tradisional. Dapat dikatakan suatu suku bangsa ketika masyarakat tersebut telah memiliki perbedaan secara kebudayaan dan antropologis. Misalnya bahasa tidak lagi serumpun serta tidak lagi memiliki akar kebudayaan yang sama.

Sebagai contoh seumpama Suku Bangsa Melayu Indonesia dengan Suku Bangsa Han di Cina. Suku Arab di Timur Tengah dengan Suku bangsa Viking di Eropa, dan sebagainya. Dari sini dibandingkan dimana bahasa sudah tidak lagi serumpun, kebudayaan yang jauh berbeda, wilayah dan geografis berbeda, adat istiadat jauh berbeda. Baru dapat disebut dengan suatu Suku Bangsa.

Kasus di Indonesia yang memiliki keadaan geografis wilayah berbeda-beda. Membuat identikasi diri juga berbeda-beda. Di Indonesia orang tinggal di setiap pinggiran sungai menjadi suku sungai itu. Yang tinggal di pegunungan menjadi suku gunung. Yang tinggal di dekat danau jadi suku danau. Yang tinggal di pulau tertentu jadi suku pulau tersebut. Padahal mereka satu suku bangsa, yaitu Melayu.


Pada zaman dahulu jalur transportasi melalui perairan, sungai, laut, dan danau. Jalur transportasi sungai menyebabkan masyarakat pada zaman dahulu tinggal di pinggir sungai, danau, atau pantai. Mereka juga menetap di dekat sungai atau sumber air untuk memenuhi kebutuhan air, seperti mandi, mencuci, memasak, menangkap ikan, dan untuk transportasi.

Maka hampir semua pemukiman penduduk terletak di pinggir-pinggir sumber air. Setiap sungai ini kemudian mereka berikan nama. Lama semakin lama, mengembangkan kebudayaan setempat dan memiliki kebiasaan berbeda. Lalu melalui interaksi keluar daerah mereka dikenal dengan suku dari wilayah dimana mereka tinggal. Seandainya menereka tinggal di pinggiran sungai tertentu, mereka di kenal dan mengidentitaskan diri dengan nama sungai tersebut.


Misalnya suatu masyarakat itu tinggal di daerah pinggiran sepanjang Sungai Keruh. Maka kemudian mereka di sebut Suku Sungai Keruh. Orang Sungai Keruh menyebut orang yang tinggal di pinggir Sungai Musi disebut Suku Musi (Sekayu).

Sekarang perlahan masyarakat menamakan dengan suku Sekayu atau Orang Sekayu. Kemudian ketika masyarakat itu tinggal di daerah Sungai Rawas. Maka mereka mengatakan kalau mereka Orang Rawas atau Suku Rawas.

Kemudian masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Komering, dinamakan Suku Komering. Kemudian masyarakat tinggal di daerah Danau Ranau dinamakan Suku Ranau. Misalnya Suku Lematang karena tinggal di sepanjang Sungai Lematang. Orang yang tinggal di Palembang di sebut Suku Palembang.

Nama Palembang itu baru muncul berabad-abad setelah Kedatuan Sriwijaya runtuh. Padahal mereka semua adalah orang Melayu tulen. Hendaknya, pengidentifikasian suku bangsa bukan dari tempat tinggal. Harus melalui dari kajian mendalam.


Penyebutan nama-nama tersebut misalnya Suku Musi tidak tepat. Para penulis baik cetak atau elektronik terlalu buru-buru menafsirkan suku masyarakat suatu tempat tersebut. Tanpa menguasai ilmu kebudayaan, ilmu antropologi dan sejarah dengan baik.

Nama-nama itu, Suku Maranjat, Suku Ogan, Suku Musi, dan sebagainya. Nama-nama tersebut sesunggunya adalah nama tempat tinggal atau nama wilayah masyarakat secara tradisional, bukan nama suku. Suku bangsa masyarakat Sumatera Selatan adalah Melayu.

Keberadaan orang Melayu Sumatera Selatan memiliki bukti sejarah. Dari berupa data arkeologi dari zaman purba, zaman kebudayaan batu (megalitikum), dan bukti tertulis seperti prasasti peninggalan Kedatuan Sriwijaya dan prasasti berupa tulisan aksara Kaganga, beserta artepak, mantifak, dan keserumpunan bahasa.


Dalam penulisan atau pernyataan dan sebagai penjelas kewilayahan ada baikanya di gabungkan kata Melayu. Seperti Melayu Meranjat yang berarti orang Melayu di daerah Maranjat, Ogan Ilir.

Melayu Basemah yang berarti orang Melayu yang tinggal di Basema atau Pagaralam. Begitupun yang lain misalkan, Malayu Musi, Melayu Ogan, Melayu Ranau, dan sebagainya. Sehingga masyarakat tidak terjadi terkotak-kotak.

Dengan pemahaman yang salah. Jangan kita terjebak terus oleh taktik pecah belah peninggalan Belanda.Atau menjadi penulis atau paham neoblandaisme atau orang-orang Indonesia yang terus menjadi kepanjangan tangan orientalis Belanda dalam melakukan pecah belah di tengah masyarakat Indonesia.

Secara nasional juga terjadi begitu, misalnya masyarakat mengidentitaskan dengan suatu kelompok masyarakat orang laut atau Suku Laut. Padahal mereka Orang Melayu yang tinggal di perairan pantai atau bermukim di atas permukaan laut. Kemudian mereka dinamakan orang Laut atau Suku Laut.


Bagaimana mengidentipikasi suatu suku bangsa. Dalam hal ini mengidentipikasi suku bangsa Melayu. Yaitu melalui identifikasi kebudayaan dan identifikasi antropologis, semisalnya bentuk kerajinan, pola hidup, bentuk tempat tinggal, adat-istiadat, dari seni sastra baik itu lisan atau tertulis, seni musik (seruling dan gendang), dan keserumpunan bahasa.

Keterkaitan rumpun bahasa, bentuk bahasa Austronesia (rumpun Melayu). Sistem kepercayaan: seperti ketahayulan dan upacara-upacara adat tradisional. Bentuk fisik secara umum, misalnya bentuk hidung dan bentuk mata.

Pola hidup beradat terutama penjagaan terhadap norma adat dalam melindungi wanita. Masyarakat Papua merasa berbeda dengan masyarakat Indonesia di bagian barat. Karena tidak hidup dalam kesukuan seperti mereka. Padahal orang Indonesia di bagian Barat sebelum tersentuh kebudayaan Hindhu-Budha dan Islam juga hidup berpola seperti mereka.

Orang Melayu juga menjadi kanibal masa-masa lampau. Begitupun pola pakaian, senjata, dan bersistem kepala suku. Di Sumatera Selatan sistem kesukuan bertranspormasi menjadi Marga. Marga adalah sistem pemerintahan di suatu wilayah dimana masyarakatnya masih keterkaitan satu keturunan.


Identifikasi secara kebiasaan dan kewilayahan tidak dapat menjadi pembeda suku bangsa. Karena pola kebiasaan atau tradisi tergantung dari pengaruh kebudayaan di daerahnya. Untuk kewilayahan manusia hidup menyebar dalam perjalanan sejarah mereka.

Contoh dari kedua itu, seperti suku Anak Dalam atau Suku Kubu di hutan-hutan Sumatera Selatan, Jambi, Riau. Mereka adalah orang Melayu dimana pengaruh kebudayaan belum menyentuh mereka sehingga mereka menjadi berbeda dari orang Melayu lainnya. Pada zaman sebelum berbudaya orang Melayu juga suku bangsa primitif pemburu kepala.

Di zaman sekarang pengidentitasan diri sudah mulai bergeser menggunakan administrasi wilayah. Pengidentitasan kedaerahan menggunakan nama kecamatan. Identatas secara derah provinsi menggunakan nama kabupaten. Untuk identitas secara nasional menggunakan nama provinsi. Nama negara menjadi identitas internasional. Maka sistem identitas kesukuan dan kewilayahan perlahan menghilang.


Oleh. Joni Apero

Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 13 September 2019.

Sy. Apero Fublic