8/01/2019

Mitos Hantuan Di Tengah Masyarakat Melayu

Apero Fublic.- Hantuan adalah sejenis makhluk halus. Hadirnya hantuan disebabkan ruh orang yang meninggal tidak terima dengan kematiannya. Atau diistilahkan dengan arwah penasaran. Hantuan muncul dan menghadirkan suatu mitos di tengah masyarakat Melayu Sekayu. Berikut penjelasannya.

Mitos adalah cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu yang mengandung penafsiran tentang asal usul alam semesta dan bangsa itu.[1] Mitos dapat juga ditafsirkan suatu cerita dan keyakinan suatu masyarakat tanpa memiliki fakta-fakta sesuai logika dan bersifat kegaiban dan keajaiban. Setelah mitos diikuti dengan paham animisme. Animisme adalah kepercayaan pada roh-roh yang mendiami benda-benda, seperti pohon, batu dan sebagainya.[2]

Animisme adalah kepercayaan kalau benda yang hidup atau mati memiliki roh atau nyawa sama halnya dengan manusia atau hewan. Manusia pada masa ini memuja atau menyembah pohon-pohon besar, batu besar, dan kemudian berkembang dengan membuat patung-patung. Masyarakat animisme yakin orang-orang yang sudah meninggal roh atau arwah mereka akan tinggal di suatu tempat, seperti pepohonan besar, hutan lebat, gunung-gunung, lembah, gua-gua. Dari pemikiran itu, akhirnya muncul paham tempat angker atau menakutkan di suatu tempat.

Sedangkan dinamisme adalah kepercayaan adanya kekuatan ghaib atau mistik yang terdapat di dalam suatu benda-benda. Seperti senjata pusaka, jimat, mantera-mantera, kuburan, batu besar dan sebagainya.[3] Kedua paham ini dinamakan paham tahayul yang dilarang di dalam Islam. Para pelaku yang percaya dihukum berdosa.

Kedua paham tahayul animisme dan dinamisme tersebut mendarah daging di dalam jiwa bangsa Indonesia. Sejak masa-masa purba sudah menjadi jalan pemikiran masyarakat. Sehingga walaupun sudah menjadi seorang muslim tetap percaya dengan tahayul. Bentuk tahayul yang merupakan turunan dari paham animisme dan dinamisme seperti percaya adanya sejenis mahluk halus, yaitu Hantu. Pada masyarakat Melayu Musi Banyuasin, Sumatera Selatan ada istilah penyebutan makhluk sejenis hantu dengan Hantuan.

Kata Hantuan berasal dari kata antuAntu adalah istilah penyebutan mahluk halus yang jahat. Sedangkan akhiran an adalah menjelaskan proses menjadi. Sesuatu yang satu menjadi lebih dari satu. Dari manusia kemudian menjadi bentuk lain, yaitu hantu.

Dalam pemikiran masyarakat proses adanya atau munculnya Hantuan disebabkan kematian tidak wajar seseorang. Misalnya di suatu tempat ada orang yang meninggal diterkam harimau di bawah sebatang pohon besar. Maka ruh orang tersebut akan menjadi hantu. Masyarakat percaya kalau disekitar itu, dan pohon tersebut akan menjadi rumah ruh orang yang meninggal diterkam harimau itu.

Sehingga timbullah penyebutan dengan Hantuan. Penamaan hantuan juga sesuai dengan tempat. Misalnya pohon itu namanya pohon rengas. Maka namanya Hantuan Pohon Rengas. Atau dengan nama orang yang meninggal di sana. Misalnya nama orang diterkam harimau tersebut, Zura. Maka namanya Hantuan  Zura.

Hal-hal yang dipercaya masyarakat saat kehadiran hantuan. Adanya kejadian-kejadian aneh-aneh. Misalnya ada sesuatu yang mengikuti aktivitas orang yang diganggu. Kalau orang itu sedang batuk si Hantuan juga terdengar batuk. Kalau orang yang diganggu sedang melempar seseuatu. Hantuan juga melempar sesuatu. Walau tidak terlihat diketahui dengan suara-suaranya. Seandanya yang di ganggu minum terdengar suara meneguk air.

Maka Hantuan juga terdengar minum dan meneguk air. Kadang muncul kejadian ganjil. Misalnya pohon bergoyang hebat tapi tidak ada angin atau hewan di atasnya. Mitos ini berkembang terus menerus. Cerita demi cerita yang berkembang melebar. Membuat masyarakat menjadi takut, dan menghindari daerah yang diyakini ada hantuan.

Mitos Hantuan muncul dari cerita-cerita tidak jelas. Kadang disuatu tempat ada angin puyuh kecil, kebetulan di sekitar itu ada orang yang meninggal karena sakit misalnya bebrapa tahun lalu. Kemudian masyarakat menghubungkannya dengan orang meninggal tersebut. Maka tuduhan hantuan dialamatkan pada orang itu. Maka mitos hantuan terbentuk dari waktu ke waktu.

Seiring penceritaan terus menerus, turun temurun. Sehingga mitos hantuan tersebar dan diyakini keberadaanya. Kepercayaan dengan adanya Hantuan ini adalah bentuk dari rentetan kepercayaan animisme dan dinamisme. Pola pikir tahayul dan tidak logis ini patut untuk dihilangkan.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 2 Agustus 2019.
Sumber: Wawancara dengan tetua masyarakat di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
Suharso dan Ana Retnoningsih. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Semarang: Widya Karya, 2011. Sumber foto: Apero Fublic.


[1]Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Semarang: Widya Karya, 2011, h. 324.
[2]Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h.  43.
[3]Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 123.


Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment