7/18/2019

Nur Aisyah. e-Antologi Puisi Hujan Kemarau

Apero Fublic.- e-Antologi Puisi Hujan Kemarau adalah suatu ungkapan tetang kehidupan kita. Yang sering mengabaikan pesan alam, nasihat-nasihat, padahal disanalah kita dapat mendapat hidayah. Disanalah kita dapat menyadari kebesaran tuhan. Disanalah kita dapat memetik hati yang lembut dan damai.

Hujan kemarau adalah sebuah harapan banyak orang. Ketika dunia kering kerontang dan panas membara. Maka dunia saat itu, diharapkan hujan dan angin selalu berhembus. Sehingga walau dalam panas, ada kesejukan yang datang mengobati. Saat panas sudah diambang puncaknya hujan datang membasahi.

Kemarau diharapkan cepat berlalu dan memasuki musim hujan. Agar bersemi bunga-bunga yang telah ditanam. Berbua semua tetumbuhan alam. Berakhir pula semua penderitaan itu. Semua bahagia, dengan rahmat di musim hujan. Lalu mengapa kita mengeluh saat kehujanan.

Hujan kemarau seperti hadia yang terindah dari penguasa alam. Rahmat yang seharusnya ditanggukan sampai musim penghujan, tetapi diberikan pada waktu yang belum waktunya. Lalu hati yang bijak akan bertanya, "apakah ini rahmat-Nya, atau ini teguran. Ketika kita berpikir dengan semua itu, kita perhatikan, lalu kita hayati.

Bagaimana bila hujan tak turun-turun dalam waktu lama. Oh, tentu begitu sulit kehidupan mahluk bumi. Ketika hujan dipergilirkan, kemudian kemarau juga diganti-ganti. Melihat itu, betapa lemah kita sebagai manusia, masihkah kita belum sadar akan kebesarannya. Masihkan iman kita lemah, saat melihat tanda kebesarannya.

Hanya memperhatikan hujan dan kemarau, yang diatur dengan teratur. Agar mahluk bumi tetap hidup. Hujan kemarau, masihkah kita belum beriman. Hujan kemarau, masihkan kita dalam kubangan dosa. Hujan kemarau, masihkan kita mengeluh saat banjir. Sesungguhnya kitalah yang salah, tak pandai menata alam.

(1).
Radang Mengangnga

Radang menganga mengatup tak berubah
berombak ombak tawa merupa luka
Pohon rindang tak semua berbuah
Sinar mentari menyisakan siluet jingga

Terlihat tak terawat batang hidung anak bangsa
Selalu terlihat di setiap lampu merah dan persimpangan
Tubuh kusam juga letih serta tak tentu arah
Akankah rasa bersalah melingkup diruang rongga
siapa? Siapa yang berperan antagonis?

Radang  menganga tertanam pasti tumbuh dari antagonis
Tak terlihat tak terjamah dibelakang muka dua
Pura-pura tolol hidupkan segala tipu sadis
Menutup mata dan juga hati dalam radang yang menganga

Di radang menganga merongga milik kita
Batang hidung anak bangsa terpaksa melanglang buana
Nelangsa tak tentu arah di desa maupun kota
Wahai calon generasi bangsa tutuplah radang yang menganga

Oleh : Nur Aisyah.
Palembang, 23 Januari 2019.

(2).
Bantahan Hati

Hati meradang tak tenang
Gelisah tak menentu terpandang
Gemetar tak berubah tersandang
Gemeretak gigi mengenang

Pelan, perlahan tapi tak tertahan
Tersadar,terpaku menahan angan
Mengerucut bibir, amarah ditahan
tak sudi ditepis meremehkan

Hutang tetap hutang
Tak sudi,tak usah hutang
Bukan maksud menagih hutang
Tapi banyak yg lebih membutuhkan

Penat, sangat menunggu sanggaan
Tak terbayang hanya di read doang
Tungguh lecutan tiada termakan
Bantah hati, tapi angin menghilang.

Oleh. Nur Aisya.
Palembang, 20 Februari 2018.

(3).
Ketika Terang Bulan Bintang

Malam yang terang akan bulan
Bintang bertebar berdekatan tanpa berkata
Menggenang bulir hujan disudut mata
Membayang kisah memutar memory

Kudongakkan wajah ke langit impi
Seakan bola mata beradu pandang ke angkasa
Cahaya terang seketika membentuk asa
Aku diam, termenung, dan berkata dalam sunyinya malam

Diri ini masih sama
Tak berubah dari waktu kewaktu
Dalam bentuk yang ambigu
Dan selalu berdoa untuk berubah

Mencari jatidiri menambat ilmu
diksi bersatu mengetik sifat
tak terjangkau jikalau hanya angan
Terus berjuang karena Allah

Oleh. Nur Aisyah.
Palembang, 4 Februari 2019.

(4).
Batik Warisan Budaya

Menari-nari canting itu bergerak
Membentuk, melekuk, membentuk corak
Tak terpikir, tak terjamah,
sketsa itupun jelas menampak
Indah, bermakna, melegenda,
mendunia hingga ke Irak

Alam, manusia, hewan, menyatu berkolaborasi
Beragam, bersemayam, mencipta ilustrasi
Ciri khas negeri, bertradisi,
berstatus jua berstratifikasi
Itulah buah tangan warisan budaya,
Dari generasi ke generasi

Kaulah goresan batik, minat para pujangga
Merona, berwibawa, hingga ke negeri tetangga
Kaulah produk klasik namun Indonesia bangga
Duniapun terpana, melirik, hingga menganga

Batik, engkau unik dan juga mistik
Tata kehidupan dan tradisi menjadi unsur intrinsik
Mencipta makna,
penyuguh warisan budaya yang klasik
Batik, semoga tak hilang ditelan zaman,
yang semakin pelik

Oleh. Nur Aisyah.
Palembang, 15 oktober 2019.

(5).
Perempuan Penyulam Sabar

Pikiran lebat akan mimpi
Semangat mengetuk pintu hati
Sampai rempah egois mengais mimpi
Apakah benar yang pikiran ini beri?

Aku sadari aku mendung
Aku menggebu tiada sabar
Aku sadar, ini salah juga mengekang
Aku harus menyulam sabar

Aku perempuan akademik
Aku harus yakin akan Allah
Buru-buru itu pahit jua tak baik
Apalagi aku ingin buah manis

Gelap malam merambat menyelimuti malam
Cahaya bulan tetap berpendar
Aku perempuan perindu paham
Aku perempuan penyulam sabar

Oleh. Nur Aisyah
Palembang,16 september 2019

(6).
Pulau Sunyi

Engkau rentankan hati ini
Deru angin mendesir menyapu wajah
Saksi bisu raut tekuk yang menanti
Orangpun tak lagi lalu lalang

Senja itu sudah mengintip
Menunjukkan mulainya gelap
Orang besar itu lama sekali
Bosan ini datang sekali tempo

Tapi, pulau sunyi ini harus terlampaui
Hujan ini harus bermanfaat
Tapi, sabar itu perlu
Walau pulau kapuk menanti

Oleh. Nur Aisyah
Palembang, 2 september 2019.

Sekilas tentang penyair cantik ini. Dia lahir di Sumatra Selatan, Kabupaten Lahat, pada tanggal 26 Maret 2000. Nama lengkapnya Nur Aisyah, sekarang sedang menempuh studi di Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Aisyah menyukai makanan yang namanya bakso, martabak.

Makan yang paling disukai adalah masakan ibu, si malaikat tak bersayap. Kalau warna kesukaan, menyukai warna biru, hijau dan orange. Gadis ini, bercita-cita menjadi penulis hebat, sukses, sekaligus menjadi guru bagi anak-anaknya kelak. Kalau motonya “sukses, bahagia, fiddunya wal akhirot. Kalau pesanya, “jadila cahaya untuk orang lain sesuai kemampuan diri sendiri.”

Mungkin maksudnya agar kita tidak memaksakan diri untuk menjadi baik, sampai kita akhirnya menjadi wujud lain dari diri kita hanya karena ingin dibilang baik. Maka, berbuatlah dengan iklas dan jujur apa adanya, sehingga orang-orang akan terkesan pada kita.

Oleh. Nur Aisyah.
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 2 Maret 2019.
Sumber foto. Karikatur muslimah
#Kunjungi akun wattpad Nur Aisyah: Klik di sini.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment