7/04/2019

Kenangan di Kebun Raya Bogor

Apero Fublic.- Keliling Kebun Raya Bogor sangat menyenangkan. Alam luas terbentang hijau, penyuplai oksigen dan pencera untuk mata. Warna hijau dedaunan memberikan efek positif untuk mata saat memandangnya. Udara yang sangat segar membuat rongga paru-paru menjadi longgar dan plong. Memasuki kawasan Kebun Raya Bogor, seperti menjadi obat penawar capek yang luar biasa bagi rombongan kami.

Kelompok PKL yang sudah sehari semalam di dalam perjalanan dapat melepas semua kepenatan. Area wisata Kebun Raya Bogor adalah teman bermain bagi anak biologi seperti kami. Praktik Kulia Lapangan seperti ini, akan sangat bermanfaat untuk menambah pengetauan kami datang kesini. Aku dan teman-teman begitu bahagia dan antusias. Maka hal yang paling dinanti adalah foto-foto ditempat favorit kami.


Kebun Raya Bogor ternyata memiliki sejarah panjang. Aku baru tahu kalau Kebun Raya Bogor sudah di mulai pada masa klasik. Kebun Raya Bogor merupakan bagian hutan buatan atau taman buatan (samida).

Konon Kebun Raya Bogor telah ada pada masa Kerajaan Sunda, masa kepemimpinan Sri Baduga Maharaja atau di kenal dengan Prabu Siliwangi (1474-1513 M). Kabar tersebut di muat dalam prasasti Batutulis. Hutan buatan tersebut ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat memelihara benih benih kayu yang langka. Selain itu hutan buatan juga dibuat pada perbatasan Cianjur dengan Bogor.

Hutan buatan itu kemudian dikenal dengan julukan Hutan Ciung Wanara. Hutan tersebut kemudian dibiarkan setelah Kerajaan Sunda ditaklukkan oleh Kesultanan Banten. Hingga pada abad ke-18 Masehi Gubernur Jenderal van der Capellen kemudian membangun sebuah rumah peristirahatan di salah satu sudut hutan.

Saat terjadi perang Napoleon Kerajaan Belanda jatuh ketangan Perancis. Kemudian Inggris memenangkan peperangan dan mengambil alih daerah jajahan Belanda. Di Hindia Belanda atau Indonesia ditugaskan seorang Gubernur Jenderal, bernama Thomas Stamford Raffles. Kemudian beliau yang mendiami Istana Bogor, dan dia memiliki minat besar pada dunia botani.

Kemudian dia tertarik mengembangkan halaman Istana Bogor menjadi sebuah kebun yang indah. Rafles di bantu oleh seorang ahli botani bernama, W. Kent. W. Kent pernah ikut membangun sebuah taman bernama Kew Garden di London, Inggris. Raffles menyulap halaman istana Bogor menjadi taman bergaya Inggris klasik. Maka dimulailah awal dari Kebun Raya Bogor dalam bentuk yang kita kenal sekarang.


Di kebun Raya Bogor ada monumen kecil, bernama Monumen Lady Raffles. Dalam puisi menceritakan cinta sepasang kekasih yang berpisah oleh maut menjemput. Kemudian museum zoologi yang memiliki beberapa koleksi hewan-hewan asli Indonesia. Diorama hewan yang menarik menurutku adalah pertaruangan antara rusa dan srigala.

Disini menyimpan sekitar 2000 spesies hewan. Yang tak kala menarik adalah kerangka raksasa tulang paus biru. Kemudian ada Kolam Teratai Raksasa, bernama kolam Astrid. Teratai raksasa (giant Lotus), tersebut berasal dari Hutan Amazon, Amerika Serikat. Teratai raksasa memiliki nama ilmia Veronica Amazonika. Daun teratai dewasa yang selebar tampa, mampu menahan beban bayi manusia. Kolam ini sering disebut sebagai kolam Astrid.

Meskipun demikian tidak jarang juga disebut dengan Kolam Teratai Raksasa, Giant Lotus atau nama latinnya Veronica Amazonica. Ada juga tempat yang cocok untuk bersantai berjalan kaki, yaitu Jalan Astrit. Jalan ini lebar tetapi seperti terbelah karena di tengah jalan ditanam Bunga Tasbih (canna hybrida) yang berwarna kuning dan merah.


Aku menikmati suasa menyenangkan tersebut. Membuat hayalku melambung tinggi. Kita selalu merusak hutan, bertani tanpa memperhatikan keragaman hayati. Bila mengingat cara bertani kita sekarang, yang tidak sedikitpun rama pada lingkungan. Ratusan bahkan ribuan jenis tumbuhan dan hewan yang berangsur-angsur punah.

Entah sampai kapan SDM bangsa kita sadar dan akan mencintai lingkungan alam. Apabila mengingat Raffles orang asing yang mencintai keanearagaman hayati. Mengapa bangsa kita yang memiliki tidak memimiliki sifat-sifat seperti itu. Semoga Kebun Raya Bogor tetap terjaga dan lestari selamanya. Paru-paru kota dan paru-paru dunia.

Kenangan yang indah, dari pertualanganku mencari pengetahuan dan pengalaman. Semoga suatu saat nanti aku dapat mengunjungi Kebun Raya Bogor Kembali. Catatan kecil ini, akan mengingatkan aku dengan sahabat-sahabat satu kelas dan satu jurusan. Dengan membaca ini berulang-ulang sedikit-sedikit aku rangkai kenangan kita, dan menjadi obat penawar rindu pada kalian semua.

Oleh. Ulandari.
Editor. Selita. S.Pd.
Bogor, Maret 2017.
Praktik Kulia Lapangan (PKL), FKIP-Biologi, Universitas Sriwijaya. Sumber foto. Ulandari.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment