6/25/2019

Pelakon Opera dan Drama


Apero Fublic.- Syarce. Aku berjalan di tanah negeri ini, semakin hari semakin jauh. Telah lama aku mengembara, sepanjang umurku. Seiring berjalan aku belajar banyak hal, dan menyaksikan banyak hal. Banyka opera dan teater yang dipentaskan. Hampir di sepanjang jalan pengembaraan ku. Pada awalnya aku berpikir teater adalah cerita rakyat, tetapi itu cerita laknat. Aku mengira drama dongeng yang indah, tetapi itu hanyalah cerita yang direka.

Saat aku mulai mengerti dibalik tirai yang bermain. Ada penulis naskah, ada pembuat topeng, ada penata rias, ada pelatih, ada pelakon. Oh, beginikah kiranya sehingga terjadi drama dan opera yang indah itu. Sehingga aku tahu, inilah dunia yang begitu buruk rupa. Dunia yang penuh drama-drama. Aku melihat naska-naska drama itu, ternyata akupun terdaftar sebagai pelakon. Tetapi peranku tidak mencolok, bukan pemeran utama.

Aku hanya berperan sebagai pengembara. Dimana aku bertugas meratap dan menangis. Dalam perjalanan sebagai pelakon ini, aku melalui dunia yang tandus. Tetapi dunia itu kaya akan kekayaan alamnya, banyak nikmatnya. Tetapi alamnya yang kaya, berbeda dengan pelakon di dalamnya. Disini semua pelakonnya manusia kerdil dan kecil-kecil. Mereka sekolah tapi tak berilmu.

Mereka belajar tapi tak terdidik. Sehingga drama dan opera di negeri tandus tapi kaya raya ini, seperti nyanyian kurcaci-kurcaci di kursi-kursi. Aku begitu sedih dengan memperhatikan kehidupan pelakon di negeri ini. Mereka melakonkan sebagai perusak moral, juga perusak lingkungan hidupnya. ada juga pelakon menjadi hewan-hewan, jadi anjing, jadi babi, jadi tikus, jadi ular, jadi hantu, jadi kerbau, jadi monyet, dan banyak lagi.

Sangat sedikit pelakon kebaikan. Kerusakan yang tampak di san-sini. Dari jalanan sampai politik tingkat tinggi. Belum lagi masalah neo-feodalisme, sukuisme, korupsi, dan sekularisme tanpa batas. Mereka suka ikut-ikutan berlakon jadi orang asing, dari pada mengikuti nenek moyangnya.

Sehingga tenggelam semua akar budaya bangsa ini, hidup pun seperti di negeri asing. Baju-baju, adab-adab, sastra-sastra, semua mereka lakonkan mirip orang asing. Sehingga pengembara seperti aku, sulit membedakan mereka dengan pelakon asli, orang asing atau dengan pelakon hewan-hewan.

Betapa lebur-nya kubangan dosa-dosa yang terus merajalela. Orang-orang yang tidak mengindahkan pesan agama. Mulai melupakan adat istiadat, dan sebagai orang-orang timur. Begitu pun yang muslim yang hanya sebatas identitas saja. Aku bermimpi bilakah aku dapat berbuat sesuatu untuk kebaikan negeri ini.

Tetapi aku dalam drama ini, dipentas opera ini, lakonku hanyalah pengembara. Lakonku bukan lakon seorang pemimpin, bukan juga ulama, bukan hakim atau penegak hukum. Aku hanyalah pemeran dari seorang  pengembara yang tidak punya talenta. Aku juga seorang diri tanpa teman. Tidak ada yang dapat di perbuat pengembara, untuk negeri yang memperihatinkan ini.

Sehingga aku akan berkelana selamanya. Menonton drama dan opera-opera di panggung yang rendah. Llau mengembara, melalui lembah-lembah hitam, jurang-jurang dalam, untuk menyaksikan keburukan-keburukan itu. Dalam perjalanan ini, sambil berlalu aku menitip pesan tentang opere dan drama-drama.

Pesan.

Pajar menyinsing.
Di belahan bumi terjaga.
Nyaian-nyaian alam bersahutan.
Di sambut  mekaran-mekar  bunga.
Di iringi irama kicawan burung.
Berjuta-juta anak manusia.
Berlari-lari memburu Nasip.
Tenggelam dalam gelombang hidup.
Ada tawa-tawa, tersenyum, indah dan ceria.
Ada tangis pilu menyayat.
Suka duka dan lara.
Intrik, mencuri dan menipu.
Dan bersia-sia diri dengan narkotika.
Berzina, menjilat, korupsi. mabuk
Sungguh besar perut manusia.
Menelan, menyimpan , memendam.

Bagai air di daun keladi.
Bagai tapak di padang pasir.
Semua kembali seperti tanah.

Pohon yang rapuh, roboh dan jatuh.
Rajawali bercakar pun jatuh.
Apa yang kita cari.
Apa yang kita banggakan.
Bila menghadap Tuhan.

Kita tinggalkan kegagalan.
Kita tinggalkan keberhasilan.
Kita tinggalkan semua rasa-rasa.

Seperti debu-debu tertiup angin.
Bagai daun kering.
Nama pun tinggal kenangan.
Dunia milik siapa.
Dunia milik tuhan.
Yang abadi hanyalah waktu.

Pesan, hanya berkesan.
Bagi hati yang ada sedikit iman..
Pesan terdengarkan.
Bagi yang berakal sehat, lagi berilmu.
Pesan terabaikan.
Di ujung masa ini.

Oleh: Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 2013.
Syarce. Objektif.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: joni_apero@yahoo.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment