6/20/2019

Legenda Gajah Tua dan Ayam Beruge

Apero Fublic.- Alkisah di zaman dahulu kalah. Kecamatan Sungai Keruh belum ada penghuninya. Datarannya yang membentang dari tebing Sungai Musi sampai ke puncak Bukit Pandape, hanya ditutupi hutan lebat, dan banyak rawa-rawa. Sedangkan Sungai Musi dihuni oleh hewan buas seperti buaya, dan ular piton raksasa.

Di daratan banyak sekali binatang-binatang liar, gajah, harimau, kijang, rusa, kancil, napu, kera, tapir, babi hutan dan lainnya. Banyak juga jenis unggas, seperti elang, ayam hutan atau Beruge, itik hutan, dan  sebagainya. Diantara unggas-unggas itu, ayam hutan adalah unggas yang paling terkenal. Memiliki bulu-bulu yang indah dan suaranya yang merdu. Saat berkokok semua hewan hutan terbangun di pagi hari.

*****

Waktu itu musim kemarau, sehingga hewan-hewan sangat kesulitanmencari air minum. Siang itu, cuaca sangat panas dari biasanya. Seekor anak tikus menemukan air di lubang bambu yang terbelah. Anak tikus begitu gembira lalu minum dengan rakus karena kehausan. Tanpa disadari-nya seekor ayam beruge jantan telah berdiri di belakangnya. Tiba-tiba cakar ayam menerkam kearahnya. Leher terjepit di selah cakar ayam beruge.

“Dapat minum dan dapat makanan. Ha..ha..ha..ha...ha.” Kata Beruge seraya membentak. Anak tikus terkejut dan ketakutan, berteriak memanggil ibunya. Dari jauh ibu tikus mendengar dan berlari menghampiri. Ibu tikus melihat anaknya sudah tertangkap oleh Beruge. Ibu tikus berusaha tenang menghadapi si Beruge, untuk menyelamatkan anaknya. Ibu tikus tau kalau Beruge sangat suka dipuji, dia suka membanggakan dirinya. Ibu tikus berkata pelan dan lembut. Dia tidak mau mengambil resiko, karena ayam beruge bukan lawannya. Salah sedikit, sekali patuk daging anaknya bisa terkoyak oleh paru beruge.

“Baginda raja unggas, unggas terindah di hutan ini. Sebab apa kiranya anak hamba ditangkap paduka." Kata si ibu tikus memelas. Diam-diam si ayam beruge merasa tersanjung juga. Saat dipanggil dengan sebutan baginda.

"Oh, kau ibunya. Apa kesalahannya!!?. Dia telah mencuri minumku, dan gantinya dia akan Aku makan." Kata ayam beruge dengan nada mengancam.

“Oh. Kiranya baginda raja unggas. Ampun beribu ampun. Baginda yang bersuara nan merdu. Dapalah memberi ampun dan belas kasih pada kami yang hina dan lemah ini. Mohon dimaafkan atas kesalahan anak hamba. Yang telah lancang mencuri air minum paduka." Ujar ibu tikur sambil berlutut.

"Tidak, sebaiknya engkau pergi. Atau kau, aku makan juga. Kata si Beruge keras. Ibu tikus menunduk, dan terus berusaha lembut dan sabar.

“Baginda, tidakkah baginda sadari betapa indah diri baginda itu. Berbulu emas dan berbulu perak. Bersuara merdu, lagi bijaksana. Hamba pikir kenapa bukan baginda yang menjadi raja, di hutan kita ini. Tuan juga selalu membangunkan seisi hutan dengan suara tuan yang merdu. Bukan hamba bermaksud menyanjung tuan, bukankah itu memang kenyataannya. Kenapa bukan tuan yang menjadi raja hutan?. Kata ibu tikus.

"Ibu tikus, jangan bermimpi dirimu, bagaimana pula aku bisa menjadi raja hutan, hah. "Jawab beruge sambil menghardik. Ayam beruge tampak menjulurkan leher dan mengepak-ngepakkan sayapnya. Tanda dia mulai termakan pujian ibu tikus.

"Begini baginda yang mulia, saya punya usul. Ada baiknya baginda menantang bertanding lomba makan dengan raja hutan kita, si gajah tua. Apabila baginda menang, maka baginda akan menjadi raja di hutan kita ini. Tuan akan memiliki kekuasaan dan hidup senang, banyak pelayan, dan kehormatan.” Kata ibu tikus. Si beruge berpikir sejenak, sambil manggut-manggut.

"Bagaimana caranya aku bisa mengalahkan si gajah tua itu.” Tanya si ayam Beruge.

“Baginda, sifat gajah kalau makan dia rakus. Lalu dia akan makan cepat dan perutnya cepat kenyang.  Sedangkan baginda makannya lama. Karena memakan butir-butir padi atau biji-bijian. Jadi aturan perlombaannya. Siapa yang paling tahan lama makan, dia pemenangnya. Pertaruhannya, apabila baginda menang, maka baginda meminta kedudukan sebagai raja hutan.” Saran si ibu tikus.

"Heemmmm!!!. Benar juga ide engkau, ibu tikus. Akhirnya  ayam beruge termakan juga oleh bujuk dan puji-puji ibu tikus.

"Baiklah, karena kau telah baik padaku, Aku akan memaafkan anakmu, yang nakal ini.” Kata Beruge.Setelah kaki ayam Beruge diangkat. Anak tikus berlari dan memeluk ibunya, sambil menangis.

"Baginda, kami hendak pamit, dan kami ucapkan terima kasih atas kemurahan hati baginda. Banginda akan menjadi raja kami.” Ibu tikus dan anaknya pergi, lalu menghilang di balik semak-semak. Waktu berlalu, ayam beruge mencari gajah raja hutan untuk menantang perlombaan makan. Gajah Tua dia dipilih rakyat hutan menjadi raja hutan. Dia sangat bijaksana dan jujur, itulah mengapa dijadikan Raja Hutan.

*****

Suatu sore, pertemuan Beruge dengan Gajah si Raja Hutan pun terjadi. Melihat gajah tua itu, mata si Beruge bersinar. Dia tampak meremehkan Gajah Tua itu.

"Pucuk dicinta ulam pun tiba. Bertemu juga yang aku cari-cari.” Kata Beruge. Beruge mengepak-ngpakkankan sayapnya dan berkokok panjang. Dia berdiri di tengah jalan menghadang si gajah. Gajah Tua berhenti memperhatikan beruge dengan penuh tanda tanya.Lagaknya tidak sopan dan angkuh sekali. Gajah Tua menarik nafas dalam melihat kelakuan Beruge.

“Kuku-kruuuuyyuuuukkkkk, kuku-kruyuuukkkkkkkkkkk.” Kokok Beruge berulang-ulang.

"Ada apa denganmu, ayam Beruge. Kenapa kau menghalangi jalanku!. Nanti terinjak!, patah kakimu.” Kata Gajah Tua.

Tidak langsung menjawab, dia malah menggelepakkan bulu-bulunya, seakan tidak mengindakan kata-kata sang gajah. Kemudian mengais-ngais tanah, dan mematuk-matuk makanan yang dia dapat.  Hal ini, terus dilakukan si ayam beruge, yang juga diselingi dengan berkokok menantang. Betapa gusar Gajah Tua itu.

“Beruge, kalau tidak ada suatu hal, maka tolong jangan menghalangi jalanku. Aku ada urusan penting di atas bukit Pendape.” Kata Gajah Tue.

“Baiklah gajah yang besar, langsung saja pada intinya. Aku hendak menantangmu untuk bertanding makan. Tubuh besarmu atau tubuh kecilku yang akan menang. Kalau Aku menang, kau harus menyerahkan kedudukanmu sebagai raja hutan padaku.” Kata Beruge.

“Sudahlah Beruge, banyak hal yang dapat dilakukan. Memimpin bukan perkara mudah atau perkara kedudukan, tapi masalah tanggung jawab.” Kata Gajah Tua.

“Apakah kau takut, Gajah Tua.” Kata Beruge. Gajah tidak menjawab, dia menganggap beruge seperti anak kecil dan tidak mau meladeninya. Gajah bergerak untuk pergi. Dari tadi, tanpa disadari Gajah Tua dan Beruge percakapan mereka didengar oleh beberapa hewan lainnya. Seekor burung Lamukan, dua ekor kadal, empat ekor tupai, ular daun dan tiga ekor monyet. Berita tantangan pertandingan dari si Beruge menyebar dengan cepat. Seantero hutan geger dan membicarakan keberanian ayam beruge menantang gajah raja hutan.

“Baginda Raja, benarkah takut pada beruge. Bagaimana baginda nantinya melindungi kami kalau dengan beruge saja kalah.” Kata beruang. Gajah benar-benar terdesak oleh rakyatnya.

Gajah pemimpin bijaksana itu menarik napas dalam. Dia tidak tahu bagaimana lagi. Semuanya mendesak untuk menyambut tantangan Beruge. "Bukan masalah takut atau berani, wahai Beruang. Kalian adalah rakyatku, tidak pantas dan tidak boleh seorang raja bertarung, mengadu kekuatan, dengan rakyatnya sendiri.” Kata si gajah dengan berwibawa.

“Tapi baginda, tidak ada salahnya apabila baginda bertanding secara adil dan jujur. Dengan rakyat baginda sendiri. Pertandingan ini juga hanya sebatas makan-makan. Tidak juga berperang atau mengadu otot.” Jelas monyet sambil makan pisang dan duduk santai di akar yang menjuntai.

“Betul baginda, apa kata rakyat baginda apabila baginda menolak bertanding dengan Beruge kecil begitu.” Kata burung Lamukan. Akhirnya, karena banyak desakan, dengan berat hati gajah yang bijaksana itu, terpaksa menyetujui tantangan beruge. Selanjutnya, ditentukanlah hari dan waktu pertandingan. Bertempat di tanah terbuka dan bersih. Pertandingan diumumkan ke seluruh pelosok hutan.

*****

Begitupun persiapan juga dimulai. Ribuan burung pipit ditugaskan mencari bulir padi atau biji-bijian. Untuk makanan ayam beruge saat pertandingan. Ratusan rusa dan kijang juga mencari rumput-rumputan untuk makanan Gajah Tua saat bertanding. Semua hewan membantu untuk hari pertandingan itu. Tibalah hari pertandingan, ribuan hewan penghuni hutan datang untuk menyaksikan  pertandingan antara si Beruge dan Gajah tua si raja hutan.

Seekor orang hutan berdiri di tengah lapangan pertandingan, dan berkata. "Hadirin semua, penghuni hutan di Dataran Pedatuan Bukit Pendape. Hari ini adalah hari pertandingan besar dalam sejarah para hewan-hewan. Yaitu, pertandingan antara baginda raja hutan kita, Gajah Tua. Melawan Si ayam hutan, Beruge.” Katanya, disambut meriah tepuk tangan.“Dialah si Berugeeeee yang pemberani.” Teriak orang hutan menyambut kedatangan Beruge. Beruge berkokok nyaring dan mengepak-ngepakkan sayapnya.

“Aturan pertandingannya, siapa yang paling lama makan. Maka dialah pemenang dan menjadi akan menjadi raja hutan kita. Apa kalian semua sepakat?.” Orang Hutan berkata setengah berteriak. Semua sepakat dengan tepukan tangan riuh dan sorakan. Gajah datang perlahan memasuki arena pertandingan. Dia berdiri di dekat tumpukan rumput dan beruge berdiri di dekat tumpukan biji-bijian.

*****

Pertandingan dimulai, kebiasaan semua gajah makan cepat sesuai prediksi ibu tikus. Dalam waktu cepat setengah rumput habis dan perut gajah mulai tidak muat. Gajah memaksa dan perutnya kekenyangan, sampai terasa sakit. Gajah beristirahat dan tertidur nyenyak.

Sementara ayam terus makan dan makan. Dia tersenyum penuh kemenangan melihat gajah telah tertidur. Sorakan dan pujian diberikan pada Beruge yang pemberani. Beruge yang bersifat suka dipuji dan sombong, menjadi lupa diri. Puji dan sanjungan membuat dia melayang tinggi.

Beruge terus makan dan makan diiringin teriakan sorakan pendukungnya. Seekor katak tua yang lemah melompat mendekatinya.

“Berugeee. Berugee. Berugee.” Teriak pendukung Beruge.

“Cucuku Beruge, sudah cukup makannya. Ingat, kau tidak bisa makan terlalu banyak bijian, berbhaya.” Katak tua yang lemah mengingatkan. Beruge marah dan berkata padanya penuh keangkuhan.

“Pergi kau katak tua, atau kau aku makan juga. Lihat gajah saja akan kalah olehku apalagi dirimu yang hanya katak yang rendah.” Kata Beruge tidak mau menerima nasihat dan saran katak. Beruge merasa dirinya sangat hebat, kuat dan pintar sekali. Katak pergi meninggalkan beruge, dan langsung pulang ke sarangnya.

"Ayo Beruge yang berbulu indah,  bersuara merdu. Makan terus, ayo kalakan Gajah Tua dan jadilah Raja Hutan. " Teriak kijang

*****

Gajah akhirnya menyerah dan kembali duduk di bawa pohon karena kekenyangan. Semua pendukungnya kecewa dan sedih. Sedangkan pendukung ayam beruge terus bersorak. Sebab ayam terus makan dan makan, calon pemenang. Ayam Beruge begitu bangga karena sorakan pendukungnya, hingga dia lupa diri. Makan terus dan terus.

Orang hutan maju ke arena pertandingan lagi. Dia akan mengumumkan pemenang lomba makan terlama. Beruge dinilai telah menang sedangkan gajah telah tertidur. Semua bertepuk tangan menyambut kemenangan Beruge.

“Inilah dia, Raja Hutan yang baruuu.” Kata Orang Hutan keras, yang disambut pekikan seru. Orang Hutan memegang sayap Beruge, dan menuntun berjalan.

“Akkkk, hueeekkkk.” Berkali-kali suara tercekik dari tenggorokan ayam hutan, lalu dia roboh ke tanah. Semua terkejut dan terdiam. Ternyata biji-biji yang dimakan Beruge terlalu banyak. Karena panas tubu dan pengolahan makan oleh tubuhnya membuat biji-biji mengembang. Maka lambung dan wadah makanan tidak kuat menahan. Beruge tercekik terus dan akhirnya dia tidak dapat bernafas, dan tubuhnya kejang-kejang lalu mati.


Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S. Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Sungai Keruh, 19 Juli 2018.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional,  quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com atau duniasastra54@gmail.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

1 comment: