6/20/2019

Legenda Gajah Tua dan Ayam Beruge

Apero Fublic.- lkisah di zaman dahulu kalah. Kecamatan Sungai Keruh belum ada penghuninya. Datarannya yang membentang dari tebing Sungai Musi sampai ke puncak Bukit Pandape, dan sekitarnya. Masa itu, Kecamatan Sungai Keruh masih ditutupi hutan lebat, dan banyak rawa-rawa. Sedangkan Sungai Musi dihuni oleh hewan buas seperti buaya, ular piton raksasa, dan binatang-binatang berbahaya lainnya.

Di daratannya masih banyak sekali binatang-binatang liar, seperti gajah, harimau, kijang, rusa, kancil, napu, kera, tapir, babi hutan dan sebagainya. Begitu pun jenis unggas, berbagai macam jenis beranak-pinak. Seperti, burung-burung, ayam hutan, itik hutan, elang, dan  sebagainya. Jenis ayam hutan adalah unggas yang paling terkenal. Memiliki bulu-bulu yang indah. Lebih indah dari jenis ayam bekisar manapun. Itulah Ayam beruge namanya.

Ayam beruge mempunyai buluh-buluh cantik sekali. Berwarna kemerahan seperti emas. Sedangkan ekornya menjuntai bagai bulan sabit. Sedangkan hewan yang paling besar adalah gajah. Memang gajah sangat banyak dahulu di dataran Pulau Sumatra. Pada masa pemerintahan Orde Baru, gajah-gajah dipindahkan ke taman margasatwa di Provinsi Lampung.

Bahkan sebuah desa di Kecamatan Sungai Keruh dinamakan desa Gajah Mati. Karena saat nenek moyang masyarakat desa Gajah Mati. Kemungkinan orang Melayu dari kerajaan Sriwijaya yang membuka hutan untuk pemukiman baru. Menemukan gajah yang mati di sebuah sungai kecil, anak dari Sungai Keruh. Dengan penemuan itu, nenek moyang orang Desa Gajah Mati menamakan sungai kecil tersebut dengan nama Sungai Gajah Mati, dan mereka pun membangun perkampungan (Talang).

Lama kelamaan kampung tempat mereka tinggal pun berkembang. Juga di namakan, Talang Gajah Mati. Hal ini, dapat dibuktikan dengan adanya padang atau bentuk tanah lapangan berumput bekas perkampungan tua di timur Desa Gajah Mati. Terletak di sebuah tanjung Sungai Keruh (Kampung Laut). Sungai kecil yang mengalir disisi lapangan berumput, itulah Sungai Gajah Mati. Desa Gajah Mati masuk dalam wilayah Kecamatan Sungai Keruh.

Wilayah ini pada zaman Kerajaan Sriwijaya dahulu dikenal dengan nama Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Pemimpin bergelar Depati, kepala talang bergelar Datu. Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, bernama Marga Sungai Keruh dipimpin Pesirah. Sekarang sudah berkembang menjadi tiga wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Sungai Keruh, Kecamatan Jirak Jaya, Kecamatan Plakat Tinggi, dan sebagian wilayah dari kecamatan lain. Masuk dalam pemerintahan Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Dongeng Gajah Tua dan Ayam Beruge
Waktu itu musim kemarau panjang. Sehingga hewan-hewan sangat sulit mencari air minum. Dihari yang sangat panas terik dan kering itu. Seekor anak tikus menemukan air di lubang bambu yang terbelah. Anak tikus itu, begitu gembira dan minum dengan rakus karena kehausan. Tanpa disadari-nya seekor ayam Beruge jantan telah berdiri di belakangnya. Tiba-tiba cakar ayam menerkam kearah-nya. Leher terjepit di cakar ayam beruge jantan.

“Dapat minum dan dapat makanan. Ha..ha..ha..ha...ha. Hardik si Beruge. Anak tikus ini terkejut sekali, dan berteriak memanggil ibunya. Dari jauh ibu tikus mendengar dan berlari menghampiri. Ibu tikus datang, dia melihat anaknya sudah tertangkap oleh sang ayam Beruge. Cakar ayam yang tajam dan panjang menginjak leher anaknya.  Ibu tikus berusaha tenang untuk menghadapi si ayam beruge. Untuk menyelamatkan anaknya. Berpikir sejenak, si ibu tikus tau kalau ayam jantan sangat suka dipuji, dan juga angkuh. Sehingga ibu tikus berkata pelan dan lembut. Ibu tikus yang cerdik ini, tahu dia akan kerepotan menghadapi ayam jago ini. Salah sedikit, sekali patuk daging anaknya bisa terkoyak oleh paru ayah beruge.

“Baginda raja unggas, unggas terindah di hutan ini. Sebab apa kiranya anak hamba ditangkap paduka." Kata si ibu tikus memelas. Diam-diam si ayam beruge merasa tersanjung juga. Saat dipanggil dengan sebutan baginda. "Oh, kau ibunya. Apa kesalahannya?. Dia telah mencuri minumku, dan gantinya dia akan aku makan." Kata ayam beruge dengan nada mengancam.

“Oh. Kiranya baginda raja unggas. Ampun beribu ampun. Baginda yang bersuara nan merdu. Kiranya memberi ampun dan belas kasih pada kami yang hina dan lemah ini. Mohon dimaafkan atas kesalahan anak hamba. Yang telah lancang mencuri air minum paduka." Ujar ibu tikur sambil berlutut. "Tidak, sebaiknya engkau pergi. Atau kau, aku makan juga. Kata si beruge keras. Ibu tikus menunduk, dan terus berusaha lembut dan sabar.

“Baginda, tidakkah baginda sadari betapa indah diri baginda itu. Berbulu emas dan berbulu perak. Bersuara merdu, lagi bijaksana. Hamba pikir kenapa bukan baginda yang menjadi raja, di hutan kita ini. Tuan juga selalu membangunkan seisi hutan dengan suara tuan yang merdu. Bukan hamba bermaksud menyanjung tuan, tetapi ini memang kenyataannya. Kenapa bukan tuan yang menjadi raja hutan?. Kata ibu tikus. "Ibu tikus, jangan bermimpi dirimu, bagaimana pula aku bisa menjadi raja hutan, hah. "Jawab beruge sambil menghardik. Ayam beruge tampak menjulurkan leher dan mengepak-ngepakkan sayapnya. Tanda dia mulai termakan pujian ibu tikus.

"Begini baginda yang mulia, saya punya usul. Ada baiknya baginda menantang bertanding lomba makan dengan raja hutan kita, si gajah tua. Apabila baginda menang, maka baginda akan menjadi raja di hutan kita ini. Tuan akan memiliki kekuasaan dan hidup senang, banyak pelayan, dan kehormatan. Si beruge berpikir sejenak, sambil manggut-manggut. "Bagaimana caranya aku bisa mengalahkan si gajah tua itu. Tanya si ayam Beruge.

“Baginda, sifat gajah kalau makan dia rakus. Lalu dia akan makan cepat dan perutnya kenyang.  Sedangkan baginda makannya lama. Karena memakan butir-butir padi atau biji-bijian. Jadi aturan perlombaannya. Siapa yang paling tahan lama makan, dia pemenangnya. Pertaruhannya, apabila baginda menang, maka baginda meminta kedudukan sebagai raja hutan. Saran si ibu tikus. "Heemmmm!!!. Benar juga ide engkau, ibu tikus. Akhirnya  ayam beruge termakan juga oleh bujuk dan puji-puji ibu tikus. "Baiklah, karena kau telah baik padaku, aku akan memaafkan anakmu, yang nakal ini. Kata Beruge.

Setelah kaki ayam Beruge diangkat. Anak tikus berlari dan memeluk ibunya. "Baginda, kami hendak pamit, dan kami ucapkan terima kasih atas kemurahan hati baginda. Banginda akan menjadi raja kami. Ibu tikus dan anaknya pergi, lalu menghilang di balik semak-semak. Waktu berlalu, ayam beruge mencari gajah raja hutan untuk menantang perlombaan makan. Gajah yang dinobatkan secara musyawarah menjadi raja hutan karena kebaikan dan kebijaksanaannya. Akhirnya berhasil dijumpai ayam beruge.

Pertemuan ayam Beruge dengan Gajah si Raja Hutan pun terjadi. Di suatu sore yang cerah. Berjumpa di sebuah dataran hutan. Melihat gajah tua itu, mata si Beruge bersinar. Dia tampak meremehkan gajah tua itu. "Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kata si Beruge sambil mengepakkan sayapnya. Lantas sang ayam jantan berkokok nyaring. Berdiri di tengah jalan menghadang si gajah. Sehingga gajah tua itu berhenti. Sang gajah terkejut melihat lagak si ayam beruge yang tampak angkuh, dan tidak biasanya. Tidak menaruh hormat akan yang lebih tua. Juga sekaligus pemimpin di hutan mereka.

“Kuku-kruuuuyyuuuukkkkk, kuku-kruyuuukkkkkkkkkkk. Kokok si ayam jantan berulang-ulang. "Ada apa denganmu, ayam Beruge. Kenapa kau menghalangi jalanku!, nanti terinjak!, patah kakimu. Apa pula maksudmu menghentikan aku diperjalanan ini. Tanya sang gajah tua degan suara berwibawa. Ayam Beruge tidak menjawab. Dia malah menggelepakkan bulu-bulunya, seakan tidak mengindakan kata-kata sang gajah. Kemudian mengais-ngais tanah, dan mematuk-matuk makanan yang dia dapat.  Hal ini, terus dilakukan si ayam beruge, yang juga diselingi dengan berkokok menantang.

Gajah mengawasinya dengan sinar mata penuh tanda tanya, dan sabar. Kemudian dia bertanya. "Katakan padaku, Beruge, apa masalahmu?. Jangan sungkan, bicaralah. Aku sedang terburu-buru karena hari mulai sore. Mataku sudah rabun, kalau pulang kesorean aku tidak dapat melihat jalan lagi. Aku juga akan menghadiri rapat dengan para pemakan rumput, karena sejak kemarau rumput berkurang dan dikhawatirkan akan banyak yang sakit atau kelaparan. Kata si gajah tua menjelaskan.

“Baiklah gajah yang perkasa, langsung saja. Aku hendak menantangmu untuk bertanding makan. Degan tubuh besarmu, tentu kau dapat makan lebih banyak dan lebih lama dariku. Aku menantangmu untuk bertanding makan. Aturannya, siapa yang lebih tahan lama makan, maka dia pemenangnya. Kita buktikan, Aku si ayam beruge yang tubuh kecil. Atau kau, si gajah tubuh besar yang menang. Apabila kau kalah, maka kau harus menyerahkan kedudukan sebagai raja hutan padaku. Kata si ayam beruge dengan lantang.

Tanpa disadari keduanya percakapan mereka didengar oleh beberapa hewan hutan. Seekor burung Lamukan, dua ekor kadal, empat ekor tupai, ular dan tiga ekor monyet. Berita tantangan pertandingan dari si Beruge menyebar dengan cepat. Seantero hutan geger dan membicarakan keberanian ayam beruge menantang gajah raja hutan.

Ayam beruge kemudian mengepakkan sayapnya. Lalu kembali berkokok merdu dan nyaring. Sinar matanya menatap dengan pandangan remeh. "Apa engkau takut akan pertandingan ini, wahai raja hutan?. Kemudian tupai yang tadi menguping di dahan pohon berkata menimpali. "Baginda raja, gajah yang kuat dan bijaksana. Apa baginda benar takut dengan tantangan ayam Beruge yang kecil itu. Bagaimana baginda hendak melindungi kami kalau dengan ayam Beruge kecil saja baginda takut berhadapan. Kata-kata si tupai juga di iakan oleh hewan lain disekitar itu. Membuat si gajah menjadi serbah salah.

Gajah bijaksana itu menarik napas dalam. "Bukan masalah takut atau berani, wahai tupai. Kalian adalah rakyatku, tidak pantas dan tidak boleh seorang raja bertarung, mengadu kekuatan, dengan rakyatnya sendiri. Pemimpin adalah pelindung, dan pengayom rakyatnya. Kata si gajah dengan berwibawa. "Ingat pepatah Melayu, “Raja alim raja disembahRaja lalim raja disangga.” Rakyat dan pemimpin harus bekerja sama, bersatu.

“Tapi baginda, tidak ada salahnya apabila baginda bertanding secara adil dan jujur. Dengan rakyat baginda sendiri. Pertandingan ini juga hanya sebatas makan-makan. Tidak juga berperang atau mengadu otot. Jelas monyet sambil makan pisang dan duduk santai di akar yang menjuntai.

“Betul baginda, apa kata rakyat baginda apabila baginda menolak bertanding dengan ayam Beruge kecil begitu. Kata burung Lamukan. Akhirnya, karena banyak desakan, dengan berat hati gajah yang bijaksana itu, terpaksa menyetujui tantangan si ayam beruge. Selanjutnya, ditentukanlah hari dan waktu pertandingan. Bertempat di tanah terbuka dan bersih. Pertandingan diumumkan ke seluruh pelosok hutan.

Begitupun persiapan juga dimulai. Ribuan burung pipit ditugaskan mencari bulir padi atau biji-bijian. Untuk makanan ayam beruge saat pertandingan. Ratusan rusa dan kijang juga mencari rumput-rumputan untuk makanan si gajah saat bertanding. Semua hewan membantu untuk hari pertandingan itu. Tibalah hari pertandingan, ribuan hewan penghuni hutan datang untuk menyaksikan  pertandingan antara si ayam Beruge dan Gajah tua si raja hutan.

Seekor orang hutan berdiri di tengah lapangan pertandingan, dan berkata. "Hadirin semua, penghuni hutan di Dataran Negeri Bukit Pendape. Hari ini adalah hari pertandingan besar dalam sejarah para hewan-hewan. Yaitu, pertandingan antara baginda raja hutan kita, si Gajah. Melawan Si ayam hutan, beruge. Dialah si Berugeeeee yang pemberani!!!. Aturan pertandingannya, siapa yang paling lama makan. Maka dialah pemenang dan menjadi raja hutan kita. Apa kalian semua sepakat??. Orang hutan berkata setengah berteriak. Akhir katanya disambut riuh tepuk tangan hadirin.
“Sepakat. Teriak semua para hewan disana. “Pertandingan pun dimulai. Kita sambut ayam beruge dan gajah si raja hutan. Setelah itu orang hutan melangkah keluar lapangan dan bergabung menonton.

Gajah makan cepat sesuai prediksi ibu tikus. Semua tahu kebiasaan gajah adalah memakan, makanan dengan jumlah yang besar. Makan dan terus makan dengan cepat. Rumput dan dedaunan yang tersedia cepat berkurang. Begitu pun ayam Beruge. Dia makan biji padi, biji-bijian satu demi satu, dan perlahan. Gajah sekali makan sangat banyak karena mulutnya besar, perut besar. Berkali-kali dia memasukkan makanan ke dalam mulutnya dan mengunyanya cepat. Terus dan terus, sampai akhirnya perut gajah penuh dan tidak dapat memuat makanan lagi.

Para hewan mereka penasaran siapa yang akan menang. Sembilan puluh persen berpendapat gajahlah yang akan menang. Sebab tubuh besar sekali dan sangat besar dibanding ayam.  Semua menyaksikan siapa yang dapat makan paling lama dan banyak. "Ayo baginda raja, semangat dan kuat, makan terus. Jangan kalah dengan ayam hutan itu. Kata harimau. Begitu pun dengan binatang lain memberi semangat dan mendukung gajah. Semua riuh, bersorak, dan bertepuk tangan. Setiap binatang mengeluarkan bunyi khas mereka masing-masing. Pendukung ayam beruge juga tidak kalah semangat. "Ayo Beruge yang berbulu indah,  bersuara merdu. Makan terus, ayo kalakan si gajah hutan. "ayoooo...!!!

Gajah akhirnya menyerah dan duduk di bawa pohon rindang karena kekenyangan. Semua pendukungnya kecewa dan sedih. Sedangkan pendukung ayam beruge terus bersorak. Sebab ayam terus makan dan makan, calon pemenang. Ayam Beruge begitu bangga karena sorakan pendukungnya, hingga dia lupa diri. Makan terus dan terus. Memang cara makan ayam sebutir-sebutir kecil, dan lambat. Gajah yang kekenyangan dan duduk di bawa pohon pun, tertidur. Sementara ayam beruge terus makan dan makan. Burung elang, memperingatkan agar si ayam Beruge berhenti makan.

Tetapi karena si ayam beruge sudah mabuk pujian dan sorakan, lupa diri. sehingga kantung makanannya terus terisi, penuh lewet batas. Sambil makan dia berkokok penuh kebanggan dan riyak. Seakan-akan dia berjaya sekali dan sangat hebat. Tidak lama kemudian gajah terbangun dari tidurnya. Saat si Gajah bangun. Semua hewan mengatakan bahwa si ayam beruge, makan terus selama gajah tertidur tadi. Ayam Beruge melihat gajah bangun dari tidur dan berkata. “Apakah mimpi indah baginda raja. Si ayam mengolok-olok gajah. Semua yang menonton jadi tertawa.

Gajah yang bijaksana itu tidak menanggapi kata-kata yang meremehkannya. Malahan dia menasihati agar ayam berhenti makan. Dia sudah mengaku kalah dan kedudukan raja hutan silakan ayam beruge yang menempati. Bisa berbahaya kalau kelewat batas. Karena biji-bijian akan mengembang karena panas tubuh jelas gajah tua. Tetapi ayam tidak mau, dia tidak mau kalah. Tepukan dan sorakan penonton melupakan dengan kondisi dirinya sendiri. Burung elang juga memperingatkan, agar si ayam Beruge berhenti makan. Tidak berapa lama kemudian. Ayam beruge merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya.

Tiba-tiba ayam beruge tercekik dan tersedak. Karena makanan sudah terlalu banyak. Bahkan sudah memenuhi kerongkongannya. Biji-bijian di dalam perutnya sudah sangat banyak, dan sudah mengembang. Berakibat perut ayam membesar dan terasa sakit. Ayam terjatuh karena kekenyangan, dia ingin minum, tetapi air sulit didapat. Memang musim kemarau panjang, yang telah mengeringkan sungai-sungai. Tidak tertolong lagi, akhirnya si ayam beruge meninggal karena kekenyangan. Gajah yang bijaksana sebagai raja hutan pun bersedih, menyesali kejadian itu.

Gajah Tua yang bijaksana akhirnya tetap menjadi raja hutan. Sampai diA meninggal dikemudian hari. Melihat kebaikan dan kebijakan si gajah tua itu, membuat semua hewan terharu. Mereka menyadari menjadi pemimpin bukan masalah kalah atau menang. Kuat atau lemah, besar atau kecil. Tetapi memimpin itu dari kebaikan akhlak, kejujuran, dan kebijaksanaanlah yang penting. Tidak ada lagi yang mau mengganggu kedudukan gajah tua bijaksana itu. Semua menghormati dan menyayanginya.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S. Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Sungai Keruh, 19 Juli 2018.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional,  quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com atau duniasastra54@gmail.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

1 comment: