Kampus
Mahasiswi
Media Sosial
Opini
Dari “Six Seven” sampai “Brainrot”: Ketika Bahasa Viral TikTok Masuk ke Ruang Kelas
APERO FUBLIC I Pernahkah kita mendengar siswa SMP tiba-tiba meneriakkan “six seven” ketika sedang bercanda, menjawab pertanyaan teman, atau bahkan saat pembelajaran berlangsung? Bagi sebagian orang dewasa, ungkapan tersebut mungkin terdengar aneh karena tidak memiliki makna yang jelas dalam percakapan sehari-hari.
Namun, bagi sebagian anak muda, ungkapan itu justru menjadi sesuatu yang lucu, menarik, dan membuat mereka merasa menjadi bagian dari kelompok pertemanannya.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana media sosial, terutama TikTok, ikut memengaruhi cara anak-anak berkomunikasi.
Istilah seperti six seven, rizz, aura farming, dan berbagai ungkapan yang berkaitan dengan budaya brainrot dapat ditemukan dalam percakapan digital generasi muda. Penelitian tentang bahasa brainrot di TikTok Indonesia pada 2026 juga menunjukkan munculnya berbagai istilah baru yang berfungsi sebagai hiburan sekaligus penanda identitas kelompok.
Bagi dunia pendidikan, fenomena ini menarik untuk dikaji. Bahasa viral bukan hanya persoalan kata-kata yang sedang populer, melainkan juga berkaitan dengan perubahan makna, kebiasaan berkomunikasi, dan cara siswa membangun hubungan sosial.
Salah satu alasan istilah viral mudah diterima siswa adalah sifatnya yang sederhana, unik, dan mudah ditiru. Siswa tidak harus memahami seluruh latar belakang sebuah meme untuk ikut menggunakannya. Mereka cukup melihat video yang dianggap lucu, mendengar ungkapan yang berulang, lalu menirukannya ketika berkumpul dengan teman.
Istilah six seven, misalnya, tidak memiliki satu makna baku yang berlaku dalam semua situasi. Dalam budaya meme internet, ungkapan tersebut lebih sering digunakan sebagai lelucon atau respons spontan.
Justru karena maknanya tidak pasti, istilah ini dapat digunakan dalam berbagai situasi bercanda. Fenomena tersebut turut membuat sebagian orang dewasa kebingungan ketika mendengarnya.
Di lingkungan sekolah, penggunaan istilah viral juga dapat menjadi cara siswa menunjukkan bahwa mereka mengikuti tren yang sama. Ketika seorang siswa mengucapkan ungkapan tertentu dan teman-temannya tertawa atau memberikan respons serupa, terbentuklah pengalaman bersama yang mempererat hubungan kelompok.
Dengan demikian, bahasa viral memiliki fungsi sosial. Siswa tidak selalu menggunakan bahasa hanya untuk menyampaikan informasi. Mereka juga menggunakannya untuk bercanda, membangun keakraban, dan menunjukkan identitas sebagai bagian dari kelompok tertentu.
Fenomena tersebut dapat dikaji melalui morfologi, semantik, dan sosiolinguistik. Morfologi mempelajari bentuk dan pembentukan kata, semantik mengkaji makna, sedangkan sosiolinguistik melihat hubungan bahasa dengan masyarakat.
Dalam kasus six seven, persoalan yang menonjol bukanlah pembentukan kata dalam pengertian morfologi, melainkan perubahan fungsi ungkapan dan maknanya dalam konteks sosial. Sebuah ungkapan yang awalnya dikenal melalui lagu dan meme dapat digunakan sebagai respons bercanda, meskipun tidak memiliki makna leksikal yang pasti dalam percakapan tersebut.
Sementara itu, istilah seperti aura farming memperlihatkan penggunaan gabungan kata bahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari.
Ungkapan tersebut dipakai untuk menggambarkan tindakan yang membuat seseorang terlihat keren atau menarik perhatian. Ketika siswa memasukkan istilah semacam ini ke dalam kalimat bahasa Indonesia, terjadi fenomena campur kode.
Campur kode tidak serta-merta menunjukkan bahwa siswa tidak mampu berbahasa Indonesia.
Dalam situasi tertentu, pencampuran bahasa dapat menjadi bentuk kreativitas dan strategi komunikasi. Akan tetapi, persoalan perlu diperhatikan ketika siswa tidak mampu menyesuaikan pilihan bahasanya dengan kebutuhan komunikasi.
Misalnya, menggunakan istilah viral saat bercanda dengan teman tentu berbeda dengan menggunakannya dalam laporan praktikum, presentasi ilmiah, atau tugas menulis formal. Dalam konteks akademik, siswa perlu mampu menjelaskan gagasan secara jelas, menggunakan istilah yang tepat, dan menyusun kalimat yang dapat dipahami pembaca.
Oleh sebab itu, penilaian terhadap bahasa viral sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan apakah suatu ungkapan benar atau salah. Kita juga perlu mempertimbangkan siapa yang berbicara, kepada siapa bahasa itu ditujukan, apa tujuannya, dan dalam situasi apa ungkapan tersebut digunakan.
Meskipun bahasa viral dapat mempererat hubungan pertemanan, penggunaannya tetap memiliki batas. Bayangkan ketika guru sedang menjelaskan materi, tetapi beberapa siswa terus mengulang ungkapan viral sehingga teman-temannya tertawa dan perhatian kelas teralihkan.
Dalam situasi tersebut, persoalannya bukan lagi sekadar pilihan kata, melainkan penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan situasi komunikasi. Kegiatan pembelajaran membutuhkan perhatian, kesempatan berbicara yang teratur, dan kemampuan mendengarkan orang lain.
Namun, kita juga perlu berhati-hati agar tidak langsung menyimpulkan bahwa semua siswa yang menggunakan istilah viral mengalami penurunan kemampuan berpikir atau berbahasa. Penggunaan meme dan bahasa gaul saja tidak cukup untuk membuktikan hal tersebut. Kesimpulan seperti itu harus didukung oleh data yang memadai.
Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah frekuensi penggunaan, situasi kemunculannya, dan dampaknya terhadap kegiatan belajar. Jika ungkapan viral hanya digunakan sesekali untuk bercanda tanpa mengganggu pembelajaran, respons yang diberikan tentu berbeda dari situasi ketika penggunaannya berulang kali menghambat penjelasan guru.
Di sinilah diperlukan sikap kritis. Guru perlu membedakan antara kreativitas berbahasa yang wajar dan perilaku komunikasi yang mengganggu hak belajar orang lain.
Melarang seluruh bahasa gaul bukanlah satu-satunya jalan keluar. Larangan yang terlalu ketat justru berisiko membuat siswa merasa bahwa bahasa yang mereka gunakan dalam pergaulan selalu dianggap buruk. Padahal, bahasa gaul merupakan bagian dari dinamika komunikasi remaja.
Guru Bahasa Indonesia dapat menjadikan fenomena ini sebagai bahan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan siswa. Misalnya, guru meminta siswa mengumpulkan beberapa istilah viral yang mereka kenal, menjelaskan maknanya berdasarkan konteks, lalu membandingkan penggunaannya dalam percakapan informal dan tulisan formal.
Siswa juga dapat diminta mengubah kalimat yang mengandung bahasa gaul menjadi kalimat baku tanpa menghilangkan pesan utamanya. Melalui kegiatan tersebut, siswa belajar bahwa satu gagasan dapat disampaikan dengan pilihan bahasa yang berbeda sesuai kebutuhan.
Sebagai contoh, ungkapan “Dia punya aura yang kuat” dapat dikembangkan menjadi “Ia memiliki daya tarik dan kepercayaan diri yang menonjol,” apabila konteks tulisan membutuhkan bahasa yang lebih formal.
Sementara itu, istilah six seven dapat dibahas sebagai contoh ungkapan populer yang maknanya bergantung pada budaya meme dan konteks penggunaan, bukan dipaksakan menjadi istilah baku bahasa Indonesia.
Pendekatan semacam ini membuat pembelajaran bahasa lebih kontekstual. Siswa tidak hanya menghafal kaidah, tetapi juga belajar mengamati, membandingkan, menilai, dan menggunakan bahasa secara bertanggung jawab.
Fenomena bahasa viral seharusnya menjadi bahan refleksi bagi guru, orang tua, dan masyarakat. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan komunikasi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Jika dahulu kebiasaan berbahasa banyak dipengaruhi oleh keluarga, sekolah, buku, dan televisi, kini media sosial turut menjadi sumber utama paparan bahasa.
Oleh karena itu, kurang tepat jika setiap perubahan bahasa langsung dianggap sebagai kemerosotan kemampuan berbahasa generasi muda. Bahasa memang berkembang bersama masyarakatnya. Istilah baru muncul, makna berubah, dan cara berkomunikasi menyesuaikan perkembangan zaman.
Meskipun demikian, perubahan bahasa tetap perlu disertai kemampuan memilih bentuk yang sesuai dengan konteks. Siswa perlu memahami bahwa kebebasan menggunakan bahasa gaul tidak menghilangkan kebutuhan untuk menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama dalam kegiatan akademik dan situasi resmi.
Sebagai pendidik, kita tidak cukup hanya menegur siswa yang menggunakan ungkapan viral. Kita perlu memahami alasan mereka menggunakannya, menjelaskan fungsi bahasa dalam berbagai situasi, serta memberikan kesempatan untuk berlatih menggunakan bahasa secara tepat.
Pada akhirnya, fenomena six seven dan brainrot bukan semata-mata persoalan istilah aneh yang diucapkan anak SMP. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa, teknologi, dan kehidupan sosial saling memengaruhi.
Tantangan pendidikan bukanlah menghentikan seluruh perubahan bahasa, melainkan membantu siswa menjadi pengguna bahasa yang kritis, kreatif, dan mampu menyesuaikan diri dengan berbagai situasi komunikasi.
Bahasa viral boleh datang dan pergi.
Namun, kemampuan memahami makna, menghargai lawan bicara, dan menyampaikan gagasan secara jelas merupakan keterampilan yang perlu terus dibangun. Di tengah derasnya tren digital, tugas pendidikan bahasa Indonesia adalah membimbing siswa agar tidak hanya pandai mengikuti tren, tetapi juga mampu berpikir kritis tentang bahasa yang mereka gunakan.
Oleh: Vebby Novedra Utami
Mahasiswa RPL S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Negeri Padang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment