Kampus
Mahasiswi
Media Sosial
Opini
Pendidikan
Teknologi
Antrean Loket Bioskop Kini Berganti Menjadi Tombol “Play”
APERO FUBLIC I Menonton film bioskop di akhir pekan adalah ritual yang tidak pernah terlewatkan. Biasanya banyak orang merencanakan dari jauh-jauh hari untuk menonton film favorit yang baru tayang atau sudah tayang. Bahkan jika hanya sedang bersantai setelah berbelanja di mal, lalu duduk berdesakan di kursi yang hampir selalu penuh.
Kini pemandangannya berbeda, walaupun masih banyak yang ke bioskop untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekatnya, banyak juga yang menunggu film yang tayang di bioskop masuk ke platform streaming seperti Vidio, Netflix, Disney+, dan platform streaming lainnya. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara di dunia.
Apakah bioskop sedang menuju ke kematian? Jawabannya tidak sesederhana itu. Bioskop tidak mati seketika dan tidak semudah mematikan lampu hanya dengan menekan sakelar. Tetapi perannya telah bergeser dari kebutuhan hiburan akhir pekan menjadi pengalaman khusus yang dipilih pada momen tertentu. Pergeseran ini utamanya didorong oleh dominasi platform streaming.
Alasan pertama adalah kenyamanan. Streaming memungkinkan orang menonton di rumah, di kamar kos, atau di perjalanan, kapan saja dan di mana pun. Tidak ada kemacetan menuju mal, tidak perlu mengantre tiket dan masuk ke dalam ruangan bioskop, dan tidak perlu menyesuaikan jadwal dengan jam tayang. Memakai platform streaming, film dapat dijeda saat ada urusan dan dapat dilanjutkan kapan saja.
Alasan kedua adalah faktor ekonomi. Tidak hanya soal harga tiket, tetapi ada ongkos transportasi dan parkir, serta cemilan yang harganya sering kali lebih mahal dari tiket menonton. Bagi satu keluarga atau sepasang kekasih, total pengeluaran sekali menonton dapat menyamai biaya langganan streaming satu hingga dua bulan.
Dengan langganan tersebut, mereka bisa mendapat ratusan judul film bahkan series yang bisa ditonton berulang kali oleh seluruh anggota keluarga. Wajar jika banyak orang mulai bergeser ke platform streaming daripada menonton bioskop.
Alasan ketiga adalah makin singkatnya release window atau jendela rilis. Dulu penonton harus menunggu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sampai sebuah film bioskop hadir di layanan streaming dan televisi. Kini jedanya bisa jauh lebih singkat, bahkan sekitar 45 hari.
Kondisi ini membuat menunggu tidak lagi menjadi masalah besar bagi penonton. Untuk apa terburu-buru ke bioskop jika beberapa waktu kemudian film yang sama bisa ditonton di rumah? Penonton akhirnya memiliki pemikiran bahwa film tersebut bisa ditonton nanti saja di rumah.
Meski begitu, bioskop belum kehilangan seluruh daya tariknya. Ada pengalaman yang sulit ditiru oleh layar televisi, sebesar apa pun ukurannya. Layar raksasa seperti IMAX, kursi bergerak ala 4DX, dan tata suara Dolby Atmos menghadirkan sensasi yang membuat penonton seolah masuk ke dalam film.
Suasana di dalam bioskop juga tidak kalah penting. Berteriak bersama saat ada adegan horor, bertepuk tangan ketika masuk momen klimaks, atau tertawa bersama saat ada bagian yang lucu menjadi pengalaman tersendiri bagi penonton. Hal-hal seperti ini yang membuat suasana menonton di bioskop berbeda dengan menonton film sendirian di rumah.
Namun, daya tarik tersebut tidak selalu berlaku untuk semua film. Bioskop Indonesia kini sangat bergantung pada film mega event seperti Marvel, film horor lokal, dan film kategori keluarga yang viral dan jadi topik obrolan semua orang. Film-film inilah yang masih mampu membuat orang rela keluar rumah. Di luar kategori film tersebut, bioskop harus bersaing keras dengan seluruh platform streaming.
Bioskop tidak akan benar-benar punah. Teater panggung tidak hilang ketika film muncul, dan radio tetap bertahan setelah televisi datang. Bioskop akan terus ada, tetapi tidak bisa lagi berjalan dengan cara yang lama. Perubahan perilaku penonton menuntut bioskop untuk melakukan transformasi.
Kuncinya ada pada cara bioskop memosisikan diri. Bioskop perlu menjual pengalaman eksklusif dan bukan hanya sekadar akses menonton film. Selama yang ditawarkan hanyalah kursi dan layar yang megah, streaming akan selalu menang soal harga dan kenyamanan.
Namun jika bioskop mampu menghadirkan sesuatu yang tidak bisa didapat di rumah, seperti teknologi layar dan suara terbaik serta suasana yang membuat setiap kunjungan terasa istimewa, orang akan tetap datang. Bukan karena harus, melainkan karena ingin.
Oleh: Anisa Mudrikah Wulanjari
Mahasiswi Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment