Esai
Kampus
Mahasiswa
Media Sosial
Pendidikan
Psikologi
APERO FUBLIC I Sabtu, 7 Maret 2026, timeline media sosial Indonesia dibanjiri ucapan duka untuk Vidi Aldiano. Ribuan orang yang bahkan tidak pernah bersalaman dengannya menulis "innalillahi", membagikan lagu "Nuansa Bening", mengaku terpukul seolah kehilangan teman dekat. Tidak ada yang mempertanyakan kelayakan air mata mereka. Duka itu diterima begitu saja sebagai sesuatu yang wajar.
Duka yang Dicurigai: Mengapa Kesedihan Parasosial Tidak Selalu Mendapat Izin Sosial?
Bandingkan dengan apa yang terjadi tujuh tahun sebelumnya, ketika Sulli, mantan personelf(x), ditemukan meninggal dunia setelah bertahun-tahun diserang di kolom komentarnya sendiri. Duka juga membanjiri media sosial. Tapi kali ini disertai sesuatu yang lain, sinisme "Sok kenal", "baru nangis sekarang setelah dulu ikut nyinyir", dan tudingan bahwa kesedihan itu tidak lebih dari tren ikut-ikutan.
Kedua peristiwa ini memiliki pola emosional yang serupa, orang-orang merasa kehilangan figur yang mereka kenal melalui media, meskipun tidak pernah berinteraksi secara langsung. Ilmu komunikasi punya nama untuk ikatan ini sejak 1956, hubungan parasosial, ikatan emosional satu arah antara audiens dan figur media.
Tapi kalau strukturnya sama, mengapa satu duka dianggap sah dan yang lain dicurigai sebagai kepalsuan?. Pertanyaan inilah yang jarang benar-benar dijawab, dan justru disitulah letak persoalan yang lebih besar dari sekadar "boleh atau tidak boleh sedih untuk orang asing."
Konsep hubungan parasosial pertama kali dirumuskan oleh Donald Horton dan Richard Wohlpada 1956, jauh sebelum media sosial ada. Mereka mengamati bagaimana penonton televisi dan radio bisa merasa dekat dengan penyiar atau bintang yang mereka tonton setiap hari, padahal hubungan itu hanya berjalan satu arah, sang bintang tidak pernah benar-benar mengenal penontonnya, tapi penontonnya merasa seolah kenal dekat.
Riset neurosains sosia loleh Dylan Wagner dari Ohio State University menunjukkan bahwa otak manusia memang tidak selalu bisa membedakan dengan jelas antara kedekatan yang terbentuk lewat pertemuan langsung dan kedekatan yang terbentuk lewat layar. Kalau kita menonton wawancara, storyInstagram, atau vlog seseorang selama bertahun-tahun, otak kita memproses rasa dekat itu hampir sama seperti hubungan pertemanan biasa.
Bukan karena kita naif, tapi memang begitu cara kerja perasaan dekat itu terbentuk. Jadi, ketika Vidi Aldiano atau Sulli meninggal, kesedihan yang muncul bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Itu adalah akibat wajar dari bertahun-tahun "mengenal" mereka lewat layar.
Bedanya, di era media sosial sekarang, intensitas paparan itu jauh lebih besar dibanding eratelevisi yang diteliti Horton dan Wohl dulu, Hoffner dan Bond (2022) mencatat bahwa mediasosial memperluas frekuensi dan intensitas ikatan parasosial dibanding media satu arah seperti televisi, karena interaksi terasa lebih personal dan berlangsung nyaris terus-menerus.
Vidi membagikan cerita soal perjuangannya melawan kanker secara terbuka, sampai unggahan terakhirnya soal pernikahan sahabatnya. Sulli membiarkan publik melihat hidupnya nyaris tanpa filter, termasuk saat ia sedang diserang habis-habisan di media sosial.
Kedekatanyang terbentuk dari sana bukan sesuatu yang kosong atau palsu, ia lahir dari ribuan jam menonton dan mengikuti, yang secara emosional sama nyatanya dengan hubungan sosial biasa, hanya saja arahnya cuma satu. Di sinilah letak pertanyaan yang lebih menarik, kalau struktur perasaannya sama-sama parasosial, kenapa duka untuk Vidi diterima begitu saja, sementara duka untuk Sulli malah dicurigai?.
Jawabannya mungkin ada di konsep yang disebut disenfranchised grief, istilah yang diperkenalkan Kenneth Doka pada akhir 1980-an. Doka menjelaskan bahwa tidak semua duka mendapat "izin sosial" untuk diakui secara terbuka. Duka jenis ini biasanya muncul ketika hubungan yang hilang dianggap tidak cukup dekat, tidak cukup jelas, atau tidak sesuai dengan norma masyarakat soal siapa yang "berhak" sedih.
Konsep ini awalnya dipakai untuk menjelaskan duka yang dianggap tabu, misalnya duka mantan pasangan, duka karena hewan peliharaan, atau duka dari hubungan yang tidak diakui secara sosial. Tapi pola yang sama bisa kita lihat di dua kasus ini. Duka untuk Vidi dianggap wajar karena ceritanya sederhana dan mudah diterima, pria baik hati, berjuang melawan penyakit selama bertahun-tahun, dikenal luas sebagai sosok yang disukai banyak orang.
Tidak ada yang perlu dipertanyakan dari duka semacam itu. Duka untuk Sulli lebih rumit. Kematiannya datang setelah bertahun-tahun ia diserang dikolom komentarnya sendiri, termasuk oleh sebagian orang yang kemudian ikut menulis ucapan belasungkawa. Duka jenis ini bukan cuma soal kehilangan, tapi juga soal rasa bersalah kolektif. Dan rasa bersalah itu sering diubah menjadi kecurigaan ke orang lain:"kamu baru sedih sekarang?" seolah mempertanyakan kesedihan orang lain bisa menutupi peran diri sendiri dalam masalah itu.
Dari sini kita bisa melihat sesuatu yang penting: standar ganda dalam menilai duka parasosial bukan soal siapa yang perasaannya "lebih asli". Semua orang yang berduka untuk Vidi maupun Sulli sama-sama merasakan kehilangan yang nyata, karena keduanya sama-sama terbentuk dari relasi parasosial yang sudah dijelaskan sebelumnya. Yang membedakan adalah, apakah lingkungan sekitar menerima duka itu sebagai hal yang wajar, atau justru meremehkannya sebagai lebay dan berlebihan.
Penerimaan itu ternyata dipengaruhi banyak hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan seberapa dalam perasaan seseorang. Kedekatan budaya jadi salah satu faktornya, Vidi orang Indonesia, dikenal luas lewat lagu-lagu yang akrab ditelinga banyak orang sejak lama.
Sulli figur dari negara lain, dikenal lewat industri hiburan yang tidak semua orang Indonesia ikuti. Narasi penyebab kematian juga berperan besar. Sakit yang diperjuangkan bertahun-tahun terasa seperti kisah yang "pantas" dihormati dengan duka. Kematian yang berkaitan dengan perundungan online justru memaksa orang menghadapi pertanyaan yang lebih tidak nyaman: jangan-jangan aku juga ikut berkontribusi pada ini? Dititik inilah letak masalahnya.
Kita sering tanpa sadar menganggap kesedihan seseoranglebih "pantas" kalau ceritanya mudah diterima, bukan berdasarkan apakah perasaan itu benar-benar dialami. Padahal, duka yang paling "tidak nyaman" untuk dilihat, seperti duka atas Sulli, justru yang paling butuh diberi ruang. Duka itu terasa tidak nyaman bukan tanpa alasan.
Sebagian orang yang ikut berduka untuk Sulli dulu juga pernah ikut mengomentari atau menyerangnya. Jadi, yang mereka rasakan bukan cuma kehilangan, tapi juga rasa bersalah. Dan rasa bersalah itu sering lebih sulit diterima dibanding rasa sedih biasa, sehingga lebih mudah bagi orang lain untuk mencap duka itu sebagai kepalsuan, daripada mengakui bahwa dibaliknya ada penyesalan yang nyata.
Tentu, tidak semua duka di media sosial itu tulus. Ada juga orang yang ikut menulis ucapan belasungkawa bukan karena benar-benar merasa kehilangan, tapi karena ingin terlihat peduli, atau sekadar ikut arus percakapan yang sedang ramai. Fenomena ini nyata, dan kritik terhadapnya juga masuk akal. Tapi masalahnya, kita tidak bisa membedakan mana duka yang tulus dan mana yang sekadar ikut tren hanya dengan melihat dari luar.
Justru karena itu, mencurigai semua orang yang berduka secara pukul rata, apalagi berdasarkan asal figur publiknya, bukan berdasarkan bukti nyata bahwa dukanya palsu, adalah cara yang salah untuk menyaring mana duka yang asli. Kita akhirnya menghukum orang-orang yang benar-benar merasa kehilangan, hanya karena kebetulan cerita di balik kematian itu, tidak semudah kisah Vidi untuk diterima.
Lagipula, kalau alasan sebenarnya di balik sinisme itu bukan soal keaslian duka, melainkan soal ketidaknyamanan menghadapi rasa bersalah kolektif, seperti yang terjadi pada kasus Sulli, maka mencap orang lain "lebay" sebenarnya cuma cara untuk menghindar dari pertanyaan yang lebih sulit, apa peran kita sendiri dalam kematian itu.
Vidi Aldiano dan Sulli sama-sama meninggalkan rasa kehilangan bagi orang-orang yang sebenarnya tidak pernah mereka kenal secara langsung. Itu bukan hal yang aneh. Itu wajar terjadi ketika kita sudah bertahun-tahun "mengenal" seseorang lewat layar, meski mereka sendiri tidak pernah tahu kita ada. Yang perlu kita ubah bukan cara kita berduka, tapi cara kita menilai duka orang lain.
Daripada buru-buru bilang orang lain lebay atau cuma ikut-ikutan, ada baiknya kita bertanya dulu, kenapa kita lebih gampang percaya pada satu cerita duka, tapi curiga pada cerita duka yang lain?. Kadang jawabannya bukan soal orang yang sedang sedih itu, tapi soal cerita mana yang nyaman untuk kita dengar.
Daftar Pustaka
Hoffner, C. A., & Bond, B. J. (2022). Parasocial relationships, social media, & well-being.Current Opinion in Psychology, 45, 101306. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2022.101306Horton, D., & Wohl, R. R. (1956). Mass communication and para-social interaction:Observations on intimacy at a distance. Psychiatry, 19(3), 215–229.https://doi.org/10.1080/00332747.1956.11023049Schramm, H., Liebers, N., Biniak, L., & Dettmar, F. (2024). Research trends on parasocialinteractions and relationships with media characters: A review of 281 English andGerman-language studies from 2016 to 2020. Frontiers in Psychology, 15, 1418564.https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1418564Doka, K. J. (1989). Disenfranchised grief: Recognizing hidden sorrow. Lexington Books.
Oleh: Silvi Dwi Cahyaningrum
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Esai

Post a Comment