Keislaman
Kesehatan
Kesehatan dan Pendidikan Wanita
Mahasiswa
Opini Kampus
Pendidikan
Sosiologi
Self-love Vs Hubbud Dunya
Self-love Vs Hubbud Dunya
APERO FUBLIC I OPINI.- Seringkali muncul anggapan bahwa berbelanja barang mewah atau menghabiskan waktu berjam-jam di kafe adalah cara terbaik untuk menyembuhkan diri dari kepenatan tugas kuliah.
Di era media sosial, istilah self-love atau mencitai diri sendiri telah menjadi mantra populer dikalangan anak muda, terutama mahasiswa. Narasi “You deserve this” atau “Self-reward itu perlu” kerap muncul sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja keras yang telah dilakukan.
Namun, jika tidak hati-hati, batasan antara menghargai diri sendiri dan sekadar menuruti hawa nafsu menjadi sangat tipis.
Dalam perspektif Islam, terdapat kekhawatiran bahwa trend self-love yang berlebihan justru dapat menjerumuskan seseorang pada penyakit hubbud dunya, yakni kecintaan yang berlebihan terhadap materi dan kenyamanan duniawi.
Jika standar mencintai diri sendiri diukur dari seberapa banyak keinginan fisik yang terpenuhi tanpa memperhatikan kesehatan iman, maka manusia sebenarnya sedang terjebak dalam lingkaran trend konsumerisme yang melelahkan.
Sehingga, menyeimbangkan praktik self-love sebagai bentuk rasa syukur atas amanah tubuh dan jiwa yang diberikan Allah menjadi hal yang harus bisa dikendalikan. Mencintai diri yang sesungguhnya bukan tentang memanjakan ego secara membabi buta, melainkan menjaga diri agar tetap berada di jalur yang diridhoi oleh-Nya.
Lalu, seperti apa Self-love yang baik dan benar?
Dalam dunia psikologi, mencintai diri sendiri seringkali direpresentasikan melalui konsep self-compassion. Dimana, Kristen Neff (2003) dalam jurnalnya Self-Compassion: An Alternative Conceptualization of a Healthy Attitude Toward Oneself mengemukakan bahwa, mencintai diri sendiri juga melibatkan kemampuan untuk memahami diri dengan penuh kebaikan, saat menghadapi kegagalan, alih-alih terus-menerus menghakimi diri dengan keras.
Definisi tersebut sejalan dengan prinsip Islam yang memandang diri sebagai amanah yang harus dijaga. Sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Tin ayat 4, manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, yang berarti ada tanggungjawab besar untuk merawat titipan tersebut agar tidak rusak.
Oleh karena itu, merawat kesehatan fisik, menjaga penampilan agar tetap rapi, serta memastikan mental tetap stabil adalah bagian dari ibadah. Tujuannya jelas, agar setiap individu memiliki energi dan kesiapan yang optimal untuk menjalankan peran sebagai hamba Allah sekaligus pemimpin atau khalifah di muka bumi.
Jebakan Hubbud Dunya di Balik Tren Narasi
Namun, narasi self-love sering kali mengalami pergeseran makna ketika bertemu dengan budaya tren masa kini. Salah satu yang paling nyata adalah fenomena self-reward yang dilakukan secara berlebihan.
Mengatasnamakan apresiasi diri, pengeluaran yang tidak terkontrol atau gaya hidup konsumtif sering kali dianggap sebagai hal yang wajar. Padahal dalam pandangan Islam, perilaku ini sangat dekat dengan konsep tabdzir atau pemborosan. Dimana seseorang menghabiskan sumber daya untu hal-hal yang tidak memberikan manfaat jangka panjang bagi jiwa maupun raganya.
Jebakan lain juga muncul melalui keinginan mendapatkan validasi eksternal atau yang sering disebut sebagai narsisme digital. Keinginan agar dianggap telah “mencintai diri sendiri” melalui unggahan di media sosial tanpa sadar bisa menjebak manusia pada penyakit hati seperti riya’ (pamer) dan sum’ah (mencari popularitas).
Ketika fokus utama mencintai diri sediri adalah demi pujian dan tanda suka dari orang lain, maka esensi ketenangan batin yang dicari justru hilang dan berganti menjadi rasa haus akan pengakuan duniawi yang tidak pernah cukup.
Dampak spiritual dari pergeseran ini sangat terasa ketika kenyamanan duniawi mulai dijadikan tujuan utama. Saat seseorang terlalu terpaku pada upaya memanjakan diri, ada risiko besar ia menjadi lalai terhadap kewajiban agama atau bahkan menjadi tidak peduli pada lingkungan sekitarnya.
Jika kecintaan pada kenyamanan materi sudah menguasai hati, empati terhadap sesama sering kali terkikis karena fokus hidup tertuju pada pemuasan ego pribadi.
Inilah wujud nyata dari hubbud dunya yang dibungkus dengan label modern, yang alih-alih memuliakan diri, justru membuat seseorang semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan ketaatan kepada Sang Pencipta.
Strategi Menyeimbangkan Keduanya
Dalam menghadapi tantangan tersebut, muhasabah atau evaluasi diri menjadi salah satu langkah agar manusia tidak terjebak pada arus trend yang kerap terjadi.
Sebelum memutuskan untuk melakukan self-reward, ada baiknya berhenti sejenak dan bertanya pada hati nurani, “apakah tindakan ini benar-benar dibutuhkan untuk memulihkan kesehatan mental, atau jangan-jangan hanya sekadar menuruti keinginan nafsu yang tiada habisnya?”.
Kejujuran pada diri sendiri inilah yang akan menjadi filter agar setiap apresiasi tetap berada pada porsinya.
Selain itu, memegang prinsip qona’ah atau merasa cukup akan apa yang dimiliki juga menjadi kunci ketenangan batin yang sesungguhnya. Di tengah gempuran trend yang menuntut seseorang untuk selalu memiliki lebih, qana’ah menawarkan kemerdekaan dari rasa iri dan haus akan validasi. Dengan begitu, kebahagiaan pun tidak lagi digantungkan pada benda atau orang lain, melainkan pada rasa syukur.
Karena pada akhirnya, self-love yang baik adalah tentang bagaimana mencintai diri dengan cara menjaganya dari hal-hal yang dapat merusak kehormatan jiwa di mata Sang Pencipta. Dan kebahagiaan sejati tidak akan pernah ditemukan dalam tumpukan materi atau pengakuan dilayar kaca, melainkan dalam ketenangan hati yang mengenal dan merasa dekat dengan Tuhannya.
PENULIS: Zahrotun Iftinan
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Keislaman

Post a Comment