Syarce

Syarce adalah singkatan dari syair cerita. Syair cerita bentuk penggabungan cerita dan syair sehingga pembaca dapat mengerti makna dan maksud dari isi syair.

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

@Kisahku

@Kisahku adalah bentuk karya tulis yang memuat tentang kisah-kisah disekitar kita. Seperti kisah nyata, kisah fiksi, kisah hidayah, persahabatan, kisah cinta, kisah masa kecil, dan sebagaginya.

Surat Kita

Surat Kita adalah suatu metode berkirim surat tanpa alamat dan tujuan. Surat Kita bentuk sastra yang menjelaskan suatu pokok permasalaan tanpa harus berkata pada sesiapapun tapi diterima siapa saja.

Sastra Kita

Sastra Kita adalah kolom penghimpun sastra-sastra yang dilahirkan oleh masyarakat. Sastra kita istilah baru untuk menamakan dengan sastra rakyat. Sastra Kita juga bagian dari sastra yang ditulis oleh masyakat awam sastra.

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

6/19/2020

Mengenal Tanaman Buah Jeruk Atau Limau

Apero Fublic.- Siapa yang tidak kenal dengan buah jeruk atau buah limau. Buah-buahan yang sudah menjadi komoditas industri dan bisnis pertanian. Jeruk atau limau juga memiliki banyak jenis varietas atau kerabat jeruk.

Seperti jeruk kunci, jeruk purut, jeruk nipis, jeruk manis, jeruk lemon, orange dan lainnya. Semua jenis jeruk memiliki manfaat maising-masing. Mulai dari bumbu masakan, penyedap kuliner, industri minuman, obat-obatan, minuman segar seperti jus jeruk atau es jeruk.

Secara umum jeruk atau limau memiliki nama ilmiah citrus dalam marga rutaceae atau jenis-jenis jeruk. Jeruk berkembang biak dengan biji dan cangkok. Bauh jeruk memiliki bauh yang khas dan 90 persen buah adalah kandungan air.

Pada umumnya jeruk rasanya asam, dan untuk jenis jeruk tertentu asam-manis. Sekarang jenis jeruk telah dikembangan untuk jenis jeruk hibrida. Jeruk yang dapat berbuah lebih banyak serta tumbuh cepat. Umur tiga tahun jeruk hibrida atau jeruk budidaya telah berbuah dengan baik.

Jeruk termasuk tanaman pangan dan tanaman industri. Budidaya jeruk termasuk jenis usaha yang menjanjikan. Apabila anda dapat berkebun jeruk seribu batang dengan baik. Anda akan mendapat keuangan yang luar biasa.

Jeruk yang dibudidaya akan menghasilkan buah dalam waktu berkelanjutan. Menurut para petani berpengalam, masa berbuah jeruk sepanjang tahun. Tapi ada masa jeruk berbuah puncak dimana buah akan melimpah.

Apabila Anda ingin menjadi petani jeruk. Tentu harus belajar sistem pertanian moderen terlebih dahulu. Mulai dari memilih bibit, cara menanam, cara merawat dan bagaimana menjual hasil panen. Dengan demikian Anda telah menciptakan lapangan kerja mandiri. Tinggal pilih jenis jeruk mana yang ingin anda kembangkan.

Dalam hal kandungan gizi, jeruk banyak mengandung vitamin c sebagaimana jenis buah-buahan lainnya. Baik untuk mencegah panas dalam dan baik untuk metabolisme tubuh. Namun, mengkonsumsi buah jeruh berlebih juga dapat menyebabkan asam lambung naik. Maka untuk Anda penderita sakit maag agar tidak mengkonsumsi jeruk dalam keadaan perut kosong. Jeruk manis yang masih mentah enak juga di jadikan rujak yang pedas.

Oleh. Ramadhani. S.Hum.
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 20 Juni 2020.

Sy. Apero Fublic.

Mengenal Tanaman Buah Rambutan.

Apero Fublic.- Mengenal buah-buahan rambutan sebagai salah satu tanaman pangan yang bermanfaat dan bergizi. Dengan mengenal secara baik berati kita menjadi manusia yang berpikir. Kemungkinan mengapa buah ini dinamakan buah rambutan. Karena kulit buahnya memiliki bentuk rambut halus dan tegak. Bahasa melayu rendah menyebutnya dengan, buah mutan.

Rambutan memiliki nama ilmiah Nephelim Lappaceum yang masih kerabat dengan tanaman buah-buahan pedare (kelengkeng), leci, matoa, dan lainnya. Rambutan termasuk tumbuhan dikotil atau tumbuhan berkeping dua, berakar tunggang. Dinamakan berkeping dua karena saat bijih buah tumbuh terbuka dua daun pada tunas tumbuhnya. Sistem berkembang biak dengan biji dan juga sistem cangkok.

Rambutan tumbuh baik di kawasan tropis yang mendapat air cukup. Dapat hidup di dataran renda atau dataran tinggi. Sebaran tumbuhan rambutan mulai dari kawasan Asia Tenggara, Afrika, Karibia, Amerika Tengah, dan India. Tumbuhan buah rambutan memiliki banyak sekali varietas asli. Pembedaan dari jenis dan bentuk buah. Mulai dari jenis buah kecil sebesar ibu jari (mutan sapulut), sampai sebesar telur itik.

Varietas alami, daging buahnya terdiri tiga jenis, yaitu jenis tidak ngelotok, ngelotok basah, dan ngelotok kering. Ngelotok istilah penyebutan untuk daging buah yang mudah dipisahkan dari biji atau tidak bisah dipisah dari biji. Ngelotok basa adalah pertengahan antara ngelotok dan tidak ngelotok.

Jenis varietas asli atau alami mungkin terdapat puluhan jenis dan beragam ukuran besaran buah. Varietas asli di tanam penduduk secara tradisional di kebun buah-buahan yang tumpang sari. Penduduk menamakan dengan istilah Talang Buah.

Rambutan varietas hibrida yang sekarang banyak dibudidayakan. Karena jenis ini memiliki daging buah tebal, muda terkelupas (ngelotok), dan manis. Selain itu, varietas hibrida atau bibit unggul waktu berbuah lebih cepat. Usia tiga tahun sudah berbuah dengan baik.

Berbeda, dengan jenis alami yang memiliki bermacam-macam jenis. Masa produksi atau berbuah lebih lama. Namun kelebihan varietas alami adalah terletak pada ketahanan hidup. Dimana batang pohon lebih tinggi, besar, dan tidak memerlukan perawatan seperti rambutan hibrida. Dapat bertahan hidup puluhan sampai ratusan tahun.

Sebagaimana buah lainnya, rambutan mengandung vitamin C, serat, dan rendah kalori. Selain itu, buah rambutan juga mengadun vitamin B3 atau niacin. Sedikit kandungan protein, mineral. Belum ada informasi tentang pengolahan rambutan menjadi makanan industri dan produk kecantikan. Rambutan dapat diolah menjadi jus atau es buah.

Oleh. Ahmad Reni Efita.
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
Sekayu, 20 Juni 2020.

Sy. Apero Fublic.

KKN Relawan: Bukti Nyata Pengabdian Mahasiswa Di Tengah Masyarakat.

Apero Fublic.- Tahun yang sulit (2020), itulah yang saat ini kita ketahui. Dunia terasa sempit dan terbelenggu entah kapan akan usai kembali. Berbagi sedikit cerita tentang KKN (Kulia Kerja Nyata) kami pada masa pendemi virus corona ini. KKN yang seadanya sebab keadaan yang tidak memungkinkan.

Sebelumnya, kami pulang untuk libur sementara. Karena mengikuti anjuran pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona (social distancing). Kampus meliburkan dan kami pulang semua ke daerah masing-masing.

Tidak menyangka kalau keadaan libur begitu panjang. Sehingga banyak diantara kami tidak membawa pulang almater. Tidak menyangka kulia melalui daring, dan pengurusan administrasi KKN juga melalui internet. Semua apa-apa dilakukan melalui internet.

Sampailah masa KKN untuk kami yang smester tujuh. Beberapa protokol kesehatan pelaksanaan KKN, seperti teman kelompok sesama daerah, memakai masker, jaga jarak, menjaga kebersihan terutama kebersihan tangan dan membantu masyarakat dalam menanggani penyebaran virus korona. Kami tidak memakai almater kampus karena tertinggal di kontrakan di Kota Palembang.

Kemarin, Rabu 17 Juni 2020, kami bertugas di sebuah posko kesehatan pemantauan pandemi virus corona yang terletak di Jalur 23, Desa Sumber Mulyo, Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Saya, Kiki Dian Fatmala Devi, Ima Matul Qudsiyah, Ulfa Nurhidayati, bertugas di posko.  Begitu pun teman kami Dzorotut Taqiyah dan Delta.

Kegiatan di posko korona dimulai dari pukul 09:00 sampai 12:30 WIB. Setelah istirahat, shalat dan makan. Kembali bertugas kembali pada pukul 13:30 sampai pukul 16:00 WIB. Adapun tugas kami, seperti pengecekan suhu tubuh dan berbagi informasi, mengingatkan hidup bersih, memakai masker, cuci tangan dan lainnya.

Semoga, KKN ini menjadi berkah dan menjadi hikmah untuk kita semua. Semoga bencana virus corona cepat berlalu dan kita hidup normal lagi. Mari, kita berdoa dan teman-teman KKN lainnya dalam lindungan Allah SWT. Sehat selalu dan semoga kita dapat wisudah bersama-sama. Sekian untuk informasinya, tunggu informasi selanjutnya dari team kami.

Oleh. Kiki Dian Fatmala Devi.
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Pulau Rimau, 19 Juni 2020.
Sumber foto utama. Kiki Dian Fatmala Devi mahasiswi UIN Raden Fatah Palembang. KKN angkatan 73 tahun 2020.
Buat teman-teman mahasiswa yang ingin mempublikasikan kegiatan seputar kampus, laman info kampus. Dapat mengirim artikel ke Apero Fublic melalui email redaksi fublicapero@gmail.com atau melalui whatsApp 081367739872.

Setiap isi artikel dan kebenaran data adalah tanggung jawab dari pengirim. Pihak Apero Fublic tidak bertanggung jawab apabila ada penyalagunaan dan unsur pelanggaran undang-undang Negara Republic Indonesia.

Sy. Apero Fublic.

Puyang Buaye: Asal Usul Istilah Buaya Darat Pada Laki-Laki Penjahat Wanita

Apero Fublic.- Pada suatu masa, di Pedatuan Bukit Pendape muncul seorang laki-laki yang di sebut Puyang Buaye. Dia memiliki banyak istri, dengan cara menculik seorang gadis lalu dia bawa pergi dan dia sihir agar menuruti semua keinginannya.

Puyang Buaye atau Puyang Buaya adalah orang yang mampu mengendalikan buaya-buaya liar dan menyihir benda-benda menjadi buaya, batangan lidi, potongan kayu dan ranting-ranting. Kemampuan Puyang Buaye paling terkenal dapat berubah wujud menjadi seekor buaya dan memiliki ilmu memikat wanita.

Tidak ada yang tahu asal-usul Puyang Buaye. Namun, banyak yang bercerita kalau dia pelarian dari Pedatuan lain. Puyang Buaye datang pertama kali ke Pedatuan Bukit Pendape sebagai pedagang. Mungkin dia hanya memata-matai. Datang mengendarai sebuah perahu kajang yang dimuat gerabah, dan peralatan pertanian.

Kemudian dia menghilang setelah mengetahui seluk-beluk wilayah Pedatuan. Penduduk mengira pedagang itu pulang ke asalnya. Namun, ternyata diam-diam orang asing itu membangun rumah di tengah hutan belantara di kawasan Pedatuan Bukit Pendape.

*****

Suatu hari, terjadi peristiwa menggemparkan. Ada seorang gadis diperkosa oleh orang tidak dikenal. Dari kejadian itu, si gadis kemudian menjadi gila. Peristiwa buruk menimpa perempuan terus terjadi. Sering adanya gadis yang terkenal kecantikannya yang hilang tiba-tiba. Kadang ada pemerkosaan istri orang yang sedang seorang diri di rumah. Pedatuan Bukit Pendape yang damai sekarang berubah menjadi tidak aman. Penduduk tidak tenang, dan selalu berjaga-jaga.

Hal aneh berikutnya, sering ditemukan jejak buaya di tebing sungai-sungai berlumpur. Padahal kawasan Pedatuan Bukit Pendape tidak ada buaya sejak zaman dahulu.Ada juga serangan buaya di Sungai Keruh dan sungai lainnya. Menjadi tanda tanya besar bagi Puyang Depati, para datu dan masyarakat.

*****

Suatu hari, seorang gadis seorang berada di rumah seorang diri. Keluarga sedang berada di ladang, menugal. Menugal istilah menyebut menanam padi bergotong royong. Sudah menjadi adat kebiasaan orang Melayu kalau seorang gadis selalu di rumah. Membersihkan rumah, memasak dan menenun songket. Hal demikian dimaksudkan agar mereka terbiasa dan terlatih saat menikah nanti.

Siang itu, keadaan Talang Gajah Mati sedang lengang. Sebuah rumah yang terletak agak ketepi. Halaman rumah panggung basepat tampak bersih, sebab baru selesai di sapu. Seorang gadis di serambi depan sedang duduk menenun songket. Warna kuning emas khas songket Palembang. Berbaju kurung, berkain sepinggang, rambut ditutup dengan selendang songket.

Sementara itu, di Sungai Keruh tidak jauh dari rumahnya. Seekor buaya muncul dari dalam air, lalu merayap naik tebing sungai. Tampak tapak kakinya membenam di tanah berlumpur. Terus merayap menuju pemukiman penduduk Talang Gajah Mati.

******

Seorang pemuda berwajah tampan, berumur dua puluhan tahun. Menuju rumah dimana seorang gadis sedang menenun. Di menyapa dari halam rumah.

“Adindah apa nama talang ini?.” Dia bertanya.

“Talang Gajah Mati. Siapakah kakanda kiranya, dan mau ke mana?.” Jawab gadis cantik itu, dia berdiri di serambi rumahnya.

“Saya datang dari jauh, tanah seberang. Hendak berkelana dan melihat-lihat negeri-negeri Melayu.” Ujar si anak muda.

“Oh, begitu kiranya. Silahkan lanjutkan perjalanan kakanda. Saya masih banyak pekerjaan.” Jawab si gadis.

“Adinda, bolehkan kakanda mampir dan menumpang minum sebentar.” Kata si pemuda.

“Maaf kakanda, bukan tidak menghargai dan bermaksud menolak tamu. Tapi sudah menjadi adat istiadat kita orang Melayu. Seorang wanita yang sendiri, tidak boleh menerima tamu laki-laki. Baik itu gadis, istri orang tidak patut berdua dengan laki-laki yang bukan saudara kandungnya. Jangankan orang lain, saudara iparnya, atau saudara lain yang sudah jauh juga tidak boleh. Saya berharap, kakandan mengerti dengan adat istiadat kami.” Jelas si gadis. Kemudian dia kembali menenun dan tidak memperdulikan si pemuda itu.

Si pemuda itu berbalik, kemudian dia meracau membaca mantra-matra. Ada angin deras bertiup kencang. Kemudian menerpa si gadis itu. Entah apa yang terjadi membuat si gadis hilang kesadaran dirinya. Dia meresa dunia berbeda dan indah sekali.

Lupa akal sehatnya dan merasa sangat dekat dengan pemuda tadi. Dengan perlahan dia bangkit dan membuka pintu. Pemuda asing itu, naik tangga rumah dengan senyum lebar. Tampak taring dikedua belah giginya. Si pemuda masuk dan menutup pintu. Cukup lama mereka berdua di rumah si gadis. Setelah selesai dengan urusannya si pemuda asing itu pergi menuju Sungai Keruh. Saat di bibir tebing dia terjun kedalam sungai, lalu wujudnya berubah menjadi buaya.

******

Si gadis yang ditinggal tampak termenung. Dia baru sadar ketika mendengar kokok ayam. Dia merasa bingung dengan dirinya yang terbaring di kamarnya. Dia hanya memakai kain sebidang. Kemudian dia keluar dan tetap tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Hal demikian terjadi berlanjut beberapa bulan lamanya. Orang tua si gadis juga merasa aneh mengapa anak gadis demikian. Sering merenung, menyendiri dan menyendiri.

Di tempat lain kejadian serupa juga terjadi. Pemuda asing itu, datang dan pergi mendatangi gadis-gadis seperti itu. Dalam waktu beberapa bulan sudah puluhan korban si pemuda asing yang dapat berubah menjadi buaya. Banyak terjadi keributan dan keguncangan di setiap Talang penduduk.

Dimana mereka mendapati anak mereka hamil tampa menikah. Orang-orang tua juga merasa anak-anak gadis mereka baik-baik saja. Memiliki tabiat baik dan selalu menjaga kehormatan. Beberapa orang tua menyiksa anak mereka yang hamil tanpa bersuami. Namun apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak dapat mengetahui. Bahkan hampir saja orang tua membuh anak perempuannya.

Kejadian aneh itu menjadi perhatian serius Puyang Depati Pedatuan Bukit Pendape. Maka dia mengumpulkan semua datu-datu, tetua adat dan para hulubalang untuk bermusyawara. Untuk memecahkan permasalahan yang mereka hadapi bersama itu.

*****

Di Talang Sialang Rengas Kembo (Kembar), yang terletak di pinggir Sungai Sake. Dinamakan Talang Rengas Kembo karena di sisi talang terdapat dua pohon rengas besar yang tumbuh berdempet. Pohon rengas ukuran besar dan tinggi. Setiap musim bunga lebah selalu membuat sarang di dahannya. Sehingga penduduk selalu memanen madu pada waktunya.

Siang itu, seorang gadis berumur 20-an tahun sedang membersihkan rumah. Bernyanyi riang seraya menyapu lantai rumah dengan sapu ijuk, bertiang rotan semambu. Talang tampak sepi sekali bahkan hampir tidak ada penduduk. Hanya beberapa orang anak-anak yang bermain-main di halaman rumah mereka. Sementara itu, di perairan Sungai Sake muncul seekor buaya besar. Kemudian buaya itu menepi dan naik ke atas tebing sungai.

*****

“Hai, adik yang cantik nan baik hati. Boleh kakanda bertanya?.” Sapa pemuda tampan itu.

“Boleh, kakanda.” Jawab si gadis dengan lembut.

“Talang apakah ini, namanya?.” Tanya pemuda asing yang gagah perkasa.

“Talang Rengas Kembo.” Jawab si gadis, lalu bertanya juga. “Kakanda siapa, dan dari mana?.

“Kakanda dari negeri seberang yang jauh. Sedang berkelana hendak mencari pengalaman dan melihat negeri-negeri orang Melayu.” Jelas si pemuda muda itu. Dia berkata lagi.

“Adinda, boleh kakak menumpang minum beristirahat sebentar.” Tanyanya dengan senyuman rama.

“Maaf kakanda, adinda sedang sendiri di rumah. Keluarga adinda sedang di ladang. Adat dan budaya kami, seorang gadis, seorang wanita, tidak boleh menerima tamu laki-laki. Kalau tidak ada keluarga atau suaminya di rumah. Mohon dimengerti dan janglah tersinggung.” Jawab si gadis dan dia kembali menyapu. Sementara itu, dua pasang mata mengawasi keduanya dari balik semak-semak lebat.

“Oh, begitu. Baiklah.” Ujar si pemuda. Kemudian dia berbalik dan mulutnya membaca matera. Angin tiba-tiba berhembus dan menerpa si gadis. Entah apa yang terjadi, si gadis cantik tampak berubah seperti kehilangan akal sehatnya. Dia kemudian melepas sapu di tangannya. Lalu tersenyum manis pada pemuda asing itu.

Si gadis menyambut tangan si pemuda. Seakan dia menyambut kekasihnya yang sudah lama tidak bertemu. Pintu rumah di tutup dan keadaan sepi. Sementara itu, dua pasang mata yang mengawasi tadi bangkit. Lalu keduanya meniup tangan yang menimbulkan bunyi seperti bunyi suara burung. Berulang-ulang dan bersahut-sahut.

*****

“Gubrakkkkk. Prassss.” Pintu plapon rumah terbuka, terjun dua sosok laki-laki kekar. Lalu mencabut pibang. Kemudian tiga keranjang besar di sudut rumah terbuka dan dilempar dan keluar tiga orang laki-laki. Langsung menyerang si pemuda asing yang sedang memeluk si gadis. Dan hendak mencium wajahnya.

“Haiiiiiiii. Binatang busuk, tenyata dirimu yang berbuat ulah, merusak anak gadis orang dengan ilmu sihir. Biadabbbbb.” Suara-suara terdengar dari dalam rumah. Kemudian terdengar perkelahian yang diikuti bunyi denting suara pibang beradu.

“Braakkkkk.” Pagar jendela yang terbuat dari kayu hancur berantakan. Sebuah tubuh terpental dan jatuh di tanah. Empat orang juga melompat menyusul dan berdiri mengepung si pemuda asing. Si pemuda asing bangkit dan mencabut pibang kidau dari sarung yang terselip di depan perutnya.

Belum lagi habis keheranan si pemuda asing. Muncul dari setiap penjuru laki-laki bersenjata lengkap. Tampak Puyasng Depati dan hulubalang yang di ikuti prajurit dan datu-datu talang. Bukan hanya itu, puluhan masyarakat juga ikut. Dia terkurung dan terjepit sekarang.

“Ini rupa binatang yang suka merusak anak gadis orang. Mengganggu wanita-wanita bersuami.” Ujar Depati.

“Aku akan mencintang tubuhmu. Kau begitu bejat merusak anak gadisku. Untung aku tidak sampai membunuhnya. Ternyata dia kau pengaruhi dengan mantra sihir buayamu.” Ujar Orang itu.

“Ha..ha..ha..ha. Ya, memang aku. Kalian tidak akan bisa menghentikan aku.” Ujarnya dengan sombong, seraya menghapus darah melele dari pipinya. Depati memerintahkan pasukannya mengurung dan empat laki-laki tadi mulai menyerang lagi.

"Matilah kau penjahat kelamin." Teriak seorang penyerang. Empat penyerang adalah hulubalang Pedatuan.

Serangan bertubi-tubu dan serangan juga mengenai si pemuda asing itu. Tubuhnya terpental dengan dua luka sabetan, darah segar keluar dari mulutnya. Dia bangkit perlahan, dan pasukan pedatuan kembali mengurung. Mereka meminta pemuda asing itu untuk menyerah. Tiba-tiba si pemuda asing itu menaburkan kantong berisi bubuk ke udara. Membuat pedih mata-mata yang mau menangkapnya.

Beberapa kali dia terus menaburkan bubuk itu. Sehingga dia dapat meloloskan diri. Berlari terseok-seok menuju Sungai Sake. Dara menetes sepanjang jalan. Semua orang mengejar dan dia kembali terkurung di dekat tebing Sungai Sake. Depati dan para pengejarnya berjalan pelan mendesak ke tebing sungai. Semua merasa telah mengurung si pemuda asing itu.

“Wusss. Croottt.” Sebuah anak panah menancap di paha kirinya.

Sebentar lagi pemuda itu akan tertangkap pikir semua orang. Di sepanjang aliran sungai di sekeling telah dikepung pasukan dan masyarakat. Pemuda asing terus berlari terhuyung-huyung. Dia tersenyum lebar saat melihat air sungai di depan mata. Tanpa banyak pikir dia melompat ke dalam Sungai Sake yang berair kekuningan.

Bersamaan dengan itu, tubuhnya berubah menjadi buaya besar. Berenang dan menyelam lalu menghilang. Semua terkejut, dan baru menyadari kalau orang asing itu memiliki kemampuan berubah menjadi buaya atau berubah menjadi orang lain, mantera bersalin rupa.

*****

Puyang Mato Kilat Depati Pedatuan Bukit Pendape mengadakan musywara besar. Dia mengumumkan agar tidak membiarkan anak gadis atau perempuan di luar pengawasan. Untuk mengakhiri teror manusia yang memiliki sihir buaya. Harus dilakukan penyisiran besar-besaran disetiap sudut hutan dan sungai-sungai.

“Bagaimana menurut para datu dan puyang adat semua, dalam mengatasi masalah ini.” Tanya Depati.

“Walau bagaimanapun kesaktiannya, lelaki buaya itu pasti memiliki tempat. Kita dapat menelusuri jejak kakinya melalui sungai-sungai. Luka di tubuhnya juga belum dapat hilang dalam waktu singkat. Maka, kita tidak boleh menunda waktu harus bergerak cepat.” Kata Puyang Bijak Betua.

“Depati, menurut pengetahaun dari orang-orang tua. Apabila kita menghadapi ahli sihir sebagaimana sihir buaya. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dan ketahui. Pertama, kita tidak boleh hanyut dalam kata-kata penyihir. Misalkan dia berkata, "Saya akan berubah menjadi buaya." Maka kita lawan dalam pemikiran kita. Pikirkan dia tidak bisa menjadi buaya walau penglihatan kita dia telah berubah menjadi buaya. Kedua, kita jangan takut sebab yang tampak hanyalah penglihatan kita.” Ujar Datu Pagarkaye menjelaskan.

“Baiklah, saya rasa rapat kita selesai. Mulai dari sekarang persiapkan pasukan dan perbekalan. Bangun komunikasi dengan mempersiapkan pengantar informasi, bawa merpati pengantar surat. Buat tim-tim pencari untuk menelusuri jejak.” Kata Depati. Semua menjawab siap dengan meletakkan tangan di dada masing-masing. Percarian dimulai, dengan perahu dan rakit menyusuri sungai. Ada juga pasukan dari darat menerobos hutan.

*****

Seekor buaya hitam mengikuti perahu bidar Hulubalang Gatra. Tapi mereka tidak tahu sebab buaya mengikuti dari jarak yang cukup jauh. Perahu melaju perlahan menyusuri tebing Sungai Keruh. Memperhatikan setiap jengkal tebing mencari jejak buaya atau jejak manusia.

“Hulubalang, lihat disini ada bekas dara mengering dan ada jejak kaki manusia.” Seorang prajurit memberi tahu. Perahu Hulubalang Gatra mendekat tebing yang landai. Di tebing berlumpur tampak jejak kaki. Tetesan dara mengering, dan bekas jejak yang naik ke atas tebing. Hulubalang memerintahkan lima prajurit naik kedaratan. Hulubalang Gatra juga melompat ke atas tebing sungai.

Lima orang lagi berjaga di sekitar tebing. Mereka berenam berjalan bersama dengan kewaspadaan tinggi. Mengikuti tetes darah mengering. Ada bekas sesuatu terjatuh di rerumputan semak. Patahan anak panah tergeletak yang berlumuran darah.

“Tidak salah lagi, ini pasti jejak manusia keparat itu. Kirimkan informasi ke Depati, di hulu Sungai  dan perkiraan hutan Rimba Tinggi.” Perintah hulubalang Gatra. Merpati diterbangkan dan sampai ke tangan Depati Pedatuan. Hulubalang Gatra meninggal jejak arah mereka, agar dapat diikuti arah mereka. Sementara seluruh pasukan yang bertugas di tempat lain diperintahkan Depati menuju Hutan Rimba Tinggi utuk membantu Hulubalang Gatra.

Sekaran Hulubalang Gatra dan pasukannya  tiba di pinggiran lebung berair jernih. beberapa prajurit mendekat lebung dan hendak minum sekaligus mencuci muka.

Di seberang lebung, sesosok bayangan bertopeng mengintai. Kemudian dia mengeluarkan potongan lidi enau. Lalu melemparkan puluhan batang di air lebung. Kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu. Ajaib, setiap batangan lidi berubah menjadi buaya besar. Lalu menyelam berenang menuju dua prajurit yang sedang mencuci wajah.

“Buuaarrrrr.” Sepuluh buaya muncul kepermukaan air dan mendarat. Menyerang para prajurit yang sedang istirahat. Mereka semua sibuk mengadapi buaya itu. Tiba-tiba disekeliling mereka muncul puluhan buaya. Maka mereka dibuat kerepotan bukan kepalang. Sudah ada yang tergigit dan terluka akibat serangan buaya misterius. Beberapa buaya dapat dipenggal.

“Tar. Tar.” Suara lecutan selendang menghantam buaya-buaya itu. Bayangan hitam muncul dan menyerang buaya-buaya miterius itu. Saat terkena lecutan selendang hitam orang itu, buaya-buaya itu menghilang semua. Kini berdiri seorang lelaki tua berpakaian serba hitam.

“Siapakah Uwa kiranya.” Tanya Hulubalang. Lelaki tua itu duduk dan diikuti hulubalang dan pasukannya. Dia menyebut dirinya Puyang Buaye Kumbang. Dia memiliki murid durhaka bernama Sadarama dan telah menyalah gunakan ilmu yang dia ajari. Muridnya suka berbuat bejat mengganggu wanita-wanita. Muridnya telah pergi melarikan diri dua puluh tahun lalu. Dia takut kalau ilmu yang dia ajarkan dibuat untuk kejahatan. Dia datang untuk mencari dan menghukumnya. Hulubalang menceritakan kejadian-kejadian buruk di Pedatuan Bukit Pendape, dan ada kesamaan cerita dan kejadian. Mereka sepakat mencari bersama-sama Puyang Buaye yang bernama asli Sadarama.

*****

Sementara jauh ditengah belantara hutan, seorang laki-laki berumur empat puluh limaan tahun sedang duduk bersilah. Mata terpejam dan membaca mantera. Cuaca cerah berawan putih tiba-tiba berubah menjadi hitam dan angin berhembus kencang. Hujan turun dengan lebatnya. Laki-laki itu kemudian menaburkan potongan-potongan lidi ke genangan air hujan seraya terus menerus membaca mantera. Ajaib, semua batang lidi berubah menjadi buaya-buaya besar, ganas dan lapar. Lalu bergerak masuk hutan dan menghilang dibalik semak-semak.

Pasukan bantuan mulai memasuki Hutan Rimba Tinggi. Sementara Hulubalang Gatra, Puyang Buaye Kumbang dan pasukan terus masuk kedalam hutan. Hujan tidak menghalangi mereka, dan terus bergerak menacari Sadarama.

*****

Sementara Depati, Hulubalang, para datu talang, pasukan Pedatuan dan pemuda-pemuda terus bergerak mencari sesuatu di hutan Rimba Tinggi. Depati meminta mencari jejak Hulubalang Gatra dan jejak manusia lainnya. Tiba-tiba terdengar jeritan di mana-mana.

“Buaya.. buayaaaaa. Ahhhhh.” Teriakan dan jeritan memenuhi hutan. Mereka terkejut bagaimana bisa di dalam hutan yang jauh dari sungai-sungai banyak sekali buaya. Setiap mereka berhasil memenggal atau minikam buaya dengan tombak. Ada yang terluka dan tewas seketika diterkam buaya. Buaya-buaya muncul dan mucul membuat semuanya kewalahan.

“Ahhh.” Depati menjerit dia terkena kibasan ekor seekor buaya. Tubuhnya jatuh ketanah yang dipenuhi air hujan. Datu Puyang Bijak Betua mau membantu, tapi tiga ekor buaya menghadang. Sementara yang lain juga sibuk melawan buaya. Depati dalam bahaya besar, dua ekor buaya merangkak cepat menyerangnya yang terbanting di tanah.

“Tarr. Tarr. Taarr.” Lecutan selendang hitam muncul. Sosok bayangan hitam menghantam setiap buaya-buaya itu. Gerakan cepat menerobos hujan, tanpa henti terus menghancurkan buaya-buaya itu. Hulubalang Gatra membantu Depati dan pasukannya berjaga sekitar. Beberapa saat kemudian buaya-buaya itu menghilang karena serangan selendang hitam. Hujan mulai redah dan cuaca kembali cerah.

“Depati, tidak apa-apa.” Tanya Gatra. Depati mengangguk, mereka saling bertanya kabar. Dia mengenalkan Puyang Buaye Kumbang ke semuanya dan bercerita singkat.

“Depati, ada dua puluh orang yang gugur, lima belas luka para dan tiga puluh luka ringan.” Lapor hulubalang Katang. Depati memerintahkan membuat tenda perawatan dan segerah mengubur pasukan yang gugur. Setelah musyawara singkat mereka meneruskan pencarian, Puyang Buaye atau Sadarama.

*****

Mereka menemukan enam pondok, banyak anak-anak bermain. Puluhan ibu-ibu muda yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah. Menumbuk padi, menimbah air, memasak dan memotong kayu bakar. Ada yang sedang hamil dan beranak kecil. Disekeliling Talang kecil itu banyak kolam-kolam ikan. Di tengah pemukiman kecil itu ada rumah besar. Tampak seorang kakek-kakek berumur lima puluhan tahun sedang mengayam bubu.

“Kakek, boleh bertanya.” Tanya seorang prajurit Hulubalang Gatra. Si kakek mengangguk dan juga cuek.

“Apakah pernah menemukan seseorang laki-laki asing, yang tinggal di sekitar hutan ini.” Tanya Prajurit lagi.

“Pernah nak, dia tinggal jauh di sebelah bukit sana. Saya hanya sekali-sekali bertemu.” Jawabnya. Hulubalang melihat di halam rumah berserakan potongan lidi. Dia memperhatikan ibu-ibu yang tampaknya seperti tidak punya pikiran. Mereka kaku dan terus bekerja tanpa ada basa basih seperti wanita normal. Mereka seperti tidak memperdulikan kedatangan mereka. Pasukan Hulubalang terus menyelidiki dan menemukan lebih banyak potongan lidi.

“Laporkan pada depati dan Puyang Buaye Kumbang kalau kita banyak menemukan potongan lidi sebagaimana ciri-ciri yang disebutnya.” Prajurit itu mengangguk, dia melangkah pergi menemui pasukan yang mengepung talang kecil itu. Prajurit itu, tiba-tiba diserang seekor buaya yang melompat dari dalam kolam. Tubuhnya jatuh kedalam kolam dan menjadi mangsa buaya. Hulubalang terkejut, saat dia melihat si kakek telah mencabut keris dan menyerang dua prajurit hingga tewas.

“Heaaaaa.” Giliran hulubalang di serang dan terjadilah pertarungan hebat. Sisa pasukan juga diserang buaya yang keluar dari dalam kolam. Seorang prajurit meniup tangan tanda bahaya bagi mereka. Depati memerintahkan yang lainnya segerah membantu dan mengepung tempat itu. Ternya di dalam kolam adalah buaya asli yang dipelihara dan dikendalikan Puyang Buaye. Pertarungan terjadi, buaya-buaya satu demi satu tewas dipenggal pasukan. Ibu-ibu masuk mengurung diri di dalam rumah mereka.

“Sekarang menyerahlah manusia buaya.” Kata Hulubalang. Dia kemudian berhasil menyabetkan pibang di kedua kaki kakek-kakek itu. Sehingga dia jatuh dan berlutut tidak dapat berdiri. Perlahan wujudnya berubah menjadi laki-laki berumur empat puluhan tahun, wujud aslinya.

“Oh, ini rupanya wujud aslimu, manusia buaya.” Ujar Hulubalang Gatra.

“Aku belum kalah.” Dia tertawa, lalu membaca mantera. Tiba-tiba angin berhembus dan semua potongan lidi-lidi yang berserakan berubah menjadi buaya. Semua terkurung oleh ribuan buaya ganas yang lapar. Semua terkejut bukan kepalang. Mereka mulai putus asa, dan menyadari musuh mereka adalah musuh berat.

“Tar. Taarrr.” Tubuh Sadarama terpukul selendang hitam Puyang Buaye Kumbang. Seketika buaya sihir menghilang, dan Sadarama terkejut bukan kepalang.

“Guru.” Itulah seucap kata keluar dari mulutnya. Depati, para datu dan lainnya mendekat.

“Murid durhaka, sekarang kau akan dihukum atas kejahatanmu.” Kata Puyang Buaye Kumbang. Sadarama ketakutan dan kekuatannya sihirnya menghilang. Setelah semua berkumpul dan sepakat menghukum mati Sadarama. Depati memerintahkan hulubalang Gatra untuk menghukum pancung Sadarama. Puyang Buaye Kumbang menangis sedih dan dia langsung pamit pulang setelah melihat Sadarama dihukum mati.

Wanita-wanita yang diculik Sadarama kembali tersadar dan kembali ke rumah orang tuanya. Tangis haru mereka pecah saat berjumpa dengan keluarga. Tapi mereka sudah memiliki anak, laki-laki dan perempuan. Anak-anak Sadarama pun menikah dan memiliki anak cucu sampai sekarang. Kalau kalian menemukan buaya darat kemungkinan dia keturunan Sadarama atau Puyang Buaye.

Setelah kematian Sadarama, kehidupan Pedatuan Bukit Pendape kembali damai dan tenang. Sejak saat itu juga, setiap laki-laki yang suka mengganggu dan mempermainkan wanita di juluki, lelaki buaya.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 19 Juni 2020.
Ucap: Mantra. Lebung: Tempat penampungan air alami di dalam hutan tropis. Lebung berbentuk danau tapi ukurannya lebih kecil dari danau. Biasanya hanya selebar satu hektar dan airnya tergenang saja. Hanya di musim banjir hujan air lebung terisi dan menyatu dengan air sungai yang sedang banjir.

Lebung terletak di kawasan tanah renah. Renah: Kawasan banjir alami di wilayah banyak sungai-sungai. Hulubalang: Perwira. Puyang: Gelar kehormatan untuk orang yang memiliki kemampuan. Puyang juga berarti: Pemimpin. Ornag tua. Bangsawan. Buaye: Buaya. 

Pedatuan: Istilah nama kawasan masyarakat yang berpemerintahan sendiri pada masa lalu. Penduduk masih dalam ikatan kekeluargaan atau kepuyangan (genoalogis). Masa ini bentuk percampuran budaya sanskerta dan budaya asli orang Melayu. Datu: kepala desa pada masa Kelsultanan Palembang berganti Kerio. 

Pibang: Senjata tradisional masyarakat. Pibang Kidau berbentuk pisau yang diselipkan di depan perut atau pinggang pada kain yang melilit di pinggang. Pibang Kanan senjata berupa pedang khas masyarakat pedatuan.

Pedatuan suatu pemerintahan lokal dimana bersatunya para datu-datu. Kedatuan Sriwijaya bersatunya pedatuan-pedatuan di Kawasan Batanghari sembilan. 



[1]Tran: Tongkat atau sebatang kayu yang dipasang pada objek sehingga menjadi pegangan yang panjang. Semambu adalah nama jenis rotan besar dan memiliki elatissitas tinggi. Sehingga rotan semambu sering dijadikan kerangka kursi rotan.


Sy. Apero Fublic.

6/17/2020

KKN Bersejarah Pada Masa Pandemi Virus Corona.

APERO FUBLIC.- OKU TIMUR. Pandemi virus corona menyebar diawal tahun 2020 lalu. Menurut informasi dari media-media virus corona bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Bermacam-macam spekulasi tentang virus itu, entahlah. Yang pasti Indonesia salah satu negara yang terpapar virus corona.

Pemerintah Indonesia mengambil tindakan perlu, serta mempersiapkan cara-cara menanggulangi penyebaran virus. Seperti melaksakan social distancing, gerakan tetap di rumah saja, memakai masker keluar rumah, menerapkan hidup bersih, rajin cuci tangan, meliburkan mobilitas sosial yang menyebabkan kerumunan, lalu menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskalah Besar).

Dengan demikian, Perguruan Tinggi salah satu mobilitas sosial yang diliburkan secara fisik. Sedangkan proses belajar-mengajar dilaksanakan secara daring (online). Telah tiga bulan berlalu penerapan social distancing. Beberapa daerah juga telah melakukan PSBB. Sekarang berangsur-angsur memasuki new normal.

Sehingga ada sedikit pelonggaran dari pemerintah dalam bersosial-masyarakat walau dibayangi perasaan khawatir. Asalkan masyarakat mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan dimana saja mereka beraktivitas. Seperti tetap memakai masker, menjaga jarak, rajin mencuci tangan, menjaga kesehatan. Mudah-mudahan virus corona tidak menyebar terus.

Protokol kesehatan dari pemerintah untuk kegiatan sosial. Juga menjadi rujukan bagi Perguruan Tinggi Negeri dalam rangka melaksanakan KKN para mahasiswanya. Seperti, Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang yang melaksanakan program Mata Kulia KKN angkatan 73 Tahun 2020, dimulai tanggal 15 Juni sampai tanggal 24 Juli.

Adapun standar kesehatan diterapkan, seperti anggota kelompok KKN sesama daerah, memakai masker, menjaga jarak, rajin mencucui tangan dan waktu yang dipersingkat saat kegiatan. KKN angkatan 73 akan menjadi KKN hebat dan bersejarah. Walau tidak dapat beraktivitas seperti kakak-kakak tingkat sebelumnya.

Pagi ini, Selasa 17 Juni 2020 kami melaksanakan kegiatan KKN di Posyandu Desa Kotanegara, Kecamatan Madang Suku II, Kabupaten OKU Timur, Provinsi Sumatera Selatan. Namaku Eka Apriyani, Novita Apriliani, Rani Hartati, Nurmala Sari, Mayyul Roslini. Di sini kami menjadi relawan posyandu dan belajar tentang kesehatan pada Ibu Bidan Rosita Dewi, AM.KEB. Selain itu kami juga dibimbing oleh kader posyandu Kakak Toibah, Kakak Maryani, dan Kakak Ida Nurlailah.

Selama kegiatan kami akan mempelajari tentang kesehatan. Mempelajari hubungan sosial kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Relawan pelayanan terpadu ibu-ibu hamil, imunisasi. Ikut berpartisifasi dalam kegiatan pemantauan dan pencegahan penyebaran virus corona di Desa Kotanegara. Semoga KKN (Kulia Kerja Nyata) kami sukses dan bermanfaat masyarakat kami dan menambah wawasan kami. Terima kasih buat posyandu desa Kotanegara yang sudah menerima kami dengan baik.

Oleh. Eka Apriyani.
Editor. Desti. S.Sos.
OKU Timur, 17 Juni 2020.
Sumber foto. Eka Apriyani. Mahasiswi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Fakutas Adab dan Humaniora.
Buat teman-teman mahasiswa dan mahasiswi yang ingin berbagi informasi tentang KKN. Atau informasi tentang kegiatan dunia kampus dan kuliah. Dapat mengirim artikel ke Apero Fublic pada laman Info Kampus. Kirim melalui email redaksi fublicapero@gmail.com atau whatsApp 081367739872.

Sy. Apero Fublic.

6/16/2020

Mitos: Harimau Kumbang dan Buaya Kumbang.

Apero Fublic.- Kisah mitos Buaya Kumbang dan Harimau Kumbang pada masyarakat di Kecamatan Sungai Keruh sungguh melegenda. Mitos yang diceritakan turun-temurun. Namun hanya berupa penggalan-penggalan cerita tidak lengkap.

Menceritakan kalau seorang nenek moyang atau Puyang masyarakat memiliki mahluk penjaga daerah. Yaitu, Buaya Kumbang berdiam di muara Sungai Keruh. Menjaga Sungai Keruh agar tidak dimasuki buaya buas. Sedangkan Harimau Kumbang adalah penjaga wilayah dari serangan harimau kejadian.

Hamau Kumbang dan Buaya Kumbang adalah jelmaan dari dua orang manusia sakti. Yaitu, Puyang Bomi Sejemput menjelma menjadi Harimau Kumbang dan Puyang Raje Ayo menjelma menjadi Buaya Kumbang. Mereka berdua kakak beradik yang menghabiskan waktu bertapa di sebuah gua di atas Bukit Pendape. Mereka juga di kenal dengan julukan Puyang Pertapa Sakti.
*****
Pada masa itu, keadaan penduduk Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape dalam keadaan sulit sekali. Bagaimana tidak, penduduk tidak dapat berbuat banyak untuk kehidupan mereka. Karena, mendapat teror dari dua arah, di perairan dan di daratan. Teror di darat, banyaknya harimau siluman dan harimau jejadian yang menyerang warga. Di perairan terutama di Sungai Keruh penduduk diserang oleh Siluman Buaya atau buaya jejadian.

Penduduk Dataran Negeri Bukit Pendape sangat ketakutan dan kesulitan menghadapi permasalahan itu. Air adalah sumber penghidupan, keperluan mandi, mencuci, dan menangkap ikan. Hutan tempat berburu, mencari tumbuhan, dan berladang untuk menanam padi untuk kebutuhan pokok lainnya.

Otomatis, membuat kehidupan masyarakat lumpuh. Bencana kelaparan segera menanti. Sekarang masyarakat masih memiliki persediaan padi hasil panen tahun lalu. Seandainya harimau biasa atau buaya biasa masih dapat penduduk atasi. Tapi berbeda apabila harimau dan buaya memiliki pengaruh jahat dari siluman.

Penduduk Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape pernah melakukan perburuan bersama-sama. Namun mereka tidak dapat menemukan harimau atau buaya jejadian tersebut. Bahkan kalau ada di antara mereka yang lengah. Maka pasti menjadi korban. Sehingga perburuan mereka hentikan untuk menghindari korban yang lebih banyak lagi.
******
Puyang Mato Kilat sebagai Depati pimpinan tertinggi di Dataran Negeri Bukit Pendape menjadi gunda dan sedih. Dia memikirkan nasip rakyatnya dan juga keluarganya. Namun apa daya dia hanyalah manusia biasa. Hanya berpikir, apa yang dapat mereka perbuat sekarang.

Tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun untuk mengalahkan siluman-siluman buaya dan siluman harimau. Suatu hari yang cerah, puluhan prajurit berjaga disekitar rumah Depati. Dua hulubalang tampak berdiri sigap di sisi Depati. Depati berdiskusi dengan kedua hulubalngnya. Mereka berpikir keras untuk mengatasi masalah ini.

“Depatii, Depatiiii.” Seorang ibu-ibu berlari-lari dan terjatuh-jatuh. “Anak gadisku, Puyang Depati, telah diserang buaya saat berusaha mengambil air di sungai kecil di belakang rumah. Adu Depati, bagaimana Depati.” Ibu itu mengadu dengan histeris. Puyang dan dua hulubalangnya hanya dapat berkata sabar, menenangkan si ibu-ibu.

Ibu-ibu itu datang mengadu ke Depati Puyang Mato Kilat. Belum lagi redah tangisan ibu itu. Datang juga seorang kakek-kakek dan cucu laki-lakinya. Keduanya juga mengadukan kalau anaknya, atau ayah dari anak lelaki remaja telah diserang harimau saat ke ladang. Mereka bermaksud mengambil padi di ladang karena persediaan padi di lumbung diruma sudah habis.

Keesokan harinya datang juga surat dari penduduk talang-talang di wilayah Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Mereka juga mengadukan kejadian yang sama. Sehingga bertambah sedihlah Puyang Depati.

Suatu hari, Depati mengundang semua datu-datu talang, anggota dewan pedatuan, hulubalang dan panglima pedatuan, para tetua-tetua pedatuan. Ada juga masyarakat yang ikut rapat untuk memecahkan permasalahan yang sulit tersebut.
*****
“Puyang Depati, aku pernah mendengar cerita dari orang tua-ku. Bahwa di atas Bukit Pendape ada dua orang laki-laki petapa. Mereka bersaudara kembar dan memiliki kesaktian yang sama. Hidup mereka di habiskan untuk bertapa dan mendekatkan diri pada sang pencipta. Menurutku, apakah kita dapat bermusyawara pada dua orang petapa sakti itu. Paling tidak meminta pendapat untuk mengatasi permasalahan kita ini. Nama kakaknya seingatku, Puyang Raje Ayo dan adiknya Puyang Bomi Sejemput.” Ujar seorang anggota dewan pedatuan. Dia sudah tua, rambutnya sudah uban memutih. Tapi ada kebijaksanaan diwajahnya.

Semuanya untuk beberapa saat terdiam dan tenggelam dalam lamunan masing-masing. Puyang Pedatuan diam dan berpikir keras. Lalu dia berkata dengan pelan tapi tegas.

“Aku juga pernah mendengar tentang kedua puyang pertapa sakti itu. Tapi apakah benar mereka masih hidup, dan masih bertapa di gua di atas Bukit Pendape. Kita tidak dapat memastikan. Tapi, dalam keadaan seperti ini, kita tidak dapat berpikir banyak. Tindakan dan usahalah yang harus banyak.” Ujar Depati Puyang Mato Kilat.

Semuanya mengangguk dan memberikan pendapat masing-masing. Beberapa saran dan pendapat untuk waktu jangka pendek juga diajukan. Puyang Depati mendengarkan semua saran dan masukan dari rakyatnya. Setelah semuanya jelas dan terbahas, maka Puyang Depati memberikan kesimpulan dari hasil musyawarah itu.

“Untuk semua datu-datu talang, rakyat, dan para tetua pedatuan. Ada tiga pokok yang harus kita laksanakan dan mohon kerjasama yang baik. Pertama, melarang warga mendekati sumber air terlebih dahulu. Untuk itu, harus membuat sumur dan memanfaatkan air hujan. Kalau terpaksa, harus bekerja sama dan saling menjaga. Kedua, setiap warga harus bekerjasama dalam mencari kebutuhan hidup. Saling membantu saat pergi ke hutan atau pergi ke ladang.

Ketiga, memerintahkan seorang hulubalang untuk menemui dua pertapa sakti di gua di puncak Bukit Pendape. Kemudian akan memilih anak-anak muda untuk di utus ke pedatuan lain guna mencari batuan.” Itulah kata Puyang Depati. Semua pun setuju dan siap melaksanakan.

Hulubalang Pagrap dan dua puluh prajurit pedatuan yang ditugaskan pergi ke Bukit Pendape menemui pertapa sakti. Utusan-utusan dikirim ke Pedatuan lainnya. Diantaranya, ke Pedatuan Basema, Pedatuan Meranjat, Pedatuan Ranau, Sumbai Hulu dan Sumbai Ilir, Pedatuan Minanga, serta pedatuan lainnya di Bumi Batanghari Sembilan.
*****
Berangkatlah Hulubalang Pagrap bersama para prajurit. Mereka membawa persenjataan lengkap. Senjata pibang kanan dan pibang kidau. Beberapa juga membawa tombak dan sepuluh orang prajurit membawa panah.

Di sepanjang perjalanan mereka terus diserang harimau siluman. Prajurit terlatih cukup kuat untuk bertahan. Namun, ketahanan manusia ada batasnya. Sehingga saat sampai di Bukit Pendape ada lima orang prajurit yang gugur. Tinggal 15 orang prajurit lagi.

Saat tiba, mereka mencari gua pertapa sakti itu. Hampir satu hari baru bertemu dengan gua tersebut. Di sekitar gua itu, ada mata air yang mengalir jernih. Dua orang prajurit mengambil air. Mereka lengah, tiba-tiba harimau muncul entah dari mana. Kedua prajurit itu pun tewas.

Di mulut gua hulubalang memberi salam dan meminta izin masuk. Lama tidak ada jawaban, hampir setengah hari mereka menunggu. Baru ada suara bergema mempersilahkan masuk. Sepuluh prajurit berjaga di mulut gua. Selebihnya menemani hulubalang bermusyawarah dengan dua pertama sakti itu. Baju keduanya sangat sederhana, terbuat dari kulit rusa.

“Ada apa kalian datang jauh-jauh kesini. Apa gerangan yang sangat penting?.” Tanya seorang diantara mereka.

“Maaf Puyang, kami di utus Depati untuk menemui puyang. Pedatuan kita dalam masalah besar. Dalam tahun ini, harimau jejadian dan buaya jejadian mengganggu penduduk dan membunuh. Prajurit saya saja sudah tujuh orang tewas dalam perjalanan kemari.” Jelas Hulubalang. Kemudian hulubalang memberikan surat depati pada seorang petapa sakti itu.

Cukup lama mereka berbincang membahas permasalahan itu. Banyak yang ditanyakan dua pertapa. Baru setelah itu, keduanya berkata akan berusaha dan akan menemui depati. Keduanya meminta hulubalang kembali ke pedatuan segerah. Mereka akan menyusul pergi katanya.

Puyang Pertapa Sakti juga menganjurkan mereka mengambil kayu gaharu. Lalu dibakar sepanjang jalan. Untuk menangkal serangan harimau jejadian itu. Hulubalang dan pasukan yang tinggal 13 orang selamat sampai di pedatuan lima hari kemudian. Saat mereka sampai dan hendak melapor kalau tugas sudah di laksanakan.

Mereka terkejut sekali, dua pertapa sakti sudah duduk bermusyawara dengan depati, panglima dan hulubalan Yantuan, para datu-datu talang, para tetua pedatuan dan masyarakat lainnya. Penduduk bercerita kalau petapa sudah lima hari yang lalu datang. Mengapa mereka baru sampai hari ini, aneh. Itulah sebabnya mengapa sudah ada musyawara besar di pedatuan. Mereka pun sadar, kalau sedang berhadapan dengan bukan manusia sembarang, lalu berdecak kagum.
******
“Baiklah Depati, Aku dan Adikku akan berusaha mengatasi permasalahan ini. Tapi akan memerlukan beberapa syarat yang cukup sulit.” Kata Puyang Rajo Ayo.

“Puyang Rajo Ayo, Puyang Bumi Sajemput, coba katakan apa syarat yang harus dipenuhi. Kami akan mengupayakan untuk memenuhinya.” Ujar Depati.

“Benar puyang, kami akan berusaha.” Datu Talang Gajah Mati ikut berbicara. Begitu juga dengan hadirin yang lainnya.

“Aku dan kakak akan menjadi makhluk yang berbeda dari manusia biasa. Tapi kami bukan suban, bukan pulah manusia. Sebab itu, kehidupan kami juga akan berbeda dengan manusia dan suban. Ada pun yaratnya; pertama, carilah dua orang wanita yang tidak bersuami dan mau menikah dengan kami. Syaratnya wanita itu haruslah masih dapat mengandung anak. Kedua, buatkan lemang padi arang setiap malam bulan purnama. Letakkan di tepian mandi kalian dan di pinggiran talang-talang kalian.” Jelas Puyang Bomi Sajemput.

Depati Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape berpikir sejenak. Lalu dia menatap sekeliling ruangan. Para tetua, para datu-datu, dan hulubalang, panglima satu persatu. Mereka semua diam dan tenggelang dalam pikiran masing-masing.

Depati, bertanya apakah di antara mereka ada pendapat atau saran. Kemudian mereka mengangguk-angguk dan berkata akan berusaha bersama-sama. Mengenai dua wanita yang akan dinikahkan pada Puyang Rajo Ayo dan Puyang Bumi Sajemput akan diusahakan. Mudah-mudahan ada wanita yang bersediah dengan tulus.

Tiga hari kemudian, dua orang janda yang bersedia menikah dengan Puyang Rajo Ayo dan Puyang Rajo Batu didapat. Janda berumur tiga puluhan tahun bersedia demi kebaikan wilayah pedatuan. Apa lagi mereka mendengar kalau kedua puyang pertapa sakti itu akan berubah menjadi makhluk lain untuk selamanya. Hati mereka tersentuh sebab pengorbanan kedua puyang itu.

Penduduk bergotong royong membangunkan dua pondok sederhana untuk pasangan yang baru menikah itu. Sehari, dua hari, seminggu, sebulan waktu berlalu. Penduduk Dataran Negeri Bukit Pendape membuat lemang padi arang seperti yang di janjikan setiap bulan purnama.

Pada awalnya kedua istri puyang merasa biasa saja. Hidup tenang di pondok berdua suami mereka. Yang mereka tidak mengerti semakin hari semakin jarang pulang suami mereka. Biasanya tiap hari pulang, sekarang seminggu sekali, kemudian sebulan sekali. Yang aneh mereka selalu menemukan bekas tapak harimau dan buaya di sekitar pondok mereka.

Istri kedua puyang telah mengandung. Penduduk tidak mendengar kejadian apa pun. Tapi yang ada yang aneh, serangan harimau jejajdian terus berkurang. Ada juga penduduk sering melihat harimau kumbang. Begitu juga di sungai, sering melihat buaya kumbang.

Setahun kemudian istri Puyang Rajo Ayo dan istri Puyang Bomi Sajemput melahirkan anak laki-laki. Menurut orang-orang anak laki-laki itu adalah ringkarnasi dari dua puyang itu. Masyarakat Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape mulai tenang dan aman. Mereka telah berani Sungai Keruh dan sungai lainnya. Begitu juga masuk hutan dan keladang. Tidak pernah lagi ada diserang harimau jejadian.
*****
Pada suatu hari, depati dan hulubalang ditemani sepuluh orang prajurit mencoba berburu ke hutan. Mereka ingin mencari tahu apakah sudah aman untuk berburu. Selama ini dia tidak pernah mendengar kejadian aneh.

Seumpanya menemukan harimau mati atau buaya mati. Hanya sering mendengar adanya harimau kumbang dan buaya kumbang berkeliaran di wilayah mereka. Entah mengapa Puyang Depati dan pasukan tertsesat. Sehingga mereka tiba di muara Sungai Keruh di Sungai Musi. Dalam keadaan letih mereka istirahat dimuara.

“Prajurit, agar bergantian berjaga-jaga.” Hulubalang memerintahkan anak buahnya. Saat mereka sedang istirahat dan memakan perbekalan. Tiba-tiba air muara sungai bergemuru. Banyak gelembung-gelembung udara muncul kepermukaan air. Pertanda ada makhluk yang berjalan di dasar sungai. Semua terkejut bukan kepalang ketika di permukaan air muncul buaya kumbang yang besar.

Belum lagi hilang keterkejutan mereka semua. Tiba-tiba auman harimau memekakkan telinga. Kemudian seekor harimau kumbang muncul dari balik semak-semak. Semuanya bersiap dengan mencabut pibang kanan. Ada memegang tombak dan siap memanah.

“Depati, hulubalang dan prajurit sekalian. Aku adalah Puyang Bumi Sajemput. Jasad kasarku telah menjelma berubah menjadi harimau. Sedangkan anak yang dilahirkan istriku adalah titisan darahku. Tolong jaga mereka kerana kami tidak dapat berubah kembali menjadi manusia. Aku akan terus berkeliaran di Kawasan Dataran Negeri Bukit Pendape dari muara Sungai keruh ini sampai ke balik Bukit Pendape. Agar penduduk pedatuan tidak diganggu oleh harimau jejadian lagi.” Kata harimau kumbang itu.

“Benar depati, hulubalang dan prajurit sekalian. Aku Puyang Rajo Ayo, yang menjelma menjadi buaya kumbang. Jasadku juga tidak dapat kembali berubah menjadi manusia biasa. Tolong jaga anak titisanku yang telah dilahirkan istriku. Aku berdiam dimuara Sungai Keruh untuk menjaga Sungai Keruh agar tidak dimasuki buaya jejadian dan buaya sihir dari dukun buaya. Jangan khawatir dukun buaya itu telah menyadari kesalahan mereka dan berjanji tidak akan melakukan perbuatan mereka lagi.” Kata buaya kumbang jelmaan Puyang Rajo Ayo.

Puyang Bomi Sajemput berkata. Kalau pertarungan mereka dengan harimau siluman atau buaya siluman tidak dapat dilihat oleh mata biasa. Itulah mengapa penduduk hanya dapat melihat jejak-jejak kaki saja. Bahkan harimau jejadian pernah menyerang mereka di pondok. Itulah mengapa istri keduanya sering melihat banyaknya jejak harimau dan jejak buaya. Dengan penjelasan itu, mengertilah depati dan pasukannya. Mereka juga mengetahui apa yang terjadi.

Depati dan pasukan menjadi tenang dan gembira, sekarang. Ternyata mereka berhadapan dengan jelmaan puyang pertapa sakti itu. Sejak saat itulah, puyang depati dikenal memiliki dua peliharaan sakti, harimau kumbang dan buaya kumbang. Mitos itu sampai sekarang masih diceritakan turun temurun di Kecamatan Sungai Keruh dan sekitarnya. Sampai sekarang juga di Sungai Keruh tidak ada buaya walau sungai cukup besar.
*****
Dari kebiasaan membuat lemang pada malam bulan purnama itulah. Penduduk Dataran Negeri Bukit Pendape akhirnya terbentuk tradisi membuat lemang. Lemang padi arang atau lemang ketan. Kebiasaan tersebut berlanjut turun temurun sampai harimau tidak ada lagi di zaman sekarang. Tradisi membuat lemang beramai-ramai masih dapat dijumpai di Desa Gajah Mati, Desa Kertayu, Desa Pagarkaya. Kadang juga penduduk membuat lemang secara pribadi.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 16 Juni 2020.
Arti Kata: Puyang; Pemimpin, gelar kehormatan, orang sudah tua. Hulubalang; Perwira. Pibang Kanan; Pedang khas penduduk Dataran Negeri Bukit Pendape. Pibang Kidau; pisau pasangan dari pibang kanan. Pendape; Nama bukit di Kecamatan Sungai Keruh, Musi Banyuasin.

Pedatuan: Kawasan berpemerintahan kecil yang bersifat genoalogis atau seketurunan (marga). Datu; Pemimpin talang; pemimpin kelompok (kepala desa). Talang; kampung, dusun, desa, pemukiman tradisional.

Dataran Negeri Bukit Pendape; Kawasan tradisional yang meliputi Kecamatan Sungai Keruh, Kecamatan Jirak Jaya, Kecamatan Pelakat Tinggi, Sebagian Kecamatan lain di wilayah seberang Kabupaten Musi Banyuasin. Ukuran wilayah dari tebing Sungai Musi sampai ke perbatasan Kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten PALI.

Sy. Apero Fublic.