6/19/2020

Puyang Buaye: Asal Usul Istilah Buaya Darat Pada Laki-Laki Penjahat Wanita

Apero Fublic.- Pada suatu masa, di Pedatuan Bukit Pendape muncul seorang laki-laki yang di sebut Puyang Buaye. Dia memiliki banyak istri, dengan cara menculik seorang gadis lalu dia bawa pergi dan dia sihir agar menuruti semua keinginannya.

Puyang Buaye atau Puyang Buaya adalah orang yang mampu mengendalikan buaya-buaya liar dan menyihir benda-benda menjadi buaya, batangan lidi, potongan kayu dan ranting-ranting. Kemampuan Puyang Buaye paling terkenal dapat berubah wujud menjadi seekor buaya dan memiliki ilmu memikat wanita.

Tidak ada yang tahu asal-usul Puyang Buaye. Namun, banyak yang bercerita kalau dia pelarian dari Pedatuan lain. Puyang Buaye datang pertama kali ke Pedatuan Bukit Pendape sebagai pedagang. Mungkin dia hanya memata-matai. Datang mengendarai sebuah perahu kajang yang dimuat gerabah, dan peralatan pertanian.

Kemudian dia menghilang setelah mengetahui seluk-beluk wilayah Pedatuan. Penduduk mengira pedagang itu pulang ke asalnya. Namun, ternyata diam-diam orang asing itu membangun rumah di tengah hutan belantara di kawasan Pedatuan Bukit Pendape.

*****

Suatu hari, terjadi peristiwa menggemparkan. Ada seorang gadis diperkosa oleh orang tidak dikenal. Dari kejadian itu, si gadis kemudian menjadi gila. Peristiwa buruk menimpa perempuan terus terjadi. Sering adanya gadis yang terkenal kecantikannya yang hilang tiba-tiba. Kadang ada pemerkosaan istri orang yang sedang seorang diri di rumah. Pedatuan Bukit Pendape yang damai sekarang berubah menjadi tidak aman. Penduduk tidak tenang, dan selalu berjaga-jaga.

Hal aneh berikutnya, sering ditemukan jejak buaya di tebing sungai-sungai berlumpur. Padahal kawasan Pedatuan Bukit Pendape tidak ada buaya sejak zaman dahulu.Ada juga serangan buaya di Sungai Keruh dan sungai lainnya. Menjadi tanda tanya besar bagi Puyang Depati, para datu dan masyarakat.

*****

Suatu hari, seorang gadis seorang berada di rumah seorang diri. Keluarga sedang berada di ladang, menugal. Menugal istilah menyebut menanam padi bergotong royong. Sudah menjadi adat kebiasaan orang Melayu kalau seorang gadis selalu di rumah. Membersihkan rumah, memasak dan menenun songket. Hal demikian dimaksudkan agar mereka terbiasa dan terlatih saat menikah nanti.

Siang itu, keadaan Talang Gajah Mati sedang lengang. Sebuah rumah yang terletak agak ketepi. Halaman rumah panggung basepat tampak bersih, sebab baru selesai di sapu. Seorang gadis di serambi depan sedang duduk menenun songket. Warna kuning emas khas songket Palembang. Berbaju kurung, berkain sepinggang, rambut ditutup dengan selendang songket.

Sementara itu, di Sungai Keruh tidak jauh dari rumahnya. Seekor buaya muncul dari dalam air, lalu merayap naik tebing sungai. Tampak tapak kakinya membenam di tanah berlumpur. Terus merayap menuju pemukiman penduduk Talang Gajah Mati.

******

Seorang pemuda berwajah tampan, berumur dua puluhan tahun. Menuju rumah dimana seorang gadis sedang menenun. Di menyapa dari halam rumah.

“Adindah apa nama talang ini?.” Dia bertanya.

“Talang Gajah Mati. Siapakah kakanda kiranya, dan mau ke mana?.” Jawab gadis cantik itu, dia berdiri di serambi rumahnya.

“Saya datang dari jauh, tanah seberang. Hendak berkelana dan melihat-lihat negeri-negeri Melayu.” Ujar si anak muda.

“Oh, begitu kiranya. Silahkan lanjutkan perjalanan kakanda. Saya masih banyak pekerjaan.” Jawab si gadis.

“Adinda, bolehkan kakanda mampir dan menumpang minum sebentar.” Kata si pemuda.

“Maaf kakanda, bukan tidak menghargai dan bermaksud menolak tamu. Tapi sudah menjadi adat istiadat kita orang Melayu. Seorang wanita yang sendiri, tidak boleh menerima tamu laki-laki. Baik itu gadis, istri orang tidak patut berdua dengan laki-laki yang bukan saudara kandungnya. Jangankan orang lain, saudara iparnya, atau saudara lain yang sudah jauh juga tidak boleh. Saya berharap, kakandan mengerti dengan adat istiadat kami.” Jelas si gadis. Kemudian dia kembali menenun dan tidak memperdulikan si pemuda itu.

Si pemuda itu berbalik, kemudian dia meracau membaca mantra-matra. Ada angin deras bertiup kencang. Kemudian menerpa si gadis itu. Entah apa yang terjadi membuat si gadis hilang kesadaran dirinya. Dia meresa dunia berbeda dan indah sekali.

Lupa akal sehatnya dan merasa sangat dekat dengan pemuda tadi. Dengan perlahan dia bangkit dan membuka pintu. Pemuda asing itu, naik tangga rumah dengan senyum lebar. Tampak taring dikedua belah giginya. Si pemuda masuk dan menutup pintu. Cukup lama mereka berdua di rumah si gadis. Setelah selesai dengan urusannya si pemuda asing itu pergi menuju Sungai Keruh. Saat di bibir tebing dia terjun kedalam sungai, lalu wujudnya berubah menjadi buaya.

******

Si gadis yang ditinggal tampak termenung. Dia baru sadar ketika mendengar kokok ayam. Dia merasa bingung dengan dirinya yang terbaring di kamarnya. Dia hanya memakai kain sebidang. Kemudian dia keluar dan tetap tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Hal demikian terjadi berlanjut beberapa bulan lamanya. Orang tua si gadis juga merasa aneh mengapa anak gadis demikian. Sering merenung, menyendiri dan menyendiri.

Di tempat lain kejadian serupa juga terjadi. Pemuda asing itu, datang dan pergi mendatangi gadis-gadis seperti itu. Dalam waktu beberapa bulan sudah puluhan korban si pemuda asing yang dapat berubah menjadi buaya. Banyak terjadi keributan dan keguncangan di setiap Talang penduduk.

Dimana mereka mendapati anak mereka hamil tampa menikah. Orang-orang tua juga merasa anak-anak gadis mereka baik-baik saja. Memiliki tabiat baik dan selalu menjaga kehormatan. Beberapa orang tua menyiksa anak mereka yang hamil tanpa bersuami. Namun apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak dapat mengetahui. Bahkan hampir saja orang tua membuh anak perempuannya.

Kejadian aneh itu menjadi perhatian serius Puyang Depati Pedatuan Bukit Pendape. Maka dia mengumpulkan semua datu-datu, tetua adat dan para hulubalang untuk bermusyawara. Untuk memecahkan permasalahan yang mereka hadapi bersama itu.

*****

Di Talang Sialang Rengas Kembo (Kembar), yang terletak di pinggir Sungai Sake. Dinamakan Talang Rengas Kembo karena di sisi talang terdapat dua pohon rengas besar yang tumbuh berdempet. Pohon rengas ukuran besar dan tinggi. Setiap musim bunga lebah selalu membuat sarang di dahannya. Sehingga penduduk selalu memanen madu pada waktunya.

Siang itu, seorang gadis berumur 20-an tahun sedang membersihkan rumah. Bernyanyi riang seraya menyapu lantai rumah dengan sapu ijuk, bertiang rotan semambu. Talang tampak sepi sekali bahkan hampir tidak ada penduduk. Hanya beberapa orang anak-anak yang bermain-main di halaman rumah mereka. Sementara itu, di perairan Sungai Sake muncul seekor buaya besar. Kemudian buaya itu menepi dan naik ke atas tebing sungai.

*****

“Hai, adik yang cantik nan baik hati. Boleh kakanda bertanya?.” Sapa pemuda tampan itu.

“Boleh, kakanda.” Jawab si gadis dengan lembut.

“Talang apakah ini, namanya?.” Tanya pemuda asing yang gagah perkasa.

“Talang Rengas Kembo.” Jawab si gadis, lalu bertanya juga. “Kakanda siapa, dan dari mana?.

“Kakanda dari negeri seberang yang jauh. Sedang berkelana hendak mencari pengalaman dan melihat negeri-negeri orang Melayu.” Jelas si pemuda muda itu. Dia berkata lagi.

“Adinda, boleh kakak menumpang minum beristirahat sebentar.” Tanyanya dengan senyuman rama.

“Maaf kakanda, adinda sedang sendiri di rumah. Keluarga adinda sedang di ladang. Adat dan budaya kami, seorang gadis, seorang wanita, tidak boleh menerima tamu laki-laki. Kalau tidak ada keluarga atau suaminya di rumah. Mohon dimengerti dan janglah tersinggung.” Jawab si gadis dan dia kembali menyapu. Sementara itu, dua pasang mata mengawasi keduanya dari balik semak-semak lebat.

“Oh, begitu. Baiklah.” Ujar si pemuda. Kemudian dia berbalik dan mulutnya membaca matera. Angin tiba-tiba berhembus dan menerpa si gadis. Entah apa yang terjadi, si gadis cantik tampak berubah seperti kehilangan akal sehatnya. Dia kemudian melepas sapu di tangannya. Lalu tersenyum manis pada pemuda asing itu.

Si gadis menyambut tangan si pemuda. Seakan dia menyambut kekasihnya yang sudah lama tidak bertemu. Pintu rumah di tutup dan keadaan sepi. Sementara itu, dua pasang mata yang mengawasi tadi bangkit. Lalu keduanya meniup tangan yang menimbulkan bunyi seperti bunyi suara burung. Berulang-ulang dan bersahut-sahut.

*****

“Gubrakkkkk. Prassss.” Pintu plapon rumah terbuka, terjun dua sosok laki-laki kekar. Lalu mencabut pibang. Kemudian tiga keranjang besar di sudut rumah terbuka dan dilempar dan keluar tiga orang laki-laki. Langsung menyerang si pemuda asing yang sedang memeluk si gadis. Dan hendak mencium wajahnya.

“Haiiiiiiii. Binatang busuk, tenyata dirimu yang berbuat ulah, merusak anak gadis orang dengan ilmu sihir. Biadabbbbb.” Suara-suara terdengar dari dalam rumah. Kemudian terdengar perkelahian yang diikuti bunyi denting suara pibang beradu.

“Braakkkkk.” Pagar jendela yang terbuat dari kayu hancur berantakan. Sebuah tubuh terpental dan jatuh di tanah. Empat orang juga melompat menyusul dan berdiri mengepung si pemuda asing. Si pemuda asing bangkit dan mencabut pibang kidau dari sarung yang terselip di depan perutnya.

Belum lagi habis keheranan si pemuda asing. Muncul dari setiap penjuru laki-laki bersenjata lengkap. Tampak Puyasng Depati dan hulubalang yang di ikuti prajurit dan datu-datu talang. Bukan hanya itu, puluhan masyarakat juga ikut. Dia terkurung dan terjepit sekarang.

“Ini rupa binatang yang suka merusak anak gadis orang. Mengganggu wanita-wanita bersuami.” Ujar Depati.

“Aku akan mencintang tubuhmu. Kau begitu bejat merusak anak gadisku. Untung aku tidak sampai membunuhnya. Ternyata dia kau pengaruhi dengan mantra sihir buayamu.” Ujar Orang itu.

“Ha..ha..ha..ha. Ya, memang aku. Kalian tidak akan bisa menghentikan aku.” Ujarnya dengan sombong, seraya menghapus darah melele dari pipinya. Depati memerintahkan pasukannya mengurung dan empat laki-laki tadi mulai menyerang lagi.

"Matilah kau penjahat kelamin." Teriak seorang penyerang. Empat penyerang adalah hulubalang Pedatuan.

Serangan bertubi-tubu dan serangan juga mengenai si pemuda asing itu. Tubuhnya terpental dengan dua luka sabetan, darah segar keluar dari mulutnya. Dia bangkit perlahan, dan pasukan pedatuan kembali mengurung. Mereka meminta pemuda asing itu untuk menyerah. Tiba-tiba si pemuda asing itu menaburkan kantong berisi bubuk ke udara. Membuat pedih mata-mata yang mau menangkapnya.

Beberapa kali dia terus menaburkan bubuk itu. Sehingga dia dapat meloloskan diri. Berlari terseok-seok menuju Sungai Sake. Dara menetes sepanjang jalan. Semua orang mengejar dan dia kembali terkurung di dekat tebing Sungai Sake. Depati dan para pengejarnya berjalan pelan mendesak ke tebing sungai. Semua merasa telah mengurung si pemuda asing itu.

“Wusss. Croottt.” Sebuah anak panah menancap di paha kirinya.

Sebentar lagi pemuda itu akan tertangkap pikir semua orang. Di sepanjang aliran sungai di sekeling telah dikepung pasukan dan masyarakat. Pemuda asing terus berlari terhuyung-huyung. Dia tersenyum lebar saat melihat air sungai di depan mata. Tanpa banyak pikir dia melompat ke dalam Sungai Sake yang berair kekuningan.

Bersamaan dengan itu, tubuhnya berubah menjadi buaya besar. Berenang dan menyelam lalu menghilang. Semua terkejut, dan baru menyadari kalau orang asing itu memiliki kemampuan berubah menjadi buaya atau berubah menjadi orang lain, mantera bersalin rupa.

*****

Puyang Mato Kilat Depati Pedatuan Bukit Pendape mengadakan musywara besar. Dia mengumumkan agar tidak membiarkan anak gadis atau perempuan di luar pengawasan. Untuk mengakhiri teror manusia yang memiliki sihir buaya. Harus dilakukan penyisiran besar-besaran disetiap sudut hutan dan sungai-sungai.

“Bagaimana menurut para datu dan puyang adat semua, dalam mengatasi masalah ini.” Tanya Depati.

“Walau bagaimanapun kesaktiannya, lelaki buaya itu pasti memiliki tempat. Kita dapat menelusuri jejak kakinya melalui sungai-sungai. Luka di tubuhnya juga belum dapat hilang dalam waktu singkat. Maka, kita tidak boleh menunda waktu harus bergerak cepat.” Kata Puyang Bijak Betua.

“Depati, menurut pengetahaun dari orang-orang tua. Apabila kita menghadapi ahli sihir sebagaimana sihir buaya. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dan ketahui. Pertama, kita tidak boleh hanyut dalam kata-kata penyihir. Misalkan dia berkata, "Saya akan berubah menjadi buaya." Maka kita lawan dalam pemikiran kita. Pikirkan dia tidak bisa menjadi buaya walau penglihatan kita dia telah berubah menjadi buaya. Kedua, kita jangan takut sebab yang tampak hanyalah penglihatan kita.” Ujar Datu Pagarkaye menjelaskan.

“Baiklah, saya rasa rapat kita selesai. Mulai dari sekarang persiapkan pasukan dan perbekalan. Bangun komunikasi dengan mempersiapkan pengantar informasi, bawa merpati pengantar surat. Buat tim-tim pencari untuk menelusuri jejak.” Kata Depati. Semua menjawab siap dengan meletakkan tangan di dada masing-masing. Percarian dimulai, dengan perahu dan rakit menyusuri sungai. Ada juga pasukan dari darat menerobos hutan.

*****

Seekor buaya hitam mengikuti perahu bidar Hulubalang Gatra. Tapi mereka tidak tahu sebab buaya mengikuti dari jarak yang cukup jauh. Perahu melaju perlahan menyusuri tebing Sungai Keruh. Memperhatikan setiap jengkal tebing mencari jejak buaya atau jejak manusia.

“Hulubalang, lihat disini ada bekas dara mengering dan ada jejak kaki manusia.” Seorang prajurit memberi tahu. Perahu Hulubalang Gatra mendekat tebing yang landai. Di tebing berlumpur tampak jejak kaki. Tetesan dara mengering, dan bekas jejak yang naik ke atas tebing. Hulubalang memerintahkan lima prajurit naik kedaratan. Hulubalang Gatra juga melompat ke atas tebing sungai.

Lima orang lagi berjaga di sekitar tebing. Mereka berenam berjalan bersama dengan kewaspadaan tinggi. Mengikuti tetes darah mengering. Ada bekas sesuatu terjatuh di rerumputan semak. Patahan anak panah tergeletak yang berlumuran darah.

“Tidak salah lagi, ini pasti jejak manusia keparat itu. Kirimkan informasi ke Depati, di hulu Sungai  dan perkiraan hutan Rimba Tinggi.” Perintah hulubalang Gatra. Merpati diterbangkan dan sampai ke tangan Depati Pedatuan. Hulubalang Gatra meninggal jejak arah mereka, agar dapat diikuti arah mereka. Sementara seluruh pasukan yang bertugas di tempat lain diperintahkan Depati menuju Hutan Rimba Tinggi utuk membantu Hulubalang Gatra.

Sekaran Hulubalang Gatra dan pasukannya  tiba di pinggiran lebung berair jernih. beberapa prajurit mendekat lebung dan hendak minum sekaligus mencuci muka.

Di seberang lebung, sesosok bayangan bertopeng mengintai. Kemudian dia mengeluarkan potongan lidi enau. Lalu melemparkan puluhan batang di air lebung. Kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu. Ajaib, setiap batangan lidi berubah menjadi buaya besar. Lalu menyelam berenang menuju dua prajurit yang sedang mencuci wajah.

“Buuaarrrrr.” Sepuluh buaya muncul kepermukaan air dan mendarat. Menyerang para prajurit yang sedang istirahat. Mereka semua sibuk mengadapi buaya itu. Tiba-tiba disekeliling mereka muncul puluhan buaya. Maka mereka dibuat kerepotan bukan kepalang. Sudah ada yang tergigit dan terluka akibat serangan buaya misterius. Beberapa buaya dapat dipenggal.

“Tar. Tar.” Suara lecutan selendang menghantam buaya-buaya itu. Bayangan hitam muncul dan menyerang buaya-buaya miterius itu. Saat terkena lecutan selendang hitam orang itu, buaya-buaya itu menghilang semua. Kini berdiri seorang lelaki tua berpakaian serba hitam.

“Siapakah Uwa kiranya.” Tanya Hulubalang. Lelaki tua itu duduk dan diikuti hulubalang dan pasukannya. Dia menyebut dirinya Puyang Buaye Kumbang. Dia memiliki murid durhaka bernama Sadarama dan telah menyalah gunakan ilmu yang dia ajari. Muridnya suka berbuat bejat mengganggu wanita-wanita. Muridnya telah pergi melarikan diri dua puluh tahun lalu. Dia takut kalau ilmu yang dia ajarkan dibuat untuk kejahatan. Dia datang untuk mencari dan menghukumnya. Hulubalang menceritakan kejadian-kejadian buruk di Pedatuan Bukit Pendape, dan ada kesamaan cerita dan kejadian. Mereka sepakat mencari bersama-sama Puyang Buaye yang bernama asli Sadarama.

*****

Sementara jauh ditengah belantara hutan, seorang laki-laki berumur empat puluh limaan tahun sedang duduk bersilah. Mata terpejam dan membaca mantera. Cuaca cerah berawan putih tiba-tiba berubah menjadi hitam dan angin berhembus kencang. Hujan turun dengan lebatnya. Laki-laki itu kemudian menaburkan potongan-potongan lidi ke genangan air hujan seraya terus menerus membaca mantera. Ajaib, semua batang lidi berubah menjadi buaya-buaya besar, ganas dan lapar. Lalu bergerak masuk hutan dan menghilang dibalik semak-semak.

Pasukan bantuan mulai memasuki Hutan Rimba Tinggi. Sementara Hulubalang Gatra, Puyang Buaye Kumbang dan pasukan terus masuk kedalam hutan. Hujan tidak menghalangi mereka, dan terus bergerak menacari Sadarama.

*****

Sementara Depati, Hulubalang, para datu talang, pasukan Pedatuan dan pemuda-pemuda terus bergerak mencari sesuatu di hutan Rimba Tinggi. Depati meminta mencari jejak Hulubalang Gatra dan jejak manusia lainnya. Tiba-tiba terdengar jeritan di mana-mana.

“Buaya.. buayaaaaa. Ahhhhh.” Teriakan dan jeritan memenuhi hutan. Mereka terkejut bagaimana bisa di dalam hutan yang jauh dari sungai-sungai banyak sekali buaya. Setiap mereka berhasil memenggal atau minikam buaya dengan tombak. Ada yang terluka dan tewas seketika diterkam buaya. Buaya-buaya muncul dan mucul membuat semuanya kewalahan.

“Ahhh.” Depati menjerit dia terkena kibasan ekor seekor buaya. Tubuhnya jatuh ketanah yang dipenuhi air hujan. Datu Puyang Bijak Betua mau membantu, tapi tiga ekor buaya menghadang. Sementara yang lain juga sibuk melawan buaya. Depati dalam bahaya besar, dua ekor buaya merangkak cepat menyerangnya yang terbanting di tanah.

“Tarr. Tarr. Taarr.” Lecutan selendang hitam muncul. Sosok bayangan hitam menghantam setiap buaya-buaya itu. Gerakan cepat menerobos hujan, tanpa henti terus menghancurkan buaya-buaya itu. Hulubalang Gatra membantu Depati dan pasukannya berjaga sekitar. Beberapa saat kemudian buaya-buaya itu menghilang karena serangan selendang hitam. Hujan mulai redah dan cuaca kembali cerah.

“Depati, tidak apa-apa.” Tanya Gatra. Depati mengangguk, mereka saling bertanya kabar. Dia mengenalkan Puyang Buaye Kumbang ke semuanya dan bercerita singkat.

“Depati, ada dua puluh orang yang gugur, lima belas luka para dan tiga puluh luka ringan.” Lapor hulubalang Katang. Depati memerintahkan membuat tenda perawatan dan segerah mengubur pasukan yang gugur. Setelah musyawara singkat mereka meneruskan pencarian, Puyang Buaye atau Sadarama.

*****

Mereka menemukan enam pondok, banyak anak-anak bermain. Puluhan ibu-ibu muda yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah. Menumbuk padi, menimbah air, memasak dan memotong kayu bakar. Ada yang sedang hamil dan beranak kecil. Disekeliling Talang kecil itu banyak kolam-kolam ikan. Di tengah pemukiman kecil itu ada rumah besar. Tampak seorang kakek-kakek berumur lima puluhan tahun sedang mengayam bubu.

“Kakek, boleh bertanya.” Tanya seorang prajurit Hulubalang Gatra. Si kakek mengangguk dan juga cuek.

“Apakah pernah menemukan seseorang laki-laki asing, yang tinggal di sekitar hutan ini.” Tanya Prajurit lagi.

“Pernah nak, dia tinggal jauh di sebelah bukit sana. Saya hanya sekali-sekali bertemu.” Jawabnya. Hulubalang melihat di halam rumah berserakan potongan lidi. Dia memperhatikan ibu-ibu yang tampaknya seperti tidak punya pikiran. Mereka kaku dan terus bekerja tanpa ada basa basih seperti wanita normal. Mereka seperti tidak memperdulikan kedatangan mereka. Pasukan Hulubalang terus menyelidiki dan menemukan lebih banyak potongan lidi.

“Laporkan pada depati dan Puyang Buaye Kumbang kalau kita banyak menemukan potongan lidi sebagaimana ciri-ciri yang disebutnya.” Prajurit itu mengangguk, dia melangkah pergi menemui pasukan yang mengepung talang kecil itu. Prajurit itu, tiba-tiba diserang seekor buaya yang melompat dari dalam kolam. Tubuhnya jatuh kedalam kolam dan menjadi mangsa buaya. Hulubalang terkejut, saat dia melihat si kakek telah mencabut keris dan menyerang dua prajurit hingga tewas.

“Heaaaaa.” Giliran hulubalang di serang dan terjadilah pertarungan hebat. Sisa pasukan juga diserang buaya yang keluar dari dalam kolam. Seorang prajurit meniup tangan tanda bahaya bagi mereka. Depati memerintahkan yang lainnya segerah membantu dan mengepung tempat itu. Ternya di dalam kolam adalah buaya asli yang dipelihara dan dikendalikan Puyang Buaye. Pertarungan terjadi, buaya-buaya satu demi satu tewas dipenggal pasukan. Ibu-ibu masuk mengurung diri di dalam rumah mereka.

“Sekarang menyerahlah manusia buaya.” Kata Hulubalang. Dia kemudian berhasil menyabetkan pibang di kedua kaki kakek-kakek itu. Sehingga dia jatuh dan berlutut tidak dapat berdiri. Perlahan wujudnya berubah menjadi laki-laki berumur empat puluhan tahun, wujud aslinya.

“Oh, ini rupanya wujud aslimu, manusia buaya.” Ujar Hulubalang Gatra.

“Aku belum kalah.” Dia tertawa, lalu membaca mantera. Tiba-tiba angin berhembus dan semua potongan lidi-lidi yang berserakan berubah menjadi buaya. Semua terkurung oleh ribuan buaya ganas yang lapar. Semua terkejut bukan kepalang. Mereka mulai putus asa, dan menyadari musuh mereka adalah musuh berat.

“Tar. Taarrr.” Tubuh Sadarama terpukul selendang hitam Puyang Buaye Kumbang. Seketika buaya sihir menghilang, dan Sadarama terkejut bukan kepalang.

“Guru.” Itulah seucap kata keluar dari mulutnya. Depati, para datu dan lainnya mendekat.

“Murid durhaka, sekarang kau akan dihukum atas kejahatanmu.” Kata Puyang Buaye Kumbang. Sadarama ketakutan dan kekuatannya sihirnya menghilang. Setelah semua berkumpul dan sepakat menghukum mati Sadarama. Depati memerintahkan hulubalang Gatra untuk menghukum pancung Sadarama. Puyang Buaye Kumbang menangis sedih dan dia langsung pamit pulang setelah melihat Sadarama dihukum mati.

Wanita-wanita yang diculik Sadarama kembali tersadar dan kembali ke rumah orang tuanya. Tangis haru mereka pecah saat berjumpa dengan keluarga. Tapi mereka sudah memiliki anak, laki-laki dan perempuan. Anak-anak Sadarama pun menikah dan memiliki anak cucu sampai sekarang. Kalau kalian menemukan buaya darat kemungkinan dia keturunan Sadarama atau Puyang Buaye.

Setelah kematian Sadarama, kehidupan Pedatuan Bukit Pendape kembali damai dan tenang. Sejak saat itu juga, setiap laki-laki yang suka mengganggu dan mempermainkan wanita di juluki, lelaki buaya.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 19 Juni 2020.
Ucap: Mantra. Lebung: Tempat penampungan air alami di dalam hutan tropis. Lebung berbentuk danau tapi ukurannya lebih kecil dari danau. Biasanya hanya selebar satu hektar dan airnya tergenang saja. Hanya di musim banjir hujan air lebung terisi dan menyatu dengan air sungai yang sedang banjir.

Lebung terletak di kawasan tanah renah. Renah: Kawasan banjir alami di wilayah banyak sungai-sungai. Hulubalang: Perwira. Puyang: Gelar kehormatan untuk orang yang memiliki kemampuan. Puyang juga berarti: Pemimpin. Ornag tua. Bangsawan. Buaye: Buaya. 

Pedatuan: Istilah nama kawasan masyarakat yang berpemerintahan sendiri pada masa lalu. Penduduk masih dalam ikatan kekeluargaan atau kepuyangan (genoalogis). Masa ini bentuk percampuran budaya sanskerta dan budaya asli orang Melayu. Datu: kepala desa pada masa Kelsultanan Palembang berganti Kerio. 

Pibang: Senjata tradisional masyarakat. Pibang Kidau berbentuk pisau yang diselipkan di depan perut atau pinggang pada kain yang melilit di pinggang. Pibang Kanan senjata berupa pedang khas masyarakat pedatuan.

Pedatuan suatu pemerintahan lokal dimana bersatunya para datu-datu. Kedatuan Sriwijaya bersatunya pedatuan-pedatuan di Kawasan Batanghari sembilan. 



[1]Tran: Tongkat atau sebatang kayu yang dipasang pada objek sehingga menjadi pegangan yang panjang. Semambu adalah nama jenis rotan besar dan memiliki elatissitas tinggi. Sehingga rotan semambu sering dijadikan kerangka kursi rotan.


Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment