6/19/2020

Puyang Buaye: Asal Usul Istilah Buaya Darat Pada Laki-Laki Penjahat Wanita

Apero Fublic.- Kisa mitos Puyang Buaye atau Puyang Buaya yang diceritakan oleh orang-orang tua di desaku hanya cerita terpotong-potong. Seperti pada cerita Puyang Buaye dapat mengendalikan buaya-buaya. Sehingga buaya-buaya liar patuh pada dirinya. Puyang Buaye dapat menyihir benda-benda mati seperti potongan kayu, rokok daun nipa menjadi buaya. Yang paling terkenal, Puyang Buaye dapat berubah menjadi seekor buaya dan ilmu pelet wanita.

Puyang Buaye juga memiliki kekejaman luar biasa dan memiliki banyak istri. Semua istrinya hasil dari menculik. Lalu dia sihir sehingga dalam pengaruh sihirnya.

Itulah penggalan-penggalan cerita Puyang Buaye yang aku dengar dari orang-orang tua di Desaku sewaktu aku masih kecil dulu. Berbekal penggalan cerita-cerita tersebut maka dirangkai menjadi sebuah kisah mitos berikut.

Secara logika, kisa mitos Puyang Buaye adalah bentuk pengaruh budaya perairan orang Melayu. Sehingga menghasilkan sastra bernuansa sungai dan alamnya.
*****
Pada masa yang lampau di Kawasan Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Pernah hidup seorang lelaki yang mampu menguasai dan mengendalikan buaya-buaya liar. Memiliki kemampuan sihir buaya. Tidak ada yang tahu asal-usul orang itu. Namun, banyak yang bercerita kalau dia pelarian dari Pedatuan lain.

Puyang Buaye datang pertama kali ke Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape sebagai pedagang. Mungkin dia hanya memata-matai. Berbekal sebuah perahu kajang dan jualan gerabah, peralatan pertanian.

Kemudian dia menghilang setelah mengetahui seluk-beluk wilayah Pedatuan. Penduduk mengira pedagang itu pulang ke asalnya. Namun, ternyata diam-diam orang asing itu membangun rumah di tengah hutan belantara.

Entah apa yang dia rencanakan atau memang dia suka hidup sendiri. Beberapa anak buaya dia bawak dan dipelihara di parit lebar yang mengeliling kediamannya. Lima tahun kemudian.
*****
Suatu hari, terjadi peristiwa menggemparkan. Ada seorang gadis diperkosa oleh orang tidak dikenal. Dari kejadian itu, si gadis kemudian menjadi gila. Kejadian beberapa waktu kemudian, sering adanya gadis yang hilang tiba-tiba. Ada juga terjadi pemerkosaan wanita bersuami dan anak perempuan.

Hal aneh berikutnya, sering ditemukan jejak buaya di tebing sungai berlumpur. Serangan buaya di Sungai Keruh dan Sungai sekitar terjadi. Semua merasa aneh sebab tidak ada buaya di kawasan Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape.

Penduduk Pedatuan berusaha menyelidiki, tapi tidak menemukan jejak sedikit pun. Hal demikian membuat penduduk menjadi resah dan gelisah. Waktu berlalu, hampir setiap tahun ada gadis yang hilang misterius. Pernah juga ada seorang istri hilang misterius. Wanita itu walau sudah menikah tapi dia tetap wanita cantik.
*****
Suatu hari, seorang gadis seorang berada di rumah seorang diri. Keluarga sedang berada di ladang. Sudah menjadi adat kebiasaan orang Melayu kalau seorang gadis selalu di rumah. Membersihkan rumah, memasak dan menenun songket. Hal demikian dimaksudkan agar mereka terbiasa dan terlatih saat menikah nanti.

Siang itu, keadaan Talang Gajah Mati sedang lengang. Sebuah rumah yang terletak agak ketepi. Halaman rumah panggung basepat tampak bersih, sebab barulah selesai di sapu. Seorang gadis di serambi depan sedang duduk menenun songket. Warna kuning emas khas songket Sumatera Selatan. Berbaju kurung, berkain Sepinggang, rambut ditutup dengan selendang songket.

Sementara itu, di Sungai Keruh tidak jauh dari rumahnya. Seekor buaya muncul dari dalam air, lalu merayap naik tebing sungai. Tampak tapak kakinya membenam di tanah berlumpur. Terus merayap menuju pemukiman penduduk Talang Gajah Mati.
******
Seorang pemuda berwajah tampan, berumur dua puluhan tahun. Menuju rumah dimana seorang gadis sedang menenun. Di menyapa dari halam rumah.
“Adindah apa nama talang ini?.
“Talang Gajah Mati. Siapakah kakanda kiranya? Dan dari mana?.” Jawab gadis cantik itu, dia berdiri di serambi rumahnya.
“Saya datang dari jauh, tanah seberang. Hendak berkelana dan melihat-lihat negeri-negeri Melayu di Sumatera.” Ujar si anak muda.
“Oh, begitu kiranya. Silahkan lanjutkan perjalanan kakanda. Saya masih banyak pekerjaan.” Jawab si gadis.
“Adinda, bolehkan kakanda mampir dan menumpang minum sebentar.” Kata si pemuda.
“Maaf kakanda, bukan tidak menghargai dan bermaksud menolak tamu. Tapi sudah menjadi adat istiadat kita orang Melayu. Seorang wanita yang sendiri, tidak boleh menerima tamu laki-laki. Apabila dia sendiri di rumah. Baik itu gadis, istri orang tidak patut berdua dengan laki-laki lain, yang bukan keluarga kandungnya. Jangankan orang lain, saudara iparnya, atau saudara lain yang sudah jauh juga tidak boleh. Saya berharap, kakandan mengerti dengan adat istiadat kami.” Jelas si gadis. Kemudian dia kembali menenun dan tidak memperdulikan si pemuda itu.

Si pemuda itu berbalik, kemudian dia meracau membaca mantra-matra. Ada angin deras bertiup kencang. Kemudian menerpa si gadis itu. Entah apa yang terjadi membuat si gadis hilang kesadaran dirinya. Dia meresa dirinya yang lain.

Lupa akal sehatnya dan merasa sangat dekat dengan pemuda tadi. Dengan perlahan dia bangkit dan membuka pintu. Pemuda asing itu, naik tangga rumah dengan senyum lebar. Tampak taring dikedua belah giginya. Si pemuda masuk dan menutup pintu. Cukup lama mereka berdua di rumah si gadis. Setelah selesai dengan urusannya si pemuda pergi menuju Sungai Keruh. Saat di bibir tebing dia terjun kedalam sungai, lalu wujudnya berubah menjadi buaya.
******
Si gadis yang ditinggal tampak termenung. Dia baru sadar ketika mendengar kokok ayam. Dia merasa bingung dengan dirinya yang terbaring di kamarnya. Dia hanya memakai kain sebidang. Kemudian dia keluar dan tetap tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Hal demikian terjadi berlanjut beberapa bulan lamanya. Orang tua si gadis juga merasa aneh mengapa anak gadis demikian. Sering merenung dan menyendiri.

Di tempat lain kejadian serupa juga terjadi. Pemuda asing itu, datang dan pergi mendatangi gadis-gadis seperti itu. Dalam waktu beberapa bulan sudah puluhan korban si pemuda asing yang dapat berubah menjadi buaya. Banyak terjadi keributan dan keguncangan di setiap pemukiman penduduk.

Dimana mereka mendapati anak mereka hamil tampa menikah. Orang-orang tua juga merasa anak-anak gadis mereka baik-baik saja. Memiliki tabiat baik dan selalu menjaga kehormatan. Beberapa orang tua menyiksa anak mereka yang hamil tanpa bersuami. Namun apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak dapat mengetahui. Bahkan hampir saja orang tua membuh anak perempuannya.

Tetua talang dan datu-datu talang juga merasa aneh dan heran. Sebab setiap tempat ada hal serupa terjadi. Bermusyawarahlah mereka di pedatuan untuk memecahkan masalah. Mencari tahu siapa pelaku perbuatan kotor dan biadab itu. Mereka kemudian mencari cara dengan cara menjebak pelaku.
*****
Di Talang Sialang Rengas Kembo, yang terletak di pinggir Sungai Sake. Dinamakan Talang Rengas Kembo karena di sisi talang terdapat dua pohon rengas besar yang tumbuh berdempet. Pohon rengas ukuran besar dan tinggi. Setiap musim bunga lebah selalu membuat sarang di dahannya. Sehingga penduduk selalu memanen madu pada waktunya.

Siang itu, seorang gadis berumur 20-an tahun sedang membersihkan rumah. Bernyanyi riang seraya menyapu lantai rumah dengan sapu ijuk, bertran semambu[1]. Talang tampak sepi sekali bahkan hampir tidak tampak penduduk. Hanya beberapa orang anak-anak yang bermain-main di halaman rumah mereka. Sementara itu, di perairan Sungai Sake muncul seekor buaya besar. Kemudian buaya itu menepi dan naik ke atas tebing sungai. Sungai Sake salah satu anak Sungai Keruh.
*****
“Hai, adik yang cantik nan manis. Boleh kakanda bertanya?.” Sapa pemuda tampan itu.
“Boleh, kakanda.” Jawab si gadis dengan lembut.
“Talang apakah ini, namanya?.
“Rengas Kembo Due.” Jawab si gadis. “Kakanda siapa, dan dari mana?.
“Kakanda dari negeri seberang yang jauh. Sedang berkelana hendak mencari pengalam dan melihat negeri-negeri orang Melayu.” Jelas si pemuda muda itu. Dia berkata lagi.
“Adinda, boleh kakak menumpang minum beristirahat sebentar.
“Maaf kakanda, adinda sedang sendiri di rumah. Keluarga adinda sedang di ladang. Adat dan budaya kami, seorang gadis, seorang wanita, tidak boleh menerima tamu laki-laki. Kalau tidak ada keluarga atau suaminya di rumah. Mohon dimengerti dan janglah tersinggung.” Jawab si gadis dan dia kembali menyapu. Sementara itu, dua pasang mata mengawasi keduanya dari balik semak-semak lebat.

“Oh, begitu. Baiklah.” Ujar si pemuda. Kemudian dia berbalik dan mulutnya membaca matera. Angin tiba-tiba berhembus dan menerpa si gadis. Entah apa yang terjadi, si gadis cantik tampak berubah seperti kehilangan akal sehatnya. Dia kemudian melepas sapu di tangannya. Lalu tersenyum manis pada pemuda asing itu.

Si gadis menyambut tangan si pemuda. Seakan dia menyambut kekasihnya yang sudah lama tidak bertemu. Pintu rumah di tutup dan keadaan sepi. Sementara itu, dua pasang mata yang mengawasi tadi bangkit. Lalu keduanya meniup tangan yang menimbulkan bunyi seperti bunyi suara burung. Berulang-ulang dan bersahut-sahut.
*****
“Gubrakkkkk. Prassss.” Pintu plapon rumah terbuka, terjun dua sosok laki-laki kekar. Lalu mencabut pibang. Kemudian tiga keranjang besar di sudut rumah hancur dan keluar tiga orang laki-laki. Langsung menyerang si pemuda asing yang sedang memeluk si gadis. Dan hendak mencium wajahnya.

“Haiiiiiiii. Binatang busuk, tenyata dirimu yang berbuat ulah, merusak anak gadis orang dengan ilmu sihir. Biadabbbbb.” Suara-suara terdengar dari dalam rumah. Kemudian terdengar perkelahian yang diikuti bunyi denting suara pibang beradu.

“Braakkkkk.” Pagar jendela yang terbuat dari kayu hancur berantakan. Sebuah tubuh terpental dan jatuh di tanah. Empat orang juga melompat menyusul dan berdiri mengepung si pemuda asing. Si pemuda asing bangkit dan mencabut pibang kidau dari sarung yang terselip di depan perutnya.

Belum lagi habis keheranan si pemuda asing. Muncul dari setiap penjuru laki-laki bersenjata lengkap. Tampak depati dan hulubalang yang di ikuti prajurit dan datu-datu talang. Bukan hanya itu, puluhan masyarakat juga ikut. Dia terkurung dan terjepit sekarang.

“Ini rupa binatang yang suka merusak anak gadis orang.” Ujar Depati.
“Aku akan mencintang tubuhmu. Kau begitu bejat merusak anak gadisku. Untung aku tidak sampai membunuhnya. Ternyata dia kau pengaruhi dengan mantra sihir cinta buaya-mu.” Ujar Orang itu.

“Ha..ha..ha..ha. Ya, memang aku. Kalian tidak akan bisa menghentikan aku.” Ujarnya dengan sombong. Depati memerintahkan pasukannya mengurung dan empat laki-laki tadi mulai menyerang.
"Marilah kau penjahat kelamin." Teriak seorang penyerang.

Serangan bertubi-tubu dan serangan juga mengenai si pemuda asing itu. Tubuhnya terpental dengan dua luka sabetan, darah segar keluar dari mulutnya. Dia bangkit perlahan, dan pasukan pedatuan kembali mengurung. Mereka meminta pemuda asing itu untuk menyerah. Tiba-tiba si pemuda asing itu menaburkan kantong berisi bubuk ke udara. Membuat pedih mata-mata yang mau menangkapnya.

Beberapa kali dia terus menaburkan bubuk itu. Sehingga dia dapat meloloskan diri. Berlari terseok-seok menuju sungai. Semua orang mengejar dan dia kembali terkurung di dekat tebing Sungai Sake. Depati dan para pengejarnya berjalan pelan mendesak ke tebing sungai. Semua merasa telah mengurung si pemuda asing itu.

Sebentar lagi pemuda itu akan tertangkap pikir semua orang. Di sepanjang aliran sungai di sekeling telah dikepung pasukan dan masyarakat. Pemuda asing terus berlari terhuyung-huyung. Dia tersenyum lebar saat melihat air sungai di depan mata. Tanpa banyak pikir dia melompat ke dalam Sungai Sake yang berair kekuningan.

Bersamaan dengan itu, tubuhnya berubah menjadi buaya besar. Berenang dan menyelam lalu menghilang. Semua terkejut, dan baru menyadari kalau orang asing itu memiliki kemampuan berubah menjadi buaya atau berubah menjadi orang lain, ucap atau mantera bersalin rupa.
*****
Depati Dataran Negeri Bukit Pendape, Puyang Mato Kilat memimpin rapat Pedatuan. Untuk mengakhiri teror manusia yang memiliki sihir berubah menjadi buaya. Di istana Pedatuan rapat di gelar. Datu-datu talang, para tetua, hulubalang dan panglima, juga diikuti masyarakat banyak. Depati bertanya pada sekalian.

“Bagaimana pendapat para puyang, dalam mengatasi masalah ini.” Tanya Depati pada para datu dan tetua atau dewan pedatuan. Salah seorang diantara tetua bernama Puyang Bijak Negeri berkata.

“Depati, menurut pengetahaun dari orang-orang tua. Apabila kita menghadapi ahli sihir sebagaimana sihir buaya. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dan ketahui. Pertama, kita tidak boleh hanyut dalam kata-kata penyihir. Misalkan dia berkata, "saya akan berubah menjadi buaya." Maka kita lawan dalam pemikiran kita. Pikirkan dia tidak bisa menjadi buaya walau penglihatan kita dia telah berubah menjadi buaya. Kedua, kita jangan takut sebab yang tampak hanyalah penglihatan kita. Maka dari itu, pelaku yang sudah terluka itu masih dapat kita lacak dan cari.” Kata Puyang Bijak Negeri.

“Puyang, bagaimana kita mencari pelaku itu. Sedangkan dia menghilang di dalam air sungai.” Tanya Datu Talang Pagarkaye.

“Begini, kita cari jejak-jejak kaki manusia dan kaki buaya di sungai-sungai. Lalu kita ikuti jejak itu. Kalau kita menemukan orang terluka sebagaimana waktu hari penyergapan. Maka orang itu kita selidiki. Walau wujud lain dari orang kemarin. Mungkin dia menggunakan mantera bersalin rupa.” Jelas Puyang Bijak Negeri.

Depati dan yang lainnya menerima nasihat beliau. Sehingga diputuskan untuk mencari jejak-jejak kaki buaya atau kaki manusia di tanah berlumpur disetiap tebing sungai. Depati memerintahkan hulubalang untuk memimpin penyelidikan. Pasukan dibuat unit-unit kecil terdiri sepulu orang prajurit dengan satu pimpinan. Pemuda dan penduduk juga ikut membantu, kemudian di setiap talang dilakukan penjagaan terutama dalam pengawasan anak perempuan.

Percarian dimulai, dengan perahu dan rakit semua bersama-sama mencari jejak. Burung merpati juga dibawak setiap unit untuk informasi.
*****
“Hulubalang, lihat disini ada bekas dara mengering dan ada jejak kaki manusia.” Seorang prajurit memberi tahu. Perahu Hulubalang Gatra mendekat tebing yang landai. Di tebing berlumpur tampak jejak kaki. Tetesan dara mengering, dan bekas jejak yang naik ke atas tebing. Hulubalang memerintahkan lima prajurit naik kedaratan. Hulubalang Gatra juga melompat ke atas tebing sungai.

Lima orang lagi berjaga di sekitar tebing. Mereka berenam berjalan bersama dengan kewaspadaan tinggi. Mengikuti tetes darah mengering. Ada bekas sesuatu terjatuh di rerumputan semak. Mereka terus dan tiba di pinggiran lebung berair jernih. Dua prajurit mendekat lebung dan hendak minum dan mencuci muka.

Di seberang lebung, sesosok bayangan bertopeng mengintai. Kemudian dia mengeluarkan rokok daun nipa dari balik bajunya. Membuka ikatan rokok daun nipa atau rokok pucuk. Mulutnya komat-kamit membaca matera. Lalu melemparkan rokok daun nipa ke dalam lebung.

Ajaib, setiap helai rokok daun nipa berubah menjadi buaya. Buaya itu, kemudian menyelam dan berenang menghampiri prajurit yang sedang mencuci wajah. Ketiga teman prajurit yang memang ditugaskan berjaga-jaga melihat bayang hitam di dalam air lebung yang jerni. Mereka melompat dan menarik dua temannya.

“Buuaarrrrr. Sepuluh buaya muncul kepermukaan air dan mendarat. Mereka berenam sibuk menhadapi buaya itu. Tiba-tiba disekeliling mereka muncul puluhan buaya. Maka mereka dibuat kerepotan bukan kepalang. Dalam keadaan genting tiba-tiba muncul buayan kumbang. Buaya itu kemudian menghantam setiap buaya hasil sihir Puyang Buaye.

“Terima kasih Puyang Buaye Kumbang.” Ujar mereka. Hulubalang memutuskan untuk pulang dan melapor ke Depati. Saat tiba di pedatuan, banyak laporan-laporan namun tidak begitu pasti. Hanyak laporan Hulubalang Gatra yang memuaskan. Mereka gembira karena Puyang Buaye Kumbang penjaga muara Sungai Keruh sudah mengetahui peristiwa ini.

Dengan demikian, seluruh energi digerakkan untuk menyerbu kawasan Lebung tersebut. Karena di pastikan tidak jauh dari sanalah sarang penyihir buaya. Rencana disusun, dengan sandi "serbuan lebung buaye. Penamaan lebung buaye menurut laporan hulubalang dimana mereka diserang buaya di lebung yang tidak bernama.
*****
Dalam perjalanan mereka ada yang berjalan kaki melalui daratan. Ada yang dari sungai-sungai, sehingga wilayah hutan lebung buaye terkepung. Entah mengapa dalam perjalanan itu, hari cerah berubah mendung tiba-tiba. Kemudian hujan turun dengan deras sekali. Membuat genangan air dimana-mana.

Walau hujan semuanya tidak surut langkah, mereka terus memburu manusia buaya busuk. Kejahatan harus di hentikan itulah yang mereka pikirkan. Tiba di sekitar lebung buaye semua mulai waspada. Tombak di genggang, pibang kanan dan pibang kidau di pegang. Dalam hujan semua menerobos masuk hutan lebung buaye.
*****
Di dalam hutan lebung buaye ada sebuah rumah panggung beratap daun rumbiah. Rumah sederhana itu tampak ramai. Ada puluhan anak-anak, dan puluhan wanita. Ada yang sedang hamil, ada yang baru hamil, ada yang masih muda dan sudah agak tua. Di sekeliling ada parit lebar dengan air. Tampak puluhan buaya besar di dalam parit-parit itu. Hanya ada satu jembatan kecil yang menghubung halam rumah itu ke luar. Hujan masih lebat dan bertambah lebat.

Seorang lelaki berumur lima puluhan tahu duduk bertapakur di bawah pohon diantara hujan. Matanya tajam, alis tebal, rambut putih panjang diikat dengan ikat kepala kulit hewan. Pibang kidau terselip didepan dadanya. Pibang kanan terselip di pinggang kiri. Mata terpejam dengan mulut komat-kamit membaca matera.

Lalu dia mengambil rokok daun nipa kembali. Bukan untuk merokok. Lalu dia menabur rokok daun nipa diantara hujan. Saat rokok terjatu di air hujan. Berubalah batangan rokok itu menjadi buaya-buaya ganas yang lapar. Ratusan bahkan ribuan buaya bermunculan dan bergerak memasuki hutan dan semak-semak.
******
Sementara Depati, Hulubalang, pasukan, para datu-datu dan pemuda-pemuda terus bergerak mencari sesuatu di hutan sekitar itu. Tiba-tiba terdengar jeritan di mana-mana.

“Buaya.. buayaaaaa. Ahhhhh.” Teriakan dan jeritan. Mereka bertarung hidup mati dengan buaya sihir itu. Setiap mereka berhasil memenggal atau minikam buaya. Yang terjadi buaya menghilang dan berubah menjadi helaian batang rokok daun nipa. Mereka yakin disekitar itu pasti ada tempat tinggal Puyang Buaye. Banyak yang terluka dan ada juga beberapa yang tewas. Meningkatkan kewaspadaan mereka terus melangkah tak kenal gentar. Mereka semua ingat pesan Puyang Bijak Negeri kalau mereka tidak boleh takut dan melawan sugesti tentang buaya.

Melalui pertarungan berat dan banyak yang terluka. Bahkan depati hampir tewas kalau tidak para pengawalnya sigap. Mereka tiba di sekeliling rumah sederhana yang besar di tengah hutan. Banyak anak-anak dan wanita-wanita. Seorang kakek-kakek tampak sedang menganyam bubu. Puyang Depati dan yang lain mengawasi. Lalu mereka menyelidiki dan memperhatikan sekitar, tetap waspada.

“Ada apa kalian ramai-ramai ke sini. Mampirlah ke rumah kami yang sederhana ini.” Ujar orang tua berumur lima puluhan tahun itu.
“Kami sedang berburu buaya yang jahat, busuk, dan licik.” Ujar Hulubalang Gatra dengan keras. Pembawaanya sebagai perwira memang keras.
“Apakah kakek, tahu tentang orang yang memiliki sihir buaya.” Seorang prajurit bertanya.
“Tidak tahu dan tidak mengerti dengan yang kalian maksud.” Ujar si kakek, dan mempersilahkan depati dan para datu-datu untuk naik ke serambi rumahnya. Mereka naik dan duduk di serambi, kemudian dua orang wanita muda membawa wadah air dan makanan, singkong, pisang, buah-buahan.

“Mari semuanya, dimakan dan diminum air nira hangatnya.” Ujar kakek itu. Datu Talang Rantau Sialang memperhatikan seorang wanita berumur 30-an tahun di hadapan menghidangkan makanan. Dia merasa dekat dan tidak asing dengan wanita itu. Tiba-tiba dia teringat dengan anaknya yang hilang 15 tahun lalu. Tapi dia berusaha menolak pemikirannya.

Begitu juga seorang pemuda yang berdiri di halaman. Dia melihat wanita satunya dan merasa kenal dan dekat juga. Sekilas dia ingat kakaknya yang hilang sepuluh tahun lalu. Keadaan mulai aneh sekarang.

Makanan banyak di hidangkan. Tidak enak rasanya kalau menolak kebaikan orang. Pikir mereka semua, depati, datu-datu, dan beberapa orang tetua.

Sementara itu, lima orang pasukan yang ditugaskan melakukan penelitian disekitar itu melaporkan pada hulubalang.
“Hulubalang, kami menemukan banyak batangan rokok daun nipa disekitar rumah kekek ini. Kami juga merasakan kalau di dalam parit lebar itu ada banyak hewan besar. Namun tidak dapat memastikan. Saat kami mencuci wajah, terdengar getaran rongga mahluk hidup.” Ujar prajurit.

Kemudian mereka menyerahkan ratusan batang rokok daun nipa. Hulubalang mulai curiga dan memang dari tadi dia sudah merasa aneh. Anak-anak di dalam rumah semuanya terdiam tanpa bergerak. Seperti disihir atau dikendalikan. Hulubalang melihat depati mengangkat kendi nira panas. Lalu menuangkan kedalam cankir bambu.

Hulubalang Gatra melihat dari sisi serambi merasa curiga. Dia mencabut pibang kidaunya. Lalu melemparkan ke arah kendi dan mengenai tepat. Kendi pecah dan semua terkejut bukan kepalang. Depati para datu-datu, dan tetua marah pada hulubalang yang dianggap tidak sopan. Hulubalang meminta semua bersiaga, kemudian dia berlari melompat ke serambi rumah.

“Maaf depati, tidakkah depati lihat dengan air nira itu, kehijauan. Seharusnya air  nira kekuningan.” Kata hulubalang. Lalu dia mengambil potongan ubi rebus dan melemparkan ke anjing peliharaan si kakek. Anjing lapar itu makan, beberapa potong. Begitu juga ayam-ayam berebutan makan yang dilemparkan Hulubalang. Hulubalang memperhatikan si kakek yang tampak terkejut dan wajahnya pucat.

“Saya perhatikan kakek berjalan pincang, dan ada luka di jari-jari tangan.” Tanya Hulubalang. Si kakek terdiam dan matanya memandang kesekeliling tamunya.
“Aku terjatu dari pohon kelapa, dan kaki tergores benda tajam.” Jawab agak terbata-bata.
“Hulubalang, makanannya beracun.” Semuanya terkejut melihat ayam dan anjing mulutnya berbusa.

“Racun ular.” Teriak yang lain. Semuanya bangkit dan mencabut pibang. Si kakek juga bangkit dan mencabut pibang. Mulutnya komat-kamit dan kemudian melompat ke luar serambi dan berdiri di halam rumah. Dia menghindari terjepit di serambi, tapi prajurit dan pemuda mengurung langsung.

“Puyang Buaye, sekarang menyerahlah.” Ujar depati yang menyusul melompat ke halaman. Puyang Buaye terkepung ratusan orang. Tapi dia tidak gentar, dan tertawa keras. Dia meremehkan semuanya. Puyang Buaye melempar sesuatu ke air parit yang tenang. Bersamaan itu, muncul ratusan buaya asli. Buaya-buaya itu naik ke darat dan menyerang semuanya.

Tangan Puyang Buaye kembali menabur rokok daun nipa dan berubah menjadi buaya. Membuat semua orang kerepotan bertarung mati-matian melawan buaya asli dan buaya sihir. Puyang Buaye juga tidak segan menikam musuh yang lengah sehingga beberapa saat sudah ada yang tewas di tangan Puyang Buaye.

Puyang Buaye berdiri dilindungi puluhan buaya. Sehingga dia tidak dapat di serang. Saat buaya-buaya sihir mulai kalah. Kembali dia menaburkan rokok daun nipa dan bertambah lagi buaya-buaya sihir yang menyerang. Mereka semuanya kewalahan dan mulai putus asa.

Dalam keadaan terdesak, terdengar auman harimau. Muncul harimau kumbang yang menyerang buaya-buayan juga. Kemudian muncul buaya kumbang dan menyerang semua buaya sihir. Puyang Buaye terkejut dengan kemunculan harimau kumbang dan buaya kumbang.

Pasukan buaya habis terpenggal dan ditembus tombak. Begitu juga buaya sihir di hajar harimau kumbang dan buaya kumbang. Kini tinggal Puyang Buaye yang terkepung. Hulubalang Gatra yang sudah sangat geram. Menyerang Puyang Buaya dan terjadilah duel hidup mati. Akhirnya, pibang hulubalang gatra dapat menebas dua kaki puyang buaye sehingga dia tidak dapat berdiri. Maka, dia terpaksa berlutu saja.

“Wahai sekalian rakyat Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape, telah kita temukan lelaki busuk dan tidak berhati nurani seperti hewan. Dia manusia bersifat hewan buas yang dapat hidup di darat dan di air, yaitu buaya. Telah melanggar adat Melayu, merusak anak gadis orang. Atas kejahatannya, orang ini entah siapa namanya. Tapi kita sebut saja dengan Puyang Buaye. Agar kelak orang yang mengetahui ceritanya menyebut Puyang Buaye. Apabila kita menemukan lelaki buruk yang mempermainkan wanita, merusak wanita, berbuat keji pada wanita. Maka dia sama seperti orang ini, lelaki buaye. Maka, saya depati mewakili keadilan rakyat memberikan hukuman mati dengan cara di penggal.” Mendengar semua perkataan depati, semua setuju. Maka Puyang Buaye di penggal dan sebagai pelaksana eksekusi Hulubalang Gatra.
******
Setelah Puyang Buaye tewas dengan kepala terpotong. Maka sihir berakhir semua. Sepuluh wanita dan anak-anak menjadi sadar. Mereka keluar rumah dan memperhatikan kesekeliling. Mereka melihat banyak manusia yang tidak mereka kenal.

Seorang wanita yang tadi dilihat Datu Talang Rantau Sialang ternyata memang anaknya yang hilang limabelas tahun lalu. Dia ingat anaknya pergi mandi di Sungai Sake seorang diri. Namun tidak pernah pulang dan telah dicari kemana-mana. Ternyata dia diculik oleh Puyang Buaye.

“Bakkkkkkkk. Bakkkkkkk.” Dia berlari menghampiri Datu Talang Rantau Sialang sambil menangis. Semua sadar kalau semua wanita itu adalah salah satu keluarga diantara mereka yang hilang sejak lama. Maka, yang hilang kembali pulang dan diterima keluarga dengan baik.

Dengan demikian, cerita Puyang Buaye tersebar kemana-mana. Sampai sekarang mitos Puyang Buaye masih hidup di tengah masyarakat Melayu. Itulah mengapa, pada zaman kita sekarang apabila seorang lelaki yang selalu mempermainkan wanita, berbuat buruk pada wanita, memperkosa wanita. Maka laki-laki tersebut dinamakan Lelaki Buaya atau Buaya Darat.

Untuk buaya kumbang dan harimau kumbang adalah mitos lain yang dipercaya masyarakat penjaga masyarakat Kawasan Bukit Pendape atau sekarang dikenal dengan Kecamatan Sungai Keruh, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 19 Juni 2020.
Ucap: Mantra. Lebung: Tempat penampungan air alami di dalam hutan tropis. Lebung berbentuk danau tapi ukurannya lebih kecil dari danau. Biasanya hanya selebar satu hektar dan airnya tergenang saja. Hanya di musim banjir hujan air lebung terisi dan menyatu dengan air sungai yang sedang banjir.

Lebung terletak di kawasan tanah renah. Renah: Kawasan banjir alami di wilayah banyak sungai-sungai. Hulubalang: Perwira. Puyang: Gelar kehormatan untuk orang yang memiliki kemampuan. Puyang juga berarti: Pemimpin. Ornag tua. Bangsawan. Buaye: Buaya. 

Pedatuan: Istilah nama kawasan masyarakat yang berpemerintahan sendiri pada masa lalu. Penduduk masih dalam ikatan kekeluargaan atau kepuyangan (genoalogis). Masa ini bentuk percampuran budaya sanskerta dan budaya asli orang Melayu. Datu: kepala desa pada masa Kelsultanan Palembang berganti Kerio. 

Pibang: Senjata tradisional masyarakat. Pibang Kidau berbentuk pisau yang diselipkan di depan perut atau pinggang pada kain yang melilit di pinggang. Pibang Kanan senjata berupa pedang khas masyarakat pedatuan.

Pedatuan suatu pemerintahan lokal dimana bersatunya para datu-datu. Kedatuan Sriwijaya bersatunya pedatuan-pedatuan di Kawasan Batanghari sembilan. 



[1]Tran: Tongkat atau sebatang kayu yang dipasang pada objek sehingga menjadi pegangan yang panjang. Semambu adalah nama jenis rotan besar dan memiliki elatissitas tinggi. Sehingga rotan semambu sering dijadikan kerangka kursi rotan.


Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment