-->
Search
24 C
en
  • Penerbit MAF
  • Apero Book
  • JAF
  • LinkedIn
APERO FUBLIC
Terbitkan Artikel Anda
  • Apero Fublic
  • Popular
    • Politik
    • Ekonomi
    • Fotografi
    • Dunia Anak
    • Sosial & Masyarakat
  • Apero Fublic
  • Women
    • Women
    • Tokoh Wanita
    • Skil Wanita
    • Ibu dan Anak
    • Pendidikan & Kesehatan Wanita
  • Gatget
    • Video
  • World
  • Video
  • Featured
    • Penyakit Masyarakat
    • About
    • e-Galeri
    • Post Search
    • Daftar Kata
    • Peribahasa
    • Antologi Puisi INew
    • Antologi Puisi IINew
  • Find
    • Download Artikel
    • Download Feature
    • Andai-Andai
    • Post All
    • Flora Pangan
    • Fauna
    • Picture IndonesiaNew
    • Kamus Bahasa MusiNew
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Brand
    • Sport
    • Fashion
    • Fitness
    • Sunset-Sunrise
    • HijrahNew
    • NasihatNew
APERO FUBLIC
Search

Ruang Sponsor Apero Fublic

Ruang Sponsor Apero Fublic
Home Mitos Puyang Buaye: Asal Usul Istilah Buaya Darat Pada Laki-Laki Penjahat Wanita
Mitos

Puyang Buaye: Asal Usul Istilah Buaya Darat Pada Laki-Laki Penjahat Wanita

PT. Media Apero Fublic
PT. Media Apero Fublic
19 Jun, 2020 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
APERO FUBLIC.- Puyang Buaye adalah andai-andai asal usul munculnya istilah lelaki buaya yang suka mempermainkan wanita dan berbuat tidak sopan pada kaum wanita. Buaye dalam bahasa Indonesia berarti buaya.

*****

Suatu hari, seorang gadis seorang berada di rumah seorang diri. Keluarga sedang berada di ladang, menugal padi. Menugal istilah penyebutan menanam padi bergotong royong. Sudah menjadi adat kebiasaan orang Melayu kalau seorang gadis selalu di rumah. Membersihkan rumah, memasak dan menenun songket. Hal demikian dimaksudkan agar mereka terbiasa dan terlatih saat menikah nanti.

Siang itu, keadaan Talang Lebang sedang lengang. Sebuah rumah yang terletak agak ketepi. Halaman rumah panggung tipologi basepat tampak bersih, sebab baru selesai di sapu. Seorang gadis di serambi depan sedang duduk menenun songket. Warna kuning emas khas songket Palembang. Dia berbaju kurung bersulam benang emas, berkain sepinggang, rambut panjangnya diselimuti dengan selendang songket. Betapa caniknya gadis Melayu.

Sementara itu, di Sungai Keruh tidak jauh dari rumahnya. Seekor buaya besar muncul dari dalam air, lalu merayap naik tebing sungai. Tampak jejak kakinya membenam di tanah berlumpur. Terus merayap menuju pemukiman penduduk Talang Leban, lalu menghilang di semak-semak.

*****

Seorang pemuda berwajah tampan, berumur dua puluhan tahun. Berjalan santai di jalanan bedebu pasir puti. Tanjak songket bersulam benang biru melingkar di kepalanya. Baju kurung berlengan panjang, celana pajang kuning, dan di pinggangnya melingkar kain songket merah. Dia berjalan melewati sebuah rumah.

“Permisi, maaf menggangu adinda. Bolehkah tahu apa nama talang ini.” Tanya pemuda tampan itu dengan ramah, diikuti senyum manis.

“Talang Leban namanya kanda. Siapakah kakanda kiranya, dan mau ke mana.” Jawab gadis cantik itu, dia berdiri di serambi rumahnya. Tampak malu-malu dengan kerudung songket itu.

“Saya datang dari jauh, dari bumi pedatuan seberang. Hendak berkelana dan melihat-lihat negeri-negeri Melayu.” Ujar si anak muda. Tampak tangannya memegang sebuah senjata, dan pedang menggantung di pinggangnya.

“Oh, begitu kiranya. Silahkan lanjutkan perjalanan kakanda. Saya masih banyak pekerjaan.” Jawab si gadis.

“Adinda, bolehkan kakanda mampir dan menumpang minum sebentar.” Kata si pemuda.

“Maaf kakanda, bukan tidak menghargai dan bermaksud menolak tamu. Tapi sudah menjadi adat istiadat kita orang Melayu. Seorang wanita yang sendiri, tidak boleh menerima tamu laki-laki. Baik itu gadis, istri orang tidak patut berdua dengan laki-laki yang bukan saudara sekandungnya. Jangankan orang lain, saudara iparnya, atau saudara lain yang sudah jauh juga tidak boleh. Saya berharap, kakanda mengerti dengan adat istiadat kita ini.” Jelas si gadis. Kemudian dia kembali menenun dan tidak memperdulikan si pemuda itu. Si pemuda itu berbalik, kemudian dia meracau membaca mantra-matra.

“Hum, segalah puyang aingin, datu segalah penjuru. Tanah berkuasa tas langit. Langit mengunci hati dan pikiran. Berbalik arah matahari terbit. Hujan dan malam begitu gelap. Hum. Hum. hum” Pemuda itu menghentakan kaki tiga kali ke bumi.

Ada angin deras bertiup kencang. Kemudian menerpa si gadis itu. Entah apa yang terjadi membuat si gadis hilang kesadaran dirinya. Dia meresa dunia berbeda dan indah sekali. Lupa akal sehatnya dan merasa sangat dekat dengan pemuda yang belum dia kenal. Tapi seakan dia sangat mencintainya.

Dengan perlahan dia bangkit dan membuka pintu serambi yang sebatas pinggang tingginya. Pemuda asing itu, naik tangga rumah dengan senyum lebar. Tampak taring dikedua belah giginya. Si pemuda masuk dan menutup pintu. Cukup lama mereka berdua di rumah si gadis. Setelah selesai dengan urusannya si pemuda asing itu pergi menuju Sungai Keruh. Saat di bibir tebing dia terjun ke dalam sungai, lalu wujudnya berubah menjadi buaya.

*****

Si gadis yang ditinggal tampak termenung. Dia baru sadar ketika mendengar kokok ayam. Dia merasa bingung dengan dirinya yang terbaring di kamarnya. Dia hanya memakai kain sebidang. Kemudian dia keluar dan tetap tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Hal demikian terjadi berlanjut beberapa bulan lamanya. Orang tua si gadis juga merasa aneh mengapa anak gadis demikian. Sering merenung, menyendiri dan menyendiri.

Di tempat lain kejadian serupa juga terjadi. Pemuda asing itu, datang dan pergi mendatangi gadis-gadis seperti itu. Dalam waktu beberapa bulan sudah puluhan korban si pemuda asing yang dapat berubah menjadi buaya. Banyak terjadi keributan dan keguncangan di setiap Talang penduduk.

Dimana mereka mendapati anak mereka hamil tampa menikah. Orang-orang tua juga merasa anak-anak gadis mereka baik-baik saja. Memiliki tabiat baik dan selalu menjaga kehormatan. Beberapa orang tua menyiksa anak mereka yang hamil tanpa bersuami. Namun apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak dapat mengetahui. Bahkan hampir saja orang tua membuh anak perempuannya.

Kejadian aneh itu menjadi perhatian serius Depati Puyang Pedatuan Bukit Pendape. Maka dia mengumpulkan semua datu-datu semua talang, jurai tue dan panglima dan hulubalang, para puyang untuk bermusyawara. Untuk memecahkan permasalahan yang mereka hadapi bersama itu.

“Aku punya ide, yang mungkin cukup baik untuk mengatasi permasalahan ini.” Usul Depati.

“Baiklah, kita akan mencoba apa rencana Depati.

“Siapa diantara kalian yang punya anak perawan, yang cantik dan baik.” Tanya Depati, mereka saling pandang di dalam ruangan Balai Datu. Tapi sepertinya mereka mulai menangkap maksud dari pertanyaan Depati.

*****

Di Talang Sialang Rengas, yang terletak di pinggir Sungai Sake. Dinamakan Talang Rengas karena di sisi talang terdapat dua pohon rengas besar yang tumbuh berdempet. Pohon rengas ukuran besar dan tinggi. Setiap musim bunga lebah selalu membuat sarang di dahannya. Sehingga penduduk selalu memanen madu pada waktunya.

Siang itu, seorang gadis berumur dua puluhan tahun sedang membersihkan rumah. Bernyanyi riang seraya menyapu lantai rumah dengan sapu ijuk, bergagang rotan semambu. Talang tampak sepi sekali bahkan hampir tidak ada penduduk. Hanya beberapa orang anak-anak yang bermain-main di halaman rumah mereka. Karena penduduk berada di ladang mereka, sibuk mengetam padi. Sementara itu, di perairan Sungai Sake muncul seekor buaya besar. Kemudian buaya itu menepi dan naik ke atas tebing sungai dan menghilang di semak-semak.

*****

“Dua rumpun serai ditanam.
Ditanam di samping dapur.
Biarpun bercerai dan tanam.
Tanam cinta takkan hancur.”

Gadis cantik itu berpantun dengan bahasanya. Arti dari pantunyya itu. Biar berpisah atau meninggal. Kalau cinta tidak akan hilang semalanya. Kali ini dia menyapu di tangga depan rumah. Halaman rumah tampak berumput hijau dan banyak ternak merumput. Dari jauh terdengar anak-anak bermain dan koko ayam jantan. Tiba-tiba.

“Hai, adik yang cantik nan baik hati. Boleh kakanda bertanya.” Sapa pemuda tampan itu. Gadis itu terkejut, seketika dia berhenti menyapu dan berdiri di anak tangga papan.

“Boleh, kakanda.” Jawab si gadis dengan lembut.

“Talang apakah ini, namanya?.” Tanya pemuda asing yang gagah perkasa.

“Talang Sialang Rengas.” Jawab si gadis, lalu bertanya juga. “Kakanda siapa, dan dari mana?.

“Kakanda dari bumi pedatuan seberang yang jauh. Sedang berkelana hendak mencari pengalaman dan melihat negeri-negeri orang Melayu.” Jelas si pemuda muda itu.

“Oh, silahkan kakanda melanjutkan perjalanan.” Kata si gadis, dia hendak naik ke rumah.

“Adinda, boleh kakak menumpang minum beristirahat sebentar.” Tanyanya dengan senyuman rama.

“Maaf kakanda, adinda sedang sendiri di rumah. Keluarga adinda sedang di ladang mengetam padi. Adat dan budaya kita, seorang gadis, seorang wanita, tidak boleh menerima tamu laki-laki. Kalau tidak ada keluarga atau suaminya di rumah. Mohon dimengerti dan janglah tersinggung.” Jawab si gadis dan melangkah ke rumah dan menutup pintu. Sementara itu, tanpa diketahui oleh pemuda itu. Dua pasang mata mengawasi keduanya dari balik semak-semak lebat tidak jauh dari rumah panggung itu.

“Oh, begitu.” Ujar si pemuda. Kemudian dia berbalik dan mulutnya membaca matera. Angin tiba-tiba berhembus dan masuk rumah melalui jendela terbuka lalu menerpa si gadis. Entah apa yang terjadi, si gadis cantik tampak berubah seperti kehilangan akal sehatnya. Dia kemudian melepas sapu di tangannya. Lalu tersenyum manis pada pemuda asing itu.

Si gadis membuka pintu dan mengulurkan tangannya. Seakan dia menyambut kekasihnya yang sudah lama tidak bertemu. Pintu rumah di tutup kembali dan keadaan sepi. Sementara itu, dua pasang mata yang mengawasi tadi bangkit. Lalu keduanya meniup tangan yang menimbulkan bunyi seperti bunyi suara burung. Berulang-ulang dan bersahut-sahut.

*****

“Gubrakkkkk. Prassss.” Pintu plapon rumah terbuka, terjun dua sosok laki-laki kekar. Lalu mencabut pibang kidau dan pibang kanan. Kemudian tiga keranjang bunang besar di sudut rumah terbuka dan di lempar dan keluar tiga orang laki-laki. Langsung menyerang si pemuda asing yang sedang memeluk si gadis. Dan hendak mencium wajahnya.

“Haiiiiiiii. Binatang busuk, tenyata dirimu yang berbuat ulah, merusak anak gadis orang dengan ilmu sihir.

“Biadabbbbb.” Suara-suara terdengar dari dalam rumah. Kemudian terdengar perkelahian yang diikuti bunyi denting suara senjata beradu. Dari ruangan tengah rumah juga muncul empat prajurit terlati pedatuan.

“Braakkkkk.” Pagar jendela yang terbuat dari kayu hancur berantakan. Sebuah tubuh terpental dan jatuh di tanah. Empat orang juga melompat menyusul dan berdiri mengepung si pemuda asing. Si pemuda asing bangkit dan mencabut pibang kidau dari sarung yang terselip di depan perutnya.

Belum lagi habis keheranan si pemuda asing. Muncul dari setiap penjuru laki-laki bersenjata lengkap. Tampak Depati, Datu Talang Sialang Rengas, dan hulubalang yang di ikuti prajurit. Bukan hanya itu, puluhan warga juga ikut. Dia terkurung dan terjepit sekarang.

“Ini rupa binatang yang suka merusak anak gadis orang. Mengganggu wanita-wanita bersuami.” Ujar Depati.

“Aku akan mencintang tubuhmu. Kau begitu bejat merusak anak gadisku. Untung Aku tidak sampai membunuhnya. Ternyata dia kau pengaruhi dengan mantra sihir buayamu.” Ujar Orang itu.

“Ha..ha..ha..ha. Ya, memang Aku. Kalian tidak akan bisa menghentikan Aku.” Ujarnya dengan sombong, seraya menghapus darah melele dari pipinya. Depati memerintahkan pasukannya mengurung dan empat laki-laki tadi mulai menyerang lagi.

"Matilah kau penjahat kelamin." Teriak seorang penyerang. Empat penyerang adalah hulubalang Pedatuan.

Serangan bertubi-tubu dan serangan juga mengenai si pemuda asing itu. Tubuhnya terpental dengan dua luka sabetan, darah segar keluar dari mulutnya. Dia bangkit perlahan, dan pasukan pedatuan kembali mengurung. Mereka meminta pemuda asing itu untuk menyerah. Tiba-tiba si pemuda asing itu menaburkan kantong berisi bubuk ke udara. Membuat pedih mata-mata yang mau menangkapnya.

Beberapa kali dia terus menaburkan bubuk itu. Sehingga dia dapat meloloskan diri kepungan. Berlari terseok-seok menuju Sungai Sake. Dara menetes sepanjang jalan. Semua orang mengejar dan dia kembali terkurung di dekat tebing Sungai Sake. Depati dan para pengejarnya berjalan pelan mendesak ke tebing sungai.

“Wusss. Croottt.” Sebuah anak panah menancap di paha kirinya.
“Aaakkkk.” Pemuda asing itu menjerit.

Sebentar lagi pemuda itu akan tertangkap pikir semua orang. Di sepanjang aliran sungai di sekeling telah dikepung pasukan dan masyarakat. Pemuda asing terus berlari terhuyung-huyung. Dia tersenyum lebar saat melihat air sungai di depan mata. Dia tidak memperdulikan prajurit di sekitar tebing. Tanpa banyak pikir dia melompat menaburkan debu-debu yang membuat para pengepung hilang kosentrasi. Bersamaan dengan itu tubunya jatuh berguling dari atas tebing dan masuk kedalam air.

“Kemana keparat licik itu.” Tanya seorang prajurit. Depati dan yang lainnya datang di bibir tebing sungai. Dia hanya melihat gelombang permukaan air.

“Burrrrr.” Ekor buaya melibat permukaan tanda berenang menyelam. Semua tahu kalau orang itu dapat beruba menjadi buaya atau menjadi manusia.

*****

Depati Puyang Mato Kilat mengadakan musywara besar besok paginya. Dia mengumumkan agar tidak membiarkan anak gadis sendiri di rumah. Begitu juga perempuan dilarang mandi di sungai sampai waktu tidak di tentukan. Setiap talang harus mengirim tim memburu manusia buaya itu. Masyarakat harus waspada dan berjaga-jaga siang dan malam. Manusia buaya harus di buru sekarang, karena dia dalam keadaan terluka. Untuk mengakhiri teror manusia yang memiliki sihir buaya. Harus dilakukan penyisiran besar-besaran di setiap sudut hutan dan sungai-sungai.

“Bagaimana menurut para datu dan jurai tue semua. Apakah ada hal yang perlu ditambahkan dalam hasil rapat hari ini.” Tanya Depati.

“Tidak ada Depati, tinggal kita berjuang terus memburu lelaki buaya itu.” Kata seorang Datu.

“Benar Depati, walau bagaimanapun saktinya lelaki buaya itu. Pasti dia memiliki sarang, atau tempat tinggal. Kita dapat menelusuri jejak kakinya di sungai-sungai. Luka di tubuhnya juga belum dapat sembuh dalam waktu singkat. Maka, kita tidak boleh menunda waktu harus bergerak cepat.” Kata Puyang Bijak Betua dia seorang jurai tue pedatuan.

“Depati, menurut pengetahaun dari orang-orang tua. Apabila kita menghadapi ahli sihir sebagaimana sihir buaya. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dan ketahui. Pertama, kita tidak boleh hanyut dalam kata-kata penyihir. Misalkan dia berkata, "Saya akan berubah menjadi buaya." Maka kita lawan dalam pemikiran kita. Pikirkan dia tidak bisa menjadi buaya walau penglihatan kita dia telah berubah menjadi buaya. Kedua, kita jangan takut sebab yang tampak hanyalah penglihatan kita.” Ujar Datu Pagarkaye menjelaskan.

“Baiklah, saya rasa rapat kita selesai. Mulai dari sekarang persiapkan pasukan dan perbekalan. Bangun komunikasi dengan mempersiapkan pengantar informasi, bawa merpati pengantar surat. Buat tim-tim pencari untuk menelusuri jejak.” Kata Depati. Semua menjawab siap dengan meletakkan tangan di dada masing-masing. Pencarian dimulai, dengan perahu dan rakit menyusuri sungai. Ada juga pasukan dari darat yang menerobos hutan. Prajurit dan masyarakat bekerja sama bahu mebahu.

*****

Seekor buaya hitam mengikuti perahu bidar Hulubalang Gatra. Tapi mereka tidak tahu sebab buaya itu mengikuti dari jarak yang cukup jauh. Perahu melaju perlahan menyusuri tebing Sungai Keruh. Memperhatikan setiap jengkal tebing mencari jejak buaya atau jejak manusia.

“Hulubalang, lihat di sini ada bekas dara mengering dan ada jejak kaki manusia.” Seorang prajurit memberi tahu. Perahu Hulubalang Gatra mendekat tebing yang landai. Di tebing berlumpur tampak ada jejak kaki buaya. Tetesan dara mengering, serta jejak kaki naik ke atas tebing. Hulubalang memerintahkan lima prajurit naik kedaratan. Hulubalang Gatra juga melompat ke atas tebing sungai.

“Huuppppp.” Sekali lompat dia diatas, membuat kagum para prajuritnya. Ilmu meringankan tubuh sudah sempurna. Sementara para prajurit harus naik menggunakan kaki. Mereka memperhatikan sekitar. Jejak buaya menghilang, tinggal jejak kaki manusia. Seorang prajurit menemukan potongan anak panah berlumuran darah.

“Tidak salah lagi, ini pasti jejak laki-laki buaya keparat itu. Kirimkan kabar ke Depati, kalau di lubuk Tapa ditemukan jejak. Buaya menuju hutan Rimba Tinggi.” Perintah hulubalang Gatra. Merpati diterbangkan dan sampai ke tangan Depati Pedatuan. Hulubalang Gatra meninggalkan jejak arah mereka dengan cara mematahkan ranting ke kanan. Agar dapat diikuti arah mereka. Sementara seluruh pasukan yang bertugas di tempat lain diperintahkan Depati menuju Hutan Rimba Tinggi untuk membantu Hulubalang Gatra.

“Hulubalang, tadi Aku melihat sesuatu yang besar dan berwana hitam di permukaan lubuk tapa. Tapi kemudian menghilang ke dalam lubuk.” Cerita seorang prajurit.

“Mungkin potongan pohon hanyut dan tenggelam.” Jawab temannya. Mereka berenam tidak memikirkan cerita prajurit itu. Sementara itu, di lubuk tapa sosok hitam keluar dari dalam air dan naik ke atas tebing dan menghilang di balik semak-semak.

*****

Sekaran Hulubalang Gatra dan pasukannya  tiba di pinggiran lebung berair jernih. Beberapa prajurit mendekat lebung dan hendak minum sekaligus mencuci muka. Di seberang lebung, sesosok bayangan bertopeng mengintai. Kemudian dia mengeluarkan potongan lidi enau. Mulut komat kamit membaca materanya. Lalu melemparkan puluhan batang lidi enau ke dalam lebung. Kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu. Ajaib, setiap batangan lidi berubah menjadi buaya besar. Lalu menyelam berenang menuju dua prajurit yang sedang mencuci wajah. Dua prajurit melihat bayangan aneh di dalam air lebung yang jernih, keduanya melompat mundur.

“Buuaarrrrr.” Sepuluh buaya muncul kepermukaan air dan naik darat. Menyerang hulubalang dan para prajurit yang sedang istirahat. Mereka semua sibuk mengadapi buaya itu. Tiba-tiba disekeliling mereka muncul puluhan buaya. Maka mereka dibuat kerepotan bukan alang kepalang. Sudah ada yang tergigit dan terluka akibat serangan buaya misterius. Beberapa buaya dapat dipenggal mati. Hulubalang Gatra kerepotan sekali dan keadaan genting.

“Tar. Tar.” Suara lecutan selendang menghantam buaya-buaya itu. Bayangan hitam muncul dan menyerang buaya-buaya miterius itu. Saat terkena lecutan selendang hitam orang itu, buaya-buaya itu menghilang semua. Kini berdiri seorang lelaki tua berpakaian serba hitam. Mereka heran dengan kakek-kakek yang muncul entah dari mana.

“Terimakasih atas bantuan Uwa, ternyata itu buaya sihir.” Kata Hulubalang Gatra.

“Siapakah Uwa kiranya.” Tanya seorang prajurit. Lelaki tua itu duduk dan diikuti hulubalang dan pasukannya. Dia menyebut dirinya Puyang Buaye Kumbang. Dia memiliki murid durhaka bernama Sadarama dan telah menyalah gunakan ilmu yang dia ajari. Muridnya suka berbuat bejat mengganggu wanita-wanita. Muridnya telah pergi melarikan diri dua puluh tahun lalu.

Puyang Buaye Kumbang menceritakan kalau dirinya sudah menyusuri banyak sungai di Batanghari Sembilan. Seperti dia akan menemukan Sadarama di Pedatuan Bukit Pendape. Hulubalang juga menceritakan kejadian-kejadian buruk di Pedatuan Bukit Pendape, dan ada kesamaan cerita dan kejadian. Mereka sepakat mencari bersama-sama laki-laki buaya yang bernama asli Sadarama.

“Dia bukan pemuda lagi, mungkin umurnya sekarang d iatas lima puluh tahun. Dia menggunakan mantra bersalin rupa. Sehingga dapat mengubah wujudnya menjadi tua atau muda.” Jelas Puyang Buaye Kumbang.

*****

Sementara  itu jauh di tengah belantara hutan Rimba Tinggi. Seorang laki-laki berumur di atas lima puluh tahun sedang duduk bersilah di bawah sebatang pohon. Tidak jauh darinya tampak beberapa pondok sederhana di huni puluhan wanita hamil dan anak-anak. Mata laki-laki itu terpejam dan membaca mantera. Cuaca cerah berawan putih tiba-tiba berubah menjadi hitam dan angin berhembus kencang.

Hujan turun dengan lebatnya. Laki-laki itu kemudian melemparkan potongan-potongan lidi enau ke genangan air hujan seraya terus menerus membaca mantera. Ajaib, semua batang lidi berubah menjadi buaya-buaya besar, ganas dan lapar. Lalu bergerak masuk hutan dan menghilang di balik semak-semak.

Pasukan bantuan Depati mulai memasuki Hutan Rimba Tinggi. Sementara Hulubalang Gatra, Puyang Buaye Kumbang dan pasukan juga terus masuk kedalam hutan. Hujan tidak menghalangi mereka, dan terus bergerak menacari Sadarama. Laki-laki bejat perusak anak perawan orang.

*****

Sementara Depati Puyang Mato Kilat, Pangliam Pedatuan, dua hulubalang, ratusan prajurit, ratusan pemuda, beberapa orang datu terus bergerak mencari lelaki buaya di hutan Rimba Tinggi. Depati meminta mencari jejak Hulubalang Gatra dan jejak manusia lainnya. Tiba-tiba terdengar jeritan di mana-mana.

“Buaya.. buayaaaaa. Ahhhhh.” Teriakan dan jeritan memenuhi hutan. Mereka terkejut bagaimana bisa di dalam hutan yang jauh dari sungai-sungai banyak sekali buaya. Setiap mereka berhasil memenggal atau minikam buaya dengan tombak. Tapi buaya-buaya terus berdatangan tiada habisnya. Membuat mereka kelelahan dan mulai banyak yang terluka. Bahkan sudah ada yang tewas diterkam buaya. Buaya-buaya muncul dan mucul membuat semuanya kewalahan. Tubuh mereka berkubang lumpur dan pakaian robek-robek oleh rerantingan semak atau duri hutan.

“Ahhh.” Depati menjerit dia terkena kibasan ekor buaya. Tubuhnya jatuh ketanah yang dipenuhi air hujan. Datu Puyang Bijak Betua dari Talang Leban mau membantu. Tapi tiga ekor buaya menghadang lalu menyerang. Sementara hulubalang dan panglima tidak kalah repotnya. Para prajurit dan pemuda juga demikian. Depati dalam bahaya besar, dua ekor buaya merangkak cepat menyerangnya dengan kibasan ekornya. Membuat Depati terpental dan tubuhnya terpental. yang terbanting di tanah. Puyang Bijak Betua tiba-tiba juga jatuh di samping beliau. Dua orang tua itu tampak sangat kewalahan.

“Tarr. Tarr. Taarr.” Lecutan selendang hitam terdengar, bersamaan muncul bayangan hitam menghantam setiap buaya-buaya itu. Hulubalang Gatra membantu Depati, dua prajurtnya membantu Puyang Bijak Betua dan sisa pasukan berjaga sekitar. Beberapa saat kemudian buaya-buaya itu menghilang karena serangan selendang hitam si kakek. Hujan mulai redah dan cuaca kembali cerah. Panglima tampak tertatih-tatih mendekati meraka.

“Depati, tidak apa-apa.” Tanya Hulubalang Gatra. Depati mengangguk, mereka saling bertanya kabar. Dia mengenalkan Puyang Buaye Kumbang ke semuanya dan bercerita singkat.

“Depati, ada dua puluh orang yang gugur, lima belas luka para dan tiga puluh luka ringan.” Lapor hulubalang Katang. Depati memerintahkan membuat tenda perawatan dan membuat tandu untuk membawa yang terluka dan gugur. Setelah musyawara singkat mereka meneruskan pencarian. Kali ini Puyang Buaye Kumbang yang memandu pencarian.

“Sepertinya sudah tidak terlalu jauh. Karena dia sudah bisa mengirim buaya sihirnya.” Jelas Puyang Buaye Kumbang.

*****

Beberapa saat kemudian, mereka menemukan enam pondok. Banyak anak-anak bermain. Puluhan ibu-ibu muda yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah. Menumbuk padi, menimbah air, memasak dan memotong kayu bakar. Ada yang sedang hamil tapi beranak kecil. Disekeliling Talang kecil itu banyak kolam-kolam ikan. Di tengah pemukiman kecil itu ada rumah besar. Tampak seorang laki-laki berumur empat puluhan tahun sedang mengayam bubu.

“Paman, boleh bertanya.” Tanya seorang prajurit Hulubalang Gatra. Orang itu mengangguk dan juga cuek.

“Apakah pernah menemukan seseorang laki-laki asing, yang tinggal di sekitar hutan ini.” Tanya Prajurit lagi.

“Pernah dik, dia tinggal jauh di sebelah bukit sana. Saya hanya sekali-sekali bertemu.” Jawabnya. Hulubalang melihat di halaman rumah berserakan potongan lidi. Dia memperhatikan ibu-ibu yang tampaknya seperti tidak punya pikiran. Mereka kaku dan terus bekerja tanpa ada basa basih seperti wanita normal. Mereka seperti tidak memperdulikan kedatangan mereka. Pasukan hulubalang terus menyelidiki dan menemukan lebih banyak potongan lidi.

“Laporkan pada depati dan Puyang Buaye Kumbang kalau kita banyak menemukan potongan lidi sebagaimana ciri-ciri yang disebutnya.” Prajurit itu mengangguk, dia melangkah pergi menemui pasukan yang mengepung talang kecil itu. Prajurit itu, tiba-tiba diserang seekor buaya yang melompat dari dalam kolam. Tubuhnya jatuh kedalam kolam dan menjadi mangsa buaya. Hulubalang terkejut, saat dia melihat si kakek telah mencabut pibang dan menyerang dua prajurit hingga tewas.

“Heaaaaa.” Giliran hulubalang di serang dan terjadilah pertarungan hebat. Hampir saja lehernya putus ditebas pibang laki-laki itu. Sisa pasukan juga diserang buaya yang keluar dari dalam kolam. Seorang prajurit meniup tangan tanda bahaya bagi mereka. Depati memerintahkan yang lainnya segerah membantu dan mengepung tempat itu. Ternya di dalam kolam adalah buaya asli yang dipelihara dan dikendalikan Puyang Buaye. Pertarungan terjadi, buaya-buaya satu demi satu tewas dipenggal pasukan. Ibu-ibu masuk mengurung diri di dalam rumah mereka.

“Sekarang menyerahlah manusia buaya.” Kata Hulubalang. Dia kemudian berhasil menyabetkan pibang di kedua kaki kakek-kakek itu. Sehingga dia jatuh dan berlutut tidak dapat berdiri. Perlahan wujudnya berubah menjadi laki-laki berumur di atas lima puluhan tahun, wujud aslinya.

“Oh, ini rupanya wujud aslimu, laki-laki buaya.” Ujar Hulubalang Gatra.

“Aku belum kalah.” Dia tertawa, lalu membaca mantera. Tiba-tiba angin berhembus dan semua potongan lidi-lidi yang berserakan berubah menjadi buaya. Semua terkurung oleh ribuan buaya ganas yang lapar. Semua terkejut bukan kepalang. Mereka mulai putus asa, dan menyadari musuh mereka adalah musuh berat.

“Tarrr. Taarrr.” Tubuh Sadarama terpukul selendang hitam Puyang Buaye Kumbang. Seketika sihir buaya lenyap. Buaya jadi-jadian kembali berubah menjadi potongan lidi enau. Sadarama terkejut bukan alang kepalang.

“Guru.” Itulah seucap kata keluar dari mulutnya. Depati, pangliam, hulubalang Kanta, para datu dan semuanya mendekat.

“Murid durhaka, sekarang kau akan dihukum atas kejahatanmu.” Kata Puyang Buaye Kumbang. Sadarama ketakutan dan kekuatannya sihirnya tiba-tiba menghilang. Setelah semua berkumpul dan sepakat menghukum mati Sadarama. Depati memerintahkan hulubalang Gatra untuk menghukum pancung Sadarama. Puyang Buaye Kumbang menangis sedih dan dia langsung pamit pulang setelah melihat Sadarama dihukum mati.

Wanita-wanita yang diculik Sadarama kembali tersadar dan kembali ke rumah orang tuanya. Tangis haru mereka pecah saat berjumpa dengan keluarga. Tapi mereka sudah memiliki anak, laki-laki dan perempuan. Anak-anak Sadarama dewasa, dan menikah serta memiliki anak cucu sampai sekarang.

Puyang Buaye Kumbang memutuskan tingga di Pedatuan Bukit Pendape. Dia sering berubah wujud menjadi buaya kumbang. Itulah ada cerita-cerita masyarakat di Kecamatan Sungai Keruh tentang adanya buaya kumbang di Sungai Keruh. Setelah kematian Sadarama, kehidupan Pedatuan Bukit Pendape kembali damai dan tenang. Sejak saat itu juga, setiap laki-laki yang suka mengganggu dan mempermainkan wanita di juluki, lelaki buaya. Kemungkinan dia juga keturunan dari Sadarama si Puyang Buaye.


Oleh: Joni Apero
Editor. Arip Muhtiar, S.Hum
Tatagambar. Dadang Saputra.




Sy. Apero Fublic.
Via Mitos
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Older Posts
Newer Posts

You may like these posts

Post a Comment

Post Populer

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Remaja di Era Media Sosial: Aktivitas Fisik, Kecemasan, dan Kebugaran Tubuh

Remaja di Era Media Sosial: Aktivitas Fisik, Kecemasan, dan Kebugaran Tubuh

Tuesday, December 23, 2025
Jangan Stres Saat Sakit: Fakta Ilmiah yang Harus Kamu Tahu

Jangan Stres Saat Sakit: Fakta Ilmiah yang Harus Kamu Tahu

Tuesday, December 30, 2025
Shame Culture: Ketika Rasa Malu Menjadi Belenggu Kreativitas Generasi Muda

Shame Culture: Ketika Rasa Malu Menjadi Belenggu Kreativitas Generasi Muda

Tuesday, December 23, 2025

BULETIN APERO FUBLIC

BULETIN APERO FUBLIC

Translate

Search This Blog

Stay Conneted

facebook Like
twitter Follow
youtube Subscribe
vimeo Subscribe
instagram Follow
rss Subscribe

Featured Post

Kunjungan Jaksa Agung RI Jadi Kehormatan bagi Samarinda, Andi Harun: Perkuat Soliditas dan Sinergi Penegakan Hukum

PT. Media Apero Fublic- Wednesday, January 21, 2026 0
Kunjungan Jaksa Agung RI Jadi Kehormatan bagi Samarinda, Andi Harun: Perkuat Soliditas dan Sinergi Penegakan Hukum
APERO FUBLIC   I  KOTA SAMARINDA . – Wali Kota Samarinda Dr. H. Andi Harun menyebut kunjungan kerja Jaksa Agung Republik Indonesia, ST Burhanuddin,…

Most Popular

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Friday, January 17, 2020
Legenda Putri Bulan. Kesetiaan Yang di Abadikan Menjadi Sungai Sake

Legenda Putri Bulan. Kesetiaan Yang di Abadikan Menjadi Sungai Sake

Sunday, November 10, 2019
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Wednesday, April 22, 2020
Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Tuesday, October 15, 2019
Legenda Cinta Puyang Gadis. Sumatera Selatan

Legenda Cinta Puyang Gadis. Sumatera Selatan

Saturday, March 21, 2020
Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Tuesday, June 25, 2019
Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Thursday, November 07, 2019
Mengenal Buah Pedare

Mengenal Buah Pedare

Monday, June 22, 2020
BPD Lumpatan II Serahkan langsung proposal usulan ke anggota DPRD MUBA pada reses II.

BPD Lumpatan II Serahkan langsung proposal usulan ke anggota DPRD MUBA pada reses II.

Thursday, April 23, 2020
Powered by Blogger
Apero Fublic

Website Archive

  • 2026148
  • 20251138
  • 2024203
  • 2023142
  • 2022103
  • 2021365
  • 2020435
  • 2019281

MAJALAH KAGHAS

MAJALAH KAGHAS

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

TABLOID APERO FUBLIC

TABLOID APERO FUBLIC

SELAK MAJO

SELAK MAJO
Karikatur

Labels

Aceh Aceh Besar Aceh Tamiang Alor Amerika Serikat Andai-Andai Angkat Besi APERO FUBLIC Apero Herbal Apero Popularity Arkeologi Artikel Asahan Atambua BABEL Badan Pemerintah Bali Bandung Bangka Barat Bangkinang Banten Banyuasin Batu Bara Batusangkar Baubau Bawaslu Beladiri Belanda Belu Belum Bencana Bener Meriah Bengkayang Bengkulu Berita Berita Daerah Berita Daerah Berita Nasional Berita Internasional Berita Nasional Betul Daerah Binjai Biruisme Bisnis BNN Bogor Bola BOLMONGUT BOLTARA Bosnia Brand Brazil Bro Daerah Budaya Budaya Daerah Budaya Dunia Buku Populer Buletin AF Bulungan Cerita Bersambung Cerita Kita Cerita Rakyat Cerpen Cililin Dairi Daratan Daratan dan Hutan Deli Serdang Desa Dongeng Dongeng Dunia DPR RI DPRD DRPD Dunia Anak e-Biografi e-Biografi Tokoh Ekonomi Ekonomi Islam Elektronik Energi Esai FASHION Fauna Feature Film Filsafat Flora Fotografi Gatget Healthy & Fitness Himpunan Muslim HSS HST Hukum Hukum Islam Ibu dan Anak Ilmu Kesastraan Indragiri Hulu Info Desa Iran Islam dan Budaya Islam dan Lingkungan Hidup Islam dan Masyarakat Islam dan Negara Islam dan Sosial JABAR Jakarta Jambi JATENG JATIM Jatinangor Jembrana Jepang Jurnal AF Jurnalisme Kita Jurnalistik KABAR Kabar Buku Kabar Desa Kabupaten HST KALBAR KALSEL KALTARA KALTENG KALTIM Kampar Kampus Kanada Kapolisian Kapolri Karo Kata Mutiara Katolik Kebudayaan Keislaman Kekristenan Kepemimpinan Kepolisian Kerinci Kesehatan Kesehatan dan Pendidikan Wanita kesenian Ketapang Kisah Legenda Kolaka Konawe Selatan Korupsi Kriminal Kuansing Kubu Raya Kuliner Kupang Labuhan Bajo Labuhan Batu Labuhanbatu LABURA Lamandau Lampung Lampung Tengah Langkat Laporan Penelitian Lebak Lebong Lembata Lewoleba Lingkungan Lingkungan Hidup Lombok Lowongan Kerja Lubuk Linggau Lubuk Pakam Lubuklinggau Mahasiswa Mahasiswa Pendidikan Majalah Kaghas Makassar Malang Malaysia Mappi Marinir Mask Medan Mempawah Menembak Meranti Merauke Militer Mitos Morowali Morut MORUT Muara Enim Muaro Jambi MUBA Muratara MUSI Musi Rawas Musik Nasional NTT Ogan Ilir OKI OKU Selatan OKU Timur Olahraga Opini Otomotif Padang Padang Lawas Padang Panjang Pagaruyung Palangkaraya Palembang Pamulang Panjat Tebing Pantun Papua Barat Daya Papua Selatan Parigi Moutong Pariwisata Partai Pasuruan PDF Pekanbaru Pemerintahan Pendape Pendidikan Penyakit Masyarakat Perkebunan Perpustakaan Pertanian Pertanian dan Alam Pesisir Selatan Pinrang Politik Populer Bisnis Populer Iklan Populer Produk Populer Profesi Prabumulih PraLeader Problematika Seks Propaganda Psikologi Public Figure Puisi Puisi Akrostik Purworejo Pustakawan PWI PWI Sumatera Selatan PWI Sumsel PWI SumSel Renang Riau Rote Ndao Samarinda Samosir Sampah dan Limbah Sastra Kita Sastra Klasik Sastra Lisan Sastra Moderen SDA Sejarah Sejarah Daerah Sejarah Islam Sejarah Kebudayaan Sejarah Umum Sekayu Semarang Senam Seniman Sepak Bola Sepeda Listrik Sepeda Motor Serang Seruyan Sibolga Sidoarjo Silat Simalungun Singapura Skil Wanita Smart TV Solok Solok Kota Sorong Sosial dan Masyarakat Sosial Masyarakat Sport Suara Rakyat Sudut Pandang Sukabumi Sukamara SULSEL SULTENG SULTENGRA SULTRA SUMBAR SUMBER Sumber Air Sumedang SUMSEL SUMUT Surabaya Surat Kita Syarce Tablet Tabloid AF Tamiang Tanah Datar TANAH DATAR Tangerang TANJABAR Tanjung Selor Tapanuli Tapanuli Utara TAPANUSEL TAPUT Tebing Tinggi Teknologi Temanggung TNI TNI AD TNI AL TNI AU Tokoh Tokoh Wanita Tradisi Transportasi UKM UKM-Bisnis UMKM Video Women World Yogyakarta

Laman Khusus

  • Cahaya
  • Daftar Kata Istilah Baru
  • e-Galeri Apero Fublic
  • Mari Kita Hijrah
  • Nasihat dan Motivasi
  • Apero Quote
  • Pribahasa Indonesia
  • Picture Indonesia
  • Pangeran Ilalang I
  • Pangeran Ilalang II

Pages

  • Pecakapan Sunset Sunrise
  • Flora Pangan Indonesia
  • Fauna Indonesia
  • Dawnload PDF Gratis
  • Dawnload Feature Gratis (PDF)

Recent Posts

Popular Posts

  • Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series
    Goda Series e-Bike APERO FUBLIC.- Berbicara tentang e-Bike atau sepeda Listrik saat ini memang tidak ada habisnya. Kendaraan praktis tanp...
  • Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly
    Sepeda Motor Listrik Produksi U^Winfly APERO FUBLIC.- U^Winfly merupakan Perusahaan Industrial pada sektor bergerak industri kendaraan list...
  • Remaja di Era Media Sosial: Aktivitas Fisik, Kecemasan, dan Kebugaran Tubuh
    “ Ketika jari terus bergerak di layar, tubuh perlahan berhenti bergerak di dunia nyata ” APERO FUBLIC   I  ESAI .-  Kemudahan akses teknolog...
  • Jangan Stres Saat Sakit: Fakta Ilmiah yang Harus Kamu Tahu
    APERO FUBLIC   I  OPINI .-  Sakit bukan cuma soal fisik. Ia juga menguji pikiran dan kesabaran kita. Makanya, setiap kali flu, d...
  • Shame Culture: Ketika Rasa Malu Menjadi Belenggu Kreativitas Generasi Muda
    APERO FUBLIC   I  OPINI .-  Dalam lingkungan sosial Indonesia yang kental dengan nilai-nilai tradisional, konsep shame culture atau budaya m...
  • Mahasiswa Politeknik Negeri Lampung Kembangkan Sistem IoT untuk Pakan Otomatis dan Monitoring
    APERO FUBLIC   I  KAMPUS .– Mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Elektronika di Politeknik Negeri Lampung (Polinela) tela...
  • Smartphone Oppo Terbaru Tahan Terbanting: Oppo A3 Pro 5G
    Oppo A3 Pro 5G selain tahan benturan kuat juga tahan siraman air APERO FUBLIC.- Pihak Oppo telah merilis ponsel pintar terbaru dari seri A...
  • Searching, Relate, Diagnosa: Pilihan Remaja dalam Memahami Gejala Kesehatan Mental di Era Digital
    PENULIS :  Oleh: Elen Pranata APERO FUBLIC  I  OPINI .-  Diera digital ini, remaja tidak lepas dari media sosial dalam kehidupan sehari-har...
  • Benjang dan Reak: Lebih dari Sekedar Kesenian, Ini adalah Jiwa Sunda yang Harus di Jaga
    APERO FUBLIC   I  BANDUNG . - Identitas komunitas bangsa di Indonesia berasal dari adat istiadat dan keyakinan yang berlaku di ...
  • Event Perdana Berbalut Olahraga, Wisata, dan UMKM, Diikuti Pembalap dari 17 Kabupaten/Kota di Sumsel
    APERO FUBLIC   I  SUNGAI LILIN . — Kawasan Telaga Sena , Desa Mekar Jadi , Kecamatan Sungai Lilin , Kabupaten Musi Banyuasin (Muba),...

Editor Post

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Friday, January 17, 2020
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Wednesday, April 16, 2025
e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang II

e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang II

Sunday, June 23, 2019
Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Wednesday, April 22, 2020
Smartphone Oppo Terbaru Tahan Terbanting: Oppo A3 Pro 5G

Smartphone Oppo Terbaru Tahan Terbanting: Oppo A3 Pro 5G

Monday, July 15, 2024
Dongeng si Kera dan si Bangau. Dari Sulawesi Utara

Dongeng si Kera dan si Bangau. Dari Sulawesi Utara

Saturday, January 18, 2020
Mengenal Buah Pedare

Mengenal Buah Pedare

Monday, June 22, 2020

Popular Post

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Remaja di Era Media Sosial: Aktivitas Fisik, Kecemasan, dan Kebugaran Tubuh

Remaja di Era Media Sosial: Aktivitas Fisik, Kecemasan, dan Kebugaran Tubuh

Tuesday, December 23, 2025
Jangan Stres Saat Sakit: Fakta Ilmiah yang Harus Kamu Tahu

Jangan Stres Saat Sakit: Fakta Ilmiah yang Harus Kamu Tahu

Tuesday, December 30, 2025
Shame Culture: Ketika Rasa Malu Menjadi Belenggu Kreativitas Generasi Muda

Shame Culture: Ketika Rasa Malu Menjadi Belenggu Kreativitas Generasi Muda

Tuesday, December 23, 2025
Mahasiswa Politeknik Negeri Lampung Kembangkan Sistem IoT untuk Pakan Otomatis dan Monitoring

Mahasiswa Politeknik Negeri Lampung Kembangkan Sistem IoT untuk Pakan Otomatis dan Monitoring

Sunday, January 18, 2026
Smartphone Oppo Terbaru Tahan Terbanting: Oppo A3 Pro 5G

Smartphone Oppo Terbaru Tahan Terbanting: Oppo A3 Pro 5G

Monday, July 15, 2024
Searching, Relate, Diagnosa: Pilihan Remaja dalam Memahami Gejala Kesehatan Mental di Era Digital

Searching, Relate, Diagnosa: Pilihan Remaja dalam Memahami Gejala Kesehatan Mental di Era Digital

Monday, January 05, 2026
Benjang dan Reak: Lebih dari Sekedar Kesenian, Ini adalah Jiwa Sunda yang Harus di Jaga

Benjang dan Reak: Lebih dari Sekedar Kesenian, Ini adalah Jiwa Sunda yang Harus di Jaga

Monday, January 05, 2026
Event Perdana Berbalut Olahraga, Wisata, dan UMKM, Diikuti Pembalap dari 17 Kabupaten/Kota di Sumsel

Event Perdana Berbalut Olahraga, Wisata, dan UMKM, Diikuti Pembalap dari 17 Kabupaten/Kota di Sumsel

Monday, December 29, 2025

Populart Categoris

Andai-Andai 3 Artikel 57 Berita 1150 Berita Daerah 1247 Berita Internasional 33 Berita Nasional 1141 Brand 117 Budaya Daerah 33 Cerita Bersambung 20 Cerita Kita 30 Cerita Rakyat 12 Cerpen 12 Dongeng 67 Ekonomi 27 Elektronik 21 FASHION 12 Fauna 4 Flora 62 Healthy & Fitness 15 Ibu dan Anak 1 Islam dan Budaya 11 Islam dan Lingkungan Hidup 7 Islam dan Masyarakat 3 Jurnalisme Kita 17 Kampus 251 Kesehatan 20 Kisah Legenda 10 Kuliner 22 Mitos 15 Opini 198 PDF 3 Pantun 6 Pariwisata 39 Penyakit Masyarakat 6 Problematika Seks 6 Puisi 49 Puisi Akrostik 5 Sampah dan Limbah 1 Sastra Kita 25 Sastra Klasik 53 Sastra Lisan 13 Sejarah Daerah 24 Sejarah Kebudayaan 28 Sepeda Listrik 15 Sport 2 Surat Kita 7 Tablet 20 Teknologi 149 Tokoh Wanita 9 UKM-Bisnis 12 Video 20 Women 4 World 3 e-Biografi Tokoh 23 kesenian 4
APERO FUBLIC

About Us

PT. Media Apero Fublic merupakan perusahaan Publikasi dan Informasi yang bergerak dalam bidang Industri Kesusastraan. Apero Fublic merupakan bidang usaha utama bidang jurnalistik.

Contact us: fublicapero@gmail.com

Follow Us

© Copyright 2023. PT. Media Apero Fublic by Apero Fublic
  • Disclaimer
  • Tentang Apero Fublic
  • Advertisement
  • Contact Us