2/22/2020

Cerita Asal Usul Terbentuknya Danau Ulak Lia. Musi Banyuasin

Apero Fublic.- Kisah cerita asal usul yang dituturkan dari Dataran Negeri Bukit Pendape. Telah tersampaikan dari nenek moyang sejak dahulu kalah. Dituturkan pada anak cucu untuk nasihat manusia. Nasihat orang Melayu untuk anak cucunya. Yang hidup jauh setelah dirinya. Inilah cerita asal-usul Danau Ulak Lia.

Sekapur Sirih.
Pada masa lalu di pedalaman Pulau Sumatera bagian Timur meliputi Provinsi Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung memiliki sistem pemerintahan tradisioanal asli masyarakatnya, yaitu pemerintahan Marga.

Tersebutlah sebuah wilayah pemerintahan marga bernama Dataran Negeri Bukit Pendape. Dinamakan Dataran Negeri Bukit Pendape karena di wilayah tersebut terdapat sebuah bukit yang cukup tinggi, Bukit Pendape. Lebih jelas administrasi sekarang (2020) wilayah itu. Meliputi wilayah Kecamatan Sungai Keruh, Kecamatan Jirak Jaya, Kecamatan Pelakat Tinggi, dan sebagian dari bagian wilayah kecamatan lain di Kabupaten Musi Banyuasin. Istilah penyebutan masyarakat di wilayah Sekayu seberang. Dimulai dari tebing Sungai Musi sampai ke Bukit Pendape terus ke perbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten PALI. Itulah kawasan tradisional Dataran Negeri Bukit Pendape.
******
Satu hal yang perlu diketahui. Pada masa awal Marga Dataran Negeri Bukit Pendape hanya satu kepemimpinan. Kisah ini berawal pada peristiwa seratus tahun sebelumnya. Pemimpin Marga Dataran Negeri Bukit Pendape bernama Puyang Depati Sansiku. Dia  menikahi dua orang gadis perawan secara bersamaan. Sehingga tidak ada istilah istri muda dan istri tua, sejajar. Dari kedua istrinya tentu mendapat anak-anak. Istri satunya beliau memiliki lima orang anak. Empat perempuan dan satu anak laki-laki, anak tertua. Istri yang satunya lagi mendapat enam orang anak. Anak tertua juga laki-laki.

Pada saat Puyang Depati Sansiku meninggal. Kedua anak laki-laki tersebut berebut kepemimpinan marga. Sehingga terjadi perang saudara. Oleh para Datu, Para  Puyang, dan para tetua (Jurai tue), keduanya didamaikan. Caranya dengan membentuk dua pemerintahan marga di wilayah Dataran Negeri Bukit Pendape. Yaitu, Marga Pendape Hulu dan Marga Pendape Hilir. Dengan demikian terciptalah perdamaian beberapa waktu.

Seratus tahun kemudian dua marga dipimpin generasi ke empat. Marga Pendape Hulu di pimpin Depati Galaga. Pusat pemerintahannya di Talang Lebung Bulan. Dinamakan Talang Lebung Bulan, karena air lebung sangat jernih, berpasir putih di dasarnya. Pada malam hari saat bulan bersinar terang, bayangan bulan di langit sangat jelas terlihat di permukaan lebung. Maka masyarakat menamakan talang mereka dengan nama Talang Lebung Bulan.

Sedangkan Marga Pendape Hilir dipimpin Depati Kanta atau Depati Pibang Sakti. Depati Kanta memiliki sebuah Pibang yang sakti sehingga dia dijuluki demikian. Pusat pemerintahan Marga Pendape Hilir di Talang Benca Saribu. Karena wilayah Marga Pendape Hilir terletak di kawasan tanah renah yang terdapat banyak benca. Sehingga dinamakan Talang Benca Saribu.

Depati Marga Pendape Hulu tidak memiliki anak. Sudah dua puluh limah tahun dia menikah. Namun belum mendapatkan seorang anak. Maka diumurnya yang sudah lanjut itu, dia selalu berdoa pada tuhan agar memberikannya seorang anak. Anak laki-laki atau anak perempuan akan dia terimah dengan senang hati. Walau sudah banyak berdoa. Namun sang istri tidak unjung hamil.

Suatu hari, Depati Galaga ditemani sepuluh orang Prajuritnya pergi berburu kijang ke hutan belantara di sekitar Bukit Kulim. Seperti biasa mereka pergi mencari pohon berbuah kesukaan kijang, Pohon Marabungan. Mereka mencari bekas jejak kaki kijang atau rusa. Akhirnya mereka menemukan, lalu mulai mengikuti jejak kaki kijang. Setengah hari berlalu, mereka menemukan seekor kijang di bawah sebatang pohon rindang.

Kijang itu tampak kesakitan, berdiri sambil bernafas menekan perut. Ternyata si Kijang sedang melahirkan. Depati Galaga dan sepuluh prajuritnya bersiap menembakkan anak panah. Depati menarik busur panah, lima orang prajurit siap melempar tombak. Lima lagi juga siap memanah. Apa bila mata panah depati melesat, maka yang lain akan menyusul menembak anak panah. Saat depati ingin melepas anak panahnya. Anak kijang menyembul dari rahim kijang. Melihat itu, depati memberi isyarat agar jangan menembak sang kijang. Kembali si kijang melahirnkan anak kedua. Dua anak kijang telah lahir dihadapan mereka.


“Sudah, jangan kita ganggu induk kijang itu.”
“Mengapa Depati, kita sudah setengah hari berjalan mencari kijang itu.” Tanya seorang prajuritnya.
“Kita sebagai manusia harus memiliki rasa belas kasihan. Kalau kita tidak memiliki rasa belas kasihan. Berarti kita bukan manusia. Kita memang berburu, tapi jangan melampaui batas. Kita harus memikirkan anak-anak kijang yang baru lahir itu. Keduanya memerlukan induknya untuk menyusui dan merawat mereka. Kalau induknya kita buru, kedua anak kijang itu akan mati. Kita cari yang lain saja.

Akhirnya mereka pergi dan berburu ke wilayah lain, di dekat Bukit Pendape. Akhirnya mereka mendapatkan juga hewan buruan. Dua ekor rusa dan satu kerbau liar. Mereka sangat bergembira dan pulang membawa banyak daging. Pada malam harinya, Depati Galaga bermimpi. Dia bertemu dengan kijang yang tidak jadi dia buru siang tadi.

Dalam mimpi dia melihat anak kijang sudah cukup besar, lincah. Depati melihat istrinya sedang mengambil dedaunan. Lalu memberikan daun itu pada kijang-kijang itu. Tapi anehnya, Depati Galaga melihat istrinya sedang hamil. Padahal dia tahu kalau istrinya sudah mustahil hamil. Mengingat sudah berumur lima puluh tahunan. Tiba-tiba datang seorang lelaki tua. Lelaki itu memanggil kijang itu, dan kijang mematuhi si kakek tua. Depati menghampiri istrinya dan berdiri di hadapan orang tua misterius itu.


“Siapakah kakek? dari bumi mana?.” Tanya Depati Galaga.
“Aku dari tempat yang sangat jauh dan tinggi dari bumi. Aku seorang malaikat penyampai pesan dari pencipta alam semesta ini. Suatu saat aku akan sering turun ke bumi menemui manusia-manusia baik dan menyampaikan kabar gembira." Kata si kakek mantap.
“Kapan kakek akan menyampaikan pesan-pesan itu." Tanya depati Galaga.
“Masih sangat lama dari sekarang. Jauh dari masa kehidupanmu. Sesuai takdir yang ditulis sang pencipta alam semesta.
“Oh. begitu. Ujar Depati mengerti. Si kakek misterius berkata.

“Orang baik, akan dikabulkan pemintaannya. Orang baik akan dibalas kebaikan juga.” Ujar si kakek misterius. Setelah menepuk pundak Depati Galaga. Si kakek melangka pergi diiringi kijang dan dua anaknya. Anak kijang tampak melompat-lompat bergembira. Lalu menghilang dibalik semak-semak. Depati Galaga terbangun dari mimpinya. Dia melihat ke samping istrinya tidur nyenyak. Jangkrik dan burung hantu berbunyi nyaring dimalam itu. Depati Galaga kemudian membangunkan istrinya dan menceritakan semunya.

Tiga bulan kemudian, istri Depati Galaga merasa ada yang aneh diperutnya. Kemudian dia meminta diurut pada Puyang Nasanti. Puyang Nasanti seorang  kinta. Kinta istilah penyebutan untuk bidan Talang pada masa lalu. Setelah diurut, istri Depati galaga dinyatakan hamil dua bulan. Kabar gembira, tujuh bulan kemudian lahirlah seorang anak perempuan. Depati Galaga memberi nama, Naralia. Tujuh belas tahun kemudian, Naralia tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Depati Galaga dan Istrinya sangat bahagia.
****
Sementara itu, di Marga Pendape Hilir tepatnya di Talang Seribu Benca. Kehidupan tenang dan damai. Di halaman istanah Depati Kanta atau Depati Pibang Sakti ada puluhan prajurit sedang berlati ilmu silat. Diantara mereka ada seorang anak muda berumur delapan belas tahunan yang tampak tangkas dan gagah berani.

Di pinggang sebelah depan setiap orang terselip Pibang masing-masing. Ikat kepala tanjak dari tenun songket, baju kurung, celana panjang, dan ada  kain songket dililitkan di pinggang, adat Melayu. Seorang laki-laki berumur empat puluhan tahun, berdiri paling depan. Satu demi satu prajurit muda maju bertanding silat menghadapi lelaki itu. Saatnya si anak muda yang maju. Dia melompat menyerang dengan tinju dan tendangan. Maka terjadilah pergulatan tanding latih.
“Cukup, Marulak. Gunakan pibang kanan.” Ujar pelatih.

“Baik Paman Hulubalang.” Marulak mencabut pibang kanan. Pibang kanan adalah nama pibang yang digunakan tangan kanan. Pibang kanan sama seperti pedang. Namun bentuknya berbeda, menyerupai  bulan sabit dengan kepala gagang terbalik. Mata pibang Marulak beradu dengan mata pibang hulubalang. Latihan cukup lama, seru. Marulak sudah mampu mengimbangi kehebatan hulubalang.

“Pibang kidau.” Teriak Hulubalang. Hulubalang menyabut pibang kidau di pinggang kanan. Lalu menusuk berbarengan dengan menangkis serangan pibang kanan Marulak. Marulak mencabut pibang kidau miliknya. Menangkis serangan pibang kidau hulubalang. Tepat dan serangan berhasil ditangkis dengan baik oleh Marulak.

Latihan berakhir dan hulubalang berkata. Marulak sudah sangat tangkas memainkan dua senjata asli masyarakat Dataran Negeri Bukit Pendape, pibang kidau dan pibang kanan. Pibang kidau bentuknya sama dengan pibang kanan. Tapi ukurannya seukuran dengan pisau, berbeda dengan pibang kanan seukuran pedang. Depati Pibang sakti merasa puas putra yang akan mewarisi kepemimpinan sudah hebat ilmu beladiri.
******
Marulak putra Depati Pibang Sakti adalah pemuda yang keratif dan tangkas. Dia suka bertualang dan berburu di hutan. Selalu ingin tahu dengan kehidupan diluar wilayahnya. Suatu hari, Marulak ditemani dua orang prajurut Marga Pendape Hilir menyusup ke wilayah Marga Pendape Hulu.

Mereka menyamar menjadi masyarakat biasa dan berbaur. Sehingga tidak ada yang mengenali mereka. Kadang mereka berdagang di pasar, dan yang paling sering berkeliling di wilayah Marga Pendape Hulu mencari pengalaman hidup. Suatu hari, Marulak dan dua pengawalnya kembali ke pasar. Mereka membawa madu dan ikan kering hasil mereka dari hutan, berjualan.


“Kanda, berapa satu kendi madunya?.” Suara lembut dan anggun. Berkerudung songket dan berbaju kurung. Seorang gadis yang sangat cantik berdiri di hadapan lapak dagangan mereka. Ada lima orang gadis berdiri di belakang si gadis cantik sebagai pengiringnya. Marulak dan kedua pengawalnya tertegun melihat kecantikan si gadis.

“Koyong, Putri Naralia mau membeli madunya.” Kata seorang teman pengiring Putri Naralia. Malurak dan kedua pengawalnya sadar dan buru-buru menjawab.
“Murah, lima keping uang tima. Untuk ukuran satu kendi Kayuagung” Ujar Marulak tergagap. Seorang gadis penggiring membuka kantung kain dan menyerahkan lima keping uang tima.

“Ya, ampun cantinya gadis perawan.” Ujar Marulak dengan mata melotot. Marulak melihat rombongan Putri Naralia berjalan menyusuri jalan pasar lalu menghilang dibalik keramaian pasar. Pasar ini seminggu sekali, sehingga Marulak selalu tidak sabar menunggu hari adanya pasar. Dia ingin bertemu di cantik pembeli madu. Hitungan hari masyarakat waktu itu adalah. Pasar akan diadakan setelah melewati tujuh siang dan tujuh malam. Atau seminggu sekali hitungan kita sekarang.

Marulak akhirnya dapat mengenal Putri Naralia. Melalui surat menyurat mereka berkomunikasi. Kadang mereka bermain di sebuah taman berkumpul bersama-sama teman-teman. Sehingga tidak ada masyarakat curiga. Sebab tidak melanggar aturan adat. Cinta bersemi dan bersemi. Hati Marulak dan hati Putri Naralia telah menyatu. Mereka tidak dapat lagi dipisahkan oleh apa pun.

Akhirnya, Puyang Marulak jujur kalau dia adalah putra Depati Pibang Sakti Depati Marga Pendape Hilir. Awalnya Putri Naralia tidak percaya namun dia pun mengerti. Kesepakatan keduanya adalah jujur dengan kedua orang tua mereka. Putri Naralia menceritakan hubungannya dengan Puyang Marulak. Dia menyatakan ingin menikah dengan Marulak. Begitu pun Puyang Marulak menceritakan pada Depati Pibang Sakti. Kalau dia ingin meminang Putri Naralia anak Depati Galaga dari Marga Pendape Hulu.
****
“Kau boleh menikah dengan laki-laki manapun yang sesuai. Tak masalah walau bujang tersebut hanya orang biasa dan miskin. Asal dia bujang yang baik. Tapi aku tidak dapat merestui kau menikah dengan anak Depati Pibang Sakti. Sebab Marga Pendape Hilir adalah musuh marga kita. Sudah seratus tahun kita berperang. Mana mungkin kau berkeluarga dengan musuh wilayah, musuh perang kita. Musuh tetaplah musuh, entah apa yang dia rencanakan. Mungkin mereka ingin menguasai wilayah kita dan menumpas keluarga kita. Kau harus sadar itu, Nak. Kau masih muda, belum tahu banyak tentang politik dan kepemimpinan.” Jelas Depati Galaga pada Putri Naralia.

Istri depati Galaga juga memberikan nasihat agar Putri Naralia tidak mencintai Puyang Marulak putra Depati Pibang Sakti dari Marga Pendape Hilir. Namun cinta tak dapat memilih pada siapa untuk berlabuh. Putri Naralia hanya diam dan mengurung diri di kamarnya.

Sementara itu di istanah Depati Pibang Sakti sedang melakukan rapat besar. Semua hadir, para datu pemimpin talang, para puyang tokoh masyarakat, hulubalang dan dewan Marga Pendape Hilir sedang rapat. Dari rapat itu memutuskan kalau Marulak tidak diizinkan menikah dengan Putri Naralia anak Depati Marga Pendape Hulu. Karena akan meletus perang dan akan menjadi alasan peperangan. Marulak yang mendengar langsung keputusan itu tidak dapat menerimah. Tapi dia tidak berkata apa pun. Dia sudah terlanjur mencintai putri Naralia. Satu minggu berlalu keadaan tenang. Hanya prajurit dikedua belah pihak berjaga-jaga di perbatasan marga.

Diam-diam marulak merencanakan sesuatu. Tapi dia tidak menunjukkan gelagat apa-apa. Awalnya dia hanya mengasa pibang kidau dan pibang kanannya. Kemudian membuat puluhan anak panah. Lalu dia juga mempersiapkan batu api, garam, beras. Alat masak yang terbuat dari gerabah. Marulak membeli gerabah dari pedagang orang Kayuagung.

Orang Marga Kayuagung terkenal dalam membuat gerabah. Mereka berjualan menggunakan perahu kajang melalui Sungai Musi, lalu masuk ke Marga Pendape Hulu melalui Sungai Keruh.

Satu keranjang besar peralatan dia sembunyikan di hutan. Kemudian Marulak sering berburu ke hutan, mengecoh pemikiran orang. Tapi sambil berburu itu, dia terus membawa peralatan yang dia sembunyikan. Marulak menemukan sebuah tempat yang jauh di kawasan yang berawa-rawa. Lalu dia membuat sebuah pondok cukup besar. Lengkap dengan peralatan rumah tangga. Tidak ada satupun orang yang tahu dengan yang dia lakukan. Sebulan berlalu.

Suatu malam menjelang subuh. Sesosok bayangan hitam menyusup kedalam Talang Lebung Bulan. Berlari diantara tiang-tiang rumah penduduk. Mengendap-endap dan menghindari para prajurit jaga. Bayangan hitam itu naik ke istanah Depati Galaga. Lalu berjalan perlahan di serambih rumah bagian depan. Serambih ini mendekati sebuah kamar yang besar. Kamar itu adalah kamar Putri Naralia. Tangannya mengetuk halus jendela.

Saat daun jendela terbuka, sosok bayangan hitam menyodorkan sebuah lembaran terbuat dari kulit pohon (kagas atau karas). Kulit pohon kagas atau karas adalah media menulis masyarakat Melayu Sumatera Selatan masa lampau. Putri Naralia terkejut, tapi dia mengambil lembaran itu. Setelah itu, sosok serba hitam melompat dan menghilang dikegelapan malam menjelang subuh itu. Di lembaran itu tertulis aksara kaganga. Akasara kaganga adalah aksara kuno milik masyarakat melayu masa lalu.


Dinda Naralia. Aku tidak dapat melupakan adinda, sebab cinta kakanda sudah sangat besar. Aku tahu, kedua orang tua kakanda dan kedua orang tua adinda tidak merestui hubungan kita. Adinda, kakanda lebih baik mati daripada hidup tanpa adinda.  Maukah adinda menjadi istri kakanda?. Seandainya adinda menerima lamaran kakanda ini. Maka, besok pagi temui kakanda di seberang Sungai Keruh tepatnya di tanjung rengas di hilir Talang. Bawaklah perbekalan baju yang dimasukkan kedalam keranjang cucian. Dengan alasan adinda akan mencuci baju di sungai. Kakanda menunggu sampai adinda datang. Kalau adinda tak datang, kakanda menunggu sampai kakanda mati. Kalau adinda sudah membaca surat ini, bakarlah agar tidak ada yang tahu.”
Dari.
Puyang Marulak.
*****
Putri Naralia yang juga sangat mencintai Puyang Marulak. Akhirnya menemui Puyang Marulak, dan membawa perbekalan baju. Keduanya kemudian melarikan diri ke hutan. Mereka menyamar menjadi masyakata biasa dan sampai di sebuah talang kecil, Talang Ambai. Dinamakan demikian karena terdapat pohon buah buah rambai.

Keduanya mengaku kalau sama-sama anak yatim piatu. Mereka ingin menikah tapi tidak memiliki biayah. Sebab di Talang Mereka pengantin laki-laki harus menyediakan banyak biayah untuk menikah. Terutama untuk membayar upah wali yang akan menjadi dari wanita yatim piatu.  Oleh karena itulah keduanya meminta dinikahkan dan diizinkan tinggal, pada datu talang, Puyang Jakaru.

Puyang Jakaru dan warga Talang Ambai menikahkan mereka. Sehingga Marulak dan Putri Naralia resmi menjadi suami istri. Karena khawatir keberadaan mereka terlacak oleh prajurit Marga Pendape Hulu atau pasukan Marga Pendape Hilir. Maka malam ketiga setelah pernikahan Puyang Marulak dan Putri Naralia menghilang. Puyang Marulak meninggalkan sebuah surat pada Datu Talang.


Puayang, terimahkasi sudah menikahkan kami berdua. Jasa kalian tidak akan kami lupakan. Untuk berjaga-jaga atas keselamatan kalian. Apabila nanti ada prajurit Marga Hulu dan Marga hilir datang bertanya tentang dua orang melarikan diri. Agar kalian merahasiakannya, karena kalian akan dihukum mati. Kalian akan dituduh bersekongkol dengan kami. Maka rahasiakan semua ini sampai kapan pun. Setelah membaca surat ini, bakarlah agar tidak ada jejak.”
Dari: Puyang Marulak dan Puyang Putri Naralia.

Puyang Jakaru terkejut bukan kepalang. Mereka tidak menyakah telah disinggahi Pangeran dan Putri dari dua pemimpin wilayah yang bermusuhan. Maka mereka bermusyawarah, sepakat untuk merahasiakan semunya.

Benar saja, satu minggu kemudian ratusan prajurit dari Marga Pendape Hilir dan Marga Pendape Hulu datang bergantian mencari Marulak dan Putri Naralia. Sejak saat itu, tidak terdengar lagi cerita tentang keduanya. Sementara Depati Pibang Sakti dan Depati Galaga mulai panas dan perang terjadi diperbatasan. Banyak korban berjatuhan dan perang terus berkobar bertahun-tahun.

Hari demi hari berlalu. Bulan berganti dan tahun terlewati. Puyang Marulak dan Putri Naralia tidak pernah bertemu dan tidak tahu rimbanya apalagi kabarnya. Ayah dan ibu keduanya merasa menyesal dan juga merasa kesal. Depati Galaga yang hanya memiliki satu orang anak sangat bersedih. Begitupun Depati Pibang Sakti, dia hanya memiliki satu anak laki-laki. Kesedihan berkepanjangan pada kehidupan dua pemimpin marga itu.
*****
Sementara itu, Puyang Marulak dan Putri Naralia hidup bahagia di sebuah pondok terpencil di sebuah hutan yang dikelilingi rawa-rawa Sungai Musi. Ternyata itu adalah rencana Marulak sebelumnya. Mengapa dia membeli perlengkapan rumah tangga dan membuat pondok di hutan jauh waktu itu.

Untuk sampai ke hutan itu harus melewati rawa-rawa luas dan banyak rumpun rotan berduri. Sehingga sangat jarang, bahkan mustahil manusi datang ke hutan itu. Putri Naralia sering bercerita tentang jernihnya air Lebung Bulan di Talang tempat kediamannya. Dia juga bilang kalau sering merindukan ayah dan ibunya.

Untuk mengurangi kerinduan Putri Naralia. Puyang Marulak menggali tanah membuat sejenis kolam yang lebar. Mencontoh lebung di Talang Lebung Bulan. Marulak ingin keadaan pondok kediaman mereka mirip dengan suasana Talang Lebung Bulan. Setiap pulang dari ladang, atau tidak bekerja di ladang. Marulak selalu menggali dan melebarkan kolam di depan pondoknya. Marulak juga membuat tepian madi untuk Putri Naralia.

Delapan tahun berlalu, hasil galian kolam Puyang Marulak semakin lebar. Karena di gali terus menerus sepanjang tahun, bertahun-tahun. Sehingga kolam sudah seluas sebuah danau. Puyang Marulak membuat perahu dan rakit. Sehingga dia sering berakit atau berperahu bersama Putri Naralia dan anak-anaknya. Sehingga kebahagiaan mereka semakin besar. Anak pertama laki-laki bernama Paniti Rimbe, umur tujuh tahun. Anak kedua bernama Marila dan anak ke tiga Marili.
*****
Tahun ke sembilan dari pelarian Marulak dan Putri Naralia terjadi kemarau panjang. Sehingga penduduk sering mencari air bersih atau mencari ikan ke daerah rawa-rawa Sungai Musi. Suatu hari terjadi kebakaran hutan rawa, sehingga ada sebagian rawa-rawa terbakar. Yang terbakar, hutan rawa-rawa menjadi bersih. Penduduk berdatangan mencari ikan dan sampai di sekitar hutan tempat tinggal Marulak dan Putri Naralia. Saat mereka mendekati sekitar pondok Marulak, terdengar suara anak-anak berteriak bermain-main.

Dua orang penduduk mengintip dan mereka merasa aneh dengan orang yang tinggal di tengah hutan yang dikelilingi rawa-rawa. Penduduk yang sudah tidak mengenali Marulak dan Naralia hanya bercerita dari mulut ke mulut tentang manusia tinggal terasing.

Bermacam-macam pendapat masyarkat, ada yang bilang kalau yang mereka lihat adalah jelmaan suban. Ada juga yang berpendapat kalau keluarga hantu. Ada yang berpendapat itu makhluk Iyau. Mata-mata Marga Pendape Hulu dan Marga Pendape Hilir mengetahui tentang cerita penduduk. Untuk memastikan hal tersebut satu regu pasukan Marga Pendape Hulu yang dipimpin seorang hulubalang mendatangi hutan tempat tinggal Puyang Marulak dan Putri Naralia. Saat sampai mereka berhadapan dengan pasukan Marga Pendape Hilir yang juga sudah mengetahui.
*****
“Kami akan menangkap Marulak, tukang larikan anak perawan orang. Lalu membawa Putri Naralia dan anak-anaknya ke Hulu. Sungguh tidak tahu malu kalian membelah seorang buruk tabiatnya, seperti Marulak.” Ujar Hulubalang Marga Pendape Hulu.

“Puyang Marulak dan Putri Naralia menjadi milik kami. Begitupun anak-anaknya dan akan kami bawa kembali ke Hilir. Kalau kalian masih berkeras, maka tahu sendiri akibatnya.” Sanggah Hulubalang Wurugi, salah satu hulubalang Marga Pendape Hilir.

Saling bentak dan saling mengklaim berakhir dengan terikan lantang peperangan. Mata-mata pibang beradu ganas dengan percikan bunga api. Semua pandai bermain silat sehingga sulit untuk saling menjatuhkan. Marulak sadar kalau persembunyian mereka telah diketahui. Mereka berusaha melarikan diri lagi. Namun terlambat, Depati Galaga setelah tahu, dan pasti tidak menunggu lama. Segera bergerak bersama pasukannya, lalu mengepung tempat tinggal Marulak.

Hutan sekarang telah dikepung oleh pasukan dari kedua belah pihak. Marulak tidak dapat kemana-mana. Dia lemah sebab telah ada anak-anak yang masih kecil. Membuat Marulak menjadi mengalah. Dia ingin melindungi ketiga anaknya. Depati Pibang Sakti dan Depati Galaga datang membawa pasukan masing-masing merapat ke dekat pondok Marulak, tegang. Tangan masing-masing menggenggam hulu Pibang masing-masing.

Depati Galaga melihat suasana kediaman Marulak. Dia memperhatikan Marulak, Naralia dan anak-anaknya dari sebelah barat danau galian Marulak. Sedangkan Depati Pibang Sakti melihat dari seberang arah timur. Di belakang mereka masing-masing berbaris ratusan pasukan pengawal. Marulak sadar akan ada perang dan pertumpahan darah hari ini. Marulak beridiri di halaman pondok dan Naralia memeluk tiga anaknya. Depati Pibang Sakti mendekati dan Depati Galaga mendekat.


“Naralia pulanglah, Nak. Ibumu menunggu, dia sakit?. Bujuk Depati Galaga.
“Bak, aku tak mau pulang kalau seorang diri.” Jawab Naralia.
“Tidak bisa Naralia, kau harus pulang sendiri.”
“Aku tidak mau, walau Bak memaksa. Jawab putri Naralia.
“Baikalah, maka peperangan yang akan mengembalikan semuanya. Kau Marulak, telah menginjak harga diriku sebagai orang tua. Kau akan mendapat balasan setimpal.” Depati Galaga berkata berapi-api. Sambil menunjuk ke arah Marulak. "Srinngg. Pibang kanan Depati Galaga dia cabut.
“Sebelum kau berbuat, maka kau berhadapan dengan aku.” Ujar Depati Pibang Sakti.

Dua pasukan berlari berhampiran tambah dekat hanya satu meter lagi, siap duel. Tinggal perintah masing-masing hulubalang dan Depati. Depati Galaga dan Depati Pibang sakti. Mencabut pibang kanan dan pibang kiri. Terhunus dan siap saling serang.

Depati Pibang Sakti dan Depati Galaga yang bermusuhan sejak mereka saling mengenal. Kini tidak dapat lagi menahan emosi dan saling serang dengan pibang masing-masing. Marulak merasa sangat bingung dan lelah dengan semua itu. Sebab dirinya telah banyak korban jiwa yang melayang. Maka dia harus berbuat sesuatu untuk mengakhiri pertikaian ini. Saat Depati Pibang Sakti dan Depati Galaga saling serang dia melompat kedepan di hadapan keduanya.

Gerakan Marulak yang tidak terduga itu membuat tidak bisa dielakkan lagi. Dua mata pibang menancap, satu di dada dan di perut Marulak. Perlahan tubuh marulak lemah dan darah mengalir deras. Ketiga anaknya menjerit menangis. Begitu pun Naralia tak kalah histerinya. Dia menghambur memeluk tubuh Marulak. Depati Pibang Sakti juga berlutut di hadapan Marulak. Marulah memegang tangan ayahnya dan melambaikan tangan pada Depati Gelaga. Depati Gelaga juga merasa sedih, sebab dia juga sadar kalau Marulak tidak melawannya dan bukan orang jahat. Depati Galaga duduk disebelah kiri, lalu marulak juga memegang tangan mertuanya.


“Bak, telah menusuk jantungku. Sebentar lagi aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku yang telah melarikan Naralia. Jujur aku sangat mencintai Naralia. Sebentar lagi aku akan menemui pencipta alam ini.” Kata Marulak dengan terbata-bata. Lalu dia melanjutkan dan berkata pada Depati Pibang Sakti. “ Bak, janganlah bak menuntut balas atas kematianku. Sebab pibang Bak juga mengenai  perutku. Hentikan perang dan berdamailah. Aku titip anak-anakku pada Bak.” Ujar Marulak pada Sang Ayah. “ Naralia, istriku tercinta. Pulanglah bersama Bak ke Marga Pendape Hulu. Rasa Cinta dan kasih sayang tidak harus bersama. Cinta ada di hati kita. Aku selalu mencintaimu, istriku sayang.” Kata terakhir Marulak. Marulak akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

“Sringgg. Craattt.” Pibang Kidau atau Pibang pisau milik Naralia tercabut dari warangkanya. Lalu Naralia hujamkan di jantungnya. Darah mengalir deras dan diapun terjatuh dengan berlinang air mata. Anak-anaknya menjerit menangis pilu. “Bak, jangan berperang lagi. Damailah, kita sama-sama orang Melayu (Sekayu), satu keluarga. Bak,  maafkan Naralia. Maafkan kanda Marulak. Lia, sangat mencintai Kakanda Marulak. Hidup kami bersama dan matimu bersama. Tolong jaga anak-anak kami, dan jangan berperang lagi. Bilang sama ibu, aku pergi lebih dahulu. Aku selalu rindu ibu. Bak, aku titip pesan pada anak cucu. Jangan pernah berbuat maksiat apa lagi berzinah di dekat danau ini. Sebab danau ini digali oleh Kakanda Marulak atas rasa cinta pada diriku. Jangan kotori disekitar danau ini, dengan perbuatan atau dengan sampah. Barang siapa yang datang kesini berbuat dosa, berbuat maksiat, mesum dan mengotori lingkungannya. Maka saya sumpahi hidup dia takkan selamat dunia akhirat. Sepanjang hidup dia akan penuh masalah dan penderitaan.” Itulah sumpah Putri Naralia.

Putri Naralia menyumpahi anak cucunya atau siapa pun yang datang ke dekat danau tersebut, lalu berbuat dosa, mencemari lingkungan, merusak alamnya atau mengotori lingkungan dengan sampah (seperti bekas makan-miunum, dll). Maka orang tersebut akan mendapat celaka seumur hidupnya. Lalu Putri Naralia menghembuskan nafas yang terakhir. Sekarang, hanya kesedihan di kedua belah pihak. Akibat kekerasan kepala dua pemimpin dan permusuhan telah menyebabkan penderitaan dua insan manusia yang baik.
******
Depati Marga Pendape Hulu dan Depati Marga Pendape Hilir akhirnya menyadari kekeliruan mereka selama ini. Mereka berperang hanya karena urusan kecil. Sedangkan mereka berasal dari keturunan yang sama. Sama suku bangsa juga, orang Melayu atau Sekayu. Perang hanya menyebabkan penderitaan dan kesedihan saja. Begitu pun pertikaian juga menyebabkan Puyang Marulak melarikan Putri Naralia. Sehingga keduanya kehilangan anak kesayangan mereka. Seandainya mereka mau bersikap bijak. Tentu anak mereka tidak akan hidup terasing di hutan yang dikelilingi rawa-rawa Sungai Musi seperti itu.

Para tetua, Puyang, datu-datu talang, dewan marga dari kedua belah pihak berkumpul di sebuah tempat. Mereka bermusyawarah untuk memecahkan masalah mereka. Hal pertama adalah mereka menyepakati perdamaian dan tidak boleh lagi saling menyerang. Maka satu sama lain mengakat keluarga atau istilah angkan-dangkan.

Sistem angkan-dangkan inilah nantinya ditiru oleh Kedatuan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darusalam dalam menyatukan pemerintahan marga dengan kekuasaan mereka.  Nantinya pada masa  Kedatuan Sriwijaya dan kesultanan Palembang banyak pemberian gelar pangeran pada para depati. Sebab diangkat keluarga oleh para raja. Adat angkat keluarga ini masih sering dilaksanakan oleh penduduk sampai sekarang.

Sebelum musyawarah diawali dengan makan sirih. Sebagai ciri khas adat orang Melayu sebelum bermusyawara. Budaya makan siri pinang ini adalah budaya tertua orang-orang di Nusantara. Hal kedua, tentang pewarisan kepemimpinan marga. Maka diambil kesepakatan kalau Marga Pendape Hilir dan Marga Pendape Hulu disatukan.

Anak laki-laki Puyang Marulak yang baru berumur tujuh tahun, Paniti Rimbe. Mereka angkat menjadi pemimpin. Maka dua marga disatukan. Sehingga menjadi kawasan pemerintahan yang cukup luas. Mereka namakan dengan Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Kelak semasa kekuasaan Kedatuan Sriwijaya. Puyang Dapunta Hyang dari Minanga datang dan bermusyawara mengajak bersatu menjadi sebuah negeri yang lebih besar (Kedatuan). Selain itu Puyang Dapunta Hyang juga mendirikan banyak pedatuan dibeberapa tempat. Barulah Puyang Dapunta Hyang pergi ke Bukit Siguntang (Palembang) dan membangun sebuah pusat pemerintahan. Yang di abadikan dengan sebuah prasasti.

Nama Kedatuan bermakna bersatunya Pedatuan-pedatuan di bawah kekuasaan Sriwijaya sehingga menjadi, Kedatuan Sriwijaya. Sriwijaya kelak menjadi kekaisaran Melayu yang berdiri selama 600 tahun.

Sedangkan pemerintahan marga Pendape Hulu-Hilir di angkat dua anak Marulak yang perempuan. Dari keturunan anak perempuan Puyang Marulak dan Putri Naralia juga terus memimpin marga. Kesepakatan ketiga, musyawarah mereka adalah, membangun pusat pemerintahan baru di Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape. Disanalah Paniti Rimbe memimpin Pedatuan setelah dia dewasa.

Pedatuan semasa kerajaan Sriwijaya sama dengan Kabupaten di zaman sekarang. Misalnya Kabupaten atau Kotamadia Dataran Negeri Bukit Pendape. Waktu berlalu danau yang digali oleh Marulak bertahun-tahun lamanya itu. Waktu demi waktu menjadi danau yang besar. Karena perubahan alam dan pengikisan membuat danau semain lebar. Penduduk Pedatuan Dataran Negeri Bukit Pendape menamakan dengan Danau Marulak dan Naralia.


Danau sebagai lambang cinta keduanya. Insan manusia yang saling mencintai itu. Seiring waktu berabad-abad lamanya. Penduduk menyebut nama Danau Marulak dan Naralia mulai berubah. Kebiasaan orang Melayu adalah ingin cepat dalam menyebut sesuatu. Sehingga mereka menyingkat nama Marulak, menjadi Ulak dan Naralia menjadi Lia. Sehingga kemudian sampai sekarang nama danau berubah menjadi Danau Ulak Lia.
Sekarang Danau Ulak Lia terletak di Kelurahan Soak Baru, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatere Selatan. Kawasan Danau Ulak Lia menurut informasi akan dijadikan kawasan Kebun Raya di Musi Banyuasin.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos
Palembang, 23 Februari 2020.

Arti Kata:
Kedatuan: Kerajaan. Pedatuan: Pemerintahan tradisional yang terdiri dari beberapa marga. Ketika bersatu dengan pemerintahan yang besar sama halnya dengan Kabupaten/Kotamadia. Marga: Pemerintahan tradisional asli masyarakat Melayu yang mendiami Pulau Sumatera bagian Timur meliputi, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung dan Lampung. Terdiri dari beberpa Talang-Talang (Desa).

Datu: Pemimpin Talang atau Jurai Tue atau Kepala Desa. Depati: Gelar pemimimpin marga/pedatuan. Puyang: Gelar kehormatan apabila untuk seorang pemimpin. Dataran Negeri Bukit Pendape: Kawasan tradisional masyarakat yang mendiami disepanjang aliran Sungai keruh sampai ke Bukit Pendape (Marga Sungai Keruh).

Pibang: Senjata tradisional masyarakat di Kawasan Dataran Negeri Bukit Pendape. Pibang Kidau: Pibang yang seukuran pisau di selipkan di pinggang kanan dan dicabut dengan tangan kiri saat penggunaan sewaktu bertarung.

Pibang Kanan: Pibang yang seukuran pedang yang dilekatkan di pinggang kiri dan dicabut tangan kanan saat penggunaan (bertarung). Benca. Tempat penampungan air alami yang berbentuk seperti sungai kecil. Lebung: Jenis penampungan air alami, tapi ukuran lebih kecil dari danau.

Catatan:
Dongeng ini versi masyarakat Sungai Keruh (Dataran Negeri Bukit Pendape). Kemungkinan ada cerita yang berbeda adalah wajar sebab dunia kesusastraan berkembang dan milik semua orang. Perbedaan bukan masalah namun ajaran dan hikmanya yang kita ambil dalam membangun masyarakat.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment