10/29/2019

Pengertian Istilah-Istilah Adat Syarat Pernikahan Masyarakat Melayu Sekayu


Apero Fublic.- Dalam budaya pernikahan pada masyarakat Melayu di Provinsi Sumatera Selatan memiliki beberapa istilah-istilah adat dalam proses pernikahan. Adat istiadat tersebut telah berlaku turun temurun menjadi tradisi. Praktek adat istiadat ini diikuti oleh semua penduduk dengan sendirinya. Tidak ada hukum tertulis, namun sudah di hafal di luar kepala oleh masyarakat. Tulisan ini disesuaikan dengan adat istiadat pernikahan masyarakat Melayu Islam Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

1. Mahar.
Mahar bukan adat tapi hukum wajib dalam Islam. Dimana seorang lelaki wajib membayar mahar pada wanita yang dia nikahi. Di Indonesia mahar lebih sering di sebut Mas Kawin. Mahar boleh sedikit dan boleh juga banyak.

Tergantung permintaan dari pengantin wanita. Rasulullah SAW berkata kalau wanita yang paling baik adalah wanita yang mahar atau mas kawin yang paling sedikit. Karena Mahar atau Mas Kawin adalah bentuk dari nilai keihklasan dan keridhaan si wanita menjadi istri si lelaki.

Mahar atau Mas Kawin yang besar biasanya menyimpan hal yang kurang baik dalam pernikahan. Terkesan materialistis dan adanya maksud tertentu. Misalnya pernikahan seorang gadis muda dengan kakek-kakek, duda, atau lainnya. Atau pernikahan janda dengan seseorang laki-laki dimana dia meminta Mas Kawin yang banyak.

Walau mahar berhutang tidak mengapa. Karena si janda ingin mengikat si lelaki. Sebab kalau si lelaki mau menceraikannya harus membayar mas kawin atau mahar yang dahulu berhutang. Mengapa mahar pada pernikahan yang kurang sehat tersebut sering tidak berimbang, banyak, dan berlebihan.

Karena hukum mahar adalah milik wanita (istri) di luar harta gono-gini. Kita pernah dihebohkan dengan seorang gadis menikah dengan mahar puluhan sukuk emas, uang ratusan juta rupiah, dan lainnya. Karena memang si gadis atau si wanita ingin mendapatkan emas atau materi dari orang yang menikahinya.

Sebab mahar akan menjadi milik pribadi bagi si wanita. Apabila bercerai dia bawak  pergi dan tidak dapat dituntut suami. Itulah sebabnya, di dalam Islam wanita yang paling baik adalah yang maharnya paling sedikit. Bukan berarti tidak boleh banyak, asalkan tidak memberatkan dan tidak ada niat lain, boleh.

2. Jojoh.
Jojoh adalah permintaan adat istiadat untuk kebutuhan saat acara pernikahan. Seperti biayah saat yasinan, syukuran (sedekah) atau resepsi pernikahan di rumah mempelai perempuan. Jojoh berupa uang, emas, beras dan lainnya menurut kesepakatan.

Bentuk uang dengan permintaan tertentu dan diadakan sesuai kemampuan si lelaki. Seandainya uang jojoh ada lebihnya setelah acara pernikahan di tempat mempelai wanita. Maka uang akan dikembalikan dengan barang-barang kebutuhan rumah tangga. Seperti kasur, periuk, kompor, lemari, dan sebagainya.

Atau di istilahkan dengan babah. Kalau pernikahan di tempat wanita biasanya uang jojoh juga digunakan untuk biaya surat menyurat. Sesungguhnya  jojoh yang banyak itu hanyalah bentuk seremonial belaka dalam pernikahan. Tidak juga untuk dinikmati pribadi oleh pihak mempelai wanita. Seandainya tidak adapun sama saja.

Karena jojoh inilah juga banyak para pemuda menunda pernikahan. Kalau menikah mereka juga kadang menjual harta benda atau berhutang. Kadang bertahun-tahun setelah menikah mereka masih membayar hutang pernikahan mereka. Kalau sekarang istilah jojoh sering disebut hantaran-hantaran.

Padahal yang dinamakan hantaran itu, saat orang memberikan atau mengantar jojoh kerumah mempelai perempuan. Karena istilah jojoh itu bermakna semua yang diminta dan yang diberikan atau dihantarkan pada pihak mempelai perempuan kecuali mahar. 

3. Genti Duduk
Kata genti dalam bahasa Indonesia berarti ganti. Sedangkan duduk bermakna keberadaan sesuatu pada tempatnya. Genti Duduk adalah pemberian adat dari mempelai laki-laki pada keluarga perempuan (wali). Genti Duduk dimaksudkan untuk mengganti posisi si anak yang menikah dan akan pergi ikut suaminya. Genti Duduk ibarat suatu pengingat atau penanda keberadaan anak perempuannya di rumah.

Saat ibu, ayah, kakak, adiknya yang sedang rindu padanya. Mereka akan melihat genti duduk untuk mengenang yang sudah menikah. Genti Duduk berupa benda adat seperti senjata tradisional atau baju adat. Genti Duduk tidak boleh barang yang dapat diperjual belikan dengan baik, seperti emas. Genti Duduk adalah barang pusaka keluarga jadi sangat tidak layak kalau sampai hilang atau dijual.

4. Punjung
Punjung adalah persyaratan adat penting dalam adat pernikahan masyarakat Melayu Sumatera Selatan, khususnya di Kabupaten Musi Banyuasin. Punjung berupa pemberian pada sanak keluarga mempelai perempuan. Punjung di daerah Kabupaten Musi Banyuasin berupa ayam. Ada dua punjungpunjung mentah dan punjung masak. Dalam pembagiannya terdiri tiga jenis, Punjung WaliPunjung Tue (Tua), dan Punjung Sanak.

Punjung Wali selalu punjung masak, sedangkan punjung sanak kadang punjung masak dan lebih sering punjung mentah. Fhiloshofi punjung adalah bentuk silahtuhrahmi pertama dalam memulai ikatan keluarga. Seseorang yang datang sangat cocok kalau dijamu dengan baik. Agar tercipta kehangatan dan kekeluargaan.

a. Punjung Wali
Punjung Wali adalah punjung khusus untuk wali mempelai perempuan. Terutama untuk yang bertanggung jawab atas mempelai wanita. Seperti ayah, kakak kandung, kakek-nenek, kakak kandung ayah dimana dia juga sebagai salah satu wali mempelai perempuan. Seandainya keluarganya tidak ada lagi.

Maka siapa yang mengurus si mempelai perempuan atau keluarga terdekatnya yang diberikan punjung waliPunjung Wali adalah berupa ayam yang dimasak tanpa dipotong. Lengkap dengan pengiringnya seperti gulai, nasi, dan sebagainya untuk di hidangkan pada wali si perempuan setelah akad nikah. Apabila rumah mempelai laki-laki dekat biasanya saat makan kedua mempelai dipanggil untuk ikut makan.

b. Punjung Tue (Tua)
Punjung Tue adalah punjung masak yang diberikan pada keluarag dekat mempelai perempuan. Punjung Tue sama saja dengan punjung wali namun diberikan pada keluarga tertua yang dihormati keluarga mempelai wanita.

Seperti kakak kandung dari ayah atau Ibunya (Uwa). Kakak kandung tertua mempelai wanita tapi sudah menikah. Kakak kandung dari kakek atau nenek. Paman saudara kandung dari ayah atau ibu, yang tertua. Pemberian juga seimbang agar tidak ada kecemburuan keluarga. Misalnya dari pihak ayah dua Punjung Tue. Pada keluarga pihak ibu dua Punjung Tue.

Punjung Tue juga diberikan pada orang yang dianggap ada hutang budi. Misalnya si mempelai perempuan pernah sakit keras kemudian diobati orang tersebut, sembuh. Punjung Tue tidak begitu banyak biasanya hanya sebatas dua, tiga, empat. Namun jumlah tidak ada batasan selagi dalam kesepakatan keluarga kedua pihak.

c. Punjung Sanak (Keluarga Besar)
Punjung Sanak adalah punjung yang diberikan pada sanak keluarga perempuan (keluarga besar), sesuai kesepakatan. Punjung Sanak berupa ayam hidup dengan ukuran sedang. Diikuti dengan beberapa syarat adat, diantaranya beras dua kilogram dan bumbu masak ayam tersebut.

Pemberian itu, untuk penghormatan dan tanda ikatan persaudaraan dari mempelai laki-laki pada keluarga mempelai perempuan. Pemberian punjung sanak bebas siapa yang bersyarat boleh diberikan. Tapi penerima punjung sanak juga harus sudah menikah.

Pemberian punjung sanak misalnya pada seorang pamannya, sepupu, bibik, dan lainnya. Ayam punjung sanak yang diberikan, kemudian dimasak dan dimakan bersama sambil mengundang kedua mempelai kerumah mereka. Sehingga sejak saat itu terjalin kekeluargaan dengan keluarga besar mempelai perempuan dengan mempelai laki-laki.

Semacam silaturahmi dan perkenalan pada keluarga baru. Punjung Sanak juga berbalas dari yang diberikan. Misalnya Punjung Sanak diberikan pada paman mempelai wanita. Paman yang diberikan Punjung nanti memberikan hadia pernikahan sesuai kemampuan mereka. Tapi tidak wajib tergantung keikhlasan keluarga tersebut.

5. Pelangkah
Pelangkah adalah pemberian penghormatan pada kakak mempelai perempuan baik kakak laki-laki atau kakak perempuan. Dengan syarat sang kakak belum menikah atau belum pernah menikah. Pelangkah bisanya berupa pakaian, emas, sejumlah uang, senjata tradisional atau pakaian tradisional. Pelangkah dimaksudkan untuk menghormati sekaligus untuk menghibur sang kakak yang belum mendapat jodoh.

Dimana seharusnya yang lebih tua menikah lebih dahulu. Tapi kemudian dia didahului adiknya menyambut jodoh. Pemberian pelangkah ini adalah hukum adat yang tidak tertulis. Tapi juga tidak mewajibkan. Namun menjadi persyaatan sebagaimana persyaratan adat istiadat lainnya. Pelanggan yang diberikan mutlak milik pribadi sang kakak.

Semuanya adalah bentuk adat istiadat. Bentuk kekayaan budaya bangsa tidak benda. Seharusnya dilestarikan dengan cara mengajarkan pada generasi muda, dan membuat kitab tertulis untuk masyarakat. Zaman sekarang masyarakat Melayu Sumatera Selatan mulai meninggalkan adat istiadat tersebut.

Sedikit demi sedikit ditinggalkan oleh masyarakat dan generasi sekarang tidak perduli. Sehingga adat istiadat tenggelam oleh zaman. Mungkin ini memang semacam seremonial adat saja. Namun, mengapa zaman dahulu angka perceraian sangat sedikit.

Apakah peran adat istiadat memberikan pengaruh. Karena ada bentuk keseganan dan penghormatan terhadap keluarga dan tradisi. Kita tidak tahu, hanyalah Allah yang tahu. Ada baiknya kita mulai menengok ke masa lalu bangsa kita untuk memulai mengambil pembelajaran.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 29 Oktober 2019.
Sumber. Keterangan tetua desa di Desa Gajah Mati dan Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment