Syarce

Syarce adalah singkatan dari syair cerita. Syair cerita bentuk penggabungan cerita dan syair sehingga pembaca dapat mengerti makna dan maksud dari isi syair.

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

@Kisahku

@Kisahku adalah bentuk karya tulis yang memuat tentang kisah-kisah disekitar kita. Seperti kisah nyata, kisah fiksi, kisah hidayah, persahabatan, kisah cinta, kisah masa kecil, dan sebagaginya.

Surat Kita

Surat Kita adalah suatu metode berkirim surat tanpa alamat dan tujuan. Surat Kita bentuk sastra yang menjelaskan suatu pokok permasalaan tanpa harus berkata pada sesiapapun tapi diterima siapa saja.

Sastra Kita

Sastra Kita adalah kolom penghimpun sastra-sastra yang dilahirkan oleh masyarakat. Sastra kita istilah baru untuk menamakan dengan sastra rakyat. Sastra Kita juga bagian dari sastra yang ditulis oleh masyakat awam sastra.

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

8/18/2019

Mata Cantik Aisyah Part III: Aisyah dan Geng Mio


Apero Fublic.- Bulan Ramadhan 1439 Hijriah telah berlalu, sekitar sebulan lalu. Aktivitas perkuliahan Aisyah dalam libur smester. Kampus sepi, hanya mahasiswa smester akhir yang datang mengurus tugas akhir, seperti skripsi, kompre, ujian munaqosah  yang datang ke kampus. Mereka dengan sabar menunggu untuk bimbingan skripsi atau ujian komprehensip. Libur smester, Aisyah juga pulang ke kampung halamannya di Kota Lahat. Desa Aisyah sangat indah, banyak sawah terhampar dan perbukitan yang tinggi.

Suatu pagi Aisyah pergi kepasar sayur dengan berjalan kaki. Aisyah sengaja tidak membawa sepeda motor. Dia ingin melepas rindu dengan tanah kelahirannya. Karena sudah lama tidak pulang ke desa jadi Aisyah ingin menikmati suasana desa yang asri, sejuk dan damai. Sambil berjalan Aisyah menikmati pemandangan alam daerahnya yang indah. Awan putih nampak bergumpal di atas bukit salero. Memanjakan matanya, yang sudah berbulan-bulan hanya melihat kendaraan dan gedung-gedung di Kota Palembang.

Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Dengan santai Aisyah pulang dari pasar membawa belanja sayurannya di dalam keranjang rotan yang dianyam indah. Hasil kerajinan anyaman dari ibunya. Ada dua kilogram ikan sungai, setengah kilo tomat, dua ikat sayur kangkung, dua kilo kentang, dan bumbu-bumbu dapur. Saat pulang, agar tidak terlalu jauh Aisyah mengambil jalan pintas. Sebuah jalan setapak menuju rumahnya.

Selain itu Aisyah juga ingin melihat lebih banyak hamparan sawah dan pepohonan di perbukitan. Dulu jalan setapak itu adalah jalan pulang Aisyah dari sekolah sewaktu SMA. Aisyah berpapasan dengan beberapa ibu-ibu yang pulang dari sawah. Semuanya tersenyum hangat menyapa Aisyah. Kedua ibu-ibu itu suka Aisyah semakin sholehah. Saat bertegur sapa mereka memuji Aisyah, sehingga Aisyah jadi malu.

Pertengahan perjalanan menyusuri jalan setapak itu. Melewati tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan hiaju. Sekelompok anak perempuan nampak berkumpul. Mereka duduk dan bermain disekitar itu. Perbincangan yang seru, terkadang mereka tertawa terbahak-bahak. Semuanya tampak begitu ceria dan gembira. Entah apa yang membuat mereka begitu semangat. Seharusnya mereka kesekolah hari ini. Tapi mengapa tidak bersekolah. Ternyata mereka bersepakat untuk bolos.

Semuanya berbaju kaos mini yang hampir terlihat pusarnya dengan celana pendek sebatas paha. Ada juga yang memakai rok mini. Tiga orang remaja rambutnya dipotong pendek sebahu. Duduk di sisi jalan setapak yang di cor beton, beralas sendal. Lima gadis lagi duduk diatas sepeda motor, dua tegak di sisi motor dengan tangan di lipat kedada. Bahkan ada yang duduk diatas sepeda motor degan cara kakinya diletakkan diatas setir motor.

Kaki dan pahahnya terpampang jelas. Tubuhnya ramping semampai, berkulit putih, alis hitam halus, wajah oval dengan lesung pipit. Wajah cantik dengan bibir merah tanpa lipstik. Namanya Zulaihah, dia pemimpin Geng Mio di desa Aisyah. Memang semua kelompoknya memakai sepeda motor mio. Aisyah memperhatikan sekumpulan gadis-gadis remaja itu.

Kalau dilihat dari umurnya mereka masih anak SMA. Dua tahun lebih muda dari Aisyah. Kemudian salah seorang diantara mereka berseru. Melihat Aisyah melangkah perlahan menuju kumpulan mereka. Aisyah yang memakai cadar, bergamis, dan berhijab syariah tentu menjadi perhatian mereka. Bila dibandingkan dengan mereka seperti langit dan bumi.

“Eh, lihat siapa itu !!!.” Serly berseru, dia tegak dengan tangan dilipat di dada.
“Entahlah, ada juga sok alim di desa kita.” Kata Arum yang rok mini.
“Orang baru mungkin.” Yang berambut pendek sebahu, dan dicat kuning kekuningan dibagian depan menimpali. Namanya Via.
“Baru lihat. Kata yang duduk di belakang Arum.
“Itu Aisyah sepertinya. Rumahnya tidak jauh dari rumahku.” Yang duduk di motor menambahkan.
“Dulukan dia tidak bercadar dan berpakaian begitu.
“Oh. Aisyah. Ku pikir siapa. Sok sekali itu cewek. Baru kulia beberapa smester sudah begitu pakaian kayak orang Arab.” Kata Zulaihah.

Aisyah sampai di dekat mereka. Gadis di atas motor memberi kode pada gadis remaja yang rambutnya di cat warna kuning untuk menghalangi jalan. Kemudian dua temannya juga ikut pura-pura berbincang di tengah jalan. Sehingga jalan setapak terhalangi oleh mereka bertiga. Setelah Aisyah dekat dan tinggal beberapa langkah. Aisyah menyadari kalau dia bertemu remaja-remaja nakal. Sebagai seorang mahasiswi dia tetap tenang. Menganggap mereka semua sebagai adik-adiknya.

“Waduh, gayanya macam ustazah saja ya. Kemaren pakai hijab saja terpaksa, sekarang baru kulia beberapa smester sudah pakai cadar. Anehhh...
“Munafiq juga, ini orang ya.
“Tau, aah...
“Macam orang Arab saja. Ini Indonesia yee.” Kata Via sambil mulut di dowerkan.
“Mirip ibu-ibu yah.!!! Mirip sekali ya. !!! Pakek gamis, pakek cadar. Eh, itu ditangan mirip tempat bawang merah ya.” Mereka meledek handshock Aisyah.

Semua kemudian tertawa terbahak-bahak. Aisyah mendidih sampai keatas ubun-ubun kepalanya. Tapi dia kemudian beristiqfar dan bersabar. Dia diam saja mendengar perkataan remaja-remaja itu. Aisyah walau baru masuk semester empat dia sudah benar-benar dewasa. Dia tahu kalau ini anak remaja yang perlu dia rangkul. Banyak celoteh mereka membuat kuping Aisyah panas. Sesungguhnya kelompok Geng Mio ingin membuat Aisyah marah dan ribut dengan mereka. Setelah itu Aisyah kemudian berkata lembut.

“Adik, sudah bicaranya. Kakak mau lewat pulang.
“Adikkkk. Sok dekat ini cewekkk.” Kata Zulaihah yang paling sangar.
“Lewat saja sendiri apa urusan kami. Sok baik, emang kami adik kamu.” Kata si pirang ketus. Aisyah kemudian mengalah dan dia keluar dari jalan setapak dan melewati rerumputan tanah lapang. Dia terus berjalan tanpa menghiraukan celoteh nakal mereka. Aisyah benar-benar di uji imannya pagi ini. Bukan ahlak seorang muslimah sejatih apabila berkata-kata kasar.

Satu bulan berlalu dari kejadian itu. Suatu hari Aisyah pergi bersantai jalan sore bersama seorang sepupunya, Muslimah. Di perbatasan desa ada tempat penjualan kuliner. Di sana masyarakat sering datang bersantai, menikmati pemandangan Bukit Salero, tepian Sungai Lematang berbatu dan berair jernih, Kawasan Merapi Barat. Daerah Aisyah adalah dataran tinggi.

Banyak jalan yang berliku-liku karena jalan berbukit dan menghindari jurang. Di kelokan, agar aman pengendara membunyikan klakson dan melaju perlahan-lahan. Ada lembah yang cukup dalam dan curam di sisi jalan. Aisyah melaju dengan perlahan dan sabar. Sepupunya yang rewel selalu manja mengajak berbincang terus. Aisyah sabar meladeni adik cantiknya itu.

“Kak, nanti kaka yang traktir, besok baru aku?
“Ahh, kamu ini, besok terus. Datang besok  traktir hari ini, besok dia besak lagi.
“Iyalah akukan adik. Adikkan memang nomor satu.
“Oh. Mentang-mentang adik kamu yaaa, zolim ke kakak, durhaka tau.
“Kak gimana kabar cowok kakak.
“Eh, jangan sebut lagi. Kakak sudah hijrah dan istiqomah. Menjemput jodoh tanpa pacaran. Dulu kakak belum tahu saja tentang hukum Islam. Setelah kakak tahu jadi kakak tidak mau pacaran lagi. Dosa besar.
“Benar dosa besar kak.?
“Iyalah, itu jelas tertulis di dalam Al-Quran. Tidak boleh mendekati zina.
“Kak bole aku juga ikut hijrah.
“Eh, kamukan masih kecil, belum pernah pacaran. Jadi bukan hijrah namanya. Tinggal menutup aurat dan memperdalam pengetahuan ilmu agama.
“Ohhh. Begitu, makasi kak aku yang cantik. Semoga kak Ali cepat melamar Yah.

Aisyah melihat bekas ban mobil mengerem. Tapi itu biasa kalau di jalan raya. Kali ini ada rambu-rambu lalu lintas yang memberi tahu kalau jalan tikungan tajam dan menurun. Saat melewati pertengah tikungan tanpa sengaja Aisyah melihat ke samping kirinya. Aisyah terkejut dan setengah tidak percaya.

Tiga motor mio tergeletak, sedangkan ada delapan orang gadis dengan busana seksi sekali tergeletak disekitaran itu, terluka parah. Sepertinya mereka ada yang bonceng tiga. Ada yang berdara di hidung, tangan, kaki. Aisyah berhenti mendadak. Membuat Muslimah tersentak kaget. Muslimah menggerutu kenapa tiba-tiba berhenti. Aisyah dengan sigap menepikan motor dan turun.

Muslimah yang baru melihat juga terlonjak dengan kaget. Merekapun buru-buru menolong delapan orang yang tergeletak itu. Erangan dari mulut mereka terdengar kalau mereka masih hidup. Untung sesaat kemudian ada mobil pickup kosong lewat. Masih mobil penduduk di desa Aisyah. Sehingga keenam gadis itu dibawak kerumah sakit Kota Lahat.
*****
Sejak kejadian sore itu. Dimana Aisyah membantu, merawat dan sekaligus mengantar mereka ke rumah sakit. Membuat Geng Mio terharu. Mereka tidak menyangka kalau Aisyah masih baik dan membantu mereka. Seandainya Aisyah dan Muslimah tidak membantu. Entah apa yang terjadi, mungkin mereka meninggal atau diperkosa orang.

Kejadian itu membuat Geng Mio sadar. Mereka datang menemui Aisyah dan meminta maaf. Mereka berterimah kasih dan mengakui kalau mereka salah. Aisyah memaafkan mereka dan sekarang bersahabat. Aisyah sering berkumpul dan berbagi dengan mereka. Terutama tentang kewajiban seorang muslimah menutupi auratnya.

Berbagai alasan mereka dalam menanggapi ajakan menutupi aurat. Ada yang bilang masih jarang shalat. Ada yang buta ilmu agama, ada yang beralasan bukan anak pesantren. Aisyah menjelaskan kalau itu semua dapat diperbaiki seiring waktu. Aisyah menceritakan saat pertama dia memakai hijab syariah dan bercadar masih pacaran. Kemudian setelah dia tahu kalau tidak bole mendekati zina seperti pacaran. Maka dia memutus pacaranya, si Ahmad.

Sekarang Aisyah juga sedang belajar tentang ilmu piqh muslimah. Mereka akrab, dan menjadi seperti adik dan kakak. Suatu hari Aisyah mengundang mereka, buat acara rujakan. Aisyah tidak lagi membicarakan tentang hijrah.

Ternyata Geng Mio juga sudah mendapat hidayah. Saat makan ruajak bersama itu mereka berkata kalau mau hijrah karena Allah. Selama ini mereka tidak tahu sehingga mereka hanya ikut-ikutan sifat remaja di televisi, novel, youtube, medsos. Sehingga akhirnya mereka mencoba dengan syarat kalau tidak tahan boleh dilepas.

Aisyah bilang coba saja dan hanyati dengan iman. Sepuluh orang anggota Geng Mio memakai hijab syaraiah. Mereka membeli hijab secara online, lengkap dengan cadar, dan hand shock. Geng Mio memakai cadar dan pakaian syariah. Dua anggota yang tidak ikut kecelakaan juga ikut hijrah.

Setelah semua seragam busana muslim. Suatu hari, mereka mutuskan untuk bersantai bersama. Geng Mio yang baru mulai menampakkan diri. Desa Aisyah heboh dan beragam tanggapan masyarakat. Ada yang bilang radikal, teroris, budaya Arab, sok suci, kayak ibu-ibu.

Tapi mereka semua tidak peduli. Sebab mereka hijrah karena Allah. Allah mengampunkan semua dosa hambanya yang taubat. Suatu sore, Geng Mio, Aisyah, Muslimah melanjutkan niat beli bakso yang tertunda dulu, sebab mereka membantu kecelakaan. Sekarang sudah ada enam motor mio.

Kebetulan motor Aisyah juga motor mio. Ada duabelas orang bersepeda motor mengenakan busana muslimah. Penduduk desa terperanga melihat semua itu. Saat tiba ditempat jajanan, semua penduduk terdiam dan tidak percaya. Si ibu penjual bakso beberapa kali bertanya apakah benar kalau itu Geng Mio pimpinan Zulaihah. “Dunia terbalik apa?. Si ibu itu berguman.

Geng Mio merasa nyaman memakai pakaian muslimah. Mereka merasa aman dan terlindungi. Laki-laki tidak melihat mereka dengan renda dan penuh pandangan nakal. Mereka merasan menjadi wanita yang mulia. Sehingga akhirnya Geng Mio benar-benar berubah total, lahir dan batin.

Di malam hari mereka belajar mengaji di masjid. Sepulang sekolah mereka latihan berbagai kegiatan bermanfaat. Seperti bermain musik robana, mendesain busana muslim, bermain volly ball. Ternyata walau berbusana muslim tidak menghalangi mereka berolahraga.

Orang tua Geng Mio merasa bangga dengan mereka. Sehingga anggota Geng Mio menjadi terharu. Mereka tidak menyangka kalau orang tua mereka menjadi bangga dan bahagia melihat anak gadis mereka menjadi gadis shalehah. Kalau selama ini mereka dimarahi setiap hari. Sekarang ayah dan ibu mereka jadi tersenyum bahagia selalu.

Suatu festival olahraga di adakan di Kecamatan Merapi Barat, Lahat. Desa Aisyah menjadi tuan rumah. Geng Mio dan Aisyah ikut bertarung dalam kompetensi itu. Enam orang Zulaihah dan teman membentuk tim volly.

Dua orang beradu di busana muslim. Aisyah dan Musliman di tim kasidah. Tanpa disangka-sangkah mereka mendapat juara pertama semua. Keharuan kembali terjadi saat Pak Bupati yang memberikan hadia. Para orang tua Geng Mio yang menonton menyaksikan mereka jadi terharu.

Berurailah air mata mereka. Tak disangkah anak nakal dahulu sekarang berubah menjadi anak berprestasi dan shalehah. Geng Mio berlari menemui ibu–ibu mereka masing-masing. Memeluk dengan rasa mengharu-biru, sambil menangis. Mereka sekarang benar-benar menyadari alangkah indah hidup dengan kebaikan ahklak.

Begitupun ibu Muslimah juga bangga padanya. Aisyah tersenyum melihat ibunya. Dia memeluk sang ibu. Ibu Aisyah juga sangat sayang dengan Aisyah. Ibunya juga bangga putrinya sekarang menjadi gadis shalehah dan mampu merubah teman-temannya.

Di keramaian sore itu, penduduk melepas kepulangan Pak Bupati, dan tim-tim kecamatan lain. Sebelum pulang Pak Bupati berpesan agar anak muda menjadi agen perubahan bangsa, jauhi narkoba, rajinlah belajar, dan pelajari ilmu agama, Islam. Aisyah berjalan di kerumunan masyarakat di dampingi ibunya.

Dia bermaksud belanja jajanan. Lalu Aisyah bertemu dengan teman-temannya. Orang tua para Geng Mio sangat bahagia bertemu Aisyah. Bagi mereka Aisyah adalah pahlawan anak-anak mereka. Eh, ada yang menawarkan untuk menjadi menantunya. Aisyah bilang Insyaa Allah nanti setelah selesai kuliah.
******
Libur semester telah berakhir. Aisyah pamit untuk kembali ke kampus. Pagi yang cerah dan penuh haru. Sebelumnya Aisyah sudah pamit dengan teman-temannya. Muslimah dan tentunya Geng Mio yang sudah hijrah itu, menjadi sedih. Tas dan barang bawaan Aisyah sudah di siapkan ayahnya di pinggir jalan.

Agar kenek bus mudah mengangkat nanti. Aisyah memeluk ibu dan ayahnya. Begitupun dua adik kecilnya, Khadijah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dua adik laki-lakinya yang sudah SMP dan SMA juga berpamitan pagi tadi sebelum berangkat ke sekolah. Setelah siap Aisyah menunggu bus lewat di depan rumahnya.

Bus lewat pukul 09:00 WIB biasanya. Beberapa tetangga Aisyah juga sedih Aisyah kembali ke Kota Palembang. Terasa sepi kalau tidak ada Aisyah, kata mereka. Aisyah melangkah keluar diiringi ibunya. Saat Aisyah keluar membuka pintu. Betapa terkejut Aisyah halaman rumahnya sudah ramai.

Geng Mio datang untuk melepas keberangkatan Aisyah ke Kota Palembang. Tapi yang paling Aisyah terkejut. Ada ratusan wanita yang berbusana muslimah sesuai syariah. Aisyah tidak menyangka kalau semua gadis di desanya sudah menyadari menutup aurat adalah wajib bagi wanita muslim.

Semuanya tahu dan mengenal puncaknya saat pestival olah raga kemarin. Sehingga semua penduduk desa mengetahui.Teriak panggilan kakak memanggil Aisyah menggema di halaman rumah. Aisyah hampir menjerit haru dan menutup mulut dengan kedua tangannya.

Begitupun ibu, ayah, tetangga, dan penduduk yang melintas menjadi terharu. Air mata mereka mengalir dengan sendirinya. Geng Mio memberikan Aisyah sebuah boneka berungan besar sebagai hadiah. Mereka memeluka Aisyah satu demi satu. Dalam haru dalam tangais mereka merasakan kedamaian dalam iman Islam.

Bus yang di tunggu datang juga. Ayah Aisyah memberi tanda agar bus berhenti. Bus mengerem, berhenti tepat di depanrumah. Seorang anak perempuan umur tujuh tahun menangis meminta Aisyah jangan pergi. Ibu si anak berusaha menangkan. Dia bilang Kakak Aisyah mau kuliah, mau belajar, nanti kalau dia libur dia akan pulang lagi.

Anak itu namanya Fatimah, selalu belajar mengaji dengan Aisyah. Kepergian Aisyah diiringi air mata haru dan cinta kasih semua orang desanya. Lambaian tangan mereka dapat Aisyah lihat dari jendela bus. Aisyah merasa bahagia sekali. Seperti mimpi rasanya. Dalam hati Aisyah berkata.

Terimah kasih Ya Allah telah menganugerahkan kasih sayang diantara kami. Kau telah membuka pintu hidayah sehingga kami dapat menikmati rahmatmu dengan baik. Untuk menghilangkan bosan Aisyah membuka handpone samsung miliknya. Dari facebookinstagram, sampai twitter. Aisyah tidak pernah membuka konten yang buruk apalagi amoral.

Tidak pernah menulis status yang tidak baik di dinding media sosialnya. Perjalanan yang membosankan dengan lama mencapai tujuh jam perjalanan, Lahat ke Kota Palembang. Mau tidak mau harus di jalani dengan sabar. Sebua pesan dari whatsApp masuk. Itu pesan dari seorang pemuda blogger yang pengangguran, Kak Joni tertulis namanya.
“Assalamualikum dek?
“Waalaikum salam, Kak.” Jawab Aisyah.
“Adik apa kabar? “ Masih libur apa?
“Alhamdulillah, baik Kak. Sudah kembali kulia kak. Ini adik sudah di jalan menuju Kota Palembang. Senin ini adik sudah mulai kuliah aktif.
“Adik di bus sekarang.
“Iya kak?
“Kakak dimana, lagi apa?
“Kakak di rumah. Sedang mengetik cerpen. “Oh, yah. Puisi adik sudah kakak upload di blogger.
“Terimah kasih, kak. Coba kirim lingnya.” Balas Aisyah.

Seorang anak muda duduk di kursi di sebalah kursi Aisyah. Rambut agak gondrong, mata sipit, kulit berwarna putih. Memakai switter berwarna biru langit. Kepalanya dia tutup dengan topi switternya sehingga terlihat wajahnya saja. Celana jean hitam, bersepatu karet berwarna biru.

Ada tas kecil berwarna coklat, yang berisi Al-Quran saku, handpone, sisir dan handuk kecil. Pemuda itu duduk bersebelahan dengan seorang bapak-bapak berumur empat puluhan tahun. Si pemuda membuka smartphone xiomi miliknya. Dia sedang mengirim pesan entah pada siapa.

Kemudian si pemuda melihat ke arah kursi Aisyah. Seringgai aneh mengulas di bibirnya. Tatapan mata si anak muda juga penuh tanda tanya. Aisyah melirik dan hatinya bertanya-tanya tentang si pemuda itu. Namun semua tanya hatinya dia abaikan sebab tidak berbuah jawaban.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 28 Juli 2019.
Sumber gambar kartun. http://kartunmuslimah.com

Sy. Apero Fublic

8/12/2019

Mitos Puyang Burung Jauh: Terbentuknya Desa Penggage dan Desa Sugiwaras

Apero Fublic.- Puyang memiliki dua pengertian, secara sempit dan secara luas. Secara sempit Puyang adalah panggilan untuk orang yang lebih tua dari kakek atau nenek. Orang yang di tuakan. Secara luas, puyang adalah gelar untuk orang tua terdahulu yang memiliki kesaktian atau kemampuan lebih. Puyang juga bermakna leluhur, dari suatu kelompok masyarakat. Munculnya gelar puyang di kemudian hari, setelah orang tersebut sudah tidak lagi hidup. Sehingga muncul banyak cerita legenda dari orang tersebut.

Mitos Puyang Burung Jauh sangat populer zaman dulu di  masyarakat Melayu Sumatera Selatan. Burung Jauh adalah sejenis burung yang berbunyi “jauhjauhjauh.” Maka masyarakat mengartikan kalau itu adalah peringatan agar masyarakat pergi selekasnya dari tempat itu. Karena dianggap akan datang sesuatu yang buruk di tempat pemukiman mereka.

Orang Melayu menganggap burung tersebut adalah jelmaan orang sakti. Dia datang memberi peringatan pada masyarakat di suatu tempat. Misalnya masyarakat yang mendiami sebuah Desa, Talang, atau Ladang. Kemudian mereka mendengar suara burung jauh di sekitar pemukiman mereka. Maka masyarakat tersebut akan segerah pindah. Walaupun pemukiman yang mereka tempati sudah lama, berumah bagus, sudah ada perkebunan harta benda mereka. Mereka akan tetap meninggalkan pemukiman tersebut.

Masyarakat berpendapat kalau Burung Jauh adalah Jelmaan Seorang Sakti dari para leluhur orang Melayu untuk melindungi mereka. Masuknya Islam, masyarakat berpendapat Puyang Burung Jauh menurut kepercayaan orang-orang Melayu Sumatera Selatan adalah penjelmaan karomah dari wali-wali Allah. Ada juga yang berpendapat Puyang Burung Jauh adalah jelmaan dari Nabi Khidir.

Menurut mereka, Nabi Khidir datang untuk memberikan peringatan akan adanya mara bahaya atau keburukan yang menimpa tempat yang di diami penduduk. Karena orang Melayu adalah umat Islam yang di cintai oleh Rasulullah SAW. Berikut tiga jenis keburukan yang kemungkinan menimpah masyarakat yang didatangi Burung Jauh.

1. Penanda Ada Bencana Alam
Menurut masyarakat salah satu bentuk peringatan tersebut dari bencana alam. Seperti banjir besar, gempa, kebakaran, gunung meletus, angin topan.
2. Penanda Kalau Ada Marabahaya
Puyang Burung Jauh juga memberi tanda kalau akan ada mara bahaya. Misalnya serangan musuh, serangan hewan buas. Misalnya akan dilalui oleh kawanan gajah, kawanan harimau. Bencana kelaparan atau gangguan suban (siluman).
3. Mitos Adanya Wabah Penyakit
Misalnya adanya penularan wabah penyakit. Sehingga dengan pindah masyarakat akan dapat menghindari wabah tersebut.

Puyang Burung Jauh datang memberi peringatan. Kedatangannya berarti sudah sangat penting urusannya. Sehingga mau tidak mau harus pergi. Kalau tidak sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka semua. Belum ada keterangan yang kuat tentang bentuk dan rupa Burung Jauh.

Ada masyarakat menceritakan kalau Burung Jauh sangat kecil seperti burung pipit. Tapi memiliki suara yang kuat dan nyaring. Ada juga masyarakat menerangkan kalau Burung Jauh sebesar burung elang. Bulunya putih bersih dan berjambul putih yang melingkar seperti sorban seorang ulama. Ada juga masyarakat menyatakan seperti burung merpati.

Yang paling banyak berpendapat: karena orang sakti maka dapat menjelma jadi bentuk burung apa saja sesuai kemauannya. Seperti burung merpati, elang, pipit, punai dan sebagainya. Yang pasti Burung Jauh tersebut berbunyi jauh, jauh, jauh. Kadang berbunyi sampai tiga hari tiga malam. Kadang berbunyi beberapa kali saja tapi didengar jelas oleh penduduk.

Peristiwa nyata dan menjadi bukti yang menjelaskan kepercayaan masyarakat Melayu adanya Puyang Burung Jauh. Terjadi di awal abad ke-18 M semasa kesultanan Palembang Darussalam. Waktu itu, Marga Sanga Desa dipimpin oleh Pasirah Pangeran Mangkurebin. Perpindahan besar-besaran orang-orang Melayu di pedalaman yang tinggal di sepanjang Sungai Keruh anak dari Sungai Punjung terjadi.

Pada awalnya mereka semua di datangi oleh Burung Jauh sehingga mereka pergi. Meliputi Dusun Irik, Dusun Tinggalam, Talang-Talang sekitarnya semuanya meninggalkan daerah mereka dengan terburu-buru. Sebagian penduduk yang melarikan diri ke hulu Sungai Punjung, kemudian masuk ke terusan-terusan sungai kecil lalu sampai di tepian Sungai Musi. Kemudian mereka menetap dan membentuk Dusun Penggage.

Sebagian lagi masyarakat tersebut juga tiba di tepian Sungai Musi dari arah yang berbeda yang kemudian membentuk Dusun Sugiwaras. Sugiwaras kemudian menjadi ibu kota Marga Punjung semasa Pemerintahan Kolonial Belanda.[1] Sekarang kedua desa ini masuk dalam administrasi Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin.

Perpindahan penduduk yang tersebut adalah bentuk dokumentasi dari kepercayaan adanya Puyang Burung Jauh. Entalah apakah Burung Jauh adalah mitos atau kenyataan, Wallahu a'alam bish-shawabi.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 27 Juli 2019.
Sketsa: Apero Fublic
Mohd. Oedji Anang. Sejarah Marga Sanga Desa dan Silsilah Pasirah-Pasirah yang Pernah Memimpinya. Bandung: t.pn, 1985. Wawancara dengan warga masyarakat di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.


[1]Mohd. Oedji Anang, Sejarah Marga Sanga Desa dan Silsilah Pasirah-Pasirah yang Pernah Memimpinya, Bandung: t.pn, 1985,  h. 29.

Sy. Apero Fublic

8/11/2019

Mitos Makhluk Iyau Pada Masyarakat Melayu

Apero Fublic.- Pada masyarakat Melayu Sekayu ada sebuah cerita rakyat yang sudah turun temurun. Tidak tahu dari mana asal cerita, namun cerita ini tersebar di tengah masyarakat. Cerita rakyat tentang mahluk yang tidak dikenal, bernama Iyau. Iyau adalah mahkluk yang menggabungkan tiga unsur; unsur manusia, unsur hewan, dan unsur suban (siuman) atau makluk halus.

Para orang tua dahulu sadar kalau unsur sastra dapat menjadi media pengajaran yang sangat baik pada manusia. Ajaran yang diselipkan dalam sastra lisan atau tertulis dapat berupa sastra nasihat atau sastra melindungi. Fungsi cerita rakyat makhluk Iyau adalah untuk melindungi. Untuk menakuti anak-anak agar tidak bermain terlalu jauh dari pemukiman. Sebab pada masa dahulu hutan-hutan sangat lebat dan banyaknya binatang buas menjadi ancaman.

Cerita juga diselipkan untuk pengendalian sosial, seperti hubungan wanita dan laki-laki. Para orang tua yang harus bekerja di ladang atau beraktivitas jauh dari rumah. Akan sulit mengawasi anak-anak yang suka bermain terutama di sungai sebagai tempat mandi dan bermain. Orang Melayu dahulu setiap pemukiman  selalu di pinggir sungai-sungai. Hampir setiap nama sungai selalu menjadi nama tempat.


Anak-anak, saat musim kemarau mereka akan berjalan jauh menyusuri sungai-sungai mencari ikan, siput, kerang, kepiting dan sebagainya. Musim kemarau dimana ular berbisa, hewan buas seperti harimau, beruang, serigala dan gajah akan mendekati sumber air. Maka dikhawatirkan anak-anak akan di serang oleh hewan-hewan lapar tersebut.

Begitupun di hutan yang lebat akan membuat anak-anak tersesat dan juga kemungkinan diserang binatang buas. Kaum wanita juga rentan dengan pelecehan seks sual di sungai. Atau akan terjadinya seks tidak sehat mengingat sungai adalah bagian interaksi masyarakat waktu itu.

Menurut cerita masyarakat, bahwa makhluk Iyau ini muncul biasanya saat kemarau panjang. Pernah suatu ketika, orang tua (orang zaman dulu) bertemu atau melihat. Yaitu, memergoki Iyau sedang berjalan menyusuri tepian sungai. Orang tersebut melihat mengintif dari atas tebing sungai.

Memperhatikan dan mengingat ciri-cirinya. Mahkluk Iyau menyusuri sungai-sungai yang setengah kering mencari makanan seperti, siput, keong, kepiting, labi-labi, ikan, berang-berang atau apa saja yang dapat ditemukan di sepanjang sungai. Memakan semuanya mentah-mentah secara langsung tanpa di masak atau di olah.


Saat mencari pasangan hidup Iyau juga sering menculik manusia untuk istri atau suaminya. Mahluk ini menyihir sehingga manusia yang di culik lupa diri atau tidak sadar. Mungkin sama seperti di hipnotis zaman sekarang. Manusia yang di culik dibawak kemana mereka pergi. Mengikuti dari belakang tanpa menyadari dan tidak tahu apa yang terjadi padanya. Perlahan-lahan manusia yang mereka culik akan berubah secara psikologis dan fisik seperti Iyau.


Makhluk Iyau bermulah dari manusi-manusia yang dikutuk. Tersebutlah seorang Datu Puyang Depati Sakti. Puyang Depati Sakti, zaman dahulu pemimpin orang Melayu di suatu tempat. Kesaktian Puyang Depati Sakti mampu mengutuk manusia. Konon Puyang Depati Sakti adalah guru Si Pahit Lidah. Suatu ketika ada seorang istri bermain serong dengan seorang lelaki beristri. Kemudian kedua sering berzina di dalam Sungai. Perbuatan mereka itu kemudian di ketahui masyarakat dan mereka ditangkap.

Lalu Puyang Depati Sakti sebagai Datu di daerahnya memberikan hukuman berupa kutukan. “Kalian berdua adalah manusia, bersifat seperti binatang dan mengikuti ajaran suban. Akal terbalik dan jalan hidup terbalik. Maka, jadilah kalian dari ketiganya.” Sepuluh tahun kemudian, terjadi lagi perzinahan di dalam sungai. Seorang gadis dan seorang bujang kali ini. Kembali Datu Puyang Depati Sakti memberikan kutukan. “Kalian berdua adalah manusia, bersifat seperti binatang dan mengikuti ajaran suban. Akal terbalik dan jalan hidup terbalik. Maka, jadilah kalian dari ketiganya.”


Keempat manusia itu menjadi Iyau yang sering berjalan di sepanjang sungai di musim kemarau. Pasangan pelaku serong sering menculik anak-anak untuk dijadikan anak mereka. Pasangan zina si bujang sering menculik wanita untuk dijadikan Istrinya. Pezina gadis itulah Iyau yang sering menculik laki-laki untuk dijadikan suaminya. Ada juga yang berpendapat kalau mereka menculik sesuka hati mereka tanpa memilih.


Menurut masyarakat ciri-ciri makhluk yang dinamakan Iyau:
1. Bentuk tubuh sama seperti manusia, seperti kepala, bertangan dua, tubuh, paha, dan berkaki.
2. Telapak kaki makhluk Iyau terbalik, yaitu bagian tumit di depan dan jari di bagian belakang. Kegunaan telapak kaki terbalik untuk mengecoh manusia. Sehingga saat manusia mencari mereka akan salah arah saat mengikuti jejaknya.
3. Seluruh tubuh Iyau ditutup oleh buluh lebat sepanjang lima centimeter dari wajah sampai ke kaki.
4. Tangan Iyau sepanjang tubuhnya. Kalau manusia panjang tangan  hanya sebatas paha saat dijulurkan. Tangan makhluk Iyau sampai mata kaki. 
5. Mata mahkluk Iyau bentuk matanya bulat seperti buah tomat. Kalau manusia bolah matanya hitam putih, mata Iyau berbentuk bulat buah, berwanah merah biji matanya, dan hitam sekelilingnya.
6. Makhluk Iyau mulutnya membuka ke samping kiri dan kanan. Berbeda dengan mulut manusia yang membuka keatas dan ke bawah.
7. Makhluk Iyau dapat berjalan atau berlari-lari diatas semak-semak atau dedaunan.
8. Rambutnya sangat panjang sampai ke mata kaki dan ada juga yang lebih sampai menyentuh tanah. Saat berjalan rambut seperti menyapu tanah.

9. Pakaiannya berupa dedaunan yang di rangkai-rangkai.
10. Makhluk Iyau tidak berbicara seperti manusia. Tapi berbunyi sebentuk seperti hewan, mereka berkata atau berbunyi "Iyau. Iyau. Iyau." Hanya begitu saja sehingga orang menamakannya Iyau.

Mitos makhluk Iyau masih hidup subur di tengah masyarakat Melayu di Sumatera Selatan, terkhusus di daerah Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin. Bahkan masyarakat masih sangat percaya kalau makhluk Iyau benar-benar ada. Entalah, Wallahu a'lam bish-shawabi.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 12 Agustus 2019.

Sumber: Cerita di tengah masyarakat di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Sketsa: Apero Fublic.

Sy. Apero Fublic

8/04/2019

Tiga Tipologi Rumah Panggung Di Provinsi Sumatera Selatan

Apero Fublic.- Rumah panggung adalah bentuk rumah tradisional masyarakat di kawasan Asia Tenggara. Wilayah tropis, dengan keanekaragaman hayati terutama jenis tumbuhan. Telah melahirkan kebudayaan bagi manusia yang mendiami wilayah tropis. Banyaknya sumber daya kayu membuat perkembangan bangunan tempat tinggal juga dengan menggunakan kayu, rumah panggung.

Selain itu, bangunan rumah panggung juga dibentuk dari tantangan alam. Misalnya banjir, menghindari hewan berbisa, hewan buas seperti harimau. Juga bentuk pemukiman kawasan perairan atau rawa-rawa. Sehingga terbentuklah budaya rumah panggung. Dalam perkembangan pembangunan tempat tinggal, ada tiga tipologi umum rumah panggung yang terdapat di kawasan Provinsi Sumatera Selatan. Rumah panggung masuk dalam salah satu kebudayaan Melayu.


A.Rumah Panggung Basepat

Rumah Panggung Basepat adalah rumah panggung hasil perkembangan bangunan rumah panggung generasi pertama. Kata basepat dalam bahasa Melayu berati bertingkat. Tapi tingkat ini tidak meninggi, tingkat yang bersusun rendah. Rumah panggung basepat dinamakan rumah limas sekarang. Penamaan diambil dari bentuk atap atasnya yang berbentuk melimas.

Namun penamaan ini kurang tepat sebab tidak mengakar dari budaya masyarakat Sumatera Selatan sebenarnya. Penamaan yang terburu-buru tanpa melakukan penelitian yang mendalam di tengah masyarakat. Mengingat seluruh bangunan tempat tinggal di Indonesia atapnya hampir melimas. Rumah Panggung Basepat atau rumah limas ini menjadi rumah adat Provinsi Sumatera Selatan dan pernah menjadi gambar di uang sepuluh ribu rupiah.

Kata basepat berkembang dari kata sekat. Kata sekat sudah sejak lama ada di dalam bahasa Melayu. Sekat bermakna batas yang bersipat tidak permanen. Misalnya ruangan tengah rumah disekat dengan tirai untuk sementara. Arti umum sekat adalah batas.

Awalan kata ba menjelaskan memasang, memakai, mengambil, melakukan atau digunakan. Perkembangan kata sekat menjadi basepat untuk pembedaan dari kata sekat. Biasanya dalam pembahasan timbul salah pemaknaan. Sekat yang artian mana sehingga timbul gejolak dalam perbincangan. Di dorong juga salah ucap saat masyarakat penyampaian kata.

Sehingga basekat berubah basepat. Basepat juga memunculkan makna menjadi tingkat-tingkat. Tapi tingkat yang tidak meninggi. Basepat juga bermakna batas-batas yang rendah. Itu dirujukkan dengan lantai yang berbatas sekeping papan (kijing), lalu meningkat setinggi 30 cm, berbatas sekeping papan lagi (kijing).[1]

Banyak peneliti mengaitkan dengan lantainya yang naik turun dengan kebudayaan punden berundak. Namun, bentuk bangun berundak tidak hanya meningkat dari satu sisi, tapi diempat sisi. Kemudian bangunan berundak pada bagian atas akan semakin mengecil.Sedangkan rumah panggung basepat semakin besar.

Pada kebudayaan asli Indonesia bangunan berudak hanya digunakan untuk bangunan keagamaan. Sebagai contoh, bangunan punden berundak manusia purba di Lampung. Bangunan candi-candi baik hindu atau budha. Kemudian sistem berundak juga saat masuknya Islam diterapkan pada bangunan atap masjid tradisional Indonesia. Bangunan berundak tidak pernah digunakan untuk bangunan tempat tinggal. Rumah panggung basepat adalah murni perkembangan dan kemajuan teknolgi pertukangan bangunan tempat tinggal dari sistem bangunan pondok.[2]

Contoh Rumah Panggung Basepat di lihat dari luar. Tampak lantainya naik turun dan bagian atas paling besar. Tidak mencerminkan pengaruh kebudayaan purba punden berundak.
Contoh bagian dalam Rumah Panggung Basepat. Tampak teknik plavon dan ukiran tradisional Melayu di dinding pembatas dengan ruang tengah rumah. Mengapa di sebut ukiran Melayu karena bersumber dari alam, seperti daun, bunga, dan pepohonan. Ukiran tersebut masih asli dan sudah berumur ratusan tahun.
Conto ukiran atau ragam hias yang selalu ada di sisi samping dinding depan rumah Panggung Basepat. Bentuk demikian sama seperti di rumah-rumah panggung basepat lainnya. Menjadi salah salah satu ciri khas rumah tradisional ini.

Ciri-Ciri Rumah Basepat Asli
1. Lantai meningkat ke atas. Di setiap tingkat lantai dibatasi dengan kijing atau papan lebar penutup.
2. Material masih tradisional, seperti reng terbuat dari bambu, kasau atau taso terbuat dari kayu bulat yang diawetkan dengan direndam.
3. Adanya pemasangan sejenis pelindung di lantai dibagian bawah dari serangan musu. Terbuat dari jalinan kayu-kayu kecil pelindung tusukan berupa tombak atau pedang.
4. Ragam hias berupa ukiran-ukiran papan yang dipasang bagian samping rumah. Di bagian pembatas ruang tengah dengan ruang tamu.
5. Serambi didinding secara menyeluruh. Pintu dan jendela dibuat sederhana tidak banyak hiasan dan motif.
6. Ada makna di setiap tingkatan lantai: makna menyesuaikan aktivitas. Maksud menyesuaikan aktivitas adalah dimana aktivitas terjadi, seumpama ada raja yang berkunjung, ulama, dan masyarakat. Maka susunan duduk raja di lantai paling atas, ulama di lantai kedua, dan dilantai ketiga rakyat. Misalnya ada pertemuan suatu keluarga dengan keluarga lain. Para orang tua di lantai atas, orang muda di lantai kedua, dan orang yang belum menikah atau bujang di lantai paling bawa.
7. Tiang dan material terbuat dari kayu-kayu berkualitas.
8. Terletak di pemukiman awal di suatu tempat (desa). Terutama tidak jauh dari tebing sungai.
9. Tiang menggunakan kayu unglen atau kayu besi.
10. Bentuk dan arsitektur sama dengan rumah-rumah basepat lainnya.
11. Tingkatan lantai rumah selalu tiga tingkat. Namun ada juga yang hanya dua atau ada yang empat tingkatan. Hitungan tingkat tidak termasuk serambi tangga di samping bangunan rumah. tingkatan ada makna-makna filoshofis.

B. Rumah Panggung Malamban
Rumah panggung tipologi malambang berbeda bentuk dari rumah panggung basepat. Kalau rumah panggung basepat lantainya naik turun. Rumah panggung malamban lurus atan mendatar. Dari serambi depan sampai ke bangunan dapur. Biasanya hanya bangunan dapur lantai sedikit menurun.

Kata malamban berasal dari kata lambanLamban adalah penamaan tempat penyeberangan sungai yang sangat sederhana. Biasanya lamban hanya terbuat dari sebatang pohon atau sebatang bambu. Kalau diartikan kedalam bahasa Indonesia lamban berarti jembatan. Awalan kata ma bermakna sedang melakukan.

Kata ma juga bermakna atau merujuk ke membentuk, serupa, semirip, atau meniru. Secara fhilosofis dijelaskan saat merakit kerangka rumah. Dimana kerangka utama adalah kitau. Kitau ini yang terpasang sangat mirip dengan lamban (jembatan). Kitau adalah kerangka yang terletak diatas tiang-tiang.

Sama halnya dengan pondasi. Semua kerangka rumah bertumpu pada kitau. Sehingga para tukang saat merakit berjalan di atas kitau. Seolah-olah mereka sedang berjalan melamban (menyeberang melalui jembatan) di atas sungai. Begitupun saat masyarakat melihat mereka sedang bekerja.

Dari ujung ke ujung berjalan diatas kerangka utama atau kitau. Sehingga lama-semakin lama kata malamban terus melekat. “melamban kitau” melamban membawa alat-alat tukang” “malamban membawa kerangka rumah yang lain. “malambam bikin rumah.” Semuanya malamban terus malamban sampai rumah tegak dan dipasang lantai. Maka kata malamban melekat saat membangun rumah tipelogi memanjang mendatar tersebut.
Foto Rumah Panggung Malamban. Coba perhatikan bentuk lantainya yang hanya melurus dan tidak meningkat atau berundak seperti rumah panggung basepat.
Ciri-Ciri Rumah Panggung Malamban
1.Rumah berbentuk persegi empat memanjang.
2.Ragam hias berupa jenis kaca lama yang banyak gambar-gambar.
3.Material terbuat dari kayu berkualitas.
4.Adanya ragam hias di atas atap, seperti patung burung, tahun pembuatan, dan sebagainya. (tidak semua).
5.Tidak ada makna-makna simbol dan klasifikasi sosial. Penyebab tidak ada lagi makna-makna adalah perkembangan rumah ini sudah menyebar sajak dalam jajahan Belanda.
6.Material sudah diolah cukup baik. Seperti tiang menggunakan batu bata jenis lama, genting lama dan sebagainya.
7.Bentuk dan arsitekturnya sama dengan rumah-rumah malamban lainnya.

C. Rumah Panggung Kotemporer
Kata kotemporer bermakna baru atau moderen. Dalam seni seperti arsitektur kotemporer adalah arsitektur yang tidak lagi terikat dengan satu bentuk, aturan-aturan, kaidah-kaidah tradisional. Arsitektur kotemporer adalah arsitektur baru yang berbentuk bebas. Rumah panggung kotemporer tidak lagi terikat dengan bentuk rumah panggung basepat dan rumah panggung malamban.

Rumah panggung basepat pada masanya semua masyarakat membuat dengan bentuk yang sama (abad ke 20 kebawa). Begitu pun saat tipologi rumah panggung malamban tersebar di seluruh Sumatera Selatan di awal abad ke 20 Masehi. Maka hampir semua rumah-rumah masa itu mengikuti bentuk atau arsitektur rumah malamban dan basepat.


Rumah Panggung Kotemporer dalam bentuk meniru rumah panggung malamban. Hanya perbedaan pada bentuknya yang minimalis. Serambi depan atau samping hanya didinding seperempat atau bentuk miniatur sederhana. Arsitekturnya bebas dan berbeda-beda.

Tinggi dan rendahnya, ukurannya dan juga cara pembuatannya. Maka rumah panggung yang bergaya bebas ini disebut Rumah Panggung Kotemporer. Penamaan kotemporer diambil dari kebutuhan ilmia dalam menggolongkan bentuk rumah panggung di zaman sekarang. Rumah panggung kotemporer adalah perkembangan ke tiga dari bangunan tempat tinggal masyarakat Melayu.

Perkembangan rumah panggung kotemporer dipengaruhi faktor sosial. Besarnya populasi penduduk, sempitnya lahan, habisnya sumberdaya kayu, tuntutan bisnis, kecepatan dalam penyelesaian. Selain itu, pengaruh budaya praktis seperti sistem hajatan yang menggunakan sistem antri, sistem antar pada penyajian jamuannya. Tren keluarga kecil yang sederhana, dan keterbatasan ekonomi.

Rumah Panggung Kotemporer bentuk dan arsitekturnya sudah bebas. Tidak lagi monoton seperti rumah panggung basepat dan rumah panggung malamban.

Ciri-Ciri Rumah Panggung Kotemporer
1. Arsitektur dan bentuknya bebas tidak mengikuti tipologi tertentu atau tipologi sezaman sebagaimana rumah basepat dan malamban.
2. Miskin ragam hias kreatifitas, seperti ukiran papan misalnya.
3. Material di olah dengan teknologi, dari reng, taso, genteng dan sebagainya.
4. Serambi depan dan samping di dinding setengah atau seperempat.
5. Tiang rumah menggunakan batu bata jenis baru atau jenis kayu biasa.
6. Terletak menghadap jalan raya dan jauh dari tebing sungai.
7. Ragam hias berupa material lain, seperti gambar, atau kerajinan tangan yang ditempel di dinding.

Seiring perkembangan zaman bangunan panggung akhirnya juga mulai dikikis oleh bangunan rumah depok. Atau jenis rumah yang dibangun langsung diatas permukaan tanah. Semoga ada perhatian dari pemerintah, terutama bidang pariwisata dan kebudayaan. Membentuk kawasan kampung budaya di kawasan desa tertentu. Seperti di Kota Palembang terdapat Kampung Al-Munawar.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S. Sos.
Palembang, 4 Agustus 2019.


[1]Kijing adalah nama papan yang melebar di sisi, di atas atau depan lantai, dinding, atau atap. Fungsi papan kijing untuk memperindah dan menutup celah-celah.
[2]Pondok adalah nama bangunan tempat tinggal orang Melayu pada masa belum tersentu kemajuan teknologi pengolahan kayu.
Sumber foto Rumah Panggung Kotemporer. Desmiana, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Foto Rumah Panggung Basepat dan Malamban oleh Apero Fublic. Lokasi Kampung Lama di Desa Gajah Mati, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia.
Sumber data: Wawancara dengan orang tua-tua di Desa Gajah Mati. Observasi langsung penulis ke lapangan, di seluruh Kecamatan Sungai Keruh Kabupaten Musi Banyuasin, dan beberapa bagian di Kota Palembang di kawasan Tangga Buntung. Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Ogan Ilir.

Sy. Apero Fublic