7/03/2019

Mengenal Sastra dan Pengaruhnya

Apero Fublic.- Sastra milik suatu bangsa merupakan cerminan dari kehidupan, kebiasaan, intelektual, moral dan tingkat kecerdasan pada masyarakatnya. Sehingga semakin tinggi nilai sastra yang berkembang maka semakin bagus SDM manusia di negara tersebut.

Kita juga akan dapat mengukur tingkat kecerdasan dari masyarakat bangsa tersebut. Yang dimaksud dengan cermin kehidupan, yaitu tentang gambaran keadaan masyarakat di suatu tempat yang menceritakan kondisi sosial dan budayanya. Seperti ekonomi, politik, kreativitas, teknologi, geografis, adat-istiadat dan agamanya. Sastra dalam artian kebiasaan meliputi, adat istiadat dan norma-norma kebiasaan masyarakatnya. Hal-hal yang berlaku umum ditengah masyarakat.

Sedangkan yang dimaksud dengan pengukuran tingkat kecerdasan masyarakatnya adalah ditinjau dari isi sastra yang hadir di tengah-tengah masyarakatnya. Dicontohkan, misalnya di tengah masyarakat Indonesia ceritanya bertema hal-hal tahayul, yang mana menceritakan film yang berbau mistis, seperti dukun santetbangkit dari kuburpocong ngesot dan sebagainya. Kisah-kisah seperti ini sangat populer di Indonesia.

Dapat disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia tingkat kecerdasan masih dibawa rata-rata. Masyarakat kita masih menganut sistem kepercayaan nenek moyang, dinamisme dan animisme. Karena pola pemikirannya masih diliputi hal-hal yang tahayul. Ketahayulan itu adalah pola pikir yang mengabaikan kerasionalan, dan kurangnya pemahaman ilmu pengetahuan.

Dunia sastra Indonesia banyak juga yang bermutu dan bernilai tinggi. Namun jenis sastra yang baik dan bagus masih sangat sedikit jumlahnya. Seperti novel karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Lalu ada juga novel karya Kang Abik, Ayat-Ayat Cinta. Novel-novel tersebut memberikan jalan yang kuat dalam kehidupan berbangsa. Kalau dicermati, peran sastra dalam mencerdaskan manusia Indonesia masih sangat kurang.

Terlebih saat sastra masa-masa Orde Baru yang sangat merusak moral generasi bangsa secara beransur-ansur. Novel-novel forno yang menceritakan adengan seks yang sangat berpengaruh dalam merusak nilai budaya dan moral bangsa ini. Sangat banyak novel-novel remaja yang menyugukan cerita cinta yang dilanjutkan dengan adegan seks.

Tak hanya itu, masa-masa Orde Baru juga dalam memproduksi film layar lebar menampilkan adengan berhubungan intim, dan forno aksi dan pornografi. Seperti film “Pengantin Pantai Biru “ yang di perankan oleh Meriam Belina yang memainkan adegan seks yang berkali-kali dan sangat memunculkan gairah syawat, baik saat menonton dan mengingat film tersebut. Proyek Orde Baru dalam merusak iman generasi mudah dengan tujuan menjauhkan dari Islam, menunjukkan adanya pengaruh politik dalam sastra.

Apa yang terjadi setelah negara kita menghadirkan sastra-sastra rusak demikian (sastra destruktif). Pada awalnya budaya bangsa kita, tidak mengenal sistem pegangan tangan, bergandengan dengan seseorang yang bukan muhrim. Namun, ketika masyarakat menonton atau membaca.

Maka secara otomatis mereka akan meniru-niru. Ketika pertama seorang lelaki membonceng wanita hanya duduk biasa, namun setelah menonton film atau membaca sastra yang bermotor berpelukan di atas motor, maka secara otomatis diikuti juga. Ambil conto kecil, ketika sebuah adegan memberi bunga tanda cinta, maka akan diikuti juga oleh masyarakat memberi bunga tanda cinta.

Tertanam dalam pikiran masyarakat kalau memberi bunga pada pasangan adalah tanda cinta. Ada sinetron yang memperagakan dan berkata "kasian de loh" “EGP” kata-kata ini akan menyebar dan dipakai dalam keseharian masyarakat. Apabila itu adegan cabul, maka adegan itu akan masuk dalam kehidupan masyarakat. Terkadang orang salah mengartikan kebebasan berkreativitas dengan keliaran berkreatifitas.

Sastra sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia. Sehingga, rusak sastranya, maka rusak bangsanya. Kita dapat mengambil pelajaran dari yang sudah-sudah, untuk menata ulang sastra kita. Kita juga dapat menyambung akar sastra kita ke sastra masa lalu (klasik) bangsa kita. Dimana sastra-sastra masa lalu berisi nasihat dan pengajaran moral yang baik.

Sastra Indonesia memasuki masa kemerdekaan mulai kehilangan ciri khasnya. Terutama saat berganti pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru. Pengaruh Barat atau Amerika terlalu kental sehingga sastranya (novel dan film) kehilangan jatidiri-nya. Film Indonesia namun penampilannya, gayanya, kebarat-baratan. Novel Indonesia tapi isinya ceritanya tidak mencerminkan budaya Indonesia. Sehingga sastra Indonesia menjadi sastra yang tidak mempunyai jatidiri dan ciri khas. Kalau kita melihat film india maka kita akan mengenalnya, dengan tarian dan baju sarinya.

Begitu pun dengan film Jepang, dengan gaya membungkuknya sebagai penghormatan kita dapat mengenali-nya tanpa harus diberitahu. Nah, film atau sastra Indonesia kita belum tahu bagaimana dunia melihat ciri khasnya. Film silat saja sangat jarang memperagakan silat asli Indonesia, lebih ke gerakan kumfu. Maka sastra Indonesia harus ditata ulang dalam pengertian kembali ke akar budaya Indonesia dan Pancasila. Maka, yang mempublikasikan dan membuat sastra rusak bertanggung jawab dengan rusaknya moral bangsa ini. Sekaligus juga bertanggung jawab dihadapan sang pencipta.

Hasil-hasil sastra rusak dapat dilihat dalam kehidupan generasi muda Indonesia sekarang. Seks bebas di kota-kota besar adalah hal biasa. Kesucian gadis tidak menjadi nilai harga diri wanita lagi. Semua sudah biasa dan dianggap moderen. Boleh dibeli atau diberikan pada pacarnya. Bahkan ada yang menganggap itu lumrah, karena tidak mengerti kebudayaan sendiri. Kemudian cara bertingkah laku, berpakaian, yang cenderung penuh imajinasi simbol.

Dalam hal ini, kemudian disambut juga dengan perkembangan teknologi, seperti akses internet yang sangat mudah. Film-film forno tersebar di situs-situs internet, seperti media sosial. Sudah saatnya penulisan sastra dikembalikan ke akar budaya asli Indonesia, yang mana penuh nasihat dan contoh hidup yang benar. Sastra adalah bentuk warna hidup yang akan mewarnai manusia yang masuk dalam lingkup sastra tersebut.

Pembahasan

A.Pengertian Sastra
Sastra merupakan salah satu gejala kebudayaan yang bersifat universal, terdapat dalam setiap masyarakat manusia, kapan dan di mana saja. Secara potensial, setiap orang pada setiap zaman dan pada setiap tempat dapat bersastra, apakah bersastra secara aktif atau secara pasif. Seni sastra merupakan sebuah bidang kebudayaan manusia yang paling tua, yang mendahului cabang-cabang kebudayaan manusia lainnya.

Dalam pandangan kita apabila kita mendengar kata sastra, maka yang terlintas dalam pikiran kita adalah sejenis cerita fiksi, misalnya novel, cerpen, puisi dan sebagainya. Dalam pengertian sastra yang dapat di definisikan secara umum sangat sulit dan beragam. Sehingga banyak pakar berkata, biarlah sastra itu sendiri yang berbicara. Pengertian sastra menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Sastra yaitu bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari dan Tulisan atau Huruf.

Kata sastra oleh Taum (1997:13) di definisikan sebagai berikut, (1). Sastra adalah karya ciptaan atau fiksi yang bersifat imajinatif, (2). Sastra adalah penggunaan bahasa yang indah dan berguna yang menandakan hal-hal lain, (3). Sastra adalah teks-teks yang bahasanya di manipulasi atau di sulap oleh pengarangnya sehingga menghasilkan efec asing (deotomatisasi) dalam penyerapan-nya.

Sastra diartikan secara etimologis (makna kata berdasarkan asal-usulnya), kata sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sanskerta, sastra dalam Bahasa Sanskerta, kata sastra dibentuk dari akar kata sas dan tra. Akar kata sas- (dalam kata kerja turunan) menunjukkan arti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau instruksi. Sedangkan akar kata tra menunjukkan arti alat atau sarana.

Dengan demikian, sastra dapat berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau buku pengajaran. Selain itu dalam bahasa Indonesia kata sastra juga disebut Kesusastraan. Kata sastra juga disebut Susastra, tambahan awalan Su- dalam bahasa Sansekerta berarti baik dan indah. Dalam bahasa Latin disebut disebut litteratura, kemudian menurunkan beberapa kata di Eropa, literature (Inggris), literatur (Jerman), literatuur (Belanda), litterature (Peraancis).

B. Fungsi Karya Sastra
Ketajaman perasaan sastrawan menyebabkan ia mampu menangkap getar-getar kehidupan ini lengkap dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Karya sastra mampu mengangkat pembaca dari kedangkalan keseharian ke tingkat yang lebih subtil dan beradab, menambah kekayaan batin penikmat, menjadi lebih peka terhadap hidup dan kehidupan ini.

Karya sastra dinilai mampu menjadikan para penikmatnya lebih mengenal manusia dengan kemanusiaannya, karena apa yang disampaikannya oleh setiap sastrawan tidak lain adalah tentang manusia dan kemanusiaan dengan berbagai macam keberadaannya. Perihal fungsi karya sastra, seorang penyair besar Romawi kuno, yakni Horatius (65-8 SM), berpandangan bahwa karya sastra berfungsi sekaligus bertujuan sebagai Utile (bermanfaat) dan Dulse (nikmat, menyenangkan). Jadi utile et dulse, bermanfaat dan menyenangkan.

Ada beberapa fungsi karya sastra: (1). Sebagai ekspresi keindahan yang akan memunculkan rasa tentram, rasa kegembiraan karena jiwa manusia mengenal hubungan yang erat antara dirinya dengan rasa subjek sehingga menarik manusia selalu mendekat pada sang pencipta.

(2). Sebagai sarana hiburan, hiburan meliputi kedalaman inderawi, intelektual serta kedalaman substansi dari karya sastra tersebut. (3). Sastra juga sebagai sarana pendidikan, melalui sastra dapat menyampaikan pesan-pesan positif, ilmu pengetahuan, mengemukakan nilai-nilai, motivasi, dan semangat. Nilai pendidikan ada yang bersifat tidak langsung dan ada pula secara langsung.

(4). Sastra berfungsi sebagai sarana dalam penanaman nilai, peristiwa yang terjadi yang terekam dalam kehidupan diangkat dalam sastra, sehingga terekam dalam pemikiran masyarakat. Sehingga sastra tanpa disadari telah menjadi guruh yang baik karena mengajarkan secara menyenangkan. (5). Sastra berfungsi juga sebagai pelestarian budaya suatu bangsa. Karena sastra selalu terhubung dengan kehidupan masyarakat setempat sastra itu muncul.

C. Awaal Mula Sastra
Sastra merupakan salah satu gejala kebudayaan yang bersifat universal, terdapat dalam setiap masyarakat manusia, kapan dan di mana saja. Secara potensial, setiap orang pada setiap zaman dan pada setiap tempat dapat bersastra, apakah bersastra secara aktif atau secara pasif. Seni sastra merupakan sebuah bidang kebudayaan yang paling tua, yang mendahului cabang cabang kebudayaan manusia lainnya.

Di dunia Barat (Eropa) perbincangan mengenai sastra sudah dimulai jauh sebelum tahun Masehi. Plato, berpendapat bahwa sastra adalah tiruan atau gambaran dari kenyataan. Kemudian Aristoteles murid Plato berpendapat, bahwasanya bersastra adalah kegiatan awal manusia dalam menemukan dirinya di samping kegiatan lain yang melalui agama, ilmu pengetahuan, dan filsafat. Seni sastra sudah hadir sebagai media ekspresi pengalaman mistis dan estetis manusia pada waktu berhadapan dengan alam dan Sang penciptanya sebagai penjelmaan keindahan.

Sebagai media ekspresi pengalaman mistis dan estetis manusia, jelaslah pada awal mula, kehadiran sastra tidak bisa dibedakan dengan pengalaman religius manusia berhadapan dengan alam dan Sang penciptanya. Maka jelaslah maksud dari novelis Y.B. Mangunwijaya dalam bukunya Sastra dan Religiusitas (1982:11) menandaskan; Pada awal mula, segala sastra adalah religious.

Andre Hardjana (1981:10) melukiskan yang mendorong lahirnya karya sastra adalah keinginan dasar manusia untuk mengungkapkan dirinya, untuk menunjukkan minat dan perhatian pada sesamanya, pada dunia realitas tempat hidupnya, pada dunia angan-angan yang di hayalkan sebagai dunia nyata, dan keinginan dan keinginan dasar manusia mencintai bentuk suatu bentuk. Walaupun karya sastra diartikan huruf, namun karya sastra tidak hanya dinamakan pada yang tertulis, namun sastra yang tidak tertulis yang lahir dari kelompok masyarakat yang belum mengenal huruf tetap dinamakan karya sastra.

Keilmuan Sastra
Ilmu sastra atau sastra ilmiah muncul pada saat orang mempertanyakan hakikat karya sastra. Ilmu sastra lahir setelah karya sastra hadir lebih dahulu. Ilmu sastra merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sastra, di samping karya sastra. Ilmu sastra adalah sebuah disiplin ilmu yang secara khusus mengkaji atau mempelajari karya-karya sastra. Dalam sastra, ada karya sastra dan ilmu sastra. Karya sastra merupakan hasil ciptaan yang bersifat fiktif, imajinatif, dan kreatif.

Secara umum karya sastra meliputi tiga genre, yaitu prosa, karya sastra puisi, dan drama. Sedangkan ilmu sastra merupakan sebuah disiplin ilmu yang secara khusus mempelajari karya-karya sastra yang diciptakan pengarang. Ilmu sastra disebut sastra ilmiah dan sastra disebut sastra kreatif. Kajian monodisiplin meliputi, teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Kajian multidisiplin, sosiologi sastra, psikologi sastra, antropologi sastra.

Beberapa gambaran tentang sastra yang menjadi pembedah dalam pengkajian atau pembabakan untuk memahami kedudukan karya sastra. (1). Sastra umum, adalah nama untuk gejala kebudayaan yang bersifat umum, universal, di mana sastra terdapat dalam setiap masyarakat manusia, kapan dan di mana saja. Secara potensial, setiap orang pada setiap zaman dan pada setiap tempat dapat bersastra. Apakah bersastra secara aktif dan pasif. Sastra umum tidak dikaitkan dengan kegiatan sastra pada wilayah geografi tertentu, suatu bangsa atau negara tertentu, tetapi gejala yang bersifat universal.

(2). Sastra bandingan, sastra bandingan lahir terutama dipengaruhi oleh studi bandingan terhadap ilmu pengetahuan, yang kemudian diikuti oleh studi bandingan terhadap agama, bandingan politik, bandingan bahasa dan lain-lain. Sastra bandingan relatif masih muda dan muncul pertama kali di Eropa.

(3). Sastra Dunia, disebut sastra dunia karena reputasi sastrawan dan karya-karyanya diakui oleh masyarakat dunia, beredar secara internasional, dan biasanya ditulis dalam bahasa asing yang diakui PBB. Pemikiran tentang sastra berkaitan dengan pengaruh dan  peredaran sebuah karya sastra dalam lingkup internasional, nasional, regional, tau lokal. Istilah sastra dunia dipakai oleh Johann Wolgang von Goethe dari Jerman (1749-1832).

(4). Sastra Nasional, sastra nasional adalah sastra yang berkaitan dengan rasa kebangsaan dan kepemilikan sastra oleh masyarakat suatu bangsa atau negara. Setiap bangsa memiliki sastra-nya sendiri-sendiri yang menggambarkan jatidiri bangsanya. Apabila sastrawan warga negara Indonesia menulis sastra dalam bahasa asing dia tetap dikatakan sastrawan Indonesia. (5). Sastra Regional, istilah regional berkaitan dengan pengertian nasional. Kalau nasional mencakup seluruh wilayah sebuah negara, maka regional meliputi bagian-bagian wilayah dalam sebuah negara.

Bidang Kajian Monodisiplin
Ilmu sastra yang bersifat monodisiplin terdiri atas tiga bidang ilmu yang berdiri sendiri, yakni teori sastra, kritik sastra, sejarah sastra. Bidang kajian sastra yang bersifat monodisiplin ini mencapai puncaknya dengan perkembangan pesat teori structuralisme yang bertolak dari otonomi karya sastra sampai dengan tahun 1980. Penelitian Strukturalisme hanya mengarahkan pada aspek tertentu dari karya sastra, seperti, tokoh, tema, latar,plot, gaya bahasa, sudut pandang dan sebagainya.

1. Teori Sastra
Secara umum teori diartikan, sebagai suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematis yang menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati. Teori sastra atau literary theory atau theory ofliterature merupakan salah satu bidang kajian ilmu sastra yang mempelajari tentang pengertian, prinsip, konsep, hakikat, karakteristik, hukum, kategori, dan kriteria karya sastra yang membedakannya dengan karya-karya yang bukan sastra.

2. Kritik Sastra
Secara etimologis, kata kritik (sastra) yang kita kenal berasal dari kata krites (Yunani) yang berarti hakim. Kritik sastra dimulai saat orang bertanya apa dan di mana nilai dan makna serta fungsi karya sastra yang dihadapinya. Kritik sastra adalah telaah sastra, pengkajian sastra, analisis sastra, pembahasan sastra, ulasan sastra, dan penelitian sastra.

3.  Sejarah Sastra
Sejarah sastra atau literary history (Inggris) mempelajari perkembangan karya-karya sastra dari waktu ke waktu, dari satu periode ke periode berikutnya. Di dalamnya dipelajari ciri-ciri karya sastra pada masa atau periode tertentu, para sastrawan yang mengisi arena/panggung sastra, puncak-puncak karya sastra yang menghiasi panggung sastra, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar gelanggang dan dunia sastra dan kesastraan.

Bidang Kajian Multidisiplin
Secara definitif multidisiplin adalah penggabungan dua atau lebih bidang ilmu atau bidang kajian. Kajian sastra yang bersifat multidisiplin ini muncul sebagai reaksi terhadap dominasi penelitian sastra yang bersifat monodisiplin. Latar belakang lain lahirnya sejumlah bidang multidisiplin ini karena tingginya tuntutan kebutuhan dan kompleksitas perkembangan karya sastra yang memerlukan tinjauan dari berbagai aspek kehidupan manusia. Dalam ilmu sastra bidang kajian yang bersifat multidisiplin yang kini keberadaanya diakui yakni,sosiologi sastra, psikologi sastra, antropologi sastra. Antropologi sastra masih baru dan belum banyak perguruan tinggi membuka mata kuliah.

1. Sosiologi Sastra
Ada tiga pengertian yang muncul dalam pemikiran kita, (1). Sosiologi sastra sebagai salah satu bidang kajian sastra yang bersifat multidisiplin, (2). Sosiologi sastra sebagai sebuah “pendekatan” (pendekatan ekstrinsik atau mimetik), (3). Sosiologi sastra sebagai sebuah teori, yakni teori sosiologi sastra, yang berusaha menelaah karya-karya sastra dalam kaitan atau relevansi kemasyarakatan.

2. Psikologi Sastra
Psikologi sastra merupakan gabungan antara ilmu sastra dan psikologi. Secara difinitif fisikologi sastra adalah analisis terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan dengan relevansi aspek-aspek psikologis atau kejiwaan yang terkandung di dalamnya. Psikologi sastra lebih banyak berkaitan dengan tokoh dan penokohan, dengan tiga wilayah analisis, yakni psikologi pengarang, psikologi tokoh-tokoh dalam karya sastra, dan psikologi pembaca sastra.

3. Antropologi Sastra
Antropologi sastra adalah gabungan antara disiplin ilmu sastra dan antropologi. Dalam hubungan ini, yang dominan adalah sastra, karya sastra adalah sebagai gejala primer, sedangkan antropologi sebagai gejala sekunder. Sebaliknya ada juga studi yang lain, yakni sastra antropologi adalah pembahasan antropologi dalam kaitannya dengan sastra. Dalam hubungan ini, yang primer dan dominan adalah antropologi, sedangkan sastra sebagai gejala sekunder.

Waktu memunculkan karya, baik secara langsung dan tidak langsung, itu kualitas dalam bentuk atau isi, penulis menunjukkan unsur-unsur tertentu dari khazanah budaya yang dihayati sebagai unsur-unsur ketidak sadaran antropologis. Dengan cara singkat antropologi sastra menjadi harapan bisa membantu memperkenalkan khazanah sastra yang terisolir dan terpisah, dengan maksud sastra regional dan sastra lokal, mempunyai wilayah luas yang belum banyak diteliti atau dikembangkan.

Penutup
Sastra merupakan sebuah karya yang berharga bagi sebuah bangsa. Seberapa tinggi peradaban sebuah bangsa akan bisa diukur dalam sejarah dengan penilaian karya sastranya. Kembali mengartikan kata sastra. Kata kesusastraan itu berawal dari kata su dan sastraSu berarti baik dan sastra berarti tulisan atau karangan (Sansekerta). Dan sastra dapat diartikan karangan atau ciptaan yang baik. Pengertian ini belum sepenuhnya memberikan pengertian yang umum secara universal. Maka dalam penciptaan sastra harus dapat menyiratkan hal-hal yang baik dan indah.

Aspek dalam sastra belum lengkap kalau belum dikaitkan dengan kebenaran. Maka karya sastra hendaknya mampu dapat menjanjikan kepada para warga sastra kepekaan terhadap nilai-nilai hidup sastra seperti kebijaksanaan terhadap lingkungan kehidupan, realitas kehidupan, serta kenyataan kehidupan.

Maka sastra dikatakan buah dari kehidupan jiwa yang tercurah pada tulisan dan bahasa yang mencerminkan peristiwa kehidupan masyarakat atau anggota-anggota masyarakat di suatu tempat. Oleh karena itu, sastra muncul karena hasil kreativitas manusia lalu diungkapkan dalam bahasa atau objek yang dimaksud. Bisa dikatakan sastra juga catatan penting apa-apa yang pernah ditemui , dihadapi, dilihat, dihayati, dipikirkan, pengalaman hidup, yang didapati pengarangnya.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Selita. S.Pd
Palembang, 10 November 2018.

Sumber:
Atmosuwito, Subijantoro. (1989), Perihal Sastra dan Religiusitas Dalam Sastra, Bandung: Sinar Baru.
Djamaris, Edwar. (1990). Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik (Sastra Indonesia Lama). Jakarta: Balai Pustaka.
Sehandi,  Yohanes. (2014). Mengenal 25 Teori Sastra. Yogyakarta: Ombak.
Suhendar. Supinah, Pien. (1993). Pendekatan Teori Sejarah & Apresiasi Sastra Indonesia, Bandung: CV. Pionir Jaya.
Sumardjo, Jakob. (2004). Kesusastraan Melayu-Rendah Masa Awal. Yogyakarta: Galang Pres.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment