6/17/2019

Tengkuh Amir Hamzah. Sastrawan Klasik dan Pahlawan Nasional

Apero Fublic.- Amir Hamzah Lahir di Binjai, Sumatra Timur, pada tanggal 28 Februari 1911. Nama lengkapnya ialah Tengkuh Amir Hamzah. Ayahnya Tengkuh Muhammad Adil bergelar Pangeran Bendahara.

Kemudian kepanya dikaruniahi gelar Bendahara Paduka Raja. Neneknya ialah Tengkuh Hamzah yang biasa disebut orang Pangeran Tanjung dan memerintah di Luhak Langkat Hilir dan kedudukan di Tanjung Pura. Tengkuh Hamzah ialah putra yang kedua dari Sultan Musa, Raja Langkat yang bernama bergelar Sultan.

Dengan demikian Amir Hamzah adalah cicit dari Sultan Musa. Keluarga Amir Hamzah sejak dari Sultan Musa taat kepada agama Islam. Amir Hamzah masuk sekolah Hollandsche Inlandsche School di Tanjung Pura tahun 1921, dan di sana ia belajar agama Islam.

Di antara penduduk Langkat banyak yang datang dari Siak, Kedah, Selangor, Patani, dan beberapa daerah di semenanjung Malaya. Sebagai seorang bangsawan Melayu, maka bahasa Melayu adalah bahasa ibu. Meskipun ia masuk sekolah yang memakai Bahasa Belanda sebagai pengantar, perhatiannya kepada Bahasa Melayu tetap besar.

Ayahnya penggemar sejarah dan Sastra Melayu. Sering di rumahnya orang membaca hikayat-hikayat dan syair-syair Melayu lama seperti Hikayat Amir HamzahMuhammad Ali HanafiahBustanu’ssalatinSyair BidasariKen TumbunanHaris Fadillah, dan sebagainya. Amir Hamzah suka bekumpul dengan orang-orang tua, bercakap-cakap tentang sejarah negerinya dan adat istiadat, juga kesusastraan. Begitu pun pantun dan teka-teki banyak menjadi perhatiannya.

Pada tahun 1924 ia masuk sekolah MULO (Sekolah Menengah Pertama) di Medan dan kemudian di Jakarta. Setelah tamat MULO ia masuk Aigemeene Middlebare School (SMA, bagian Sastra Timur di Solo). Sesudah itu ia masuk Sekolah Hakim Tinggi di Jakarta sampai mendapat kandidat atau Sarjana Muda Hukum.

Dia gemar mengumpulkan buku-buku hikayat Melayu lama, buku-buku kesusasteraan yang berasal dari Persia dan India. Di rumahnya Amir Hamzah memiliki koleksi buku yang banyak. Di Tanjung Pura dianjurkan-nya untuk mendirikan perpustakaan agar orang-orang dapat meminjam buku-buku. Pada tahun 1933 diterbitkannya Pujangga Baru, bersama dengan Armyn Pane, dan S. Takdir Alisjabana.

Karangannya Nyanyian Sunyi terbit dalam Pujangga Baru tahun 1937. Kumpulan sajak-sajaknya dari Panji Pustaka, Timbul, dan Pujangga Baru dikumpulkan dalam Buah Rindu yang terbit tahun 1941. Setanggi Timur yang memuatkan terjemahannya dari beberapa sajak Persia, India, Tiongkok, dan lain-lain terbit tahun 1939.

Dia juga menerjemahkan Bhagawad Gita yang dimuatkan berturut-turut dalam Pujangga Baru. Tahun 1938 di menikah dengan Putri Kamalia, anak Sultan Mahmud yang tertua. Dari perkawinan ini lahir lima orang anak, empat diantaranya wafat, sehingga tinggal satu bernama putri Tahura. Ia kemudian diangkat menjadi pangeran dan mendapat gelar Pangeran Indera Putra.

Beliau juga aktif mengadakan ceramah-ceramah kebudayaan bersama-sama Dr. M. Amri di Medan. Dizaman penduduka Jepang ia terpilih sebagai anggota Balai Bahasa Indonesia di Medan yang antara lain berusaha menciptakan istilah-istilah modern. Amir Hamzah wafat pada tahun 1946 sebagai korban yang dinamakan Revolusi Sosial di Sumatra Timur. Tahun 1977 Amir Hamzah diangkat sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia. Berikut cuplikan syair-syair Amir Hamzah.

BUAH RINDU

            II
Datanglah engkau wahai maut
Lepaskan aku dari mustapa
Engkau lagi tempat berpaut
Di waktu ini gelap gulita.

Kicau murai tiada merdu
Pada beta bujang Melayu
Himbau pungguk tiada merindu
Dalam telingah ku seperti dahulu.

Tuan aduhai mega berarak
Yang meliputi dewangga raya
Berhentilah tuan di atas teratak
Anak Langkat musyafir lata.

Sesaat, sekejap mata beta berpesan
Padamu tuan aduhai awan
Arah manatah tuan berjalan
Di negeri manata tuan bertahan?

Sampaikan rinduku pada adinda
Bisikkan rayuku pada juita
Liputi lututnya muda kencana
Serupa beta memeluk dia.

Ibu, konon jauh tengah selindung
Tempat gadis duduk berjuntai
Bonda hajat hati memeluk gunung
Apatah daya tangan tak sampai.

Elang, Rajawali burung angkasa
Turun tuan barang sementara
Beta bertanya sepata kata
Adakah tuan melihat adinda?

Mega telah ku sapa
Margasatwa telahku tanya
Maut telahku puja
Tetapi adinda manatah dia!

Oleh: Amir Hamzah

BARANGKALI

Engkau yang lena dalam hatiku
Akasa swarga nipis-nipis
Yang besar terangkum dunia
Kecil terlindungi alis.

Kujunjung diatas hulu
Kupuji di pucuk lidah
Kupangku dilengan lagu
Kudaduhkan si selendang dendang.

Bangkit Gunung
Buka mata-mutiaramu
Sentuh kecapi firdausi
Dengan jarimu menirus halus.

Biar siuman dewi nyanyi
Gambuh asmara lurus lapai
Lemah ramping melidah api
Halus harum mengasap keramat.

Mari menari dari asrama
Biar terdengar swara swarna
Barangkali mati di pantai hati
Gelombang kenang membanting diri.

Oleh: Amir Hamzah.

ASTANA RELA

Tiada bersuara dalam dunia
Tiada mengapa hatiku sayang
Tiada dua tempat selama
Layangkan angan meninggi awan.

Jangan percaya hembusan sedera
Berkata tiada hanya dunia
Tilikkan tajam mata kepala
Sungkumkan sujud hati sanubari.

Mula segala tiada ada
Pertengahan masa kita bersua
Ketika tiga bercerai ramai
Di waktu tertentu berpandang terang.

Kalau kekasihmu hasratkan dikau
Restu sempana memangku daku
Tiba masa kita berdua
Berkaca bahagia di air mengalir.

Bersama kita memata buah
Sempana kerja di muka dunia
Bunga cerca Melayu lipu
Hanya bahagia tersenyum harum.

Di situ baru kita berdua
Sama merasa, sama membaca
Tulisan cuaca rangkaian mutiara
Di mahkota gapura astana rela.

Oleh: Amir Hamzah.

Menurut pendapat Sutan Takdir, sajak Amir Hamzah berjudul Astana Rela yang menggambarkan setelah dia terombang ambing menghadap tuhan, setelah melenting-lenting di dalam jiwanya sebagai cacing jatuh di dalam abu, menjerit penuh kesakitan dan kesedihan, tibalah ia kepada keputusan yang selayaknya.

Yaitu meminta maaf kepada kekasihnya, meminta supaya direlakan ia menarik dirinya dari perjanjian cinta dan hidup bersama-sama dengan perempuan yang lain. Alasan yang dikemukakannya adalah akhir-akhirnya segala sesuatu di dunia ini fana belaka dan tiada bersifat hakekat.

Tidak ada gunanya merasa sakit hati atau dendam kepada sesama manusia dalam kepanaan ini. Marilah kita menunjukkan diri kita kepada kebahagiaan yang abadi dan luas di hadapan tuhan; di sana tidak ada tempat untuk membenci dan amarah, tetapi hanya ada kerelaan yang indah dan mahabesar.

Buku yang berjudul Amir Hamzah Penyair Besar Antara Dua Zaman dan Uraian Nyanyi Sunyi ini membahas sajak-sajak karya penyair Amir Hamzah. Buku yang disusun oleh Sutan Takdir Alisjahbana ini, di terbitkan oleh penerbit Dian Rakyat di Jakarta tahun 1996. Buku ini memuat cuplikan syair karya Amir Hamzah, dan uraian pengertian-pengertian syair oleh S. Takdir Alisjhabana. Buku terdiri dari 54 halaman isi.

Oleh: Joni Apero.
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra.
Palembang, 14 Oktober 2019.

Sumber dan Hak Cipta: S. Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah Penyair Besar Antara Dua Zaman dan Uraian Nyanyi Sunyi. Jakarta: Dian Rakyat, 1996.
Sumber foto Amir Hamzah. https://pahlawancenter.com/tengku-amir-hamzah/
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com atau duniasastra54@gmail.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment