6/24/2019

Legenda Katak dan Semut Anai-Anai

Apero Fublic.- Mengapa mata katak menonjol keluar? Mengapa pula pinggang semut genting?

Sekapur Siri.
Pada zaman dahulu kalah, para hewan dapat berbicara satu sama lain, dengan sesama mereka, saling mengerti. Kisah ini bermula pada zaman di mana manusia belum ada di muka bumi. Bumi baru dihuni oleh para hewan saja. Tersebutlah sebuah tempat bernama Dataran Negeri Bukit Pendape. Sebuah dataran berbukit-bukit yang membentang antara Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten PALI, dan Aliran Sungai Musi.

Sekarang daerah Dataran Negeri Bukit Pandape masuk administrasi bagian dari wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, yang terdiri dari tiga kecamatan.

Yaitu Kecamatan Sungai Keruh, Kecamatan Jirak Jaya, Kecamatan Plakat Tinggi, dan sebagian wilayah-wilayah kecamatan sekitarnya. Pada masa Kerajaan Sriwijaya wilayah ini dinamakan Pedatuan Sungai Keruh. Pada masa Kesultanan Palembang sampai masa Kolonial Belanda bernama Marga Sungai Keruh. Kemungkinan daerah Dataran Negeri Bukit Pendape suatu saat nanti akan menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB), misalnya kotamadiah atau kabupaten bernama Dataran Negeri Bukit Pandape.

Pada masa silam itu, Dataran Negeri Bukit Pandape adalah wilayah hutan tropis yang lebat dan liar. Banyak sungai-sungai, rawa-rawa, lebung (jenis telaga), benca dan bencaniBenca adalah bentuk aliran air seperti sungai kecil yang selebar selokan. Mengalir di dalam hutan diantara rerimbunan semak dan akar pepohonan. Sedangkan bencani kadang juga dinamakan masyarakat dengan lompatan burungBencani seperti lobang-lobang alami yang selebar satu meter persegi atau lebih.

Tersebar di dalam hutan-hutan tanah renah. Tanah renah adalah suatu kawasan wilayah dataran renda karena dikelilingi sungai dan terendam banjir saat air sungai meluap di musim hujan. Salah satu sungai terbesar di kawasan Dataran Negeri Bukit Pendape adalah Sungai Keruh, anak Sungai Musi. Sungai Keruh dan anak Sungai Keruh seperti Sungai Sake mengalir di kawasan ini. Selain itu banyak juga sungai-sungai lainnya.

Legenda Katak dan Semut Anai-Anai
Alkisah di Dataran Negeri Bukit Pandape yang terbentang luas, berbukit-bukit bertebaran, dan datarannya sampai ketepian Sungai Musi. Pada zaman yang belum ada manusia di muka bumi tersebut. Dimana hewan-hewan yang mendominasi bumi. Pada masa itu, semua hewan banyak yang belum berbentuk seperti zaman ada manusia, seperti sekarang. Ada yang besar sekali seperti dinosourus, dan banyak juga yang kecil. Ada yang seperti raksasa dan ada yang kerdil. Boleh dikatan wujud hewan-hewan belum sempurna.

Tersebutlah sebuah lembah di kaki Bukit Pendape. Hutan rimba yang lebat terhampar, bertana datar dan banyak terdapat mata air. Sungai-sungai kecil mengalir, benca-benca bercabang-cabang di sela-sela akar pepohonan. Air benca yang jernih karena airnya keluar langsung dari mata air. Ikan Kecil dan burung-burung sibuk bermain di alam yang damai itu. Di hulu benca juga banyak terdapat bencani tempat burung mandi dan berburu ikan.

Ada sebatang pohon kiara beringin. DahanNYA bercabang-cabang landai (mendatar). Pada dahan pohon kiara beringin ini, banyak sekali sarang lebah bergelantungan. Pohon kiara yang banyak sarang lebah seperti itu dinamakan pohon sialang pada zaman ada manusia. Ada sebua benca mengalir di bawah pohon kiara beringin itu. Airnya jernih mengalir di celah-celah akar pepohonan.

Bentuk akar pohon kiara beringin besar-besar, dan banyak rongga-rongga. Sesuai untuk menopang batanganya yang besar dan tinggi. Dibalik rongga-rongga akar itu, banyak hidup jenis serangga dan hewan kecil lainnya. Mereka membangun rumah yang nyaman dan damai. Terdapat rumah kadal, ruman katak, rumah lipan, rumah belalang, rumah kaki seribu, rumah ular lidi. Ular lidi sejenis kadal tapi bentuk tubuhnya lebih ramping kecil memanjang. Terdapat empat kaki seperti kadal. Ular lidi tidak berbisa karena sesungguhnya sejenis kadal.

Suatu hari seekor katak keluar dari sarang atau rumahnya. Terletak di bawah akar pohon kiara beringin. Katak berkulit hitam, dan matanya rata tidak menonjol. Jenis kata ini tidak ada hewan yang mau memangsanya, karena kulitnya keras dan beracun. Sore yang cerah, katak melompat keluar sarangnya. Beberapa kali dia melompat-lompat, sampailah dia di sarang ular lidi. "Ular lidi, marilah kiranya kita berjalan-jalan di senja hari ini, bermain di pinggir benca. Ajak katak.

“Maaf katak bukan aku tidak mau menemanimu sore ini. Sebab beberapa hari ini telurku terus bergerak-gerak, tanda dia akan menetas. Aku ingin menjaga telurku. Takut nantinya terjadi sesuatu saat telurku menetas." Jawab ular lidi. "Oh. Selamat untukmu, sahabatku, semoga telurmu cepat menetas, dan anak-anakmu sehat." Akhirnya katak pamit dengan ular lidi.

Kembali katak melompat-lompat seraya bernyanyi-nyanyi riang. Kemudian katak mengetuk rumah lipan, dan mengajak lipan untuk bejalan-jalan sore juga. Tetapi lipan juga tidak bisa menemani katak, karena lipan sedang tidak enak badan, tidak semangat keluar sarangnya. Beberapa kali katak mengetuk sarang sahabatnya, seperti sarang kaki seribu, kadal, lipas, semunya sedang sibuk. Akhirnya katak pergi sendiri di sore itu. Dia bernyanyi riang melompat di pinggiran  aliran benca yang bening dan sejuk. Kadang dia berenang dan melompat-lompat di atas akar pohon dan rerumputan. Sampailah katak di hulu benca dimana dia melihat ribuan semut anai-anai sedang berjalan, berbaris. Kata menyapa salah satu semut.

"Hai, semut anai-anai, mau ke mana kiranya kalian?. Bolelah tau kalau tidak keberatan?. Tanya katak bersahaja. Seekor prajurit semut anai-anai berhenti dan menjawab. "Wahai katak yang ramah, kami tidak kemana-mana, hanya saja ratu memerintahkan kami untuk membangun istana yang baru." Oh. Begitu!!, iya sudah terima kasih, aku pikir kalian akan pindah." Katak dan prajurit semut anai-anai itu berbincang terus, dan banyak bercerita.

Kemudian mereka berkenalan, sampai bercanda. Akhirnya keduanya menjadi akrab dan bersahabat. Semut naik keatas daun rumput. Katak duduk santai diatas akar pohon. Dari tempat duduk, mereka menyaksikan barisan semut memajang menghitam berjalan berbaris membawa material bangunan istana baru mereka.

Sebuah ranting pohon kering melintang di atas benca dijadikan jembatan oleh para semut. Katak yang duduk santai dan berbincang-bincang dengan prajurit semut anai-anai. Keduanya dikejutkan dengan suara menderu. Tiba-tiba, memecah keheningan hutan terdengar pekikan suara rusa dan auman harimau. Suara gemuruh itu terus mendekat. Katak dan prajurit semut anai-anai itu bersiap-siap antisipasi untuk hal yang tidak diinginkan. Derap kaki hewan berlari terus mendekat, Lalu. "Brusssss, Brusss." Seekor rusa dan seekor harimau melintas melewati benca. Kaki rusa yang melompati benca menerabas ranting dimana semut anai-anai menyemberang.

Kaki rusa menyerempet ranting itu. Tidak ampun lagi, ranting bergeser dan jatuh kedalam benca. Semut-semut itu terpekik dan berpegang erat-erat. Suda ada puluhan yang terjatu kepermukaan air benca yang jernih itu. Tanpa ampun ikan kecil-kecil langsung menyambar yang terjatu itu. Bahaya buat para semut, bukan saja air benca deras bagi para semut, di dalam air benca juga banyak ikan-ikan kecil yang akan memangsah mereka.

Dalam suasana yang genting itu. Kata melompat dengan sigap. Ujung ranting yang jatu hampir menyentuh air. Katak membuka mulut, dan lidahnya yang panjang menyambar ujung ranting. "Hupppp!!!. Semua semut menarik napas lega dan tersenyum lebar. Mereka berterima kasih sekali pada katak yang baik hati itu. Katak kembali meletakkan katak di tepian benca seperti semula. "terima kasih katak. Ujar mereka hampir bersamaan membuat suasana menjadi ramai. "katak hebat kata mereka.

Semua kejadian itu diceritakan semut anai-anai kepada sang ratu semut. "Baginda ratu anai-anai yang mulia, begitulah kiranya kisah sore tadi. Kalau tidak dibantu katak, mungkin ribuan teman-teman hamba jatuh ke air benca. Itupun sudah ada puluhan yang terjatu. Kami tidak dapat menolong. Sebab langsung disambar oleh ikan-ikan. Kemungkinan juga pembangunan kita akan terhambat. Sebab penyemberangan tidak ada. Tapi katak membantu dan mengembalikan penyemberangan seperti semulah." Jelas prajurit semut anak-anai itu.

Ratu semut terharu sekali mendengar kisah itu. Berita itu populer di tengah semut anai-anai. Sang katak adalah pahlawan mereka, dan ratu semut ingin memberi penghargaan buat si katak. Maka diutuslah prajurit semut anai-anai yang siang itu berbincang-bincang dengan katak. Surat undangan resmi kerajaan semut sampai juga ke tangan si katak yang tinggal di bawah pohon kiara beringin. Maka katak datang ke istana semut anai-anai. Menerima jamuan makan kerajaan. Semua kemeriahan dihadirkan dalam menyambut kedatangan sang katak. Disambut bak tamu kenegaraan yang penting. Membuat sang katak terharu sekali.

"Katak, terima kasih telah membantu para rakyatku soreh kemarin. Jasamu tidak dapat kami balas. Walau emas satu gunung kami berikan padamu. Kata ratu anai-anai. "Ia Ratu, sama-sama. Janganlah ratu berkata begitu, sudah selayaknya kita sesama makhluk hidup saling membantu dan menjaga. Hidup di dunia ini hanya sebentar. Hanya perbuatan baik dan saling menolonglah yang berharga. Ujar kata berkata sederhana. Ratu semut dan katak terus berbincang-bincang banyak hal. Mereka kini menjadi sahabat layaknya saudara kandung.

"Katak, kami ingin memberimu sedikit hadiah. Sebagai kenangan walau tidak seberapa." Lalu ratu memberikan sebuah kotak yang tertutup dan diletakkan di tangan katak. Katak terkejut dan tidak menyangka akan diberikan hadiah. Katak tidak langsung menolak. Tetapi dia menerima dahulu karena menghormati sang ratu.

Lalu katak membuka kotak, ternyata di dalamnya ada permata yang indah sekali. Mengedip mata katak karena silau cahaya permata memantul ke bolah matanya. Lalu kembali dia tutup kotak permata itu. Kemudian, katak berkata. "Ratu, bukan saya tidak menghargai hadiah dari ratu. Atau hadiah dari ratu tidak menarik hati saya. Saya membantu dengan ikhlas dan rasa kasih sayang saya akan sesama.

Dengan berat hati saya menerima hadia indah ini. Sebaiknya ratu menggunakan harta berharga ini. Untuk keperluan negara dan rakyat ratu. Apalagi sekarang ratu sedang membangun istana baru. Tentu memerlukan dana yang tidak sedikit. Kata katak dengan lembut. "Wahai sungguh mulia hatimu katak. Alangkah indahnya bumi kita ini apabila semua makhluk sepertimu, membantu dan menjaga sesama dengan ikhlas.
*****
Tanpa terasa waktu sudah sore. Karena perbincangan katak dan ratu begitu searah. Mereka lupa waktu dan tanpa terasa hampir semua sudut istana ratu semut sudah dikelilingi sambil berbincang-bincang. Maka tibalah katak berpamitan untuk pulang. Sebelum pulang katak mengundang ratu untuk datang ke rumahnya. Ratu semut mengiyakan dan berjanji akan datang ke rumah katak.

Mereka berjabat tanagn dan saling melambai tangan. Dari jauh ratu menyaksikan katak melompat-lompat riang di selah-selah rerumputan. Lalu menghilang dibalik semak-semak hutan yang lebat. Seminggu kemudian katak mengirim surat untuk ratu mengundang ke rumahnya. Surat sampai  ke tangan ratu. Berita tersebar di seluruh kerajaan semut anai-anai. Rakyat semut anai-anai semuanya ingin datang kerumah katak yang baik hati.

Katak adalah pahlawan mereka dan mereka semuanya sayang pada katak. Maka diumumkanlah kalau ratu besok pagi akan pergi memenuhi undangan katak. Menurut mereka katak akan merayakan pertemuan dengan ratu sama seperti di istana mereka. Mereka bilang kapan lagi waktunya berpesta bersama katak kalau tidak saat ini. Demikianlah, ratu semut anai-anak dan semua rakyatnya datang bersama-sama menuju rumah katak. Semua semut bergembira dan tidak sabar datang kerumah katak. Iringan semut anai-anai berbaris menghitam memanjang menuju rumah katak. Maka sampailah rombongan ratu dan rakyatnya di depan rumah katak. Seekor prajurit semut mengetuk rumah katak.

"Katak, apa engkau di dalam rumahmu?. Baginda ratu sudah sampai. Beliau menunggu di halaman rumahmu. Kami sudah tidak sabar menunggu pestamu. Hari ini adalah hari yang sangat meriah. Sahut si prajurit dari depan pintu rumah katak. Katak buru-buru keluar mendengar ratu semut sudah tiba. Saat dia membuka pintu rumahnya. Katak terkejut setengah matai. Matanya melotot besar seperti mau melompat dari rongga matanya. Tubuhnya gemetar, dan rasa malu dan serta serba salah bercampur aduk. Kemudian katak berkata pada prajurit semut itu. Prajurit semut, katakan pada baginda ratu dan rakyatnya agar sabar dahulu, karena aku sedang bersiap.

Kemudian si prajurit menyampaikannya kepada ratu semut anai-anai, untuk menunggu. Maka mereka semua menunggu sampai katak memanggil. Ratu semut duduk di kereta kebesarannya sambil berbincang-bincang dengan dayang-dayangannya. Mereka memperkirakan apa yang akan dihidangkan oleh katak. Begitupun dengan rakyat kerajaan semuta anai-anai. Mereka memperkirakan apa yang akan dihidangkan katak.

Sementara itu, di dalam rumah katak kebingungan setengah mati. Dia berpikir kalau yang datang hanya ratu semut dan puluhan pengawal saja. Tapi yang datang ternyata rakyat satu kerajaan semut. Bagaimana dia menjamu tamu sebanyak itu. Sedangkan katak hanya memiliki sedikit makanan. Satu biji buah salak, satu biji buah duku, dan dua kuntum bunga yang di dalamnya terdapat air yang manis untuk minum serangga. Berkali-kali dia menepuk keningnya dan berjalan mondar mandir. Sementara matanya tetap melotot belum kembali normal seperti semulah.

Waktu berlalu, pagi berganti siang, siang berlanjut ke sore. Namun katak tidak kunjung datang dan keluar dari rumahnya. Menjelang malam semua semut sudah sangat kelaparan dan terasa sakit di perut mereka. Begitu pun juga perut sang ratu. Kemudian ratu memerintahkan parjurit yang menemui katak pagi tadi untuk menemui katak di dalam rumahnya untuk mencari tahu. Saat prajurit semut itu masuk ke dalam rumah. Dia tidak menemukan katak di dalam rumah. Hanya sepucuk surat di atas meja. Kemudian surat itu diberikannya kepada ratu.

“ratu yang mulia sahabat ku, maaf aku tidak dapat menjamu baginda ratu, dan rakyat baginda. Hendaklah baginda memaafkan saya yang tidak sopan dan bersalah ini.
“Katak

Baginda ratu pun sadar dengan kesalahannya. Katak telah pergi dari pintu belakang. Ratu juga merasa bersalah, dia baru sadar bahwa katak hanya seorang diri, mana mungkin dia dapat menjamu banyak rakyatnya. Kemudian ratu semut juga menulis surat.

sahabatku, katak yang berhati baik dan mulia. Seharusnya akulah yang meminta maaf atas kehilafan ini. Aku lupa bahwa engkau seorang diri, bukan tinggal dengan rakyat yang banyak sepertiku. Hendaklah dikemudian hari engkau mau mengundang aku lagi, dan kita mengulang dari awal silatuhrahmi kita. Aku tunggu. Aku telah membuatmu malu. Maafkan aku, sahabat. Tetaplah kita menjadi sabat selamanya. Saling memaafkan dan saling menjaga.”
Ratu Anai-anai

Surat balasan diletakkan di atas meja katak. Perut semut sudah sakit karena kelaparan. Sehingga mereka tidak dapat bergerak lagi karena laparnya. Ratu bingung, karena tidak ada makanan, apabila mereka minum langsung di air benca keselamatan terancam. Baik itu oleh arus air benca yang deras. Atau oleh sambaran ikan-ikan. Seekor semut tabib menyarankan agar mengikat perut mereka dengan sesuatu.  Tali, akar, atau rerumputan untuk menahan sakit karena lapar. Kemudian ratu memerintahkan rakyatnya untuk mengikat kuat-kuat perut mereka. Sehingga menggenting di bagian perut mereka.

Setelah mengikat perut lapar kuat-kuat. Barulah ratu  dan semua semut anai-anai berjalan pulang. Dari peristiwa tersebut terjadi perubahan besar pada tubuh semut. Karena mereka mengikat perut terlalu kuat membuat perut mereka menjadi genting. Tradisi mengikat perut saat lapar atau dimusim hujan dimana makanan berkurang dan dihemat. Mengikat perut demikialah mereka lakukan, berlanjut turun temurun. Kemudian serangga lain juga meniru cara semut anai-anai menahan lapar, mengikat perut.

Sehingga akhirnya bentuk tubuh serangga berubah seperti sekarang. Sebagaimana kita saksikan tubuh serangga selalu genting dibagian perutnya. Karena pengaruh neneka moyoang serangga yang selalu mengikat perut saat lapar. Menyebabkan mempengaruhi evolusi bangsa serangga di kemudiannya.

Begitupun katak yang sangat terkejut melihat tamunya yang sangat banyak. Sehingga matanya melotot seperti mau melompat keluar. Membuat mata katak tidak dapat kembali normal seperti semulah. Itulah mengapa kita saksikan sekarang mengapa mata katak menonjol. Katak pun beranak-pinak kemudian. Keturunan katak juga matanya menonjol keluar.

Hikma: Kita sering mendengar sesuatu yang sangat hebat atau luar biasa tanpa kita tahu yang sebenarnya. Misalnya ada kabar seseorang memiliki uang yang sangat banyak. Tapi sesungguhnya tidak demikian yang sebenarnya. Ini tentang hal yang dibesarkan di tengah masyarakat atau isu.

Janganlah menyamakan keadaan di rumah kita dengan di ruma orang lain. Janganlah membuat malu sahabat atau siapa pun saat berkunjung ke rumahnya. Saling memaafkan adalah hal yang baik antara sahabat.

Apabila menolong ikhlaslah, jangan menolong mengharap imbalan. Tolaklah hadiah-hadiah yang diberikan pada kita dengan halus. Kadang suatu hal yang kecil yang kita perbuat. Dapat merubah suatu hal selamanya. Seperti kecewa, yang dapat membuat seseorang pergi untuk selamanya. Maka berhati-hatilah.

Oleh: Joni Apero
Editor. Selita. S. Pd.Palembang, 22 Juli 2018.
Fotografer. Dadang Saputra. Danau Singkarak, Agam, Sumatera Barat, Indonesia.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com atau duniasastra@gmail.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment