6/24/2019

Legenda Katak dan Semut Anai-Anai

Apero Fublic.- Alkisah di Dataran Negeri Bukit Pandape yang terbentang luas. Bukit-bukit bertebaran, tanah dan sungai-sungai mengalir ke sungai Musi. Pada zaman itu, belum ada manusia di muka bumi. Pada masa itu, semua hewan banyak yang belum berbentuk seperti zaman ada manusia, seperti sekarang. Ada yang besar sekali seperti dinosourus, dan banyak juga yang kecil-kecil. Yang pasti semua bentuk fisik hewan-hewan belum sempurna.

Tersebutlah sebuah lembah di kaki Bukit Pendape. Hutan rimba yang lebat terhampar, bertana datar dan banyak terdapat mata air. Sungai-sungai kecil mengalir, benca-benca bercabang-cabang di sela-sela akar pepohonan. Air benca yang jernih karena airnya keluar langsung dari mata air. Ikan Kecil dan burung-burung sibuk bermain di alam yang damai itu. Di hulu benca juga banyak terdapat bencani tempat burung mandi dan berburu ikan.

Ada sebatang pohon kiara beringin yang sangat besar dan tinggi. Dahan-dahannya bercabang-cabang landai. Pada dahan pohon kiara beringin ini, banyak sekali sarang lebah bergelantungan. Pohon yang besar dan banyak sarang lebah kelak dinamakan manusia dengan, pohon sialang. Ada sebua benca mengalir di bawah pohon kiara beringin itu. Airnya jernih mengalir di celah-celah akar pepohonan.

Bentuk akar pohon kiara beringin besar-besar melingkar, dan banyak rongga-rongga. Sesuai untuk menopang batanganya yang besar dan tinggi. Dibalik rongga-rongga akar itu, banyak hidup jenis serangga dan hewan-hewan kecil. Mereka membangun sarang yang nyaman dan damai. Sarangkadal, katak, lipan, belalang, kaki seribu, laba-laba, ular lidi dan lainnya. Ular lidi sejenis kadal, tapi bentuk tubuhnya lebih ramping-kecil memanjang. Terdapat empat kaki seperti kadal. Ular lidi tidak berbisa karena sesungguhnya sejenis kadal.

Suatu sore, katak keluar dari sarangnya. Katak itu berkulit hitam, dan matanya rata tidak menonjol. Jenis kata ini tidak ada hewan yang mau memangsanya, karena kulitnya keras dan beracun. Sore yang cerah, katak melompat keluar sarangnya. Beberapa kali dia melompat-lompat, sampailah dia di sarang ular lidi.

"Ular lidi, marilah kiranya kita berjalan-jalan di senja hari ini, bermain di pinggir benca.” Ajak katak.

“Maaf katak bukan aku tidak mau menemanimu sore ini. Sebab beberapa hari ini telurku terus bergerak-gerak, tanda dia akan menetas. Aku ingin menjaga telurku. Takut nantinya terjadi sesuatu saat telurku menetas." Jawab ular lidi.

"Oh. Selamat untukmu, sahabatku, semoga telurmu cepat menetas, dan anak-anakmu sehat." Katak pamit pergi.

Kembali katak melompat-lompat seraya bernyanyi-nyanyi riang. Kemudian katak mengetuk sarang lipan, dan mengajak lipan untuk bejalan-jalan sore juga. Tetapi lipan juga tidak bisa menemani katak, karena lipan sedang tidak enak badan, tidak semangat keluar sarangnya. Beberapa kali katak mengetuk sarang sahabatnya, seperti sarang kaki seribu, kadal, lipas, semunya sedang sibuk. Akhirnya katak pergi sendiri di sore itu. Dia bernyanyi riang melompat di pinggiran  aliran benca yang bening dan sejuk. Kadang dia berenang dan melompat-lompat di atas akar pohon dan rerumputan. Sampailah katak di hulu benca dimana dia melihat ribuan semut anai-anai sedang berjalan, berbaris. Kata menyapa salah satu semut.

"Hai, semut anai-anai, mau ke mana kiranya kalian?. Bolelah tau kalau tidak keberatan?. Tanya katak bersahaja. Seekor prajurit semut anai-anai berhenti dan menjawab.

"Wahai katak yang ramah, kami tidak kemana-mana, hanya saja ratu memerintahkan kami untuk membangun istana yang baru." Katanya.

“Oh. Begitu!!, iya sudah selamat bekerja kawan. Aku pikir kalian akan pindah." Katak dan prajurit semut anai-anai itu berkenalan lalu berbincang-bincang santai.

Akhirnya keduanya menjadi akrab dan bersahabat. Semut naik keatas daun rumput. Katak duduk santai diatas akar pohon. Dari tempat duduk, mereka menyaksikan barisan semut pekerja memajang menghitam berjalan berbaris membawa material bangunan istana baru mereka.

Sebuah ranting pohon kering melintang di atas benca dijadikan jembatan oleh para semut. Katak dan prajurit semut anai-anai, dikejutkan dengan suara lari menerobos semak-semak. Tiba-tiba, memecah keheningan hutan terdengar pekikan suara rusa dan auman harimau. Suara gemuruh itu terus mendekat. Katak dan prajurit semut anai-anai itu bersiap-siap antisipasi untuk hal yang tidak diinginkan. Derap kaki hewan berlari terus mendekat, Lalu.

"Brusssss, Brusss." Seekor rusa dan seekor harimau melintas melewati benca. Kaki rusa yang melompati benca menerabas ranting dimana semut anai-anai menyemberang.

Tidak ampun lagi, ranting bergeser dan jatuh kedalam benca. Semut-semut itu terpekik dan berpegang erat-erat. Suda ada puluhan yang terjatu kepermukaan air benca yang jernih itu. Tanpa ampun ikan kecil-kecil langsung menyambar yang terjatu itu. Bahaya buat para semut, bukan saja air benca deras bagi para semut, di dalam air benca juga banyak ikan-ikan kecil yang akan memangsah mereka.

Dalam suasana yang genting itu. Kata melompat dengan sigap. Ujung ranting hampir menyentuh air. Katak membuka mulutnya, dan lidahnya yang panjang menyambar ujung ranting.

"Hupppp!!!. Semua semut menarik napas lega dan tersenyum lebar. Mereka berterima kasih sekali pada katak yang baik hati itu. Katak kembali meletakkan ranting di tepian benca seperti semula.

"Terima kasih katak.” Ujar mereka hampir bersamaan membuat suasana menjadi ramai. Katak hebat dan baik sekali kata semut-semut itu.Semua kejadian itu diceritakan semut anai-anai kepada sang ratu semut.

"Baginda ratu anai-anai yang mulia, begitulah kiranya kisah sore tadi. Kalau tidak dibantu katak, mungkin ribuan teman-teman hamba jatuh ke air benca. Itupun sudah ada puluhan yang terjatu. Kami tidak dapat menolong. Sebab langsung disambar oleh ikan-ikan. Kemungkinan juga pembangunan kita akan terhambat. Sebab penyemberangan tidak ada. Tapi katak membantu dan mengembalikan penyemberangan seperti semulah." Jelas kepala prajurit semut anak-anai itu.

Ratu semut terharu sekali mendengar kisah itu. Berita itu populer di tengah semut anai-anai. Sang katak adalah pahlawan mereka, dan ratu semut ingin memberi penghargaan buat si katak. Maka diutuslah prajurit semut anai-anai yang siang itu berbincang-bincang dengan katak. Surat undangan resmi kerajaan semut sampai juga ke tangan si katak yang tinggal di bawah pohon kiara beringin. Katak datang ke istana semut anai-anai. Menerima jamuan makan kerajaan. Semua kemeriahan dihadirkan dalam menyambut kedatangan sang katak. Disambut bak tamu kenegaraan yang penting. Membuat sang katak terharu sekali.

"Katak, terima kasih telah membantu para rakyatku soreh kemarin. Jasamu tidak dapat kami balas. Walau emas satu gunung kami berikan padamu.” Kata ratu anai-anai.

"Sama-sama Ratu, sudah kewajiban kita sesama mahkluk hidup untuk saling membantu.” Ujar kata berkata sederhana. Ratu semut dan katak terus berbincang-bincang banyak hal. Mereka kini menjadi sahabat layaknya saudara.

"Katak, kami ingin memberimu sedikit hadiah. Sebagai kenangan walau tidak seberapa." Lalu ratu memberikan sebuah kotak indah yang tertutup lalu diletakkan di tangan katak. Katak terkejut dan tidak menyangka akan diberikan hadiah. Katak tidak langsung menolak. Tetapi dia menerima dahulu karena menghormati sang ratu.

Lalu katak membuka kotak, ternyata di dalamnya ada permata yang indah sekali. Mengedip mata katak karena silau cahaya permata memantul ke bolah matanya. Lalu kembali dia tutup kotak permata itu. Kemudian, katak berkata.

"Ratu, bukan saya tidak menghargai hadiah dari ratu. Atau hadiah dari ratu tidak menarik hati saya. Saya membantu dengan ikhlas dan rasa kasih sayang saya akan sesama.” Kata katak. “Dengan berat hati saya menerima hadia indah ini. Sebaiknya ratu menggunakan harta berharga ini, untuk keperluan negara dan rakyat ratu. Apalagi sekarang ratu sedang membangun istana baru. Tentu memerlukan dana yang tidak sedikit.” Kata katak dengan lembut.

"Wahai sungguh mulia hatimu katak. Alangkah indahnya bumi kita ini apabila semua makhluk sepertimu, membantu dan menjaga sesama dengan ikhlas.” Ujar ratu.

*****

Tanpa terasa waktu sudah sore. Mereka lupa waktu dan tanpa terasa hampir semua sudut istana ratu semut sudah dikelilingi sambil berbincang-bincang. Maka tibalah katak berpamitan untuk pulang. Sebelum pulang katak mengundang ratu untuk datang ke rumahnya. Ratu semut mengiyakan dan berjanji akan datang ke rumah katak.

Mereka berjabat tangan dan saling melambai tangan. Dari jauh ratu menyaksikan katak melompat-lompat riang di selah-selah rerumputan. Lalu menghilang dibalik semak-semak hutan yang lebat. Seminggu kemudian katak mengirim surat undangan untuk ratu ke rumahnya. Surat sampai  ke tangan ratu. Berita tersebar di seluruh kerajaan semut anai-anai. Kalau katak mengundang ratu ke rumanya untuk acara pestanya. Rakyat semut anai-anai semuanya ingin juga datang kerumah katak yang baik hati.

Katak adalah pahlawan mereka dan mereka semuanya sayang pada katak. Maka diumumkanlah kalau ratu besok pagi akan pergi memenuhi undangan katak. Dalam pemikiran rakyat semut katak akan merayakan pertemuan dengan ratu sama seperti di istana mereka. Mereka bilang, kapan lagi waktunya berpesta bersama katak kalau tidak saat ini. Demikianlah, ratu semut anai-anai dan semua rakyatnya datang bersama-sama menuju rumah katak. Semua semut bergembira dan tidak sabar datang kerumah katak. Iringan semut anai-anai berbaris menghitam memanjang menuju rumah katak. Maka sampailah rombongan ratu dan rakyatnya di depan rumah katak. Seekor prajurit semut mengetuk rumah katak.

"Katak sahabatku, apa engkau di dalam rumahmu. Baginda ratu sudah sampai. Beliau menunggu di halaman rumahmu. Kami sudah tidak sabar bergembira di pestamu. Hari ini adalah hari yang sangat meriah.” Kata si prajurit dari depan pintu rumah katak. Katak buru-buru keluar mendengar ratu semut sudah tiba. Saat dia membuka pintu rumahnya. Katak terkejut setengah mati. Matanya melotot besar seperti mau melompat dari rongga matanya. Tubuhnya gemetar, dan rasa malu dan serta serba salah bercampur aduk. Kemudian katak berkata pada prajurit semut itu. Prajurit semut, katakan pada baginda ratu dan rakyatnya agar sabar dahulu, karena aku sedang bersiap.

Kemudian si prajurit menyampaikannya kepada ratu semut anai-anai, untuk menunggu. Maka mereka semua menunggu sampai katak memanggil. Ratu semut duduk di kereta kebesarannya sambil berbincang-bincang dengan dayang-dayangannya. Mereka memperkirakan apa yang akan dihidangkan oleh katak. Begitupun dengan rakyat kerajaan semut anai-anai. Mereka memperkirakan apa yang akan dihidangkan katak. Tarian katak apa yang dia persembahkan ujar mereka mengira-ngira.

Sementara itu, di dalam rumah katak kebingungan setengah mati. Dia berpikir kalau yang datang hanya ratu semut dan puluhan pengawal saja. Tapi yang datang ternyata rakyat satu kerajaan semut. Bagaimana dia menjamu tamu sebanyak itu. Sedangkan katak hanya memiliki sedikit makanan. Satu biji buah salak, satu biji buah duku, dan dua kuntum bunga yang di dalamnya terdapat air yang manis untuk minum serangga. Berkali-kali dia menepuk keningnya dan berjalan mondar mandir. Sementara matanya tetap melotot belum kembali normal seperti semulah.

Waktu berlalu, pagi berganti siang, siang berlanjut ke sore. Namun katak tidak kunjung datang dan keluar dari rumahnya. Menjelang malam semua semut sudah sangat kelaparan dan terasa sakit di perut mereka. Begitu pun juga perut sang ratu. Kemudian ratu memerintahkan parjurit yang menemui katak pagi tadi untuk menemui katak di dalam rumahnya untuk mencari tahu. Saat prajurit semut itu masuk ke dalam rumah. Dia tidak menemukan katak di dalam rumah. Hanya sepucuk surat di atas meja. Kemudian surat itu diberikannya kepada ratu.

“ratu yang mulia sahabat ku, maaf aku tidak dapat menjamu baginda ratu, dan rakyat ratu. Hendaklah baginda memaafkan saya yang tidak sopan dan bersalah ini.

“Katak

Baginda ratu pun sadar dengan kesalahannya. Katak telah pergi dari pintu belakang. Ratu juga merasa bersalah, dia baru sadar bahwa katak hanya seorang diri, mana mungkin dia dapat menjamu banyak rakyatnya. Kemudian ratu semut juga menulis surat.

Sahabatku, katak yang berhati baik dan mulia. Seharusnya akulah yang meminta maaf atas kehilafan ini. Aku lupa bahwa engkau seorang diri, sedangkan undanganmu hanya untukku. Hendaklah dikemudian hari engkau mau mengundang aku lagi, dan kita mengulang dari awal silatuhrahmi kita. Aku tunggu. Aku telah membuatmu malu. Maafkan aku, sahabat. Tetaplah kita menjadi sabat selamanya. Saling memaafkan dan saling menjaga.”

Ratu Anai-anai

Surat balasan diletakkan di atas meja katak. Perut semut sudah sakit karena kelaparan. Sehingga mereka tidak dapat bergerak lagi karena laparnya. Ratu bingung, karena tidak ada makanan, apabila mereka minum langsung di air benca keselamatan terancam, karena arus deras atau ikan. Seekor semut tabib menyarankan agar mengikat perut mereka dengan sesuatu.  Tali, akar, atau rerumputan untuk menahan sakit karena lapar. Kemudian ratu memerintahkan rakyatnya untuk mengikat kuat-kuat perut mereka, sehingga menggenting.

Setelah mengikat perut lapar kuat-kuat. Barulah ratu  dan semua semut anai-anai berjalan pulang. Dari peristiwa tersebut mereka belajar menahan lapar. Diwaktu musim hujan dan makanan habis, mereka mengikat perut kuat-kuat. Mengikat perut saat lapar menjadi kebiasaan semut, kemudian dicontoh serangga-serangga lainnya. Dalam waktu lama, terjadi perubahan besar pada tubuh semut dan para serangga. Perut mereka genting sebagaimana kita lihat sekarang. Sementara katak, matanya yang terkejut membesar tidak pernah kembali normal lagi. Sehingga mata kata menonjol keluar. Sampai anak keturunan katak juga mengikuti, mata diluar, sebagaimana kita lihat sekarang.


Oleh: Joni Apero
Editor. Selita. S. Pd.Palembang, 22 Juli 2018.
Fotografer. Dadang Saputra. Danau Singkarak, Agam, Sumatera Barat, Indonesia.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com atau duniasastra@gmail.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment